MEMORY


2itu

  1. Headline News

 

Dara yang tampak langsing sekarang membagi ceritanya bagaimana dirinya mengikuti program diet ketat untuk mendapatkan bentuk tubuh seperti sekarang ini. Dimulai untuk sebuah pemotretan iklan kamera Nikon yang baru dan menjadi sebuah icon brand untuk jacket bulu yang diimport dari Paris. Dirinya yang baru memulai debutnya semenjak lima tahun yang lalu sebagai penyanyi lalu mendapat tawaran untuk menjadi model setelah tampil di beberapa program music di televise seperti Music Bank dan MNet. Awalnya tuntutan pekerjaan yang harus memaksanya untuk memiliki bentuk tubuh yang ideal dan terlihat indah di kamera. Namun seiring dirinya menjalani, Dara bisa merasakan semangat dirinya yang baru lewat penampilan barunya yang sekarang. Dirinya sudah lebih percaya diri sekarang. Dahulu dia bilang bahwa Dara yang semasa SMA selalu menutup diri dan jarang untuk berani bicara selain dengan teman terdekatnya saja. Paling dia hanya berempat di perpustakaan sekolah dengan teman sebangkunya, Yu Ra dan dua siswi pemain basket di kelasnya, Hae Ra dan So Won. Dirinya berlatih fitness setiap Senin dan Kamis, berenang di hari Sabtu, hingga mengikuti kelas break-dance di hari Minggu. Bahkan Yoo Mi yang hanya bertempat tinggal tak jauh komplek perumahan Dara saja hampir – hampir tak mengenalinya setelah lama tak bertemu. Dan baru mengetahui bahwa Dara yang biasa dia lihat di televise itu adalah Dara sahabatnya di TK dulu.

 

Lain lagi halnya dengan Dara, Yoo Mi bertambah tinggi tanpa alat bantu atau usaha yang dibilang keras. Dirinya juga tidak meminum susu formula hanya untuk menambah tinggi badan. Olahraga bahkan Yoo Mi sangat membenci yang namanya kerja berat. Berjalan kaki saja dirinya bisa dibilang jarang. Namun untuk urusan tinggi badan mungkin diwariskan dari sang nenek buyutnya yang lumayan tinggi semampai. 175cm untuk wanita Korea bukanlah hal yang biasa. Itu sangat jarang ditemui. Itu menurut anggapan nenek buyutnya semasa hidup. Dan bisa jadi Yoo Mi memang benar mewarisinya dari sang nenek buyut. Kendati Goo Hye Sun juga masih ingat sekali semasa kecilnya Yoo Mi jauh tingginya bila dibandingkan dengan Hye Sun yang paling tinggi di kelasnya. Justru sekarang keadaan berbalik. Hye Sun mulai berhenti pertumbuhannya semenjak di bangku SMA hanya 165cm. Yang dipikirnya harusnya masih bisa tinggi hingga 169cm mengingat eomma dan appanya tergolong jangkung. Dan Hye Sun cukup pendek bila dilihat dari kedua sisi genetical orangtuanya. Ini yang membuat mereka bertiga tertawa sangat lucu mengingat masa kecil mereka yang mungkin terkesan menyebalkan bisa mengingat masa itu namun me- ngagumkan juga kalau tahu hingga sekarang masing – masing masih juga mengenangnya. Kebersamaan ketiganya yang senang bermain ayunan dan pamer sepatu baru lalu main perosotan dan berlarian untuk lebih dulu menaiki Komidi Putar. Begitulah. Tanpa terasa waktu telah berputar.

 

Saat asyik – asyiknya Dara, Hye Sun dan Yoo Mi berbincang – bincang, tiba – tiba saja datang Suster Na Mi untuk memeriksa keadaan Dong Jhu yang berada di box tempat tidurnya di samping Goo Hye Sun yang masih tertidur pulas. Suster Na Mi lalu membantu memandikan Dong Jhu yang seketika terbangun saat tangan Suster Na Mi yang berusaha memindahkannya ke kasur Goo Hye Sun untuk melepas pakaiannya.

