MEMORY


isi 2

  1. Memory

 

Bulan Januari, kalau dia masih hidup dengan… Ah! Tidak, maksudku hingga saat ini mungkin saja dia sudah berumah tangga atau malah telah memiliki dua orang anak yang sebaya dengan keponakanku. Tapi aku malah menunggunya. Bahkan wajahnya terakhir kali dia menemuiku di sini masih terpatri jelas di ingatan ini. Senyumannya juga tangisannya yang memohon padaku untuk terus menunggunya. Dan aku tetap setia dengan janji itu.

Anehnya bahkan memanggil namanya saja aku tak sanggup. Apalagi untuk menghubunginya. Bukannya aku sengaja tapi aku tak kuat mendengarkan suaranya. Suaranya yang menenangkan dan membuatku semakin merindukannya. Bukankah dia pernah mengatakan kepadaku rasanya sangat menakutkan bila meninggalkan seseorang yang kita cintai sebab itu akan membuat kita semakin merindukannya. Dan parahnya itu malah terjadi padaku yang ditinggalkannya. Saat mengingat itu air mataku seketika tumpah dengan sejadi – jadinya. Sebenarnya apa yang tengah Tuhan rencanakan untukku?

Hari kedua aku datang lagi seperi biasa. Aku melantunkan lagu kesukaanku. Di usiaku yang telah bertambah satu tahun ini. 30. Bukan usia yang muda lagi dan sudah siap untuk membina rumah tangga. Justru aku masih menantikannya yang belum tentu kembali. Apakah aku harus memintanya kembali atau tetap berdiam diri. Hah! Sepertinya aku harus menyerah. Benar – benar menyerah. Dengan malas aku masukkan gitarku ke dalam tas gitarku. Dan sepertinya hujan sangat menyukaiku. Dia selalu menemaniku hingga pulang ke rumah dengan selamat. Suaranya semakin deras saja. Dan lagi pula mana ada orang yang akan mampir di hujan lebat seperti ini. Namun tak berselang lama sebuah mobil biru memarkir di garasi. Siapa? Saat aku hendak mematikan lampu terdengar suara langkah kaki naik menuju ke arahku dan tak lama kemudian handphoneku berdering. Dan saat kuangkat, “Berbaliklah!” Suara… suara lembut itu yang telah lama kunantikan.

Seraya aku berbalik aku memandangi senyuman yang tidak berubah. Dengan kemeja abu – abu dia menyambutku. Handphonenya tak dimatikan. Dia tetap berbicara lewat teleponnya, “Aku masih mencintaimu.” Oh Tuhan aku tetap tak percaya ini. Sambil mematung bagaikan mimpi aku masih bisa dipertemukan dengannya lagi. “Apa kau masih mencintaiku?” Aku tertohok dengan pertanyaannya itu. Aku seperti orang bodoh yang tak bisa tertawa, menangis bahkan bicara. Aku masih tak juga bisa menjawab. Hampir – hampir aku menjatuhkan handphoneku namun dengan cepat dirinya menangkapnya. Tubuhku lemas seketika. Aku ingin marah, namun nyatanya aku bahagia. Aku ingin tersenyum namun nyatanya aku terluka.

Hye Sun-ah!” Mataku bergerak ke atas menyesuaikan dengan tinggi badannya. Aku menengadah seakan tak percaya dengan apa yang barusan kulihat.

Kau datang, ha? Kapan kau datang? Mengapa tak bilang? Mengapa kau terus membuatku menunggu? Bagaimana bila aku sudah dengan yang lain? Dan bagaimana bisa kau tahu aku masih di sini?” Lukaku terus bertambah parah ketika dia tak juga menyahut. Dan mengapa dia malah tersenyum. Apa dia bercanda? Ataukah ini hanya bayanganku saja yang lima menit kemudian akan menghilang? Namun dia benar – benar ada. Dia maju dan merengkuhku dengan hangat. “Mengapa dia tidak menjawab?” Aku malah bergumam.

