God Gave Me You


CHAPTER 4

#I Begged You#

May 16, ’12 3:51 AM
for everyone

Title : God Gave Me You

Genre : Romance and Comedy

Rate : PG

Author : Shiella Fiolly (io)

Cast :

Jang Geun Seok

Park Shin Hye

Kim Jae Joong

Han Hyo Joo

 

BRAKK.. Tuan Jang pun kesal membanting gelas kaca yang berisi whiskynya hingga pecah ke lantai menjadi berkeping – keping. Dirinya sungguh gusar dengan tingkah Sukkie akhir – akhir ini. baginya semakin hari Sukkie tampang melawan dan membangkang apapun yang dipintanya. Tak satu pun permintaannya yang dipenuhi. Jae Joong juga, justru kedatangannya semakin menambah kemarahannya saja. Tuan Jang tampak mencium aroma konspirasi di sini. Namun dirinya masih berusaha untuk menahan hingga tahu benar dengan apa yang akan diambil Sukkie.

“Kalau sampai hingga pagi ini dia tak pulang, tak usah bukakan pintu untuknya lagi !” pekik Tuan Jang kepada istrinya. Istrinya yang sedikit ketakutan hanya mengangguk – angguk tak pasti demi menenangkan diri menghadapi suaminya yang sedang di bawah kendali emosi.

“Kau juga tidak usah terlalu memanjakannya.” Tambah Tuan Jang sedikit merendahkan nada suaranya.

“Satu lagi, kalau dia berusaha mengambil hati kita untuk memaafkan kesalahannya kali ini, pura – pura saja tidak dengar. Abaikan dia. Sudah cukup kita dibuatnya untuk bermain – main. Mau ditaruh dimana mukamu di depan kawan lamaku, Lim Jae Wook. Semalam sungguh memalukan.” KREKK… tuan Jang menarik dasinya kasar dan melemparkannya sembarang ke belakangnya. Nyonya Jang pun hanya bisa terdiam melihat protes yang bertubi – tubi dari suaminya itu. Dipungutnya dasi yang dibuang tadi dan segera berbaliklah dirinya menuju ke dapur. Dirinya pun mulai membereskan sisa piring dan gelas yang telah digunakan mereka semua sewaktu makan malam. Entah akan membela siapa nyonya Sun ini, tetapi dalam hati kecilnya sebenar – benarnya dirinya pun tak rela bila harus memaksa Sukkie terlalu seperti ini. dirinya paham betul bila Sukkie memiliki cita – cita yang tinggi untuk belajar hingga keluar negeri dan mendalami dunia fotografinya. Namun sebagai seorang istri tidak mungkin juga dirinya akan teguh dan menomorduakan pilihan suaminya.

 

ღ ღ ღ

 

Jae Joong yang tengah datang ke sekolah pun mengendarkan pandangannya menjelajah untuk mencari Sukkie. Sudah semenjak kemarin dirinya heran mengapa Sukkie begitu sulit ditemui. Ada apa dengan dirinya. Tak biasa – biasanya Sukkie pergi keluar hingga selama itu. Biasanya Sukkie lebih suka bermain sky atau traveling bersama dengan Jae Joong sewaktu senggang seperti minggu tenang seperti sekarang ini.

Jae Joong yang lelah tak mendapati keberadaan Sukkie pun akhirnya pergi ke lapangan baseball. Dirinya menarik napas dalam untuk menghirup udara pagi sekalian mencari angin. Kiranya ada orang tidak yang sedang di sana. Sial, tak ada siapa – siapa sama sekali. Namun justru ada baiknya juga. Dirinya bisa bermain bola baseball sesukanya tanpa harus adaa yang mengganggu ketenangannya.

“Yakh… HAP !” Jae Joong pun mulai melempar bola melah yang berbentuk pepat lonjong itu dan mengumpulkan tenaganya untuk melentingkan bola sejauh mungkin. Dicobanya berulang kali hingga sepertinya sudah ada tujuh kali dia mengulang gerakan yang sama. Hingga, terdengar suara orang yang tersandung menyita perhatiannya.

