He’s Our King Bee


chapter7

7

Penjajakan yang Lumayan Sulit 

Jimmy yang mulai merajuk itu pun terus saja mengendus nafasnya yang makin patah-patah karena sedang gundah yang dicobanya untuk ditahan, dikendalikan, sesuai dengan apa yang dirinya rasakan kini, Jean yang masih memeluknya di pundak erat itu pun masih tampak kacau dengan pandangannya wanita, kenapa semuanya begitu rumit untuk dinyatakan dengan perkataan, kenapa semuanya musti harus dilalui mereka dengan berjalan yang berliku begini, kenapa, begitu banyak batu kerikil yang harus dan terus mereka langkahi, bersama, meski semuanya terasa singkat dan begitu indah, benar kata Jean, mereka ini, yang memiliki kenangan, dimana tak bisa dikatakan dengan kenangan yang manis, namun bukan pahit juga, ya, begitulah, sulit diungkapkan dengan kata-kata, bahkan bagi orang-orang yang mungkin telah melihat dan menyaksikan kami yang sepertinya mungkin tengah seperti memainkan sebuah drama atau film layar lebar ini, yang begitu jelas di hadapan mereka, mungkin mereka juga masih tak mengerti ada apa dengan kami, melihat raut muka kami yang berantakan namun, untungnya masih tak jelas, sebab wajah kami yang saling ditutupi oleh masing-masing lingkaran dari tangan dan lengan kami yang panjang, begitu pikir sepasang suami-istri ini, masih lama seperti ini lagi,

Hingga Jean yang mulai pegal di bagian punggungnya, yach, tentu saja sebab selain faktor bayi yang dikandungnya wanita, dan memang Jimmy yang sedari 45 menit yang lalu masih saja melingkarkan lengannya yang panjang ke perut Jean yang mulai sedikit mengalami perubahan ukuran itu, sedikit keras di permukaannya, dan lebih licin, tentu hal ini tak dirasakan oleh Jimmy, sang suami, yeah, tahulah, kalian mengapa, sebab Jimmy bukan wanita, sehingga tak mudah untuk dirinya menjadi peka terhadap apa yang dialami istrinya kini, Jean pun mulai, bergerak-gerak, hendak mencari sisi dimana letak dari ujung tangan sang suami ini, dan setelah menemukan dimana, perlahan ia wanita pun mencoba melepaskan jalinan kedua lengan yang membekap erat perut yang menggantung di pinggang-nya wanita itu, hufth, bagaimana ini, namun Jimmy yang ternyata menyambutnya malah, tak marah, sama sekali tak memperlihatkan raut muka yang agak berubah malah, tersenyum simpul, begitu manis, hingga membuat Jean segikit bingung, dan tak tega, Jean pun membisikkan kata pelan di samping telinganya dengan sedikit menunduk ke arah Jimmy,

“Jim, ayo kita pergi, aku tak mau terus-terusan di sini, tak enak pada yang lain, apa kau tak malu, sedari tadi, semua pengunjung di sini memperhatikan kita, aku kikuk sekali di sini, temani aku ke luar ya, atau langsung ke halaman parkir saja,” pinta Jean yang sangat lirih itu, namun masih terdengar sedikit meski tak begitu jelas, beruntung penjelasan dari Jean yang cukup panjang dan lebar itu membaut Jimmy yang sedikit lama untuk memutuskan karena berpikir akhirnya menuruti saja apa keinginan dari Jean,

“baiklah, tapi kau, belum makan sayang, bagaimana kalau kau sakit, spagetty yang kau pesan belum kau sentuh sama-sekali-aku jadi cemas, bagaimana dengan bayi kita, setidaknya, jangan begini, dia kan makan apa lewat plasenta? dia masih sangat kecil,”

“ah!!! ayolah, sudah tinggalkan saja, aku tak enak dengan yang lainnya, Jim… ayo, aku tak apa, aku masih sehat,”

