GOD GAVE ME YOU


Soo Ji pergi berbelanja ke sebuah minimarket yang tak jauh dari rumahnya, tanpa sadar dirinya tengah melihat Hyo Joo dan Jae Joong yang tengah bergandengan tangan. Apa yang tengah terjadi ? apa dunia sudah terbalik. Mereka yang biasanya tak pernah akur namun kini terlihat sekali pemandangan yang cukup kontras. Di luar kaca ada juga Bong Gul  yang entah sedari kapan sudah berdiri di sana. Sepertinya dirinya sedang menunggu taxi datang. Melihat gelagatnya sepertrinya ada yang aneh dengan semua ini ? apa mereka bertiga ada hubungannya ? tapi apa ? hah ! sudahlah, Soo Ji tak mau terlalu sulit untuk memikirkan ini. yang dia tahu toh kalaupun mereka bertiga benar – benar berhubungan pasti tentu akan ada kabar untuk meresmikan hubungannya. Tak mungkin dirinya yang sebagai teman dekat tak diberitahu. Soo ji pun kembali melangkah maju untuk mendorong trolynya membawa belanjaannya ke mesin cashier.

“Berapa semua ?” setelah menunggu cukup lama pun akhirnya sang  cashier menjawab ramah.

“367.000. apakah anda punya kartu pelanggan ?” tanya cashier lagi.

“O, tidak. Ini pakai kartu kreditku saja.” jawab Soo Ji sambil sesekali mengendarkan pandangannya untuk melihat apakah Bong Gul masih terlihat di depan minimarket. Namun sayang sekali sosok Bong Gul telah menghilang dari pandangan matanya. Sial.

“Eh, terima kasih.”

“Sama – sama. Nona.” “selamat siang, selamat datang di Myung Wangja minimarket.”

Soo Ji pun mencari – cari kemana perginya Bong Gul. Namun dirinya masihj kalah cepat dengan waktu yang telah membuat Bong Gul naik ke taxinya sebelum ditemui ioleh Soo Ji. Ah, padahal ada beberapa hal yang ingin Soo Ji tanyakan. Ya sudahlah, terpaksa Soo Ji kembali dengan wajah yang cemberut. Namun toh semuanya juga tidak akan membantu. Dirinya pun mengurungkan niatannya untuk bertanya apakah Bong Gul tahu tentang hubungan Jae Joong dan Hyo Joo tadi yang dirinya lihat tengah bergandengan tangan di minimarket.

ღღღ

Orang Tua Sukkie sedang berkendara menuju ke Busan. Sepertinya mereka mulai luluh semenjak 6 bulan kepergian Sukkie tanpa kata – kata itu dari rumah. Tak banyak memang perubahan yang terjadi, namun rasanya agak sedikit janggal saja apabila Sukkie tak ada di rumah. Rumah serasa sepi. Tak ada lagi orang yang mengeluh, tak ada lagi kerepotan untuk mengurus kamar Sukkie yang selalu berantakan di siang hari. Dan pastinya tak ada juga banyak alasan untuk menolah dijodohkan. Namun tak berarti juga ini membuat orang tua Sukkie justru bahagia senang, terutama Nyonya Sun Ae Ni. Kalau ayah Sukkie, dirinya terlihat tetap cool dan banyak bergeming mengenai hal ini. dan sepertinya beliau bahkan telah mencium berita pernikahan Sukkie dengan Shin Hye jauh – jauh hari dan terlebih lama sebelum itu dirinya sudah memprediksi hal itu. Terang saja, sikap Sukkie yang ekad diturunkan dari ayahnya.

“Kita tidak ingin mampir dulu ke sebuah kedai ? Aku rasanya haus.” Kata Jang Il Suk bertanya pada istrinya yang tengah menemaninya duduk di samping selagi dirinya berkonsentrasi untuk menyetir.

“Tidak. Kalau kau haus kita bisa membelinya di Busan saja. bukankah sepuluh menit lagi juga sampai ?”

“Aku dengar dari Jae Joong Sukkie akan segera pindah ke Jepang bersama istrinya paska wisudanya.”

“Lalu ?”

“Apa kau tidak keberatan ?” lirik ke samping.

“Aku rasa dirinya tak pernah meminta pendapat kita sebelumnya. Jadi akan mengannggap hal ini sebagai hal biasa, dan tak perlu menanggapinya serius.”

“Jadi kau menyetujuinya. Kalau aku masih ragu dengan secara umurnya yang masih membuatnya labil. Dia masih terlalu muda untuk ini.” sanggah Il Suk.

