God Gave Me You


CHAPTER 1

#Blame Yourself Can’t Help#

May 13, ’12 10:46 PM
for everyone
Title : God Gave Me You

Genre : Romance and Comedy

Rate : PG

Author : Shiella Fiolly (io)

Cast :

Jang Geun Seok

Park Shin Hye

Kim Jae Joong

Han Jyo Yoo

Seorang gadis yang memakai seragam SMU lengkap dengan atributnya tengah duduk termenung memandang jauh keluar taman lewat celah jendela yang berada di samping kelasnya. Berulang kali dirinya mencoba untuk mengurangi kebosanannya dengan mendengarkan musik yang melantun sesuai dengan urutan playlist di ipodnya. Namun sama sekali tak membantu. Tanpa terasa dirinya yang mulai mencorat – coret modul besarnya yang bahkan berisi rangkuman soal – soal penting untuk menghadapi ujian minggu mendatang. Kalau teman – temannya saja tak bisa menghiburnya, barang – barang kesayangannya, lantas apa lagi yang dirinya bisa perbuat. Hampir habis akal.

Saat waktu istirahat sudah tiba pun tak ada niatan sama sekali dirinya untuk melangkahkan kaki keluar sekedar untuk menuju kantin atau perpustakaan semata – mata untuk menghabiskan waktu menunggu masuk dan kembali pulang. Meski dari luar tampangnya tak begitu mengisyaratkan bahwa dirinya tak punya beban, namun justru sebaliknya terlalu banyak masalah yang tengah berkecamuk di dahinya. Sudah – sudah seperti orang tua saja dirinya harus kepusingan dengan segala masalah yang akan dihadapinya. Entah akan ada apa lagi. Dulu masalah perjodohan, bulan lalu kepindahan sekolah lamanya menuju kemari. Sekarang mungkin dirinya juga belum terlalu terbiasa dengan keadaan di sekeliling sini.

Sementara di lain tempat ada seorang lelaki belia yang juga tengah menantikan kedatangan orang tuanya di bandara. Kedatangan orangtuanya kali ini mungkin baru yang kedua kalinya setelah sekian lama mereka tidak pulang. Tentu lelaki ini begitu merindukan orangtuanya. Setiap hari dirinya melingkari kalender yang tergantung di depan meja belajarnya. Bahkan demi menjemput orangtuanya itu, dirinya juga merelakan sekolahnya tidak masuk. Padahal hari ini hari yang penting. Ada tim baseball yang tanding di sekolahnya, dan dirinya termasuk dalam tim. Namun, pilihan sudah dia putuskan. Dia akan menjemput orang tuanya.

Tak banyak yang bisa dilakukan, gadis ini tampaknya memang sedang gelisah. Tapi dirinya tak cukup pandai untuk mensiasati masalahnya dan harus bagaimana menyelesaikannya. Tanpa sengaja justru dirinya tertarik dengan kawan – kawan wanitanya. Sepertinya ada beberapa hal yang menarik dari mereka bagi dirinya. Aha, maskara. Tidakkah dirinya mulai menyadari hal itu. Dirinya selama ini memang tak pernah sekalipun berdandan selama datang ke sekolah. Berbeda dengan kebanyakan yang lain yang selalu tampil berusaha se-all-out mungkin. Tapi apa dia harus iri ? dengan wajah cantiknya, seharusnya dirinya meski berbesar hati. Tampil natural saja, bukan menyombongkan diri. Sudah banyak mata yang melirik kepadanya. Sungguh anggun gadis ini. sayang, dirinya masih belum menyadari.

“Sukkie ? Kemana Sukkie. ?” tanya Ibu Guru Yankumi mengecheck daftar presensi kelasnya hari ini.

“Sepertinya dia tidak datang hari ini, Bu Yan.” Jawab Gong Jin setengah berteriak.

“Tapi kemarin dia tidak apa – apa. Dia masuk.” Timpa Bong Gul yang tempat duduknya tepat di depanku.

Karena check absen ini justru ggadis itu menjadi sedikit terpusatkan perhatian. Dari tadi pagi tak satu pun materi yang masuk ke telinganya. Semuanya terganggu.

