He’s Our King Bee


chapter6

6

Mengungkapkan Beberapa yang Tak Masing-Masing Ketahui 

#Di CA Grand Century Shopping Mall Menjelang pukul 12 siang

Jim yang masih melihat-lihat jam tangan pria yang berada di hadapannya yang masih berada dalam kaca yang disusun lebih mirip lemari geser di Jepang itu terus, mencoba menyesuaikan dan mencari warna serta corak apa yang cocok, namun dirasanya Jean yang terlalu sering bergerak di sampingnya itu, mungkin dirinya wanita tak merasa nyaman dengan banyak orang yang sedari tadi melihat mereka, ya hanya, ke arah pasangan ini, hah, harus bagaimana lagi, niat awal memang ingin Jimmy memamerkan bagaimana mereka menjalani hidup sebagai pengantin muda Amerika, eh, tapi, malah, semua orang nampaknya yang tak mengerti dengan apa yang tengah mereka lakukan itu, seperti benar-benar pasangan yang sedang berpacaran, kekasih baru yang barusan berhubungan belum lama begitu, tampak begitu lengket, cara Jim yang menggandeng istrinya itu, mengatakan sesuatu atau bahkan membisikkan sesuatu ke arah telingan Jean, Jean saja yang awalnya kikuk dan amat canggung perlahan bisa mengatasi rasanya yang tak semestinya terlihat begitu bingung, seperti baru pertama kali saja pergi hang-out dengan sang suami tercinta, lucu benar memang pasangan ini, Jim yang sedari tadi masih diam, pun, akhirnya berucap juga, dipikirnya dirinya juga harus memberikan sesuatu kepada istrinya itu, dilihatnya ada gelang dan pasangan kalungnya yang bermotif bintang dan mahkota di atasnya, langsung saja dengan sigap Jimmy meminta kepada penjaga stand perhiasan itu, tanpa perlu menanyakan kepada Jean apakah sebenarnya dirinya mau menerima itu, hehehe, tentu saja mau, pastinya, siapa yang tak mau disuap, apalagi oleh sang pujaan hatinya, hahaha, Jean yang tak begitu memperhatikan apa yang tengah dilakukan suaminya wanita ini, masih saja celingukan, sesekali kepalanya ia wanita putar, untuk melihat kondisi orang-orang di sekitarnya, apa masih memandang mereka seperti tengah memandang artist yang baru saja lewat sebab incaran gossip, hehehe.. Jean jangan bingung ya, ini semua bukan paparazzi, hanya saja mereka sedikit terpana dengan keharmonisan pasangan baru ini, sungguh membuat orang-orang yang tengah berlalu lalang itu makin iri saja, hahaha, bagaimna tidak, sekarang pikir saja, mereka tampak begitu menikmati, kecuali, Jean yang masih bingung dibuatnya oleh pandangan orang-orang yang masih belum bisa jauh melihat dan memandangnya meski berjalan menjauh atau berlalu begitu saja dari hadapan Jean, Jean yang mulai tampak risih pun akhirnya menyentuh tangan suaminya itu,

“Jim, ayo, segera pergi,”

“oh, kau mau pergi ya, sayang, sebentar, tunggu, kartu kreditku masih untuk membayarkan semua ini,” sambil memperlihatkan 2 kotak ukuran medium kardus, sepertinya, tapi  Jean masih juga tak menghiraukannya, Ingin segera dirinya wanita meninggalkan tempat itu, hingga sampai-sampai kakinya itu beranjak dan menabrak seseorang wanita tua yang sedang membawa trolly berisi banyak susu bubuk formula untuk tulangnya mungkin,

“aduh, maaf, anak muda, ayo aku bantu bangun, kau tak apa, apa ada anggota keluargamu yang di sini untuk mengantarkanmu pulang, tampaknya dirimu sangat tidak sehat,” Jean yang terjatuh itu, hanya menganga menengadah untuk melihat ke arah nyonya itu, sudah nenek-nenek tepatnya, kasihan dirinya, kenapa bisa sampai sendirian, tanpa cucu, suami atau anaknya beliau wanita mungkin, namun seketika lamunannya dihentikan oleh sang suami, Jimmy yang saking kagetnya, memegangi kedua bahunya wanita untuk segera bangun dan memastikan tak ada yang terluka, dari tubuh  Jean itu,

