MEMORY


belakang4

3. Trip

Sudah sebulan galeriku berlangsung lancar. Setidaknya ada seratus dua puluh lukisan yang aku tampilkan di sana. Banyak juga para investor yang mulai melirik beberapa lukisanku. Ada yang berkomentar lukisanku itu seperti bernyawa. Suamiku juga mendukungku. Banyak hal yang dia lakukan bahkan untuk mencarikan promotor. Betapa baiknya dia. Dia selalu ada untukku.

Sudah siap, sayang, untuk berangkat?” Jae Hyun Oppa bertanya padaku sembari memasukkan koper besar kami ke belakang bagasi mobil merah yang akan kami kendarai.

Tentu.

Tidak ada lagi yang ketinggalan?” Tandasnya balik bertanya.

Tidaaak!” Jawabku lebih panjang.

Oh,”

Aku hendak duduk di belakang. Namun lengan besar Jae Hyun Oppa menarikku untuk duduk di sampingnya saja. Padahal aku sangat ingin bersandar di belakang.

Kau tak apa – apa, kan? Wajahmu pucat sekali,

Tidak, ah!” “Kurasa hanya kurang tidur,”

Ini bantalku pakai saja!” Tawarnya untukku.

Lalu kau pakai apa?

Tidak apa. Kau lebih penting. Jangan hiraukan aku. Aku kan laki – laki serta kepala keluarga,”Perjalanan kita akan sedikit jauh. Pakai saja dan beristirahatlah sejenak.”

Tahu begitu mobil masih begitu longgar aku bisa ajak eomma,”

Di quality time kita?

Memangnya Mengapa?” Lirik Hye Sun curiga memicingkan matanya.

Anni… Anniyo, yeobo. Kau berhentilah memasang wajah curiga kepadaku.” Tatapnya segera beralih ke kemudinya.

Oppa… aku ingin muntah,”

Ck! Kau ini mengapa tidak minum obatmu sebelum berangkat? Sakit lambungmu itu sudah berlubang. Kita ke rumah sakit saja ya!

Tidak. Aku tidak mau.”

Jangan berontak. Kau ini mengkhawatirkan,”Coba kalau aku tidak ada,”

Sebentar,

Tiba – tiba saja eomma meneleponku dan aku mengangkatnya.

Hye Sun-ah! Kau sudah berangkat! Mampirlah dulu sebentar ke rumah. Eomma membawakan bekal untuk kalian berdua,”

Tapi arah tempat tujuan kami berlawanan dengan rumah, bu. Kapan – kapan saja ya, bu,” Tolak Hye Sun.

Tidak bisa. Kau harus ke sini untuk cucu eomma,

Ehk – ehk,” Sedak Hye Sun terbatuk – batuk. Ternyata eomm eommanya sudah mendapatkan hasil check up minggu lalu dari rumah sakit. “Eomma…. Eomma ini bicara apa sih?” Hye Sun pun mendelik ke arah Jae Hyun Oppa yang berusaha mendengarkan percakapan istri dan mertuanya itu.”

Apa yang kau lakukan padaku? Aku belum siap punya anak, oppa. Eotteokhae?” Kata Hye Sun memukul – mukul bahu Jae Hyun dan mengabaikan panggilan eommanya.

Mwo? Kau… anakku? Kau sedang mengandung anakku?” Serobot seketika menghambur memeluk erat sang istri.

Andwae!” Hye Sun memekik membuat Jae Hyun tersontak kaget.

Lalu kau mau apa? Menggugurkannya?” “Tidak bisa!” “Sudah lama appa dan eomma menantikan kehadirannya. Kau malah ingin membuangnya begitu saja,” “Kau tahu kan dalam hal ini akulah yang selalu ditekan?!” Dengus Jae Hyun kesal mengacak – acak rambutnya.

Sudah aku coba tapi aku masih ingin menikmati karirku, oppa.”

Kan karirmu tetap berjalan. Ah! Sudahlah! Pokoknya kita tak boleh menolak rezeki dari Tuhan!” Ayo berangkat! Gunakan sabuk pengamanmu! Membuat moodku jelek saja!” Jae Hyun Oppa terlihat sangat kesal hingga tak mau mengajakku bicara sepanjang perjalan. Ke bandara yang harusnya kami butuh waktu empat puluh lima menit kami tempuh hanya dengan waktu dua puluh lima menit saja.

Sesampainya di sana Jae Hyun Oppa pun menggandengku keluar. Sambil menarik kopernya mencari jalur pemberangkatan ke Hong Kong.

