God Gave Me You


CHAPTER 6

# Shockingly#

May 17, ’12 11:57 PM
for everyone

Title : God Gave Me You

Genre : Romance and Comedy

Rate : PG

Author : Shiella Fiolly (io)

Cast :

Jang Geun Seok

Park Shin Hye

Kim Jae Joong

Han Hyo Joo

Jae Joong berjalan sendirian keluar sekolah. Waktu pulang ini tak dilihatnya Shin Hye ada di tempat parkir. Dirinya rasa mungkin Shin Hye masih ada urusan mengikuti Club atau sebagainya. Hingga – hingga tak sempat memberi kabar ke Jae Joong untuk tidak menunggu. Hingga Jae Joong pun memutuskan untuk segera melajukan mobilnya. Namun sesaat dirinya baru saja keluar menuju jalan raya, tak sengaja dilihatnya Hyo Joo yang tengah berjalan kaki sendirian pulang. Tak tega dirinya melihat gadis itu tanpa teman, ditawarilah untuk segera naik ke mobil Jae Joong untuk pulang bersama. Kebetulan juga rumah mereka satu arah. Dan Hyo Joo tak menolak ajakannya.

“Terima kasih, Kak. Memangnya kakak tidak bersama Shin Hye ?” tanya Hyo Joo tiba – tiba.

“Tidak. Kenapa ?” tanya Jae Joong ganti.

“Bukankah tadi kakak berangkat bersama dengan Shin Hye ? Lalu kenapa tidak pulang bersama sekalian ?” tanya Hyo Joo polos ke arah Jae Joong yang masih konsentrasi menyetir.

“Oh, dia sepertinya ada urusan. Bukankah dia biasanya pulang bersamamu ?”

“Iya, tapi sepertinya dia tadi tengah terburu – buru keluar kelas waktu bel pulang berbunyi. Aku kira  dia menemui kakak.” Jawab Hyo Joo panjang lebar.

“Tidak. Kalau memang begitu pastinya dia sudah bersamaku sekarang.”

“Benar juga.” Kata Hyo Joo seraya menunduk tanpa sengaja melihat sebuah kotak sepatu di bawah kakinya.

“Kakak senang dengan olahraga ya ?” tanya Hyo Joo lagi.

“Tidak juga. Hanya kalau mood sedang baik, aku menyempatkan diri untuk berolahraga. Paling hanya ikut club baseball.”

“Wah ! keren. Berkali – kali aku ingin masuk tapi tidak diterima. Persyaratannya banyak yang tidak terpenuhi olehku. Tinggiku kan kurang ?” jawab Hyo Joo dengan nada sedikit kecewa.

“Ah, sekarang belum bisa. Tapi lain kali kau pasti bisa. Tunggu saja di lain kesempatan.” Jawab Jae Joong tersenyum ke arah Hyo Joo.

 

ღღღ

 

Ibu Sukkie baru saja sampai di rumahnya. Baru beberapa meter dirinya keluar lagi hendak mengambil surat yang sudah terlihat dari kotak mail boxnya di halaman rumahnya. Dirinya sudah tak sabar untuk segera membaca apa sebenarnya isi surat tersebut. Dari amplop kuning muda yang terlihat dan tanpa tulisan siapa pengirimnya pun membuat nyonya Sun itu begitu penasaran untuk segera merobeknya dan membaca isi surat tersebut.

Baru mengambil secarik kertas yang dilipat itu, nyonya Sun sudah menebak – nebak apa mungkin itu surat dari kakek Sukkie yang ingin mengambil Sukkie untuk segera pergi ke Jepang ? Apa mungkin juga ini surat dari kawan suaminya yang berencana minta tolong untuk dicarikan rumah di kawasan perumahan di sekitar tempat tinggalnya ini. ternyata benar ini surat dari ayahnya yang memberi persyaratan untuk Sukkie segera menuntut ilmu ke Jepang dalam waktu dua bulan ini. masalah kepindahannya sudah kakek yang mengurusnya. Tinggal Sukkie saja yang berangkat.

