MEMORY


belakang411. Telepathy

 

Ahn Dong Jhu sering sekali rewel akhir – akhir ini. Suhu badannya juga sangat tinggi. Padahal tiga hari sebelumnya tidak – ada gejala – gejala akan demam hingga naiknya drastic seperti ini. Dipikir Ahn Jae Hyun, Goo Hye Sun memberinya menu makanan yang seharusnya belum didapatkan Ahn Dong Jhu. Goo Hye Sun begitu cemas hingga dirinya bahkan senantiasa terjaga dan tak berani meninggalkan Dong Jhu untuk tidur sejenak. Ahn Jae Hyun ada di sampingnya, harabojji dan halmeoninya juga lengkap. Namun agaknya Goo Hye Sun tak mau kalau harus merepotkan mereka seterusnya. Dia berusaha untuk sebisanya menangani semua kebutuhan Ahn Dong Jhunya sendiri, selain bertanya hanya dengan Ahn Jae Hyun saja. Lama – lama Goo Hye Sun mengakui kewalahan juga bisa harus standby dua puluh empat jam menjaga Ahn Dong Jhu yang sedang dalam masa pertumbuhan. Kadang saat dirinya membuat sketsa untuk lembur projectnya, Ahn Dong Jhu sudah bangun dan menangis, entah ngompol, atau hanya bangun karena kehausan. Jadi mau tak mau Goo Hye Sun harus menghentikan sejenak kegiatannya dan harus sigap berjaga hingga pagi harinya setelah Ahn Dong Jhu berhasil terlelap. Tak jarang juga Goo Hye Sun tak dapat menyelesaikan projectnya lalu pergi tidur setelah itu. Dirinya harus sering menunda pekerjaannya. Padahal ini memang yang dirinya inginkan, comeback tanpa harus menunggui masa ASI Ekslusif Ahn Dong Jhunya berakhir di enam bulan pertama, lalu menunggu total hingga Ahn Dong Jhunya berusia dua tahun. Tapi kalau seperti sekarang ini, rasanya dirinya hampir tak sanggup. Maka diam – diam Goo Hye Sun sibuk browsing untuk mencari bantuan jasa babysitter. Dan tak lama kemudian munculah sebuah nama yang unik, Shin Yu Ra. Seorang kepala Yayasan Serin yang mengurusi siapa saja yang berkebutuhan dengan layanan babysitter dua puluh empat jam yang terletak di Paju. Goo Hye Sun pun menekan nomor sesuai dengan yang tertera di layar laptopnya.

Nomor belum juga tersambung. Goo Hye Sun harap – harap cemas. Masa iya tak ada yang mengangkat. Katanya dua puluh empat jam. Kenapa lama sekali responnya? Goo Hye Sun tegang hingga tangannya bergetar sambil menggigit bibir bawahnya masih setia menempelkan gagang telepon di telinga kirinya kalau ada yang menjawab panggilannya. Namun nomor tersebut tetap tak ada respon. Diulangnya lagi dengan meredial nomor yang sama, dan beruntunglah karena kali ini ada suara serak wanita yang hampir mirip dengan suara laki – laki yang sedang menerima panggilannya.

Iya, sore. Dengan Yayasan Serin, ada yang bisa saya bantu?” Suara wanita itu pun membuyarkanku dari lamunan.

Oh, ne. Ini dengan Goo Hye Sun.”

Iya, ada yang bisa kami bantu saudari Goo Hye Sun?

Aku sedang kewalahan menangani putraku sendirian di rumah. Putraku berusia tujuh bulan delapan hari. Apa aku bisa menyewa tenaga babysitter hingga usianya beranjak dua tahun nanti?

Itu sajakah Goo Hye Sun-ssi yang Anda butuhkan?

Iya.”