“Sukkie. Yang mana ?” gumam gadis itu pelan sambil mengerat ujung pencilticnya  yang sedari tadi menyangga giginya yang sedang tak berselera untuk memangku tangan mendengarkan materi.

“Shin Hye, apa kau tahu keberadaan Sukkie..?” tiba – tiba saja ibu gurun Yan bertanya kepada gadis itu. Apa maksudnya ? bukankah satu sekolah tahu dia murid baru ?

“Apa ?” hanya itu saja kata yang keluar dari mulutnya.

“Yang aku dengar kalian bertetangga, benar begitu ?” jelas ibu Yan lagi. Namun tetap saja membuat gadis itu tak berhenti bergeming. Tak menunjukkan tanda – tanda dirinya ini tahu tentang apa yang sedang dibicarakan ibu gurunya itu.

“Ekh.. Aku tidak kenal siapa itu Sukkie. Maaf.”

“Ya, sudah. Satu dua bulan lagi kau pasti juga akan kenal dengan teman – teman satu kelasmu. Pelan – pelan saja.” Tambah ibu Yan.

Dirinya hanya mengangguk dan menjawab ‘baik’ terhadapnya.

Berbeda dengan siswa – siswa perempuan yang lain, dirinya tak tertarik sama sekali untuk menyaksikan pertandingan baseball yang hampir semuanya beranggotakan murid – murid pria yang keren dan lumayan berpengaruh di SMU. Shin Hye justru lebih senang menyendiri. Dirinya tak banyak bicara. Meski dalam satu minggu ini dirinya sudah mulai dekat dengan beberapa siswi seperti Hyo Joo dan Megan. Dirinya berteman baik semenjak baru pertama kali datang ke sekolah ini. hanya beberapa yang memberi respon nice welcome kepadanya. Dan salah satunya mereka. Maka itu Shin Hye cenderung dekat dengan mereka. Dan berani menjalin hubungan baik.

ღ ღ ღ

Di airport, lelaki belia yang sedang mengenakan jaket kulit abu – abu sambil mengenakan kaca mata hitam yang menutupi matanya. Serta celana penuh saku abu – abu dengan dalaman kaos hitam yang bergambarkan idola wanita Tailor Swift bersama Gyeson Chance masih menantikan kedatangan orang tuanya. Namun sudah lewat dua setengah jam pesawat yang seharusnya sudah mengantarkan orangtuanya datang pun belum tiba. Harus apa lagi dia. Berulang kali dirinya mengotak – atik game di handphonenya sembari duduk di kursi panjang yang tersedia dalam bandara.

Hingga tepat pukul 11:15 barulah terlihat dua siluet tubuh dua orang yang sedang berjalan beriringan membawa kopernya dari kejauhan yang sudah sangat dikenalnya. Orang tua mereka juga barusan sampai. Tepat di hadapan satu – satunya anak lelaki mereka ini keduanya berhenti dan langsung memeluknya.

“bagaimana sekolahmu, Sukkie ?” tanya sang ayah, tuan Il Suk begitu datang sambil melepaskan pelukan hangatnya kepada putranya itu.

“Baik, ayah. Kalau ibu bagaimana bisnisnya dengan ayah. Lancar juga ?”

“Tentu saja. Berkat doamu.” Jawab sang ayah tersenyum sambil mengusap halus punggung sang putranya.

“Kau naik apa ke sini ?” tanya Ibunya, nyonya Ae Ni sambil matanya menjelajah ke arah lokasi parkir di samping jalan masuk bandara.

“Aku bawa mobil. Mulai tiga minggu ini, aku sudah selalu kemana – mana membawanya. Sini aku bawakan kopernya.” Ucap Sukkie sambil mengambil koper coklat dari tangan bundaya dan lekas membawanya sampai memasukkannya ke dalam bagasi mobilnya.

ღ ღ ღ

Sore ini Jae Jong yang tengah mengikuti fitness seperti biasa di tempat gymnya seperti biasa. Dirinya bolak – balik melihat layar di phonecellnya untuk memastikan tidak ada yang menghubunginya sore hari itu. Gelisah sedikit sebab dirinya mulai jenuh dengan sosok wanita yang selama ini menjalin hubungan dengannya. Namanya Rae Ha. Meski sudah lama bersama dan banyak kecocokan pula tidak sama sekali mendadakan bahwa hubungannya ini akan tetap berlanjut. Apalagi beberapa hari ini, Rae Ha sudah banyak melakukan kesalahan yang mengganggu privacynya.

