He’s Our King Bee


 chapter9

9

Gangguan dari Sang Crazy Frog

#Setibanya di Kamar Jean-Jimmy lagi, pukul 10;50~

Jean yang datang begitu kaget sebab Jim yang sudah tak berbaring lagi, malah santai-santai memainkan game flash di i-Phod miliknya, sontak Jean yang makin risih dan jera untuk memberi masukan kepada suaminya wanita itu, langsung main serobot saja mengambil barang yang lumayan mini itu, sambil menarik piyama yang berada di samping ranjang yang tergantung sedari tadi di situ, Jim yang tak kalah marah-nya, sebab sedang asyik-asyiknya malah Jean main ambil saja itu, langsung saja, menarik tangan Jean tanpa nanti-nanti yang sedang hendak beranjak keluar dari kamarnya itu, Jimmy yang sedikit berlari, untuk menjangkau langkah Jean yang sedikit lebih cepat, dan menggendong Jean paksa di bahunya, membopong-nya wanita ke ranjang-nya, makin tak tahan dengan Jean yang meronta-ronta, malah semakin membuat Jimmy bersemangat untuk menggoda istrinya itu, Jimmy yang mulai membuka kancing paling atas piyama-nya yang tadi digantikan oleh Jean, Jean yang makin berteriak tak tentu itu dibiarkannya saja begitu, Jimmy ingin melihat  seberapa berani mengelak sang istri ini, dan seberapa tahan sebab tak mendapat belaian selama dirinya wanita hamil yang meskipun telah melalui masa-masa rawan itu, namun mendadak handphone di saku celana Jimmy berbunyi, yang telah diganti itu ringtone-nya, mengikuti sang istri, namun bukan Love-Love-Love, hanya saja masih FT-ISLAND juga, ‘After Love’, jahat sekali ya, tentang pengkhianatan, seketika Jimmy menghentikan aksinya dan segera merogoh ke saku celananya dimana kakinya tak disadari masih mengangkang di atas paha Jean itu, dibukanya penutup phonecell-nya yang flip itu, ditekannya tombol hands-free sekedar untuk me’loud-speaker’, dan ternyata Yong Hwa,

“Geun Suk, aku sudah sampai, di bandara, tadi pukul 09;00, sekarang aku akan ke vila bibi, di puncak, bukit Beverlly, kau tak usah menjemput, ini sudah malam, tak enak dengan orang rumah, salam untuk Shin Hye,”

“tapi….” “TUT,TUT,TUT, TUT,”

“Ah, sial, sekali, hari ini,” Dengan bergegas Jimmy mengancingkan kembali kancing baju piyama-nya, dan mencari jaket-nya, namun Jean yang menahannya sebab masih khawatir dengan demam Jimmy yang masih tinggi, Jimmy yang berusaha bangun dari posisi-nya pun menjadi sedikit tersendat,

“Kau mau kemana? Yong Hwa kan sudah bilang dia tak ingin mengganggu kita,”

“tapi dia itu, bukan orang lain, Jean, mengertilah”

“apa kau juga tak mengerti dengan kesehatan ??”

“apa, kata–” “jadi sia-sia saja aku merawat pria keras kepala seperti—” terpotong, sebab Jimmy  yang menyambar-nya wanita begitu saja dengan bibir manis-nya, shuttle kiss yang hanya se-per-sekian detik itu meninggalkan bekas kepada mereka, betapa tidak, Jean  yang marah pun hanya terdiam, melotot matanya wanita ke arah Jimmy yang masih sedikit marah itu,

“kenapa kau selalu mencium bibir, setiap kali aku emosi, bisakah kau tak lepas kendali, sebentar, saja, untuk menahan DI HADAPAN–”

“KENAPA?? bukannya kau yang bilang kemarin, aku boleh meluapkan-nya kapan saja aku mau, hahahaha….”

“Jimm, ini sama sekali tidak lucu,  kenapa tertawa,!!!”

