MEMORY


LEMBAR PERTAMA


 

 

  1. Grew Up

 

Eomma masih belum beranjak dari klinik bersalin milik Ye Rin Seonsaengnim. Sesekali eomma mendekati Jae Hyun dan mengelus lembut punggung tangan Jae Hyun. Dan dua tiga kali keluar klinik membeli makanan ke minimarket terdekat. Eomma pun menuju ke bagasi mobilnya untuk mencari kunci rumah yang harus disiapkannya ketika sepulangnya Hye Sun melahirkan itu. Eomma sedikit kesulitan menemukan kuncinya, sebab biasanya ada kotak kecil di sana yang eomma gunakan untuk menyimpan kunci – kunci. Tak berapa jauh dari tempat eomma berjongkok ada sebuah kotak rias yang berwarna pink. Eomma tak habis pikir siapa yang memindahkan kunci rumahnya di tempat make up Hye Sun. Tapi benda apa yang berkilau di samping kuncinya itu? Seperti liontin permata. Diambilnya benda yang tipis itu dan dilihatnya lekat – lekat. Dipikir eomma mungkin Hye Sun sengaja menyimpannya lalu dibawalah kalung itu di saku eomma dan memberikannya kepada Jae Hyun.

Derap langkah eomma semakin cepat ketika mendengar teriakan – teriakan Ye Rin Seonsaengnim yang menyuruh Hye Sun mengejan kuat untuk mendorong baby keluar dari balik pintu. Ahn Jae Hyun bahkan sudah berada di dalam ruangan rupanya. Eomma sudah ketinggalan satu start dari putranya sendiri. Eomma pun duduk di samping pintu di bawah jendela ruangan menantunya melahirkan. Eomma keluarkan kembali kalung berliontin permata yang ia temukan tadi yang berbentuk huruf AG. Dia amati perhiasan itu dengan seksama. Sangat didesign elegan oleh putranya. Sudah lima tahun putranya mendesign berbagai jenis perhiasan. Eomma tersenyum mengingat Ahn Jae Hyun yng juga memiliki bakat dalam hal memasak namun eomma tak pernah mendukungnya sejauh ini meski tidak juga terang – terangan melarangnya. Sekarang permata hatinya itu pun telah menjadi seorang kepala keluarga.

Suara tangisan seorang bayi membuat eomma anthusias untuk segera menoleh dari luar kaca jendela di atasnya. Dilihatnya Ahn Jae Hyun yang menerima seorang bayi mungil yang belum sepenuhnya bersih namun telah dililiti handuk tebal oleh Ye Rin Seonsaengnim. Eomma menitikkan air mata terharu. Sesaat eomma mengingat bagaimana dulu dirinya berjuang untuk melahirkan Ahn Jae Hyun setelah lima tahun lamanya menantikan kehadiran putra pertama dari pernikahannya itu. Cucu pertamaku. Eomma pun mengusap air matanya lembut.

Tidak apa. Kau selalu terbawa suasana. Mereka pasti sangat berbahagia selain kita.” Mengusap – usap pundak istrinya yang sedari tadi melihat sang cucu yang baru lahir dari luar jendela.

Tak lama kemudian Ye Rin Seonsaengnim keluar dengan dua orang perawatnya mendorong meja peralatan untuk membantu kelahiran Hye Sun tadi. Ye Rin Seonsaengnim berhenti di depan Eomma dan Appa.

Masuk saja, eomma. Silahkan kalian lihat ke dalam. Cucu pertama kalian seorang laki – laki. Dia terlihat sangat sehat. Selamat ya!” Kata Ye Rin Seonsaengnim lalu menyalami eomma dan appa. Diikuti keduanya masuk ke dalam ruang bersalin dan Ye Rin Seonsaengnim membungkukkan badan lalu melaju ke ruangannya operasinya untuk menangani pasien selanjutnya.

