MEMORY


Memorycovercropping

6. Maternity Clinic

Ini sudah terlalu malam untuk berpindah ke rumah eomma. Eomma Jae Hyun Oppa tentu eommaku juga. Aku sudah lama dekat dengannya. Meski awalnya eomma mengkhawatirkan hubungan kami tak akan berlangsung lama, tapi semenjak oppa yang bersikeras memperlihatnya sikap gentlenya untuk kembali ke Korea setelah tiga tahun berkelana menimba ilmu fotografinya entah kemana dia melamarku tanpa sepengetahuan eomma. Hanya appanya yang dia beritahu. Aku ingat sekali kejadian di malam gerimis itu. Oppa sangat – sangat tak memikirkan perasaan eomma bisa dibilang. Sudah tahu aku bukanlah menantu idamannya namun oppa tetap berontak. Eomma sudah memperingatkanku berulang kali untuk menjauhi oppa tapi apalah daya memang oppa yang terus mengejarku. Lagipula pada akhirnya kita sama – sama suka. Satu sama lain. Dan kami saling menjaga perasaan masing – masing. Aku sudah percaya kepadanya bahkan di saat penantian tiga tahun tak satu pun dari pria yang dijodohkan ayakhu aku terima. Kalau dari keluargaku justru appa yang menentang Jae Hyun. Sebenarnya hingga sekarang appa belum sepenuhnya memberikan restunya anak gadisnya dipinang seorang model. Appa sangat tahu kesibukan oppa semenjak dirinya di sekolah fotografi dan melanjutkan study keluar negeri. Appa sangat khawatir aku diajak oppa keluar negeri dan harus jauh dari dari keluarga di sini.

Eomma sepertinya aku harus pulang ke rumah.”

Haruskah sekarang?

Iya, eomma. Maafkan aku selalu merepotkan selama di sini dan membuat appa khawatir.”

Kau ini bilang apa? Jangan pernah berkata seperti itu. Lagipula eomma senang kalau kalian sering – sering mampir. Eomma sering kesepian apalagi kalau appamu dinas keluar kota.”

Eomma….. Kalau begitu eomma ikut ke tempatku saja!” Tawar Goo Hye Sun.

Baiklah kapan – kapan eomma akan mampir. Kau juga jangan khawatirkan eomma di sini.”

Goo Hye Sun pun memeluk erat eommanya. Eomma Hye Sun pun membalas pelukan erat putrinya tersebut. Lalu Ahn Jae Hyun memeluk appa mertuanya dan appanya mengeluarkan sebuah benda dari dalam saku celananya yaitu sepasang kaos kaki bayi berwarna biru.

Aku membelinya karena warnanya bagus.”

Terima kasih, appa.”

Ini tidak seberapa.”

Ah, appa!

Ahn Jae Hyun pun terkekeh sembari mengangkat koper milih Hye Sun yang sepertinya sudah lumayan berat semenjak istrinya itu menginap lebih lama di rumah eommanya. Setiap bulan pasti Jae Hyun harus membawakan pakaian dan perlengkapan cadangan. Takut sewaktu – waktu perut Hye Sunnya kontraksi saat tak ada dia di sampingnya. Sebab akhir – akhir ini kontraksi di perut Hye Sun yang semakin sering.

Setelah memasukkannya ke bagasi mobil di bagian belakang, menguncinya. Dan kembali dengan berjingkat kecil dan membungkukkan kepalanya kepada kedua mertuanya. Selepas itu menggandeng tangan dingin Hye Sunnya dan berlalu pergi meninggalkan Incheon. Mereka menuju Seoul saat ini. Bisa dikatakan semenjak kecil sudah memang Jae Hyun Oppa terbiasa dibesarkan di kota besar sehingga agak asing atau sulit baginya untuk bisa bertahan hidup jauh dari tempat yang lengkap fasilitasnya. Goo Hye Sun sangat mengerti dengan sikap protective suaminya. Sesekali Hye Sun ingin membaca raut wajah Jae Hyun Oppa melirik lewat kaca yang menggantung di atas pengharum mobilnya. Jae Hyun Oppa terlihat sangat fokus menyetir mobilnya hingga tak menyadari sedari tadi Hye Sun berusaha mebetulkan posisi duduknya beberapa kali. Entah apa yang salah dengan jok mobilnya atau memang usia kandungan Hye Sun yang sudah akan melahirkan seminggu lagi. Joknya berderit barulah Jae Hyun menyadari sang istri sedang kelelahan dan kepayahan menjaga kandungannya. Jae Hyun pun mematikan mesinnya di dekat pom dan memeriksa keadaan Hye Sun apa dia masih kuat hingga sesampainya di Seoul.

Hye Sun bertahanlah, sayang!”

Teruskan saja, Oppa, menyetirnya. Jangan hiraukan aku. Aku baik – baik saja.”

Bagaimana aku bisa fokus melihat tingkahnya aneh begini. Benarkah kau tidak apa – apa? Aku bisa menghentikan perjalanannya dan mencari klinik terdekat, sayang!” Perjelas Ahn Jae Hyun merasa iba pada rintihan istrinya.

Aku masih bisa sabar hingga Seoul. Kalau Oppa khawatir padaku percepat saja laju mobilnya.”

Baiklah kalau itu memang maumu. Akan aku turuti.” Mengelus puncak kepala Hye Sun, Jae Hyun pun kembali menghandle kemudinya dan mengencangkan laju mobilnya. Suara mesin yang halus pun tidak lagi terdengar, namun jutru semakin mengerang kencang. Goo Hye Sun tersenyum melihat sang suami yang tidak pernah marah meskipun dirinya selalu saja membuat Jae Hyunnya kerepotan. Meski sudah menikah Jae Hyun di matanya adalah juga seorang sahabat yang teramat pengertian dan selalu mau menerima kondisinya apa adanya. Di saat hamil seperti ini Hye Sun bahkan tak menyangka Jae Hyun tak akan merasa risih sedikit pun bahkan dengan penampilan fisiknya yang berubah drastis. Goo Hye Sun sekarang yang lebih gemuk dengan berat badannya yang naik 26 kg. Jae Hyun bahkan tak pernah mempermasalahkannya sedikit pun.

