SEARCH FOR TRUTHFULNESS


 Part 5

Bulan telah datang. Menanti sepercik bayangan untuk kembali. Sinarmu memberi harapan yang bersahaja. Melihat warnanya yang menjadi cahaya. Membuka pintu agar cahayanya tetap menyinari damainya hati dan hari kehidupan. Terkenang sebuah kata yang kau untai indah. Hembusan nafasmu yang masih kuraskan harumnya. Arti kehidupan yang telah kau ajarkan kepadaku. Sinarmu sesekali memberiku nafas kembali. Mendengarkan suara dari sanubari menuntun ke arah yang pasti. Memandang batas ke arah tatapan mata untuk mencari kedamaian. Aku, yang masih sama seorang Laluna, Derish remaja yang mulai beranjak dewasa. Sudah 2 tahun waktu yang kutempuh di SMA, namun yang kurasakan semakin jenuh saja. Harusnya aku, kan, bangkit ! bukan malah loyo seperti ini. Sudah harusnya aku memompa kobar semangatku di titik ini. Bagaimanapun, 1 tahun ke depan itu tahun kelulusanku. Ini tentu akan merubah kebiasaanku. Kebiasaan bertengkarku, kejailanku, kemoloranku, untuk berangkat ke sekolah yang sempat melemparku untuk tinggal di kelas XI. Hampir saja aku dibuatnya malu. Harusnya semakin banyak kegiatan, aku semakin senang dan berpengalaman, bukan malah terseok – seok dimakan waktu begini. Aku semakin tak mengerti. Yang kudapati sekarang malah aku terpaksa melepaskan kontrak dengan beberapa nama organisasi besar di sekolahku. Sebenarnya aku benci akan hal ini. Kau tahu, pernah aku berpikir untuk menganggap ini yang terbaik. Seperti ibuku bilang, berusaha menjaga perasaanku dengan berkata begini,

