God Gave Me You


 CHAPTER 9

#Who Cares#

May 22, ’12 12:59 AM
for everyone

Title : God Gave Me You

Genre : Romance and Comedy

Rate : PG

Author : Shiella Fiolly (io)

Cast :

Jang Geun Seok

Park Shin Hye

Kim Jae Joong

Han Hyo Joo

Semenjak kejadian yang begitu memalukan itu Shin Hye tak pernah lagi menemui Sukkie. Shin Hye mulai menjaga jarak dengannya. Kendati dirinya yang care terhadap Sukkie, namun di dalam hatinya dirinya tetapah menyimpan perasaan yang teradalam terhadap seniornya, Jae Joong. Kalau harus empat tahun lagi menunggu, dirinya tidak akan keberatan. Lagipula itu dulu, sekarang semuanya telah berjalan dua tahun tanpa terasa. Shin Hye yang sudah memasuki bangku perkuliahan begitu juga dengan Sukkie, dan kawan – kawan seangkatan mereka yang lain.

Namun nampaknya dunia memang sangat sempit. Shin Hye duduk di kelas yang sama dengan Rae Ha. Siapa lagi kalau bukan mantan kekasih Jae Joong, yang entahlah sebenarnya hubungan mereka telah berakhir atau belum. Sebab dari ceritanya, Jae Joong tak pernah mengucapkan kata – kata putus satu kali pun. Ini tentu membuat Shin Hye sedih. Namun harus bagaimana lagi, dirinya sebagai orang yang baru yang telah masuk ke kehidupan Jae Joong pun nampaknya harus kembali mengalah setelah dirinya harus merelakan kepergian Jae Joong saat itu. Mengingat hal itu, dirinya sendiri menjadi merutuki dirinya. Betapa bodohnya dirinya telah berani menyukai seniornya itu. Punya kelebihan apa dia sehingga berani – beraninya menyukai Kak Jae Joong.

Shin Hye yang kembali mencoba menghadapi kenyataan pun segera merapikan buku – buku modul bawaannya. Dan memasukkannya ke dalam tas pingganggnya dan kemudian membayar minuman yang telah dibelinya di kantin kampus yang terletak agak menjorok ke belakang menuju tempat parkir. Dirinya lantas berjalan menuju lorong yang menghubungkan kelasnya dengan kelas anak seni yang berada di samping sanggar tari dan drama. Shin Hye yang terus berjalan melihat lurus ke depan tanpa menoleh itu pun melewatkan kelasnya dan terus berjalan menuju ke koridor. Dirinya bahkan melupakan tas bawaannya yang berisi seragam ganti selama dirinya bekerja sebagai bartender di salah satu cafe ternama di Hankuk. Bahkan hal yang sekecil itu saja Shin Hye sering sekai lupa. Hingga sering sekali sahabatnya, Rae Ha yang mengantarkannya langsung ke cafetaria tengah malam.

Lewat tengah malam ini Shin Hye sepertinya tidak bisa langsung pulang. Dirinya harus mampir sebentar ke toko kain untuk membuatkan bibinya pakaian untuk mendatangi pesta perkawinan Sukkie yang akan diselenggarakan dalam waktu dekat ini. yang Shin Hye dengar Sukkie sudah tidak berhubungan lagi dengan Kim Byung, namun gadis lain yang bernama Mae Lee. Shin Hye pun sama sekali belum pernah melihat gadis itu sebelumnya. Namun kata paman dan bibinya gadis itu sering sekali datang ke rumah Sukkie dengan mobil coklatnya yang mewah dimana Shin Hye berpapasan semalam. Aneh ! Namun agaknya Shin Hye tetap sama tidak memahami dengan clue yang diberikan oleh bibinya itu. Jangankan hal itu, Shin Hye bertemu dengan Sukkie saja sudah tidak pernah. Bagaimana mungkin Shin Hye tahu tentang perkembangannya.

