FINAL ~ Broken Angel Double Stage (ONESLASH GEUNSHIN)


if you can not be the best, at least be part of the best .. ~ jika kau tak bisa menjadi yang terbaik, his
Broken Angel Double Stage
Cast : Jang Geun  Seok
Park Shin Hye
Jung Yun Ho
Uee Kim Joo
Author : Shiell Fiolly Amanda
Rate : PG
Genre : Scary (Horror) and Balad Romance
JOY PIERCI
SUKKIE
UEE
YUNHO
Seorang wanita tengah berusaha menyamar menjadi seorang apoteker di sebuah pabrik Pharmachyternama di seberang rumah sakit Seoul. Tak banyak yang diubahnya dalam berdandan. Hanya sebuah kaca mata hitam besar dan topi coklat yang sudah lumayan usang dipakainya sembari mengenakan mantel yang di dalamnya bernuansakan baju kemeja jubah besar serba putih yang mengidentitaskan dirinya seorang tenaga medis. Dengan suara yang agak dibuat – buat menjadi sedikit parau hingga – hingga tak ada seorang pun yang mengenalinya bahwa dirinya awal mulanya adalah seorang detective intel dari sebuah agen pindahan Amerika. Hingga – hingga namanya pun bukan nama korea seperti kebanyakan gadis muda asing yang tinggal lama di Korea. Meski sudah menetap lama, namun tak banyak yang dirinya tahu tentang Korea itu. Kemana – mana dirinya juga masih membawa sebuah kamus kecil di kantong celana panjangnya yang penuh dengan saku – saku. Sebuah mata tajam yang runcing terlihat sekali sedang diarahkannya kepada seorang pria yang baru saja memasuki toko obatnya. Bisa dibilang pria ini adalah target pertamanya dalam menerawang pembunuhan seorang direktur muda yang memimpin sebuah perusahaan Obat ternama di Mokpo. Apa mungkin pria ini ? yang terlihat begitu modis dan masih nampak sekali muda belia. Tak segan – segan dirinya mengamati langkah pria itu. Matanya tak berkedip sedikit pun mengikuti kemana pria itu bergerak. Seperti senjata senapan jitu yang sedang diarahkan seperti selalu dipakainya dalam melumpuhkan musuh yang selalu mengincarnya, wanita ini pun tetap melakukan hal yang sama. Hah, namun sayangnya pria itu nampak sepertinya mengerti tentang apa yang dilakukannya. Sesekali sang pria yang merasa tak nyaman menggerak – gerakkan kakinya berusaha mengelabuhi wanita ini, namun wanita ini memang lebih cerdik dari yang dirinya bayangkan.
“Hemmm.. Hem.. “ sang pria berusaha berdeham sesekali. Namun tak kalah seramnya dengan wanita yang tengah mengarahkan lirikan matanya beberapa kali ke arah pria itu semakin membuat pria itu bergidik. Sebernarnya apa yang tengah dorencanakan wanta itu terhadapnya. Bak ingin membunuhnya hidup – hidup saja wanita tu terus melihat ke arahnya. Hingga mau tak mau sang pria pun tertarik untuk menghampirinya.
“Maaf, nona, sepertinya ada masalah ?” kata – katanya yang seketika itu menghentikan sang wanita mengamatinya dan terkesan sedang membereskan obat yang diramunya ke dalam laci. Buru – buru dirinya ingin menjauh mundur ke belakang. Namun sang pria kembali menanyai dengan banyak pertanyaan yang menderanya.
“Nona, apa kau mengenalku sebelumnya ?” tanyanya mendelik berusaha mendekatkan perhatiannya ke arah wanita yang terlihat sedang berakting itu.
“Nona, kau bisa carikan aku sebuah obat untuk asma ? aku sangat membutuhkannya. Tapi aku tak tahu dimana tempatnya ?”
Oh ! apa lagi ini ? begitu ditanya justru semakin membuatnya harus memutar otak. Yang benar saja, dia bukan seorang apoteker dan baru pertama kali ini harus melayani pembeli dengan ramah atas permintaan obat – obatannya. Mana mungkin dirinya bisa tahu dimana letak – letak pastinya. Astaga ! apa yang harus aku lakukan ? tidak mungkin wanita ini memberikan obat secara sembarang. Ini bahkan menyangkut dengan nyawa seseorang dan dirinya tahu benar bahwa dirinya akan bertanggung jawab dengan itu. Ah ! mencari tahunya lewat mesin lacak di komputer ini. lewat PC yang berada di dekatnya setidaknya dirinya bisa mencari tahu dimana letak obat tersebut berada di deretan mana. Ya. dirinya akan mencaritahunya sekarang. Dengan sekali tekan dirinya pun menekana beberapa digit huruf dan keluarkan nomer indek obat itu dan dirinya pun segera berjalan keluar dari area mejanya dan mengambilkan sejumlah sampel obat mana yang akan dipilih oleh sang pria itu.
“Ini. atau yang ini ?” tanya kepada sang pria yang terlihat sedang mengangkat teleponnya. Baru beberapa menit saja pria ini sudah terlihat sedang sibuk dengan phonecellnya. Apa dia orang yang penting, kalau memang begitu, wanita ini harus bisa mendapatkan data diri dari sanga pria untuk membantu penyelidikannya.
“Eh, maaf, iya, nona. Obat yang mana ?”
“Ini ?”
“Ah, tapi bukan obat macam itu yang aku cari. Nama peraciknya benar tapi bukan obat seperti ini. kurang lebih bentuknya pepat pil dan warnanya merah dan biru. Ada, kan ?” katanya memberitahukan ciri – ciri obat yang sedang dicarinya.
“Oh, kalau begitu tidak ada. Sebab semua obat ini yang berhasil aku dapatkan dengan label obat asma. Mungkin kau bisa mencoba mencarinya ke toko yang lain ?” katanya menawarkan cara terburuk sebab tak ada satu pun obat yang cocok dengan yang dicari pria itu.
“Oh. Ya sudah kalau begitu, misalkan ada tolong hubungi aku. Ini kartu namaku nona. Hubungi saja bila kau sudah menemukannya.” Katanya langsung pergi menarik pintu yang terbuat dari kaca itu dan segera melaju dengan mobil mewah yang sudah sedari tadi menunggunya di depan toko.
“HOH ! beruntung apa aku hari ini. tanpa harus bertanya tentang data dirinya. Dirinya sudah menyerahkan barang sepenting ini kepadaku. Terima kasih, Tuhan. Tinggal kita tunggu pengunjung lain.” Katanya menyelipkan kartu nama yang diperolehnya itu ke saku kemaja putihnya.
★★★
Sebuah taman kota seoran gadis yang tengah bermanja – manja dengan seorang pria yang nampaknya sedikit lebih tua dari umurnya. Berulang kali dirinya menyandarkan kepalanya ke bahuu pria itu yang nampaknya merasa tak nyaman dengan perlakuan yang diberikan wanita itu. Gadis yang dengan paras yang cantik dan tinggi semampai memperlihatkan sisi feminimnya dengan mengenakan mini dress berwarna hijau muda sama halnya dengan sang pria yang yang mengenakan kaos warna hujau dan celana panjang berwarna krem. Meski waktu tengah menginjak pukul 6 petang, agaknya sang wanita tetap ingin menikmati hari bersama dengan sang pria ini.