“astaga, sayang… kakimu terluka, aduh, kenapa bis begini, maafkan aku ya, yang sedikit teledor menjagamu, maaf…” sambil mengelus-elus rambut istrinya itu, namun kemudian segera tersadar untuk menyapa nenek yang berada tepat di hadapannya agak serong ke kiri,

“ah, maaf merepotkan anda nyonya, ini istri saya, lain kali saya akan benar-benar menjaganya dengan baik, terima kasih atas pertolongan yang nyonya berikan, aku Jim, senang kalu nyonya mau ikut dan bergabung dengan kami makan,”

“oh, tak perlu, senang bertemu denganmu, anak muda, sampai bertemu lagi di lain waktu, aku buru-buru, mari,” Nenek tua itu pun secara cepat sudah tak terlihat lagi punggungnya, dilihatnya Jean yang tengah menahan kesakitan sebab kakinya yang sedikit lecet dan berdarah pada pergelangan-nya itu,

“ashhh,”

“tenang ya, sayang, ayo kita makan, aku tahu kau tak konsentrasi, sebab kau sedang lapar, kan? ayo aku papah, maaf ya, aku membelikan perhiasan untukmu, aku rasa kau membutuhkannya, sebagai wanita, tubuhmu terlalu polos, untuk suatu polesan,” Jim pun memapah Jean yang kesakitan itu, mengerang, masih menahan rasa perih di kaki kirinya, aduh, kasihan.., namun justru semakin membuat Jimmy makin perhatian terhadap dirinya, lihat saja,

#Di La Fontte, Restaurant, Grand Mall Lantai 3

Jim yang berusaha perhatian kepada istri tercintanya itu, hanya melihat dengan tatapan penuh kasihan iba dan nanar, seperti tak percaya, dirinya mengulang kesalahan yang sama karena teledor menjaga Jean, namun mendadak ringtone-ya, yang berbunyi dari Justin Timberlake itu “She Will beloved”, sebentar saja ia meninggalkan Jean untuk menerima voice-call itu, ternyata dari Yong Hwa yang mengabari bahwa dirinya akan datang lebih dulu sebelum para AN kru yang kemarin belum datang ke acara pernikahan Jean-Jimmy kali itu, 6 bulan yang lalu dan juga meninggalkan Hong Ki dan ibunya Jim, sesegera mungkin Jimmy kembali untuk menemani istrinya makan itu, Jean yang sedari tadi hanya diam dan memainkan spagetty-nya itu tampak sekali kalau dirinya wanita sedang tidak berselera makan, hah, kasihan, Jim pun menceritakan kedatangan rencana Yong Hwa yang akan menyusul ke apartemennya itu,

“Jean, Yong Hwa, dia akan segera kemari lagi, menemui kita, kau pasti suka, bukankah dia adalah cinta pertamamu?”

“hemmm,” Jean yang menggerutu sebab penyataan Jimmy yang sangat mengagetkannya,

“apa,”

“aku tak menyukai siapa pun selain dirimu, Jim, kau masih belum percaya sepenuhnya padaku ternyata, aku bertambah benci padamu, lalu kenapa kau mau menikah denganku? katakan… ”

“buatlah aku mengerti” jelas Jean sekali lagi, Jimmy yang tetap saja memandanginya tak mengerti kenapa dengan Jean,

“Aku menikah denganmu bukan karena janjiku, kau tahu, jangan buat aku marah, atau suasana runyam, kau pikir kau itu kenapa, hingga membuatku jatuh hati, karena, kejadian itu, video itu, hingga ayahku yang memintaku untuk segera melamarmu? ayahku, meninggal sebelum dia melihatku menikah, mendapatkan pendamping dalam hidupku, aku dan, aku memilihmu, juga bukan karena video itu, video itu hanya perantara, tidak lebih,”