Tunggi di sini sebentar. Aku tidak akan lama.”

Tapi oppa…” Entah mengapa di saat seperti ini sikap manjaku justru begitu mencolok. Hingga seorang eomma – eomma muda menyapaku dan menyuruhku duduk di sebelahnya.

Suamiku tak akan meninggalkan istri secantik dirimu, duduklah.” Senyumku mengembang melihat anak laki – lakinya memakan ice cream Cornetto coklatnya. “Dia putraku. Usianya akan empat tahun Juli nanti.” “Apa kau sudah memiliki putra?

Belum,” Jawabku singkat. “Bulan kelahirannya sama dengan suamiku,”

Oh, begitukah?” “Tenang saja pasti sebentar lagi Tuhan akan menganugrahkan seorang putri yang cantik sepertimu,” Balasnya menyenangkan.

Ehm. Iya. Aku memang sedang mengandung saat ini. Mohon doanya ya,” Jawab Hye Sun setengah hati meringis.

Oh kalau begitu selamat ya!” “Ini,” Wanita itu pun menyodorkan satu Cornetto coklatnya untukku.

Makanlah selagi belum mencair,

Terima kasih,”

Kalau boleh tahu berapa usiamu?

Oh, aku … menuju tiga puluh satu tahun ini.

Waw! Bahkan kau lebih tua dariku. Kalau begitu aku kan memanggilmu Eonni saja ya!

Boleh,”

Oh, itu suamimu sudah datang. Sepertinya dia juga membawakanmu makanan.” Jae Hyun Oppa pun datang membawa Teddy Bear berukuran tanggung untuk mengganjal kepalaku di seat pesawat. Juga beef burger dan milkshake di tangan kirinya.

Terima kasih sudah menjaga istriku.” Bungkuk Jae Hyun.

Oh bukankah kau Ahn Jae Hyun itu? Supermodel itu?” Senang sekali bisa bertemu denganmu,” “Oh! Ternyata kalian sudah menikah ya? Aku bahkan tidak mendengar beritanya.” “Kenalkan, aku fansmu, Matsuhiko Watanabe dari Okinawa. Dan ini putraku, Tachan Kenichi. Aku sedang berlibur ke Korea. Lain kali ajaklah istrimu mengunjungi Okinawa Badatga. Di sana pemandangnya indah sekali.

Oh. Baiklah. Selepas liburan kami mungkin baru ada waktu. Terima kasih sudah merekomendasikan Okinawa kepada kami,” Sahut Jae Hyun ramah.

Ah. Bukan apa – apa. Apa aku boleh meminta tanda tanganmu?

Oh. Tentu saja.” Setelah itu mereka berempat pun berfoto group dan Jae Hyun menguploadnya di Instagramnya lalu mereka pun tak lama kemudian mereka pun berpencar menuju penerbangan masing – masing.

Jae Hyun Oppa, aku ingin ke gunung,”

Apa? Mengapa begitu mendadak? Mana tahu aku tentang lokasi di sini? Tapi baiklah kalau kau yang minta aku akan mengaturnya.”

Terima kasih,

Ck! Kau itu selalu saja,”

Aku merepotkan ya?” Hye Sun mendekatkan kepalanya ke arah Jae Hyun yang menata baju di kopernya.

Bukan. Kalau begini aku tak bisa menolaknya.

Aku ingin makan Pasta,”

Apa? Lagi? Kemarin kita kan sudah makan Pasta sayang,

Tapi aku maunya Pasta yang berbeda,”

Ya sudah kalau itu maumu,

Dan jangam di tempat kemarin, aku mau ambil Pasta menu special,

Kau ini selalu saja minta yang aneh – aneh!

Please,” Kata Hye Sun menggelayut di lengan Jae Hyun.

Baik, baiklah,” Jawab Jae Hyun mengelus – elus rambut rambut Hye Sun yang melambai – lambai terkena angin.

Hye Sun pun hendak melangkah meninggalkan kolam renang. Tapi Jae Hyun pun meraih tangannya.

Naiklah ke punggungku,

Mengapa?

Apa kau mau aku bopong di sini?

Andwae! Andwae! Di sini banyak orang, oppa!

Tidak apa. Tidak akan ada paparazzi di sini. Lagipula seluruh dunia sudah tahu kau itu ialah milikku.”

Hye Sun mengerucutkan bibirnya sambil naik ke punggung Jae Hyun.

About shiellafiollyamanda

"Wish my creation can inspire a lot of people, at least around me."
Gallery | This entry was posted in book, NOVEL and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s