God Gave Me You


 CHAPTER 15

#Second Chance#

May 31, ’12 4:15 AM
for everyone

Title : God Gave Me You

Genre : Romance and Comedy

Rate : PG

Author : Shiella Fiolly (io)

Cast :

Jang Geun Seok

Park Shin Hye

Kim Jae Joong

Han Hyo Joo

Pagi – pagi Sekali Shin Hye sudah terbangun dari tidurnya. Dirinhya yang bahkan tak ingin segera membangunkan Sukkie yang dibiarkannya untuk bangun sendiri, entahlah apa yang membuat Shin Hye begitu gelisah hari itu. Dirinya pun memutuskan untuk segera pergi ke dapurnya terlebih dahulu, membuat secangkir kopi mungkin akan segera memulihkan kegusarannya itu. Dipikirnya. Bolak – balik dirinya mengudak sendok berputar – putar di atas cangkirnya. Namun bahkan dirinya sama sekali tak memperhatikan apa yang tengah dilakukannya itu, hingga kopi panasnya yang tumpah membasahi rok selututnya menyadarkan Shin Hye dari lamunannya yang sedari tadi masih mengganggu konsentrasinya itu.

“Ya, ampun. Bodohnya aku, apa yang aku lakukan ?” katanya sembari memegangi roknya yang tellah kotor oleh noda kopi yang berwarna hitam itu.

“Aku harus segera membersihakannya. Ini kan manis. Bisa – bisa semut berkumpul di sini.” Ujarnya sambil mengelap roknya dengan kain basah yang berada di tangan kirinya. Tanpa disadarinya Sukkie yang sedari bangun baru saja datang memperhatikan tingkah istrinya itu yang di pagi hari sudah kerepotan seperti itu nampaknya.

“Apa yang terjadi ?” tanya Sukkie yang sudah berada di belakang Shin Hye.

“HAK ?” pekik Shin Hye terperanjat kaget oleh sebab entah kapan Sukkie sudah berada di belakangnya.

“Ya, sejak kapan kau di situ ?” tanya Shin Hye sambil memegangi dadanya.

“aku barusan datang, kenapa ?” tanya Sukkie dengan nada yang menyelidik.

“Tidak, hanya saja, rokku ketumpahan kopi. Bagaimana tidurmu ?” tanya Shin Hye lagi. Kendati dirinya yang tidur di kamar yang terpisah dengan Sukkie itu, sehingga dirinya pun harus menanyakan bagaimana malam Sukkie kemarin.

“Seperti biasa, belum ada yang berubah. Semuanya masih nampak sama saja, kogh.

“Benarkah ? Syukurlah.” Ucap Sukkie senang.

“Kau tidak ingin keluar ?”

“Tidak, memangnya kenapa ? mau pergi ?” tanya Sukkie.

“Tidak. Aku sedang ingin di rumah saja. aku sedang tidak berminat untuk keluar.” Kata Shin Hye lemas.

“Kenapa begitu ? itu akan membuat pikiranmu kembali fresh, sayang.” Bujuk Sukkie tiba – tiba.

Shin Hye yang mulai menggoreng telur mata sapi itu pun hanya menanggapi ocehan Sukkie dengan tanggapan yang biasa saja.  Shin Hye hanya butuh menenangkan diri. Sebenarnya apa  yang sedang terjadi sehingga ayahnya bahkan mengirimkan sebuah paket untuknya.  Buru – buru dirinya membuka paket itu, namun bahkan Sukkie yang agaknya tak ingin melepaskannya begitu saja, melihat Shin Hye yang hendak – hendak ingin pergi itu pun Sukkie mendadak menjadi sangat manja padanya.