”Mungkin ini sudah suratan dari Tuhan, Der. Coba pikirkan, mungkin Tuhan tak suka kau bergaul dengan teman yang tak sopan dan akan memberikan pengaruh buruk bagimu.”
“Mana bisa begit, ma ! Aku kan sudah memperjuangkan berbagia kegiatanku itu sampai di sini. Masa akau harus menyerah tiba – tiba begin ? Ini bahkan tak lucu sama sekali ! Mau ditaruh dimana muka Derish ?”
“Sudahlah, mulai sekarang kau bisa melakukan hal yang lainnya. Mulailah memfokuskan diri pada studymu di sekolah, bahkan itu akan lebih baik seratus kali ketimbang kamu mengikuti kegiatan dan merelakan nilia 100 melayang seperti semester – semester sebelumnya. Kau pasti bisa, Derish ! Anak mama tak akan pernah kehilangan akal !”
“Yah, okay, baiklah, ma. Akan Derish coba !”
Entah kenapa seperti sekarang ini hanya sahabat sejati Derish yang Derish ingat. Candra, Dyah, Friska, dimanakah dirimu ? Akankah kau tahu apa yang akau rasakan dalam masa jatuhku sekarang ? Mana aku senang ? Suasana hari ini bahkan mendadak berubah. Tepat di hari ulang tahunku yang ke tujuh belas justru aku menapat hadiah tersial di hidupku. Rasanya seperti dunia mau kiamat. Aku mulai berangkat dewasa, namun entah mengapa sulit untuk menerima kenyataan ini. Dosakah aku untuk hal ini ? Haruskah diriku pasrah ? Diriku marah. Barusan kisah cintaku kandas. Jalannya cinta sudah menodai pikiranku. Aku terkalahkan sebab itu, ikuti jalannya cinta bodoh ini. Sosok Damos sudah lama pergi beranjak. Terjerat dalam cerita cinta ini membuatku sulit mlepasnya. 1 nama itu membuat peluhku menjerit. Seluruh ragaku kaku. Apalagi sudah ku dengar dia sudah memiliki pengganti. Aku tak tahu harus bilang apa ! Bahkan harus sedih atau senang akupun juga bingug. Sebenarnya sulit pula utuk aku mendengarkan berita ini. Terkhir yang ku dengar dia bersama adik kelasku sekarang. Berarti itu ya kelas X. Tapi aku masih belum tahu seperti apa rupanya. Untuk apa pula aku tahu ! tak ada untungnya ! Hufth ! Apa yang akan ku lakukan. Sekarang aku bingung. Sebenarnya dimanakah cinta berada. Mulai sepiku di sini lelah hati. Begitu jauh waktu yang ku tempuh, sendiri mengayun kerisauan. Hanya terdiam. Aku berkhayal seseornga berada di ujung sana tengah menanti tiba dia menemuiku dan menjemputku. Begitu inginnya dia berbagi kisah sedihnya denganku. Mungkinkah dia senasib denganku ? Berarti tak ada harapan untuku mendapatkan hiburan. Aku harus bersiap diri tampaknya. Dimana dia pasangan jiwaku. Begitu jauh di bawah bayangan hatiku yang sakit dan rapuh. Hanya awan yang akan menjawab kerisauanku.
Sedih ku tahu kini perasaanku kepadamu. Jalan batinku tak kan membuatku menyerh akan hidupku. Dalam rona mataku kalian akan tahu seberapa besar hasratu untuk mengembalikan keadaan seperti semula. Aku mencoba bertahan, sekeras kalian mencoba untuk membunuh semangatku. Yang kau tahu, semua akan kembali ke keadaan semula. Bahagia. Bukankah pada akhirnya, semua harus berakhir pada kebahagiaan ! aku tetap akan yakin pada pendirianku ini. Jadi jangan sesekali kalian gertak aku. Sebab aku tak akan gentar dan mundur. Begitu banyak program – programku ke depan. Meski tampaknya aku sedang bersantai. Dengan nonton tv, mendengarkan radio, atau bermain game di komputer, namun tak begitu dengan hatiku. Aku benci harus menyerah kalah. Kalau aku, kalian pasti mengerti. Aku tak bisa pulang dengan membawa kekalahan. Terakhir aku menang hanya sampai kelas 6 SD. Aku malu. Beberapa tahun ini aku akan terus dijatuhi kekalahan. Mungkin karena itu aku sudah mulai bisa menerima arti sebuah kata kalah dalam kamusku. Intinya, karena sudah terlalu sering aku kalah akhir – akhir ini jadi aku bisa menganggapnya sebagai hal yang biasa. Ini bukan yang pertama kalinya, kan ? ini bukan taste sebenarnya ! mungkin andai aku lelaki aku bis dengan mudah melupakan masalahku dengan bergonta – ganti pasangan tanpa merasa bersalah sedikitpun. Namun, sayangnya aku wanita, ya, ebagaimana wanita pada umumnya . Aku berhati lembut, meski dari luarnya ku tampak galak. If i were boy … akan dengan mudah kulalui semuanya …. pasti akan lebih menyenangkan. I don’t understand …
Bahkan dengan mendengarkan musik, rasa sakitku pun masih belum sembuh. Aku sedang mendengarkan lagu “You Are Not Alone” by Michael Jackson. Memang sebentar saja aku terhnyut dalm simphonynya namun tak lama. Bersenandung tampaknya mampu mengobati sedikit lukaku. Luka yang selama ini sudah menyayat hatiu. Bahkan orang tuaku juga merasakan hal itu. Secara sosiologis, aku sudah dewasa untuk mengambil keputusan ku melakukan segala hal. Namun itu tak kan terjadi kalau sampai sekarang aku masih saja melibatkan oran tua setiap mendapati masalah. Apa salahnya bila hanya untuk sharing. Tak mau lagi aku percay dan tersentuh pada semua pengakuannya, Damos. Pergilah kau. Pergi dari hidupku. Bawalah semua rahasimu yang tak ingin ku tahui. Tak mau lagi aku terjerat pada semua janjimu. Tak mau lagi aku terpaut dari semua permainanmu. Kau tak tahu seberapa sakitnya hatiku setelah ku tahu semua dari kebohonganmu, Damos Dyeko. Rivalku yang sempat menjadi lelaki yang kupuja. Aku tak mau lagi… aku tak mau lagi… bawalah semua rasa bersalahmu…
Aku makin tak percaya dengan ramalan sekarang ini. Dulu hampir 99% aku percaya dengan kebenarannya. Namun apa buktinya, belum terjadi yang selama ini yang kupercayai. Bila kurentangkan tangan yang tak juga kau merentangkan tangan kembali. Namun malah acuh dan pergi. Nampaknya harus kurelakan semuanya untuk pergi. Dulu sempat aku berpikir kaulah yang abadi. Sekarang tak lagi. Mungkin dulu aku masih polos. Bila kuberi semua kata maaf yang terindah akankah kau kembali ? Haruskah kurelakan semuanya pergi dan terganti ? Langit jiwaku yang letih lebih dulu. Aku hanya membuka laptop dan mulai membuka FB ku ini dan ku coba untuk bertanya pada Candra.
“Aku akan merelakan semuanya pergi.” Kutulis seperti itu dalam statusku. Tiada yang hebat dan mempesona. Kemudian aku baru menulis pesan untuknya dalam sebuah pertanyaan.
“Can, apakah kau pernah jatuh hati ? seperti apakah rasanya ? menyenangkankah ?”
“Pernah. Rasanya brjuta – juta rasa. Tampaknya kadang pilu. Kadang ingin tertawa, berteriak, bukan seperti diri kita sendiri tampaknya. Sulit dijelskan. Toh, nantiya kit semu akan merasakannya. Seperti terisi oleh jiwa yang lain.”
“Maaf bila mengganggu, tapi ku ingin megerti lebih jauh tentang hal itu. Bisa kau menceritaknnya lebih jauh ? untukku ? Ku mohon, Can ?” begitu rayuku mencoba.
“That’s everysong i sing. Cause you’re my everything… begitu kata mereka kebanyakan yng sedanga jatuh hati. Begitulahsetidaknya seperti pada di infotaintment – infotaintment !”
Lebih dari cinta yang pernh kuberi. Masih banyak kehidupan untuk kita. Aku akan selalu mencintaimu sampai ku tinggalkan dunia ini. Ketulusanku tak akan berubah walau kita tak lagi mungkin untuk bersatu. Maafkan bila ku harus meninggalkanmu. Maafkan kalau hatimu terluka. Kaulah yang terbaik untuk diriku. Mengapa kita bertemu bila akhirnya harus berpisah atau dipisahkan. Kau pernah bilang hatimu aku, naytanya bukan untuk aku. Masihkah aku di sana di dalam hatimu. Aku terluka namun engkau adalah nafasku. Aku beruntung sempat memilikimu. Bintang di langit nan indah, masih adakah cinta yang dulu ? andaikan engkau di sini masih denganku! Kau cintaku aku bukan di benakmu lagi ….

About shiellafiollyamanda

"Wish my creation can inspire a lot of people, at least around me."
This entry was posted in NOVEL and tagged . Bookmark the permalink.

One Response to SEARCH FOR TRUTHFULNESS

  1. Ray Groote says:

    I just want to mention I am very new to weblog and definitely loved this web site. Probably I’m want to bookmark your blog . You actually come with excellent stories. Thanks for sharing your blog.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s