He’s Our King Bee


 chapter4

4

Menahan untuk Menjaga

Dengan masih posisi yang begitu dekat, hidung mereka yang tertaut itu, Jimmy pin akhirnya berinisiatif untuk mengajak Jean, istrinya itu untuk berdansa, kebetulan, lagu yang tengah diputar adalah “I Just Call to Say I Love You” meski hanya instrumen itu, mereka pun berdansa, Jean yang mengalungkan kedua tangannya pada awalnya sekarang menurunkan salah satunya yang kiri untuk berpegangan ke tangan kanan Jimmy, semua pun kembali hening, namun sangat romantis bagi mereka, Jimmy yang melingkarkan tangan kirinya untuk memegangi pinggang Jean, dengan pelan dirinya mengalunkan langkahnya untuk menghindari bersenggolan dengan tubuh Jean yang bisa-bisa mengenai perutnya yang tengah mengandung buah cintanya itu, hingga larut dalam dansa itu, dimana restoran mewah pun mampu mereka sulap menjadi sebuah Ball Room, sungguh menyenangkan, dan terakhir kalinya mereka duduk untuk makan beefsteak, yang agaknya juga sudah mulai dingin itu, kemudian ditutup dengan desserts-nya es krim, vanilla, bukan, kali ini karena acara spesial untuk Jean, maka Jimmy pun yang perhatian memberinya es krim coklat, dengan hiasan sebuah strawberry di ujung atasnya, menarik bukan? siapa yang tidak iri dengan pasangan ini, sampai mereka keluar pun, semua mata orang yang berada di restoran itu masih terus saja mengikuti langkah mereka berjalan, hingga menghilang dari koridor menuju halaman parkir mobilnya,

#3 hari kemudian, Di Kantor Jimmy, L.A. Hospital Directory 12;00 malam~

Jimmy yang kelelahan di kursi putar hitamnya yang tebal itu pun menyandarkan tubuhnya di kursi kesayangannya itu sekedar untuk memikirkan apa yang kiranya tengah dilakukan oleh istrinya itu, apa mungkin Jean sudah tidur, atau malah belum? hanya untuk menunggu kedatangannya?, tapi, mana mungkin, orang hamil, kan bisa saja menjadi berubah semua kebiasaannya, tapi biasanya pukul 11 dia wanita yang si istri tercinta-nya itu sudah beranjak tidur, mengapit satu guling di sebelah kirinya, tanpa menggunakan satu bantal pun untuk bersandar, tapi aneh, untuk apa Jean melakukan tidur dengan gaya seperti itu, biasanya kan para wanita senang tanpa guling dan menggunakan bantal yang paling nyaman??? namun bagaimanapun juga Jean adalah istrinya, jadi tak perlu ambil pusing Jimmy memikirkan kebiasaan istrinya itu, ingin sekali Jim menelepon Jean untuk menanyakan sedang apa dirinya di rumah, apa kesakitan mungkin ? bagaimana Jim bisa tenang sebab sudah 2 hari dirinya tidak berada di kediamannya itu, untuk menginap di rumah sakit bersama para rekan-rekannya untuk menangani masalah tenaga kerja yang dianiaya si salah suatu negara di asia, entah dimana itu, wajahnya yang parah, rusak, dan yang paling parah, jantungnya ikut terhunus, dan terluka sebab sayat-an pisau tajam yang dilayangkan dari majikannya itu, mengerikan, Jean yang di rumah jangan sampai mendengar berita ini kalau suaminya wanita tercinta sedang sibuk menangani pasien ini, oh, tidak,

“Sebenarnya aku ingin pulang, tapi, bagaimana kalau aku tak mampu menahan perasaan-ku, bisa-bisa aku meneteskan air liur-ku hanya demi untuk tak melakukannya,” Jimmy pun mengguman dalam kesepian itu, Ah, mendadak dirinya menemukan sebuah metode baru, dibacanya botol kecil hitam yang bertuliskan salah satu merek obat penenang, seperti morfin itu, untuk apa, ya, tentu untuk disuntik ke tangannya sendiri, agar dirinya mampu mengendalikan pikiran bawah sadarnya, demi pulang tanpa meniduri istrinya yang sedang hamil itu, itu larangan, untuk wanita hamil, suaminya wanita mengajak bercengkrama, dalam hal seperti itu, yang sangat private dalam household itu.