 

Tangan kanan Suster Na Mi sudah memegangi sabun mandi untuk Dong Jhu. Tangan kirinya juga sudah dibasahi untuk mengalirkan air yang ditampung di tangannya lalu menyiramkannya merata ke tubuh Dong Jhu secara perlahan dan berurutan dari lengan kiri ke tubuhnya lalu ke pusar dan kemudian turun ke kakinya barulah setelah itu membasuh muka Dong Jhu pelan dengan menggunakan waslap yang dicelupkan ke air yang hangat kuku. Lalu mengusap wajah Dong Jhu dan barulah menggosokkan sabun yang ber-Ph rendah ke tubuh Dong Jhu. Setelah kurang lebih satu menit Suster Na Mi pun membilasnya dengan air yang berada di ember tadi lalu mengeringkan tubuh Dong Jhu dengan handuk yang telah ditata sebelumnya di kasur Hye Sun. Goo Hye Sun yang belum bisa apa – apa pun tampak hanya memandanginya saja tanpa berani bertanya. Seumur hidup Goo Hye Sun belum pernah memandikan bayi yang baru lahir. Yoo Mi saja yang masih gadis sudah pernah memandikan tiga keponakannya sewaktu belum berusia sebulan. Begitu pun Dara yang pernah membantu proses kelahiran tetangganya yang masih seumuran dengannya. Maka Goo Hye Sun pun meminta pembelajaran dari mereka berdua. Mumpung keduanya sedang ada waktu untuk berkunjung. Mereka pun bersedia mengajari. Goo Hye Sun merasa sangat beruntung memiliki teman yang begitu baik hati.

 

 

Di sela – sela ngobrolnya ternyata Dara sahabatnya mendapatkan sebuah panggilan masuk. Agaknya sudah lama tapi Dara tak juga segera menjawabnya. Sekali menjawab Dara terlihat berbicara begitu entengnya seperti tak ada apa –  apa. Kalau dilihat dari suaranya memang seorang pria. Goo Hye Sun pikir mulanya dari appanya, namun mendengar suaranya yang pemarah itu pasti dari pacarnya. Belum – belum Goo Hye Sun hendak menimpali namun Dara sudah mengucapkan kata ‘yeobo’ yang membuat Goo Hye Sun dan Yoo Mi membulatkan mata mereka hampir – hampir tidak percaya.

 

Ya, kau makan duluan saja sana. Aku masih belum lapar. Lagipula aku masih ada dengan Hye Sun di sini. Semuanya aku masukkan dalam kulkas. Kalau kau mau kau hanya tinggal memanaskannya saja ke microwave, okay?” Jawab Dara panjang lebar.

 

Memangnya kapan kau pulang?” Terdengar sekali suara lelaki di seberang yang begitu berat.

 

Mungkin nanti malam. Kau tak perlu menungguku. Setibanya di depan rumah aku pasti sudah menelponmu.” Sahut Dara kemudian mematikan handphonennya.

 

Melihati semua mata yang melihat ke arahnya membuat Dara mengedipkan mata kebingungan. Ada apa? Dari gesturenya lalu Hye Sun menjawab dengan seadanya. Begitu pula Yoo Mi yang bertanya setelah Hye Sun.

 

Kau sudah menikah?

 

Benarkah itu tadi suamimu yang menelepon?

 

Dara hanya menjawabnya santai.

 

Aku kan tidak bilang aku belum menikah?

 

Tapi tidak ada berita di media yang menyebutkanmu telah menikah?” Tanya Yoo Mi.

 

Bukankah kalian tahu sendiri bagaimana ganasnya media di Korea Selatan? Tentu aku pilih jalan tanpa mengabarkan ke media?

 

Kau tidak takut jika dibilang hidup serumah dengan seorang pria?

 

Ah! Gampanglah. Lagipula semua tetanggaku juga sudah tahu. Aku mengundang mereka untuk sekedar hadir ke pesta pernikahanku. Kami sudah sah secara hukum.”

 

Lalu kalau sampai kau hamil karirrmu bagaimana? Kau tidak mungkin bisa menutupinya dari media?

 

Tenang saja. Biarkan mereka tahu kalau memang itu yang terjadi.” Kata Dara sampil mengupas kulit apelnya.

