God Gave Me You


 CHAPTER 3

#Take comfort in your friends#

May 15, ’12 7:28 PM
for everyone

Title : God Gave Me You

Genre : Romance and Comedy

Rate : PG

Author : Shiella Fiolly (io)

Cast :

Jang Geun Seok

Park Shin Hye

Kim Jae Joong

Han Hyo Joo

“Kenapa Bibi bisa ada di sini ? Mau apa dia kemari ?” pikir Sukkie yang barusaja melihat seorang wanita paruh baya yang berjalan memasuki loby dan mengenakan long dress coklat berenda di kerahnya.

Melihat wanita itu Sukkie langsung saja mengenalinya. Iya, wanita yang empat hari lalu berkunjung ke rumahnya demi berkenalan sambil membawakan kue brownies dalam kardus kotak yang dihiasnya sendiri. Dia belum lama ini tinggal di Seoul. Dan dirinya pula yang masih notabene penghuni baru di perumahan tempat tinggal Sukkie berada meski mendatangi para relatif barunya di perumahan itu satu per satu, tak terkecuali di kediaman keluarga Jang Il Suk, ayahnya. Ya, Sukkie yakin sekali dia bibi itu. Meski sedikit lupa siapa namanya namun dirinya masih ingat sekali kalau surname wanita itu adalah Ban. Hah. Sukkie jadi ingin tahu sebenarnya apa yang tengah dilakukan bibi itu di rumah sakit itu. Apa ada keluarganya yang sakit ?

Tapi mendadak panggilan masuk muncul lagi di phonecellnya. Kali ini, sang gulma, Jae Joong. Sudah bisa dipastikan dirinya akan marah besar sekedar menumpahkan kekesalannya sebab Sukkie yang dipikirnya tak bisa menepati janjinya untuk datang memenuhi permintaannya. Hah ! angkat tidak ? Angkat. Tidak. Angkat !

“Ya, apa lagi ? aku belum bisa datang, Jae Joong. Nanti saja marahnya !”

“Sebenarnya kau itu sedang dimana, sih ? kenapa kau juga tidak ada di rumahmu ? Aku ke sana hanya ada ibumu.” Terang Jae Joong.

“Aku ada di rumah sakit.”

“Hah ? Bagaimana bisa ? Bagaimana ceritanya ?”

“Akh ! Sudah, kau diam saja. Ceritanya panjang. Justru sepertinya aku yang akan meminta bantuanmu kali ini.” ucap Sukkie setengah berpikir untuk memohon kepada Jae Joong.

“Apa itu ? Asal tidak membujuk orang tuamu saja aku bisa.”

“Itu mudah. Kau tinggal datang saja ke rumahku. Pakailah tuxedo atau setelah jas, apapun yang terlihat wah. Setelah itu kau ke rumah tepat pukul 9 malam. Okay.”

“Apa ? Kau gila ? sudah jam berapa sekarang. Hanya ada sisa waktu  setengah jam.”

“Ah, yang penting kau datang saja. Nanti aku terangkan lebih lanjut. Terlambat sedikit juga tidak akan ada masalah.” Tandas Sukkie berdecak di akhirnya katanya.

“Baiklah. Aku bisa. Ini tidak akan lama, bukan ?” tawar Jae Joong.

“Tidak. Aku jamin. Yang penting kau bilang tidak, tidak saja. Kalau mereka bertanya kepadamu jawab dengan jawaban yang terburuk. Mengerti.”

“Hah ? Apa kau tak salah ? itu bisa menurunkan imagemu.”

“Justru itu yang aku harapkan. Baiklah segera berbenahlah. Nanti kabari aku.” Sukkie pun  menutup teleponnya dan memasukkan phonecellnya ke saku jaket kulitnya.