Sukkiepun melingkarkan lengannya ke pundak Shin Hye. Sembari berakting seperti anak kecil yang merengek untuk lekas dibelikan permen dirinya menahan Shin Hye untuk tidak pergi kemana pun. Beberapa kali dirinya menyiumi tengkuk kurus istrinya itu, membuat Shin Hye geli dan bergerak – gerak menjauh,

“Apa kau tidak ingin lebih lama di sini bersamaku saja ?” tanya Sukkie yang menciumi leher sang istri hingga Shin Hye terpaksa harus mengelak beberapa kali.

“Geli, jangan begitu. Lepaskan aku,” kata Shin Hye berusaha melawan Sukkie. Namun Sukkie masih tetap mengganggunya.

“Aku tidak mau. Aku ingin kau menemaniku sepertinya.” Cepet kogh, iya, kan ? katanya santai tanpa melihat raut muka Shin Hye yang sepertinya sudah tidak ingin lagi datang ke tempat yang pernah sempat dilewatinya bersama sesaat sebelum kedua sahabatnya itu mendapatkan sepeda motor dari kedua orang tuanya dan lebih suka berangkat sendiri semenjak hari itu ke kampusnya.

“Tapi aku ingin keluar, Sukkie. Jangan seperti anak kecil begitu, Sukkie.” Kata Shin Hye mengingatkan.

“Baiklah. Baiklah.” Kata Sukkie menyerah sembari memonyongkan bibirnya dan menjauh dari Shin Hye seketika. Dirinya bahkan entah sedari kapan menahan kekesalannya itu kepada sang istri. Shin Hye yang terlihat begitu kelelahan itu pun hanya bisa melihat suamninya yang menekuk mukanya masing – masing.

“Kenapa dia ?” gumam Shin Hye yang mendadak mendapati Sukkie pergi meninggalkannya.

 

ღღღ

 

Jae Joong pun terkaget mendapati kabar yang barusan didengarnya dari layar kaca, Sukkie menikahi Shin Hye dengan terpaksa dan Cuma – Cuma. Apa ini benar. Dirinya bahkan tak bisa menerima kalau ternyata hal ini adalah kebenaran seperti apa yang diberitakan media mengenai mereka. Dipikirnya mana mungkin Shin Hye dan Sukkie merahasiakan hal ini darinya. Namun sepertinya memang seperti itulah dirinya sudah dikhianati oleh kedua sahabatnya itu. Namun benarkah semua ini.,, bahkan dirinya tak bisa mengira. Dirinya tak habis pikir dengan ini semua.

“Ya, Sukkie kenapa kau membohongiku, ha ?” teriak Jae Joong dari dalam telepon di seberang yang begitu kerasnya mengiang di telinga Sukkie. Membuat Sukkie terpaksa harus mengalihkan teleponnya ye arah depan wajahnya yang sedikit menjorok ke kiri. Tak berharap telinganya akan kesakitan menerima hal ini tadi.

“Ada apa, ha ? pagi – pagi begini sudah membuat masalah saja.” keluah Sukkie yang masih merasa mengantuk itu. Bahkan dari pagi hari dirinya belum tidur sama sekali. Dirinya harus melakukan pekerjaan itu sendirian. Sebuah lamaran pekerjaan yang baru yang diketiknya untuk segera melamar ke sebuah perusahaan yang akan mau menerimanya. Dipikir Sukkie.

“Kau ini, memang benar – benar. Jelas – jelas kau telah menikah kenapa tak mengabariku, ha ?”

“Oh, itu. Aku memang sengaja merahasiakannya dari orang – orang terdekat karena aku tahu sekali orang tua Shin Hye dengan orang tuaku yang bahkan belum akur sama sekali itu. Mungkin mereka masih bersitegang sampai sekarag ini. jadi aku sengaja buat seperti ini ceritanya. Maafkan aku, ya. kawan.”

“Untuk hal sepenting ini kau juga haru smerahasiakannya darrriku ? sungguh keterlaluan sekali kau itu, ha ?”

“Lalu ?”

“Untuk saat ini aku tidak lagi menganggapu sahabatku. Namun gulma.” Kata Jae Joong sembarangan.