“Yakh ! Jatuh lagi !” keluah salah seorang gadis yang kelihatannya baru saja lewat di sepanjang jalan petak menuju ke tengah lapangan. Dengan cepat dirinya berhenti untuk menali tali sepatunya yang awalnya terlepas hingga menyebabkan dirinya yang sedikit berjalan terburu – buru terlilit tali itu dan naasnya dirinya terjatuh. Menjatuhkan buku – buku paketnya hingga berhamburan di sekitarnya. Jae Joong terang saja langsung mendekat ke arahnya berusaha hendak membantu. Namun sialnya dirinya.

“Untuk apa kau kemari ?” cetus gasi itu.

“Hwang-Ji-Min,” eja Jae Joong membaca tulisan yang tertera di badge sebelah kanan seragam kotak – kotak yang dikenakannya.

“Kenapa ? Cepat pergi. Apa kau hanya mau melihatiku saja !”

“Ayo berdiri !” Jae Joong mengulurkan tangannya. Namun Ji Min tak sedikit un bersikap manis menanggapinya justru dirinya membuang permen karet di mulutnya ke samping tempat Jae Joong berdiri. Jae Joong yang kesal langsung mengatainya keras.

“Dasar gadis gila !”

 

ღ ღ ღ

 

Sukkie baru saja datang di rumahnya. Baru beberapa derap langkahnya memasuki depan pintu. Suara langkah tegas mengikutinya dari arah berlawanan. Dan mendadak entah dari mana seorang pria paruh baya itu sudah berada di samping kanannya dan menampar pipi Sukkie hingga membuat Sukkie mengeringai menahan sakit dan berusaha untuk bangkit kembali. Namun dirinya yang tak punya niatan untuk membalas perlakuan sang ayah yang dirinya tahu sudah pasti tak mungkin mau menerima penjelasan darinya itu pun membuat Sukkie terdiam dn menunduk lesu.

“Kau tahu apa kesalahanmu ?” teriak tuan Jang tepat di samping telinga Sukkie.

Sukkie pun mengangguk sambil memegangi lengannya yang lebam akibat tertumbuk meja sebab tamparan ayahnya yang menyebabkannya terjauh hingga mengenai ujung meja.

“Kau tahu harus bagaimana ayah menghadapi teman ayah ?”

Sukkie pun menggeleng. Namun dirinya masih juga bungkam tak mengatakan sepatah kata pun.

“Lalu sekarang apa maumu ? kenapa masih pulang ? bukankah rumahmu di luaran sana ?” tindas sang ayah sambil mengacungkan jari telunjuknya menghadap ke semua pintu yang mengarah ke jalan raya.

“Maafkan aku, ayah. Ayah boleh menghukumku.” Hanya itu kata yang keluar dari mulut Sukkie.

“Aku tidak butuh permintaan maafmu. Kau sudah dewasa. Hidupmu adalah tanggung jawabmu. Aku hanya perantara.” Tukas ang ayah lalu pergi begitu saja meninggalkan Sukkie yang masih tertunduk berdiri di hadapannya.

Ibu Sukkie yang melihat senidiri dari balik pintu hanya bisa tersenyum miris melihat putra kesayangannya itu diperlakukan tak baik oleh suaminya sendiri.

 

ღ ღ ღ

 

“Ye.. sekarang kau boleh pulanh, terima kasihlah kepada dokter yag sudah memberikan ijinnya untukmu pulang hari ini.” kata Hyo Joo menyemangati Shin Hye yang masih terluka.

“Tentu.” Jawab Shin Hye sambil berpegangan di pundak Hyo Joo untuk menjaga kestabilan langkahnya yang masih terasa berat. Hyo Joo yang mulai dekat dengan Shin Hye pun terlihat tak keberatan. Bahkan dirinya tak lelah sepulang sekolah langsung mendatangi rumah sakit demi mengantar kepulangan teman yang sudah dianggapnya sahabat ini.