 

ღღღ

 

Shin Hye yang mulai siuman pun mengerjab – ngerjabkan matanya demi menghindari silau sinar lampu yang begitu mencolok bagai menuuk matanya. Sudah hampir empat jam dirinya tidak sadarkan diri. Merasakan ada yang nyeri di kepalanya membuatnya memegangi dahinya dan mencoba untuk mendudukkan tubuhnya. Sedikit bingung sebab tahu – tahu sudah banyak orang yang berada di hadapannya. Ada Bong Gul, Megan, Hyo Joo, Ji Min, dan sepertinya masih ada yang lain yang sedang menyaksikannya dari balik jendela kaca di sisi kirinya.

“Sudah, jangan terlalu banyak bergerak. Kau masih perlu istirahat yang cukup, Shin Hye.”

“Bagaimana keadaanmu ? Sudah baikan ?” tanya Soo Jin hendak memegang balutan putih tebal yang melingkar di kepala Shin Hye, namun buru – buru Ji Min menampiknya.

“Jangan disentuh dan jangan banyak ditanyai dulu. Biarkan dia tenang.”

“Kami semua mencemaskanmu, kau tahu ?”

“Iya, bagaimana bisa jadi seperti ini.”

“Iya, benar. Mendengar ini kami buru – buru datang kemari untuk menjengukmu.” Ungkap Megan tersenyum simpul.

“Terima kasih, ya.” ucap Shin Hye datar sepertinya masih menahan kesakitan di kepalanya.

Mendadak terdengar suara gagang pintu yang dibuka dan berdenyit lalu masukkan seorang wanita dan pria begitu saja tanpa mengucap salam. Melihat ke arah teman – teman Shin Hye, sepertinya keduanya sedikit tidak suka terhadap mereka. Sinis dan sadis tatapan yang mereka arahkan. Dari dandanannya seperti keduanya juga bukan orang biasa. Membuat sesekali Bong Gul dan yang lainnya merasa tak nyaman.

“Lain kali biar kuantar saja kau ke sekolah, begitu pun menjemputmu.” Ucapnya tandas dan tegas. Kaku sepertinya pria itu berbicara kepada Shin Hye.

“Tidak apa – apa, Cuma sakit sedikit.”

“Tapi ini bukan main – main.” Tambah sang wanita di sebelahnya.

“Benar. Bagaimana pun kepala itu tidak boleh terbentur oleh apapun.” Timpa lagi pria itu.

“Iya, aku akan berhati – hati untuk selanjutnya.”

“Tak perlu berjanji. Lakukan sendiri untuk dirimu.”

“Eum.” Jawab Shin Hye terlihat patuh dan menuruti pesan kedua orang tua tersebut.

 

ღღღ

 

“Haching.. Aku sepertinya sedang flu, ayah. Lalu bagaimana berangkat ke perjamuan dengan keluarga teman ayah nanti ?” tanya Kim Byung manja kepada ayahnya sambil bersolek di depan kaca besar di dalam kamarnya.

“Sudahlah, diobati saja sana. Nanti juga sembuh.” Jawab santai sang ayah.

“Tapi, bagaimana kalau aku jadi mengantuk nanti.”

“Tidak akan. Setelah melihat putranya kupastikan kau tak akan mengantuk. Dia pria yang tampan dan berwibawa. Pokoknya jangan sesekali kau memperlihatkan kekuranganmu di depannya, mengerti ?” tukas sang ayah memperingatkan anak gadisnya itu membuatnya cemberut memanyungkan bibirnya tak terima.

“Ayah saja yang bicara. Aku dengarkan saja.”

“Mana boleh begitu. Kau juga harus ada inisiatif untuk berbincang – bincang dengannya. Cari kesempatan yang bagus. Dan jangan banyak bicara soal ibumu, mengerti.”

