God Gave Me You


CHAPTER 2

#Maybe Didn’t Put Enough On#

May 14, ’12 10:55 PM
for everyone
Title : God Gave Me YouGenre : Romance and Comedy

Rate : PG

Author : Shiella Fiolly (io)

Cast :

Jang Geun Seok

Park Shin Hye

Kim Jae Joong

Han Hyo Joo

Tak lama kemudian mobil Picanto kuning yang membawa Shin Hye pun telah sampai di rumah sakit Seoul. Pemuda yang mengemudikan mobil itu pun keluar dari pintu kiri dan segera membukakan pintu kanan mobilnya mengeluarkan Shin Hye dalam gendongannya. Segera sebuah tandu dorong menuju ke arahnya yang memang sebelumnya pemuda ini memang sudah menghubungi pihak rumah sakit. Melihat dari gaya dandanannya pemuda ini nampak familiar dan sepertinya cukup berpengaruh. Dirinya bahkan tak sekali pun berniat melepaskan kaca mata hitam yang sedari tadi dikenakannya untuk menutupi matanya. Sesekali dirinya melepaskan earphone yang tengah terpasang di telinganya untuk mendengarkan penjelasan dari para dokter senior yang tengah dipesannya untuk segera mengobati gadis yang barusan ditabraknya tanpa sengaja itu.

Kendati dirinya juga yang tengah gelisah sebab pemuda ini yang harus menepati janjinya kepada sahabatnya di seberang yang pasti juga tengah menunggunya. Diputuskannya dirinya segere mengirimkan pesan singkat kepada sahabatnya di seberang itu agar tidak buru – buru menyuruhnya datang sebab belum bisa dipastikan hingga berapa menit ke depan semuanya akan beres hingga gadis yang sedang dibawanya benar – benar siuman. Dirinya dengan sabar pun menunggu di loby berdiri sambil memandangi punggung – punggung pasien yang berlalu – lalang berjalan – jalan dengan kursi rodanya. Entah apa yang pemuda itu pikirkan, namun tak terlihat sedikit pun kecemasan dalam wajahnya. Atau memang dirinya tak khawatir sama sekali mengenai keadaan gadis yang dibawanya tadi.

Kalau pemuda tadi pikir – pikir, sepertinya dirinya juga pernah melihat gadis tadi sekali. Namun entah dimana tepatnya. Dirinya pun berpikir keras untuk menemukan dimana dirinya merasa pernah menemui gadis itu. Kalau di jalan yang barusan dia lewati tadi, sudah bisa dipastikan gadis itu bertetangga dengannya kalaupun memang benar gadis itu tinggal tak berjauhan dengan lokasi kejadian tabrakan tadi terjadi, tapi sepertinya bukan itu juga. Sesekali pemuda itu mengetuk – ngetukkan ujung phonecellnya yang ujung marmer meja recepcionist yang dipakainya untuk menyandarkan punggungnya itu mengurangi kepeningan di kepalanya. Dirinya masih berusaha keras untuk mencarii tahu siapa sebenarnya gadis yang tengah dibawanya tadi.

Ah ! melihat tas ransel milik gadis tadi yang tergeletak di kursi yang barusan dia duduki tadi, pemuda itu pun akhirnya mengingat sesuatu. Tas ransel itu yang biasa dikenakan gadis penghuni baru di rumah sebelah tempat tinggalnya yang juga sekarang tengah bersekolah di sekolah yang sama dengannya. Tak salah lagi. Iya, benar. Dirinya pun menyaksikan seksama tas ransel tersebut dan menggeledah apa saja kira – kira barang yang dibawanya. Hanya phonecell lipat yang terletak di resleting paling depan. Gadis macam apa dia itu ? tak ada satu pun alat rias di tasnya, parfume, atau bedak pun tidak. Hingga membuat pemuda ini makin penasaran dan hanya menemukan satu ipod yang terselip di saku kiri tas ransel berwarna orange itu. Apa gadis itu penggila musik ? pikirnya. Hah ! sudahlah. Lagipula dirinya juga belum terlalu mengenalnya, tak baik membuka – buka isi tas orang. Namun dirinya terlanjur penasaran. Dibereskannya lagi barang – barang yang berasal dari dalam tas ransel orange itu dan diletakkan kembali ke tempatnya sama persis dengan tempat semula supaya ketika gadis itu memeriksanya dirinya tak curiga bahwa ada yang mengobrak – abrik tas ransel miliknya.  Pemuda itu pun masih setia menunggu meski pun sampai terkantuk – kantuk duduk di sebelah koridor.

