Blossom Violethe


CYMERA_20150625_140019Malam itu aku duduk di bangku taman di bawah sebuah pohon yang meski bukan Natal namun sudah dihiasi lampu isofase yang berkelap-kelip. Cukup terang untuk cuaca yang tak mendung, namun cukup gelap juga untukku bersembunyi. Menyembunyikan wajah muramku yang masih enggan tersenyum sejak sepeninggal kakak perempuanku. Aku ada 6 bersaudari. Biasanya aku memang yang tergolong paling dekat dengannya, Hye Won. Dan Tanpa dia sekarang aku… Tak apalah. Seharusnya dialah yang lebih kasihan sebab dirinya yang tak jadi menikah dalam kurun waktu kurang 3 hari menjelang pesta pernikahannya digelar dalam waktu dekat ini. Justru dia terkena musibah. Asmanya kumat. Hingga 4 hari berturut-turut tak sadarkan diri hingga akhirnya meninggalkan kami 5 saudarinya. Aku tak punya Oppa. Maka dari itulah aku juga tak tahu bagaimana harus bercerita kepada lawan jenisku. Termasuk sahabat karibku, Ahn Jae Hyun. Meski kami berbeda usia, aku terlahir 2 tahun lebih tua darinya, sebagai sunbae dalam berkarir, aku jujur paling nyaman dengannya. Bahkan semua tentang masalahku pun dia tahu. Tentang jatuh cinta pertamaku, hingga bagaimana aku putus dari mantan kekasihku yang terakhir 2 tahun lalu. Sebenarnya aku tak memaksanya untuk mendengarkan semua ceritaku. Tapi entahlah katanya dengan senang hati dia yang selalu menawarkannya untukku. Jae Hyun sudah seperti saudaraku sendiri. Bahkan jika orang lain memintaku untuk menjalin hubungan dengannya, rasanya itu tak mungkin. Sebab aku sudah menganggapnya sebagai bagian dari keluarga kami. Dia selalu membantuku, bahkan ke-5 eonniku. Ada 1 eonniku yang agaknya menaruh hati pada Jae Hyun. Ga Young. Meski secara lisan dia tak pernah mengatakannya, namun aku paham dari gerak-geriknya dia amat mengagumi Jae Hyun. Aku justru senang kalau ada dari orang terdekatku yang bisa masuk ke keluarga kami. Meski aku tak tahu bagaimana sebenarnya perasaan Jae Hyun terhadapnya. Aku memang kurang peka terhadap itu. Mungkin karena aku sudah terlalu lama mengenalnya. Hingga perkembangan psikologisnya aku pun tak menyadari. Tidak hanya kejadian malam ini yang begitu menyenangkan. Meski aku sedang gelisah namun aku menikmati kesendirianku.

Jae Hyun menyusulku begitu mendengar sudah 2 hari aku pergi dari rumah. Dia tahu pasti dimana tempat-tempat aku menyepi untuk beristirahat sejenak. Menenangkan diri. Dari jauh aku bisa merasakan aroma harum tubuh khas dari parfumenya. Dan seru langkah lebar dari kaki panjangnya. Aku yakin dia berlari sebab suaranya yang tak jelas terdengar terengah-engah.

“Apa kau sudah bosan hidup, ha? ” “Apa kau sudah gila dan tak menyayangi nyawamu lagi?” Satu dua kalimat aku pun mulai berbalik tanpa merubah ekspresi awalku. Dengan tatapanku itu yang juga membuatnya mengernyitkan satu alis matanya.

“Hei, semua saudarimu sedang mengkhawatirkanmu, bodoh. Cukup lakukan hal bodoh ini untuk kali ini saja, untuk seterusnya aku tak akan tanggung, karena…. ” Omelan Jae Hyun terhenti. Membuat aku penasaran untuk menyelanya.

“Karena apa?” Mataku pun beralih menuju ke arah matanya.

“Karena….. ” Aku semakin tak mengerti. Tadi dia datang seperti orang yang kerasukan marah-marah tak jelas dan tampak gelisah, namun sekarang mendadak menjadi sangat bodoh dan konyol. “Baiklah kalau kau tidak ingin bercerita, aku sudah menceritakan semuanya padamu tapi ternyata kau tidak mempercayaiku. Aku memang bukan benar-benar temanmu.” Kataku beralih melaju.

