God Gave Me You


CHAPTER 12

#Holding On#

May 25, ’12 7:04 AM
for everyone
Title : God Gave Me YouRate : PG

Author : Shiella Fiolly (io)

Cast :

Jang Geun Seok

Park Shin Hye

Kim Jae Joong

Han Hyo Joo

“Kenapa tidak menghubungi kami dulu kalau kau akan datang ? mendadak sekali mendadak sebelum dua jam menuju ke bandara, kau baru meneleponku ?” tanya bibi Ban kepada Kyu Min, adik perempuannya.

“Ceritanya panjang, kak ! nanti saja setelah sampai di rumah aku akan menceritakannya. Aku janji.” Kata Kyu Min menyeret kopernya yang terlihat begitu berat. Entah apa saja yang dibawanya kemari, namun melihat gaya berdandannya mungkinkah semua isinya hanya pakaian dan make up ? membuat bibi Ban yang tak habis pikir menggeleng – gelengkan kepalanya melihat penampilan baru adiknya yang begitu nyentrik berbeda jauh dengan adik perempuannya dahulu saat dirinya masih bersuamikan Lee Man Seo. Dirinya terihat begitu kalem dan elegan, namun sekarang, bahkan terlihat seperti wanita karir yang sedikit ‘preman’.

“E, lalu bagaimana dengan Shin Hye ? Apa dia menyusahkanmu ?” tanya Kyu Min mengingat putrinya yang kini tentu telah beranjak menjadi seorang gadis.

“Tenang saja, dia tidak pernah membuat masalah. Hanya saja beberapa hari ini dirinya sedang mengalami masalah yang lumayan rumit. Kuharap kau tidak banyak membuatnya merasa terganggu nanti. Kau tahulah bagaimana sikapnya terhadapmu.” Ucap bibi Ban mengingat Shin Hye yang tak suka berhubungan dengan ibunya semenjak dirinya tahu bahwa wanita yang merupakan ibu kandungnya itu justru sebenarnya adalah wanita yang meninggalkannya sengaja demi hidup sendiri di Iran.

Selama 19 tahun Shin Hye hidup, dirinya bahkan tak pernah sekali pun ikut ibunya. Sejak kecil dirinya diasuh oleh neneknya lalu tiba dia berumur 12 tahun, Shin Hye ikut dengan bibi Ban. Semenjak itulah dirinya mulai mengetahui sejarah hidupnya dan lebih memilih untuk hidup tanpa kasih sayang seorang ibu, baginya ibu yang tidak menginginkannya jauh lebih baik daripada dirinya harus merasa terpaksa tinggal dengan seorang wanita yang bahkan tidak mengasihinya sama sekali. Shin Hye sudah berusaha memaafkan kesalahan orang tua, baik ibu maupun sang ayah. Namun sejauh ini, hanya ada itikad baik dari sang ayah yang ingin memintanya untuk hidup bersamanya. Kendati Shin Hye yang sudah merasa sangat sayang dengan bibi Ban dan juga sebab bibi Ban yang tak mempunyai keturunan jadi Shin Hye merasa tak enak bila harus meninggalkan keluarga yang telah begitu lama ini mengasuhnya. Dirinya merasa terlalu banyak jasa budi baik yang diberikan keluarga bibi dan pamannya terhadapnya seorang. Shin Hye pun tak dapat berbuat banyak. Drinya hanya bisa melakukan apa yang bisa dilakukannya. Meski tak banyak membantu namun Shin Hye harap, dirinya bukanlah menjadi masalah di keluarga itu.

“Sejak kapan dia tahu kalau aku yang sengaja menitipkannya padamu, kak ?” tanya Kyu Min tiba – tiba. Membuat bibi Ban tertegun lalu menjawabnya setelah dirinya yakin benar jawaban apa yang tepat yang akan dipaparkannya kepada sang adik itu.

“Dia tak banyak mengusik tentang itu, yang dirinya ingin hanya permintaan maaf dari kalian. Dirinya menginginkan sekali untuk bisa bersama kalian, namun apalah daya keadaan yang membuatnya harus terpaksa tak mengenal kedua orang tuanya yang sama – sama sibuk.”

“Maafkan aku.” Jawab Kyu Min tertunduk.

“Aku memang bukanlah seorang ibu yang baik.” Kata Kyu Min menambahkan dan merasa bersalah yang tampak seperti dibuat – buat malah.