“HAH ! harus dengan cara apa aku memutuskannya ? Aku mulai pusing untuk menghindarinya.” Geming Jae Jong disela – sela istirahatnya sembari mengelap keringat yang mulai bercucuran di ujung dahinya.

“Ckk ! harusnya aku minta bantuan saja kepada Sukkie.” Tiba – tiba dirinya teringat dengan Sukkie. Hah ! ada – ada saja ! dirinya selalu teringat akan sahabatnya itu sewaktu butuh saja. Tak pernah dirinya sekali pun memperhatikan sahabatnya itu balik.

Pernah suatu ketika Sukkie yang kesulitan untuk menghadapi desakan orangtuanya agar menolak untuk ditunangkan. Dan Sukkie berniat meminta bantuannya untuk ikut meyakinkan orangtuanya agar menunda keputusannya itu. Namun apa, yang didapatkan justru orangtua Sukkie semakin merongrong Sukkie agar lekas meresmikan hubungannya dengan wanita pilihan orangtuanya agar  segera bisa meneruskan usaha milik ayahandanya itu di Jang Konstruksi. Namun apa daya, Sukkie hanya bisa mengulur – ulur waktu dengan alasan dirinya ingin menyelesaikan sekolahnya dahulu. Bukankah itu berarti dirinya belum melepaskan keinginan orangtuanya itu dan hanya menunggu waktu ? jadi untuk selanjutnya dirinya harus menyiapkan rencana untuk membatalkan hal ini. terkecuali kalau halnya dirinya mendapatkan wanita yang diidamkannya. Mungkin akan berbeda ceritanya.

Jae Jong pun berkacak pinggang dan kesal mengacak – acak rambutnya. Ya, tidak bisa ditahan lagi, dirinya harus lekas menghubungi sahabatnya itu, meski dirinya tahu bahwa ayah ibu Sukkie datang hari ini. tentu Sukkie ada bersama mereka.

“Hallo, Sukkie. Kau bisa kemari bantu aku. Sebentar saja. Ini mendesak.” Kata Jae Jong tanpa basa – basi untuk kesekian kalinya merepotkan Sukkie.

“Kapan kau ini tidak mendesak ? Kali ini apa lagi ?” jawab Sukkie santai.

“Yang penting datang dulu ke sini. Aku di tempat Gym biasa. Aku tunggu kau sekarang. Kalau tidak aku pecat kau sebagai sahabatku. Kikh!” tutup Jae Jong.

“Yah! Kau… Ck! Terpaksa harus ke sana.” Sukkie pun segera berbalik yang baru saja datang di rumahnya dan meraup kunci mobil yang berada di piring yang berada di meja makan dan segera berlari menuju ke mobilnya. Mengemudikan mobilnya cepat dan terburu – buru. Bagaimana pun juga dirinya tak mungkin membiarkan Jae Jong menyelesaikan masalahnya sendiri. Meski terkadang dirinya tahu dengan sikap Jae Jong yang sering bermain – main saja.

ღ ღ ღ

Shin Hye sedang berjalan pulang dari SMUnya. Dan berjalan di trotoar bersama dengan Hyo Joo dan Ji Min, dua orang kawan baru yang selalu bersamanya. Kali ini dirinya sudah sedikit lebih baik dibandingkan tadi pagi. Dirinya mulai mau berbincang – bincang dengan kedua teman – teman di sampingnya. Meski tetap tak banyak yang dibicarakann namun setidaknya ada banyak kemajuan yang terlihat daripada sebelum – sebelumnya. Dirinya yang terkesan sedikit mengacuhkan sahabat – sahabatnya. Terkadang ini yang menjadikan dirinya tak memiliki banyak teman. Sebab tak sedikit tamn – teman sekolahnya yang menganggap dirinya begitu sombong dan tak butuh ditemani. Maka menyingkir pula mereka satu per satu terutama saat Shin Hye baru datang ke sekolah. Tak satu pun yang berani menyapanya.

“Shin Hye, hari ini kau ada waktu tidak ?” tanya Ji Min kepadanya halus.

“Eng..” jawab Shin Hye menggeleng.