“hehh, apa maksudmu, Jim? aku tak ingin mengerti, jangan bertele-tele, jadi kau menganggapku sebagai mainanmu sekarang ini, bagus, lanjutkan saja, teruskan,”

“dengarkan aku dulu, jangan potong pembicaraanku, aku tahu kau sedang marah, semua orang hamil pun begitu, sering labil entah mengapa… aku, mencintaimu, terlalu, kau pikir siapa yang mendoakanmu di balik koma waktu itu, siapa yang mengompres dahimu di kamar Yong Hwa 5 tahun silam? siapa yang membawamu pulang ketika kau pingsan dan terjatuh di jalan persimpangan menuju asrama A.N.JELL? dan siapa yang mengirimkan surat untukmu, hanya untuk mohon diri agar kau bisa menerima kepergianku, itu aku, itu AKU,!!!” Jean yang menangis mendengar penjelasan yang panjang lebar, cukup lumayan panjang dan lebar dari mulut Jimmy, yang selama ini terkenal pendiam dan laga cueknya yang selalu membuat Jean harus mengumpannya dengan sebuah pertanyaan terlebih dahulu, Jimmy yang mengguncang-guncangkan bahu Jean yang masih membeku di pelupuk matanya wanita yang sangat terlihat dan tak mampu ditutupi itu, Jean hanya menitikkan air mata, yang mulai deras, mengingat semua masa-masa, lalunya yang dipikirnya terlalu indah dilupakan dan terlalu pilu untuk diresapi,

“maafkan aku, Jim, Aku hanya–” Jean yang awalnya terkatup bibirnya wanita itu sekarang mulai angkat bicara,

“jadi kau mengerti sekarang,”

“aku, hanya, tak habis pikir bagaimana bisa kau mencariku, dalam keadaan hilang ingatan, mengapa,”

“mengapa tak bisa, terlalu banyak memory-ku denganmu yang tak akan mungkin kulupakan, hanya kau ada 1 yang tersimpan di hatimu, di pikiranku, ketika bangun, bahagia, bahkan mimpi buruk, selalu ada namamu dimana-mana, aku mencarimu, ke Korea, sejak 15 tahun, dengan hanya memakai sepeda motor penuh emosi se-ampai diriku di Seoul, namun ku tak menemukan jejakmu Jean, hingga aku yang teringat, 22 usiaku, aku, berjumpa dengan stylish baru, yang sangat polos, namun justru itu yang aku suka darimu, entah apa kau ingin katakan kepadaku, namun itu jujur, dari lubuk hatiku,”

“bagaimana kau bisa tahu itu aku, dan sejak kapan kau kembali menyukaiku, aku sulit mempercayai ini, Jim, jelaskan semuanya, ” Jim hanya menunduk, seperti tak sanggup kata-kata yang keluar parau, sangat parau,

“di kamar Yong Hwa, aku melihatmu mengenakan kemejanya, dengan selimut tebal yang menutupi tubuhmu, entah dengan maksud apa, awalnya aku tak mengerti, rapi setelah tak sengaja aku membuatnya tertarik membuka, aku terbelalak kaget, bagaimana bisa sepupuku itu mengkhianati kepercayaanku, menidurimu, padahal kurang sebentar saja, aku sudah memasrahkanmu padanya, ternyata, kau pingsab saat itu, dan dia hanya berusaha menolongmu, aku, maaf, dan aku lebih terperanjat lagi, setelah mendengar kau yang mengigau, ‘KUDA JELEK’ MAAF, AKU TAK BERMAKSUD MENYUKAI ORANG LAIN, dan entah apa kelanjutannya, mana aku tahu kalau kau begitu merasa bersalah, seketika itu, aku mengerti siapa kau sebenarnya, kau juga tengah merindukaku selama ini, begitukan, maafkan aku atas sikapku yang semena-mena dan selalu bersikap semaunya terhadapmu, meski aku Geun Suk, namun aku bukan dirinya yang dulu lagi, aku hanya berusaha menepati janjiku, untuk menjagamu, badut pesta, meski sebutan itu tak pantas lagi kau sandang,” Jean yang semakin merasa hanyut ke dalam semua, ini, tiap kata yang terlontar oleh Jimmy akan kesetiannya untuk Jean yang rela menunggu untuk semenjak 12 tahun lalu,

