Sadness

Meha duduk di bangku taman di bawah sebuah pohon yang dihias dengan lampu isofase yang berkelap – kelip pada perayaan Agustusan tahun ini. Dirinya murung dan sedang bersembunyi menutupi kesedihan atas kematian kakak perempuannya, Yesa, yang notabene adalah saudari yang paling dekat dengannya. Yesa meninggal karena asmanya dan seharusnya tiga hari lagi dirinya akan menikah dengan Yogi, calon suaminya. Karena Meha tak punya kakak laki – laki, dirinya tak tahu harus bagaimana bercerita kepada lawan jenisnya, seperti halnya kepada Hubert, sahabat karibnya sendiri sekalipun Hubert adalah seorang yang selalu membuatnya nyaman. Hubert selisih dua tahun lebih muda dari Meha. Banyak yang sudah Hubert ketahui tentang Meha dari cinta pertama hingga alasan mengapa dirinya putus dari mantan terakhirnya, Jiro dua tahun yang lalu. Kalau di dunia ini hanya ada lelaki Hubert seorang Meha pun tak akan menjadikannya kekasih sebab Hubert baginya sudah seperti bagian dari keluarganya sendiri. Bahkan di mata Meha ada satu saudarinya yang menaruh hati pada Hubert, Rossa. Dan tanpa diduga setelah dua hari Meha menghilang, Hubert bisa menyusul Meha. Anehnya, bak telepathy mengapa di setiap Meha mengasingkan diri Hubert selalu tahu dimana tempat Meha berada.

View on Path

About shiellafiollyamanda

"Wish my creation can inspire a lot of people, at least around me."
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s