“Kalau begitu kau bisa bermain dengan kita ?” tambah Ji Min.

“Kemana ?”

“Ah, kemana lagi kalau tidak mengunjungi rumah senior Jae Jong ? Dia kan yang biasa mengajari kita melukis.” Jawab Ji Min semangat.

“Ah, aku tidak terbiasa main ke tempat pria. Kalian saja.” Jawab Shin Hye yang sukses membuat kecewa kedua teman yang berada di sampingnya itu.

“Kalau belajarnya di rumahku bagaimana ?” tawar Hyo Joo.

“Sama saja.” Tolak Shin Hye.

“Yah, kenapa kau begitu.” Rengek Ji Min.

“Sudahlah. Justru tanpa aku kalian bisa benar – benar berlatih dengan sungguh – sungguh tanpa ada perlu membagi perhatian kepada yang lain. Benar begitu, bukan ?” jelas Shin Hye.

“Tapi tidak menyenangkan.”

“Menyenangkan tidak itu tergantung kepada kalian sendiri yang menjalankan. Ya, Sudah. Aku pergi dulu, ya. sudah sampai di depan rumahku. Apa kalian mau main ?”

“Ah, tidak Shin Hye. Lain kali saja.”

“Baiklah, sampai jumpa besok. Dada..”

“Hati – hati..” lambai tangan kedua sahabatnya itu ke arah Shin Hye.

Namun belum sampai jauh, dan menengok ke arah belakang, kedua sahabatnya itu mendengar suara seperti tumbukan dari arah belakangnya. Shin Hye yang tidak berhati – hati menyeberang tertabrak sebuah mobil Picanto kuning yang sedang melaju di hadapannya. Sontak keduanya, ji Min dan Hyo Joo menoleh ke belakang dan mendapati tubuh Shin Hye yang terpelanting dan terdorong ke depan. Membuat sang pemuda yang sedang mengemudikan mobilnya pun keluar dan segera bergegas memastikan keadaannya.

“Nona, Nona.. Are you okay ?” mengguncang – guncangkan Shin Hye yang mulai tak sadarkan diri di sandarannya.

“Ck, kalian bantu aku, ya !” seketika tak banyak tanya dan langsung menyuruk Ji Min dan Hyo Joo yang berada di hadapannya membawa Shin Hye yang sudah pingsan ke dalam mobilnya.

“Terima kasih. Ini salahku. Tolong beritahukan aku nomor yang bisa aku hubungi misalkan dia sudah siuman.” Cepat pemuda itu mengulurkan phonecellnya kepada Ji Min dan dengan segera Ji Min mengetikkan beberapa digit nomor yang dieja oleh Hyo Joo dari phonecellnya.

“Hati – hati. Tolong bantu dia, ya. Terima kasih.” Ucap Ji Min ke arah pemuda itu seiring menutup jendela mobilnya dan mulai melajukan mobilnya menuju ke rumah sakit.

Tapi tak lama berselang, phonecell Shin Hye yang semenjak tadi dibawa Ji Min mulai menolongnya pun berbunyi. Ada panggilan yang masuk dari paman Shin Hye.

“Iya, paman. Maaf.”

“Aduh, harus bilang apa kita kepada pamannya.” Bisik Ji Min ke telinga Hyo Joo.

“Katakan saja yang sejujurnya.”

“E.. E.. Shin Hye, sedang menuju ke rumah sakit paman.”

“Apa ? Sedang apa dia di sana ? Ini sudah sangat sore.”

“Dia.. Dia, Dia baru saja tertabrak paman..”

“APA ? Sungguh ?” cemas pamannya yang mendadak memutus teleponnya.

Ji Min dan Hyo Joo pun saling berpandangan dan menyenggol bahu. Entahlah apa ayang akan terjadi setelah ini. Shin Hye.. Bagaimana…. ?

 

ღ TO BE CONTINOUED ღ

About shiellafiollyamanda

"Wish my creation can inspire a lot of people, at least around me."
This entry was posted in NOVEL and tagged , . Bookmark the permalink.

One Response to God Gave Me You

  1. I simply want to say I am beginner to weblog and actually liked this blog. More than likely I’m going to bookmark your blog . You definitely come with good articles and reviews. Many thanks for sharing your webpage.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s