Sang pria pun berusaha melepaskan pegangan tangan dsang wanita yang sedari tadi melingkar di bahunya yang terasa mulai panas. Dirinya tak ingin berbasa – basi lagi. Dirinya akan memutuskan untuk mengakhiri hubungannya dengan sang wanita yang telah empat tahun dijalaninya. Meski awal mulanya dirinya yang tergila – gila dengan wanita ini, namun seiring dengan berjalannya waktu membuat sang pria muak dengan sikap sang wanita yang selalu minta ini dan itu, lalu belum lagi dirinya yang tak bisa dipercaya. Sering kali sang pria memergokinya sedang bersama dengan pria lain. Namun sang pria ini masih bisa menahannya. Tapi harus bagaimana lagi. Sekarang dirinya sudah banyak alasan untuk melepaskannya. Namun ini akan menjadi hal yang berat bagi wanita itu, namun sebaliknya bagi sang pria. Dirinya akan merasa sangat terselamatkan bisa menjauh dari kehidupan gadis di dekatnya itu.
“Uee, aku tak  bisa melanjutkan hubungan kita ini lagi. Kumohon kau lekas mengerti dengan kepiutusanku dan mampu menghargainya.” Kata Yunho menyampaikan perasaannya yang sudah tak bisa dibendungnya lagi.
“Kau pasti bercanda, kan ? ini sama sekali tidak lucu, Yunho.” Jawab Uee sembari melepas tertawaan ringan. Namun Yunho tetap bersikeras untuk membuatnya mengerti.
“Tidak aku serius. Kau lihat mataku ? Apa aku terkesan berpura – pura ?”
Akhirnya Uee mau tak mau memandangi ke arah bola matanya, sepertinya Yunho benar. Dirinya tak main – main. Sepersekian detik Uee masih bisa tertawa namun akhirnya dirinya menangis sekencang – kencangnya. Orang – orang yang berada di taman itu pun melihatinya sebab teriakannya yang membuat semua orang bahkan dari jarak radius 10 meter pun mendengarnya. Hingga Yunho yang merasa tak enak dengan orang – orang pun berusaha menutup – nutupi keadaan dengan mengatakan bahwa Uee baru saja menerima berita yang sangat mengejutkan hatinya. Orang – orang pun percaya saja dengan apa yang diomongkan Yunho. Hingga Uee pun menangis sedikit reda, dan Yunho harus segera membawanya pergi dari taman itu. Mencari tempat yang lebih privacy. Di sebuah rumah kosong yang berada di belakang taman, Yunho pun mulai mengatakan semuanya. Dari mengapa dirinya mengatakan ingin putus dan memaparkan alasan – alasannya termasuk saat Uee telah mengelabuhinya dan pergi bersama dengan pria lain. Dan Yunho juga sudah memiliki orang yang dicintainya lagi. Dan itu bukan Uee sekarang yang berada di hatinya.
Uee hanya bisa pasrah, bagaimana pun juga harga dirinya sebagai wanita tak bisa dielakkan. Dirinya hanya bisa menerima keputusan ini meski dalam lubuk hatinya hanya Yunholah kekasihnya yang paling mengerti dirinya apa apanya tanpa banyak menuntut banyak hal seperti para pria – pria lain yang juga menjalin hubungan dengannya. Dirinya pun langsung pergi begitu saja setelah Yunho telah menjelaskan semuanya. Dan tanpa membalikkan punggungnya dirinya pun meninggalkan tempat itu dan kenangan – kenangan manis selama bersama dengan pria ini. Jung Yunho.
★★★
“Oh, maafkan paman, sayang. Paman belum bisa menemukan obat gantinya. Paman yang dengan tidak sengaja membuangnya harusnya paman yang akan menggantinya. Tapi tenang saja paman akan segera mendapatkan obat yang sama dengan milik Marin. Marin, tenang, ya ?” kata Pria yang baru saja datang dan masuk lalu segera membelai rambut Marin, keponankan sekaligus satu – satunya keluarga yang dipunyainya.
“Ehm.. “ sambil melakukan gerakan – gerakan tangan yang mengisyaratkan bahwa dirinya telah memafkan kekhilafan pamannya itu. Pamannya pun semakin mempererat pelukannya.
“Sayang, andaikan ada obat atau cara untuk bisa membuatmu bisa bicara, paman pun akan bersedia melakukannya. Maafkan, paman.” Sesekali pria ini menyelipkan telapak tangannya di punggung gadis kecil yang berusia 9 tahun ini. mengingat kejadian yang membuat gadis kecil ini bisu membuatnya pilu. Pembunuhan kakak laki – lakinya dan juga kakak iparnya yang juga menyebabkan Marin kehilangan suaranya oleh karena pita suaranya yang sobek hingga – hingga dirinya harus sebatang kara menjaga Marin.
Tiba – tiba semburat bayangan hitam pun datang  di antara mereka, dua buah yang berpendar seperti cahaya yang hendak menyentuh tubuh Marin, namun tak satu pun dari mereka yang bisa melihatnya, perlambang kedua orang tua Marin yang lega sebab sudah menitipkan Marin kepada adik Mereka ini, namun masalah tak akan berhenti sampai di sini saja, untuk itu mereka hendak memperingatkan Sukkie, adik mereka untuk waspada dengan musibah – musibah yang akan menderanya dalam waktu dekat ini.
“Marin, jaga pamanmu juga, ya ?” suara dari bayangan itu pun sampai kepada Marin, demi tak membuat pamannya gusar dia tak menceritakan bahwa ayah ibunya telah melindungi mereka berdua.
★★★
3 hari kemudian terdapat sebuah perayaan keberhasilan perusahaan pharmachy ternama di Nam Won yang dipimpin oleh keluarga besar Lee, dengan mengusung direktur serta genderal manager yang baru yang tidak lain adalah pewaris tunggal dari keluarga Lee sendiri yaitu pesohor muda, Lee Jong Hun yang sedang menyandang gelar master studynya itu di Harvard University, dirinya baru saja lulus di pertengahan Mei lalu dan sekarang dirinya sudah siap untuk memimpin perusahaan milik kakeknya itu. Dengan ramah dirinya menjabat tangan semua rekan bisnis kakeknya. Di rumah yang begitu mewah bak hotel itu pun sudah pasti menjadi sasaran empuk untuk para mafia beraksi dengan para senjata bawaannya. Maka dari itu sudah pasti untuk acara sehebat ini Joy datang untuk segera mencari tahu yang barang pasti ada hubungannya dengan kematian pemilik toko pharmachyterbesar di Mokpo.