“kau bohong!!! demi menuruti dirimu, aku harap kau jangan begitu, egois sekali kau hanya memikirkan para anggapan yang lain, tanpa memikirkan kesehatan bayi kita, baiklah, aku kan membungkuskan-nya untukmu, tunggu sebentar,Jean, jangan keluar dulu, sebelum aku kembali,” Jimmy pun pergi mendekati ke arah pemilih restoran itu, dan memintanya untuk membungkuskan 10 spagetty, jangan tanyakan untuk siapa saja, Jimmy itu orang yang sangat peduli tentu saja untuk ke-sembilan asisten pribadinya dan sang istri yang agaknya tampak terburu-buru itu, sebab semenjak mereka usai menangis bersama… Jean hanya mondar-mandir di sekitar pintu yang bertuliskan ‘exit’ itu, menghentak-hentakkan kaki indahnya untuk sekedar menjaga tubuhnya wanita untuk bertahan menunggu sang suami usai dari membayarkan semuanya, dan tak lama kemudian, setelah 10 menit, Jimmy pun kembali, dengan senyum simpul yang kembali tersungging di pipinya, yang merona menghampiri ke arah Jean, dengan tangan terbuka, hendak merangkul Jean, yang sudah menahan rasa jenuhnya wanita untuk hendak keluar dari restoran, mereka pun berjalan bersama sangat hati-hati sekali, terlihat dari cara Jimmy yang menggandeng Jean, sesekali setelah merangkulkan tangan kirinya ke bahu Jean untuk menyamakan ketinggian dengan sedikit menunduk, serasi sekali, dua orang muda, yang sama-sama modish, berjalan beriringan, dengan pakaian casual-nya masing-masing,

#Di Lantai 5 Halaman Parkir dari CA Grand Century Shopping Mall~

Jean yang tampak kecapaian itu pun dibiarkan saja langsung masuk ke mobil Jimmy yang telah terparkir di paling ujung dari halaman parkir yang memang begitu tinggi dan sangat luas ini, diliriknya phonecell miliknya apakah ada sms yang masuk begitu, ternyata ada, ‘Yong Hwa’

“Geun Suk, aku kan datang segera, aku naik pesawat pukul 9 kemarin…. mungkin beberapa jam lagi aku sampai di apartemen kali, kau tak perlu menjemput diriku, atau pun menyambutku dengan kejutan yang begitu wah, aku rindu masa-masa kita di mess A.N.JELL… salam untuk Jean,” Jimmy yang membuka dan telah membacanya pun tidak langsung membalas pesan elektronik itu, dibiarkannya dahulu, sesampainya di apatemen baru hendak ia balas, dirinya pun telah menengok Jean yang menyandarkan kepalanya wanita di jendela kaca kiri mobil, oh, ternyata Jean, ah, tidak, semoga tak terjadi apa-apa dengan kandungannya wanita, Jim yang bergegas mendekat ke arah Jean,

“,Jean, sayang kau tak apa-apa, masuklah, dan segera tidur, wajahmu pucat sekali,” sambil sedikit mendorong Jean masuk dari kanan pintu, yang telah dibukanya…. Jim pun masuk lewat pintu kiri, yang berusaha menyetir, mengambil alih bagiannya… yang awalnya memang Jean yang minta untuk menyetir, tapi melihat Jean yang kelelahan, dirinya mengurungkan niatnya untuk membiarkan Jean menyetir sendirian, Jean yang masih diam itu pun menunduk, ternyata kunci mobil Jim yang tengah dicari-cari dari tadi itu, terjatuh di bawah kaki Jean, Jim yang juga berusaha mengambilnya meskipun sulit itu, mendekati wajah Jean, menyenggol bahu Jean, hingga Jean harus terhempas, ke tepi, seat-nya, dengan posisi sedekat itu, bahkan nafas Jimmy yang mengalir dari atas matanya, Jimmy yang masih meraba, merogoh dengan tangannya untuk mengambil kunci kecil warna hitam itu, yang tak segera ia dapat, hingga hampir saja dirinya menekan perut Jean yang mulai, terlihat tak nyaman di bawahnya itu, meski ada sedikit jarak, danJean yang mulai angkat bicara,

“Jim, biar aku saja yang ambilkan, serahkan padaku, tidak semua hal, akan dengan mudah kau lakukan sendiri, semua butuh waktu, dan pikiran yang dingin,” Jimmy yang mengerti itu pun segera bangkit, bangun dari posisi yang bisa membahayakan sang istri itu, Jean yang sedari tadi terbaring pun bangkit segera mengangkat gagang kunci itu ke hadapan Jimmy,

“ini,”