“aku, tak merasa kau punya salah padaku, tak tak salah apa-apa, kau orang yang aku cintai, aku tak menyesal, menikah denganmu, apa kau pernah atau sempat berpikir bahwa aku tak bahagia hidup denganmu, ? demi nama mendiang ayahmu, aku bahkan rela bila kau waktu itu harus mati demi transplantasi jantung untukku, sebelum aku , dan setelah aku terbangun dari koma, aku tak akan menikah dengan siapa pun itu, orangnya, se-tampan apa pun dirinya, atau se-kaya atau seribu kali lebih hebat darimu, aku kan tak pernah menerimanya, bahkan aku berani mengakhiri hidupku dengan mudah atas ini,  aku sulit mengatakan bagaimana perasaanku terhadapmu, semuanya bercampur aduk bagai sup yang tengah penuh di kepalaku, aku tak bisa berkata, bahkan malam itu, di gedung bioskop AN,”

“APA YANG TENGAH KITA LAKUKAN!!! kita memang sama-sama orang bodoh, sehingga Tuhan pun kembali merencanakan kita untuk bersama… meski Yong Hwa yang penuh pesona dan misterius, Hong Ki yang selalu bisa menghiburmu,namun justru kau meilih aku, dan saat di loteng, dan di dalam gedung bioskop waktu itu, sebenarnya aku merasakan ketidaknyamanan dari wajahmu, kenapa aku memilih film balad untuk mengajakmu kemari, karena aku hendak pergi, aku berusaha untuk mengatakan bahwa aku mau pamit, namun aku salah, aku tersadar bahwa kau telah jatuh cinta kepadaku, aku yang telah membuatmu jatuh hati, kepadaku, maaf, maafkan aku, Jean, aku tak sengaja melakukannya, itu semua di luar batas perkiraanku, aku tak bisa menahan tangan dan bibirku untuk tidak menahanmu dari dekapanku, aku, aku, tak seharusnya melakukan passionate itu, maaf, maafkan, mau kau memaafkan aku yang jalang ini?…..” suara Jimmy yang makin lama makin tak terdengar saja, Jean yang tak kuat menahan emosinya, hanya memegangi tangan Jim, sang suaminya, sambil berusaha berucap,

“tidak apa-apa, tidak apa-apa,” sambil menangis berdiri, untuk mendekap bahu Jimmy, yang kemudian mendekatkan kepala Jimmy ke arah Perut Jean, mereka pun menangis bersama, tak kurang dari 2 jam mereka, menghabiskan waktu bersama, itu termasuk menangis bersama pula, Jean, Jimmy yang ternyata, saling mencari selama ini.. memilukan, 30 menit sudah mereka masih dalam posisi seperti bersimpuh itu, Jim yang mulai terhenti menangisnya, merangkulkan tangannya ke perut Jean, mendekatkan perutnya wanita ke wajahnya untuk sekedar, mengusap air matanya, yang sedari tadi telah mengalir ke dagu dan membasahi leher panjangnya, Jean pun hanya menciumi pelan di puncak ubun-ubun Jim, yang mencoba menggantikan posisi Jim yang biasanya melakukan itu untuk Jean,

About shiellafiollyamanda

"Wish my creation can inspire a lot of people, at least around me."
This entry was posted in NOVEL. Bookmark the permalink.

One Response to He’s Our King Bee

  1. I simply want to tell you that I am very new to blogs and honestly loved your web page. More than likely I’m going to bookmark your blog post . You really come with wonderful posts. Many thanks for revealing your website.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s