“Kau begitu muda, ya ?” sanjung seorang wanita yang mengisi acara di sebuah pesta perayaan yang diharidi lebih dari 200 orang itu, dari karyawan, rekan bisnis juga kenalan – kenalan wirausahawan dari Lee Jang Woo, kakek Lee Jong Hun.
Joy yang tengah mengendarkan pandangannya ke arah Lee Jong Hun dan rekan kerjanya di ujung pintu pun tak segan – segan untuk menelepon bosnya yang sedang berada jauh di seberang ikut mengawasi acara itu lewat kamera candid yang bawa Joy lewat kerah bajunya.
“Sepertinya dia tak tahu menahu tentang kejahatan kakeknya, Bos.” Kata Joy terhadap So Yoon Park di dalam telepon.
“Biarkan saja, yang terpenting kau jangan sampai lengah, terus awasi gerak – gerik mereka. Jangan sampai mereka mengelabuhimu, Joy,” kata Yoon Park mengingatkana. Joy pun segera menutup teleponnya beberapa saat. Dan tanpa disadari dirinya bertemu juga dengan pria yang ditemuinya di toko obat saat dirinya menyamar menjadi seorang apoteker di Seoul. Ini kabar yang bagus. Sebernarnya siapa dia. Dan ada hubungan apa dengan kelluarga Lee. Maka Joy tak akan menyia – nyiakan hal ini dan segera datang mendekat ke arah pria itu.
“Sukkie ?” mendelik seketika Lee Jong Hun menyebut nama pria itu Sukkie, dan ternyata dirinya seorang professor yang menganangi kehigienisan dari semua label obat yang tengah dikeluarkan di Seoul. Owh, pria muda itu seorang professor rupanya, pantas saja dari gayanya dirinya bukan pria yang sembarangan. Maka dari itu Joy harus bisa mendapatkan informasi darinya.
Baru beberapa kali Sukkie berdiri sepertinya dirinya sudah harus pergi meninggalkan area pesta. Dengan balutan jas biru laut tua dan topi hitam yang dirinya sampirkan di dekat pintu tadi pun diraupnya dan mendadak seorang laki – laki keluar dari balik pintu. Jung Yunho yang juga  mengadiri pesta perayaan itu pun ternyata juga mengenal dengan keluarga Lee. Dirinya sebagai donatur tetap di perusahaan parmachy keluarga Lee selama 12 tahun. Oh, tidak. Ini pasti ada yang salah. Joy harus menghentikan Sukkie. Dirinya mencari cara bagaimana untuk membuat Sukkie memperhatikannya. Joy pun membayar seseorang di sampingnya untuk berakting sebagai seorang kekasih yang menelantarkannya di pesta. Hingga Sukkie pun terpaksa harus melerai dan membelanya.
“Apa katamu ? Aku salah apa ?” kata Joy yang merengek memegangi bahu pria itu dan ditampik keras oleh pria itu hingga tubuhnya hampir terpelanting ke jalan raya yang lebar itu. Bagaimana bisa Sukkie membiarkan hal buruk menimpa wanita yang padahal hanya menjeratnya masuk ke dalam perangkap Joy itu.
“Kau ingin tahu salahmu, banyak. Pergi dar hidupku dan jangan menampakkan batang hidungmu lagi !” bentak keras pria itu ke arah Joy sembari mendorongnya ke jalanan.
Sukkie pun tak tinggal diam. Mengetahui hal itu dirinya segera menarik Joy ke tepi. Hingga mereka pun harus tergelinding ke jalanan yang berada di samping kirinya dan hampir saja masuk ke parit. Nyaris saja. namun Sukkie yang sudah memeluk tubuh Joy dan menyandarkan kepala Joy di bawah dadanya itu pun banyak menyelamatkan tubuh Joy dari tabrakan yang bisa saja menimpanya bila dia harus berada lebih lama di tengah jalan raya itu.
★★★
“Benar kau tidak apa – apa ? Apa ada yang sakit atau terluka ?” kata Sukkie memperhatikan sekujur tubuh Joy yang terpelanting ke jalan raya tadi. Melihat lengan putihnya dengan mini dress hitam yang dipakainya tanpa lengan sepertinya memang tidak ada yang perlu dikhawatirkan namun entahlah dengan shock yang sempat dialami gadis yang berada di depannya yang tanpa ia tahu semua ini hanyalah acting belaka.
“Ah, berkatmu aku sudah tidak apa – apa. Terima kasih, banyak, tuan.” Kata Joy berbasa – basi.
“Eh, sepertinya kita pernah berjumpa sebelumnya. Tapi dimana, ya ?” kata Sukkie mencoba berpikir. Ah, tentu saja ini akan memperburuk keadaan kalau saja dia tahu Joy adalah wanita di apotek itu.
“Oh, aku rasa tidak. Mungkin kau salah lihat saja.” katanya mengelak.
“Mungkin juga seperti itu. Ya sudah, bagaimana kalau aku antar pulang ke rumahmu.”
“Apa kau tidak keberatan ? Rumahku jauh dari kota.” Kata Joy berusaha bersikap manis.
“Tentu saja tidak. Wanita tak baik pulang malam – malam sendirian.” Joy tersenyum ke arah Sukkie dan membenarkan posisi duduknya.
“Apa rumahmu di sini ? Kau tidak ketakukan tinggal di rumah yang sepi dengan penduduk seperti ini ?” lihat Joy ke sekeliling rumahnya yang memang sudah sedari awal dirinya tinggali sejak bernaung dan menetap di Korea.
“Tidak. Tentu aku sudah terbiasa dengan semua ini. kau mau mampir dulu atas langsung pulang ?” ucap Joy menawarinya untuk singgah sebentar ke rumahnya, namun Sukkie pun menolak lantaran dirinya tak ingin berlama – lama meninggalkan Marin di rumah sendirian.
“Kapan – kapan saja aku akan berkunjung kemari lagi, ada keponakanku di rumah yang sedang menungguku. Aku tidak enak jika harus meninggalkannya lebih lama.” Katanya.
“Oh, kalau begitu sekalian ajak saja keponakanmu kemari juga.”
“Baiklah, jaga dirimu baik, baik.” Kata Sukkie.
“Joy, namaku Joy.”
“Baiklah. Joy Piercie, bukan ?”
“Darimana kau tahu ?” kata Joy melihat ke sekeling tubuhnya tak ada identitas yang tertera di situ.
“Tadi ada di kartu nama yang jatuh di dekat sepatumu.”
“Oh, begitu.” Jawab Joy sembari tersenyum keras yang terlihat agak dibuat – buat lalu melambai – lambaikan tangannya ke arah Sukkie yang telah melaju kencang.
“Jeli juga ternyata pria ini.” gumam Joy lalu masuk ke halaman rumahnya.