Eomma merangkul appa memasuki ruangan bersalin menantunya. Hye Sun terlihat kepanasan dengan keringat yang mengucur di wajahnya. Dibukanya tangannya lebar selebar bahu untuk menyambut gendongan pertama cucunya yang belum mereka beri nama. Appa sangat senang begitu mendengar cucu pertamanya laki – laki. Itu artinya akan ada yang menjadi teman bermainnya kelak saat menantunya ini sedang sibuk bekerja. Ahn Jae Hyun membiarkan putranya dalam gendongan harabojjinya. Jae Hyun mengusulkan untuk memberi nama putranya dengan nama Ahn Jhu seperti nama kucing kesayangannya yang sudah enam tahun bersamanya. Appanya hanya menggeleng tak jelas namun tak menolaknya juga. Tapi Hye Sun justru menilainya sebagai nama yang lucu dan bagus. Dan Hye Sun juga menyarankan agar menambahkan kata Dong sehingga namanya menjadi Ahn Dong Jhu. Dan Mereka bertiga mengiyakannya serentak.

Oh, uri Ahn Dong Jhu..!” Gemas appa Ahn Jae Hyun menimang – nimang cucu pertamanya yang baru saja diberi nama itu.

Ah, wajahnya mirip kakeknya ya!” Seru Eomma Jae Hyun sambil memotret lalu mengirimkannya kepada besannya di Incheon melalui MMS.

 

Hye Sun pun mulai memeluk Dong Jhu ke dadanya dan menyusuinya hingga kurang lebih lima belas menit. Baby pertamanya harus melalui ASI ekslusif setidaknya hingga enam bulan pertama dan mulai boleh diselingi susu formula sesudahnya. Sesekali Ahn Jae Hyun menyentuh kaki mungil Dong Jhu dan menciuminya gemas. Dirinya begitu bahagia bisa menjadi seorang appa sekarang dan berarti gelar sang appa sudah menurun padanya. Dan dengan senang hati dirinya akan melakukan banyak hal untuk memulai kehidupan baru sebagai pasangan yang telah dikaruniai seorang anak. Ahn Jae Hyun pun mulai belajar menimang putranya sesaat ketika Dong Jhu sudah betul – betul terlelap oleh dekapan eommanya. Dibisikkan kalimat – kalimat do’a yang membuatnya agar kelak tumbuh menjadi putra yang mampu berguna bagi agama, keluarga, nusa dan bangsa. Jae Hyun memciumi pipinya gemas dan tak henti – hentinya memainkan tangan dan matanya untuk mengambil perhatian Dong Jhu yang baru bisa memasukkan jari – jari tangannya ke mulutnya setelah tak lama kemudian kembali membuka matanya.

 

Eomma Jae Hyun mengeluarkan kalung liontin yang ditemukannya dalam kotak make up Hye Sun. Hye Sun melihatnya sejenak dan merasa tak mengenali kalung tersebut. Sepersekian detik kemudian Hye Sun menanyakan kepada Jae Hyun Oppa apa benar dirinya yang mendesignnya untuk kelahiran putra pertamanya. Namun tebakan Hye Sun salah. Sebenarnya itu untuk kejutan ulang tahu Hye Sun yang jatuh seminggu lagi namun karena eomma sudah menemukannya maka direlakannya kalung itu jika memang Hye Sun menginginkan Dong Jhu yang mengenakannya. Hye Sun tersenyum bahagia dan tetap menggenggamnya dalam diam setelah eomma menyerahkan kalung itu padanya. Jae Hyun mengecup puncak kepala Hye Sun lalu memasangkan kalung permata AG itu di leher Hye Sun dan mengucapkan selamat atas kelahiran putra pertamanya. Dan tak beberapa lama sang manager Jae Hyun beserta supir pribadi Hye Sun yang belum lama direkrut datang dengan membawakan bingkisan perlengkapan bayi sambil mencoba menggendong Dong Jhu secara bergantian dan mereka berdua juga mengatakan bahwa Dong Jhu tak jauh berbeda dengan kakek dan appanya.

Kapan tuan dan nyonya akan comeback untuk karir tuan dan nyonya?

Benar, pemberitaan di luar sangat ramai sehubungan dengan berita yang cepat beredar dari rumah sakit yang mengumumkan nyonya melahirkan tadi pagi di rumah sakit ini, tuan.” Sela Bong Man mengiyakan apa yang dikatakan Sung Pyo rekan kerjanya yang baru itu.

Eh, itu, aku akan comeback segera. Tapi Hye Sun mungkin menunggu dia berhenti memberi ASI eksklusifnya. Semua aku serahkan kepadanya asalkan dirinya bisa mengatur jadwalnya untuk putra kami.” Jawab Jae Hyun tak tanggung – tanggung ketika melihat Hye Sun kembali menidurkan Dong Jhu  di sampingnya.

