Blossom Violethe Chapter 2 “Maroon”


“Ayo pulang?” Jae Hyun menarik tangan Hye Sun kasar. Mendapati reaksi Hye Sun yang masih tetap tak mau bergerak dari tempat yang sama semenjak kemarin sore dirinya kali pertama menemui Hye Sun, mengetahui Hye Sun tak dapat tidur semalaman pun terpaksa harus membuyarkan lamunan wanita yang masih diam-diam dikagumi selama kurang lebih 5 tahun itu.”Hey!! Bangun atau aku harus panggil noona dulu agar kau mendengarkan spiderman kecilmu ini?”

Hye Sun yang sedari tadi tak bergeming pun mulai angkat bicara karena kesal. Kesal kalau harus mengingat kejadian di bangku Sekolah Menengahnya dulu yang selalu menganggap Jae Hyun adalah anak laki-laki pahlawannya yang selalu sial. Di sekolah Jae Hyun selalu digunakan bahan olok-olokan karena pembawaannya yang polos dan periang. Selain sebagai kesayangan guru, ada satu teman anak konglomeratnya yang bernama Park Shin Hye yang selalu bersedia membelikan apapun perlengkapan belajar yang Jae Hyun minta. Aku baru ingat Jae Hyun itu adalah anak adopsi di keluarga Choi. Meski diangkat oleh keluarga yang lumayan terpandang, tapi aku setuju dengan mereka tak memanjakan Jae Hyun berlimang harta, justru mengajarinya merasakan sebagai orang biasa. Sejak kecil Paman Choi dan Bibi Moon tak pernah mengatakan perihal adopsinya terhadap Jae Hyun. Sebagai pasangan 25 tahun yang tak dikaruniai seorang pewaris keluarga, mereka memang menganggap Jae Hyun benar-benar anaknya. Mereka memperlakukan Jae Hyun amat istimewa sebagai orang yang tak memiliki ikatan darah.

Aku mendelik terhenyak mendengar celetukan Jae Hyun. “Yakh! Jangan katakan hal memalukan itu lagi!” Aku pun tak bisa mengalahkan emosiku dan mengikuti gerakan spontan yang diarahkan tubuhku untuk berlari mengejarnya. “Awas kau ya kalau aku sampai menangkapmu Jae Hyun bodoohhhh!” Teriakan kencang Hye Sun pun agaknya tak membuat Jae Hyun takut sedikit pun namun malah makin bersemangat untuk menggodanya. Hingga akhirnya Jae Hyun malang yang kelelahan pun mengarahkan tangannya menandai untuk menghentikan kegiatan konyolnya ini.

“Sudahlah! Berhenti! Aku lelah, Hye Sun-ah!” Jae Hyun berusaha mengatakan sembari mengatur nafasnya yang masih terengah-engah.

“Kenapa kau memanggilku seperti sedang bicara kepada kekasihmu?” Celetuk Hye Sun yang membuat Jae Hyun semakin tertarik untuk mendekatinya.

“Disebut apa hubungan kita ini?” Sela Jae Hyun memandangi mata Hye Sun lamat-lamat.

“Sahabat karib?”

“Kau kayin hanya itu saja? Orang-orang di luar sana mengira kira adalah couple. Apa kau tak canggung melihat mereka memandangi kita dengan tatapan skeptis dan iri?” Jae Hyun hanya menambahkan kalimat yang ada di otaknya. Memutar bola matanya dia tahu pasti pertanyaan ini membuat Hye Sun tak nyaman. Dia tahu pasti nama laki-laki yang masih dibenaknya. Jiro Wang. Kenapa harus laki-laki lain yang menarik perhatian ice princessnya ini.

“Ahahah! Kau ini sedang mengigau ya!” Jawab Hye Sun menjitak kepala Jae Hyun gemas. Lalu kemudian mengacak-acak rambut Jae Hyun.

“Apa aku ini tak boleh berandai-andai?”

“Tapi jangan pada persahabatan kita, dasar aneh!” Hye Sun menyeringai kuda lalu berusaha berdiri dari duduknya semalaman. Rasanya kaki Hye Sun kesemutan dan tak akan sanggup berjalan sejauh 500 meter menuju vila kecil di puncak bukit ini.

“Naiklah!” Perintah Jae Hyun iba melihat Hye Sun terbangun gontay lalu berjongkok di hadapannya.

“Tak usah. Aku berat.”

