“GOD GAVE ME YOU”


Title : God Gave Me You

Genre : Romance and Comedy

Rate : PG

Author : Shiella Fiolly (io)

Cast :

Jang Geun Seok

Park Shin Hye

Kim Jae Joong

Han Hyo Joo

 

Pria ini di depanku inilah yang kini mulai membuka selapis kain penutup yang menutupi wajahku ini. perlahan dirinya mulai mendekatkan maju kepala ke arahku dan menciummku perlahan dengan penih cinta. Di hadapan banyak orang yang kini tengah menyaksikan prosesi pernikahan kami. Aku begitu bahagia dengan pria yang berada di sampingku ini. aku mengapitkan lenganku di lengan kirinya, banyak pasang mata yang menyaksikan langkah kami turun dari altar. Tak kusangka dia yang akan aku pilih untuk menemani hidupku. Awalnya yang sedikit tak cerah pada kisah perjalanan cinta kami, namun nyatanya kami mampu melaluinya hingga tibalah di hari ini dengan banyak rasa yang tertumpah yang tak mungkin semuanya bisa aku jelaskan.

 

Sukkie, seperti biasa pria ini dipanggil. Sukkie mungkin bukanlah pria pertama yang langsung membuatku jatuh hati, namun dialah pria yang sukses mampu membuat hatiku bertekuk lutut padanya. Aku bahkan belum terlalu kenal baik dengannya, dengan hubungan kami yang baru berjalan 24 bulan. Namun begitulah, aku tetap saja setia untuk melanjutkan hubungan kami bahkan dalam jenjang pernikahan. Aku begitu serius memikirkan ini. meski tak sedkit pula pihak yang menentang hubungan cinta kami. Selain hubungan kami lebih sering jarak jauh daripada sering bertemju namun aku tetap saja menikmatinya.

 

“Kita sudah resmi menjadi sepasang suami-istri sekarang.”

 

“Iya,” balasku apa adanya dengan senyum yang sedikit mengembang di sudut bibirku.

 

“Hmm.. Aku bahagia sekali. Apa kau juga demikian ?” tanyanya kemudian sambil mencubit pipiku sekenanya. Tidak tahu apa apa yang dilakukannya itu membuatku sedikit meringis menahan sakit. Dasar, pria tidak romantis sama sekali. Namun, apa boleh buat. Aku sudah memilihnya secara sadar dan lahir batin. Maka mau tidak mau aku harus siap menerima segala konsekuensinya apabila seandainya aku harus menelan pil pahit sebab sering – sering dia yang membuatku jengkel dengan tingkah sok polosnya itu. Sukkiiieee!

 

“Apa pertanyaaan ini juga harus aku jawab ?” masih kesal dan membuang muka dari Sukkie yang kini juga masih menunggu jawabanku mungkin.

 

“Tentu saja.” Kali ini dirinya yang ganti mengacak – ngacak rambutku. Apa! Apa disangkanya aku ini adiknya. Benar – benar sulit dimengerti.

 

“IYA. AKU BAHAGIA.” Jawabku cepat dan ketus. Harusnya dengan ini dia tahu aku sedang benar – benar muak dengan tingkahnya itu. Kalau dia memang peka itu harapku. Tapi sepertinya ini akan tetap saja sulit mengingat kapasitas otak pria ini yang tak sebanding kapasitas otak pria dewasa lainnya kira – kira. Dia ini jauh lebih childish. Hah! Aku harus ekstra sabar menghadapinya. Kalau saja bukan muka innoucencenya ini mana mungkin aku masih bersedia mengampuni segala kekhilafannya yang berulang – ulang dia lakukan.

 

“Kogh, begitu jawabnya ?”

 

“Lantas harus bagaimana ?” aku mulai menaikkan nada suaraku. Membuat orang – orang yang berada di luar sedikit bingung ingin tahu apa yang terjadi dengan kami dari luar jendela mobil.

 

“Jalan saja, pak. Aku mau langsung istirahat.” Seruku kepada pengemudi yang berjarak kursi denganmu.

 

“Baik, Nona.” Apa – apaan ini, aku masih dipanggil nona lagi ! tidak tahu apa aku sudah mengenakan gaun putih sepanjang ini. aku sudah bersuami sekarang. Yakh, sudahlah. Lagipula tak ada gunanya aku urus masalah ini lebih panjang lagi. Sudah cukup moodku hilang oleh suamiku sendiri, masa sekarang harus dia. Orang lain di depanku ini. sama sekali tidak lucu.

 

Sampai di rumah aku pun masih diam – diaman dengan suamiku ini. biar saja. Biar dia sadar kalau dirinya itu telah membuat kesalahan. Sudah banyak kesalahan yang sudah dilakukannya hingga pagi ini. padahal kan ini masih ppagi. Seperti apa jadinya nanti siang kalau baru awalan saja sudah seperti ini ? Hah! Membuat kesal saja.

 

Kucopot sepatuku yang sedikit menyisakan lecet di kaki kiriku. Biarlah, aku bahkan sudah tidak merasakan sakitnya sama sekali dibanding dengan kekesalanku ini. aku rebahkan diriku seketika tanpa menggenti gaun dan riasan di wajahku. Aku raih guling di sisi kananku dan pukul – pukulkan ke kasur yang semuanya sengaja dihias serba putih itu. Sukkie? Entahlah biarkan saja dia meu mengetuk pintu berapa kali. Yang jelas aku sedang tidak mood untuk melihatnya. Pria macam apa dia bisanya hanya membuat naik pitamku saja.

 

KREEKK!

 

Tapi tunggu apa itu yang jatuh ? ya mpun, liontin hatiku. Ternyata barang ini masih ada. Membuatku setidaknya sedikit berpindah perhatian dari suamiku ke barang sekecil ini. kubuka hati liontinnya dan kupandangi foto pria tampan yang masih mengenakan seragam SMA itu. Manis sekali. Kakak kelasku. Ya ampun, masih sangat jelas ingatan yang ada di kepalaku bahwa dialah yang dulu menjadi pujaan hatiku. Kim Jaejoong. Hahaha! Jadi malu aku melihat foto ini. tapi apakah mungkin sekarang dirinya juga telah  beristri. Setahuku dirinya sudah menjadi tokoh motivator handal di jepang. Dengan gaya bicaranya yang sangat bijak itu yang tak heran membuatnya mampu melakoni profesinya sekarang ini. omong – omong tentang dia sudah lama sekali kami tidak berjumpa. Seperti apa ya sekarang dirinya ?

 

Sedang apa ya suamiku ini tengah malam membuka lemari es. Kubuntuti dari belakang rupanya dia tengah kegerahan. Membuat jus kiwi dan memblendernya sendiri. Sebenarnya kalau dipikir – pikir istri macam apa aku ini. seharusnya kan aku yang melayani suamiku. Hanya beralasan aku kesal kepadanya lalu semuanya yang dia lakukan aku seakan – akan tidak ingin tahu begini. Ya, biarkan sajalah. Meski sebenarnya aku kasihan juga. Terbersit aku mendadak datang dan membaik – baikkannya, memasang wajah tanpa dosa berdiri di sampingnya dan menggantikannya membuat jus. Pasti dirinya akan sukses melongo melihat keanehanku. Kalau aku tiba – tiba datang dan menyuruhnya duduk untuk supaya aku saja yang membuatkan jus lebih tidak mungkin lagi. Betapa tinggi gengsinya aku untuk berlaku sok manis di hadapannya.

 

Sial. Ternyata dirinya sudah memandangimu sedari tadi. Bodohnya aku, masih sempat – sempatnya melamun dalam keadaan seperti ini.

 

“Tidak tidur ?” tanyanya yang berdiri di hadapanku tepat. Tingginya yang lumayan membuatku merasa tak enak harus sedikit mendongak mendengarnya bertanya dengan sikapnya yang terlihat cool hari ini. ada apa in ya? perasaanku mendadak jadi tidak enak. Sial.

 

“Ek.. aku.. aku baru mau ke..”

 

“mau kemana ?” dia terus menantikan jawabanku.

 

“Mau ke kamar mandi maksudku.” Ck! Bodohnya! Bilang saja kalau aku terbangun sebab suara berisiknya yag tidak tahu aturan malam – malam ini. kenapa harus bilang AIUEO segala sih. Bodoh. Bodoh, bodoh!

 

“Kau tidak apa – apa ?” tanyanya sekali lagi yang sedikit bingung melihat kelakuanku yang reflek menepuk – nepuk jidatku sampai ke ambang pintu kamar mandi. Malu. Heh! Apa yang aku lakukan.  Aduh. Ya sudah aku berbalik arah tak jadi ke kamar mandi. Aku kembali ke kamar tidurku saja.

 

“Hei, kamar mandinya benar yang di sana tadi,” katanya yang melihatku terus berjalan begitu saja tanpa mengindahkan dirinya.

 

Mana ada pengantin baru yang seperti ini. sudah menjengkelkan, masih diteruskan pula. Apa mungkin aku yang harusnya mengalah dan sedikit bersikap baik kepadanya ? tak pernah kubayangkan hari pertama pernikahanku akan berjalan serumit ini. mana ayah dan ibuku juga tidak pernah bercerita seputar pengalamannya di awal pernikahannya. Dasar ! aku pasti sedang stress. Lebih baik aku keluar kamar saja.

 

Tanpa malu – malu aku pun keluar kamar. Sambil membawa guling dan bantalku menuju sofa di depan televisi. Kunyalakan televisi dan benar, sudah pasti tayangan televisi malam tak bagus untuk tontonanku. Sudah rata – rata hanya film yang diputar. Commercial breaknya juga dewasa semua. Tak berarti juga aku anak – anak. Tapi sedikit jijik juga melihat apa yang aku tonton sekarang ini. baru sebentar aku mau mematikannya. Remote control yang hendak aku tekan itu pun tiba – tioba diambil begitu saja oleh Sukkie kurang ajar itu. Dia datang lagi. Mau apa ?

 

“Tak baik begadang malam – malam. Kau kan wanita.”

 

“apa salahnya.” Aku pun merubah posisi gulingku menutupi kepalaku. Malas aku berbicara dengan pria sok manis ini. Cihh! Gayanya sudah seperti dia yang paling baik saja.

 

“cepat tidur sana.” Dia lagi – lagi menyuruhku seperti menyuruh kepada anak gadisnya saja. Aku ini kan istrinya. Sungguh keterlaluan.

 

“hah! Kau itu bisa diam tidak ! aku sudah mau beranjak tidur !” bersungut – sungut sontak kembali duduk dengan wajah yang sedikit acak – acakan membuat Sukkie sedikit ketakutan. Dan nyalinya menciut.

 

“Kau-kau itu kenapa?” katanya menajuh satu langkah dari sampingku.

 

“Kau…” kataku tak meneruskan kata – kataku dan langsung saja membenahi rambutku. Aku tahu mungkin ini sedikit keterlaluan. Tapi mau bagaimana lagi, sebentar – sebentar dia membuatku kesal. Sebentar – sebentar membuatku bingung. Sebentar – sebentar membuatku meleleh. Kapan dia itu bisa stabil membuatku senang. Bagaikan bermimpi minta hujan di musim semi. Summer Dream.

 

Sampai pagi berlanjut kami pun masih saling tak bicara. Lebih tepatnya aku yang membiarkannya sendirian berkutat dengan urusannya sendiri. Bahkan tak sedikt pun aku ingin berbasa – basi tanya bagaimana kegiatannya. Apalah begitu. Mau bagaimana lagi, sebenarnya aku ini tipikall gadis yang romantis. Namun sayang, pasanganku tidak mendukung.

 

Aku cuma menyipitkan mataku  mengetahui dirinya yang sedang berdandan rapi. Menyisir rambutnya yang menghadap kaca besar di dalam kamarnya itu. Agaknya kami masih tidur terpisah. Dia bersiul – siul entah kenapa. Seperti orang gila. Tapi kudapati satu hal. Kebahagiaan  tersirat lewat senyumnya itu. Berulang kami dirinya terkekeh melihat penampilannya sendiri di depan kaca. Benar – benar pria aneh. Sambil memakai sepatunya dirinya pun melangkah menuju ke kamarku. Astaga, aku harus berpura – pura sedang tidur.

 

Cepat – cepat aku rapikan kamarku dan aku urai selimutku yang tebal menutupi tubuhku dan berakting sedang bangun tidur. Pas. Saat dia membuka pintu dirinya pun langsung pergi begitu saja. Tapi dirinya meninggalkan memo di meja riasku. Dasar. Mau kemana dia ? seperti mau berkencan saja.

 

Tak salah lagi tak berselang lama aku pun menerima telepon dari kawanku, HyoJoo. Katanya dia melihat suamiku bersama dengan seorang wanita di dalama sebuah cafetaria. Yang benar saja. Mana mungkin seorang seperti sukkie berjalan dengan seorang wanita. Merayu saja dirinyatak pandai. Seperti hal yang hampir mustahil. Tapi ini kebenarannya. Tapi siapa gadis itu. Dia tidak bilang ingin menemui wanita di memo tadi. Ahh, biar saja. Aku tak perlu ambil pusing. Lagipula memang perkerjaannya manager perhotelan.

 

Akhirnya aku pun keluar untuk sekedar jalan – jalan. Mungkin dengan jalan – jalan akan sedikit memperbaiki moodku. Aku ajak saja Hyojoo untuk ikut bersamaku. Aku yang traktir. Kali ini aku tak bawa mobil. Lagipula untuk apa aku menyetir kalau moodku sedang kacau balau begini. Hyoojoo pun juga tidak keberatan. Kami menghabiskan waktu di cafetaria juga. Balas dendamku terhadap Sukkie pun terbalaskan. Kami juga pergi ke tempat Karaoke. Sedikit minum. Biarlah Sukkie, kau tahu rasa nanti.

 

Hingga malam hari kami pun baru pulang. Sudah pukul 10:00 malam. Namun kasihan juga Hyojoo yang harus kerepotan mengantarkan aku pulang yang setengah mabuk ini. sebelum – sebelumnya aku memang tak pernah seperti ini. dirinya yang juga sepertinya tak tahu nomor phonecell Sukkie pun terpaksa harus mengantarku kembali sampai di rumah. Hyojoo pun memapahku yang berjalan gontai. Sambil di luar kesadaranku aku pun sukses mengata –ngatai Sukkie sesukaku. Hyojoo pun hanya bisa menggeleng – geleng tak mengerti dengan sikapku.

 

Di rumah pun, Sukkie sudah membukakan pintu dengan muka innouncence itu pikirku. Namun salah, kali ini dia memasang wajah hangat. Aku tak tahu kenapa. Meski sedang mabuk tapi aku masih bisa membedakan dengan jelas Sukkie sedang bagaimana. Hyojoo pun segera menyerahkanku kepada Sukkie seperti polisi menyerahkan tawanannya ke tahanan. Aku pun hanya bisa pasrah saat Sukkie menggendongku hingga masuk ke kamar. Sepertinya aku sudah benar – benar mabuk hingga – hingga aku sedikit mual dan pening mula terasa di kepalaku. Sambil kupegangi kepalaku hingga mengernyit aku menahan keasakitan. Sukkie yang mengetahuinya pun segera pergi dan kembali membawakanku teh hangat. Tumben. Ada apa dia begitu perhatian padaku hari ini. entah peri mana yang tengah merasuki jiwanya.

 

“kalau sudah kau habiskan segeralah tidur,” pintanya yang buru – buru keluar kamar.

 

“Tak bisakah kau lebih lama di sini?” aku pun mulai tersadar dan mengajakknya bicara.

 

“Ada apa?” tanyaya halus.

 

“Kapan kau pulang?” pertanyaan pertama yang keluar begitu saja.

 

“Kau yang darimana.” Sahutnya begitu saja.

 

“Aku pergi dengan Hyojoo ke cafetaria, karaoke.” Jawabku sembari mengusap – usap kepalaku.

 

“Aku sedang menunggumu.”

 

“Bukan itu,”

 

“Tadi pagi hingga sore aku menemui kawan lamaku. Memang kenapa ?,”

 

“Benarkah dia hanya kawan lamamu ?” tanyaku yang terdengar sedikit mendesak. Apa yang telah aku tanyakan ini. bodoh.

 

“kau cemburu ?”

 

“Padamu ?” sambil menoleh ke arahnya.

 

“Siapa lagi ?”

 

“Ahaha.. jangan bermimpi,” jawabkku terkekeh sambil mengarahkan mukanya untuk menjauhkan dari pandanganku.

 

“Begitu. Tidurlah.”

 

“Kau itu hanya bisa menyuruhku tidur. Apa tidak ada hal lain yang bisa kau katakan selain menyuruhku tidur?” protesku megacak – acak rambutku dan menghentakkan kakiku kasar ke lantai.

 

“Maaf. Kau belum ngantuk, ya?”

 

“HAAH!!!” makin kesal saja aku hingga menggingit lengan jaket wolku.

 

“Kau berbeda jauh dengan Jaejoong.” Ups. Apa yang tengah aku katakan. Mana boleh aku kelepasan berbicara. Menyamakan dua orang yang berbeda. Tak ada orang yang suka dibandingkan terlebih suamiku sendiri.

 

“Oh..” jawabnya lalu menutup pintu. Sepertinya dirinya berusaha menutupi kekecewaannya. Kenapa Sukkie jadi seperti itu, ya? apa aku sudah keterlaluan kepadanya ? harusnya aku tak sampai hati mengatakan hal serupa. Maaf Sukkie.

 

Pagi – pagi sekali aku sengaja bangun. Menyiapkan secangkir kopi dan sandwich coklat yang sengaja ingin aku berikan untuk Sukkie. Aku masih tak enak dengan peristiwa semalam. Berharap Sukkie tidak marah dan mengacuhkanku. Mungkin sedikit repot namun setidaknya aku ada usaha untuk mengajakknya berdamai. Selama kami menikah bahkan kami tidak pernah akur. Lelah juga menjalani hubungan seperti ini. sama sekali jauh dari yang kuharapkan. Mungkin begitu juga dengan Sukkie. Kira – kira dia mau atau tidak ya memaafkanku ? aku khawatir dia tidak mau mengajakku berbicara hari ini.

 

Sukkie sudah bangun, namun dia sudah buru – buru untuk berangkat ke kantor. Keluar dari kamar mandi dirinya juga langsung menuju kamarnya merapikan pakaian yang dikenakannya. Sepertinya dia berusaha untuk menghindariku. Ya Tuhan, sulit sekali untuk mengahdapi situasi ini. What Should I Do ?

 

Hal ini membuatku menggigit jariku sendiri. Ingin mengetuk pintu tapi, ah. Mungkin biar dulu dirinya selesai. Baru aku bicara. Atau menunggu momen yang tepat untuk mengambil obrolan hangat ? tapi, pria sesibuk dia mana mungkin sempat bila aku tidak yang menyela untuk mengajaknya bicara ? aduh, sulitnya.

 

Aku sudah bingung harus bagaimana lagi. Sepertinya yang aku kerjaakn tak pernah beres. Begitu un dengan urursan rumah tanggaku. Justru aku maalh teringat dengan masa – masa SMAku dulu. Kak Jaejoong seperti apa kabarnya ya ? andai saja dia ada pasti aku bisa mencurahkan seluruh keluh kesahku bersamanya. Aku yakin benar dia selalu bisa membantuku, tapi sayang, aku sudah lost contact dengannya. Baru sekejap aku duduk di sini. Bahkan aku sudah merasa sangat lama. Sepertinya waktu tak berjalan. Pertanda apa ini..

 

“Shinhye ?” sontak aku yang kaget menoleh ke samping kananku. Kulhat pria ini untuk yang kesekian kali namun sedikit berbeda. Astaga, untuk pertama kalinya dia menyebut namaku. Benarkah ini. aku pastikan ini bukan mimpi di siang bolong.

 

“Shinhye ?” aku masih terbengong melihatnya mendekat ke arahku. Ternyata benar. Dia menghampiriku dan mengajakku pulang. Mungkin suasana hatinya sedang baik. Sepanjang di mobil aku hanya bisa diam, masih merasa bersalah. Aku bahkan tak berani mengucapkan kata maaf. Menengok ke wajahnya pun tidak. Aku tak bisa. Hingga dirinya yang memulai pembicaraan aku baru buka mulut.

 

“Kenapa tidak dengan Hyojoo ?”

 

“Tidak. Aku sedang ingin sendiri saja.”

 

“Eoh.”

 

Meski sudah sampai di dalam rumah pun aku pun juga masih canggung. Entah kenapa denganku hari ini. biasanya aku semena – mena terhadapnya. Tapi sekarang sepertinya aku tak berdaya untuk melakukan hal serupa. Mungkinkah aku mulai menyukainya. Aduh, tidak ! mana bisa begitu. Selama ini kan rasaku biasa saja terhadapnya. Meski aku menjalin hubungan dengannya tapi aku tak pernah memiliki perasaan serumit ini.

 

Hah, mendadak aku merasakan pusing yang sangat. Kepalaku rasanya pening. Seisi rumah seperti berputar seperti halilintar. Tanpa tahu apa yang terjadi Sukkie sudah menangkapku begitu saja. Aku merasa nyaman di dekapannya. Seperti ada darah yang mengalir dalam tubuhku perlahan. Aku tidak ingin segera bangun dan berlalu. Sukkie pun terlihat heran melihat sikapku yang sedikit manja ini. dirinya pun lekas membawaku menuju kamarku dan hendak pergi lagi.

 

“Begitu saja ?” membuat Sukkie terhenti tanpa membalikkan badannya.

 

“Apa kau akan membiarkanku tidur sendirian ?” sebenarnya aku malu sekali untuk bicara ini. tapi kalau bukan aku yang mengatakannya mana mungkin dia berani untuk memulai. Harusnya dia senang aku memberinya kesempatan.

 

“Kau ,” tapi alih – alih didengar dia pun keluar begitu saja. Sungguh tak sopan. Hufth! Memalukan! Apa yang barusan aku katakan tadi. Murahan sekali terdengarnya. Aku pun menggigit bibir bawahku kehabisan akal. Ya sudah, mungkin sebaiknya aku tidur saja. Barangkali akan membuatku sedikit lebih baik.

 

KREKK!

 

Kudengar suara pintu yang ditutup. Tapi siapa ? aneh sekali. Kalau Sukkie mungkinkah ? saat aku hendak berbalik, astaga, jantungku hampir copot seketika melihat Sukkie yang sudah berada di sampingku lengkap dengan bantal dan guling yang dibawanya.

 

“Se-sejak kapan kau ada di sini ? Kenapa tidak mengetuk pintu ?” gagapku karena saking kagetnya.

 

“Memang harus ?”

 

“Apa maksudmu ?” kataku mengedip – ngedipkan mataku cepat saat dirinya yang mulai memegang  kedua bahuku. Perasaanku kembali tak enak.

 

“Menurutmu ?”

 

“..” Aku masih membelalak melihat posisinya yang makin mendekat ke arahku.

 

“IBUUUUU!”

 

“SHUT!!!”

 

“..”

 

 

~END~

About shiellafiollyamanda

"Wish my creation can inspire a lot of people, at least around me."
This entry was posted in ONESHOOT. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s