“Iya, iya, ayah. Itu aib. Aku mengerti.” Jawab Kim Byung santai. Lalu kembali memoles pipinya dan memasang anting – anting mutiara di telinganya. Dirinya sudah mempersiapkan pertemuan ini jauh – jauh hari setelah melakukan kencan buta yang gagal dengan pria pilihan ayahnya yang pertama kali. Entahlah, dirinya yang bawel ini membuat lelaki mana yang tahan dengan sikapnya itu. Belum apa – apa saja dirinya sudah mengajukan perjanjian untuk ini – itu. Bukankah komitmen itu dibangun dengan kesediaan bersama. Dirinya terlalu banyak mendominasi dalam sebuah hubungan hingga – hingga membuat pasangannya menjadi muak dan tak tahan untuk melanjutkan hubungannya dengan Kim Byung. Namun, status sosial yang tinggi justru membuat dirinya tak berintrospeksi diri dan malah semakin menjadi saja.

 

ღღღ

 

Di Lobi pun Sukkie yang mendengar ada yang ramai dengan ruang di sebelahnya dimana seorang pasien yang barusaja dipindahkan dari ruang ICU itu pun membuatnya penasaran. Apa mungkin itu gadis yang ditrabraknya tadi ? dengan sigap dirinya segera memeriksa ke jendela yang menghubungkan dengan ruangan itu. Kamar nomor 108 yang bernuansa serba hijau muda. Sedikit selambu yang membuatnya terhalang untuk melihat siapa yang tengah berada di ruangan itu. Namun sepertinya benar, gadis yang ditrabraknya temppo sore. Kenapa suster tak bilang kalau memang sudah dipindahkan. Keterlaluan. Apa dia lupa kalau sedari tadi menunggu beritanya.

JLEG.. sebuah pengait pintu itu pun dibukanya. Berdirilah ia memposisikan tubuhnya di depan kursi samping pasien itu dirawat. Sukkie tak mendapati sesuatu yang berarti namun dilihatnya justru gadis itu yang tengah terlelap dan ditunggui oleh dua orang dewasa di sampingnya. Yang wanita sedang mengusap – usap puncak kepala gadis itu dan yang pria sedang sibuk membaca koran sambil duduk dengan mengangkat satu kakinya seperti bos lengkap dengan kopi panas di sampingnya. Sukkie pun membungkukkan badannya di hadapan kedua orang tua itu. Tak satu pun dari mereka yang menghiraukannya. Hingga Sukkie pun memberanikan diri untuk menanyakan bagaimana keadaan gadis itu.

“Shin Hye sudah tidak apa – apa. Kau boleh pergi.” Tukas sang wanita sambil memandangi sayu ke arah Shin Hye.

“Tapi, Bi. Aku ke sini sebab aku yang telah menabraknya. Aku minta maaf atas kelalaianku.” Tunduknya lagi.

“Iya. Kami sudah dengar dari Ji Min. Dia tidak apa – apa. Ini semua murni kecelakaan. Lagipula Shin Hye juga yang tidak berhati – hati menyeberang. Tak perlu menyalahkan dirimu.”

“Oh. Begitu. Kalau begitu aku bisa bantu apa, Bi ?” Sukkie mencoba menawarkan bantuan.

“Tidak. Tunggu saja dia siuman setelah itu. Akan kuantar kau ke rumah.”

“Oh, tidak perlu. Aku membawa mobil. Justru aku yang menghawatirkan dia.”

“Dia ? Dia punya nama. Kenapa kau terus menyebutkan dia. Apa kalian tidak saling mengenal ? lalu kau siapanya ?” tanya wanita itu ingin tahu.

“Eh, sebenarnya aku belum pernah kenal dia sebelumnya. Dan maka dari itu aku merasa sangat bersalah telah menyebabkan putri anda menjadi begini. Aku hanya mendapat nomor phonecell anda dari kedua temannya yang waktu itu pulang bersamanya.” Terang Sukkie menjelaskan dengan kronologinya.

“Dia ini bukan putri kami. Dia ini keponakan kami. Orang tuanya sedang berada di luar negeri. Mereka tak pernah datang mengunjunginya karena sama – sama sibuk dan sudah berpisah.”