“Tapi dia merasa yakin. Kita dukung saja apa yang dirasa terbaik untuknya.” Jawab Ae Ni.

“Kau sudah merestui mereka ?”

“Sepertinya aku harus merestuinya demi bisa merangkul Sukkie lagi ?”

“Oh, jangan bilang kalau kau terpaksa melakukannya.”

“Sudahlah, setir saja.” marah Ibu Sukkie.

Jang Il Suk pun segera melajukan mobilnya lebih cepat demi segera smpai ke apartement baru putranya. Yang dirinya tahu alamat itu pun dari Jae Joong yang masih bersitegang dengan Sukkie itu.

“Paman. Sepertinya hari ini Sukkie sedang wisuda. Aku mendengarnya dari Ji Min yang sedang mengikuti wisuda juga pada hari ini.”

“Oh, terima kasih informasinya, Nak.  Kami akan segera ke Busan. Lebih baik kami menunggu di apartementnya saja. Aku yakin kehadiran kami justru akan menambah runyam keadaan Sukkie.”

“Tapi Paman, apa paman tega membiarkannya sendiri mengambil hasil studynya tanpa ada perwakilan orang tua ?”

“Sudahlah, itu tak penting lagi. Aku rasa Sukkie cukup pintar untuk mengatasi hal itu. Kau sedang dimana sekarang ?” tanya Jang Il Suk parau.

“Aku sedang di sebuat taman yang berada tak jauh dari kampus Sukkie sekarang Paman. Apa paman mau kemari saja ? tak jauh .” tawari Jae Joong pada Il Suk.

“Ah, tidak usah, lain kali saja. pasti kau juga tengah sibuk. Terima kasih, Jae Joong sekali lagi. Tutuplah teleponnya.

ღღღ

Shin Hye pun yang baru saja keluar dari gedung menghampiri Sukkie yang telah berada di parkiran mobil. Sambil berjalan sedikit berjinjit mengangkat tumitnya supaya sepatu high heelsnya tidak berbunyi seperti terseok itu saat dirinya mempercepat jalannnya. Sambil membawa seikat buklet bunga dirinya memenyerahkannya pada Sukkie seketika dirinya sudah berada tepat di depan Sukkie.

“Selamat ya. atas IPK tertinggi. Lulus dengan IPK tertinggi bagaimana rasanya ?” tanya Shin Hye mendekatkan wajahnya memdelik. Membuuat Sukkie serius sekali menjawabnya.

“Hah ! sedikit menegangkat. Sekali malah. Andai saja kau tahu keringatku sudah berkucuran di atas panggung saat Dekan menyampirkan medali dan iajzahku. Saat bersalaman dengannya pun aku jadi tak bisa menikmati momen ini.”

“Benarkah setegang itu ?”

“Ya, ini sama halnya seperti ketika aku mengucap janji saat pernikahan kita di altar. Rasanya seperti waktu berhenti dan hanya menyoroti kebodohanku.” Keluh Sukkie mengelap keringatnya dengan sapu tangan yang sudah disediakan di kantong celana panjangnya yang tadi tertutup toga itu.

“Yakh, kau. Masa kau seperti itu. Sayang sekali. Padahal aku sudah berbangga hati menyaksikanmu berdiri di paling ujung panggung dengan hiasan pita – pita yang memperlihatkan kejayaanmu.” Jawab Shin Hye sembari memonyongkan bibirnya.

“Tapi aku tak terlihat mengecewakankan ?”

“Ehm.. beritahu tidak ya ?”

“Yah, kau mulai berani sekarang ya denganku ?” jawab Sukkie mendekatkan wajahnya ke arah Shin Hye. Shin Hye pun justru mengacungkan tangannya ke wajah Sukkie sambil mengepal dan menjulurkannya tiba – tiba memperlihatkan sebuah kalung bertanda mahkota.

“Ini untukmu.” Kata Shin Hye menyunggingkan senyumnya.

“Kau harus pakai, ya? awas kalau tidak. Aku akan membunuhmu hidup – hidup.”

“Tapi darimana kau bisa mendapatkan uang sebanyak ini ?”

“Hei, aku kan sudah bekerja. Lagi pula aku memang sudah menyisihkan uangku jauh – jauh hari. Kau selalu membelikanku hadiah, sedangkan aku sepertinya tak pernah sama sekali.” Kata Shin hye panjang lebar. Sukkie pun langsung merangkulnya hingga Shin Hye harus sedikit tertekan di depan kaca hitam mobil Sukkie. Sedetik kemudian Sukkie pun membisikkan sebuah kata – kata ke telinga Shin Hye.