Tumpahkanlah seluruh perasaanmu. Tidak apa kalau kau ingin marah. Aku pun akan menerimanya.” Dia pun semakin mempererat dekapannya. Dalam pelukannya aku masih bisa merasakan detak jantung yang terarah. Dan aku menyukainya. “Maafkan aku karena datang terlambat.” Aku pun menangis. Menangis entah itu karena bahagia atau apa. Aku tak tahu mengapa air mataku jatuh saat itu. Aku sungguh tak bisa menahannya. Dia pun mengusap rambut panjangku seraya memberikan handphoneku. Namun apa yang dikeluarkan dari balik saku celananya? Sebuah cincin? “Maukah kau menikah denganku?” Apa? Tangisanku pun semakin deras.

Aku…” Suaraku tertahan karena menarik napas. “Aku tak tahu harus menjawab apa,” Aku berusaha tersenyum meski hatiku berkata jangan. Namun dia yang memandangku lekat seakan sangat menantikan jawabanku untuk didengar. Dia membelai pipiku sambil menyeka air mataku yang telah jatuh. Dalam tiga puluh detik aku terdiam.

Apa menurutmu aku bisa menolak,” Jawabanku sukses membuka lebar senyumannya. Aku tahu dia lega sekarang.

Jae Hyun Opp..” Entah sejak kapan bibir lembutnya sudah membungkam bibir mungilku. Aku bisa merasakan deru napasnya naik turun. Dan suara detak jantungnya yang memburu. Akhirnya aku mampu menyebut namanya. Rasanya empat tahun seperti satu dekade tanpanya. Sepertinya ku ingin seperti ini saja tanpa mau melepaskannya pergi lagi. Dia adalah lelaki pertama yang membuat hatiku berbicara dan merasakan sesuatu. Jae Hyun Oppa… Kuharap kau adalah laki – laki terakhir yang kujumpai. Itu yang kuharapkan. Aku juga ingin selamanya hidup di sampingnya. Aku tentu saja masih mencintaimu. Itu tak perlu diragukan lagi. Dia pun melepaskan ciumannya untuk mengecup puncak keningku. Aku merasa bahagia. Aku merasa akulah wanita yang paling bahagia saat itu. “Aku mencintaimu, Jae Hyun Oppa.. Aku mencintaimu.” Dia pun tersenyum sambil kembali memelukku.

Selamat ulang tahun, Hye Sun-ah. Terima kasih kau telah memberiku kesempatan yang kedua. Aku tidak akan menyia – nyiakan lagi kesempatan ini.”

I Juli, dan hari ini adalah hari yang paling aku impikan. Bersama dengannya aku akan merajut kehidupan cinta kami ke tahap selanjutnya. Oppaku memang dia orang yang bodoh namun justru karena kebodohannya itu yang semakin membuatku menyukainya. Harusnya laki – laki normal tak akan memilihku sebagai pasangan hidupnya. Namun dia malah mengatakan bahwa aku berbeda dari wanita yang lainnya. Katanya aku ini wanita yang baik hati. Apa dia berkata jujur? Ataukah dia hanya mencoba mengambil hatiku saja? Entahlah. Tapi yang jelas aku benar – benar mencintanya. Awal mulanya aku tak pernah menduga akan jatuh hati kepadanya. Di saat mengingatnya aku bisa gila. Senyam – senyum tak jelas. Menatap kaca ini seperti bukan diriku saja. Mengenakan gaun pengantin yang menjuntai putih dengan riasan yang tak biasa kukenakan. Apa aku bisa tak membuat kesalahan di upacara pernikahanku? Aku tak yakin. Namun cintanya yang meyakinkanku.

Sudah siap sayang?” Suara ketukan pintu appaku membangunkanku dari lamunan.