20 menit kemudian, sesampainya Jimmy di Apartemen-nya,~

“SRK,SRRKKK,SRKK,” suara langkah kaki Jimmy pun yang membuat Jean yang belum begitu ter-kantuk itu menoleh sedikit untuk memastikan apakah benar itu suara Jimmy Black suaminya wanita, mencoba bangun tapi perutnya mendadak sakit sekali hingga, Jean pun terpaksa harus mengurungkan niatnya untuk melihat siapa yang datang itu, tiba-tiba saja, tanpa suara, tak lama itu, Jim yang sudah berada di sisi kirinya, tanpa suara memang, tak seperti bisa yang selalu datang mengagetkan-nya untuk sekedar menyapa dan apapun itu entah seperti kecupan kening atau casual kiss-nya, namun ini berbeda, meski Jimmy tak tidur, bisa dilihat dari matanya yang terus membuka sedari tadi, namun, entah kenapa seperti tak bernyawa seperti itu, seperti MUMMY, tatapan matanya juga sangat kosong, tak bernyawa sampai-sampai sepertinya, Jean, dirinya itu melakukan ini semua berusaha hanya untuk menjagamu, dan bayi kalian, Jean yang semakin khawatir pun duduk, menepuk-nepuk bahu sang suami yang baru pulang dari menginap dari rumah sakitnya itu, bukannya menyapa atau membangunkannya lah sebagai basa-basi, malah beranjak tidur, parahnya dikira Jean Jimmy ini sedang melamun, sedang memikirkan nasib pasiennya, Jim, Jim, Jim, apa kau sakit, rintih-nya, yang hendak menangis itu sepertinya, ayolah, Jim, bangun, jangan membuat Jean khawatir, dengan diam seperti ini,  Jim pun akhirnya bangun, berusaha, bangun, ya, begitu tepatnya, namun tetap saja dingin, dirinya menyentuh Jean, sebab masih di bawah kendali obat penenang-nya itu, Jimmy hanya memegangi tulang pipi istrinya itu, dan bicara sebatas saja,

“tidurlah,” Jean yang bingung dengan sikap suaminya wanita itu, hanya terdiam, dan tetap terdiam, apa ini, apa maksud, Jimmy barusan, apa dia tak rindu dengan Jean, padahal, justru rasa rindunya yang sangat berlebihan itu, hingga Jimmy yang kebingungan mengendalikannya dengan usahanya kali ini,

Jean yang makin kesal dan tak mampu menahan emosi-nya kali ini, dia wanita akhirnya menangis juga, di pinggir ranjang-nya itu, dimana kakinya yang menapak di lantai marmer itu, dan badannya yang masih duduk di ujung ranjang-nya itu, gaun hitam berenda-nya itu yang sedikit kedodoran di bagian talinya yang menggantung di bahu itu, pun sedikit menurun, melorot, tepatnya, bahkan Jean tak menyadarinya, hingga breast-nya yang sedikit nampak belahan-nya itu pun membuat Jimmy bangun dan membetulkan-nya, terang saja, Jean yang menengadahkan tangannya wanita, kedua-duanya untuk menutupi wajahnya yang sedang basah itu sebab dibanjiri oleh tangisannya yang mulai, tak terbendung deras-nya itu, Jim yang selesai menaikkan tali bahu gaun tidur istrinya itu pun tersadar oleh suara sesenggukan dari istrinya kali ini, dirinya yang merasa bersalah pun mendekatkan wajahnya ke arah Jean,

“ada apa, kau menangis? ada yang menyakiti-mu?, aku tidak bicara untuk membiarkan-mu tetap beristirahat tanpa mengusik-mu, sayang,jangan menangis lagi ya? aku mencintaimu, sungguh, aku hanya tak ingin malam ini, terjadi yang tidak seharusnya seharusnya seperti kejadian seminggu yang lalu, dimana aku belum tahu kalau kau tengah mengandung, jika aku tahu itu sejak dulu, aku tidak akan melakukannya, dengan se-berani—”

“APA AKU BEGITU JAHAT??? SEHINGGA KAU HARUS TERSIKSA JIKA BERADA DI HADAPANKU?”