Anda menelepon alamat yang tepat, nyonya. Saya akan segera mengontek nyonya di nomor ini saat saya sudah mendapatkan seorang babysitter untuk anak nyonya. Tapi sebelumnya, bolehkah saya tahu siapakah nama lengkap putra Anda, nyonya?

Dong Jhu. Namanya Ahn Dong Jhu,”

Baiklah eomma Ahn Dong Jhu tolong Anda untuk standby dalam waktu dua puluh empat jam terhitung mulai saat ini, karena kami akan memfollow up data Anda segera dan menyarankan lima kandidat gadis yang akan kami kirim untuk menjadi babysitter Ahn Dong Jhu.”

Baiklah, terima kasih Nyonya Shin.”

Sama – sama, nyonya. Terima kasih sudah menghubungi Yayasan Serin.” PIIP. Suara gagang telepon yang ditutup terdengar. Sambungan telepon terputus. Shin Yu Ra-ssi sudah mengakhiri panggilannya. Dan waktu Goo Hye Sun untuk menanti panggilan lebih lanjut dari Yayasan Serin.

 

 

Appa Jae Hyun sedang menyedu kopi dan membaca lipatan koran pagi yang sedang dibawanya. Dirinya benar – benar membaca dengan teliti. Dirinya berniat untuk membeli sebuah rumah yang letaknya tak jauh dari cucu mahkotanya agar bila dirinya rindu dengan Ahn Dong Jhu dirinya mudah saja tinggal berjalan kaki atau naik motor untuk menempuh jarak terdekat. Dilihatnya pada kolom iklan rumah yang berkolom – kolom itu dengan seksama. Belum ada yang mampu memikat hatinya. Apa sebegitu sulitnya mencari rumah di sekitar tempat tinggal cucunya itu? Ternyata sulit juga hanya untuk mencari sebuah rumah saja!

Appaaaa… ayo makan. Sarapannya sudah siap!

Eomma Jae Hyun sudah meneriaki suaminya pagi – pagi. Lantaran dilihatnya appa ngobrol sendiri lantaran seringkali menggumam dan menepuk dahinya sesekali. Padahal jika saja eomma tahu appa sedang kebingungan untuk mencari rumah yang sedang dijual di sekitar komplek tempat tinggal putra dan cucunya itu. Dulu saja apa – apa Ahn Jae Hyun yang selalu dinomorsatukan. Sadar sekarang putranya itu telah member cucu kepadanya, nobat ranking pertama itu turun ke tangan Ahn Dong Jhu cucunya sekarang. Apalagi sejak dulu appa sangat memuja – muja cucu laki – laki. Menurutnya anak laki – laki adalah pribadi yang sanggup mengangkat semua beban di pundaknya. Begitulah yang appa dapati di diri Ahn Dong Jhu kelak.

Ayo, buruan naikkk! Kau itu tunggu apa lagi sih? Melamunkan Dong Jhu? Kan Dong Jhu ada di sini, sayang!” Eomma menepuk pundak suaminya yang agaknya tidak juga segera beralih ke dalam meja makan.

Eh,

Kau itu kenapa? Aku sudah teriak – teriak kau tidak segera datang juga! Makanan bisa dingin nanti. Ayo!” Eomma pun menarik tangan appa untuk langsung berjalan menuju ruang makan. Di sana Ahn Jae Hyun, Goo Hye Sun dan juga Dong Jhu yang berdiri di kursi dorongnya pun sudah menyambut harabojjinya itu begitu pun dengan besannya orang tua Goo Hye Sun, tak terlupa Ban Ajjuma, Bong Man, juga Sung Pyo ikut makan bersama di meja besar itu. Mereka semua sudah sangat akrab. Terlihat sekali hubungan yang mereka jalin ini sudah seperti sahabat yang sudah berhubungan lebih dari sepuluh tahun.

Bagaimana dengan comebackmu Goo Hye Sun?” Tanya Eomma Hye Sun pada putri semata wayangnya itu.

Seperti yang eomma lihat. Semuanya berjalan dengan lancar.” Sahut Goo Hye Sun mantap.