Bibi dan Paman Shin Hye pun berusaha membujuk Shin Hye untuk datang. Namun hasilnya tetap sama saja. Shin Hye tak berencana untuk datang. Bahkan hingga Sukkie yang sebenarnya telah memberikan undangan langsung kepadanya tempo hari saat dirinya berjalan pulang dari cafe Sukkie menunggunya di halte duduk sambil membawa kamera polaroidnya untuk mengabadikan momen bersama Shin Hye yang mungkin akan menjadi yang terakhir kalinya sebab seteah ini tentu saja Sukkie akan meneruskan bisnis ayahnya di Jang Konstruksi dan mengurusi kepindahannya ke Jepang yang sudah ditundanya selama dua tahun lebih itu. Namun aneh, sepertinya Shin Hye merasa kehilangan mendengar hal ini keluar begitu saja dari mulut Sukkie.

 

ღღღ

 

Seiring dengan berjalannya waktu Jae Joong pun segera mempersiapkan kepulangannya ke Seoul yang akan dimungkinkan akan dipercepat selama tiga bulan ke depan ini. Jae Joong pun menengadah ke laut luas yang bisa dirinya lihat langsung dari jendela kayunya yang begitu dibuka langsung terlihat hamparan padang pasir putih dan dikelilingi oeh birunya pantai yang dihiasi dengan menara mercusuar di keduia sisi kanan kirinya. Dirinya ingin sekali segera pulang. Rindu untuk menjahili sahabat lamanya, Sukkie, rindu dengan sikap dingin Shin Hye, begitu juga dengan Rae Ha yang bahkan telah putus kontak dengannya selama dirinya pergi ke Pyong Yang mengikuti Neneknya ini.

Tak terasa hari yang begitu mendung itu pun menangis. Menjatuhkan buliran – buliran ai matanya ke bumi hingga sampai pada atap yang menaungi tubuh Jae Joong yang masih mengendarkan pandangannya jauh untuk menatap kangit yang mulai menghitam. Dirinya yang dilandasi dengan hati yang lumayan tenang ini pun bersenandung. Jikalau dirinya masih bisa bertemu dengan ketiga karakter yang begitu dirindukannya itu dirinya ingin seklai bisa mengulang masa – masa indah seperti dahulu. Namun sepertinya itu akan sia – sia. Sebab sudah bisa dimungkinkan mereka semua tengah sibuk dengan urursannya masing – masing hingga tak ada waktu lagi untuk sekedar bermain – main dengan waktu.

“Kapan aku bisa pulang ?” gumamnya sembari melihat sebentuk pelangi yang berada di sebelah bukit yang menonjol di hadapan matanya,

“Seperti apa kalian sekarang ? Aku rindu sekali. Apakah kalian juga merindukanku ?” tanya Jae Joong berharap ketiga orang yang dirindukannya ini pun memiliki rasa yang sama seperti yang dirinya harapkan.

“Aku tak tahan lagi. Aku ingin pulang secepatnya. Kalau harus besok maka aku akan lakukan.” Katanya mantap sembari tersenyum melihat langit yang kembali cerah mengeluarkan semburan kemerah – merahan yang membaur dengan langit dan awan yang putih.

“Tunggu aku, kawan – kawan !” katanya berteriak senang keluar jendelanya. Hingga suaranya memantul dan membuatnya mengulang seperti ada banyak orang yang tenagh berbicara pada saat yang hampir bersamaan.

 

ღღღ

 

Soo Ji dan Jin Goo pun kuliah di kampus yang sama dengan Sukkie. Berbeda dengan mahasiswa kebanyakan yang selalu datang tepat waktu. Jangankan itu. Catatan saja mereka hampir – hampir masih kosong. Entah apa yang dilakukannya selama perkuliahan berlangsung. Mungkin saja sekedar tiduran tanpa melakukan aktifitas yang berarti. Mereka lebih suka mengunyah permen karet dan membuang sesuka mereka hingga pernah terjadi permen yang mereka ludahkan menempel di kursi dosen bahasa inggris mereka. Dan tentu saja ini menjadi pelajaran yang berharga untuk keduanya. Mereka haru dihukum untuk membersihkan toilet kamar mandi dan mengumpulkan sampai di tempat pembuangan akhir setiap harinya selama satu bulan penuh. Bukankah ini membuat mereka menjadi kapok dan tidak akan mengulanginya lagi ? Namun agaknya tidak. Tiadak ada yang bisa menghentikan aksi gila mereka. Namun kali ini, oo.. rektor mereka yang terkena. Hukuman apa yang pantas mereka dapatkan ?

