He’s Our King Bee


 chapter8

8

Detik demi Detik Kedatangan sang Pesaing Berat

Jean yang harus terbangun 15 menit sekali untuk melihat suaminya wanita yaitu Jimmy, yang tengah demam dalam apitan ketiaknya wanita sendiri, Jean yang mulai merapikan kompres yang berulang kali turun memang di dahi Jimmy yang licin itu, Jean yang merasa sangat iba dilihatnya wanita berkali-kali ada apa dengan Jimmy akhir-akhir ini sehingga terkadang dirinya sepulang kerja tampak murung tanpa Jimmy sadari, terang saja, Jimmy itu kan, seorang pria , meski lebih peka logikanya ketimbang dengan perasaannya, kasihan sekali dirinya, pikir Jean, bagaimana tidak sekarang, coba saja pikir sekarang, Jimmy di luar dirinya yang seorang dokter senior di salah satu rumah sakit sentral di Los Angeles, itu, setiap hari harus bangun pagi-pagi, setidaknya pukul, 3, untuk menyiapkan semua peralatan bedah-nya, untuk para pasien-nya yang juga kebanyakan adalah mereka yang telah tak memiliki kesempatan dan kepercayaan diri sebab mereka para pasien Jimmy pikir hidupnya sudah percuma, di ambang batas, tinggal menunggu hari yang tepat, tapi siapa bilang, Jimmy bahkan yang selalu melihat wajah dan raut muka para pasien-nya yang selalu tampak labil dan tak semangat itu justru malah membuat-nya semakin tertantang untuk menguji dan menciptakan formula baru untuk mengantisipasi ini semua, apalagi untuk resiko yang paling berat, menghilangkan nyawa pasien-nya, di bagian inilah, yang dirinya pikir sangat berat untuk memutuskan, apa yang harus dirinya lakukan, donasikan untuk bisa menyembuhkan dengan semua jumlah pasien-nya yang masih hidup yang lain, bagaimana bisa dirinya bekerja dalam tekanan batin, tenaga yang tersisa, dan tentu tak banyak lagi untuk menciptakan senyum-senyum baru hanya demi melihat pasien-nya kembali menemukan semangat hidup, juga waktu yang kian lama bukan makin memanjang……….

namun, makin singkat dan memendek saja, kasihan dirinya memang, Jimmy yang yang juga kepala keluarga, seorang calon ayah dari anak-nya yang akan dilahirkan kelak oleh Jean, yang kini sedang mencuri pandang untuk mengamati suaminya wanita yang tampak sangat kelelahan, ini, bahkan terlihat jelas dari caranya menggenggam Jean, yang makin lama makin, lemah saja, tak se-erat biasanya, juga tatapan-nya, yang terlihat sangat sendu itu, Jean yang selesai membatin itu, hanya pergi hendak keluar, ke tempat penyimpanan obat, di ruang belakang ruang tamu itu, sebuah tempat yang lebih mirip lorong itu, namun sangat terang dan rapi di dalamnya, sehingga tak bisa bila dikatakan sebagai gudang, Jean yang tak segan meraih kotak obat yang sedang ada di hadapannya tepat itu, segera dijulurkan tangannya wanita ke depan sedikit, dengan sedikit berjinjit pula, hampir saja dirinya wanita terpeleset sebab jarak kaki dan lemari di depannya yang ada hampir 50 cm, kewalahan memang Jean, namun memang apa kata, cinta membuat segalanya mungkin saja terjadi, Jean mampu mengambil kotak obat itu, dan merogoh dengan tangannya untuk sekedar melihat ke bawah, apa benar obat yang dirinya wanita ambil itu, benar, penurun panas, segeralah, Jean dirinya wanita berbalik badan, dan pergi kembali, melangkahkan kakinya wanita pelan untuk melewati dan menaiki setiap anakan tangga yang tak kurang dari 30 itu jumlahnya, Jean teringat dengan pesan sang suami setiap melangkahi tempat ini, kata Jimmy, Jean harus berhati-hati demi malaikat kecil mereka, kalau sempat Jimmy pun akan menyiapkan kamar sementara mereka untuk darurat ketika Jean yang selama hamil saja, untuk menetap, tentu tetap di kamar atas,