Ehm. Yang penting jangan abaikan Ahn Dong Jhu kami.”

Eom-maaa… aku ini eommanya, jadi mana mungkin aku tega menelantarkannya? Sejahat – jahat seorang ibu tak akan mungkin tega melukainya darah dagingnya sendiri.”

Entahlah. Tak ada yang bisa menjamin.” Lalu pandangan eomma beralih ke arah Jae Hyun. “Kau, sebagai suaminya apa pernah kau melihat Hye Sun tak becus merawat Dong Jhu cucuku?” Tanya eomma selidik dan mendelik menunggu jawaban dari menantunya itu.

Hemm. Hye Sun orang yang sangat bertanggungjawab, Eomma. Kau bisa menyerahkan semua pekerjaan ibu rumah tangga kepadanya. Kau bisa pegang kata – kataku, eomma.” Kata Jae Hyun lalu mengarahkan sesendok nasi ke mulutnya.

“Baiklah. Kalau begitu dia tak perlu assistant rumah tangga, kan?” Kata eomma seperti bernada meledek.

“Yakh, eomma. Kalau itu jelas berbedalah, eomma. Bong Man saja yang managerku bisa mengerti kalau pekerjaan kami butuh semua bantuan dari mereka. bagaimana bisa gallery Hye Sun tanpa didukung assistant pribadi? Belum lagi ada Dong Jhu sekarang. Dia sudah mulai bisa bicara, eomma. Kumohon mengertilaaaahhh!” Kata Jae Hyun berkata panjang lebar dengan memperlihatkan aegyonya.

“Ck! Hezzz! Lihatlah putra eomma. Sudah menjadi appa saja kelakuanmu masih seperti anak yang baru lahir. Baiklah. Biar appa yang carikan dari rekanan appa.” Kata eomma setuju.

“Terima kasih, eomma!” CUP. Jae Hyun pun langsung mencium pipi kiri eommanya.

“Haiz!!! Bersihkan mulutmu dulu! Baru mencium eomma. Dasar jorok!!”

“Heee!!!” Jawab Ahn Jae Hyun cengar – cengir. Dan diikuti Goo Hye Sun yang tersenyum melihat sisi lain Ahn Jae Hyun yang kekanakan.

 

 

Siang hari Goo Hye Sun sedang ingin pergi berbelanja dengan eomma. Membelikan sepatu dan pakaian yang agaknya Ahn Dong Jhu sudah mulai tak muat dengan aneka outfit yang dipakainya sekarang. Untuk anak seusianya Dong Jhu termasuk anak yang tinggi. Goo Hye Sun hanya berpikir mungkin Ahn Dong Jhu besar akan lebih mirip dengan appanya meskipun kalau dilihat dari senyumnya mengingatkan foto – foto dari masa kacilnya saat dirinya berusia enam tahun.

Goo Hye Sun mengajak kedua eommanya untuk pergi ke toko perlengkapan bayi yang berada tak jauh dari seberang jalan di ujung komplek kediamannya. Eomma pun agaknya sangat anthusias untuk melihat perkembangan cucu mereka ini. Ya! Ahn Dong Jhu memang adalah anak bersama. Kemana pun harabojjinya pergi, dia selalu menjadi bahan rebutan unttuk keduanya. Tidak jauh berbeda dengan halmeonninya yang tak kalah repotnya juga. Untuk hanya menghadiri hajatan saja halmeonninya juga berebutan. Mereka sudah hampir bisa dipastikan selalu mengupdate kegiatannya yang berbuhungan dengan Dong Jhu secara tak langsung. Padahal kalau dipikir – pikir usia Dong Jhu untuk bersekolah di Play Group atau Kindergarden masih lumayan lama. Ada bentang waktu antara dua sampai tiga tahun. Namun para halmeonninya ini bahkan sudah membeli semua peralatan sejak dua minggu yang lalu. Goo Hye Sun juga kadang kewalahan. Dirinya tak tahu harus bilang terima kasih atau malah marah dan menyuruh kedua eommanya itu untuk berhenti terlalu mengkhawatirkan Dong Jhu. Dong Jhu itu miliknya. Namun semuanya selalu ambil bagian untuk quality timenya dengan Dong Jhu. Jarang Goo Hye Sun bisa menggendong Dong Jhu kalau tidak di malam hari seusai dirinya pulang bekerja. Begitu pula dengan Ahn Jae Hyun yang bisa menidurkan Dong Jhu sebelum pergi ke kantor agensinya di Esteem. Begitu merepotkan, namun nyatanya mereka berdua bisa melalui hal ini hingga sekarang.