“sebab ini bukan pertanyaan, sayang,” kata Jim yang hendak mencumbu kembali istrinya yang tengah marah besar itu kali ini, namun Jean menampik dan mendorong wajahnya menjauh,

“kenapa???”

“jawab pertanyaan dariku, dulu, kenapa kau ini??? sangat menyebalkan,”

“tapi kau menyukai-nya kan?? sampai-sampai kau minta,” goda Jim yang masih menekan di atasnya wanita itu, Jean yang benar-benar marah pun berusaha mendorong dada Jimmy untuk bangkit dan berontak, namun Jimmy yang telah menyiapkan kata-katanya membuatnya tersadar,

“ini seperti halnya kenapa kau begitu menyukai FT-ISLAND, hingga menjadikannya ring-tone divert call-di-handphone, dan kenapa kau begitu menyukai Justin Timberlake, dengan lagunya ‘She Will Beloved’ kalau kau tanya kenapa, sulit untuk menjawabnya, atau jangan-jangan kau menginginkan aku mencium di bagian rahasia, yang tak pernah kita lakukan, ”

“KAU ITU, KURANG AJAR-AKU-BENCI–” tangan Jean yang sudah serasa gatal ingin menampar Jimmy ini pun tak berhasil sebab Jimmy yang sudah lebih dahulu, mencumbu Jean, meninggalkan beberapa path-nya, di leher, di puncak bahu Jean, bahkan di belahan breast Jean sebelah kiri, entah kenapa suara Jean makin pelan hingga tak terdengar, Apa Jean mulai mau dengan rayuan maut Jimmy kali ini, pasangan yang sama-sama sulit ditebak,

Jim yang masih memainkan tangannya kali ini makin liar saja itu, seperti pertama halnya bagi seorang pengantin untuk bermesraan dengan sang istri baru, begitulah, hampir saja, dirinya tak kuasa, menahan birahi-nya kali ini yang begitu nampak sudah seperti di puncak ubun-ubun itu lho, hohoho, ada ini, tahukah, Jimmy hampir saja, melakukan hal yang berbahaya bagi Jean dan bayi mereka, coba tebak!! apa itu kalau bukan, hampir ‘petting’ yang over, namun, semakin dirinya ingin menahan, kenapa justru semakin sulit saja baginya untuk menahan diri untuk tidak membelai, sang istri tercinta yang dimana kandungannya wanita mulai tampak terlihat kini, perutnya wanita, Jean yang mulai buncit itu, meski belum seperti seorang wanita atau ibu yang tengah-hamil-muda, lebih mirip seperti seorang gadis yang tak sedang diet, hahaha, mau bagaimana, memang faktor umurnya wanita yang sangat masih terbilang muda, sangat belia, begitu juga Jimmy, entah dirinya siap atau sanggup untuk mengurus seorang bayi di pangkuan sang istri tercinta, meski dirinya dalam hati kecil tak ingin tersaingi pesaing,  meski itu adalah anaknya… sendiri, belum lagi Yong Hwa yang akan datang, haha, begitu berat nafas-nya kali ini, namun itu tak membuat niatnya untuk ‘just fondling’ dengan sang istri pun terlaksana, semakin di bekap-nya sang istri ke dada-nya yang bidang itu, yang tengah telanjang dada sekarang, nampaknya di sini, Jim memang benar-benar sudah tak dapat menahan nafsunya itu, dimanfaatkan-nya benar-benar malam itu, mumpung sang istri juga yang tak mengijinkan-nya untuk menjemput Yong Hwa di vila ibu Jimmy sendiri di Beverlly Hill, AHH, mau apa lagi, kami sudah bukan orang lain lagi, sudah suami-istri, mau apa pun toh, semua juga tak akan menuntun kami, lagi pula siapa yang akan menghukum kami, dosen, kami sudah tidah kuliah, lulusan S2 kedokteran, akulah orang-nya, dokter senior yang paling disegani di California, atasan ? kami juga bukan bawahan, Jean juga atasan para trainer pramugrari, ayah-ibu kami, kami sudah bukan anak kecil lagi bahkan, hah, akhirnya aku bisa tidur lagi dengannya, pikir Jimmy yang secara tak sadar mulai membuka resleting-celana panjang-nya itu, Jean yang masih berada di bawah-nya yang masih tak mengerti apa sang Suami tercinta hendak memperkosa-nya wanita yang tengah hamil itu, tapi tak mungkin, seketika tangan Jean menutupi matanya dengan kedua telapak tangannya wanita yang mulai keluar keringat dingin itu, apa, Jimmy sudah mulai gila, pikir Jean,