“jangan melihatku seperti itu,” Jean menambahkan untuk mempertegas ucapannya, Jimmy yang tak habis pikir kenapa lagi dengan istrinya kali ini, sebentar-sebantar, dia baik, dan manja, sebentar-sebentar pula, marah-marah dengan sebab yang tak jelas, sebenarnya hendak diciumnya sang istri, namun mengingat respon dari Jean yang sangat datar itu, hingga menyadarkan Jimmy akan ide bodohnya, sesegara itu, Jim langsung mengkaitkan kunci ke bawah setir melingkar itu. dan mengendarai turun mobilnya,

#Sampai di Kediaman Jean-Jimmy, pukul 04;00 sore,

Jimmy yang menggendong Jean yang ternyata telat teridur nyenyak sejak melewati batas Avenue di CA Grand Mall tadi, melihatnya, Jean yang menengadah dengan mulut yang sedikit terbuka itu, makin membuat Jimmy, sang suami makin gemas saja dengan tingkahnya, Jean yang masih dipandangi-nya sembari terus melangkahkan kakinya maju untuk melihat ke depan sesekali, yang sebenarnya juga tampak kerepotan sekali, dengan tangannya yang dua-duanya membawa beban, meski Jean tak begitu berat, namun 4 kotak berisi spagetty itu yang membuat Jimmy begitu terperdaya untuk mengangkatnya, wajar, tak satu pun dari asisten-nya yang sedang berada di rumah, sehingga sepi nyenyat, Jean yang mulai terbangun oleh suara gesekan kotak kardus kecil dan plastik putih yang melapisi ke-empat kotak itu, hanya nampak begitu bingung bagaimana mereka sudah di rumah, dan melihat Jimmy yang masih dalam keadaan menggendongnya dengan bawaan-nya itu, berusaha membantu Jimmy yang tampak kerepotan,

“biar aku yang bawa kotaknya, ini kan naik, kau pasti kerepotan, bisa-bisa kita terjatuh, jika kau kehilangan sedikit keseimbangan saja, sini, aku bantu, ini, ya? mana?”

“eh, tidak, tidak, jangan, yang ada, jika kau bergerak sedikit saja, bisa-b-sa aku menjatuhkan ini, dan kau terutama, yang paling rawan,”

“tapi, aku hanya mau membantu saja, Jim, ya,” Jean yang berusaha merayu, hingga sampai di depan kamarnya pun tidak juga diijinkan oleh Jimmy yang begitu khawatir, Membaringkan Jean di ranjang-nya yang luas itu, nampak sekali, asisiten-nya membersihkan tempat mereka ini sebelum pergi keluar, wangi seprai yang masih baru, selimut yang diganti dengan warna merah, semuanya, termasuk vas bunga yang biasa bunganya putih diganti dengan merah, serba merah, entah kenapa juga, namun Jimmy yang tak sadarakan ucapannya yang sedikit mengganggu istrinya yang beranjak tidur di sampingnya itu, yang baru saja belum lama Jimmy merebah di samping kiri istrinya itu, telentang, tangannya,

“aku, di kamar sebelah, ya, lagipula Yong Hwa pukul 9 malam akan segera sampa,” Jim yang hendak pergi itu, pun ditahan kepergian-nya oleh Jean yang sedikit berteriak parau itu,

“kenapa,? kau masih marah?, aku tidak melarangmu, untuk berada di dekatku,”

“dan satu lagi, aku tak ada apa-apa dengan Yong Hwa, jangan sebut namanya bila kau hanya ingin memperkeruh suasana, pergi saja,”

“tapi, Jean..”

“bukankah kau mau pergi–” Jim yang mendengar seruan dari Jean pun segera kembali ke posisi-nya awal yang merebah di samping Jean, Jean menangis lagi, Jim tidak bermaksud untuk menambah lukanya, Jim pun memeluk Jean dari belakang, perlahan, hingga sampai di puncak, perut Jean, mencium punggung kepala Jean,

Jean yang tak tahan semenjak tadi ingin menangis hanya sesenggukan mendengar pernyataan Jim, yang berusaha menahan birahi-nya  itu, namun Jean mendadak berhenti oleh pelukan yang dihantarkan oleh Jimmy, yang terdiam di sela-sela leher dan pundak Jean itu, Jean pun diam-tetap diam untuk mengendalikan emosinya wanita , menvoba membalik badan, namun.. serasa punggung-nya mau copot, oh, Jimmy lagi-lagi menahannya untuk tidak bergerak, dan Jean mengikuti saja, Jimmy yang hanya diam itu awalnya. mulai menyalurkan perasaan-nya lewat tangan kirinya yang telah melingkar di puncak perut Jean tadi, menuruni hingga ke pusar Jean yang masih berlapis kaos casual yang masih dikenakan Jean sejak tadi, Jean yang kaget, melotot tanpa menoleh ke arah Jimmy,

