MEMORY


aaa

5. Table Manner

Jae Hyun Oppa sudah sampai rumah  eommaku. Aku sudah hampir delapan bulan tidak bertemu dengan eomma semenjak menikah dengan Jae Hyun Oppa. Oppa awalnya tak mengijinkanku  pergi sendiri dengan usia kehamilanku yang beranjak lima bulan ini. Maka dia pun mengusahakan mengantarkanku di waktu istirahat shootingnya. Sebenarnya aku  tak enak kalau  harus selalu  merepotkannya, tapi mau bagaimana lagi dia selalu bersikeras untuk mengantarku. Aku tak bisa menolaknya. Katanya ia ingin menjadi suami siaga dengan senang hati.

Apa Oppa tidak ada jadwal shooting lagi?

Sebenarnya ada nanti pukul 16:00. Tapi aku bilang aku ada acara mengantarmu ke tempat mertua, jadi director memakluminya. Dia memberikan keringanan waktu apabila aku terlambat datang ke lokasi.”

Aku jadi tidak enak, kan, Oppa,” “Lain kali biar aku sendiri saja yang jalan,”

Ehm. Setelah kau melahirkan aku baru membolehkanmu untuk pergi sendiri.

Yah, Oppaaaa!

Mengapa? Kau tidak mau? Ya sudah setiap kau mau pergi kau harus menungguku.”

Apa tidak ada cara lain, Oppa?” “Atau Oppa bisa mempekerjakan seorang supir saja.”

Yah. Aku sebenarnya bisa saja melakukannya. Tapi kalau kau yang minta aku akan coba bicarakan dengan managerku,”

Baiklah. Terima kasih, Oppa.” Jawab Hye Sun mencium pipi Jae Hyun yang sedang serius menyetir.

Apa yang tidak untukmu, sayang.” Jawab Jae Hyun tanpa beralih dari kemudinya.

Sesampainya di kediaman sang mertua, Ahn Jae Hyun pun mengucapkan salam kepada eomma mertuanya. Sebab sang appa mertua sedang ada dinas dua minggu keluar kota, Jae Hyun pun membantu sang eomma mertua yang sedang kerepotan menyiapkan makanan bersama seorang pembantunya di meja makan.

Tak perlu, nak, aku biasa melakukannya sendiri dengan Ban Ajumma. Kau masuklah saja dulu dan bawa barang bawaanmu di kamar Hye Sun.”

Bawaan Hye Sun tidak sebanyak itu, bu. Dia bilang hanya akan menginap beberapa hari saja. Tapi kulihat eomma masak banyak sekali.”

Ini Ban Ajumma bukan eomma semuanya yang siapkan. Ban Ajumma sedang mencoba resep barunya.” “Eh, jadi kau tak ikut menginap di sini begitu?

Aku ingin sekali, bu. Tapi aku masih ada kontrak shooting di 2 stasiun TV. Tapi aku janji akan sering – sering mampir kemari.”

Begitu rupanya.

Baiklah. Aku panggilkan Hye Sun dulu untuk makan bersama segera, bu.” Jae Hyun Oppa pun masuk ke kamar Hye Sun tak lama kemudian. Betapa kagetnya Jae Hyun melihat Hye Sun yang sudah berganti pakaian dengan semua barangnya yang telah ditata rapi dalam lemarinya.

Waw, cepat sekali, sayang!

Oh, Oppa, mengapa tidak mengetuk pintu? Bagaimana kalau aku sedang ganti pakaian?” Protes Hye Sun.

Oh, maaf. Ayo kita turun. Di bawah eomma dan Ban Ajumma sudah menyiapkan banyak makanan untuk kita. Jangan sampai kita mengecewakan mereka.”

Pasti, Oppa. Tak ada makanan yang seenak dengan masakan orang di rumah ini.” Jawab Hye Sun sumringah. “Ayoo..!” Hye Sun menggandeng tangan Jae Hyun.

Ahn Jae Hyun pun segera turun bersama Hye Sun menuju ke meja makan.

Siang!

Appa!” Sambut Jae Hyun kepada sang mertua yang baru pulang dari dinasnya.

Ada acara apa ini banyak sekali makanan di meja?

Oh tidak. Ini hanya untuk menyambut kedatangan Jae Hyun dan Hye Sun, sayang.” Ucap eomma Hye Sun.

Oh, bagus itu.”

Tetapi, mengapa kau cepat sekali pulangnya?

Oh iya. Acara peresmian gedungnya dimajukan. Jadi aku bisa pulang lebih awal.”

Baiklah. Kalau begitu mari makan. kita tunggu apalagi?” Eomma Hye Sun mengambilkan nasi ke piring appa Hye Sun. Begitu pun Hye Sun melakukan hal yang sama untuk Jae Hyun.

Apa setelah ini kau mau menemani appa memancing, Jae Hyun? Sudah lama kita tidak berbincang – bincang bersama.”