“Aku tidak tanya pendapatmu. Aku menyuruhmu untuk lekas naik ke punggungku. Cepat! Sebelum aku berubah pikiran dan meninggalkanmu sendirian di sini.” Sergah Jae Hyun lalu tak berapa lama Hye Sun bersedia naik ke punggungnya. “Hah!! Memang kau beraaat!” Canda Jae Hyun dengan nada yang dibuat-buat. Hye Sun lalu menepuk pundaknya.

“Kenapa kau selalu memasang wajah malaikat di hadapanku? Jangan membuatku salah pengertian terhadap perhatianmu!” Hye Sun berhenti bergeming lalu melanjutkan pertanyaan-pertanyaan yang menurutnya mengganjal di otaknya. “Jae Hyuunn, kapan kau akan mengenalkan gadis pertamamu padaku?” Jae Hyun tak menanggapi namun menoleh ke arahnya dengan pandangan seduktif. “Jae Hyuuunnn…” Panggil Hye Sun manja.

“Apa kau masih ingat besok hari apa?” Tanya Jae Hyun mengalihkan perhatian.

“Rabu,”

“Oh, seperti dugaanku. Kau pasti tak mengingatnya.”

“Apa kau terluka aku payah dalam mengingat hari itu?” Jae Hyun kembali tak menjawab.

“Datanglah ke rumahku besok malam pukul 9. Aku akan sangat kecewa saat kau tidak datang.” Pinta Jae Hyun serius.

“Ehm..”

“Sebentar lagi kita sampai. Pakailah jaketku yang aku letakkan di tas jinjingmu. Aku yakin kau tak membawa pakaian datang kemari.”

“Bagaimana kau bisa tahu?”

“Sudah berapa lama kita berteman. Tidak cuma sebulan dua bulan tapi lebih dari 10 tahun.” “Segeralah tidur. Besok aku akan menjemputmu. Kita pulang lagi ke Seoul.” Jae Hyun mengacak-acak rambut Hye Sun lalu pergi dengan melambaikan tangannya dari kejauhan.

»………..«

Jae Hyun sedari tadi tak berhenti memilah-milah kemejanya yang akan dia gunakan untuk menyambut pesta kebun di ulang tahunnya yang ke 28 tahun. Semburat merah terpancar di kedua pipinya mengingat gaun merah maroon untuk diberikan kepada Hye Sun yang sengaja dihadiahkan sang ibu yang mulai tahu kalau dirinya mengagumi sahabat karibnya itu. Jae Hyun menyuruh Hye Sun mengenakannya di hari special yang bahkan tak Hye Sun ingat sama sekali. Ibu Jae Hyun sangat mengerti bahwa putranya masih memendam perasaan cinta sekian lama terhadap Hye Sun yang juga sudah dianggapnya bak anak sendiri. Nyonya Moon pun masuk tanpa mengetuk pintu dan memegangi kedua pundak Jae Hyun.

“Pakailah apapun yang kau sukai. Putra ibu pasti tetap terlihat tampan.” Senyum Nyonya Moon merekah. “Kau sudah berikan gaun merah itu untuk Hye Sun? Setelah itu katakanlah bahwa dia orang yang special untukmu. Tak baik terus memendam perasaanmu. Dia tak akan tahu kalau kau amat menyayanginya. Perasaan seseorang itu ibarat perahu. Saat perasaan itu tak lekas kau tumpahkan maka muatan dalam perahumu itu akan menyembul tak terkendali hingga menenggelamkanmu sendiri. Jangan sampai kau menyesal didahului orang lain untuk memilikinya.” Nyonya Moon lalu keluar dari kamar Jae Hyun.

Jae Hyun pun bergeming “Ibuuuu….!”

Jae Hyun pun turun ke lantai bawah menuju pekarangan rumahnya yang sudah disett sedemikian rupa. Banyak balon transparan berbentuk hati tergantung dimana-mana. Bunga tulip dan mawar pun tak kalah meramaikan suasana malam yang romantis. Sahabat-sahabat Jae Hyun dan sepupu-sepupunya pun hadir menyalaminya dan mengangkat minumannya memberi hormat pada Jae Hyun. Acara yang dinantikan Jae Hyun begitu ramai di luar dugaannya. Namun satu hal membuatnya gusar sebab sudah hampir satu jam menuju acara utama Hye Sun belum juga memperlihatkan batang hidungnya dari sekian banyak kerumunan undangannya. Hye Sun kenapa kau tak datang? Mata Ahn Jae Hyun terus saja mencari-cari dan tak jauh beberapa meter dari tempatnya berdiri tampak seorang wanita mengenakan gaun cream panjang menjuntai tak berlengan memperlihatkan keanggunan sekaligus keseksiannya. Cantiknya tak membuat Jae Hyun bertanya-tanya namun mengapa ia tak mengenakan gaun merah maroon yang sudah disiapkan oleh ibu itu yang membuat Jae Hyun sedikit kecewa.