“Sudah lama berlalu juga.” kata bibi Ban lalu menyuruh suaminya untuk segera menjalankan mobilnya.

 

ღღღ

 

“Shin Hye !!! Ayo Kita pergi ke perpustakaan kota. Aku ingin menunjukkanmu sebuah buku menarik.” Kata Jae Joong begitu semangat hingga menarik Shin Hye yang masih tergagap belum siap dengan ajakan Jae Joong saat dirinya baru saja membukakan pintu.

“Kau tidak akan menyesal datang ke sana.” Jae Joong pun melajukan motornya dan membawa Shin  Hye ke sebuah perpustakaan kota yang lumayan dekat juga dari Seoul kediamannya. Kurang lebih seperempat jam mereka telah sampai di perpustakaan kota. Jae Joong pun segera menggandeng tangan Shin Hye dan lekas membawanya masuk yang terlebih dahulu harus menaiki kurang lebih 140 anakan tangga sebab perpustakaan kota tersbut terletak di puncak yang berada di sebuah kaki gunung. Meski anakan tangga yang kecil namun lumayan membuat kaki pegal juga, Shin Hye yang mulai terengah – engah pun meminta berhenti sebentar kepada Jae Joong dan duduk di sebuah anakan tangga yang terakhir dipijaknya. Jae joong yang melihat Shin Hye kelelahan pun tanpa sengaja melihat seorang penjual balon helium. Dimana balon itu dapat terbang tinggi ke atas awan, namun juga sangat mudah terbakar, Jae Joong pun membelikan lima buah untuk Shin Hye, Shin Hye yang merasa terhibur pun membuat Jae Joong bahagia melihat senyum yang mengembang di wajah ayunya.

“Cantik.”

“APA ?” tanya Shin Hye yang memekik telinga Jae Joong sebab tiba – tiba dirinya terhenyak berdiri begitu saja sambil memegangi kelima ujung tali yang menautkan balon – baloonya. Balon – balon tadi yang berbentuk hati itu bertuliskan bermacam – macam istilah cinta. Shin Hye pun sempat membacanya satu per satu.

“Stay-here-with-me.” Ejanya sambil menerbangkan satu balonnya menuju ke angkasa.

“Konon katanya dalam legenda Yunan, apabila seorang gadis melepaskan sebuah benda menuju ke angkasa dia akan lekas menemukan jalan hidupnya.” Seru Shin Hye tersenyum.

“Kau percaya dengan hal macam itu ?” tanya Jae Joong ulang.

“Iya.” Jawab Shin Hye tanpa berbalik melihat Jae Joong masih terpaku dengan balon heliumnya yang mulai menjauh dan tinggi ke angkasa. Membaur dengan awan dan langit yang nampak mulai memerah sebab cahaya mentari yang mulai keluar tanpa semburat malu.

“Kau lihat itu. Aku sedang memohon supaya aku segera menemukan jalan hidupku. Aku tak ingin salah mengambil langkah.” Kata Shin Hye semangat.

“Apa kau tak ingin mencobanya ?” tanya Shin Hye lagi menawarkan sambil menyodorkan satu balon heliumnya ke arah Jae Joong hingga Jae Joong pun menerimanya dan segera menirukan hal yang serupa dengan yang Shin Hye lakukan.

“Kau sudah melakukannya dengan baik,” ucap Shin Hye tersenyum sembari mengacungkan kedua jempolnya ke hadapan Jae Joong membuat Jae Joong lega dan merangkul Shin Hye lantas berjalan kembali untuk melanjutkan separuh jalan lagi menuju ke perpustakaan.

“Kenapa tidak menggunakan lift saja ya untuk mempermudah kita naik ke atas ? merepotkan sekali !” oceh Jae Joong membuat Shin Hye teringat akan Sukkie yang bahkan tak pernah mengeluh di dekatnya. Berbeda sekali ternyata. Apa yang membuat Shin Hye justru teringat Sukkie. Saat berada di dekat Sukkie dirinya selalu hendak marah dan tidak suka, namun saat Sukkie tak ada di dekatnya dirinya seakan – akan berhadap Sukkie mendadak muncul tepat di hadapannya. Sepertinya ada yang salah dengan isi kepalanya.