Aku sudah siap, appa.” Aku pun keluar menghampiri appa yang tampak tampan dengan setelan tuxedonya. Tangan appa sangat hangat. Ini mengingatkanku dengan pertemuan pertama kami di perjamuan keluarga lima tahun lalu. Designer permata yang begitu beretika.  Dalam sehari saja Jae Hyun Oppa mampu mencuri perhatian appa. Dan dia sangat menyayangi eommanya. Dia memperkenalkan diri dengan mencium punggung tanganku seperi yang dilakukannya sekarang.

Kau sangat cantik, permaisuriku.” Aktingnya sungguh membuatku terpesona. Dia menggandengku hingga ke altar dan kami mengucap janji suci di hadapan banyak undangan. Sedikit mendebarkan namun kami mampu melewatinya. Dan sekarang aku mendapat gelar sebagai seorang Nyonya Ahn Jae Hyun.

Kamar kita di sini. Di sini ruang kerjaku. Di sini kau bisa menulis dan di situ ruang lukismu.”

Darimana kau tahu aku bisa menulis?

Kau tak perlu tahu. Yang jelas aku sudah menyiapkan banyak waktu untuk ini.” Katanya sambil mengalungkan lengannya memelukku dari belakang. Hangat. “Ini untuk wanita yang paling kucintai. Seberapa jauh aku bernilai untuk karyamu?

Banyak. Semua lukisan dan laguku yang kutulis banyak berkisah tentangmu.” Matanya mendelik seolah ingin tahu lebih jauh.

Istriku, mengapa kau begitu pandai menggoda! Rayuanmu itu…

Aku tidak merayu. Aku berkata yang sebenarnya.” Aku menghela napas berat yang sedari tadi kutahan. “Sebenarnya hampir – hampir aku menyerah untuk tidak mengharapkanmu lagi. Namun kenangan – kenangan indah kita memberitahuku bahwa kau satu – satunya alasanku untuk bertahan. Awalnya ini berat. Namun semenjak ada kau hidupku tak demikian lagi. Kau sudah bagaikan udara dalam tiap hembusan napasku. Aku tak bisa membayangkan seperti apa jadinya tanpa dirimu.” Aku pun berbalik dan memeluknya hangat.

Terima kasih.” Katanya lalu menggendongku.

Teriakanku tak sedikitpun mengganggu kegiatannya. Dia meletakkanku di atas ranjang dan berbisik.

Mulai sekarang aku tak akan membiarkanku menunggu lagi. Aku tak ingin mengecewaknmu,

Aku pun terkekeh melihat mimik mukanya yang berubah serius. Tapi aku senang. Ciuman manisnya seperti ini yang selalu membuatku rindu. Jae Hyun Oppa, mengapa kau selalu membuatku gila. Aku pun melingkarkan kedua lengankun di lehernya. Aku sangat menikmati ciuman itu. Kecupan – kecupan manis itu. Dan sepertinya tak akan ada yang mengganggu kegiatan kami untuk saat ini.

Jae Hyun Oppa, aku mencintaimu.

Dasar bodoh, aku juga sangat mencintaimu.” Jawabannya lalu melanjutkan memperdalam ciumannya.

About shiellafiollyamanda

"Wish my creation can inspire a lot of people, at least around me."
Gallery | This entry was posted in book, NOVEL and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

3 Responses to MEMORY

  1. Kainaya says:

    haiii author..qu bru prtama kali lohhh bca ff ni palagi cast a AhnGoo Couple…ff a so sweet bgt hehhee..
    slam knal dri qu (readers bru mu)
    (next bca dlu ya..blhkan ???) 😀

    Like

  2. Hai juga Kainaya. Terimakasih sudah mampir ke blog Shiella. Biasa dipanggil io. Senang juga bisa bertemu dengan sesama AnhGoo Shippers. Iya silahkan kalau ingin baca – baca. Dengan merasa terhormat saya senang apabila ada yang senang dengan tulisan saya. Shiella.

    Like

  3. ella asmia says:

    Wahhhh aku baru nemu fanficnya ahngoo…seneng banget dehhhh…
    Ceritanya ku sukaaaa bangettttt deh unn semangatttt….

    Ahngoo family infonesia

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s