 

Heh! Kau ini tetap saja suka bertindak sesuai maumu!” Cerca Yoo Mi menimpali.

 

Jangan kau kupas semua. Vitamin terbesar ada pada kllitnya, sayang!” Omel Hye Sun melihat sahabatnya yang hampir – hampir membersihkan seluruh kulit buah apelnya itu. Lalu dengan kasar Dara menghentikan aktifitasnya dan pergi ke wastafel di dekat pintu dan muncuci buahnya lalu menggigit apelnya perlahan.

 

Jadi di sini hanya aku saja ya yang belum menikah?” Tanya Yoo Mi memelas.

 

Kau belum ada calon juga?

 

Memangnya kau ada kenalan apa?

 

Banyak sekali. Kau mau?” Goda Hye Sun.

 

Kau mau yang bagaimana? Nanti aku yang bantu menyeleksinya?” Kerling mata Dara membuat rencana di benaknya dan segera mengatur strategi.

 

Aku sungguh – sungguh! Jangan permainkan aku!” Dengus Yoo Mi.

 

Yakh! Ka pikir aku ini sedang bercanda, hah?” Dara yang kesal menggetok kepala Yoo Mi dengan kepalan tangannya hingga berbunyi ‘thak’. Pasti sakit sekali.

 

AUW! Maaf. Aku kira kau bercanda. Baiklah. Kenalkan padaku ke pesta perayaan tasyakuran Dong Jhu-Hye Sun, ya?

 

Serahkan saja padaku!

 

Aku tidak suka laki – laki yang mulutnya seperti wanita alias cerewet. Dan pastikan dia harus lebih pintar dariku.

 

Okay. Penampilan fisik bagaimana?

 

Itu tidak begitu aku permasalahkan. Yang penting enak dulu diajak ngobrol.

 

Hemm..

 

Terima kasih sahabatku!!!” Menghambur kepada Dara dan memeluknya erat. Hingga Dara harus sedikit berteriak karena kehabisan nafas. Goo hye Sun hanya menertawai tingkah lucu kedua sahabatnya ini.

 

 

Pagi ini semuanya sibuk tidak terkecuali Ye Rin Seonsaengnim yang ikut membantuku membenahi semua peralatan bayi yang dihadiahkan dari rumah sakit ini. Aku yang masih dalam masa nifas tentu tak boleh beraktifitas yang berat – berat. Sesekali Jae Hyun Oppa hanya menggendongku memindahkanku ke kursi roda dan membiarkanku hanya bisa melihati kegiatannya saja menata semua selimut serta beberapa kain tebal yang digunakan untuk membebat Dong Jhu. Sepertinya akan sangat membantu bila aku bisa membantu. Toh aku cuma bisa seperti patung tak bisa bergerak jadi object penderita saja. Hufth!

 

Tak kusadari bayiku terbangun. Aku berusaha mengayunkan tanganku turun untuk membantu perputaran rodaku supaya juga lebih mudah menjangkau Dong Jhu. Tapi sesekali Dong Jhu juga cepat berhenti menangis. Mungkin dia ngompol di celananya. Bukankah wajar mengingat sejak semalam aku cukup lama menyusuinya. Appa dengan lincah membuka balutan kain yang menutupi pusar Dong Jhu yang belum rapi terpotong. Dibukanya perlahan lalu Dong Jhu tersenyum melihat harabojjinya itu. Dilihatnya di bagian belakang punggung Dong Jhu. Ternyata benar, Dong Jhu ngompol. Bukannya merasa terganggu justru appa dengan senang hati mengangkat tubuh Dong Jhu dan menimangnya.

 

Omo! Dong Jhu-ya! Neomu kyeowo!!” “Uri Dong Jhu!” Kata appa memegangi ketiak Dong Jhu gemas.

 

Appa! Dia itu seperti apa!” “Wajahnya sangat innocent, appa!” Tambah Jae Hyun memberikan popok pertamanya untuk Dong Jhu.