 

ღღღ

 

Sukkie memainkan jari manisnya di sebuah meja piano Yamaha besar miliknya. Sudah lama sekali dirinya tidak melantunkan sebuah lagu yang diciptakannya sendiri. Hobinya yang membuatnya selalu nampak seperti dirinya seolah – olah adalah seorang maestro opera musik. Dirinya bak seorang maestro yang telah memimpin sebuah orchest musik yang mengiringi pesta ball room. Dirinya begitu menggilai musik klasik. Dengan menekan satu per satu tuts tuts yang sudah begitu dihafalnya dirinya pun berdendang dan masuk ke dalam musiknya. Sepersekian detik dirinya terhanyut hingga tak menyadari sebuah panggilan masuk dari Shin Hye yang sedari tadi sudah berusaha meneleponnya.

“Akh! Siapa pagi – pagi mengganggu begini !” keluhnya menghentikan bermain musiknya lalu melihat ke phonecellnya dan mendelik melebarkan kedua bola matanya seketikan mengetahui bahwa yang meneleponnya adalah Shin Hye.

“Astaga ! bodohnya aku !” seketika dirinya menempol balik kepada Shin Hye namun tak diangkat kembali.

“Yah ! Shin Hye !” protes Sukkie kehabisan akal meladeni Shin Hye. Dan kembali melantunkan musiknya. Hingga tepat pukul sembilan dirinya datang ke perusahaan ayahnya dan meminta untuk mulai mempekerjakannya menjadi tenaga bantu di perusahaan itu. Awalnya sang ayah pun tidak merasa yakin dengan apa yang barusan dilihatnya dalam sebuah berita itu. Putranya mengemis – ngemis untuk melamar di kantornya. Apa ini mimpi ?

“Ya sudah, besok kau mulia bekerja sebagai office boy.” Kata sang ayah sembari melirik ke Sukkie sebentar. Tak didapatinya  Sukkie yang menjawab. Ditunggunya untuk Sukkie segera menolak dan meminta jabatan yang lebi tinggi. Namun salah. Dirinya bahkan tak mengeluh sama sekali, malah terlihat sedikit senyum tersinggung di sudut bibirnya. Yang benar saja. hingga sang ayah pun heran dengan apan yang dilihatnya ini. namun ini benar – benar bukan sebuah mimpi. Sungguh. Ini nyata.

“Terima kasih, ayah.” Tiba – tiba Sukkie pun memeluk lutut ayahnya. Ini membuat sang ayah sontak merasa keheranan. Sebenarnya apa yang tengah terjadi dengan putra semata wayangnya itu. Mengapa mendadak berubah sedemikian cepat ? apa dirinya baru saja tersengat listrik yang menyebabkannya menjadi sedikit tidak berfungsi sebagaimana mestinya ? tuan Jang pun menyeringai.

 

ღღღ

 

Sejak kapan Shin Hye pulang dari perpustakaan. Namun belum – belum sampai di kamarnya dirinya langsung begitu saja mengelupas lapisan plastik novelnya itu. Dirinya begitu antusis untuk mengetahui isi dari novel yang telah dipilihkan Jae Joong untuknya. Sepertinya dirinya terlihat begitu ingin tahu. Hingga dirinya yang tekaget – kaget begitu membaca baru sampai pada tiga halaman pertama dan langsung begitu saja menjatuhkan buku novelnya ke lantai. Beberapa lembar pun terlepas dari ikatannya dan menyembur keluar. Dirinya begitu kaget melihat sesosok wanita yang begitu dikenalnya sedang bersama dengan paman dan bibinya membuka pintu dan menampilkan berbagai barang bawaanya. Shin Hye pun segera berlari  menuju kamarnya tanpa mengambil kembali novel yang telah dibelinya dengan susah payah itu. Dalam hatinya dirinya sangat terpukul dan nyeri mengapa harus wanita itu datang lagi setelah lama dirinya mengetahui siapa wanita di hadapannya itu.

“Shin Hye ! Shin Hye ! Shin Hye !” teriak Bibi, Paman dan Ibunya serentak. Namun Shin Hye tetap saja berlari menjauh tanpa mengindahkan panggilan mereka. Shin Hye tak bisa lagi membendung air matanya. Hingga – hingga dirinya hanya bisa menangis terisak tanpa mengeluarkan bunyi sesenggukan. Dirinya begitu lihai menutupi perasaannya yang begitu terluka itu. Namun dalam suasana seperti ini, tak ada Hyo Joo maupun Rae Ha yang berada di sampingnya. Membuatnya harus terpaksa memikul beban ini sendirian.