“Aduh bagaimana ini ? kenapa ayah tak menunggu satu setengah tahun lagi agar Sukkie kuliah sekalian ?” gumam ibu Sukkie sambil menggigit ujung jari telunjuknya.

“Ada apa, bu ?” mendadak suaminya pun keluar dari balik pintu dan mengambil surat itu dari tangannya.

“Itu-itu surat untuk Sukkie.” Jawab nyonya Sun setengah bergetar di bibirnya sebab menyembunyikan raut kekhawatiran kalau – kalau Sukkie tak diijinkan oleh ayahnya. Belum lagi jika Sukkie ingin mempunyai keputusan lain. Dirinya tahu benar bahwa Sukkie bukan tipikal anak yang penurut. Tentu hal ini akan sangat sulit untuk diputuskan.

“Biarkan saja. Ini bukan urusan kita lagi. Biar Sukkie dan ayah yang bicara. Kita tunggu Sukkie pulang dulu baru bicarakan dengannya.” Kata ayah Sukkie yang mengejutkan nyonya Sun itu yang awalnya akan mengira suaminya itu akan marah besar mendengar ini. namun justru sepertinya dirinya tak begitu memirkan jauh tentang hal ini.

“Baik.” Jawab nyonya Sun masuk mengikuti langkah suaminya itu ke dalam rumah.

 

ღღღ

 

“Sekarang masuklah. Harusnya kita kemana ya untuk mencari tempat yang nyaman ?” tanya Sukkie yang melihat Shin Hye menghampiri mobilnya dari depan pintu gerbang sekolahnya.

“Kau mau mengajakku kemana memangnya ?”

“Ehm, bagaimana kalau kita ke kafetaria di samping bandara saja. Rasanya di sana baik juga untuk ngobrol.” Kata Sukkie langsung mengendarai mobilnya setelah Shin Hye masuk dan duduk sambil mengenakan sabuk pengamannya.

Sesampainya di cafetaria Shin Hye pun menunggu Sukkie untuk segera mengatakan apa yang dia janjikan di sekolah tadi. Shin Hye memang tipikal gadis yang tak suka berbasa – basi. Begitu juga sebenarnya dengan Sukkie.

“Kau tak ingin pesan minum atau makanan ? di sini enak. Aku sering datang ke sini sesekali, bila ada waktu liburan sekolah terutama.” Awali pembicaraan dengan Shin Hye yang tak terlihat nyaman sebenarnya di tempat itu.

“Ehm. Cappucino Vanilla Ice saja.”

“Ok. Baiklah. Kalau begitu aku pesan dua.” Kata Sukkie mengangkat tangannya ke arah waitress yang sedang berjalan mengantarkan pesanan ke salah satu meja di depannya.

Sukkie tak banyak bicara awalnya. Dirinya memang tak pandai bicara. Sesampainya di sini justru dirinya hanya memceritakan semua dia pikirkan tentang Shin Hye sejak pertama bertemu hingga detik itu. Shin Hye yang merasa ini sedikit menjemukan pun hanya mengangguk – angguk berpura – pura mengerti dengan apa yang dikatakan Sukkie kepadanya. Hingga dirinya melihat sebuah foto gadis cantik berambut panjang dengan kaca mata bulat yang menutupi matanya yang bulat di wallpaper phonecell Sukkie yang berada di hadapannya.

Shin Hye pun memandangi foto gadis itu.