“apa , apa, APA KAU LUPA, JANJI-DIRIMU PADAKU,!!! 2 HARI LALU!!!”

“Jean, ayolah,”

“kau dudah, sudah GILA, PERGI, AKU MAU KELUAR!!!” Jean yang mendapati dirinya sedang ditekan oleh Jimmy yang masih setengah hilang kendali itu pun mendorong dada Jimmy lagi-lagi, dan kali ini berhasil, Jimmy yang tersadar, pun langsung kelabakan, dan bersimpuh di bawah, tangan Jean yang saling terpaut keduanya di depan perut Jean, Jean yang masih membuang pandang sebab resleting Jimmy yang masih dalam keadaan terbuka itu, Jean yang masih gemetar, ketakutan, yang sangat itu pun akhirnya mau bicara,

“sungguh keterlaluan apabila hanya karena ini aku marah padamu, lekas benahi dirimu dan kembali tidur, tak perlu kau yang keluar kamar, bila ditakutkan kau tak bisa menahan itu, aku yang tidur di sofa,”

“apa maksudmu, aku saja,”

“aku, sudah bilang aku yang akan tidur di sofa,” Jean dan Jimmy pun saling berebut  menuju sofa di samping ujung itu, untuk sampai ke sana lebih dulu, dan,terjadilah, Jean tak sengaja menjatuhkan tubuhnya wanita ke atas dada Jimmy tepat, hingga mr.P  Jimmy yang belum ditutup tadi mengenai mrs.V Jean tanpa sengaja, sebab yang saling berebut tempat, sehingga saling menancap, bukan main sakitnya, dirasa Jimmy, begitu juga Jean yang tengah hamil, hingga mereka berdua hampir bersamaan, hampir ‘yelling up’ dan segera bangkit, namun bagaimana lagi, Jimmy yang terlalu berat bagi Jean untuknya wanita melepas itu, hingga tubuh mereka pun saling bergesekan, Jean yang terduduk pun masih melihat Jimmy dengan mata terbelalak,

“aku minta-maaf-Jimmy,” perlahan Jean pun menitikkan air mata, menandakan betapa malu-nya dirinya saat itu, namun Jimmy yang melihatnya wanita, yang masih sama-sama tergopoh-gopoh itu untuk menutupi wajah canggung-nya begitu saja, menarik tangan Jean, untuk kembali ke dekapan-nya, mengalungkan dan melingkarkan lengannya ke bahu Jean yang masih kaku itu,

“Hi, kau itu kenapa, harusnya, semua kejadian hari ini itu, aku yang minta maaf, sebab aku yang mengumpan, aku yang memulainya, maka itu maafkan aku,” Jimmy yang perlahan melepaskan pelukan-nya itu hanya memandangi Jean dengan matanya yang mulai berbinar-binar serta berkaca-kaca itu, Jimmy begitu menyesali perbuatannya, hari ini, yang tak bisa menahan pshyco-nya, terhadap sang istri lebih-lebih, namun mendadak tangan sang istri merengkuh-nya,