Tiga puluh menit sudah berjalan akhirnya oppa memutuskan berhenti di samping sebuah rumah yang bahkan sepertinya tak asing lagi bagiku. Siapa lagi kalau bukan rumah appa Jae Hyun Oppa. Oppa terlihat lelah dan berkeringat. Meski bangun tidur tapi aku bisa membedakan mana wajah berserinya dan mana wajahnya yang tampak kepayahan sejak memindahkan barang – barang. Sebenarnya aku khawatir. Tapi sejak pagi buta dia tak istirahat karena menngkhawatirkan bayinya. Kurang dua hari lagi harusnya aku sudah bisa melahirkan normal. Namun sang calon baby tak ada tanda – tanda kontraksi hebat kecuali tadi aku berangkat. Mengingatnya sakit sekali seperti ditusuk – tusuk sebuah benda dari dasar hati. Sebuah lengan pun memapahku untuk turun. Aku menolak karena kurasa aku bisa jalan sendiri. Tapi aku salah sejak tadi kakiku kesemutan dan oppa terkekeh melihat tingkahku yang keras kepala. Sambil mengeluarkan koperku dari bagasi, appa dan eomma keluar menyambutku.

Aigoo… Hye Sun menantu kesayanganku sudah pulang. Bagaimana keadaan cucuku dalam perutmu? Baik – baik saja, kan?

Tentu eomma. Terima kasih sudah mengkhawatirkanku dan baby.”

Apa kau lapar? Eomma sudah masak banyak hari ini..

Eomma, aku sudah makan. Sebelum berangkat kami sudah makan duluan.” Kata Hye Sun manja merasa tak enak dengan eomma.

Ah, eommamu itu. Tak bias berbagi kesenangan saja.

Eomma eommanya yang masak, eomma. Tapi Ban Ajumma.” Sela Jae Hyun lemas.

Ommona, kau kelihatan lelah sekali, sayang. Putra eomma, mengapa bisa begini?” Kata eomma Jae Hyun mengelap keringat di dahi Jae Hyun.

Oppa tak mau minum apapun eomma saat menyetir.”

Karena aku tidak haus, yeobo.” Mengacak – acak rambut Hye Sun gemas lalu mengangkat kopernya masuk. Eomma mengelus pelan punggung Hye Sun. Eomma sangat tahu hamil tua itu berat.

Sini biar tasmu eomma yang bawakan.”

Aku bisa sendiri eomma.”

Eomma tak mau cucu eomma kelelahan di dalam perut eommanya. Hah! Apa dia laki – laki apa perempuan seperti kita ya!” Cerca eomma merangkul Hye Sun dan membawakan tas Hye Sun.

Laki – laki aku rasa eomma. Tendangannya kuat sekali sejak tadi pagi. Dua hari lagi aku akan periksa kandungan dan kemungkinan aku sudah melahirkan, eomma.”

Hemm. Baguslah, sayang. Eomma antar ya!

Iya, eomma.” Tapi mendadak perut Hye Sun mengalami rekontraksi yang kedua terhitung dari tadi pagi.

Sambil memengangi perutnya dan mengernyitkan dahi Hye Sun berhenti berbicara. Eomma pun mulai cemas dan meneriaki nama Jae Hyun putranya untuk membantu Hye Sun. Hye Sun pening sekali rasa – rasanya sudah sampai di ubun – ubun dia sudah hampir pingsan dan tak kuat menopang berat badannya sendiri. Apa yang harus eomma lakukan. Memencet beberapa tombol di screen handphonenya, eomma pun berbicara lewat telepon dengan Ye Rin Seonsaengnim. Eomma membooking sebuah kamar untuk menantunya ini bersalin. Dirasanya lebih cepat reaksi dari perut Hye Sun, eomma pun berusaha memapahnya kuat – kuat masuk ke mobilnya. Namun di luar dugaan air ketuban Hye Sun mulai pecah dan cukup membuat eomma dan Jae Hyun berlari kewalahan.

Eomma yang menyetir di depan ngebut serta Jae Hyun yang memegangi tangan Hye Sun di samping. Eomma berusaha menenangkan Jae Hyun yang sedang kalut. Begitu juga Hye Sun yang sedang gusar dan memegangi perutnya yang terasa cenat – cenut itu.

Sesampainya di klinik bersalin baru bias Jae Hyun duduk setelah berdiri terhuyung – huyung sambil mengatur napasnya yang sedari pagi sudah kerepotan memindahkan barang Hye Sun ke Seoul dari Incheon membawa Hye Sun ke klinik. Eomma pun cemas menunggu di luar pintu ruang Hye Sun ditangani.

Jangan cemas. Dulu appamu juga mengalami hal yang sama. Yang perlu kau lakukan hanyalah berdoa untuk memohon keselamatan cucu eomma dan anak pertamamu.”

Terima kasih, eomma.” Jawab Jae Hyun sembari memegangi punggung tangan eomma di pundaknya. Kemudian tersenyum manis menatap sang eomma. Membuat eomma teringat masa kecil Jae Hyun yang selalu membuat eommanya tersenyum selain Appa Jae Hyun.

About shiellafiollyamanda

"Wish my creation can inspire a lot of people, at least around me."
Gallery | This entry was posted in book, NOVEL and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s