★★★
Uee pun merebahkan tubuhnya ke kasur. Sudah dua hari dirinya mengurung diri dengan tidak ingin diganggu oleh siapa pun. Tidak termasuk juga ayahnya. Sebagai anak gadis yang hanya tinggal dengan ayahnya, pagi hari pun dirinya juga tak keluar kamar sekedar untuk melayani sang ayah makan selama belum berangkat menuju kantor. Padahal di hari – hari biasa pun dirinya terlihat begitu sigap melakukan semuanya sendiri tanpa berat hati, namun tidak untuk beberapa hari ini. laporan panggilan dan juga pesan singkat di phonecellnya pun juga tidak dibalasnya. Dirinya benar – benar sudah kenyang dengan menangis hingga – hingga wajahnya mengalami sedikit perubahan di kelopak mata dan pipi yang mulai membengkak. Benar – benar gadis yang rapuh. Hingga ketokan pintu dari Yunho yang mengunjungi rumahnya pun tak dibukanya.
“Uee, kenapa tidak pergi ke studio 3 hari ini ? Apa kau sakit ?” khawatir Yunho akhirnya pun mendobrak kamar Uee yang dirasanya mulai ada yang tidak beres dengan Uee sebab sudah lama tak menyahut.
Seketika dibukanya betapa kagetnya Yunho melihat Uee yang terbaring dengan memegang pil – pil kuning di tangannya yang tercecer dari toples kecilnya. Dengan mulut yang mulai berbusa hingga mengotori sebagian kerah bajunya, tanpa berpikir panjang Yunho pun segera membawa Uee ke rumah sakit terdekat.
“Bertahanlah, Uee. Bertahanlah. Jangan membuatku sedih seperti ini.” kata Yunho menggenggam erat tangan Uee yang dingin seketika Uee yang tengah didorong di tandunya menuju ruang ICU.
“Tuan, tunggu di luar saja, ya.” kata seorang suster mengingatkan Yunho untuk tidak ikut masuk ke ruang ICU.
“Tapi,”
“Maaf tuan, tapi ini demi konsentrasi dokter.” Kata suster lalu menutup pintu ruangan.
Yunho pun terpaksa harus menunggu di luar ruangan hingga Uee sudah benar – benar siuman.  Dirinya memang lelaki yang kejam. Bagaimana pun juga perihal keptusannya memutuskan Uee membuat Uee banyak tertekan dan bahkan mengalami deperesi ringan seperti ini. kalau saja dirinya tak segera datang dan menemukannya memergoki Uee yang tengah berusaha untuk mengakhiri hidupnya, mungkin Uee sudah tidak ada di dunia ini dan hanya tinggal kenangan mereka berdua yang merutuki di ingatan Yunho.
Sebuah bayangan hitam pun kembali datang. Kali ini di belakang tubuh Yunho dan berusaha untuk mencekiknya, namun Yunho yang lagi – lagi keburu pergi sapuan tangan bayangan hitam itu pun terlambat untuk menangkapnya. Hingga Yunho pun kembali berjalan seperti biasa. Dirinya tetap tak dapat merasakan aura kegelapan di belakangnya. Yunho berusaha berjalan sambil melupakan kenangan manisnya dengan Uee. Dirinya tidak ingin menjadi beban dalam kehidupan Uee. Untuk it dirinya tak akan muncul lagi di kehidupan Uee setelah hal ini usai. Uee sembuh, dia pun akan lenyap. Begitu keputusannya untuk saat ini. namun mungkin akan berbeda dengan Uee yang tetap menginginkannya untuk kembali.
★★★
Joy mengangkat telepon dari bosnya setelah dirinya melihat nama So Yoon Park tertera dalam layar phoecellnya. Dirinya tak banyak menunggu dan segera beraksi setelah menerima kode baru dari Yoon Park itu.
“Okay, Bos. Sore ini aku akan segera datang ke Bank di samping apotek. Kau tunggu saja aku di sana. Aku pastikan pakaian yang akan aku kenakan berwarna biru tua dengan rok krem. Jangan lupa supply aku dengan senapan snap yang baru juga isi pelurunya.
“Itu bisa diurus. Kau jangan datang terlambat. Dimungkinkan akan ada informasi baru yang akan kita dapat setelah ini.”
“Baik, bos. Tunggu dulu ID cardku masih ada padamu.” Kata Joy menambahkan.
“Nanti sekaligus aku berikan kepadamu. Sekarang bersiaplah.”
“Okay, bos.”
Joy pun menutup teleponnya dan segera menyiapkan senjata yang telah dirinya siapkan 2 hari yang lalu. Tak lupa dirinya pun membawa contoh sampel cheque yang akan dibawanya yang diperkirakan adalah cheque tanda bukti korupsi Lee Jang Woo.
“Heh, setelah ini harapkan bisa melumpuhkan kejahatanmu, tuan Lee Jang Woo. Kau kira aku tak tahu daftar hitammu ?” seringai Joy menyelipkan memonya ke dalam koper hitam miliknya dan segera menutupnya kesar. Lalu berganti pakaian dengan blush hitam adan bleizer biru tua kemudian mengenakan bawahan pendek krem.
★★★
Di sisi lain pun, Sukkie ingin sekali mengajak Marin untuk pergi mengunjungi Joy . wanita  yang belum lama ini dikenalnya. Besok pagi dirinya akan pergi. Maka dari itu dari siang tadi Sukkie sudah memberitahu Joy untuk pergi. Kelak Marin tak akan kaget mendengarnya. Mengingat Marin yang sudah lama sekali takk keluar rumah lantaran kondisinya yang tak boleh kecapaian kata dokter. Dan Sukkie pun harus menurutinya demi kesembuhannya yang lebih cepat. Namun kali ini akan dirasanya cukup membantu Joy. Dirinya pasti akan sangat senang melihat pemandangan pedesaan dengan sawah – sawah yang memanjang di belakang pekarangan rumah Joy dan juga sungai yang masih tampak bersih belum terjamah sampah – sampah manusia. Joy pandai sekali memilih suasana yang indah sebagai rumah. Kelak dirinya juga akan memilki rumah di tengah persawahan seperti itu dan akan mendesignnya seperti villa. Sukkie pun teringat akan ajakannya kepada Marin.
“Marin suka kalau kita akan pergi ke desa ? kita bisa melihat sawah, bersantai di sana, Marin juga bisa melihat sungai yang panjang. Paman akan mengunjungi teman paman yang ada di sana. Bagaimana ? Marin mau ikut ?” kata Sukkie merendahkan tubuhnya menghadap Marin yang masih berkutat dengan bonek Barbienya.
“Baiklah, kalau Marin tidak tertarik. Paman pergi sendiri saja,”dengan nada Sukkie yang menggodanya dan hendak berbalik, Marin pun melepaskan pegangannya ke boneka Barbie itu dan meraih pundak pamannya. Lagi – lagi dia melakukan isyarat bahwa dia tidak hanya ingin, melainkan ingin sekali untuk pergi ke rumah teman pamannya.
“Hehehm..”tersenyum Sukkie simpul dan lebar lalu memeluk tubuh Marin erat. Marin pun merajuk dan membalas pelukan Sukkie. Dan melakukan bahasa isyarat lagi yang mengatakan bahwa dirinya begitu menyayangi Sukkie. Dan begitu pun dengan Sukkie. Dirinya membalasnya dengan bahasa isyarat pula. Dalam sekejap mereka pun saling ttertawa sebab tangan keduanya masing – masing yang saling jahil menggelitiki satu sama lain.