“kau tak perlu merasa bersalah, lagi pula sebenarnya itu wajar saja, kita juga tak sering melakukannya, yang aku yakin setiap orang di luar sana, sudah melakukannya berkali-kali dengan pasangan mereka, hanya saja, ini bukan saat yang tepat, bagi kita, aku tak bisa marah padamu,” sambil memegangi kedua rahang bawah Jimmy yang masih sedikit menganga tak percaya dengan apa yang didengarnya, benarkah, Jean tak marah, ?? ini seperti mimpi, apalagi 2 minggu lagi mereka akan segera berbulan madu, tinggal menunggu sang ibu ke sini saja, Setelah Yong Hwa kembali tentunya ke Korea Selatan, Jim yang sedari tadi diam pun kembali bangkit, meski hanya menengadahkan kepalanya, memegangi dagu belah istrinya itu, dan memberi Jean segera passionate kiss-nya hanya untuk melepaskan rasa rindu-nya beberapa hari ini yang selalu disibukkan untuk urusan rumah sakit, dan besok pagi Jimmy hendak mengajak istrinya itu ke Cathedral untuk segera berdoa, dan menjemput Yong Hwa, namun entah ciuman apa ini, sebab semuanya sudah sangat rapi dikombinasikan oleh Jimmy yang tengah di mabuk kepayang kini,

hingga mereka pun terlelap dalam keadaan yang masih menopang  badan Jean ini, masih di sofa, entah seperti apa mereka kalau bangun, pasti sakit, semua,

#Pagi pukul 07;00 bangun~

Jean yang telah menyiapkan semuanya sesuai permintaan suaminya wanita itu, sepatu, jas, kemeja, celana panjang, pokoknya, rapi sekali, meski sejenak Jean berpikir kalau Jim akan ke Rumah Sakit, tapi, Jean tak banyak bertanya, Jim yang tampak buru-buru itu pun tak sadar dengan dasi miring yang dikenakannya, Jean yang melihatnya segera membenahi dasi yang menggantung tak enak dilihat itu, Jim yang usil pun kembali mengangkat Jean hingga Jean yang naik, kaget dan berteriak suapya diturunkan, namun tetap aja, Jim pura-pura tak mendengar, kaki Jean yang melayang di udara itu, saking takutnya, makin mempererat pegangannya di leher Jimmy, hingga Jim yang geli, pun akhirnya menurunkan-nya, menarik lengannya pelan, dan menekan Jean ke dinding untuk mencium Jean, biasa sekedar casual kiss, yang makin naik, Jean yang kewalahan dengan sikap Jimmy akhir-akhir ini hanya, menggeleng kepala, namun mendadak Jim bergeming

“apa malaikat kecil kita laki-laki, sebab kau jadi tak suka aku dekati akhir-akhir, ini, dasar tak mau mengalah dengan ayahnya…” namun Jean malah tersenyum, kenapa

“kenapa, apa kau minta, aku cium lagi, ha” ketika adegan penyergapan ini mendadak mereka terganggu dengan suara yang mulai mendekat ke arah mereka, hingga mereka sama-sama menoleh

“Yong Hwa!!!”

“hai, kalian di sini, aku mengganggu, ya,”

“tidak sama sekali, kamarmu ada di bawah, bagaimana kau bisa kemari??? se-pagi ini” Jimmy bertanya, namun Yong Hwa tak menghiraukan-nya,

“HAI,HAI, tunggu, Jean, kau hamil? apa yang telah dilakukan sepupu-ku ini hingga bisa begini, untung saja, kau tak jadi denganku,”

“kenapa memang-nya? dengan istriku?”

“pasti Shin Hye sudah melahirkan sedikitnya 5 anak sebelum menikah, karena aku ini, GANAS” ucap Yong Hwa dengan nada mengejek, namun Jean justru bingung dengan Jimmy yang tak merasa terganggu sama-sekali, justru terlihat ceria, padahal dirinya tahu, kami sedang akan pergi, candaan yang sangat tak lucu, gila malah, namun begitulah, Jimmy terlalu setia kawan,hingga dirinya yang tak bisa membedakan musuh yang menusuk dengan kawan yang mendukung,

About shiellafiollyamanda

"Wish my creation can inspire a lot of people, at least around me."
This entry was posted in NOVEL. Bookmark the permalink.

One Response to He’s Our King Bee

  1. I just want to mention I’m all new to blogs and certainly enjoyed your web site. Most likely I’m going to bookmark your site . You surely come with exceptional posts. Kudos for revealing your webpage.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s