“APA ? Kau ini.. berani – beraninya..”

“Mengapa tidak ? kau saja tega terhadapku, masa aku harus tak berani melawanmu.”

“Ya, Kau ! baiklah, aku terima tantanganmu. Akan mampu sampai kapan kau terus mendiamiku seperti saat ini, ha ?” kata Sukkie yang tak kalah kerasnya di telepon.

Mereka pun akhirnya menutup telepon dengan perasaan yang berkecamuk masing – masing. Mereka berdua sama – sama tak tenang sebab mereka yang mengatakan akan melihat seberapa kuat persahabatan mereka yang tengah dilapisi oleh rasa kekesalan itu. Akan ini semua berakhir menyenangkan seperti biasanya. Jae Joong bahkan hanya bisa mengendus nafas kesal sesaat. Apa benar dirinya mampu menghadapi hal ini. Sukkie memang sering kali menyebalkan namun tak sampai seperti ini. kelakuannya akhir – akhir ini memang dirasanya yang terparah dari hari – hari biasanya.

“Sukkie. Awas kau, ya !” kata Jae Joong marah menggertakan gigi – giginya.

 

ღღღ

 

Paman dan bibi Shin Hye pun mendatangi kediaman rumah orang tua Sukkie meminta pertanggungjawaban atas apa yang tengah menimpa keluarganya lewat berbagai surat kabar yang telah menyebarkan berita persembunyian sang keponakan mereka dengan anak laki – lakinya, Sukkie. Sudah sejak lama memang, hampir – hampir tiga minggu bahkan paman dan bibi Ban sudah tidak pernah mempermasalahkannya namun apa yang membuatnya begitu marah dan membuat perhitungan dengan keluarga Sukkie kali ini. dalam benak mereka pasti keluarga Sukkie yang tengah merencanakan semua ini hingga bahkan Shin Hye yang mampu menikah tanpa sepengetahuan mereka.

“Bagaimana ? apa kau sanggup menebusnya dengan keselamatanmu ?” tanya Bibi Ban mengancam Ibu Sukkie.

“Apa maksudmu, ha ? Anakku sendiri bahkan aku tak mengetahui dimana keberadaannya. Pasti keponakanmu itu yang telah menyembunyikannya di suatu tempat, iya, kan ?” tanya Nyonya Sun Ae Ni tak kalah sengitnya.

“’Hati – hati, ya jika kau berbicara. Shin Hye bukanlah tipikal wanita yang murahan yang akan membawa siapapun yang disenanginya. Shin Hye itu gadis baik – baik dan beretka. Mungkin saja semua ini ulah putra yang begitu anda banggakan itu !” kata Bibi Ban yang kemudian hendak naik ke balkon mencari – cari kalau saja Shin Hye bersembunyi di rumah itu. Namun hasilnya tetap sama saja, Shin Hye tetap tak ditemukan. Sebenarnya kemana perginya gadis itu ? Bibi Ban dan suaminya pun semakin mengkhawatirkannya, semoga tak terjadi apapun dengan keponakannya itu.

“Shin Hye, jangan beginims sayang. Lekaslah pulang. Apa di sana kau juga merindukan kami ?” tanya Bibi Ban menghadap ke kamar Shin Hye yang kosong itu. Tak satu pun barang Shin Hye yang dipindahkan oleh Bibi Ban. Dia masih memikirkan kemungkinan Shin Hye yang akan pulang dan mendadak menempati kamarnya kembali.

“Sudahlah, ayo kita lihat saja apa yang seharusnya kita kerjakan.” Sentuk pundak BibI Ban Paman yang sedari tadi sudah berada di samping bibi Ban yang masih tak menyadari kedatangannya.

“Mengapa melamun ?” tanya paman menegur Bibi.

“Ah, tidak.” Kata Bibi berusaha menutupi rasa kerinduannya kepada kemenakannya itu dirinya pun hanya bisa kembali meandangi kamar Shin Hye yang berhari – hari sudah kosong itu.