 

ღღღ

 

Sore hari ini Hyo Joo pun begitu senangnya hingga – hingga dirinya tak menerima panggilan dari Shin Hye untuk janjian belajar kelompok. Dirinya benar – benar sedang senang sebab tadi siang dirinya bisa pulang bersama dengan kakak senior yang sudah lama diidam – idamkannya itu. Dirinya baru mengetahui ada enam panggilan tidak terjawab dari Shin Hye setelah lama menonton tv dan kembali ke kamarnya mengechek apa bateraynya sudah penuh di phonecellnya. Dirinya yang merasa bersalah pun segera menelepon Shin Hye dan beruntung Shin Hye langsung mengangkatnya.

“Iya, Shin Hye. Aku minta maaf tak menerima teleponmu. Aku tadi sedang di depan tv. Jadi tak mendengar ada panggilan darimu. Ada apa ?” tanya Hyo Joo ingin tahu.

“Tidak. Hari ini kita jadi tidak belajar kelompok. Tugas dari bu Yan kemarin ada dua belas lembar dan harus dikumpulkan dua hari lagi.” Terang Shin Hye mengingatkan.

“Okay, baiklah. Kalau begitu nanti malam aku akan datang ke rumahmu. Pukul 7 tepat tunggu aku, ya. itu saja ?”

“Iya, hanya itu. Maaf mengganggumu.”

“Tidak, justru aku yang harus berterima kasih kepadamu sebab sudah mau mengingatkanku tentang tugas ini. jangan lupa siapkan materinya, ya ? Terima kasih.”

 

ღღღ

 

Jae Joong pun datang ke rumah Sukkie. Entah ada setan apa yang membawanya datang ke rumah Sukkie sesore ini. pukul 4 sudah terlihat di jam dinding kamar Sukkie. Namun ada yang aneh dengan Jae Joong kali ini. Dirinya membawa sebuah kotak besar yang dibawanya dan ditaruhnya di meja belajar Sukkie. Jae Joong sengaja tak memanggil Sukkie yang tampaknya sedang mandi itu. Dan tentunya Jae Joong meninggalkan sepucuk memo yang ditempelinya di atas kotak besar itu. Tulisannya hanya,

‘Sukkie, maafkan aku sudah menyusahkanmu selama ini. tapi tenang saja aku tidak akan mengganggumu lagi. Hari – harimu akau jamin akan lebih tenang untuk 4 tahun ke depan. Jaga dirimu baik – baik, ya. kalau kau merindukan aku tinggal hubungi aku saja. Aku akan mengabarimu kalau aku ganti nomor atau pun pindah rumah. Oh, ya, katakan pada Shin Hye juga sepertinya aku mulai menyukainya sungguhan. Hehe, kalau yang ini terserah padamu kau katakan atau tidak. Sekali lagi maaf dan terima kasih. Kau juniorku yang paling baik. Tertanda, Jae Joong’

Jae Joong pun lantas lekas meninggalkan kamar Sukkie dan masuk ke mobilnya di bawah. Dirinya pun mengemudikan mobilnya ke bandara. Dengan bawaan kopernya tanpa didampingi siapa pun, tidak juga orang tuanya. Jae Joong harus pergi untuk bersekolah ke Pyong Yang. Entah apa yang dipikirnya sebab terlalu mendadak ini. namun yang pasti dirinya menuruti saja apa yang dikatakan ibunya. Kendala keadaan orang tuanya yang baru – baru sedang tidak membaik, masalah ekonomi yang jusa membuat mereka tidak harmonis itu pun akhirnya membuat Jae Joong tidak tahan terus – terusan berada di rumahnya dan lebih memilih untuk meninggalkan rumah ke tempat neneknya. Entah ini hal baik atau hal buruk.

Setelah beberapa menit kemudian keluarlan Sukkie dari kamar mandi dan langsung melihat kardus besar yang ada di meja belajarnya. Dirinya langsung tahu itu dari Jae Joong melihat tulisan tangan yang membubuhi kertas itu.

“Ck ! benarkah dia pergi ?” gumam Sukkie sesaat setelah membaca kemudian mengirimkan pesan singkat kepada Shin Hye untuk memberitahukan perihal kepergian Jae Joong ini. namun hingga satu jam berlalu dirinya tak juga mendapatkan balasan dari Shin Hye. Apa Shin Hye sengaja membiarkannya  ?