Goo Hye Sun hendak menyebrang. Masih bersama kedua eommanya yang menenteng tas yang bergaya hanya sekedar untuk berbelanja di perlengkapan bayi. Goo Hye Sun sudah memperingatkan eommanya untuk tidak terlalu dandan yang mencolok. Sebab semua mata hampir – hampir tak melepas pandangan mereka yang mengarah ke kedua eommanya yang sudah terlihat bak selebritis papan atas yang menuju red carpet.

Eomma.. percepat langkah kalian. Sudah tahu hanya di Kodomo kenapa harus berlaga seperti ini, hoh? Ingin membuatku malu! Ck, eomma!” Goo Hye Sun pun mendengus kesal.

Eomma kan tidak tahu kalau tempatnya hanya sekecil ini.” Kata eomma menyanggah.

Iya, eomma pikir artist sepertimu harusnya datang ke tempat yang sedikit lebih besar,”

Awas saja kalau di dalam eomma terus mengoceh,” Goo Hye Sun mengepalkan tinjunya dengan memicingkan mata membuat kedua eommanya bergidik lalu menurut saja mengikuti langkah putrinya itu.

Wah! Lumayan lengkap juga ya, ternyata. Dari depan kelihatannya sangat sempit!” Kagum eomma melihati deretan kereta dorong dan mainan bayi yang terpampang di etalase pertama.

Putriku tak salah pilih tempat, ne!

 

Goo Hye Sun sedang sibuk memilah – milah untuk mengganti warna selambu yang ia gunakan untuk menutupi sinar matahari yang langsung masuk ke jendela kamar Dong Jhu. Goo Hye Sun ingin warna merah, tapi eomma dan mertuanya juga punya pilihan warnanya masing – masing. Eomma ingin warna yang hitam gelap bergambar Spiderman yang berkostum hitam pula sedang mertuanya menginginkan warna Silver dengan gambar Gundam besar di te-ngahnya. Goo Hye Sun bertambah bingung. Alhasil ketiga – tiganya pun dibeli Hye Sun untuk bergonta – ganti selambu. Lantas Hye Sun pergi ke ruang sebelah di bagian pakaian bayi. Hye Sun menyuruh eommanya yang memilihkan empat pasang piyama, serta eomma mertuanya untuk memilih sepatu dan topi yang match dengan sniker – sniker yang barusan dibelikan appanya untuk Dong Jhu yang sudah mulai merangkak itu.

Eomma sudah dapat?” Tanya Hye Sun menghampiri eommanya. “Eomma sudah dapat juga?

Kedua eommanya menggangguk. Hye Sun pun mengangkutnya ke trolly dan segera membayarkannya ke cashier. Hye Sun menyerahkan semua barangnya ke karyawati yang tersenyum cantik di hadapannya.

Semuanya ingin disatukan atau dibedakan per item, Nyonya Hye Sun?

Satukan saja boleh,

Baiklah. Ini.”

Terima kasih.” Goo Hye Sun tersenyum.

Terima kasih juga telah berkunjung.” Balas ramah sang admin yang sedang berjaga di stand cashiernya.