“Setelahi ini kau akan menepati janjimu, kan ?”

Tanpa menanggapi Shin Hye pun masuk ke dalam mobil dan menunggu Sukkie masuk ke dalam juga. dengan cepat mereka pun sudah sampai di apartementnya.

ღღღ

Chong Han pun telah menjadi seorang artis sekarang. Soo Ji yang biasanya dirinya jadikan asisten pribadinya itu sudah tidak lagi dipakainya. Dirinya lebih sedikit menutup diri dengan sahabat – sahabat lamanya kecuali Rae Ha, dan Shin Hye yang hingga kini masih berkomunikasi baik dengannya.

Saat pernikahan Sukkie waktu itu dia pun juga tahu. Namun dirinya tak hadir sengaja untuk tidak membuat curiga kawan – kawanya yang lain. Dirinya hafal benar bagaimana sifat – sifat kawan – kawannya masing – masing hingga dirinya pun tak mau ambil pusing untuk itu, sudahlah. Agaknya semuanya juga sudah berakhir. Bagianya kawan – kawan lamanya hanya akan menambah image buruknya saja dalam karirnya. Maka dari itu dirinya terkesan menjaga jarak dengan sekitar.

“Nona. Kau harus fitting baju pada pukul 3 sore hari ini.”

“Tapi aku harus ke apartement sahabatku dulu untuk merayakan wisudanya.” Kata Chong Han menimpali managernya itu.

“Tapi nona i ni tidak bisa diundur. Sutradara sudah menyuruh kita untuk datang pada pukul 2.20 sore.”

“Hah, lagi –lagi jadwal yang berbenturan. Tidak bisakah kita mengcancelnya untuk yang satu ini ?”

“Tapi kemarin nona sudah membatalkan schedule nona perihal pertunanangan sahabat nona. Apa sekarang nona akan melakukan hal yang sama ?””

“Ash, terserahmu saja.” akhirnya Chong Han pun mengikuti saja.

ღღღ

Sukkie dan Shin Hye pun telah memasuki garasi rumahnya. Hingga mereka pun telah naik ke lantai dua. Dan melanjutkan sarapan paginya yang sempat tertunda. Namun saat mereka hendak keluar tanpa sengaja Sukkie melihat sang ayah sudah berada di hadapannya. Dengan langkah yang ragu Sukkie pun Sukkie berusaha mendekati ayahnya.

“Ayah,, apa benar ini ayah yang datang ?” tanya Sukkie tak percaya dengan apa yang dilihatnya.

“Tentu saja. kemarilah.” Jawab sang ayah membuka lebar – lebar kedua tangannya di hadapan Sukkie bersiap – siap untuk merangkulnya. Dan Sukkie pun terdiam di posisinya.

“Ayah datang dengan ibumu juga.” kata Jang Il Suk membuat Sukkie makin tak percaya. Apa mungkin ibunya akan menyeretnya dari sini dan membuatnya harus terpaksa meninggalkan Shin Hye. Oh, ini mimpi buruk.

“Sukkie.” Panggil Sun Ae Ni ke arah Sukkie yang tengah berhadapan dengan sang ayah itu.

“Kapan kau akan pulang ke rumah. Di rumah sepi sekali tanpamu.” Kata Ibunya mengeluh.

“Tapi aku tak akan kembali ibu. Rumahku adalah di sini.”

“Apa ? apa kami tidak salah dengar ?” kata sang ibu yang memperhatikan seisi apartement yang masih nampak kosong belum terisi banyak dengan perabotan.

“Aku minta maaf, bu. Tapi aku tidak bisa meninggalkan Shin Hye.”

“HAHAHA..” Tawa Sun Ae Ni pun pecah seketika mendengar jawaban dari putranya itu.

“Memang siapa bilang kau harus meninggalkannya ? Tentu kau harus membawanya pulang ke rumah juga bersama kami.” Kata ibu Sukkie memukul bahu Sukkie membuat Sukkie terkaget – kaget dengan reaksinya dan menahan sakit.

“Mana istrimu ? apa dia tidak ingin menyambut ibu ?” kata Nyonya Sun Ae Ni yang tiba – tiba langsung melangkah meju begitu saja berjalan menaiki tangga yang begitu mendengar suara seperti seseorang yang sedang memasak.