“Kau datang!”

“Aku sudah datang kedua kalinya. Tadi aku salah gaun. Aku bertanya pada securitymu dia bilang ini perayaan ulang tahun lalu aku mengganti pakaian chic-ku dan segera kemari membawanku kado. Terimalah. Selamat ulang tahun, Jae Hyun sahabatku.” Ucap Hye Sun lalu memeluk Jae Hyun erat.

Seperti mimpi Jae Hyun pun terdiam lalu membalas pelukan dari ice princessnya itu. “Dulu kau begitu dingin pada semuanya. Kenapa kau bisa berubah begitu cepat?”

“Itu karena kau. Perhatianmu yang menuntunku untuk merubah sisi burukku, Jae Hyun. Kita sudah bersahabat lebih dari 10 tahun. Dan aku merasa sudah banyak hal yang merubah kita entah itu secara fisik maupun psikis. Dan satu hal yang tidak akan pernah berubah. Kau adalah sahabatku yang paling baik.”

“Kemana gaunku?”

“Aku tidak membuangnya. Aku masih menyimpannya. Di saat yang tepat aku akan memakainya dan memperlihatkannya padamu.” Untuk sepersekian dekit mata mereka saling berpandangan. “Kau suka dengan hadiahku. Aku tidak ingin kau datang terlambat lagi bahkan ke kantormu, maka aku belikan jam tangan ini untukmu. Kemarikan tanganmu.” Hye Sun pun memakaikannya di tangan kiri Jae Hyun.

“Sangat ringan. Kau pintar memilih warnanya untuk kulitku.” Hye Sun pun tersenyum. “Oh, ya, kau mau bertemu ibuku? Acaranya akan segera kumulai. Awalnya aku khawatir kau tak datang dan aku pergi meninggalkan pesta begitu saja. Namun aku salah. Kau selalu datang di saat yang tak terduga. Di saat aku sudah tak mampu lagi berharap dan nyaris putus asa.”

“Shutt! Ini kan hari ulang tahunmu. Kita patut bersenang-senang.”

“Berjalanlah ke tengah saat aku membuka acaranya. Hari ini kau adalah tamu specialku.”

Hye Sun terkekeh. Jae Hyun membuka acara. Dia mennyebutkan bahwa dirinya memang sudah tak muda lagi di usia yang hendak beranjak ke kepala 3. Dan kini dirinya sudah bukan waktunya lagi untuk bermain-main dengan masa depannya. Dirinya ingin mengungkapkan perasaannya pada seseorang yang telah lama mencuri hatinya dalam hampir 1 dekade ini.

“Hye Sun-ah! Majulah ke depan untuk mendengar semua kata-kataku. Sebab aku tak bisa mengulanginya.”

“Ekkhh… Akkkuuu?” Kata Hye Sun penuh tanya. Lalu dirinya memberanikan diri untuk maju ke atas panggung yang telah disediakan Jae Hyun.

“Terima kasih untuk bersedia datang Hye Sun. Aku tak taku harus mengatakan apa atas kehadiranmu. Selama ini kau yang selalu mengawali cerita-ceritamu kepadamu, dan kau pernah bertanya kapan aku akan menceritakan kisahku dan aku rasa sekaranglah pernyataan yang tepat aku ungkapkan untukmu.” Jae Hyun pun berjongkok di di hadapan Hye Sun. “Sudikah bila kiranya kalau kita mengakhiri persahabatan kita sekarang juga?” Tanya Jae Hyun membuat Hye Sun terpelongo.

“Aku tidak bisa. Apa aku melakukan kesalahan Jae Hyun?” Kata Hye Sun hampir menangis.

“Aku memang mengakhirinya namun kita akan memulainya sebagai seorang pasangan.” Kata Jae Hyun lancar. Mata Hye Sun membelalak tercekat.

“Aku.”

“Aku tidak meminta jawabanmu hari ini. Kau bisa menjawabnya saat kau siap menjawabnya. Dan aku akan menerima apapun keputusanmu.” Lantas Jae Hyun berdiri dan mengajak Hye Sun berdansa. Musik otomatis berbunyi.

Mata Hye Sun tak henti-hentinya memandangi Jae Hyun yang tak jauh berada di hadapannya. Hye Sun sadar dirinya dan Jae Hyun bukan lagi anak remaja yang menghabiskan waktunya untuk bermain. Mereka sudah sama-sama dewasa. Dan pernyataan Jae Hyun cukup mengejutkannya hingga seperti mimpi yang klise.