Ternyata diam – diam Hye Sun juga mendengarkan ucapan Bong Man dan Sung Pyo.

Aku juga akan comeback. Berkat Dong Jhu aku mendapatkan sebuah insprirasi untuk menulis lagu dan juga bukuku.

Kalau melukis?

Tentu juga.”

Yakh. Kau serakah sekali.”

Biar. Selagi aku masih sanggup.”

Baiklah. Baiklah.”

Mereka pun saling bercanda seperti biasanya. Bong Man dan Sung Pyo tak henti – hentinya tertawa melihat para majikannya mereka yang ternyata juga memiliki selera humour. Sesekali Jae Hyun menggoda Hye Sun yang sedang memasang raut muka seriusnya, begitu pun dengan Bong Man yang begitu serius sehingga menjadi bulan – bulan Sung Pyo untukk bahan ledekan. Semuanya tampak berjalan sesuai dengan rencana. Begitu melahirkan Hye Sun juga langsung memberikan ASI eksklusifnya. Hye Sun bahkan tak ingin melewatkan masa penting enam bulan pertamanya bersama dengan putra mahkotanya, Ahn Dong Jhu. Hye Sun merasa saat bersama Dong Jhu, mengingatkannya dengan wajahnya saat berusia enam tahun di Incheon bersama de-ngan para sepupunya yang kini juga sudah menikah. Kadang hal ini juga yang membuatnya rindu. Hye Sun pun ingin sekali mengundang para sepupunya untuk sekedar saling mengunjungi sebab sudah lumayan lama mereka tidak bertegur sapa. Kurang lebih hampir enam tahun. Itu pun mereka bertemu kebanyakan karena berada di hari – hari besar Nasional.

Hye Sun pun mengeluarkan sebuah foto dari dalam dompetnya yang berada di dalam laci meja yang berada tak jauh dari tempatnya berbaring dan menggendong Dong Jhu. Dirinya memperlihatkan foto semasa kecilnya kepada Jae Hyun yang juga duduk di kasurnya.

Coba kau lihat ini,

Ahn Jae Hyun menarik foto itu dari tangan Hye Sun. lalu dipandanginya lekat – lekat untuk mengenali foto siapakah itu. Setelah diamat – amati memang sekilas mirip Dong Jhunya. Tapi Jae Hyun mengenali senyuman yang tersirat di pipi chubby gadis kecil itu.

Oh, ini kau, kan? Berapa bulan saat ini?

Berapa bulan bagaimana? Usiaku sudah enam tahun saat itu!

APA? Benarkah? Kau terlihat begitu kecil.

Sembarangan kau ini. Memangnya hingga sekarang aku besar?

Tidak juga. Setidaknya kau sudah lumayan tinggi jika dibandingkan dengan fotomu di SMP?

CK! Iya.. Iya. Kau puas menertawakanku.”

Yakh! Begitu saja kau marah!

Memangnya aku ini tak bisa marah apa?

Baiklah – baiklah. Aku yang salah. Sekarang ayo minum susumu. Kau butuh vitamin untuk kesehatan Dong Jhu.

Tapi awas saja kalau kau terus – terusan meledekku.”

Ahn Jae Hyun pun menggeleng – gelengkan kepalanya. Sambil menggerakan bibirnya ‘aku janji’ tanpa bersuara. Barulah Goo Hye Sun mau meminum susu formulanya.

Ehm, sayang, kau mau ikut aku jalan – jalan tidak seusai dari rumah sakit?

Ehm, memangnya kau mau ajak aku kemana?

Ke Paju. Aku ingin melihat tempat – tempat yang pernah kau kunjungi dulu.”

Benarkah? Kau hanya mencandaiku, kan? Aku tak akan tertipu.”

Yakh! Kau ini. Sekarang aku sedang seriuuss. Apa di dahiku tertulis aku sedang bercanda, ha?” Jawab Ahn Jae Hyun dengan nada sedikit meninggi karena kesal.

Ya, mana aku tahu kau sedang serius. Dari tadi saja kau selalu membuatku kesal.”