 

 

Tak berselang lama setelah Goo Hye Sun sampai di rumahnya, Goo Hye Sun sudah mendapatkan panggilan masuk dari Yayasan Serin, babysitter. Ada lima orang kandidat gadis yang akan menjadi babysitter baby Dong Jhu. Ada nama Yoo Si Ya, Kim Tae Ri, Go Byul Mi, Cha Rae Won, Moon Sae Rin. Dan Goo Hye Sun pun segela memfollow up data ke yayasan untuk meminta kelengkapan data kelimanya tersebut lewat e-mail terlebih dahulu dan akhirnya Go Byul Milah yang Goo Hye Sun pilih.

Sabtu pagi Goo Hye Sun sudah berjanji untuk menjemput Go Byul Mi sekalian mampir ke Yayasan dan membayar penuh untuk dua bulan pertama kepada Yayasan tanpa membayar uang muka terlebih dahulu. Go Hye Sun sudah mantap dan sangat percaya dengan yayasan tersebut. Baginya Yayasan tersebut sudah memiliki nama dan sudah pasti bisa untuk diandalkan. Gomapta!

Oh, Goo Hye Sun-ssi?” Sapa salah seorang kepala security yang telah bertugas di depan gerbang pintu masuk yayasan.

Ne,” Jawab Goo Hye Sun sambil melepaskan kacamata maroonnya.

Ada keperluan apa Nyonya datang kemari? Ada yang bisa kami bantu?” Tanya orang yang memiliki tag name Goo Nam Gi itu.

Ah.. bisakah aku masuk dan bertemu dengan pemilik yayasan babysitter ini? Aku datang untuk menjemput salah seorang babysitterku di sini?

Anda ingin saya mengantarkan ke dalam. Mari!” Tangan Pak Nam Gi lalu mengarahkan mobil yang dikendarai Hye Sun sendiri untuk maju dan sedikit serong ke kiri untuk memarkir di sebelah barat gedung yayasan yang terdiri dari Sembilan ruangan yang lebih mirip dengan sebuh lorong atau terowongan itu.

Ah, terima kasih, pak.” Lalu Goo Hye Sun memberikan dua lembar uang kertasnya kepada Pak Nam Gi yang telah membantunya. Pak Nam Gi memberikan satu uang kertasnya namun Goo Hye Sun berkata untuk menyimpannya saja. Lalu Pak Nam Gi pun membungkuk dan pergi berlalu.

Goo Hye Sun masuk ke dalam pintu utama di gedung yang bertulis Ai di dalam lalu mengetuk pintu seketika berdiri di depan pintu bercat merah yang memiliki bangungan besar yang agaknya peninggalan Jepang ini.

“Aigooo, Nyonya Hye Sun benar – benar datang rupanya. Sebentar akan saya panggilkan dulu dengan Go Byul Mi. Dia sudah datang kemari sejak tadi subuh hanya untuk memneuhi janjinya kepada Nyonya.  Kalau boleh tahu berapa usia nyonya sekarang?

Aku sudah tiga puluh dua tahun.

Oh, berarti sudah seumuran dengan oppanya.

Goo Hye Sun pun tersenyum mendengarnya.

Ayo silahkan Anda tunggu di sini. Anda ingin minuman yang dingin atau hangat?

Tak perlu repot.”

Ah, tidak sama sekali, Nyonya.”

 

Goo Hye Sun sedang membaca tabloid yang telah tersusun rapi di dalam raknya. Go Byul Mi yang sedang berjalan ke depan gedung Ai pun menyapa saat mengetahui Goo Hye Sun sedang menyedu coklat panasnya.

Annyeonghaseyo, Go Byul Mi imnida. Mannaseo bangapta!” Bungkuk Go Byul Mi di hadapan Goo Hye Sun yang masih duduk di sofa.

About shiellafiollyamanda

"Wish my creation can inspire a lot of people, at least around me."
Gallery | This entry was posted in book, NOVEL and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s