“Oh, aku minta maaf, Bibi.”

“Tak perlu. Itu bukan apa – apa. Kejadiannya sudah lama berselang.”

“Iya, aku mengerti. Lantas Bibi yang mengurusnya semenjak itu.”

“Iya.”

“Oh. Kalau begitu dia beruntung masih memiliki orang tua seperti bibi.” Tunduk Sukkie lagi. Dan mereka berdua pun keluar untuk mencari minuman sekedar untuk melepas dahaga. Sukkie bisa langsung care terhadap bibi itu. Begitu pula sebaliknya. Yang awalnya bibi Ban begitu ketus dan dingin justru dirinya bisa seakrab itu dengan Sukkie.

 

ღღღ

 

Tepat pukul 09:00 malam pun Jae Joong sudah siap di depan pintu rumah Sukkie. Seperti janjinya untuk memakai tuxedo sesuai dengan permintaan Sukkie kepadanya diriya melenggang sempurna sambil memencet bel di teras depan. Ibu Sukkie pun nyonya Sun Ae Ni membukakan pintu untuknya. Dirinya yang begitu bingung dengan pakaian yang tengah dikenakan Jae Joong itu langsung menegurnya.

“Kenapa berpakaian serapi ini. mau kemana ?”

“Ah, Sukkie menyuruhku untuk datang kemari, Bi.” Mendadak Jae Joong pun langsung masuk begitu saja tanpa dipersilahkan. Ibunda Sukkie hanya menggeleng lagi – lagi dan sesekali melirik ke arah suaminya tanda dirinya juga bingung dengan apa yang sedang direncanakan Jae Joong kali ini.

TING TONG TING TONG

Suara bel berbunyi untuk yang kedua kali. Nyonya Ae Ni pun kembali menuju ke ruang depan untuk membukakan pintu. Tepat keluarga pak Lim, rekan kerjanya sudah tiba. Buru – buru dirinya mempersilahkan masuk dan tentu mereka langsung mempersilahkannya ke meja makan di ruang samping ruang tamu. Dan sudah bersiap Jae Joong yang menempati tempat duduk yang seharusnya Sukkie duduki.

“Selamat malam, tuan Lim.” Apa maksud semua ini. Ibunda Sukkie hanya mengecap lidahnya dan duduk di tempata duduknya. Begitu pula dengan sang ayah Sukkie yang masih tenang saja melihat jam tangannya sesekali. Mencemaskan Sukkie apa mungkin dirinya akan datang terlambat untuk acara perjamuan sepenting ini ?

“Eh, sebentar kita tunggu Sukkie, ya ?” kata tuan Jang mengawali pembicaraan.

Terlihat sekali raut kekecewaan di wajah Kim Byung yang telah salah mengira bahwa lelaki yang duduk sehadap dengannya adalah calon suaminya. Ternyata bukan.

“Oh, iya, paman. Memang Sukkie kemana ?” tanya Kim Byung seraya membenarkan posisi duduknya agak lebih nyaman.

“Entahlah, biasanya dia sudah datang. Mungkin maih di jalan. Ya, sudah sambil makan saja kita bicara.” Akhirnya tuan Jang mempersilahkan mereka makan bersama dan dipikirnya Sukkie akan datang. Hingga sudah empat puluh lima menit, yang dinanti pun tak kunjung datang. Alhasil  tuan Jang mulai gusar dan menanyai Jae Joong.

“Jae Joong, kau tahu kemana kiranya Sukkie berada ?”

“Oh, tidak paman.”

“Kalau begitu apa Sukkie berpesan kepada tadi sewaktu bertemu ?”

“Aku bahkan belum bertemu Sukkie seharian ini.” ucap Jae Joong tak kalah santainya.

“Lalu kemana dia ? Sungguh anak kurang ajar.” Geram tuan Jang menyingkirkan steak yang ditusukan garpunya.