“Segera kembali, Shin Hye.”

 

ღღღ

 

Soo Ji mendatangi kediaman Sukkie dan Shin Hye yang didapatnya dari sebuah blog pribadi Sukkie yang menyebutkan bahwa dirinya sekarang sedang dtinggal di sebuah kota yang masih sepi dengan Seoul. Entah mengapa Sukkie berpikir untuk pindah ke sana. Melihat transportasi saja yang begitu susah untuk masuk ke sana. Sesaat membuat Soo Ji bergidik ketakutan kalau – kalau dirinya macet di jalan dan tak ada orannng yang bisa dimintai pertolongan,

“Bagaimana ini ? sudah selarut ini ? apakah masih harus kuteruskan ?” tanya Soo Ji yang mulai membeku kedinginan. Dirinya pun segera menggunakan earmuffnya dan kemudian tetap menghampiri Sukkie dan Shin Hye. Dalam waktu tiga jam dirinya sudah mendapatkan alamat rumah Dewi itu.

“Entah apa yang harus aku lakukan. Aku haru stetap mempertahankan posisiku untuk tetap pergi ke sana.” Hingga saat itu dirinya sudah menemukan sebuah rumah yang lebih mirip villa yang nampak dari luar seperti masih kosong, namun ternhyata ada yang menyahut dari dalam.

“Malam begini, ternyata masih ada orang yang terbangun,” dan betapap kagetnya Soo Ji melihat Sukkie yang membukakan pintu rumah itu.

“Kau- Kau bagaimana bisa ada di sini ?” tanyanya tak habis pikir hingga matanya membelalak sempurna seperti orang yang bodoh.

“Jangan bengong seperti itu. Kau sebenarnya ingin masuk tidak ? kalau ingin masuk di dalam masuklah saja.” kata Sukkia yag sudah berjalan masuk terlebih dahulu diikuti Soo Ji yang tengah mengikuti laju langkahnya yang begitu lebar itu. Apakh benar apa yang dilihatnya ?

“Bagaimana bisa kau tinggal di sini ? apa benar kau sudah menikahi Shin hye ?” tanya Soo Ji yang sepertinya berusaha untuk mengetahui semuanya. Namun Sukkie hanya menoleh ke sebuah foto besar yang terpampang si samping kirinya. Dengan semburat putih – putih sebuah gaun panjang yang menyapu lantai di ujung – ujungnya dengan setelan tuxedo di sampingnya yang terlihat sedang melemparkan untuk sebuklet bunga dan gambar itu terlihat jelas begitu pula dengan para hadirin yang berada di sampingnya.

“Jadi itu benar ? Astaga. Lalu dimana Shin Hye sekarang ?”

“Dia sedang bersepeda di sekitar danau di balik kota ini. kau tahu, kan ?”

“Iya, aku tahu hanya saja sedikit masih tak percaya dengan apa yang barusan aku lihat ini. aku bertemu denganmu lalu mendengarmu mendadak sudah menikahinya. Hahaha. Begitu kebetulan yang terus – terus terjadi saja. keren sekali.” Kata Soo Ji panjang lebar. Membuat Sukkie hanya bisa mengangguk – anggukkan kepalanya tanda dirinya juga tidak menyangka bisa seperti ini. seperti mimpi saja.

Kalau Shin Hye pulang tolong katakan padanya tadi aku mencarinya ya ?” tanya Soo Ji berpesan kepada Sukkie yang terlihat tak begitu memperhatikannya. Namun Sukkie setidaknya tahu bahawa Soo Ji sudah ingin pulang. Diirnya menawarkan untuk pulang, namun rumit juga. Soo Ji yang merasa tak enak lebih memilih menaiki mobilnya menuju ke rumahnya.

“Bye., Sukkie. Jangan lupa pesanku untuk Shin hye !”