“Dimana tas sekolahmu ?” tanya Hyo Joo teringat akan tas Shin Hye sewaktu dirinya tertabrak dua hari yang lalu. Shin Hye yang tak mengingatnya pun juga tak melhatnya. Dipikirnya mungkin saja paman bibi yang membawanya.

“Tak usah dicari. Mungkin ada bersama paman dan bibiku. Kemarin dia kan kemari.”jawab Shin Hye mengingatkan.

“Ehmm. Mungkin saja, ya. ayo, jalan pelan – pelan. Siapa yang menjemputmu ? Paman juga ?” tanya Hyo Joo lagi. Dan Shin Hye pun mengangguk riang.

Namun tak dilihatnya pula sang paman ada sewaktu Shin Hye dan Hyo Joo sudah tiba di depan halaman rumah sakit. Shin Hye pun memutuskan untuk menghubungi nomor rumahnya. Namun tak mendapat jawaban. Dirinya yang mulai gelisah pun berhasil dibujuk Hyo Joo untuk menunggunya di rumahnya saja. Kebetulan tempat tinggal Hyo Joo yang tak begitu jauh hanya berselang  dua ratus meter dari letak rumah sakit itu. Dan Shin Hye pun mengangguk sebab dirinya yang tak ada pilihan saat itu juga. Da akhirnya terpaksa mereka pun berjalan kaki menyusuri jalanan yang cukup panas dan terik di siang itu.

 

ღ ღ ღ

 

Jae Joong pun yang hendak pulang ke rumah, berjalan menenteng tas punggungnya menuju ke tempat parkir, denga cepat dirinya mengemudikan sepeda motornya untuk bergegas menuju rumah Sukkie. Dirinya yang ingin menanyakan untuk apa Sukkie membutuhkan bantuannya semalam itu pun masih penasaran dengan apa yang sebenarnya tengah Sukkie rencanakan. Hingga tak lama baru sepuluh menit berselang dirinya sudah berada tepat di kediaman Sukkie.

Meski sepi tak akan mengurungkan niatnya sekedar untuk masuk ke dalam. Dirinya seperti biasa langsung masuk begitu saja tanpa mengucap salam. Masih memakai helm di kepalanya Jae Joong menuju ke lantai atas untuk masuk ke kamar Sukkie. Benar. Sukkie justru terlihat keleleahan tidur dengan telanjang dada dan hanya mengenakan celana pendek kostum sepak bolanya. Entah baru darimana dia. Jae Joong yang keheranan pun tanpa sungkan – sungkan lekas membangunkan Sukkie.

“Heh ! bangun ! Enak sekali kau tidur setelah tidak masuk sekolah !” jewer Jae Joong ke telinga Sukkie agar Sukkie segera terduduk dan bangun.

“Ch ! apalagi sih, kau ! aku ngantuk. Seharian aku tak tidur !”

“hah ! itu urusanmu !” tukas Jae Joong tak perduli.

“Aku menjaga Shin Hye semalaman,” tambah Sukkie dengan mata yang masih tertutup hendak tidur kembali.

“APA ? Anak gadis siapa yang barusan kau jaga ?” tanya Jae Joong ulang.

“Eh ! entahlah.. namanya Shin Hye, puas !” jawab Sukkie kesal dan kembali tidur. Namun lagi – lagi Jae Joong kembali mengusik Sukkie.

“Kenapa kau tak ajak – ajak kalau sedang ada target baru, hah !”

“Kau ini bicara apa ? aku tidak sedang mencari pasangan ! sudah, pergi sana, aku ngantuk !” banting Sukkie gulingnya ke arah Jae Joong yang terus – terusan menanyainya dengan pertanyaan yang dianggap Sukkie sama sekali tidak penting itu.