“Maafkan kami, Pak. Kami benar – benar tidak sengaja membuang permen karet itu ke jas bapak. Kami akan segera membersihkannya.” Kata Jin Goo mendekat hendak membersihkan permen karet yang menempel di jas rektor mereka. Namun jusru rektor mereka marah besar dan menyuruh mereka untuk menggangti jasnya dengan jas yang sama dengan dirinya yang kenakan sekarang. Namun hasilnya sama saja. Jin Goo dan Soo Ji tak memiliki uang sebanya itu. Sebenarnya apa yang telah mereka lakukan hingga bisa seceroboh ini dan menyebabkan mereka kembali berurusan dengan pihak pemilik kampus. Ini sunguh memalukan.

Mereka pun kembali menutup muka mereka dengan buku bindernya. Semua mahasiswa dan mahasiswi pun datang menyoraki mereka yang ketahuan membuang sampah  permen tidak aturan hingga mereka pun harus lagi – lagi menjadi biulanan – bulanan warga kampus.

“Kenapa kalian ini, Soo Ji, Jin Gu !” jawab Sukkie yang tak sengaaja lewat berpapasan dengan Soo Ji dan Jin Goo.

“Ah, tak ada, Sukkie.” Jawab mereka serempat murutupi kegugupannya hingga suara mereka bergetar.

“Kau kenapa ? Tidak apa – apa, kan ?” tanya Sukkie sekali lagi. Namun mereka pun hanya mengangguk tanpa melihat raut muka Sukkie yang tampaknya masih ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi. Dan beruntunglah Jin Goo dan Soo Ji yang terselamtakan oleh langkah gadis yang bernama Mae Lee itu pun datang tiba – tiba dan merangkul Sukkie di hadapan orang banyak.

“Eh, Sukkie. Sudah kalian pergi saja sana. Carilah tempat dan suasana yang bagus.

“Ah, terima kasih sarannya. Kalau begitu kita ke tamana saja, ya, Suk !” gandeng tangan Mae Lee ke tangan Suk dan menyelipkan kelima jemarinya ke lima sela jari – jari tangan Sukkie. Dan Sukkie pun hanya bisa mengikutinya saja sambil sedikit menunduk dan berjalan ke arah yang berlawanan dengan arah sebelumnya berjalan.

 

ღღღ

 

Ayah dan Ibu Sukkie pun mengadakan makan – makan bersama dengan keluarga Mae Lee di rumah mereka. Mereka ingin sekali membicarakan rencana pernikahan yang mereka siapkan  dengan membooking tempat yang mewah di pulau Jeoju. Keluarga dari pihak Mae Lee pun tampak tak keberatan dengan ide nyonya Sun Ae Ni dan rekan bisnisnya, Jang Il Suk ini. mereka pun berjabat tangan dan melanjutkan acara makan malam bersama. Hingga mereka semua pun melihat Sukkie yang baru saja datang bersama dengan Mae Lee yang saling berpegangan tangan. Melihat mereka kedua belah pihak pun semakin yakin bahwa perjodohan ini adalah perjodohan yang telah mereka tunggu selama bertahun – tahun melihat kebahagianan dari putra – putrinya tersebut,

Berbeda dengan Sukkie yang langsung masuk ke kamarnya dan meninggalkan Mae Lee yang masih berdiri mematung dan kemudian membaur dengan keluarganya yang tengah menikmati hidangan makan malam. Hingga mereka pun merasa yang sudah terlalu larut untuk melanjutkan perbincangan mereka pun akhirnya memutuskan untuk segera pamit dan sebelumnya tentu Mae Lee segera naik ke atas untuk meminta diantarkan oleh Sukkie namun melihat Sukkie yang sudah tertidur itu pun membuatnya mengurungkan niatnya dan lekas kembali ke bawah untuk pulang bersama keluarganya.

Melihat Mae Lee yang telah turun ke bawah pun membuat Sukkie kembali membuka matanya dan mengikuti kepergian mobil mereka dari atas balkon. Dirinya sebenarnya masih meragukan dengan perasaannya terhadap Mae Lee. Dirinya justru mengingat ucapan Hyo Joo dua hari yang lalu tentang Shin Hye yang masih begitu berharap sekembalinya Jae Joong dirinya ingin mengungkapkan perasaannya terhadap ssahabat baiknya itu. Sesekali Sukkie mencubit pipinya meyakinkan dirinya apakah ini mimpi atau sekedar hayalan yang melayang dan mengapung di atas kepalanya., namun sepertinya tidak. Hingga dirinya pun memandangi jendela balkon kamar Shin Hye dan melihat Shin Hye yang sedang melukis di kanvas lewat siluet tubuhnya.