Tak satu pun tempat yang terlewatkan dilihat oleh ibu Sukkie. Begitu manis memang rumah ini. dengan interior bergaya modern minimalis dan sedikit foto album selama pernikahan mereka yang mereka pajang di tiap – -tiap dinding dengan wallpaper bunga teratai menghias indah.

Shin hye pun mengernyit dan bersembunyi di balik pintu mengetahui ibu Sukki yang memasuki dapurnya. Dengan perasaan yang berkecamuk dirinya pun menahan nafas untuk tidak terdengar. Namun gagal. Ibu Sukkie sudah mengetahui keberdaannya. Dan memeluk Shin Hye tiba – tiba.

“Maafkan ibu, Shin Hye.”

“Tapi, bibi.” Shin hye pun berusaha melepaskan pegangan bibinya yang erat di kedua ujung punggung tangannya.

“Sudahlah tak perlu begitu. Untuk apa kau memanggilku Bibi. Kau sudah menjadi bagian dari keluarga kami sekarang.”

“Aku, maksudku Ibu, ibu tak perlu memperlakukanku seperti ini. aku memang yang telah lancang menerima pinangan Sukkie dan aku rasa aku bersalah besar untuk Mae Lan dan terutama—“

“SHUT.. Sudahlah, aku senang, Sukkie tak salah memeilih istri. Aku sudah tahu sekarang, Mei lan bahkan hanya seorang wanita yang matrealis dan Kim Byung juga begitu. Dirinya hanya terpikat oleh rayuan ayahnya. Sementara kau di sini. Aku sudah dengar semuanya dari Jae Joong. Kau bahkan tak pernah sedikit pun merayu Sukkie. Dan memang Sukkie yang tengah mengejarmu. Apa kau bahagia sejauh ini ?” tanya ibu Sukkie dengan raut muka ingin menangis.

“Tentu saja. aku bahagia sekali.” Jawab Shin Hye yang mulai menitikkan air amata.

“Ibumu juga berpesan kepadaku. Dia kan mengunjungimu akhir pekan ini. jangan lupa mampir ke rumah ya kalau kau ada di Seoul.”

Angguk Shin Hye sembari Ibu Sukkie menghapus bulir air matanya yang menggenangi pipinya.

“Kau jangan menangis. Nanti make up mu hilang.” Ucapp ibu Sukkie mengalihkan perhatian dan menggandeng tangan Shin Hye keluar.

ღღღ

Sementara Hyo Joo dan Jae Joong yang tengah berjalan di samping halaman apartement Sukkie. Mereka sengaja memamerkan kemesraannya di hadapan Sukkie dan Shin Hye yang sedang memanggang daging untuk merayakan wisuda Sukkie hari itu. Jae Joong pun membuka pintu gerbangnya dan Hayo Joo yang masuk dengan seikat bunga dan kamera polaroid untuk mengabadikan acara mereka.

“Jae Joong ? Kau datang.” Kata Sukkie antusias ingin memeleuknya namun tertahan oleh kebingungannya yang melihat Jae Joong dengan Hyo Joo. Lalu kemudian Jae Joong yang memberikan undangan pernikahan mereka.

“Jangan lupa datang.” Katanya memperingatkan Sukkie.

“A, kalian ?”

“Kenapa ? kami tidak boleh menyusulmu ?”

“Tidak. Bukan begitu.. hanya saja ini terlalu mendadak.”

“Apa maksudmu ? lalu apa kau namanya menikah tak bilang – bilang ? beruntung aku masih ada hati untuk memberitahumu ?” kata Jae Joong berdalih.

“Dan satu lagi. Jangan buru – buru punya momongan. Tunggu aku.”

“Ahh? Apa ?”

“Kau gila !” kata Sukkie menambahkan.

“Biar saja mungkin anak kita bisa seumuran ?”

“Hah ! itu ide buruk !jangan rangkul aku.” Kata Sukkie yang berlarian menghindari Jae Joong. Hingga Shin Hye pun yang tertawa diikuti Hyo Joo yang mulai membantunya memanggang daging.

ღღღღENDღღღღ

About shiellafiollyamanda

"Wish my creation can inspire a lot of people, at least around me."
This entry was posted in NOVEL and tagged . Bookmark the permalink.

3 Responses to GOD GAVE ME YOU

  1. I just want to say I am just beginner to blogging and honestly savored your web blog. More than likely I’m going to bookmark your blog . You surely come with amazing posts. Appreciate it for sharing your blog site.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s