MEMORY


isi 210. Reunion

 

Yoo Mi seringkali mencerca tingkah Hye Sun yang bersikap sok manis di depan eomma mertuanya itu. Biasa tidak pernah berdandan, sekarang dirinya bergaya ala – ala kaum high society yang harus kemana – mana tak biasa tanpa high heelsnya. Yoo Mi hanya terkekeh memandangi kelakuan Hye Sun. sesekali Yoo Mi membantu Hye Sun untuk mengambilkan piring makanannya dan gelas minuman kosong untuk antre di depan pondokan yang menyiapkan banyak menu makanan di meja bulat yang extra lebar itu. Untuk makanan. Agaknya masih sama. Hye Sun tetap tidak suka sayur. Ada apa dengan wanita ini, sudah punya putra dengan belum sama saja gaya hidupnya. Jauh dari kata sehat. Namun anehnya bentuk tubuhnya tetap saja langsing dan tidak bertambah tinggi juga meski kesukaannya makan makanan yang berkalsium tinggi. Aneh. Yoo Mi hanya menelan ludahnya saat melihat Hye Sun mengambil Beef Yakiniku yang hampir – hampir seukuran dua porsi tanpa mengambil nasi maupun kentang. Apa – apaan dia. Ckckckc!

Kenapa melototi saja? Ayo ambil? Jangan bilang kau sedang dietary!” Hye Sun mencibir tingkah Yoo Mi yang sedari tadi tak berhenti memandanginya.

Aku sudah ambil banyak.” Kata Yoo Mi gelagapan.

Ini? Ini kan tidak cukup untuk mengisi perutmu, sayang. Pokoknya aku tidak mau kau tumbang.” Sambil mengarahkan tangan Yoo Mi di hadapannya ke depan lalu menciduk Chicken Calamary untuk Yoo Minya.

Yoo Mi pun mengikuti Goo Hye Sun dan hanya menurut saja apa yang dikatakan teman sebayanya itu.

Omong – omong dengan siapa Tunder akan menikah?

Eh, entahlah. Entah menikah atau baru pertunangan aku kurang paham. Yang jelas sepertinya dengan sesama penyanyi. Aku dengar namanya Nicole.”

Dia orang kita?

Sepertinya. Hanya lama tinggal di California.”

Lost Angeles atau California?”

Oh, Iya. Lost Angeles. Kau tahu dari Tunder?

Begitulah. Aku kan noonanya.” Jawab Goo Hye Sun bangga dan menarik kursinya maju untuk menyamankan posisi duduknya.

Hah! Kau itu.. bercanda saja kerjanya!

Kenapa? Kau keberatan berkawan dengan orang sepertiku?

Bukan begitu juga. Hanya saja kau itu sedikit menyebalkan saat kambuh penyakitmu seperti ini.”

Argh! Itu gampang. Coba sekarang kau video call Dara sedang apa dengan calon istri Tunder?

Kenapa tidak langsung kepada Tunder saja meneleponnya?

Kau itu berisik sekali ayo cepat telepon Dara! Aku barusan menelepon Tunder dia sedang ada konser di Amerika, Yoo Mi jerapah!” Goo Hye Sun marah hingga seringainya keluar.

Baik-baik!

Yoo Mi pun memencet beberapa tombol di speed dial listnya lalu tak beberapa lama ada seorang wanita muda yang menerima panggilannya di seberang jalan. Tapi sepertinya dari dalam butik sebab ada suara seseorang designer yang sedang mengukur lingkar pingganggnya.

Yoboseo?

Oh, ini Nicole? Ini aku Yoo Mi teman calon kakak iparmu. Bisa kau sambungkan teleponnya kepada Dara, Nicole. Jebal, ne?

Oh, ada pesan apa yang bisa aku sampaikan? Eonni sedang mengukur pakaian untuk mendampingi kami di pesta nanti Yoo Mi Eonni.”

Oh. Kalau begitu aku telepon lagi saja nanti. Kapan kira – kira Dara selesai?

Mungkin lima belas menit dari sekarang, eonni. Ada lagi yang ingin eonni tanyakan?

Oh, tidak. Itu dulu saja. Terima kasih ya, Nicole. Salam untuk Park Do Jin Ajjusi.