 

Kau sudah pastikan beli yang paling halus permukaannya? Dia baru lahir. Kulitnya masih sangat sensitif, Jae Hyun.” Kata ayah memeriksa popok yang diberikan putranya itu. “Baiklah. Sepertinya bisa digunakan. Lagipula pihak rumah sakit sudah pasti menyeleksi semua benda yang ada di sini. Ini masih masuk pelayanan, kan?

 

Mana appa biar aku saja yang pakaikan. Sekalian aku berlatih.” Tersenyum ke arah appanya Jae Hyun Oppa mencoba memakaikan Dong Jhu popoknya dengan perlahan. Dibukanya kedua sisi lapisan perekatnya terlebih dahulu lalu memposisikan Dong Jhu di atasnya dan mulai membebatkan ke seluruh sisi dan mengeratkan pelapis rekatnya di sisi samping dan “Tada! Uri Dong Jhu! Ini appa, sayang!” Menciumi pipi kiri Dong Jhunya. Membuat Hye Sun yang mulanya sedikit khawatir Jae Hyun Oppa belum bisa memakaikan popok pada Dong Jhunya dan alhasil Dong Jhu hanya menjadi kelinci percobaan appanya sendiri. Namun bersyukur sekali ternyata appanya cepat juga belajar dari arahan suster tadi pagi. Hye Sun pun tersenyum lega. Lalu kemudian dia teringat bahwa dirinya belum pernah memandikan seorang bayi sebelumnya, sekalipun itu keponakannya. Bagaimana ini?

 

Dengan memutar rodanya cepat Goo Hye Sun mendekati ibu mertuanya yang terlihat baru kembali dari membeli enam bungkus makanan untuk kami semua termasuk seorang Suster Na Mi yang sudah lembur semalaman menjaga ruangan ini. Goo Hye Sun pun tanpa ragu membawakan makanan yang dibawakan eomma dan meminta penjelasan bagaimana sebaiknya memandikan seorang bayi?

 

Mengapa wajahmu gusar sayang? Memandikan bayi tidak sesulit yang kau pikirkan, Hye Sun. Kau hanya perlu menyiapkan air hangat kuku lalu membasuhnya ke area – area yang sensitif terlebih dahulu barulah ke kepala dan semua badan. Kau boleh menggunakan sabun bayi yang kadar Ph asamnya rendah. Mengerti?” Tanya ibu setelah menjelaskan singkat pada menantunya itu.

 

Aku rasa aku sudah cukup mengerti sekarang, eomma. Tinggal satu. Mempraktikannya. Kalau begitu mohon bantu aku untuk siang ini ya eomma. Sebelum pulang aku harus sudah bisa memandikan Dong Jhu.” Seraya melingkarkan lengan kirinya ke tangan kiri eommanya.

 

 

Setelah semuanya selesai dan juga memandikan Dong Jhu dirasa tak ada yang kurang. Tinggal menunggu Jae Hyun Oppa yang mengambil mobilnya di area parkir yang sudah dua hari lamanya itu. Tak beberapa lama kemudian tanpa diduga bersamaan dengan Jae Hyun Oppa memberhentikan mobilnya tanpa mematikan mesin mobil merah kami tepat di depan persimpangan jalan masuk menuju Hall depan yang terdapat ruang receptionist itu berdatangan para wartawan dan jurnalis tabloid bahkan televisi nasional yang sudah siap memberondongku dengan banyak pertanyaan. Beruntung Jae Hyun Oppa langsung memelukku dan menyuruh semuanya untuk menunggu di konferensi pers yang sebenarnya terdengar begitu spontan kami persiapkan begitu berita meledak kami diberitahukan oleh manager Jae Hyun Oppa.

 

Bisakah kalian memberi kami jalan terlebih dahulu. Aku minta maaf dengan sangat.” Kata Jae Hyun Oppa menunduk sambil memaksa maju di tengah kerumunan yang begitu riuh itu.