“Kenapa memandangiku terus?” Kata Jae Hyun menunduk. “Apa kau keberatan mendengarkan pengakuanku? Sudah 5 tahun aku memendamnya dan aku selalu menantikan saat-saat ini. Aku yakin sekarang kau pasti sedang membenciku dan merutukiku dalam hati.”

Jae Hyun salah. Justru Hye Sun menaruh iba pada Jae Hyun mengapa dirinya rela menahan perih sekian lama berada di sampingnya. Hye Sun merasa dirinya begitu egois hanya memedulikan kisa hidupnya tanpa menghiraukan perasaan Jae Hyun. Bahkan dirinya tak bisa membaca pikiran Jae Hyun yang selalu ada di dekatnya dalam senang maupun sedih. Hye Sun merasa dirinya adalah wanita yang tolol dan tak berguna, tak peka sama sekali. Kenapa justru lelaki sebaik Jae Hyun yang tak pernah terlintas di kepalanya? Mengapa harus Jiro yang selalu bersikap cuek dan arrogant? Apa yang salah dengannya selama ini?

“Hye Sun-ah, andaikata kau tak menerimaku jangan pernah sungkan untuk menghubungiku seperti biasanya. Aku tidak akan marah kepadamu bahkan menyimpan dendam. Di sini kau selalu jadi yang utama selain kedua orangtuaku.” Jae Hyun menarik kepala Hye Sun menyandarkan di dadanya. “Karena aku tahu kau tak memiliki perasaan itu.”

Seketika opini Jae Hyun atas dirinya itu yang membuat Hye Sun sedih. Tanpa tahu mengapa hati Hye Sun kacau saat ini seperti pecahan kaca yang saling berhamburan tak tahu bagian mana yang telah terpencar. Hye Sun menumpahkan air matanya di bawah pelukan Jae Hyun. Dia ingin bicara namun semua kata-katanya tertahan di bibirnya tak mau keluar. Dia bingung. Di sisi lain Jae Hyun sudah sangat dekatnya namun dirinya tak bisa membiarkan Jae Hyun selalu menderita berada di dekatnya.

Di bawah lampu temaran dan lampion lentera-lentera yang cantik menghias justru membuat Jae Hyun dan Hye Sun tertunduk lesu. Semua undangan telah pulang dan Jae Hyun menawarkan untuk mengantar Hye Sun pulang. Mengendarai mobil baru dari hasil jerih payahnya selama ini membuat sesekali Hye Sun memuji. Hingga sesampainya di depan rumah Hye Sun yang sudah disambut oleh Ye Rin kakak wanita nomor 4 Hye Sun yang melambaikan tangannya ke arah Jae Hyun. Seraya berteriak,”Aku masuk duluan ya!” Jae Hyun tersenyum melihat tingkah Ye Rin noona.

Hye Sun pun turun dari pintu yang dibukakan Jae Hyun. Dan Jae Hyun pun berputar hendak langsung masuk ke mobil.

“Jae Hyun-ah! Terima kasih telah mengatakan yang sejujurnya untuk hari ini. Untuk sementara yang aku ingin katakan adalah..”

Jae Hyun menunggu kata-kata terakhir Hye Sun seraya menunduk.

“Jangan pernah berhenti menyukaiku.”

Jae Hyun setengah tak percaya dengan apa yang didengarnya. Dengan ragu Jae Hyun mendekati Hye Sun dan memegangi kedua pundak Hye Sun.

“Hye Sun-ah! Bisakah aku menciummu di sini?” Hye Sun pun mendongak perlahan mengikuti ke arah sumber suara. Dan Jae Hyun telah berada di posisi yang sangat lekat di hadapannya. Saat bibir mereka bersentuhan entah mengapa hati Hye Sun menuntunnya untuk menutup mata. Begitu pun dengan Jae Hyun yang membelai pipi mulus Hye Sun yang kembali dilinangi air mata. “Maafkan aku. Aku tak bisa menghindarinya, Hye Sun-ah! Maafkan aku sudah bertindak gegabah!” Ucap Jae Hyun dan menyeka air mata Hye Sun yang mulai mengering. Dia tak bisa melihat Hye Sun dengan raut muka yang berantakan. Hal ini yang membuatnya pilu. Namun lagi-lagi Hye Sun kembali menitikkan air matanya.

About shiellafiollyamanda

"Wish my creation can inspire a lot of people, at least around me."
This entry was posted in NOVEL and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s