“Shin Hye..” desahnya memandangi bayangan Shin Hye dari kejauhan.

 

ღღღ

 

Minggu ini pun Ibu Yankumi mampir ke rumah Shin Hye untuk sekedar mengajaknya untuk ke gereja bersama memanjatkan doa. Namun Shin Hye tidak sedang ada di rumah. Dirinya menjalani study tour ke Jepang untuk program pendidikannya tentang sastra Jepang. Ibu Yankumi yang mendengar hal itu pun hanya tersenyuum dan mengingat Shin Hye yang bercita –cita ingin menjadi seorang guru se[erti dirinya. Dan sepertinya hal itu akan benar – benar terjadi. Ibu Guru Yan pun pamit dan berjalan sendirian menuju ke geraja. Dirinya begitu senang dan mengabari kepada kawan – kawannya tentang prestasi Shin Hye ini.

“Tidak sia – sia dirinya berlatih sekeras ini,” gumam ibu Guru Yankumi.

“Shin Hye. Berjuanglah. Doaku selalu menyertaimu.” Ucapnya sedikit terharu hingga menitikkan air mata.

Belum lama dirinya berdiri memanjatkan doa dirinya kemudian sudah berada di samping Bong Gul. Mantan siswa smanya ini pun membuat dirinya sedikit malu sebab telah lama tidak bertemu dan sekarang sudah melihat Bong Gul tumbuh menjadi lelaki yang dewasa.

“Apa kabar, Bong Gul ?” sapa ibu Yankumi.

“Baik. Ibu sendiri ?”

“Seperti yang kau lihat sekarang. Aku baik – baik pula.” Jawab Ibu Yankumi tersenyum.

“Ibu kemari sendiriankah ?” tanya Bong gul dengan nada menawarkan bantuan.

“Iya.”

“Kalau begitu pulang bersama denganku saja. kebetulan aku juga berangkat sendiri.” Kata Bong Gul tersenyum. Dan akhirnya ibu Yankumi pun menuruti apa kata Bong Gul. Dan menaiki mobil Bong Gul yang telah diparkir di samping gereja.

 

ღღღ

 

Sore ini adalah peresmian acara perjodohan Sukkie. Dirinya sudah siap menaiki altar dengan jas hitamnya dan melangkah dengan gagah dilihat oleh puluhan tamu undangan yang datang. Kendati tema pernikahan mereka adalah pesta kebun, maka semuanya dirancangan outdoor dengan berbagai wewangian dari bunga – bunga yang menghiasa di sepanjang pagar yang meisahkan altar mereka dengan panggung yang telah disiapkannya untuk mengucap janji dan berdansa bersama dengan mempelai wanitanya.

Namun ternyata Sukkie sedang tak mood untuk menjalani untaian ritual ini hingga dirinya pun yang telah hampir sampai menuju panggung untuk meraih tangan sang mempelai pun diurungkannya dan segera berbalik keluar area. Dan melajukan mobilnya, dirinya justru mendatangi rumah Shin Hye dan mendapati Shin Hye yang tak berada di rumah. Namun bibi dan paman yang menghadiri pesta pernikahannya pun memberitahukannya bahwa Shin Hye sedang dallam perjalanan pulang dari bandara.

Sukkie pun segera mencegat taxi dan meninggalkan mobinya di depan rumah Shin Hye, dan menemukan Shin Hye yang hendal masuk ke sebuah taxi dan lekas menarik tangannya dan memasuki taxi yang ditumpanginya ke bandara itu juga. Sukkie pun tak banyak bicara hingga mengetahui Sukkie yang membawanya ke sebuah gereja yang berada tak jauh dari kampusnya itu pun masih menarik tangannya Shin Hye dan menghadap ke seorang pendeta dan memaksanya untuk segera menikahkan mereka berdua. Tampaknya ini sedikit hal yang gila, jauh sama sekali tak terpikirkan oleh Shin Hye bahkan Sukkie yang entah darimana ide itu menceruat begitu saja di atas kepalanya. Daripada dirinya menikah dengan gadis yang bahkan tak  mengenalnya dirinya lebih memilih untuk menikah dengan Shin Hye yang sudah pasti sudah tahu dan hafal benar dengan perasaannya.