#Di Kamar Jean-Jimmy pukul 10;00 malam~

Jean yang melangkah pelan-pelan demi tidak membangunkan Jimmy oleh langkahnya wanita, namun memang entah kenapa, Jean yang juga bingung dibuatnya sebab, setiap dirinya wanita tak ingin sedikit pun mengganggu sang suami, malah sang suami bangun dengan sigap-nya, malah Jimmy sempat menyapa sang istri yang tengah membawa nampan berisi susu putih dan obat, penurun panas itu, entah apa merek-dagangnya, tak dipedulikan Jean, yang penting, asalkan tidak kadaluarsa saja, maka tak apa, iya, Jimmy seperti tidak ada apa-apa saja dengan dirinya, mungkinkah ini yang disebut dengan naluri dokter ? dengan sigap dirinya bangkit dengan cepat, hendak duduk namun Jean lagi-lagi menahannya, untuk membuat Jimmy kembali tenang dengan posisinya semula, astaga, pasangan suami-istri ini selalu membuat iri, di saat sehat, mereka saling manja, di saat gundah, mereka saling berbagi, masalah, satu sama lain, di saat bahagia, mereka saling bertukar cerita, dan sekarang giliran, saling, tak satu pun dari mereka yang menjauh, bahkan makin perhatian dan makin pengertian saja, tapi, entah-lah, kalau mendadak ada seorang pengganggu di tengah-tengah mereka, ‘crazy frog’ julukan yang mereka ambil untuk semua saja yang hanya bisa mengganggu mereka, yang sedang bermesraan apalagi, hahaha, kali ini, tunggu,

Jim yang sigap terduduk di hadapan Jean yang hendak menuju ke arah Jimmy yang tengah membawa nampan itu yang berisi segelas susu yang dibiarkan terbuka itu, kenapa, tentu saja, sebagai seorang istri dokter, Jean telah mencuri banyak pengalaman dari dokter Jimmy yang juga suami Jean itu, susu yang tertutup atau dibuat dalam keadaan panas tidak akan berfungsi secara optimal dalam tubuh, serta susu yang dingin atau disedu dengan air es akan jadi lebih baik, bukan semata-mata karena Jimmy sedang demam, jadi Jean begitu, bukan, bukan itu, tapi susu yang dalam kondisi ‘normal’ itu tak akan menghilangkan dan merusak kandungan fermentasi atau yoghurt-nya, jadi baik begitu, kalau terlalu panas, kasein rusak, gizi dan nutrisi hilang, ah, banyak, dan akan panjang kalau dijelaskan, Jean yang masih menahan suaminya wanita itu untuk tidak banyak bergerak dahulu,

“Jim, siapa yang suruh kau bangun, jangan bangun, AYO, BERBARING KEMBALI, kali ini kau yang harus menuruti perintahku, apa yang aku katakan, bukankah kau bilang aku ini adalah dokter Jean yang telah menyembuhkan pasien Jimmy,” Jim yang mendengarkan masih dengan mata sayu, hanya mengernyitkan dahinya, pertanda dirinya masih agak tak mengerti sebab belum sadar benar memang dari posisi terlelap-nya tadi, kasihan benar Jim, Jean yang kembali memperlakukannya sebagai seorang pasien seolah-seolah, makin tak mengerti dengan apa yang terjadi sebenarnya,

“ayo, buka mulutmu, akk,akk,” Jim yang masih menutup mulutnya dan berusaha menolak obat berupa pil kecil yang diarahkan oleh Jean itu, hanya bergidik saking takutnya, kalau-kalau sang istri itu salah mengambil obat yang mana, dasar Jimmy, kali ini, dirinya yang terlampau polos, hahaha, kasihan dirinya, tapi harus bagaimana lagi, Jean yang makin gemas, pun akhirnya memaksa se-kena-nya wanita, tangannya mampu, digapainya ujung rahang bawah Jimmy, sang suami tercinta, dan segera dijejalkan-nya pil itu ke mulut Jim, yang segera itu tutup segera, dan menyodorkan susu putih itu, Jimmy yang makin bingung namun akhirnya menuruti juga apa yang tengah dilakukannya itu, hahaha, kasihan sekali dirinya, namun mendadak Jimmy tersedak,

“uhuk, uhuk, maaf, maafkan aku, Jean, hanya bisa merepotkan, aku memang suami tak berguna, hanya bisa—-”

“hai, kau ini bicara apa, sudah istirahat yang cukup, dan hari ini, tak usah ke kantor, rumah sakit, ya? ya? kau harus–”