Wajarlah moodmu naik – turun karena kau memang habis nifas. Mungkin kau kesal juga karena kakimu masih bengkak. Mau aku bantu mengkompres?” Tawar Ahn Jae Hyun penuh senyuman merekah.

Boleh juga.”

Ahn Jae Hyun pun beranjak untuk mengambilkan air hangat dan selembar handuk yang digulung untuk dicelupkan ke dalam air hangat lalu diperas dan dililitkan di kedua kaki Hye Sun yang sebelumnya telah Ahn Jae Hyun luruskan dan dibanti sebuah kursi untuk menumpu kedua tumit Hye Sun.

Bagaimana? Apa rasanya sedikit membaik?” Tanya Jae Hyun kepada Hye Sun. dan Hye Sun hanya menggumamkan kalimatnya ‘hemm’. Lalu Jae Hyun kembali meminta kejelasan pada Hye Sun apakah mau ikut serta dengannya ke Paju. “Kau benar mau ikut ke Paju?

Ya. Aku rindu dengan sepupu – sepupuku. Dulu biasanya kami selalu main ke sana saat masih bersama dalam satu sekolah Taman Kanak – kanak. Namun saat Sekolah Dasar kami sudah terpisah. Mereka pergi ke Busan, dan aku kembali ke Incheon bersama appa dan eommaku.”

Hemm. Kalau begitu ayo kita lihat seperti apa mereka sekarang. Apa semakin cantik sepertimu atau sudah tua dan gendut seperti kebanyakan wanita yang sudah menikahkebanyakan.” Kata Jae Hyun sambil mengerlingkan mata genitnya.

Hei, sembarangan. Semua sepupuku itu cantik. Tak ada yang jelek. Memang kau sudah pernah melihat mereka apa?

Ya.. untuk saat SMP sih sudah pernah.”

Dara sudah tidak segendut itu, Yoo Mi juga tidak sependek dulu,”

Hemm.. Kita lihat saja nanti…

 

Sore ini hujan turun begitu lebat. Hye Sun bahkan tak menduga kalau bakal kedatangan tamu di cuaca yang sedang tak mendukung ini. Ada dua orang wanita yang membawa karang bunga bersama dengan eomma mertuanya. Dara.. Yoo Mi… Benar. Senyuman Hye Sun pun merekah di pipinya dan segera membuka lengannya dan memeluk keduanya. Hye Sun sangat senang setelah lama tak berjumpa. Dara makin tirusan sekarang, begitu pun dengan Yoo Mi yang semakin tinggi. Hye Sun banyak ngobrol dengan keduanya. Dan tak berapa lama kemudian appa dan Jae Hyunnya dating lalu member hormat dengan membungkukkan badan dan menanyai siapakah mereka yang repot – repot datang saat hujan deras seperti ini.

Ini appa mertuaku, dan ini…

Sudah – sudah tak perlu kau perkenalkan kami sudah tahu siapa Ahn Jae Hyun.” Sela Dara dan Yoo Mi bersamaan. Ahn Jae Hyun pun tersipu malu mendengarnya. “Setidaknya dia tak seburuk di perannya saat memerankan adik Giana, Cheon Seong Yi. Sepertinya dia lebih fatherly.”

Jangan salah. Ini baru sekarang. Kau belum tahu sikapnya yang dulu – dulu. Dia itu sangat sensitive, pemarah lagi. Aaa! Aku lupa awal mulanya aku mau menikahninya,” Hye Sun meledek balas dendam. Jae Hyun memelototinya.

Ya… Kau ini bicara apa sih? Sengaja menjelek – jelekkanku di depan keluargamu. Baiklah kaulau begitu, akan aku ikuti permainanmu!” Balas Jae Hyun lalu membuang muka dan mengambilkan makanan dan minuman untuk Dara dan Yoo Mi.

Yee.. Kalian lihat sendiri, kan, seperti itu yang dibilang fatherly? Dia itu sangat kekanak – kanakan. Mau diapakan juga tetap akan kelihatan,” Sahut Hye Sun sambil tertawa atas tingkah Jae Hyunnya. Begitu pula dengan appa yang tertawa hinga – hingga menahan perutnya yang sakit saking kerasnya.

About shiellafiollyamanda

"Wish my creation can inspire a lot of people, at least around me."
Gallery | This entry was posted in book, NOVEL and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s