Oh. Baiklah, appa.”

Tapi Oppa kan ada shooting, appa, pukul 4 sore.”

Tidak apa. Lagipula sudah lama aku tidak kemari, Hye Sun-ah,” Terang Ahn Jae Hyun sabar. “Untuk urusan shooting aku bisa urus dengan managerku. Terlambat sebentar tak akan ada masalah.

Terserah Oppa. Kalau memang begitu pilihannya.” Cerca Hye Sun pasrah. Ahn Jae Hyun pun tersenyum.

Aku saja yang ambilkan lauknya untukmu.” Tawar Ahn Jae Hyun melihat Hye Sun kesulitan meraih lauknya lantaran perutnya yang mulai membesar hingga terpentok sampai ke ujung meja. Appa dan Eomma Hye Sun tersenyum simpul melihat sang anak sangat diperlakukan baik oleh anak menantunya. Mereka semua makan dan sesekali menarik obrolan ringan.

Di lokasi danau appa mangajak Jae Hyun masuk ke kapal mesin kecilnya. Mereka pun melaju ke tengah – tengah danau dan mulai melemparkan mata pancingnya. Lalu appa pun bersiap – siap menunggu datangnya umpan yang dimakan.

Jae Hyun, sudah berapa lama kita tidak melakukan hal semacam ini ya?

Ehm. Sepertinya sudah empat bulanan, appa,”

Waw. Daya ingatmu begitu bagus ternyata! Pantas saja badanku sudah kaku – kaku semua. Ternyata sudah cukup lama juga ya?

Appa ini bisa saja. Kan appa juga harus berangkat ke kantor setiap hari. Itu juga bisa dianggap berolahraga tanpa appa sadari. Melenturkan otot yang sedang jenuh.

“Bisa saja analisamu itu.”

Itu kan memang benar, appa. Aku pun begitu. Saat aku tidak berangkat shooting akan terasa sangat mencolok perbedaan kenaikan berat badanku dan aku menjadi semakin sering lelah karena tak ada aktivitas otot yang intens. Saat kita beraktifitas, peredaran darah kita pun menjadi lancar,”

Benar juga, sih. Baiklah. Kuakui kau memang pintar. Jadi aku beruntung bisa menikahkan anakku denganmu. Aku titip dia, ya.”

Sudah empat bulan Hye Sun belum ingin diajak pulang. Seingatku dia hanya minta ijin seminggu untuk berkunjung ke tempat eomma mertua. Kandungannya bahkan sekarang telah sembilan bulan lebih tiga hari. Aku mulai khawatir dengan kesehatannya dan buah hatiku. Mendadak dia bilang ingin melahirkan di kampung halamannya. Apa – apaan ini? Aksi proteskah? Ahn Jae Hyun pun menelepon Goo Hye Sun.

Hye Sun-ah, kapan kau mau pulang?

Aku masih mau di sini, Oppa…!

Sampai melahirkan baby?

Aku rasa,”

Apa? Lalu appaku bagaimana?

Mengapa?

Beliau ingin kau melahirkan di rumahku di Seoul saja.”

Tapi aku ingin di rumah ini, Oppa.”

Ya, tolong kau jangan egois begitu. Bagaimana pun juga ini cucu pertama appaku.”

Iya, Oppa. tapi…”

Tapi apa?” Jae Hyun Oppa pun menyela dengan nada yang sedikit lebih tinggi lalu menutup panggilannya kasar membuat Hye Sun terhenyak kaget. Tiba – tiba saja Ahn Jae Hyun sudah berada di hadapannya.

Di hadapannya dengan wajah garang Jae Hyun memicingkan matanya mendelik ke hadapan Hye Sun. Hingga membuat Hye Sun pun harus mencondongkan tubuhnya ke kiri untuk menghindari tatapan seduktif dari Jae Hyun.

Oppa..”

Sudahlah. Menurut saja padaku.”

Aku kan maunya…..

Aku sudah membuat nama untuk anak kita.”

Opp—” Jae Hyun pun merengkuh Hye Sun dan menciumnya intens. Tapi tanpa disadari Eomma Hye Sun sudah membuka pintu kamar mereka dan berada di hadapan mereka.

Oh, maaf. Lanjutkan saja.” Sela eomma kikuk dan buru – buru menutup pintu.

Oh, Eomma. Ada apa eomma?” Jae Hyun pun bangun dengan sigap mengejar eomma mertuanya. Sambil memandangi wajah eommanya di hadapannya, Jae Hyun pun menggosok – gosok punggung tangannya meraba – raba untuk mengurangi ketegangan.

Tidak. Appamu sudah empat kali menelepon sejak tadi pagi. Sepertinya Appamu menyuruh kalian untuk segera pulang ke Seoul. Dia menunggumu sampai pukul 10 malam.”

About shiellafiollyamanda

"Wish my creation can inspire a lot of people, at least around me."
Gallery | This entry was posted in book, NOVEL and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s