 

ღღღ

 

Sementara itu Hyo Jyoo dan Ji Min yang tengah berusaha menghubungi Megan untuk mengabari bahwa Shin Hye sahabatnya sedang menghadapi maasalah sekarang ini perihal dirinya yang tertabrak mobil saat menyeberang jalan raya di depan rumahnya. Kedua gadis ini pun segera mengabari kepada yang lain juga. Rencananya nanti malam keduanya bersama dengan teman – teman yang bersedia pergi menjenguk Shin Hye akan datang bersama – sama untuk melihat keadaan Shin Hye di rumah sakit. Tentu juga bersama dengan orang tua Shin Hye. Awal mulanya Ji Min yang mengabari Bong Gul. Kemudian Bong Gul mengabari Yoo Mi dan Gong Jin. Lantas Gong Jin yang selaku ketua kelas di kelasnya itu pun segera menyebarkan berita ini kepada teman – teman sekelasnya yang lain. Dalam waktu tak lama pun akhirnya mereka berlima berhasil mengumpulkan hampir separuh dari siswa – siswi kelas. Dan mereka pun kencan untuk menjenguk Shin Hye nanti pukul 07:00 malam, dimana jam jenguk malam dibuka.

Tak banyak pula bahan – bahan yang mereka bawa untuk menjenguk Shin Hye, hanya ada beberapa buah dalam ranjang seperti apel dan jeruk, kemudian roti dan selai. Lagipula bukankah bukan ini yang diharapkan dari mereka, namun doa justru yang akan lebih membantu untuk keajaiban kesembuhan Shin Hye.

“Semoga Shin Hye senang melihat kita datang mengunjunginya,” harap Ji Min berjalan paling depan di antara kedua belas teman wanitanya yang berjalan santai di belakangnya.

“Tentu saja. Sebagai siswi baru harusnya dia bersyukur kita sudah memperhatikannya sedemikian ini.” ujar Chong Han siswi ketua Cheerleader yang memang sedari awal terlihat iri terhadap Shin Hye yang notabene cuek dan tak banyak omong, namun banyak mendapatkan perhatian hingga banyak siswa yang terpusat padanya.

“Kau ini bicara apa ? tak seharusnya kau bilang seperti itu. Shin Hye itu teman kita. Kita harus memberinya semangat.” Sela Kwang Min.

“Heh ! Kau, Soo Jin ajari temanmu Chong Han itu. Jangan sampai bibirnya berkata yang macam – macam setiba di rumah sakit.” Tunjuk Hyo Joo ke arah Soo Jin, siswi yang selalu dekat dengan Chong Han sedari awal masuk ke SMU.

“Kenapa aku ?” keluh Soo Jin melirik ke arah Hyo Joo hendak protes namun tak ada nyali. Terpaksa dirinya lagi – lagi harus pasrah terhadap suruhan sahabatnya itu. Dirinya juga tidak ingin terjadi peristiwa yang tidak – tidak dengan Chong Han yang bisa mengganggu ketenangan yang lain.

“Hihhh ! Masih berani bertanya lagi ! Awas kau, ya !” geram Hyo Joo mengepalkan tangannya bersiap – siap ingin menjitak kepala Soo Jin yang tolol ini. namun lagi – lagi dirinya harus berusaha menahan diri untuk tidak marah selagi di tempat – tempat umum seperti di jalan raya ini. beruntung letak rumah sakit yang tidak terlalu jauh dari lokasi sekolah mereka hingga mereka tak perlu kerepotan untuk membawa kendaraan. Cukup jalan kaki juga sampai. Paling hanya akan makan waktu sepuluh sampai lima belas menit.

 

ღღღ

 

Sementara Jae Joong yang terlihat kesal sekali sebab Sukkie yang ternyata tak dapat datang dan mendadak membatalkan untuk datang membantunya demi menyelesaikan masalah yang sedang mendesak.

“Sebetulnya semendesak apa sih, masalahnya dibandingkan dengan masalahku ?” geming Jae Joong meremas botol seng pepsinya hingga kempes dan menyemburkan sedikit air gula itu ke lengannya.

“Kalau ada masalah, kenapa tidak membicarakannya denganku ? apa dia tidak percaya terhadapku ? teman macam apa itu ?” gemas Jae Joong akhirnya dia pun memutuskan untuk pergi ke rumah Sukkie.

Ditariknya kasar jaket yang menggantung di lemari kaca di sambing laci yang biasa dia gunakan untuk menaruh kunci tempat latihannya. Dengan terberu – buru dan langkah yang lebar dirinya berjalan cepat menuju ke jalan raya dan menghentikan taxi yang kebetulan lewat tepat saat dirinya begitu membutuhkan transport untuk menuju rumah Sukkie yang letaknya lumayan jauh dari tempat Gymnya itu.