★★★
“Pak. Pertemuan kita hari ini tetap akan berjalan, namun maafkan aku. Aku belum bisa kalau harus datang sepagi ini.” kata Yunho dalam telepon kepada manager pharmacy Lee, tuan Song Shin Yul.
“Oh, baiklah tuan muda. Memangnya tuan muda sekarang sedang berada dimana ?”balas tanya Song Shin Yul di seberang yang terdengar tengah berada di jalan raya yang ramai.
“Oh. Aku masih di rumah sakit. Sahabatku sedang sekarat. Dan aku harus menjaganya karena tak satu pun dari kerabatnya yang mengunjunginya, kalau begitu pertemuan kita hari ini dengan tuan Gong aku serahkan kepadamu, ya. jangan lupa acaranya dipercepat pada jam 12 tepat.” Kata Yunho menerangkan sekaligus mengingatkan managernya itu agar tidak membuat menunggu clientnya.
“Baiklah, tuan. Terima kasih sudah mempercayakannya kepadaku. Ada lagi yang ingin Tuan sampaikan ?” tanya Shin Yul kembali.
“Eh, sepertinya itu saja dulu. Kalau nanti ada yang ingin aku katakan. Aku akan meneleponmu lagi, jadi jangan kau matikan phonecellmu.”kata Yunho.
“Baik, Tuan muda, saya mengerti.”
“Bagus.”Kata Yunho lalu menutup teleponnya. Dan kembali duduk di depan ruang ICU. Sebab sedari kemarin belum ada perkembangan juga tentang kesehatan Uee. Apalagi dokter yang keluar juga tanpa mengatakan sepatah kata pun.
“Uee, apa kau sudah membaik di sana ? Aku khawatir sekali terjadi sesuatu padamu.”kata Yunho yang mondar – mandir di depan jendela yang tinggi dan lebih mirip ventilasi di ruang ICU itu.
Muncul seorang suster yang mendorong makanannya masuk ke ruang ICU. Seketika itu pun Yunho ingin berusaha masuk. Tapi lagi – lagi sang suster menghalanginya dan berkata bahwa pasien yang bernama none Uee belum boleh diganggu karena kondisinya yang baru sadar dan belum pulih benar. Hal ini benar – benar membuat Yunho muak. Dirinya benar – benar tak bisa menahan amarahnya. Dan meremas – remas rambutnya kesal. Lalu berusaha duduk tenang kembali. Dan berusaha mengintip Uee dari balik ventilasi. Namun percuma posisi suster yang mengyuapinya membuat menghalangi pandangan Yunho yang berusaha mengintipnya dari balik pintu. Keterlaluan.
★★★
Joy pun sudah sampai ke depan bank dengan duduk tenang di dalam sebuah taxi yang dipesannya lalu mengawasi kantor bank itu dari kejauhan kurang lebih radius 10 meter. Belum nampak ada tamu yang datang dalam peresmian pembukaan toko pharmacy yang  akan dibukanya setelah kebangkrutan pharmachy milik tuan muda Gak Geun Shil. Ini pasti ada hubungannya lagi – lagi. Mengingat mereka ada sama – sama pesaing dalam pemilik pharmacy terbesar di Korea. Namun baru jangka 12 menit, mata Joy sudah mendapati manager Shin Yul yang sudah datang dengan membawa 2 tas koper besar yang dikeluarkannya dari dalam bagasi. Lalu berselang 5 menit diikuti kedatangan direktur baru Lee Jang Hun dan kakeknya, Lee Jang Woo.
“Ayo, kakek. Kita masuk.”Kata Jong Hun menggandengan jalan kakeknya yang mulai sudah menua dan sedikit membungkuk tanpa mengurangi rasa hormatnya.
“Jangan takut, ada aku kakek.”katanya menambahi melihat kakeknya yang tak begitu memercayakan sepenuhnya terhadap tawaran cucunya itu.
“Iya, baiklah. Tapi tongkatku di dalam. Tolong ambilkan untukku.”perintahnya kepada Jong Hun dan akhirnya Jong Hun pun membuka pintu mobilnya dan mengeluarkan sebuah tongkat dengan ujungnya yang berukirkan paruh burung elang itu. Kemudian mereka pun berjalan masuk dengan mendorong pintu kaca tersebut dan seketika pintu itu pun berputar 180°dan mereka pun mendadak lenyao dari pandangan.
Dan sesuai jadwal. So Yoon Park baru saja datang dengan mobil sedan hitamnya yang terparkir di seberang jalan berhadapan dengan taxi yang digunakan Joy. Dan akhirnya Joy pun segera keluar dari taxi dengan sebelumnya membayar argo taxi tersebut kemudian masuk ke mobil bosnya.
“Bagaimana ? Kau bawa barangnya ?”tanyanya kepada Joy di jendela pintu mobilnya.
Joy pun mengacungkan jempol tangan kirinya lalu Yoon Park pun mempersilahkannya masuk. Sembari mengawasi gerak – gerik mereka dari kejauhan pun Yoon Park memasang atal pendeteksi di sepanjang jalan  yang mengarah ke bank.
“Ini berfungsi untuk mendeteksi apakah ada senjata seperti senapan api yang mereka bawa ? kalau benar alat ini akan nyala lampu berwarna merah seperti ini. dan Joy pun mengangguk mengerti lalu menjalankan aksinya dengan keluar dan mengenakan masker hitan untuk menutupi hidung hingga mulutnya lantaran supaya tak dikenali.
“Waspadalah.”pesan Yoon Park kepada Joy. Dan Joy pun mengangguk kemudian segera berjalan ke arah bank.
“Ehm. Sepertinya Jong Hun segera melangkah keluar, bos. Aku akan mengawasinya sedekat mungkin. Hidupnya candid camera monitornya ! jangan sampai melewatkan satu adegan pun.” Kata Joy dari balik pohon di samping Jong Hun berdiri mengenakan topi hitam. Berulang kali dirinya memunggung saat melihat Jong Hun membalikkan badan ke arahnya.
Saat Jong Hun pun lengah, ini waktu yang sangat brilliant untuknya berakti. Joy pun mengarahkan senjata air mata ke kaki Jong Hun dan meraup koper coklatnya lalu berlari ke arah kedai di seberang jalan. Jong Hun yang tak bisa berkutik pun akhirnya hanya memegangi kakinya yang kram dan hanya bisa mengarahkan tangan kanannya ke depan seakan ada seseorang yang berusaha dipanggilnya. Oh, tidak. Lihai sekali Joy. Tak ada satu pun mata lain yang berada saat tempat kejadian hingga semua rencananya pun berjalan mulus. Tanpa saksi mata. Maka ini pun tak akan menjadi hal yang berat di kemudian hari. Joy pun segera masuk ke dalam mobil dan Yoon Park yang sudah menantinya tetap waspada masih menghidupkan monitor pengawasnya yang sengaja dipasang Joy di depan pintu bank.