Ne,

Yoo Mi pun mendengus dan membuang nafas kasar. Dirinya tertunduk lesu. Membuat Hye Sun harus lebih menarik kursinya ke depannya lagi dan memperhatikan gelagat Yoo Minya. Seperti orang yang salah makan saja murung dan memegangi perutnya. Lalu menempelkan wajahnya ke meja makan.

Apa kata Dara?

Aku tak berbicara dengannya. Aku sedang berbicara dengan rubah kecil itu.

Siapa? Nicole maksudmu?

Siapa lagi?

Kenapa kau benci dengannya?

Yah bagaimana aku tidak benci kalau dia yang menikungku. Dia mengambil Tunder dariku setelah mengambil Jin Guku dua tahun yang lalu.”

Astaga jadi kau dan Tunder benar – benar sudah pernah menjalin hubungan?

Lebih dari itu. Pertunanganku sudah dilaksanakan dua tahun yang lalu dimana aku sempat berpikir Tunder adalah laki – laki terakhir yang akan berlabuh ke pelaminan tapi Nicole nenek sihir itu merubah semuanya. Pestaku berubah jadi bencana hanya dengan alasan neneknya sudah pernah membuat janji dengan kakeknya dulu ingin menikahkan cucu mereka saat sudah dewasa. Dan neneknya meninggal di hari itu juga.”

Kasihan. Kemarilah. Kau butuh dada atau bahuku.”

Tidak keduanya. Karena air mataku sudah kering Hye Sun. benar – benar kering. Dan sekarang aku rasa aku telah jatuh cinta lagi.”

Son Tae Il?

That’s absolutely right.”

Sangat kentara sekali.”

Sudahlah sekarang pikirkan saja untuk acara Dara. Harusnya dia di sini sekarang untuk membuat moodku lebih baik setidaknya.”

Apa aku masih kurang?

Maafkan aku, Hye Sun. Seharusnya di acara specialmu ini aku bisa memberikan performa terbaikku sebagai seorang sahabat bukan malah mencurahkan isi hatiku yang sedang gundah.

Tak apa. Setidaknya kau sudah move on. Hanya kau yang masih single di sini. Kalau kau sudah mantap dengan Tae Il kejarlah. Aku akan sangat mendukungnya dia seorang single parent yang peduli terhadap lingkungan.” Tambah Hye Sun.

Apa katamu barusan? Dia sudah punya anak?

Bukankah dia sudah bilang saat bersalaman denganmu kalau dia sudah memiliki satu putra dan satu putri?

Aku tidak begitu focus. Aku focus ke wajahnya yang tampan, Hye Sun. lalu aku harus bagaimana? Aku harus mundur?

“Jangan. Jarang menemui lelaki yang bertanggung jawab dan bijak seperti dia. Kau tunggu apa lagi? Kesempatan ada di depan matamu sekarang. Jangan kau lepas lagi! Untuk kemarin kau masih boleh mengalah untuk Nicole. Sekarang kau dapatkan gantinya. Fighting!” Kata Hye Sun sambil berusaha mengunyah daging di mulutnya yang begitu besar.

Yoo Mi mengangguk tegas dan mulai mengontak nomor Son Tae Il yang dia dapatkan lewat kartu namanya. Astaga! Goo Hye Sun hanya mengendus melihat tingkah Yoo Mi yang masih seperti anak remaja yang sedang kebingungan untuk menyatakan cinta itu. Sudah berapa usianya memasuki kepala tiga tapi masih saja sering gugup dan sulit mengontrol diri. Hahaha! Beberapa kali dia mengetuk – ngetukkan jemari – jemari lentiknya yang tengah menari indah di atas meja kerja Hye Sun yang dipakai keduanya untuk makan. Di sela – sela pengunjung yang lalu – lalang keduanya justru asyik untuk mengobrol sembari bercanda sebab jarang mereka bisa bertemu. Syukur bisa dipertemukan di Klinik Bersalin Ye Rin Seonsaengnim dan sekarang bisa saling bercengkrama kembali setelah belasan tahun terpisah karena beda sekolah. Bertemu sudah dewasa.