 

ღღღ

 

Paman Bibi Shin Hye sedang menyiapkan hidangan sore untuk Shin Hye. Mereka yang telah siap untuk makan bersama itu pun kemudian mencari Shin Hye di kamarnya. Namun tak didapatinya Shin Hye berada di kamar. Dicarinya lagi Shin Hye di kamar mandi, begitu juga di halaman depan, dan hasilnya pun sama. Mereka tak menemukan Shin Hye,

“Kemana perginya tanpa pamit ?” gumam bibi Ban sambil menuruni tangga menuju meja makannya.

“Kenapa ?” tanya suaminya yang sudah menyedu kopi duluan.

“Itu Shin Hye tak ada di kamarnya. Setahuku dari sepulang sekolah tadi dia tidak turun sama sekali, tapi secepat ini sudah menghilang.”

“Mungkin saja dia pergi ke tempat temannya,” jawab suaminy membela Shin Hye.

“Hah ! ya, sudah kita makan sendiri saja.”

Namun mendadak ada telepon berbunyi. Bibi yang belum sempat duduk dan menikmati hidangannya itu pun mengurungkan niatnya untuk makan dan segera mengangkat telepon dari seberang, entah apa yang terjadi namun mendadak ibu Sukkie menelepon dan mengajaknya untuk membuat pertemuan besok. Terang saja bibi yang tak mengerti apa – apa seakan menurut saja. Sebagai tetangga baru tak enak dirinya menolah ajakan ibu Sukkie itu.

“Dari siapa ?” tanya suaminya.

“Nyonya Sun Ae Ni. Entahlah.”

“Maksudmu ?”

“Dia menyuruhku untuk bertemu besok siang di rumahnya.”

“Ehm. Aneh. Dia tidak bilang apa tujuannya ?” tanya suaminya lagi.

Bibi Ban pun hanya menggeleng dan mengambil pan cakenya.

 

ღღღ

 

Shin Hye pun mengetuk rumah Sukkie. Dirinya yang tahu rumah Sukkie dari Jae Joong beberapa hari lalu itu segera datang kesana dengan inisiatifnya sendiri. Dirinya terlihat sedang tak baik. Dengan rambut yang sedikit berantakan dan hanya memakai baby doll dilapisi sweater lengan panjang ungu yang melapisi tubuhnya di tengah cuaca yang begitu dingin itu pun membuat Sukkie sedikit keheranan. Dirinya tak menyangka Shin Hye berani datang ke rumahnya.

“Masuklah.” Kata Sukkie seketika membukakan pintu.

“Aku masuk.”

“Kau ada urusan denganku ?” tanya Sukkie langsung saja dengan posisi masih berdiri menghadap Shin Hye.

“Katamu Jae Joong pergi. Kemana katanya ?” tanya Shin Hye tanpa berbasa – basi lagi sebab inilah yang menjadikan tujuannya datang kemari.

“Ehm.. dia akan pindah ke Pyong Yang. Apa kau tak diberitahu sebelumnya. Apa kau ingin bertemu dengannya ? mungkin kita masih sempat bertemu dengannya sebelum pukul 6 di bandara?” tawar Sukkie kepada Shin Hye. Dan Shin Hye pun mengangguk. Akhirnya Sukkie pun berangkat menggunakan motornya. Kendati akan lebih lama bila menggunakan mobilnya melihat jalanan yang pasti macet pada jam – jam tersebut, dan tentu saja Sukkie mengkhawatirkan Shin Hye yang sepertinya sudah menahan tangisnya itu untuk keluar. Tepat dugaan Sukkie, gadis ini sudah jatuh hati dengan sahabatnya itu.