“Semua beres ?” tanya Yoon Park.
“Semua beres. Aku pastikan datanya ada di sini.”balas Joy yang masih setengah terengah – engah lalu menyeka keringatnya dengan sapu tangan yang terletak di laci mobil Yoon Park.
“Setelah ini kita langsung menuju Markas. Kita harus pastikan sidik jari siapa saja yang ada dalam benda – benda di dalam.”angguk Joy dan tenang duduk dengan menyandarkan kepalanya ke seatnya.
★★★
“Maafkan aku, ayah. Semua datanya kandas.”jelas Jong Hun kepada sang ayah di hadapan sang ibu juga.
PLAKKK..
“Bagaimana bisa ? Bodoh sekali kau ? bagaimana bisa data sepenting itu lenyap dalam sekejab ?” oceh tuan Moon di hadapan Jong Hun setelah menampar pipi kiri Jong Hun. “Kalau bukan karena kau pasti kita sudah kaya sekarang. Kita tak perlu menempati rumah renta ini lagi, kita bisa membeli resident yang jauh lebih layak 20 kali lipat, kau tahu ? lalu bagaimana kalau sampai kakek mengetahuinya, bodoh ?”
“Maafkan aku, ayah. Aku tak sengaja melakukannya.”
“Jangan katakan kata itu. Itu tak akan ada gunanya. Yang jelas sekarang pikirkan sesuatu sebelum kakekmu menyadarinya.”pekik tuan Moon marah – marah.
“Baik. Ayah.”
“Sekarang.”katanya membentak melihat Jong Hun yang masih terdiam di tempatnya. Mematung seperti layaknya orang bodoh.
“Lagi – lagi aku melakukan kesalahan yang membuat ayah marah padaku.” Gumam Jong Hun memukul – mukul kepalanya. Ini membuatnya serasa begitu payah hingga – hingga ibunya yang lewat dihadapannya pun tak digubrisnya.
“Jangan lakukan lagi, Jong Hun. Kau tidak payah, hanya saja kau sedang sial hari ini. berpikirlah positif. Ibu yakin akan ada jalan keluar.”
“Terima kasih, Bu.”ucapnya lalu mendekap ibunya hangat.
“Sabar saja menghadapi ayahmu, ya. anggap saja hari ini tidak pernah terjadi apa – apa.”
“Kenapa ibu selalu membelaku.”
“Karena aku anak ibu.”
“Aku juga anak ayah, tapi tak pernah sekalipun ayah bangga terhadapku.”
“Itu karena ayahmu belum menyadarinya saja.”
“Ibu.. kau selalu bisa membuat hatiku jadi tenang.”
★★★
Yunho pun akhirnya hareus terpaksa pergi tanpa melihat kondisi Uee terlebih dahulu. Pekerjaannya yang memaksanya harus kembali disibukkan dan tak bisa hanya memikirkan Uee yang belum pasti kapan siumannya. Yang jelas dirinya sudah membayar susuter untuk 24 jam nonstop menjaganya. Hanya itu yang bisa dilakukannya demi Uee.
Beberapa menit setelah berselang kepergian Yunho dari rumah sakit pun, Uee sadar. Hanya nama Yunho yang pertama dipanggilnya namun naas, Yunho tak berada di hadapannya. Namun suster Naomi, wanita yang dibayar untuk menjaga Uee berpesan kalau Yunholah yang menyuruhnya menjaga Uee. Uee pun mengerti, setidaknya Yunho masih ada perhatian terhadapnya.
“Terima kasih. Pasti aku sudah banyak merepotkanmu.”kata Uee yang berusaha duduk di tepi ranjangnya.
“Hati – hati, Nona, anda masih belum pulih seutuhnya.” Pesan suster mengingatkan.
“Aku sudah tak apa –apa. Aku boleh jalan – jalan keluar, kan ?” tanya Uee memelas. Membuat sang suster pun mau tak mau menuruti permintaannya dengan syarat dia ada bersamanya.
“Terima kasih.”
“Ini sudah menjadi kewajiban saya, Nona.” Kata suster Naomi tersenyum.
“Baiklah, kalau begitu aku tak perlu sungkan – sungkan untuk meminta bantuan terhadapmu, kan ? Baguslah. Ayo, kita ke taman.” Gandeng Uee ke melingkarkan tangan kanannya ke lengan suster Naomi dan berjqlan menuju taman yang berada di samping kiri aula dari lorong rumah sakit.
“Ehm, di sini udaranya sejuk bukan ?”kata Uee merentangkan kedua tangannya menghirup udara pagi hari di tempat yang penuh dengan pepohonan semak – semak yang teratur disiangi dan bunga – bungaan.
“Benar, Nona. Sepuluh tahu aku bekerja di sini bahkan tak pernah menyadari akan hal ini.” Naomi berdecak kagum.
★★★
Joy tengah jogging di sepangjang jalan menuju rumahnya. Udara pagi ini yang mulai terik bahkan semakin membuatnya bersemangat untuk berolah raga mengolah tubuhnya. Agaknya sudah ada 3 minggu setelah dirinya melancarkan misinya lama sekali bagi Joy tak merasakan suasana pagi sesegar ini. setiap hari dirinya berkutat dengan misi – misi dan misi. Tak ada bahkan waktu untuknya hanya sekedar untuk memanjakan diri.
Sambil mengenakan headset dirinya terus berlari – lari kecil dan tanpa mengindahkan orang – orang yang berlalu lalang untuk berangkat ke sekolah maupun bekerja yang bersebrangan dengannya. Dirinya yang mengenakan yukensi kuning gading dengan training trousers biru metalic yang dipakainya terkesan dirinya begitu ceria dengan paduan warna yang coraknya mencolok. Sesekali dirinya berhenti untuk melakukan streching kecil dan beberapa anak muda yang juga melakukan hal sama dengan yang ia lakukan.
“Hah. Capai sekali. Spertinya juice akan mengobati dahagaku.”kata Joy menyeka keringatnya.
Lalu hendak membuka pagar pekarangan rumahnya. Namun seketika itu dirinya berpapasan dengan mobil Sukkie yang sudah terparkir di depan rumahnya tepat lalu diikuti Sukkie yang keluar bergiliran dengan seorang gadis kecil berkepang yang tengah mengenakan jaket bulu seperti layaknya orang yang hendal mengikuti perlombaan haiker. Joy pun tersenyum ke arah gadis kecil itu.
“Hi, bagaimana bisa kau kemari ? Kenapa tak memberi kabar ? Aku kan bisa siapkan hidangan yang lezat kalau kalian bilang lebih awal.”
“Hemm. Aku sengaja tak ingin merepotkanmu.”
“Apanya yang repot. Tentu saja tidak. Silahkan masuk. Ayo. Aku buatkan juice segar.”kata Joy megibaskan tangan kanannya mengisyaratkan Sukkie dan keponakannya untuk ikut masuk.