 

ღღღ

 

Salah seorang dokter wanita pun keluar dengan membawa secarik kertas yang baru saja ditandatanganinya dan diserahkannya ke suster yang sudah menunggunya sedari tadi di ruang sebelah loby tempat Geun Seok tertidur. Beberapa percakapan ringan membuat Geun Seok terbangun dari tidurnya dan segera beranjak untuk mengecek sudah berapa jam dirinya menunggu kesadaran gadis yang tengah dibawanya tadi. Namun sayang tak terpasang satu pun jam dinding di sekitar loby tersebut. Hanya saja beruntung suster yang mengerti seakan apa yang Geun Seok cari pun segera memberitahunya ini sudah pukul 07:28 malam. Geun Seok yang mendengarnya pun membungkukkan badannya berterima kasih kepada sang suster. Dirinya juga menanyakan bagaimana keadaan gadis itu.

“Sebentar lagi hasil tesnya keluar, tuan. Mohon tunggu sebentar lagi, ya ?”

“Eh, baiklah, suster,”

“Oh, apa tuan ini keluarganya. Kami butuh tanda tangan keluarganya di bagian ini.” sambil menunjukkan letak di ujung kanan kertas yang berisikan hasil tes kesehatan Shin Hye. Beruntung semuanya normal, dari hasil yang didapat dirinya juga tidak memiliki riwayat kesehatan buruk sebelumnya. Ini berarti kemungkinan Shin Hye bisa langsung keluar sepulihnya dari luka di kepalanya.

“Eh, apa maksud suster terdapat luka di kepalanya ? apakah parah ?” Geun Seok yang mulai cemas membaca hasil kesehatan Shin Hye tersebut.

“Tidak. Mungkin akan sembuh dalam waktu tiga sampai empat hari ke depan, tuan. Tuan tenang ya.”

Geun Seok pun mengangguk sedikit mencoba mencerna perkataan sang suster tadi. Berharap tidak akan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan olehnya. Yang dia tahu sejak dia membawa gadis itu ke rumah sakit tak terlihat satu pun luka di tubuhnya, tapi entahlah kalau malah ada luka dalam. Semoga tidak demikian.

 

ღღღ

 

“Paman, Bibi, Geun Seok ada di kamarnya ?” tanya Jae Joong yang langsung masuk ke runag makan rumah Sukkie. Seperti biasa dirinya yang sudah biasa diperlakukan seperti keluarga di rumah Sukkie itu pun membuatnya seperti tak tahu aturan kalau berada di sana.

“Eoh, tadi dia pergi. Tapi tak bilang mau kemana ? untuk apa mencarinya ?” tanya nyonya Ae Ni, ibunda Sukkie yang sedang menyiapkan makan malam di meja makan besarnya.

“Tapi dia tidak ada di tempat Gym.” Jawab Jae Joong.

“Sejak kapan dia keluar ?” tambahnya bertanya.

“Kira – kira dua setengah jam yang lalu.”

“Baiklah, bi. Aku keluar dulu. Kalau  Sukkie datang bilang aku mencarinya. Mari, Bibi.” Tanpa memberi salam Jae Joong pun berlari keluar begitu saja meninggalkan ibu Sukkie yang dibuat bingung oleh tingkahnya. Dasar anak muda !

“Ayo, ayah, kita makan bersama.”

 

ღღღ

 

“Ah, akhirnya kita sampai juga di rumah sakit. Ayo, siapa yang ingin masuk lebih dulu. Kau, Ji Min. Maju !” pinta Hyo Joo yang sudah bersiap membawa buah – buahan di tangannya hendak masuk ke pintu rumah sakit namun masih ragu untuk menunggu Ji Min.

“Kau saja masuk duluan. Aku di belakangmu.”

“Jangan bercanda. Kau kan yang biasa di depan.” Tarik Hyo Joo ke arah tangan Ji Min yang sedari tadi masih menganggur tanpa membawa apa pun.

“Kalau kau tak mau, Chong Han saja ! Ayo, kemari !” gerak jari telunjuk Hyo Joo yang diarahkan ke depan muka Chong Han yang sedari tadi hanya membenarkan roknya tak henti – henti,

“Sudahlah. Sudah cantik. Tak perlu ditata. Tak akan ada yang memperhatikan penampilanmuu di rumah sakit ini.” sambung Megan yang baru membuka tubuhnya dan mengawali masuk.

Mereka pun menuju ke ruang receptionist dan menanyakan letak kamar pasien bernama Park Shin Hye itu yang baru saja tertabrak dan betapa kagetnya mereka semua melihat Sukkie yang semenjak tadi pagi menjadi perbincangan di kelasnya sebab tak biasanya dirinya yang absen di kelas, sedang tidur di kursi panjang di hadapan mereka.