 

ღღღ

 

“Apa pula ini aku semakin tidak mengerti saja dengan apa yang terjadi di sni sebenarnya ? apakah aku harusny apulang dan membawa Shin Hye yang bahkan sedang sakit ini. Sukkie sepertinya ingin sekali melakukan itu namun kendaraan dan keadaan yang tidak mendukung menyebabkan kita harus sedikit memutar otak untuk menanggapi hal itu.” Kesal Sukkie langsung mengembalikan pandanganya ke arah Shin Hye yang sepertinya sedang duduk di meja riasnya dambil menyisir rabbutnya yang panjang sepinggang. Membuat Sukkie mendadak masuk begitu saja tanpa harus mengetuk pintu sebab yang telah terbuka begitu saja. menampilkan siluet Shin hye yang sedang terbawa suasana sore hari itu.

“Shin Hye.”

“Iya, apa, Sukkie ?”

“Apa kau tak merindukan orang tuamu ?”

“Mengapa kau menanyakan hal itu, ha ?” tanya Shin Hye mula – mula begitu dirinya tahu bahwa Sukkie terlihat lesu seperti tak memiliki tulang iga itu lagi.

“Tidak, aku hanya e.. sepertinya ingin mengunjungi mereka saja.” kata Sukkie pelan sekali nyaris tak terdengar oleh Shin Hye.

“Benarkah seperti itu ? Baiklah, mengapa tidak kita pergi ke sana ?” tanya Shin Hye yang menyetujuinya,

“Terima kasih, Shin Hye.” Kata Sukkie berteriak senang. Lalu mendsdak memeluk Shin Hye hingga Shin Hye yang harus oleng dan sulit menjaga keseimbangannya melihat Sukkie yang agaknya begitu senang dengan jawabanya.

“’Kapan kita akan ke sana ?” tanya Sukkie memeluk Shin Hye lebih erat membuat Shin Hye harus menyeimbangkan dirinya untuk ketinggian Sukkie yang begitu tinggi melampaui diriny itu.

“Ah, Sukkie. Biasakah kau melepaskan pelukanmu sebentar saja. aku sulit bernapas.” Kata Shin hye yang membuat Sukkie pun tergugah untuk menyaksikan Shin hye yang gelagapan itu.

“Ah, maaf.” Kata Sukkie. Lantas melanjutkan kata – katanya. “kita pergi sore ini juga, ya”

“APA ? mengapa tidak besok saja ? seperti tidak ada waktu lain saja,” celoteh Shin Hye yang membuat Sukkie tak habis pikir mengapa Shin Hye bisa sebegitu tenangnya.

“Ya, sayang, jawab dulu pertanyaanku.” Kata Sukkie mengejar Shin Hye yang terlebih dahulu telah naik ke atas,

“Sudahlah, aku mau tidur.”

“Ya, sudah aku ikut denganmu.”

“Tidak boleh. Aku tidak mau diganggu.”

“Aku justru akan banyak membantumu. Percayalah,” kata Sukkie menimpalinya masih di depan pintu kamar Shin hye yag ternyata tidak di kuncinya, dan akhirnya pun Sukkie masuk tanpa haru minta perijinan oleh Shin Hye terlebih dahulu.

“Apa kau menikmati suasana di sini ?”

“Sepertinya iya.. memang seperti itu adanya, Sukkie. Kau sendiri ?” tanya Shin Hye dengan mata yang tertutup. Sukkie pun berbalik memandangi ke wajah istrinya yang tenagh berushaa untuk beristirahat itu.

“Cantik.”

 

ღ TO BE CONTINOUED ღ

About shiellafiollyamanda

"Wish my creation can inspire a lot of people, at least around me."
This entry was posted in NOVEL and tagged , , . Bookmark the permalink.

One Response to God Gave Me You

  1. I just want to tell you that I am all new to blogging and actually loved this web-site. Probably I’m want to bookmark your blog . You amazingly have exceptional articles and reviews. Thanks a lot for revealing your blog site.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s