Shin Hye oun memutuskan untuk keluar rumah. Dirinya pergi ke sebuah rumah yang terletak tak jauh dengan rumahnya dan segera memencet bel rumah itu. Sukkie yang berada di balkon atas melihat kedatangannya di depan pintu pun segera turun berlari mengejar waktu supaya tak semakin lama membuat Shin hye menunggu.

“Masuklah.” Kata Sukkie yang mendadak melihat ke arah mata Shin Hye yang terlihat sembab dan melelehkan air mata,

“Ada apa ? katakan padaku. Aku akan membantumu.” Katanya seraya memdekap Shin Hye ke dalam dadanya. Shin Hye yang merasa nyaman pun terhenti menangis. Didongakkannya kepalanya ke atas melihat dagu Sukkie yang menempel di keningnya.

“Terima kasih, kau tak perlu cemas. Aku hanya terkejut saja.” katanya sambil masih menggigi menahan berat tubuhnya yang dirasa – rasanya seperti sudah ingin terduduk saja.

“Bagaimana tidak apa – apa kalau bahkan nafas bicaramu saja tidak beraturan seperti itu ?”

“Sungguh. Aku sudah tidak apa – apa.” Angguknya meyakinkan Sukkie. Sukkie pun masih setengah tak percaya dengan apa yang dikatakan Shin Hye yang terkesan begitu ingin menutupi sesuatu dari dirinya.

“Ibuku-Ibuku datang kemari.” Katanya yang mendadak dan masih terbata.

“Lalu ?”

“Aku tidak yakin aku sanggup untuk menghadapinya atau tidak ?” ungkapnya.

“Kau pasti bisa melewatinya Shin Hye. Berulang kali kau mampu menaklukkan musuh – mussuhmu. Kenapa sekarang tidak begitu. Musuh yang terbesat adalah ketakutan yang muncul dari dalam hatimu.” Kata Sukkie mengingatkan.

“Tapi ini seratus persen berbeda dengan yang aku pernah alami. Ibuku bukan tipikal ibu yang tidak akan tinggal diam begitu ada berita buruk yang menimpa anaknya. Ibuku itu nenek sihir, Sukkie.”

“tak bolehberkata demikian. Tanpa dia kau tidak akan pernah terlahir ke dunia.”

“Kau benar soal ini.”

“aku tahu kau begitu menderita dan sakit hati. Namun di balik itu ibumu juga menahan sakit yang tak terkira saat dirinya terpisah jauh dengan kau putrinya.” Kata Geun Seok dengan mata yang berkaca – kaca.

 

ღღღ

 

“Maaf soal ini, namun sepertinya aku tak bisa banyak membantu. Dan rasa – rasanya waktuku sudah banyak terbuang untuk menunggumu. Aku tidak bisa tinggak diam. Pergilah.” Kata Sukkie beranjak pergi memunggungi Shin Hye.

“Tapi, Sukkie.” Panggil Shin Hye yang terhuyung – huyung mengikuti Sukkie.

“Aku tak bisa lagi membuntutimu terus – menerus seperti ini. aku mulai kelelahan. Sepertinya apa pun juga tidak akan membantu. Jadi aku putuskan untuk melepaskanmu. Bukankah itu yang kau mau ?” tanyanya tanpa berbalik menghadap ke arah Shin Hye yang kembali mengalirkan air mata di lewat kelenjar air matanya. Membasahi pipinya hingga menetes ke pakaiannya yang anggun.

“Apa benar begitu aku terlalu merepotkan ?” tanya Shin Hye pilu.

“Aku tidak merasa begitu. Namun hanya saja hatiku yang menuntunku untuk menyerah sekarang.”

“Tapi aku tak bisa menarik ulur kembali perkataanku, bukan ? aku tidak bisa mmebuatnya kembali seperti semula seperti dimana saat sebelum aku mengenalmu.” Ucap Shin Hye tertekan.

“Aku rasa itu hanya rasa bersalah.” Melangkah pergi dan Shin Hye pun menahan tangan kanannya.