“Yakh, yam ampun, Sukkie ! ini benar kau, kan ? bagaimana kau bisa di sini ? siapa yang sedang kau jaga ?” tanya Ji Min berbondong ke arah Sukkie yang merasa terganggu masih mengusik matanya.

“Hei, kau sudah lama di sini ? apa karena ini kau tak masuk sekolah tadi ?” tambah Bong Gul yang bertanya ke arah Sukkie.

“Ya sudahlah, sepertinya dia kelelahan. Kita tinggalkan saja dia. Lagipula tujuan kita kemari, kan, ingin menjenguk Shin Hye. Kenapa jadi membahas dia ? Ayo !” kata Soo Jin mengingatkan. Akhirnya semuanya pun mengikuti langkah Soo Jin yang masuk ke sebuah ruang ICU yang berada tak jauh dari lorong tempat mereka datang tadi.

Sebuah tangan pun menyentuk bahu Soo Jin. Seorang dokter wanita muda, Nona Hae Rim yang terlihat dari badge yang disanding di samping seragam putih – putihnya menyapa dengan senyuman manisnya.

“Adik – adik, pasien ini belum bisa dijenguk untuk sekarang ini, ya. biarkan dia beristirahat lebih lama. Besok kalian baru bisa menjenguknya sekalian mengantar kepulangannya.”

“Tapi keadaannya baik – baik saja kan, dokter ?”

“hm, seperti yang terlihat. Hanya benturan ringan yang mengenai di puncak ubun – ubunnya. Tapi di X-ray tak ada yang bermasalah dengan tulang maupun syarafnya. Besok dia juga akan siuman.”

“Trimakasih, Dokter.” Jawab mereka serentak. Hingga dokter Hae Rim pergi di kejauhan mereka berdua belas pun hanya bisa mengintip dari luar jendela kaca dengan sedikit berjinjit lantara jendela yang dipasang tinggi di sisi kanan ruangan.

 

ღღღ

 

TRENG.. TRENG.. TRENG.. HI, WE’RE TEAM H…

“Iya.” Angkat panggilang masuk oleh Sukkie yang masih mengantuk itu. Gawat rupanya suara sang ayah dengan nada yang tinggi menandakan beliau sedang tidak main – main kali ini. rasa – rasanya insting Sukkie berkata ini hal buruk. Apa yang akan terjadi.

“iya, ayah aku akan segera pulang setelah ini.”

“Tidak bisa. Kau harus pulang sekarang. Ayah tak ingin mengecewakan keluarga di hadapan ayah ini.” keluarga ? apa masksudnya tamu ayah lebih dari satu orang ? mimpi buruk. Tapi Sukkie tak bisa pergi meninggalkan gadis itu. Bagaimana pun dia yang menabrak maka dia harus yang bertanggung jawab juga terhadap kesembuhannya. Apalagi dirinya sudah membaca luka di kepalanya.

“Tapi ayah, tunggu hingga besok pagi. Aku akan usahakan untuk bertemu dengan tamu ayah.”

“Terserah kau. Pilihannya kau pulang atau kau ayah pindahkan ke Jepang.”

“Tapi ayah, ini mendesak. Ayah mengertilah, posisiku.”

“Hah!”

“Ayah.. ayah. Ayah.. yakkh ! Ayah!!” panggil Sukkie setengah berteriak hingga suster yang berada di samping melirik sinis ke arahnya. Matanya masih menagkap bahwa ada slogan bertuliskan ‘harap tenang’. Sukkie pun hanya membungkukkan badannya malu atas tingkah lakunya barusan. Baru sebentar dirinya hendak berdiri untuk membeli minuman namun saat dirinya berbalik tanpa sengaja dirinya bertabrakan dengan seorang lelaki paruh baya yang membawa karangan bunga. Dengan tulus, Sukkie berusaha mengulurkan tangannya ke arah tuan itu, namun tak sedikit pun disambutnya. Alih – alih disambutnya, pria berjas itu hanya melirik saja dan berjalan lagi dengan sekali membenahi dasi yang menggantung di kemejanya.

“Tuan,” Sukkie pun berusaha untuk minta maaf namun tuan tadi melaju saja tanpa menghiraukannya.

“ANEH !” Gemas Sukkie dan segera menoleh ke depan untuk keluar membeli minuman.

“Ekk, Bi-BI..” mata Sukkie membelalak seketika.

“Bagaimana Bibi bisa ada di sini..”

 

 

ღ TO BE CONTINOUED ღ

About shiellafiollyamanda

"Wish my creation can inspire a lot of people, at least around me."
This entry was posted in NOVEL. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s