“Berhenti, bodoh!” Teriaknya membentak menyuruhku berhenti. Dia tak bicara secara langsung tapi aku tahu dia memerintahkanku untuk mendengarkannya baik-baik kali ini.

“Tapi aku lelah, Jae Hyun. Tolong bisa kau tinggalkan aku?”

“Meninggalkanmu dalam keadaan seperti ini? Membiarkanmu terus terpuruk tanpa ada jalan untuk bangkit? Apa menurutmu aku tega melakukan ini, dasar bodoh!” Dia mengakhiri tatapan kasarnya lalu kembali berteriak, “Tentu saja karena aku peduli padamu. Bahkan lebih dari itu. Di saat sakit apakah kau ingat akulah orang yang memberimu tempat dimana semua saudarimu tak ada yang mau menutupi keadaanmu saat kau keluar dari ruang operasi terhadap orangtuamu atas permintaanmu? Kau pikir aku melakukannya begitu saja? Aku pun punya perasaan meski aku ini laki-laki. Aku pun tak tega bila halnya kau diperlakukan tak adil bahkan oleh saudari-saudarimu.”

“Kau sudah banyak berkorban untukku, Jae Hyun. Bisakah Kau berhenti sejenak?”

“Bukankah sudah kukatakan aku akan sangat senang bila bisa membantumu. Tanpa kau memintanya aku pun bersedia. Dan aku tak akan merubah keputusanku. Aku tak bisa menarik kata-kataku, Hye Sun-ah! Aku… ”

“Kita bicara besok saja lagi. Ini sudah menjelang pagi. Kau lihat aku sudah mulai kedinginan di sini. Bukankah kau juga sama?”

Grep! Tangan Jae Hyun menahan sebelah tanganku. Untuk yang kedua kalinya aku menoleh ke arahnya. “Ada apa?”

“Ehm….” Wajahnya tampak ia ingin mengucapkan sesuatu namun ia tak bisa mengucapkannya. “Pakailah ini.” Aku pun terkejut. Baru kali ini aku melihatnya sebagai seorang pria. Saat ini ia bukan sekedar seorang teman karib. Aku sungguh-sungguh baru mengetahui sisi lainnya kali ini serasa dia membawaku ke pikiran yang aneh seperti dimana aku ini seorang yang special di matanya. Ah! Apa yang telah aku pikirkan? Hanya mendadak terbersit pikiran nakal seperti itu. Ingatlah! Dia adalah Jae Hyun. Teman karibku semenjak aku duduk di bangku SMP.

“Kyeopta!”

“Apa?” Kulihat senyumannya tersinggung di kedua pipinya. Tangannya membetulkan rambut panjangku yang kuikat. Dia mengeluarkannya dari lilitan syal yang dia kalungkan di leherku.

“Kau. Mengapa aku tak pernah menyadarinya? Si pendek begitu cantik sekarang.” Kata Jae Hyun menganga serius. Menatap tatanan rambutku.

“Aku pergi.” Dia pergi berlalu begitu saja. Aku pun hanya mampu melihat kepergiannya dari balik punggungnya. Dan yang aku bingungkan adalah kata-katanya barusan yang banyak membawa teka-teki. Aku masih kesulitan mencerna semuanya. Tapi aku rasa dia hanya perhatian saja terhadapku. Kenapa aku tak pernah bisa membalasnya? Dia terlalu baik.

“Hei, kau mengigau lagi ya? Ayo, pergi!” Tegur Geun Suk yang mendapatiku berbicara sendiri sesuai dengan versi penglihatannya.

“Ah, iya.”

“Kenapa kau bicara sendiri tadi?”

“Oh, baru saja Jae Hyun dari sini.”

“Dimana?”

“Dia sudah pergi.”

“Benarkah? Kenapa kau tak suruh saja dia menginap di rumah ayahku?”

“Ah, tidak. Nanti aku bisa semakin merepotkan, Geun Suk.”

“Yah, Noona. Sama sekali tidak, Noona.” Protes Geun Suk yang merupakan adik sepupunya.

o(〃^▽^〃)o ٩(๑~▽~๑)

About shiellafiollyamanda

"Wish my creation can inspire a lot of people, at least around me."
This entry was posted in NOVEL and tagged , , , . Bookmark the permalink.

2 Responses to Blossom Violethe

  1. Woaaaa. Seneng bgt bisa nemu ff Ahngoo. Izin baca2 ya . Arigatou gozaimash

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s