Di dalam bandara mereka pun menghadap ke sebuah kaca yang bisa langsung melihat pesawat yang melandas. Shin Hye pun tampak semakin gusar di sana. Sebab tak didapatinya Jae Joong di sana. Begitu pula Sukkie yang sudah kelihangan akal, bahkan panggilannya pun tak diangkat oleh Jae Joong. Shin Hye hampir – hampir menangis lalu mengeluarkan kalung berbentuk hati yang diberikan oleh Jae Joong tiga hari yang lalu. Sukkie yang melihatnya pun hanya bisa memeluknya dan mencoba memenangkan Shin Hye.

“Kau bisa bertemu lagi dengannya. Empat tahun lagi.” Kata Sukkie mengusap rambut Shin Hye. Shin Hye masih terus saja menangis.

“Aku belum pernah seperti ini. pasti aku terlihat bodoh.”

“Tidak sama sekali. Mungkin aku juga akan sepertimu bila kehilangan orang yang kucintai. Aku pernah merasakan hal itu, Shin Hye.” Jawab Sukkie seakan mengerti dengan hal yang dialami Shin Hye seperti dirinya yang kehilangan Yeon Ji, setahun yang lalu.

“Benarkah ?”

“Kau lihat ini ?” Shin Hye pun mendongak mendengar ucapan Sukkie yang mengeluarkan phonecell dari sakunya.

“Dia Yeon Ji. Adik perempuanku. Dia meninggal akibat liver satu tahun yang lalu. Kau masih beruntung Jae Joong tak meninggalkanmu seperti ini.” jawab Sukkie yang terlihat menahan air matanya jatuh. Shin Hye yang mendengarkannya pun hanya bisa terdiam tanpa bisa melakukan hal apapun yang bisa membantu Sukkie menghilangkan kepedihannya, justru dirinya membuatnya teringat akan memori buruk itu.

“Terlebih – lebih di saat seperti ini, harusnya dia ada di sisiku. Mendengarkan setiap ocehanku yang pastinya selalu megomel tentang ayahku yang selalu berusaha menjodohkanku dengan putri kawannya.” Mendengarkan hal ini Shin Hye teringat akan omongan Sukkie sewaktu mengajaknya ke Cafetaria tadi siang. Sama persis dengan dirinya, namun itu suda berlalu. Dulu paman bibinya selalu memaksanya untuk bertunangan dengan putra kawannya, namun seiring waktu berlalu sebab Shin Hye juga yang selalu berupaya untuk menggagalkan setiap kencan butanya membuat pasangan suami istri ini kelelahan dan menyerah untuk memaksanya dan menyerahkan kepada Shin Hye saja apa yang terjadi padanya.

“Kenapa kau tak berusaha membatalkannya di kencan butamu ?”

“Sudah sering. Namun hasilnya tetap sama. Ayahku tak kapok juga.” Jawab Sukkie kecewa.

“Kalau begitu kau bujuk ayah ibumu saja. Atau buat konspirasi dengan pihak keluarga calon tunanganmu itu. Sudah mencobanya ?” jawab Shin Hye memberi saran.

“Itu juga tidak akan mempan.” Jawab Sukkie pasrah.

“Lalu kalau kabur ?” kata Shin Hye memutar bola matanya.

“Kalau denganmu boleh juga.” Jawab Sukkie sembarangan.

“Benarkah ?” jawab Shin Hye menggoda. Dan mereka pun tertawa bersama – sama. Untuk beberapa waktu melupakan kepergiaan Jae Joong di bandara itu.

 

 

ღ TO BE CONTINOUED ღ

About shiellafiollyamanda

"Wish my creation can inspire a lot of people, at least around me."
This entry was posted in NOVEL and tagged , , . Bookmark the permalink.

One Response to God Gave Me You

  1. I just want to tell you that I am just beginner to blogging and site-building and actually liked this web blog. Most likely I’m want to bookmark your blog post . You surely come with good writings. Thank you for revealing your web site.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s