Jujur Goo Hye Sun risih melihat sahabatnya itu kelabakan. Dirinya ingin sekali mencomblangkannya dengan investor lamanya itu. Meski belum begitu mengenal Son Tae Il luar dalam namun Hye Sun sangat yakin kalau Tae Il itu bisa diandalkan. Terlihat dari caranya yang sangat care dengan kedua anaknya. Kalau bukan dia pria yang baik tidak mungkin hak asuh anak bisa dia pegang. Analisa yang cukup singkat namun memang tepat.

Kemarikan. Biar aku yang bicara lebih dahulu.” Tutt.. Tututt.. Baru sebentar Tae Il pun langsung mengangkatnya.

Iya, Hye Sun-ssi. Ada apa ada mencariku?

Bapak ada dimana? Bisa kita bicara sebentar? Sabahabtku sedang butuh bantuanmu. Dia ingin memodifikasi mobil sportnya. Kau bisa bantu dia, kan?

Oh, Yoo Mi-ssi?

Tepat sekali. Oh ya darimana kau bisa tahu ini aku? Ini nomor Yoo Mi tolong kau simpan ya?

Kau dimana?

Lantai dua di belakang food court. Dekat parkir. Cepat kemari sebelum dia buru – buru pulang ke rumahnya di Incheon.

Baiklah. Aku jalan ke sana.”

PIP. Begitu sigap Hye Sun mengumpani Tae Il yang begitu menggemari otomotif itu.

Nah sekarang kau sudah tahu, kan? Kegemarannya itu tidak jauh – jauh dari ototmotif. Sekarang tinggal giliranmu untuk dekat dengannya. Jangan banyak bicara di hadapannya. Sebab dia cepat muka dengan wanita yang banyak bicara. Kau tahu kan maksudku?” Kata Hye Sun memperingatkan.

Yoo Mi pun mengangguk sambil mengaitkan dua jarinya telunjuk dan ibu jari yang membuat bentuk O dan berarti Okay. Yoo Mi hanya berpikir bagaimana kalau dirinya harus menjaga jarak dengan Tae Il lantaran dirinya yang begitu pencemas dan selalu asal – asalan bicara. Itu bahkan sudah menjadi kebiasaannya. Sulit untuk dihentikan.

 

 

Handphone Yoo Mi berbunyi bukan dariTae Il namun dari Dara.

Iya, kau bisa kemari?” “Sudah selesai, kan?

Aku belum bisa ke sana tapi aku ada acara ke Seoul besok siang. Bagaimana kalau kau menginap dulu di rumah Hye Sun atau siapalah lalu besok aku jemput kau dan kita berlima berbicara?

Sebentar. Lima orang maksudmu aku harus bertemu dengan Tunder?

Waeyoooo? Dia kan sudah hampir menikah. Tolong relakan dia supaya hidupnya juga tenang.”

Aku tidak bermaksud menolak ajakanmu, sobat. Tapi bagaimana bila aku gugup dan meluapkan emosiku hingga mengacaukan acara reunian kita?

Tenang saja. Kalau begitu bawa pacar barumu. Dan Suami Hye Sun.

Oh.. aku…” Belum sempat Yoo Mi bicara tapi Dara sudah nyerocos saja.

Aku jemput di taman dekat halte dari airport, okay? Sampai jumpa besok. Jangan lupa ingatkan Hye Sun, dan Jae Hyun sampaikan salamku pada mereka dan juga ajjuma serta ajjusi.” PIP. Dara pun menutup teleponnya.

Yakh! Jeongmal…” Yoo Mi geram Dara selalu saja begitu setiap me- ngajak pergi. Tak pernah meminta persetujuannya terlebih dahulu. Memang dipikirnya Yoo Mi ini bonekanya yang seenak jidat dirinya mainkan dan dibongkar pasang.

Hye Sun hanya tertawa namun juga mencercanya mengerucutkan bibirnya. Kesal dengan sikap Dara juga. Meski dirinya juga sering kesal dengan Yoo Mi namun Drara tak dipungkiri memang memiliki pribadi yang kerasa dan me- nganggap yang lain selalu sependapat dengan dirinya.

Hi!” Seorang pria datang mengagetkan Yoo Mi menepuk pundak Yoo Mi dari belakang. Hye Sun yang sejajar dengan Yoo Mi pun ikut terkesiap.

