He’s Our King Bee


chapter 5

Pacaran Setelah Menikah 

5

 

#Di Kamar Jean-Jimmy pukul 10;00 pagi,~

Jimmy yang benar-benar masih mengantuk sekali, lagi-lagi bangun terlambat, bahkan dirinya tak tahu-menahu kalau Jean yang berada di pelukan-nya itu pun telah bergerak-gerak pertanda hendak bangun, tapi, hendak bagaimana lagi, Jim yang tampaknya tengah kelelahan sampai-sampai tak merasakan gerakan Jean, istrinya tercinta ini yang sudah segera hendak turun dari dekapan-nya ini, berusaha untuk bangun sepelan mungkin demi tidak membangunkan suaminya dia wanita yang tampak begitu nyenyak dan terlelap itu, dipandangi-nya sesekali, wajah dan raut muka suaminya wanita itu, sambil, tersipu, entah malu, atau memang menahan tawa, tak ada yang tahu, Jean kenapa? namun suaranya wanita, yang tersenyum saking tak bisa menahan itu, yang membuat ranjang-nya sedikit berdecit, mengeluarkan bunyi,sebab getaran dari tubuhnya yang telah terduduk itu, Jean, Jean, sungguh polos,niat awal memang tak membangunkan, namun malah, tak hanya membuat Jimmy yang terlelap, terduduk sebab terperanjat saking kaget-nya, lagi-lagi Jean yang ketahuan, sedang memandangi wajah suami tercinta itu dalam keadaan lemahnya, Jim yang tak tahan mendadak langsung saja menarik salah satu pergelangan tangan Jean, memeluk dan membekap bahunya dengan lengannya yang panjang untuk segera menahan sang istri agar tidak beranjak dan pergi begitu saja dari kamarnya,

Jean yang merasakan risih, begitu saja berusaha beranjak, namun tetap saja, meski dirinya bersikeras untuk pergi, namun Jimmy yang lebih kuat tetap dengan santai mengapit Jean di bawah ketiak-nya itu, bahkan Jimmy tersenyum, hingga tertawa, cekikikan, entah kenapa pula, yang jelas, hatinya senang sekali bisa menggoda istrinya itu, Jean yang tak terima pun terus berusaha untuk bangkit, yang akhirnya bisa juga meski harus mengeluarkan keringat sedikit, Jim, yang mendongak ke arah Jean hanya tetap diam sambil, melihat ke arah wajah Jean, tak dilihatnya pula Jean yang marah, malah lesu, nampaknya, ide gila pun kembali keluar dan muncul menyeruak begitu saja dari kepalanya,

“Jean, kau kenapa sayang,?” Jean yang masih tak mendengar sebab lamunan-nya itu tetap saja diam dan bungkam,

“jawab aku, Jean, apa kau masih marah denganku, mengenai–”

“IYA!!! AKU MARAH PADAMU, SEKALI, SANGAT,”

“apa, bukankah semalam kau yang memohon padaku,? apa kau lupa???” Jim yang tak habis pikir dengan apa yang diucapkan istrinya barusan ini pun, kembali terduduk mendekati Jean dengan halus,

“Jean, aku minta maaf, sayang, apa ada bagian yang sakit, tapi sumpah, aku tidak melakukan yang macam-macam, kau boleh membunuh aku kalau tak—-”

“shuutt,” jawab Jean sama halus-nya dengan mengarahkan satu jari telunjuk kanannya ke bibirnya yang mulai mengatup meski belum begitu rapat,

“Siapa yang sakit ? siapa juga yang marah ? tanggapan dariku, biasa saja, kau bisa lihat,tubuhku masih lengkap, tak ada yang kurang atau pun rusak, aku ini bukan kaca yang rawan pecah, kau tidak perlu mengkhawatirkan aku sampai se-begitu-nya, Jim, biarkan aku—” Jim yang mulai memahami maksud dari perkataan istrinya itu langsung saja menyerobot,

“tidak, kau tetap harus di rumah, kalau ingin jalan-jalan kau bisa dengan para asisten kita, atau kau ingin ke taman bermain, tinggal suruh antar aku saja, aku tak akan pernah keberatan, kau mau ke gereja, aku juga sempat mengantar-dirimu, sungguh,”

“tapi, semua newcomer trainerku, bagaimana nasibnya,”

“ah kan cuma itu,kenapa itu yang kau pikirkan,”