“Maaf. Maaf. Apa mungkin bila ini hanya rasa bersalahku yang terlampau jadi ? aku tidak bisa mencerna semua kata yang kau bisikkan padaku. Yang aku tahu kau selalu berusaha menyemangatiku di saat aku merasa kecewa dan mengecewakan. Lantas aku harus bagaimana lagi ?” rintihnya yang membuat Sukkie tak tega namun dirinya tak bisa berbuat apapun.

“Kurasa Jae Joong yang akan bisa membantumu lebih daripada aku.”

“Jae Joong bukanlah tempat tujuan terakhirku. Kau yang lebih dulu menghampiriku jadi seharusnya kau pula yang mengantarkanku kembali, Sukkie.”

“Aku sudah jujur mengenai perasaanku. Kalau kau belum bisa menerima pernyataanku aku bisa terima.” Kata Shin Hye menyeka air matanya keluar dan berjalan keluar dari kamar Sukkie.

Hingga Shin Hye pun yang terus berjalan menyusuri jalanan di perumahannya tanpa berniat hendak pulang. Dirinya begitu pusing dengan semua yang terjadi. Hingga dirinya yang merasa letih dan sesekali duduk bersandar di kursi – kursi panjang yang disediakan di berbagai sudut – sudut jalanan yang dilewatinya. Namun dirinya seakan tak punya tujuan untuk melangkah. Berdiri pun melanjutkan perjalannya juga tidak. Hingga tengah malam yang sangat dingin turun salju dirinya tanpa memakai jaket dan earmuff berjalan masih menyusuri jalanan. Tanpa menghiraukan rasa lapar dankantuknya.

Hingga sebuah mobi tepat melintas di hadapannya bahkan seperti hendak menabraknya begitu saja. dirinya yang tak lagi bertenaga hanya menoleh memandangi siluet senja yang dilihatnya itu. Pria yang baru saja melepaskannya untuk apa kembali lagi membawanya masuk ke dalam mobilnya paksa dan mengantarkan kembai ke rumahnya. Namun karena Shin Hye yang belum juga mau untuk menemui ibu kandungnya itu pun terpaksa harus bermalam di rumah Sukkie.

Menggengga, satu tangan halus yang kedinginan di sampingnya itu. Dimana gadis di sampingnya yang mulai tertidur dan menyandarkan kepalanya di sisi kiri kursinya sambil menyilangkan kedua kaki jenjangnya tanpa alas kaki membuat Sukkie begitu merasa menyesal dengan apa yang barusan dilakukannya. Tak semestinya dirinya menambah masalah baru untuk Shin Hye. Bukankah dia sudah bertekad untuk menjaga dan menyayanginya ? bukankah Jae Joong juga telah mem[ercayakannya untuk melindunginya selagi Shin Hye yang terlihat lebih dekat dan lebih bahagia di dekatnya.

“Maafkan aku.” Mengelus pelan telapan tangan mungil yang digenggamnya dan menghentikan mobilnya tepat di dalam garasi rumahnya. Lantas menggendong Shin Hye yang masih terlelap dan membaringkannya di kasur lantas menyeimutinya sambil memandangi wajahnya. Kemudian mengambilkan air hangat dam mengelapnya pada kaki Shin Hye.

Sembari menjaga Shin Hye yang terlelap dirinya membaca beberapa pesan masuk yang ada di phonecellnya. Menghidupkan lampu mejanya dn menyalakan penghangat ruangan agar duhu di dalam kamarnya yang sedikit hangat untuk membuat suhu tubuh Shin Hye kembali normal. Dirinya bahkan tak berani untuk tertidur. Kalau – kalau Shin Hye mendadak bangun dan membutuhkan sesuatu. Dirinya memang tak pandai mengucapkan kata cinta, namun perlakuannya yang istimewa sudah cukup mengisyaratkan bahwa dirinya memang tak main – main dengan Shin Hye hingga Shin Hye yang benar – benar bisa membalas cintanya seperti sekarang ini. bukan ini yang Sukkie harapkan, kebahagiaan Shin Hyelah yang terutama dan menjadikan segalanya baginya.

 

ღ TO BE CONTINOUED ღ

About shiellafiollyamanda

"Wish my creation can inspire a lot of people, at least around me."
This entry was posted in NOVEL and tagged , , . Bookmark the permalink.

One Response to God Gave Me You

  1. I simply want to mention I am new to blogging and site-building and definitely savored this page. Most likely I’m planning to bookmark your blog post . You amazingly have excellent article content. Thanks for sharing with us your web page.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s