Sesampainya di dalam ruang tamu pun Joy menghadap ke arah Marin. Lalu menundukkan sedikit tubuhnya.
“Halo, Marin. Berapa umurmu.. ?” kata Joy sambil mengusap puncak kepala Marin. Namun Sukkie yang menanggapinya.
“Umurnya akan sembilan bulan Desember mendatang.. Dia tidak bisa bicara.” kata Sukkie yang seketika membuat mata Joy menjadi nanar seperti tercekak.
“Maaf.”
“Tidak apa. sudah lama berselang.”
“Dari lahirkah ?”
“Bukan tapi semenjak dia melihat pembunuhan kakakku.”
“Begitu ya, rupanya.”
“Ini foto terakhirnya yang aku punya.” kemudian Joy pun mendekat menatap foto yang mulai kusam itu.
“E, sebentar. sepertinya aku mengenal wajah ini. bukankah dia pemilik toko pharmacy di Mokpo yang meinggal 3 bulan ini ?” kata Joy mencoba mengingat – ingat kejadian yang membuatnya harus menjalankan misinya.
“Ehm, iya. dan toko itu sudah ditutup semenjak itu.”
“Oh,”
Joy pun sebentar terperanjat mendengarkan cerita – cerita yang diuraikan oleh Sukkie. separah itukah depresi yang dialami keponakannya hingga harus menjalani hari – harinya tanpa mengeluarkan suara seperti itu.
“Eh, ini kopinya. aku tidak biasa buat yang pahit maka dari itu aku buat yang creamer dan juicemangga untuk Marin.”
Seketika ruang tamu pun menjadi gelap dalam seketika. namun 3 detik kemudian menjadi kembali normal. membuat Marin sedikit panik yang terduduk di depan TV. Dan bayangan hitam pun kembali datang dengan asap yang mengepul di ambang maisng – masing pintu mengawasi mereka bertiga. dan mendadak tanpa ada sesuatu yang mengganjal mata Sukkie pun mencoklat kemudian dirinya pun menerima kopi Joy dan mendekat ke arah Joy lalu mencium Joy kasar. membuat Joy bergidik lantas dalam sekejab tubuh Joy pun gontak dan matanya ikut berubah memerah. lalu membalas perlakuan Sukkie. beruntung Marin tak melihat keduanya di dapur. dan entah dari mana mereka sudah berada di dalam kamar Joy bahkan sebelumnya sudah Joy kunci.
Sukkie masih saja memperlakukan Joy layaknya mereka telah berhubungan lama dan melakukan banyak hal yang barang jauh dilakukan seorang pasangan. Namun Joy juga tak kalah beringasnya. dirinya pun bisa dikatakan lebih aktif dibanding Sukkie. dan dalam sekejab mereka pun telah terbaring di ranjang yang berada tak jauh dari tempat mereka berdiri dengan posisi Joy yang sudah berada di atas tubuh Sukkie. dan hingga detik ini pun bayangan hitam yang masuk ke dalam tubuh keduanya oun belum dapat keluar hingga – hingga mereka berdua nyaris melakukan hal yang diluar dugaan ini. mana boleh mereka berdua terlibat cinta. kalau Sukkie mengetahui bahwa dirinya hanyalah pengepul informasi seperti yang dimaksudkan oleh Joy Pierci ini. namun sepertinya Joy memang sedikit mengagumi pribadi Sukkie ini. dan seperti kebanyakan orang pada umumnya, mereka pun tak lantas mengehentikan aksi mereka yang berada dalam alam bawah sadar mereka. tak sekali – kali dari mereka merenggangkan posisinya untuk beristirahat atau lainnya. Sukkie terlalu diam dan tak punya tameng untuk melawan aura hitam yang merasuki tubunya. begitu pula dengan Joy yang bahkan dirinya adalah gadis yang taat beragama. namun memang aura hitam ini dipastikan pandai hadir di saat terlena mereka berdua. hingga dalam waktu 45 menit mereka pun terhenyak berhenti dengan aktivitasya lalu Joy pun yang sadar terlebih dahulu dibandingkan dengan Sukkie yang masih tertidur di ujung kiri ranjangnya topless sedang Joy hanya dibalut dengan kain putih tipis. melihat dirinya berada di samping Sukkie tanpa berpakaian lengkap dirinya pun panik dan segera memakai pakaiannya kembali.
“Mana mungkin aku melakukannya dengan Sukkie ? Sukkie laki – laki baik – baik dan tak seharusnya aku berpikiran yang buruk terhadapnya.” Joy pun keluar kamar dan masih melihat Marin yang telah tertidur tanpa meminum sedikit pun juice mangganya.
“Manis sekali.” Joy menyentuh pipi Marin dan tersenyum ke arahnya. “Dia bak malaikat yang dikirimkan Tuhan untuk Sukkie.” dan beberapa menit kemudian ganti Sukkie yang keluar dengan sudah memakai kemejanya kembali.
“Apa yang terjadi ? Tadi aku sudah berada di kamarmu, ya ? maafkan aku.”
Jpy pun hanya menatap heran ke arah Sukkie dan menjelajah ke sekitar matanya. namun Joy tak mendapati mata Sukkie yang terkesan berbohong, lantas Joy pun menanyakan hal yang membuat Sukkie merasa tak enak kepadanya.
“Apa kau yakin tak melakukan sesuatu ?”
“Eh, sepertinya aku tak melakukan sesuatu apa – apa. namun hanya di beberapa bagian tubuhku merasa pegal dan lesu.”
Joy pun hanya menengadah lalu berbalik. dan mengatakan “Sudahlah, lupakan saja.”
“Joy,” panggil Sukkie tiba – tiba. Namun Joy tak menghiraukannya.
“Pulanglah kalau sudah merasa baikan, Marin ..”
“Bukan itu, tapi ada teleponmu berdering.”
“Apa ?” lantas Joy pun segera berlari menghampiri ke ruang tamu dan mengangkat teleponnya yang entah darimana sepertinya orang yang tengah mengawasi rumahnya.
★★★
“Berhentilah mengawasi kami tuan. Kau dan agen wanitamu akan segera aku lumpuhkan dengan satu hentakan. kau kira kami tak mengenali gerak – gerik kalian selama ini sebagaipartner in crime ? itu salah besar.
“APA MAU MU ?” pekik So Yoon Park.
namun baru berselang 2 detik suara tembakan pun memecah kaca depan markasnya dan tak segan – segan tembakan yang ke2, ketiga, keempat dan seterusnya terus menderu di dalam markas itu. dan tak sempat Yoon Park menghubungi Joy. dirinya pun berusaha menyelamatkan diri dibawah meja besar di ruang laboratnya dan menekan beberapa digit nomor yang menghubungkannya dengan Joy. namun tersambung pun dirinya tak mengucapkan sepatah katapun dan Joy hanya mendengarkan suara seperti letusan – letusan. seketika Joy pun segera menuju ke markasnya.