“aku serius,”

“aku juga tak sedang bercanda,” Mendadak tanpa sadar gerak refleks-nya kali ini, seperti kebiasaan lalu-lalu Jim yang selalu membuat Jean makin geram dan risih, merangkul Jean yang berada di hadapannya untuk tidur lagi, Jim yang melihat wajah Jean yang kaget luar biasa, malah dengan tenang, mengapit kaki Jean yang terjatuh menyandar di dadanya itu, Jim pun kembali tersenyum, sambil menutup mata tentunya, Jean yang makin geram tampak dari matanya terus saja berteriak,

“JIM!!!!! DASAR PEMALAS!!! DOKTER MACAM APA KAU INI!!!!” “siapa bilang aku ini dokter? aku ini pasien Jean yang baru saja pulih, harusnya dokter Jean memanjakan diriku ini, dengan sepenuh cinta,”

“ihh,” tangan Jean yang berusaha mendorong wajah Jimmy untuk menjauh darinya… malah semakin nakal saja, Jim mengapitkan kaki satunya untuk mengaitkan kakinya yang satu telah mengapit kaki Jean tadi, menindih paha Jean hingga Jean tak dapat berkutik,

“JIMMY,!!! AKU SERIUS!!! AKU INGIN KELUAR, POKOKNYA KELUAR!!!!”

“HAH, ITU URUSAN GAMPANG!!!” Jim yang mendengarnya pun ikut-ikutan berteriak di atas telinga Jean, melepaskan pelukannya dan segera mengangkat Jean dari ranjang untuk membawanya mandi, benar-benar bersama kali ini!!!

30 menit kemudian~

“Ayo Jean, kau sudah siap, tapi, harusnya kau tak memakai bawahan berbahan Jean atau Levis seperti itu, itu bisa menekan bayi kita, ah, kau ini, mana bajumu,”

“mau apa,” Jean yang bergidik mundur selangkah dari Jimmy,

“ah, tenang, pakailah sendiri,” dengan gugup Jean pun langsung menggantinya dengan celana panjang krem biasa dan atasan yang tak kalah casual-nya… Jean yang juga terperanjat sebab melihat Jimmy yang memakai pakaian casual lengkap dengan Jacketnya, dan celana Jeans-nya, tak mengenakan jas, di depan pintu kamar, hendak menuruni tangga yang berada tepat di depan mereka,

“ada apa, ada yang aneh denganku,”

“eh, tidak, hanya saja sedikit, tampak lebih muda, oh, iya, ”

“baiklah, AYO!!!” Jean yang kaget bukan main sebab Jimmy yang mengangkatnya tiba-tiba untuk menuruni tangga,sebab bukan hal yang mudah untuk seorang ibu hamil, bukan 3 anak tangga, tapi 3 buah induk tangga, yang masing-masing ada 10 anak tangga per induknya, dengan tenang Jim membawa istrinya, itu,

“apa tidak berat???”

“tidak akan, berat bayi tak akan melebihi 4 kilo gram,”

“bukan, tapi aku-nya,”

“tenang saja, berat badanku cukup untuk menopangmu, 65 kilo gram, paling kau tak ada 50, kan?”

“darimana kau tahu, aku hanya 47, dengan tinggi hanya 171”

“aku saja 185, pantas, kau masih terlihat pendek di hadapanku, sekarang kita ke Grand Mall saja, ya? beli es krim, bergandengan tangan, menonton film, seperti layaknya anak muda pada umumnya,”

“cieehh, kau ini, terimakasih sudah mau menuruti kata-kataku,”

“iya, istriku,”

45 menit kemudian~

“Kau lihat, Jean,., semua mata memandangi kita, kenapa? apa ada yang salah dengan penampilanku? aku malu,”

“sini aku tutupi wajah-mu, Jim, hahaha,” dengan riang gembira mereka terus berjalan, dan berhenti sejenak, untuk melihat sebuah jam tangan pria yang sangat elegan di samping sorum mobil itu,.

About shiellafiollyamanda

"Wish my creation can inspire a lot of people, at least around me."
This entry was posted in NOVEL. Bookmark the permalink.

One Response to He’s Our King Bee

  1. I just want to say I’m newbie to weblog and certainly savored you’re web blog. Probably I’m going to bookmark your site . You surely come with great posts. Thanks a lot for revealing your blog.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s