“maksudmu, kau ingin kita malam ini,—-” “siapa yang melarangmu melakukannya, lagi pula tak ada undang-undang yang mengatakan kalau suami dilarang tidur dengan istrinya selama si istri hamil, katakan padaku, jadi selama ini kau menakuti hal ini? BODOH!!!”

“tapi aku hanya tak ingin bayi kita,”

“cium aku, lakukan sesuatu yang tak akan bisa kita berdua…..lupakan”

Pernyataan atau permintaan ini, bahkan Jim yang bisanya liar, semakin tak mengerti, namun Jean yang mendadak mencoba duduk di pangkuannya kembali menyadarkan-nya dari pengaruh penenang dosis rendah itu,

“ayo, kita lakukan sekarang,”

“baiklah,” Jim menjawab sambil merangkul sang istri yang berada di atasnya kiri, memegangi wajah Jim, begitu pula Jimmy yang masih memegangi perut samping istrinya itu agar tak mengenai sesuatu di sekitar perut Jean itu, yang bisa-bisa berakibat fatal bagi kesehatan Jean juga bayi mereka, Jim, yang merasa tak nyaman pun membalikkan posisi, dengan menggulingkan posisinya, hingga Jean pun berada di bawahnya dengan kedua tangan istrinya itu,  yang semakin kencang memegangi leher indah suaminya wanita itu,

“aku baru tahu betapa indah batang lehermu hari ini, aku tak pernah menyadarinya,” dengan kemeja Jimmy yang sudah terbuka kancing-nya itu pun segera menyandarkan kepalanya ke dada Jean, sekilas, dan segera bangun untuk mencumbu bibir mungil istrinya itu…. merasakan sensasi-nya di atas kepalanya yang masih pusing itu, sebenarnya, namun, beruntung ia..  tak jatuh ke dekapan yang salah, menggigit-nya melumat seluruh permukaan bibir Jean yang mulai basah, menggigit bagian bawahnya, sesekali, hingga terkadang katup bibir Jean yang sedikit membuka, dan Jimmy pun memasukkan alat julur-nya ke celah itu, seperti yang dilakukannya saat Jean tersadar dari koma dan dalam keadaan yang dehidrasi berat waktu itu, meski kali ini Jean yang meminta langsung, jadi sudah tentu Jean siap dengan ini, tanpa harus kesulitan untuk bernafas, atau pun tersedak, atau terbelalak, atas perlakuan suaminya wanita ini kali ini, Jim yang melepaskannya mendadak, membuat Jean makin liar, ditariknya pergelangan tangan Jim,  hingga Jim, sempat terjatuh dan menindih Jean, untung tak sampai mengenai perut wanitanya itu, dan masih menganga dengan mulut yang terbuka, Namun kembali merajuk dengan mencumbu dagu Jean, turun, makin turun ke bawah, hingga belahan breast Jean, Jean yang geli, pun menahan untuk menggeliat, tapi tetap saja, bergeser posisi….. hingga menggeser mulut Jim juga ke lehernya wanita ganti, menghirup-nya, menghisap, dan meninggalkan tiga buah path memerah di situ, namun tak marah Jean, akhirnya mereka pun tertidur, dengan posisi, seperti semula, Jean yang berada di atas tepat tubuh Jimmy, tanpa sedikitpun anggota badannya yang menggantung di ranjang, dengan wajah, yang meski sama-sama terpejam itu, namun tersenyum, tersirat, dari bibirnya yang melebar, tersungging di situ, hingga pagi datang, pukul 10 pagi seperti biasa,

About shiellafiollyamanda

"Wish my creation can inspire a lot of people, at least around me."
This entry was posted in NOVEL. Bookmark the permalink.

One Response to He’s Our King Bee

  1. I simply want to say I am just beginner to blogs and certainly savored this website. Likely I’m want to bookmark your site . You surely have tremendous well written articles. Regards for sharing your blog.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s