Kau ini mengagetkan aku saja!

Cihh! Kau pikir ini di kebun binatang? Membuatku berteriak saja!” Yoo Mi marah sekali.

Maaf, nona. Kapan kau perlu bantuanku?

Eh.. itu…” Yoo Mi pun berpikir keras dan berusaha mengingat apa yang ingin dia bicarakan dengan Tae Il. Membuat Hye Sun deg – degan me- ngernyitkan dahinya.

Masa kau lupa, Yoo Mi? Siapa yang akan memodifikasi mobilmu?” Akhirnya Hye Sun pun harus angkat bicara menginjak kaki Yoo Mi untuk mengajaknya kompromi. Bagaimana bisa temannya itu blank di hadapan orang yang telah mencuri perhatiannya pada pandangan pertama itu. Haduh, Yoo Mi!

Aaa… Iya, benar. Aku ingin memodifikasi mobil sportku. Iya mobil sportku yang di rumah perlu banyak referesh setelah sudah satu tahun aku bawa. Aku ingin gayanya yang terkesan lebih cocok untuk anak muda seperti kita.” Banyak yang Yoo Mi keluarkan. Hye Sun langsung melotot ke arahnya untuk mengingatkan Yoo Mi kembali supaya tak banyak bicara.

Sepertinya kau lupa lagi kawanku! Bukankah tadi yang kau bicarakan itu mobil yang sedang kau bawa ini?” Tanya Hye Sun menekankan nadanya pada jata mobil ini. Bermaksud untuk membuat Yoo Mi mengerti maksud ucapannya agar bisa sekarang bicara untuk membenahi mobilnya.

Oh, bukan ada mobil yang satu lagi yang sedang dipinjam kakakku.”

Apa maksudmu, ha? Kan eonnimu sudah pulang kemarin, Yoo Mi.

Sebentar – sebentar kalau kalian ingin rebut sebaiknya aku keluar saja sekarang.

Oh, tunggu – tunggu! Maksudku Yoo Mi agar kau antar pulang saja kasian dia sudah kemalaman pulangnya. Kau bisa kan, ya, pak? Nanti sekalian saja kau benahi mana yang perlu diganti. Aku bisa tanggung biayanya.”

A.. tidak perlu, Hye Sun. Kau sudah terlalu baik kepadaku.” Tolak Yoo mi sungkan. Namun sudah terlanjur Tae Il menawarkan diri.

Begini saja, karena kau sahabat rekan kerjaku maka untuk memodifikasi mobilmu biar aku saja yang tanggung. Aku yakin tidak akan semahal yang kalian kira. Aku sudah terbiasa merakit dan sudah terlalu sering pulang – pergi keluar kota bahkan keluar negeri hanya untuk mengutak – atik mesin – mesin ini. Kau serahkan saja kepadaku.

Terima kasih, Tae Il-ssi” Semburat merah tersirat di pipi Yoo Mi membuatnya semakin manis.

Jangan panggil aku begitu Cukup Tae Il saja. Kau tak perlu ikut – ikutan Nyonya Jae Hyun. Dia kan memang Seniman.”

Hehehe.. Aku bukan apa – apa. Aku hanya seorang akuntan di Bank Swasta di Incheon.

Waw. Sudah pasti gajimu cukup besar untuk seorang single sepertimu.”

He. Terima kasih. Tidak juga sebenarnya. Aku sedang merawat nenekku yang sudah hampir dua tahun ini lumpuh total di kedua kakinya. Jadi aku harus menyisihkan banyak uangku untuk itu.

Waw, itu perbuatan yang mulia sekali, nona.”

Yoo Mi.”

Oh, iya, maksudku, nona Yoo Mi.”

Jangan panggil aku begitu, panggil saja aku Yoo Mi.”

Hahahahaha…!

Hye Sun pun tertawa melihat mereka berdua yang makin akrab. Mereka berdua pun ikut – ikutan tertawa. Bahkan Hye Sun yang awalnya juga tak yakin dengan sikap dingin Son Tae Il ternyata bisa luluh juga dengan sahabatnya yang lugu seperti Yoo Minya itu.

About shiellafiollyamanda

"Wish my creation can inspire a lot of people, at least around me."
Gallery | This entry was posted in book, NOVEL and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s