Dan tepat di sana tengah terjadi pengincaran terhadap markas Bosnya. dirinya begitu yakin bahwa ini semua adalah ulah ayah Lee Jong Hun.
“Laki – laki itu..” dengan sekali letupan dari pistol senapan kecilnya Joy pun sudah menjatuhkan satu tubuh yang limbung di depan markasnya. lantas Joy pun tak berhenti sampai di situ, dirinya melihat ke arah pria bertubuh tingga besar yang di sekujur tubuhnya penuh dengan tato bergambar wanita nakal dan Joy pun segera kembali mengarahkan tembakannya sebelum tubuh itu melihat ke arahnya.
“DOORR..” tubuh itu pun kembali limbung meski masih membuka sebagian matanya. Joy pun melangkahi tubuh besar itu dan segera mencari tahu dimana keberadaan bosnya yang mungkin juga masih berlindung di dalam markas.
Namun, seseorang laki – laki pun ternyata masih ada yang tersisa di belakang Joy melihat posisi Joy yang masih berjalan lamban, dan “DOOR” satu peluru pun mengenai bahu Joy namun segera menoleh dan menembaknya ganti merobohkan tubuh tegap itu dan memegangi bahunya berlari masuk ke markas.
“BOS. kau tak apa ?”
“Tak perlu khawatir, hanya dada sebelah kanan saja yang kena. kenapa dengan bahumu ?”
“Ayo segera ke ruang laboran kita harus mengeluarkan peluru – peluru ini sebelum ini semakin ke dalam tubuh kita.”
“Baik, bos.”
“Tapi, “
“Apa ?”
“Tubuh – tubuh di luaran itu siapa yang akan membereskanya.”
“Tak perlu setelah ini kita tinggalkan Seoul dan segera ke Nam Won.”
“Bos akan tinggal di tempatku ?”
“Tidak. aku akan menyewa kamar di sana. dan kita hanya perlu menyebunyikan berkas – berkas penting dan mengirimnya ke Amerika.”
“Baiklah,”
“Jaga semua halaman. pastikan tidak ada yang mengikuti kita,”
“Tak akan.”
namun seketika itu muncul satu pria dari arah samping yang siap menembakkan pelurunya ke arah Yoon Park. dan Joy yang melihatnya pun segera meneriaki tuannya.
“AWASSSS !!!”
“DOORRR!”
Satu peluru pun kembali menancat di bahu kiri Joy. hingga Joy pun terjatuh dan sialnya pria itu berhasil melarikan diri. siapa sebenarnya pria itu ? memakai topeng dan mengenakan baju seperti hitam menjuntai panjang. ini bukan main – main.
“Cepatlah bergegas, Bos. aku bisa mengobatinya sendiri.”
Joy pun masih di dalam Markas sementara bosnya pergi. dirinya masih berusaha menyayat sedikit daging di bahunya untuk mengeluarkan peluru yang bersarang di bahunya lantas segera memerbannya. 30 mdnit kemudian markas telah dikosongkan dan Joy telah berada kembali di rumahnya.
★★★
Yoon Park telah melaporkan kejadian ini ke polisi. dan mengirimkan data – data bukti korupsi yang dillakukan oleh keluarga Lee. sekarang semua anggota keluarga Lee berurusan dengan polisi. sedangkan kediamannya dan juga tokonya telah disegel oleh pihak yang berwajib dan hanya menunggu waktu untuk kembali di kelola.
beberapa hari kemudian Sukkie pun mengirimkan e-mail ke alamat yang disediakan di layar televisi kemudian Joy pun membalasnya.
Sukkie berencana bertemu dengan pihak yang telah menemukan bukti pembunuhan kakaknya juga. namun Joy tak ingin bahwa Sukkie tahu dirinya adalah detektif yang menangani ini semua. hingga Joy pun harus sedikit memutar otak.
berbeda halnya dengan Joy, Yunho pun terlihat datang di sebuah rumah makan yang dipesan Sukkie dan menandatang proyek 5 tahun untuk meneruskan bisnis kakak Sukkie tentu saja dengan mempekerjakan orang lain, sebab Sukkie bukan ahli obat. namuan seorang professor dan hanya bisa mengidentifikasi kandungan dalam obat.
“Terima kasih telah mau mendonasikan projek ini.” kata Sukkie berjabat tangan dengan Yunho. Joy yang melihat mereka pun hanya menguping di samping pintu.
“Joy,, kau di sini.” seru Sukkie memanggil Joy setelah mengetahuinya berada di tempat yang sama dengannya.
“Mencari siapa ?”
“Client.”
“Kenalkan ini Yunho, donatur yang akan membiayai toko pharmacy kakakku,”
“Joy.”
“Yunho.”
“Senang bertemu denganmu.”
“Begitu pula denganku.”
“eH, kau tak sedang sibuk kan ? Bergabunglah bersama kami.”
“Ah, aku takut mengganggu.”
“Tentu tidak.”
★★★
8 bulan kemudian Joy pun tengah mengandung 3 bulan bayi dalam janinnya. bosnya yang juga berada di belakang pekarangannya pun menyerahkan uang jatah Joy selama 4 bulan ini., dirinya begitu puas dengan hasil kerja Joy.
“Kembangkan sayapmu. aku melepasmu minggu depan. kembalilah ke Amerika dengan tenang. dengan memory baru bukan sebagai detektive lagi. kau boleh berhenti.”
“Tapi. bos. kAU MEMECATKU ?”
“Tidak. tentu tidak. aku tidak bisa memperkerjakanmu lebih lama karena aku tahu kau telah mengandung sekarang. selamat ya. aku yakin kau bisa menjadi seorang ibu yang baik bagi bayimu.” kata Yoon Park membalikkan tubuhnya. namun seketika itu Sukkie pun datang dan keluar dari pintu mobilnya hendak menghampiri Joy yang berada di luar rumah.
“Joy. apa kabar ?”
“Joy ?”
Joy masih saja menatap kosong ke arah depan, seperti orang yang tidak bernyawa dirinya masih saja mematung. namun Yoon Park yang mengetahui keberadaan Sukkie pun segera menembaknya dengan snapnya namun Joy yang berusaha melindungi Sukkie pun terkena di bagian dadanya. dan darah segar mengucur di tubuhnya yang menyandar di pangkuan Sukkie.
“Padahal aku memakai anti peluru. namun aku masih terkena juga.”
Yoon Park yang mendapati Joy yang tertembak pun segera membalikkan tubuhnya dan mendekati Joy.
“Dia ayah dari bayi ini, Bos.” Joy pun menutup matanya.
“JOYYYYYYY!!!!” Sukkie pun berteriak di depan Joy dan merengkuh tubuh Joy..
lantas Uee yang juga datang di saat yang tidak tepat itu pun memutar tubuhnya dan mendapati orang yang tertembak ini adalah kawan lamanya.
“Joy ?” shock Uee.

About shiellafiollyamanda

"Wish my creation can inspire a lot of people, at least around me."
This entry was posted in geunshin, horror fanfiction, oneshoot fanfiction. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: