He’s Our King Bee


chapter3

3

Sedikit Paksaan 

Jim yang sedari tadi mulai curiga dengan suar-suara yang mengganggu kedua telinganya ternyata bersumber dari ketiga asisten pribadinya itu, bagaimana bisa mereka ada di depan jendela kaca-nya, ini sungguh menyebalkan, sejak kapan lagi pula mereka ada di sana, sungguh hari yang dibuat menjemukan oleh ketiga ulah tak sopan dan sangat lancang dari para pelayannya itu, sesegera ia memencet tombol merah pertanda peringatan untuk para pelayannya itu yang berada tepat di sisi kiri dari wardrobe-nya dimana dirinya mengamankan istrinya tadi, hufth, nafas-nya serasa lega melihat ketiga pelayannya itu beranjak menjauh, akhirnya mereka pergi juga, dasar, otak, bule, tak tahu privacy, betapa geram Jimmy yang tengah asyik bercumbu dengan sang istri itu diganggu oleh kedatangan para pelayan mereka yang dianggapnya tak tahu kerjaan itu, padahal kalau saja Jimmy tahu mereka membawakan pakaiannya dan Jean supaya tidak terlambat ke kantor masing-masing itu, memang serba salah sebagai bawahan, tapi mereka senang sebab walau bagaimanapun mereka menganggap bahwa majikan mereka inilah yang paling bijaksana dalam bersikap kepada bawahannya, tak jarang tuan putri Jean dan tuan muda Jim yang mengajak mereka untuk keluar dan makan bersama, sungguh tak pernah membeda-bedakan status, inilah yang mereka rasa akan membuat iri para pelayan yang tak merasakan seperti yang mereka rasakan saat ini, semenjak mulai ikut di kediaman ini,

#Masih di Kamar Jean-Jimmy 09;45 pagi~

Jim yang segera pulih dari kesal-nya karena lagi-lagi disadarkan oleh Jean yang lagi-lagi meniupkan nafas-nya yang yang segar itu ke wajah Jim, jim yang makin gemas dan justru tak marah itu, refleks mengelap bibir Jean, untuk apa juga, tak ada guna sebenarnya, malah Jean makin bingung, sebab jemari tangan suaminya wanita itu yang begitu basah sebab belum menyentuh apapun semenjak sekeluar-nya dari kamar mandi tadi, ada-ada saja,

“untuk apa kau melakukannya? sungguh konyol, andai saja kau sadar kalau jari-jari-mu itu masih sangat basah, sayang… hehehe,”

“kenapa kau tertawa, coba sini kulihat, apakah masih basah,”

Jim yang mengangkat sedikit dagu Jean naik untuk melihat apakah bibir istrinya ini benar basah, dan begitu saja ia langsung seenaknya mengecup-nya dan menghindar, segera, takut, kena gampar, hahaha, lucu sekali,

“heh, sembarangan saja kau itu, JIM!!!!”

“yang penting, kan sudah tidak basah, lagi pula baru sekali ini, meski kita sudah suami-istri, kau saja yang tak pernah menghiraukan-nya, casual kiss itu wajar, seperti salam untuk pasangan begitu,” jelas Jim yang kemudian mendekat lagi, berusaha membisikkan sesuatu ke telinga Jean,

“Jean, maukah kau berbulan madu denganku?”

“apa, apa statement-ku kurang jelas kemarin? aku merasa itu tidak perlu,” balas Jean yang membisik pula,

“Ah, ayo-lah, aku berjanji tak akan sesuatu, terjadi pada bayi kita, mana ada ayah ingin mencelakai bayinya sendiri, ya, kau mau, kan?” rayu Jimmy yang segera memegang pundak Jean yang masih belum berpakaian lengkap sama dengannya itu.

Jean yang masih canggung, hanya berkedip, tak jelas, karena saking bingungnya, apa yang harus dipilihnya wanita, oh, mana mungkin aku menolak jika tahu Jim akan sangat mementingkan hal ini, akhirnya Jean pun memutuskan untuk mengikuti kemauan sang suami, dengan berani, Jean pun mengambil tangan kanan Jim yang belum lama ini memegang-i bahunya yang licin itu, menggenggam di tangan kanannya dan menariknya ke muka, mencium tangan suaminya, pelan, Jean pun mengedipkan matanya tanda setuju juga akhirnya, Jim yang kegirangan pun hendak mengangkat Jean, namun beruntung Jean yang sudah tahu kebiasaan aneh suaminya itu, ,mengingatkan kalau di perutnya ini sudah tumbuh seorang malaikat kecil yang calonnya akan menemani mereka menikmati indahnya dunia, hingga Jim pun tersenyum malu, dan menunduk pasrah, tapi tetap berusaha menyembunyikan rasa girangnya yang makin menjalar itu.

“oh, iya, Jean, kenapa kau tak makan bubur-nya, kau tak suka bubur kacang,? ehm, bagaimana kalau aku belikan sesuatu, supaya kau makan, kau tak perlu menjaga tubuh sampai seperti ini, demi bayi kita sehat, kalahkan saja ego-mu, toh, aku tak akan membenci-mu setelah kau tak cantik lagi,bahkan, atau apalah, karena aku mencintaimu bukan karena wajah atau jabatanmu, tapi hatimu yang selalu tulus memberi dengan sepenuh cinta, kau mengerti,? ku harap begitu,” Jean yang hanya menggeleng-geleng membuat Jim makin gemas hingga refleks mencubit pipi Jean hingga merah,

“AUWWW!!! aku bukan tidak mau berbulan madu, tapi, masih tak mau makan,”

“ouw, begitu,maaf ya… aku lepas kendali hari ini, eh, cepat ganti pakaian, dan ikut aku… kemana kalau kau tanya, sudah ayo cepat, ” Jim yang makin bingung sebab istrinya itu bukannya malah segera berganti baju namun malah hanya diam saja, dengan wajah seperti orang bodoh itu, kenapa lagi dengan Jean.,

“apa aku yang harus memakaikan baju untukmu ?” Jim pun menggoda Jean hingga Jean lagi-lagi harus terperanjat seperti hendak jatuh, namun Jim yang sudah siaga hanya membiarkan tangannya yang panjang itu untuk menyentuh Jean, namun Jean malah berucap keras tanpa berterimakasih, sebab memegang-i handuk-nya yang serasa sudah mau lepas dari membalut badannya itu, namun tangannya yang tak bisa memegang-i semua permukaan handuk putih itu pun karena dirinya yang sedikit risih tangan Jim yang terus membekap tubuhnya, hingga sebagian paha putihnya itu terbuka,

“kau itu, MANA BISA AKU GANTI PAKAIAN SEMENTARA KAU ADA DI SINI???” Jim yang terbelalak seketika langsung melepaskan pelukan-nya, dan membalik badan, segeralah ganti, pikirnya, meski dalam hati batinnya kenapa aku tak boleh menjaga istriku, untuk tetap berada dalam 1 kamar? sah saja???  aneh, 5 menit sudah dan Jean sudah memakai busana-nya lengkap, tapi tunggu ada yang aneh…..

Jean, Jean, dirinya wanita pikir Jimmy kan mengantar-nya kerja, padahal akan makan di luar, restoran mewah, di sekitar Avenue Harvard, dimana dulu mereka menghabiskan masa-masa taman kanak-kanaknya,

“Jean, jangan pakai seragam, pakailah gaun yang anggun, pokoknya 5 menit lagi aku tunggu kau dalam keadaan yang cantik, dan sudah siap, maksudku, dengan gaun yang pas, wajahmu sudah manis, aku tahu, aku tunggu di bawah, mana bajuku,” Jim pun menarik beberapa helai pakaian yang ada di tangan Jean, dan segera pergi ke keluar ke kamar sebelah, ganti jas,

#Di Mobil Jimmy 11;00 menuju siang,~

“Apa kau kepanasan?, kau mau pindah ke belakang, atau bagaimana, aku bisa menghentikan mobilnya, kau tidak berasa mual, kan?” Jean pun menggeleng,

tak terasa mereka sudah tiba di depan sebuah restoran mewah, kenalan Jimmy, Rekan kerjanya di rumah sakit juga, Chadwick Ben….