“MAU APA KAU ?” Jim yang hanya diam saja, masih tak menjawab itu, hanya terus melingkarkan tangan kirinya ke perut Jean, iya, masih di sekitar situ, namun Jimmy pun memberanikan diri untuk menindaklanjuti kegiatannya,

“bolehkan aku membuka sedikit atasan–” namun selanjutnya tak terdengar, sebab Jim yang punya tenaga itu, hanya berbisik, Jean yang diam saja, mendengarnya, membuat  Jimmy segera melancarnya aksinya, dibukanya bagian itu, hingga Jean yang mulai terlelap pun hanya mengenakan breast holder itu, sesegera Jim menutupinya dengan selimut merah yang usai diganti itu, dan mendekat Jean yang mulai pulas itu, namun Jean yang segera terbangun sebab terperanjat, bersentuhan bahunya wanita dengan dagu Jimmy yang tengah demam itu, panas, Jean pun segera membalikan badannya wanita, mengencangkan selimut di ketiak-nya wanita untuk sekedar mengambil kompres tanpa mengusik Jimmy yang mulai bergeming di sampingnya itu

“ibu-ibu, ayah, aku, sedih, tapi bahagia, bisa lihat, dari wajah, aku, dan Jean,” Jean yang melihatnya nanar dan penuh iba, segera bergegas ke kulkas untuk mengambil balok es, yang telah tercetak kecil-kecil di situ, segera datang pula dengan handuk kecilnya itu, dituangkan-nya batang-batang kecil es dan disematkannya ke dahi Jimmy, Jean yang begitu prihatin, sampai, sampai, tak melihat kondisi-nya sendiri yang juga tengah mual itu, dirinya mencoba tidur di samping Jimmy, suami tercinta, sekedar menempelkan dahinya wanita ke dahi Jimmy… untuk menguranngi suhu tubuh Jimmy dengan menyalurkan ke dalam tubuhnya wanita ganti, kasihan mereka, Jimmy ternyata juga tak kalah kelelahan, 15 menit sekali Jean bangun hanya untuk membenahi kompresan Jimmy, apa suhu tubuhnya sudah turun atau belum, namun, mendengar Jimmy yang sering mengigau, membuatnya wanita semakin tak tega untuk sekedar meninggalkannya sebentar untuk berganti gaun tidur, hingga terpaksa ia wanita menggantinya di ranjang itu pula, sebab piyama dan gaun tidur yang telah di sediakan di dekat telephone di atas meja yang ditempati lampu meja itu, Jean yang selesai mengenakan gaunnya wanita bahkan masih mendengar igau-an dari Jimmy, sang suami tercinta, tampaknya Jimmy memang sedang memikirkan sesuatu yang telah menyita pikirannya sekarang ini,pantas saja, kalau beberapa hari ini, dirinya sering mengajak Jean untuk keluar, jalan-jalan, ya, mungkin itu, efek samping dari lembur-nya berhari-hari ini yang mengharuskan Jimmy untuk sibuk di rumah sakit itu, bahkan Jean yang masih tak diijinkan untuk memandu para trainer-nya di Bayway Office, hah, Jimmy, harusnya kau berbagi kepadaku, kecuali bila kau masih tak percaya padaku, Jim, Jean pikir begitu, hingga mereka yang tertidur, dengan posisi Jean memeluk kepala Jimmy dengan melingkarkan tangannya itu, namun mereka kan terbangun pagi-pagi sekali, hari itu, sebab siapa lagi kalau bukan Yong Hwa, yang akan datang,

About shiellafiollyamanda

"Wish my creation can inspire a lot of people, at least around me."
This entry was posted in NOVEL. Bookmark the permalink.

One Response to He’s Our King Bee

  1. I simply want to tell you that I’m beginner to weblog and actually enjoyed you’re website. Almost certainly I’m planning to bookmark your website . You absolutely have wonderful stories. Thanks for revealing your webpage.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s