“Yakh ! Kau, kalau saja kau bukan adik kelasku, sudah kuremukkan tulang – tulangmu !” cerca Jae Joong kesal atas perlakuan Sukkie kepadanya.

 

ღ ღ ღ

 

Bibi dan paman Shin Hye pun keluar rumah dan menuju ke garasi untuk segera menaiki mobilnya. Dengan langkah yang sedikit terburu mereka berdua berjalan menuju ke mobilnya dan cepat – cepat menggas agar cepat sampai ke rumah sakit tempat Shin Hye keponakannya di rawat. Tak banyak yang mereka persiapkan paling hanya satu buah bantal untuk tempat Shin Hye bersandar agar mengurangi sedikit lelahnya.

Hingga mereka telah sampai ke rumah sakit dan menuju ke ruangan yang merawat Shin Hye namun tak didapati Shin Hye masih di tempat. Semuanya sudah tertata rapi bersih dan kosong. Sudah terlmabat mereka menjemput keponakan mereka itu.

Bibi Ban yang khawatir pun segera menelepon ke rumah Ji Min memastikan apakah Shin Hye sedang berada di sana. Dan ternyata tidak. Begitu pula dengan Bong Gul, Megan. Soo Jin, dan lain – lainnya kecuali ke nomor Hyo Joo yang belum dihibunginya. Bibi yang khawatir pun kembali menuju ke mobilnya dan mengendarainya untuk kembali pulang ke rumah.

“Kenapa bisa begini ?” cemas bibi Ban hingga meremas – remas kedua tangannya di dalam mobil. Membuat suaminya juga ikut panik dibuatnya.

“Kalau kita tungguh hingga pukul 3 sore apa terlalu lama ?” tawarnya melihat istrinya dari balik kaca yang terpasang di atas samping kiri kepalanya.

“Baiklah. Kita berhenti di sini saja demi menunggu Shin Hye kembali.” Ucapnya berhenti di sebuah taman bunga yang terletak tak jauh dari depan rumahnya. Tempat ini sangat cocok digunakan untuk bersantai sambil menikmati pemandangan yang tersaji lewat bunga – bungaan yang terdapat dengan berbagai macam warna menghiasinya.

“Kita tunggu setengah jam lagi.” Kata Bibi Ban menoleh ke arah jam tangan di tangan kirinya.

 

ღ ღ ღ

 

“Astaga ! Shin Hye !” sontak Sukkie bangun dengan tergopoh – gopoh. Dirinya yang langsung meraup pakaiannya lengkap di samping tubuhnya yang memang sudah disiapkan oleh ibunya yang tadi melihatnya terlelap tanpa memakai atasan itu pun masuk ke kamar mandi.

Sekitar 3 menit kemudian dirinya keluar sambil menyisir rambutnya cepat dan menyemprotkan beberapa parfume men ke punggungnya. Setelah itu dirinya pun meraih kunci mobil di ujung meja dan segera turun untuk menjemput Shin Hye ke rumah sakit.

Baru 2 menit dirinya berkendara. Sebuah pesan singkat masuk ke phonecellnya. Dibacanya pesan itu dari nomor yang sama sekali tak dikenalnya. Dirbacanya pesan itu di sela – sela rambu lalu lintas yang masih menyala merah dan ternyata dari Hyo Joo. Meski Sukkie tak begitu mengenal dekat dengan Hyo Joo namun dirinya bisa menangkap bahwa pesan itu mengenai Shin Hye yang ditabraknya.

“Dimana kalian ? aku segera ke sana.” Balasnya ke nomor itu dan setelah itu menyimpan nomor itu di daftar phonebooknya.

“Aku ada di Seoul barat menara. Kau tinggal jalan lurus  saj ke kiri dari rumah sakit. Maka kau akan menemukan rumahku.” Balas Hyo Joo.