Shin Hye yang berusaha menolak pun sulit. Dirinya berada pada posisi yang membuatnya bingung di sisi lain dirinya yang masih menyukai Jae Joong dan belum lagi dirinya kan menyakiti satu hati seorang wanita yang sudah menjadi calon istri Sukkie. Dirinya pun memejamkan matanya. Pening. Tak banyak yang bisa dilakukannya. Namun pikirannya bergemuruh saat itu juga. dan Sukkie pun kembali memaksanya untuk mengikutinya,

“Waktu kita tak lama lagi,” ucap Sukkie tak terselesaikan sembari menarik tangan Shin Hye dan meninggalkan pendeta itu sendirian begitu juga dengan taxi yang mengantarkan mereka tadi. Sukkie pun berjalan kaki menarik tangan Shin Hye.

Jalanan yang tidak bersahabat pun agaknya menjadi kendala bagi kaki Shin Hye untuk berlari hingga idrinya harus terpaksa melepaskan sepatu high heels yang dikenakannya. Melihat hal itu pu;n Sukkie segera membungkuk dan menarik Shin Hye untuk berada digendongannya.

“Kau pegangan. Jangan sampai kau terjatuh.” Kata Sukkie berjalan sembari menunggu Shin Hye yang melingkarkan lengannya ke pundak Sukkie.

 

ღღღ

 

Di area pernikahan pun berlangsung ricuh. Semuanya serba kacau. Para tamu yang melihat mempelai wanita menangis tersedu sedan itu pun mulai meninggalkannya satu persatu. Namun mereka pun berhenti seketika meihat sang mempelai pria yang datang membawa wanita lain di gendonganya. Paman dan bibi Shin Hye pun tak percaya menyaksikan hal tersebut hingga membuat mereka serasa pusing dan berputar – putar menahan tubuhnya yang hamoir – hampir limbung.

“Ya, Tuhan, mana mungkin wanita yang bersamanya itu adalah keponakan kita ?” kata Bibi Ban masih tak percaya dengan apa yang dilihatnya.

“Iya, sayang. Sepertinya aku harus segera membeli kacamat yang baru. Dan memastikan ini hanya penglihatanku  yang salah kendati kacamataku yang sudah usang/” kata paman menayanggah.

“Tapi sepertinya itu benar – benar Shin Hye.”

“Sejak kapan mereka berhubungan ? Bahkan mereka sekarang tak pernah bertemu satu sama lain.” Kata paman masih tak bisa menelan apa yang dilihatnya.

“Ya Tuhan, segera bantu Shin Hye menghadapi ini. aku tidak rela bila keponakanku ini diduakan.” Kata bibi Ban sembarannngan.

“Mana mungkin seperti itu ceritanya ?” ucap paman Ban memukul dahi bibi Ban.

“Pati wanita itu yang telah merebut Sukkie dari Shin Hye atau kalau tidak perasaan Shin Hye kepada Sukkie yang terlambat dan didahului oleh gadis kaya itu.” Jawab paman menganalisa.

“Ah, ya, sudahlah, yang penting kita mendoakan yang terbaik bagi Shin Hye.”

“Begitu pun dengan Sukkie. Aku tidak ingin terjadi apa – apa dengan Sukkie. Itu pasti akan membuat Shin Hye menjadi sangat sedih.” Ucap paman sembari menahan air mata di pelupuknya yang hampir tumpah.

Mendadak mereka pun terdiam melihat Sukkie yang telah menurunkan Shin Hye.

“Sebenarnya gadis yang hendak aku nikahi ialah dia. Park Shin Hye.”

Semua mata pun melihat ke arahnya dengan mulut yang menganga.

 

ღ TO BE CONTINOUED ღ

About shiellafiollyamanda

"Wish my creation can inspire a lot of people, at least around me."
This entry was posted in NOVEL and tagged , , . Bookmark the permalink.

One Response to God Gave Me You

  1. I just want to say I am newbie to weblog and really enjoyed you’re web page. Likely I’m want to bookmark your blog post . You certainly have fabulous posts. Thanks a bunch for revealing your web site.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s