 

ღღღ

 

“Hati – hati.” Batu Sukkie memapah Shin Hye yang mulai berusaha untuk berdiri.

“Eum.” Angguk Shin Hye yang merasa sedikit terbantu sebab sedari tadi dirinya yang mulai bosa berada di ruangan serba hijau itu dan alih – alih ingin segera keluar. Namun harus menunggu hingga dua hari ke depan sampai keadaannya benar – benar pulih.

“Kau bisa jalan, kan ?” tanya Sukkie meyakinkan Shin Hye bahwa dirinya benar – benar kuat berdiri.

“Emm.” Angguknya lagi.

“Sekarang coba berjalan.” Selangkah dua langkah Shin Hye bisa berjalan maju. Namun untuk selanjutnya dirinya mulai merasakan nyeri sekali di bagian alat tumpu bawahnya. Lututnya mendadak bergetar hebat menyebabkan dirinya kehilangan keseimbang. Bukan seperti kesemuatan lebih – lebih seperti tersengat listrik yang mengalir perlahan semakin membesar di tubuhnya. Shin Hye pun terjermbak jatuh di hadapan Sukkie. Sukkie yang kaget tergopoh – gopoh berusaha menolongnya bangun. Namun Shin Hye terlihat begitu kesakitan. Dan hal ini cukup membuat Sukkie kebingungan haru bagaimana.

“Ayo, naik saja ke punggungku.” Tawar Sukkie kepada Shin Hye yang masih tetap terduduk di tempat.

“Nanti akan aku carikan kursi roda untuk kau berjalan – jalan.” Tambahnya.

Namun Shin Hye yang menolaknya hingga terpaksa Sukkie memapahnya ke tempat tidurnya. Infusnya yang tak sengaja terlepas itu pun mengucurkan sedikit air bening kekuningan yang membuat Sukkie cukup panik dan segera memencet bel untuk meminta bantuan suster memasangkannya kembali.

“Aku tidak apa – apa. Kau pulang saja.” Kata Shin Hye tiba – tiba yang melihat wajah Sukkie kebingungan. Bagaimana pun Sukkie tidak akan membiarkannya sendirian. Sukkie tidak enak terhadapnya yang begitu tegar. Lagipula paman dan bibinya sudah mempercayakan Shin Hye kepadanya selama mereka pulang untuk menyiapkan sarapan dan pakaian ganti untuk Shin Hye.

“Sudahlah. Kau tidak usah cemaskan yang lain. Istirahat saja.”

“Tapi aku masih ingin jalan – jalan.”

“Oh, kau ingin jalan – jalan. Kalau begitu tunggu suster datang aku akan mengambilkan kursi rodanya.”

“Terima kasih, …” lirik Shin hye.

“Sukkie.” Jawab Sukkie mengatakan namanya.

“Terima kasih, Sukkie.”

“Tapi ini masih jam 2 pagi. Kau yakin ini jalan – jalan keluar ?”

“Emm.” Lagi – lagi Shin Hye mengangguk dan membuat Sukkie sesekali mengamati ke arahnya. Dirinya teringat akan cerita tentang keluarga Shin Hye dari bibi Ban tadi malam.

 

 

ღTO BE CONTINOUED ღ

About shiellafiollyamanda

"Wish my creation can inspire a lot of people, at least around me."
This entry was posted in NOVEL and tagged , . Bookmark the permalink.

One Response to God Gave Me You

  1. Rich says:

    Webmaster, I am the admin at SEOPlugins.org. We profile SEO Plugins for WordPress blogs for on-site and off-site SEO. I’d like to invite you to check out our recent profile for a pretty amazing plugin which can double or triple traffic for a Worpdress blog and we just posted a video showing the plugin in action. You can delete this comment, I didn’t want to comment on your blog, just wanted to drop you a personal message. Thanks, Rich

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s