“Hai, Ben, perkenalkan ini istriku, Jean, ”

“Jean Avansta, senang dapat berkenalan dengan anda, Jim banyak bercerita kepadaku mengenai anda,  anda orang yang hebat,” Kata Jean yang tersenyum sambil menunduk memberikan hormat-nya…. sesekali,

“ah, Jim itu berlebihan, aku biasa saja, oh, ini tunangan-ku, Sarah Christie, minggu depan kami akan meresmikan segera hubungan kami, senang lagi apa bila kalian mau datang, ke pesta kecil-kecilan kami, bagaimana” Jean dan Jim pun menjawab hampir bersamaan

“, itu bukan hal yang buruk” Mereka pun tertawa bersama-sama, hahaha,

Mereka pun segera masuk mengajak Jim dan Jean untuk duduk di kursi yang telah mereka pelayannya sediakan khusus untuk permintaan Jimmy untuk istrinya itu, di kursi paling depan, di sebelah kiri tirai yang menutupinya hingga tak dapat terlihat ada apa saja di dalamnya, seorang pemain biola, balerina, pemain terompet, saxofhone, begitu indah, hingga Jean sangat terpukau menyaksikan-nya, dirinya wanita hampir-hampir tak percaya bagaimana bisa sang Jimmy suaminya wanita ini bisa mempersiapkan semua ini dengan secepat kilat itu, dalam waktu hanya 1 jam-an,? ah, sudahlah, yang penting Jean bisa menikmatinya, seperti mimpi, sehari menjadi putri, bukan badut pesta kali ini, seperti nyata,

Jim yang ternyata memberinya kejutan dengan mengambil terompet itu dan menyanyikan sebatang lagu “Believe in Love” sungguh sangat romantis, Jean yang tak mau kalah pun juga merencanakan untuk membalas penampilan suami tercinta itu , piano YAMAHA yang tersaji di hadapannya itu pun iya mainkan, dengan menyanyikan lagunya yang ber-genre k-blus itu, ia wanita pun mampu membuat Jim terbelalak dan tak mampu berkata-kata, ternyata Jean mampu membawakan lagu, “It is You, ”

Kunggon,dangsineat kunyo,  ulhan napakbale daldwinindabal,baro,dangsin neatkunyo, bangsib obnenun, wirohal neotpyeunji, o… neangchorom tagkhawajyo, kejumki kejugdul, getuin waenji mulatjo, dangsin meankunyo,saram saranghejul narul, dangsini eyom, kangsa kungceba chorom, to sekyo jugyo aniniririang namnaincok, ijerarayo, dangsinen maumul,

Jimmy yang terharu pun segera beranjak dari kursi-nya dan menghampiri Jean yang tengah mencoba berdiri, dengan gaun hitam yang menggantung di bahu mulus-nya itu, berusaha berucap dan tak sanggup, hingga menempelkan dahinya ke dahi Jean, dan memandang serta memperlihatkan senyumnya ke Jean, dan menempelkan hidungnya ke hidung Jean, hingga hidung mereka pun bersentuhan, hemmm, Ben dan Sarah yang melihatnya pun memberi tepuk tangannya secara gamblang, hingga semua pemain orkes pun ikut hanyut dalam pertunjukan-nya, meski kebanyakan dari mereka juga kurang mengerti dengan makna lagu asal korea selatan yang dibawakan oleh Jean itu, berusaha tenang, Jean, pun melemparkan senyumnya, ke arah Jimmy, yang masih di hadapannya, dengan posisi hidung yang se-dekat itu,

About shiellafiollyamanda

"Wish my creation can inspire a lot of people, at least around me."
This entry was posted in NOVEL. Bookmark the permalink.

One Response to He’s Our King Bee

  1. I simply want to say I’m beginner to weblog and truly savored this web blog. More than likely I’m going to bookmark your blog post . You really have really good well written articles. Thanks for sharing your blog.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s