 

Tapi ada beberapa juga yang masih bersikeras untuk tetap menanyaiku lantang. Aku sebenarnya tidak keberatan. Hanya saja ini sedikit mendadak hingga aku tidak ada persiapan. Berbeda dengan Jae Hyun Oppa yang sudah terbiasa dengan pemberitaan di media, aku sebagai seorang seniman lebih banyak menanggapi apa yang sesuai porsiku seperti galleryku atau laguku yang baru. Mungkin juga tulisanku. Bukan issue atau berita burung yang kadang belum jelas kemana intinya. Tapi aku senang dengan sikap Oppa. Dia tak terlihat lebih muda dalam hal ini. Aku bilang pada Oppa untuk tenang dan biarkan aku menjawab semua pertanyaan para wartawan ini. Lagipula ditunda ataupun besok jawabanku juga tidak akan berubah.

 

Selamat atas kelahiran bayi Anda, Nyonya Goo Hye Sun. Boleh kami bertanya bagaimana keadaan bayi anda saat ini?” Seorang reporter TV memulai pertanyaan pertanyaannya. Dengan santai Hye Sun pun angkat bicara.

 

Bayiku sehat. Aku sangat bersyukur dia lahir dengan panjang 57 centimeter dan berat badan 3,2 kilogram.”

 

Lalu apa Anda sudah memberikan nama untuk bayi Anda?

Sudah. Appanya yang memberi nama Ahn Jhu dan aku menambahkan Dong sehingga kesemuanya bisa dipanggil Ahn Dong Jhu.”

 

Lalu apa ada rencana setelah dewasa mengarahkan Ahn Dong Jhu-ssi untuk masuk ke dunia entertaint seperti appanya atau memilih seniman seperti Anda, Nyonya?

 

Hemm. Kalau itu aku tidak akan memaksanya. Biarkan saat dewasa Dong Jhu yang menentukan karirnya sendiri.

 

Pertanyaan terakhir, Nyonya. Bisakah Anda menghadiri acara wawancara eksklusif yang sudah disediakan untuk merayakan kelahiran putra Anda, Nyonya?

 

Tentu saja aku akan hadir. Baiklah aku rasa cukup untuk jawabanku melengkapi data kalian kali ini. Untuk selanjutnya kalian bisa mengatur jadwal ulang denganku, okay?” Goo Hye Sun pun menundukkan kepala seraya melangkah maju memasuki mobilnya setelah Ahn Jae Hyun membukakannya pintu. Lalu mereka berdua pun melambaikan tangannya dari dalam mobil ke semua wartawan yang berada di depan Hall receptionist itu. Diikuti mobil appa dan eomma yang berada tak jauh di belakangnya. Mereka membunyikan klaksonnya untuk menyapa para wartawan yang mulai berhamburan dan berdesakan keluar area ruma sakit.

 

Oh! Aku tak tahu kalau beritanya akan sedahsyat ini? Memang apa kita?” Dengus Jae Hyun sembari menyetir sebab tak tega melihat Sung Pyo yang semalaman menemaninya tak bisa tertidur menjaga Dong Jhu sepanjang malam. Takut – takut Dong Jhu terbangun kehausan di tengah malam.

 

Wajar saja, pak. Mendadak pihak rumah sakit memposting beritanya lewat media social.”

 

Mwo?” Seringai Jae Hyun hampir tak percaya.

 

Di twitter, pak. Timeline saya penuh dengan ucapan dari netizen.” Lalu mengarahkan smartphonenya ke arah boss barunya itu.

 

Ada satu lagi. Sebagai public figure kau tidak diijinkan marah dengan segala pemberitaan yang beredar di media. Lagipula ini bukan skandal, sayang. Jadi tenanglah.” Mengusap-usap punggung tangan kiri Jae Hyun sembari tersenyum.

 

Bagaimana aku bisa tenang sayang? Kau tahu sendiri, kan, aku paling sensitive saat ada orang lain yang mengganggu ketentraman Dong Jhuku.”

 

Astaga… Kau pikir hanya kau saja yang panic? Tenanglah. Lagipula appa dan eomma juga pasti melakukan sesuatu. Mereka itu juga memiliki Dong Jhu. Kau lupa, oh?” Jawab Hye Sun meredakan marah Jae Hyun dengan mengelus punggung tangan Jae Hyun agar tidak panic dan mengikuti arahan Bong Man, managernya.

About shiellafiollyamanda

"Wish my creation can inspire a lot of people, at least around me."
Gallery | This entry was posted in book, NOVEL and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s