Sukkie pun mempercepat laju mobilnya dan berbalik ke rumah Jae Joong yang terletak tak jauh dari tempatnya berada pula. Dirinya yang hafal betul dengan sikap Jae Joong sudah pasti dirinya merongrong dirinya untuk minta dikenalnya dengan gadis baru yang mau menggantikan untuk jadi kekasihnya setelah dirinya telah benar – benar memutuskan kekasihnya yang kini masih mendampinginya, Rae Ha.

 

ღ ღ ღ

 

“Ada setan apa kau ingat aku saat ada kesempatan bagus begini ?”

“Tutup mulutmu dan diam saja. Aku juga tidak akan mengajakmu kalau kau tak memintanya.” Tandas Sukkie tajam.

“Baik, Baik, kawan.” Tangkul Jae Joong ke pundak Sukkie yang membuat Sukkie sedikit risih hingga membuatnya tak stabil sebentar dalam mengemudikan setir mobilnya.

“Apa yang kaulakukan ? kau mau mati ya ?”

“Maaf, maaf. Hhehe..” garuk – garuk Jae Joong ke kepalanya yang tak terasa gatal.

Hingga sesampainya di depan rumah Hyo Joo pun Sukkie langsung memencet klaksonnya agar sang pemilik rumah segera keluar. Dan beberapa detik kemudian keluarlah seorang gadis dengan memakai syal yang membalut lehernya dan penutup kepala yang terbuat dari bahan wol itu. Dirinya yang tanpa disadari meras tengah dinanti – nanti itu pun segera keluar dan berniat menggandeng Shin Hye masuk ke mobilnya. Namun, belum- belum dirinya keluar, Sukkie sudah kalah cepat denga Jae Joong yang lebih dulu menyapa Shin Hye dan membantu membawakan tas kecil yang diberada di tangan Shin Hye sebelumnya.

“Eh, tidak usah, aku saja.” Kata Shin Hye sopan.

“Ah, aku ikhlas. Tenang saja. Tidak memungut bayaran.” Senyum Jae Joong yang memdadak membuat Shin Hye tertegun memandanginya seperti sedang menataap seseorang yang dicintainya. Sukkie yang tak enak melihat pemandangan ini pun segera berteriak memanggil Hyo Joo dan setelah Hyo Joo keluar dirinya segera mengucapkan terima kasih kepada Hyo Joo yang telah memberikan bantuan kepada Shin Hye. Bagaimana pun seharusnya ini masih menjadi tanggung jawab Sukkie. Alasannya.

“Ayo. Kami pulang dulu. Kapan – kapan. Ganti kau yang mampir ke rumah kami, Hyo Joo. Shin Hye aku bawa.” Kata Sukkie menunduk dan segera lekas pergi meninggalkan rumah Hyo Joo.

Di dalam mobil pun Jae Joong sepertinya terus – terusan berusaha untuk menggodai Shin Hye. Terlihat kentara sekali dirinya yang berusaha bersikap sok main di hadapan lawan jenisnya itu. Sukkie yang mulai mencium bau – bau rayuan gombalnya hanya mengulurkan lidahnya menahan rasa muak yang ditahannya sejak tadi sebelum mengantarkan Shin Hye. Apa lagi yang akan dilajukan bocah curut itu ? apa dia masih kurang sudah mendekati empat wanita dalam seminggu ini. Sukkie yang melihatnya pun geli dan mengerem dadakan mobilnya, hingga Jae Joong dan Shin Hye pun yang duduk di belakang terdorong maju hampir menatap kursi di depannya. Sukkie tak sengaja melakukan hal itu. Namun agaknya Jae Joong yang sensitif mengirai Sukkie sedang cemburu kepadanya.

“Ya !! Kau.. Kalau tidak suka bilang, jangan seperti anak kecil begini !

“Anak kecil katamu !” pelotot Sukkie berbalik menghadap Jae Joong.

 

ღ TO BE CONTINOUED ღ

About shiellafiollyamanda

"Wish my creation can inspire a lot of people, at least around me."
This entry was posted in NOVEL and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s