“kau yang istirahat, semenjak kau datang aku sudah membuat dirimu banyak bekerja, sampai-sampai kau haru mengompres dan menyiapakan semua ini,”

“ah, kau ini bicara apa, sich? aku makin tak mengerti, aku mau keluar sebentar, melihat apa asisten kita sudah masuk ke dalam,”

“baiklah, aku mengerti, spaggety-nya, tolong berikan kepada mereka sayang, di kotak itu, ambil 3–”

“iya, dan satu untuk aku, kan? siap, atasan, hehehe” Jimmy yang mendengarkannya pun hanya bisa tersenyum lebar, tanda puas dengan pelayanan yang diberikan oleh sang istri yang berusaha siap siaga di hadapannya itu, Jean–Jean, mengapa dirimu itu selalu bisa membuat hari-hari yang monoton ini begitu berwarna, coba kalau kau tak ada, atau bukan kau yang mendampingi diriku,? apa jadinya aku nanti, pasti aku sudah menua, dengan seribu kerutan di wajah-ku, hah, hufth, Jimmy pun yang berat menghembuskan nafas-nya,

#Di Lantai Bawah Apartemen Jean-Jimmy 10;20~,

mendadak suara telephone berdering,

“TULILIT, TULITLIT, TULITLIT,” “TULILIT, TULITLIT, TULITLIT,” namun sayang sekali, Jean yang belum tiba di bawah, masih di anak tangga yang hanya kurang sedikit saja dirinya wanita lalui untuk meraih gagang telephone yang berada di tengah ruang tamu yang menghiasi di samping vas bunga yang berdiri 1 mawar putih di atasnya itu, yang disangga oleh sebuah meja bundar yang melingkar dan tegak di ujung ruang tamu yang sangat luas itu, namun sayang lagi, sialnya, sesampainya Jean di lantai bawah, malah suara itu sudah tidak berbunyi sebagai mana mestinya lagi, dengan kecewa Jean yang masih menenteng bawaan 3 kotak spaggety itu pun segera meneruskan tujuannya yang hendak mencari kesembilan asisten pribadi mereka itu, sudah seperti keluarga sebab, harus kemana lagi Jean mencari mereka, di halaman depan, tidak ada, di kamar rias, di belakang, di taman depan, di taman bermain, di ujung, di sekitar kolam renang, juga tidak ditemukan, namun, tunggu sebentar, Jean yang mulai kelelahan karena sudah 10 menit mencari itu yang tak kunjung bertemu dengan para pelayannya itu di kediaman yang tak sempit itu pun akhirnya menyerah, melihat kondisinya yang kelelahan pun akhirnya, Jean merebahkan dirinya wanita ke sofa panjang yang tersedia sejak dulu di situ dan memang tak pernah dirubah posisi-nya olejh Jimmy, sebab semua perabot di rumah ini, tak pernah diubah-ubah posisi mengingat Jimmy orang yang sangat disiplin, bahkan untuk gantungan kunci dan tempat untuk menggantungkan kunci saja sudah diaturnya sedemikian rupa,

dan akhirnya, di saat yang tengah kritis itu, justru kesembilan asisten-nya muncul begitu saja, entah dari arah mana tadi, karena saking lelahnya Jean, bahkan sampai tak memperhatikan darimana mereka datang, Jean yang terperangah dan terperanjat sesegera memberikan kotak-kotak itu,

“eh, kalian, darimana saja, Jimmy sedang demam, Jika kalian mau sesuatu, panggil aku saja, ya, ini, makanlah, tadi kami beli di CA Century GM, semoga enak…. aku ke kamar dulu,”

“tapi, nyonya, apa tidak apa-apa bila naik sendiri, ke atas?? apa perlu kami bantu, ”

“Jean ini bukan orang tua, atau pun nenek-nenek, Chery,” Kata Jean sambil berusaha melangkah naik, yang masih menengok ke salah satu pelayannya itu,

“benar nyonya, tak apa-apa,”

“aku tak apa-apa, Jade, sudah kalian makan saja, menikmati makanan tak baik sambil terus bicara,” Jean pun melangkah saja.

About shiellafiollyamanda

"Wish my creation can inspire a lot of people, at least around me."
This entry was posted in NOVEL. Bookmark the permalink.

One Response to He’s Our King Bee

  1. I just want to tell you that I’m all new to blogs and absolutely liked you’re website. Probably I’m planning to bookmark your blog . You surely have good writings. Kudos for revealing your website.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s