GeunShin Legend


 chapter 8

Awal-Awal yang Penuh Perencanaan 

14

 

#Masih di Kamar Jean dalam Apartemen Jimmy

Jimmy masih saja memutar-mutar Jean yang masih berada di pelukannya laki-laki itu, dirinya nampak begitu senang sampai-sampai ia tak melihat kalau Jean yang tak bisa menahan mualnya, melihat wajah Jean yang mulai berubah memerah dan seketika pucat itu pun, Jim langsung menurunkannya, menyentuh dahi Jean dan untunglah Jean tidak demam, Jimmy yang masih begitu senang bahkan lupa kalau-kalau belum ada 5 menit dirinya pria memberikan obat untuk diminum oleh Jean, ya, penahan rasa sakit itu, meskipun hanya berupa pil namun dosisnya lumayan tinggi, Jimmy yang berusaha mengingat-ingat apa saja yang telah dilakukan dirinya hingga membuat Jean semakin sakit itu, Jean yang masih berdiri dan menahan raut wajahnya yang sudah berubah lusuh kembali, bahkan tak berani menatap ke arah Jimmy, ditakutinya juga kalau Jimmy semakin khawatir dan bersikeras untuk tetap membawanya ke rumah sakit, oh, jangan, pikirnya, Jean pasti akan malu sekali kalau sampai Jong Sang menanyainya apa saja yang mereka berdua lakukan hingga Jean begitu pucat dan tak bertenaga, aduh, TIDAK!!!!, tak akan kubiarkan Jimmy mengantarkanku ke rumah sakit hanya karena hal ini, TAK BOLEH!!!

Jimmy pun mendekati Jean, mendongakkan kepala Jean untuk melihat ke arah dalam bola matanya, apa ada merah, seperti semburat akar? tidak, berarti dia baik-baik saja, lalu apa? Jimmy yang masih memeriksa anggota tubuh Jean yang lain, sementara Jean yang tak tahan untuk segera meledakkan kemarahannya oleh sikap Jimmy yang dipikirnya sedang meledeknya,

“, hei, lepaskan, kau itu kenapa? aku tak apa-apa!!!” Jean berusaha meyakinkan Jimmy yang sedari tadi masih mencari-cari sesuatu di sekitar wajahnya,

“,Jim, lepaskan kataku, aku tidak penyakitan, ”

“JIMMM!!!!,” teriakan Jean itu pun membuyarkan konsentrasi Jimmy,

“, kau itu kenapa? kalau kau tidak penyakitan, tak mungkin ada keluhan-keluhan mengenai kesehatanmu sejak dulu,” jawab Jim datar dengan santainya,

“Lagipula kutanya kau sekarang, semenjak pertama aku menemuimu dalam keadaan tidak sadarkan diri di kamar Yong Hwa tepatnya 5 tahun lalu, kau kenapa?,” seperti tersambar petir Jimmy yang menanyakan itu kembali membuka luka Jean yang waktu itu belum mengetahui bahwa Jimmy yang dahulu bernama Geun Suk itu adalah laki-laki yang selama ini dicarinya, Pangeran Kuda Jelek,

“,lalu, sewaktu di apartemenku, kenapa kau berteriak, dan ketika aku menjauhkanmu dari tempat itu kau pingsan, namun, kau benar-benar membuatku khawatir waktu itu, kau tidak mengalirkan  nafas sama sekali, kau tahu, aku tidak bisa kalau kau tak ada, ” Nafas Jimmy pun yang mulai tak beraturan, nampak sekali dia memiliki memory yang buruk tentang hal ini, semua yang ia pria tanyakan barusan,  Jean yang tak tega memandangnya masih saja seperti posisi sedia kala, menunduk, sambil berusaha berkata, walau sedikit, agak gelap,

“,aku, aku, tidak sakit,”

“, itu tidak mungkin, kau berusaha menutupinya? aku ini seorang dokter, mana mungkin aku tidak bisa membedakan orang sehat dan orang sakit, serta orang yang mengidap penyakit tertentu,”

“kenapa kau tak berusaha jujur,”

“apa maksudmu?…” bertubi-tubi Jim menekannya dengan banyak perkataan, namun Jean masih tetap diam, Jean pun berusaha mengalihkan pembicaraan, siapa tahu Jimmy akan mengerti,

“eh, Jim, tidakkah ibumu, mau kemari, Yong Hwa, Hong Ki, juga? kapan?” Jim yang mulai geram pun menarik tangan Jean kasar dan menariknya ke ruangan laboratorium bedahnya, Jim yang teringat Jean pernah trauma melihat ruangan itu hanya meninggalkannya di depan pintu, dan membiarkan Jean tetap menunggu di luar, se-keluar-nya dari ruangan, Jim memperlihatkan salinan berkas riwayat kesehatan Jean yang dikirimkan oleh Yong Hwa 4 tahun yang lalu, yang bertuliskan bahwa Jean mengidap serangan Jantung seperti yang dialami ibu, ayah, dan kakaknya, Jean yang makin tak mengerti dengan ini semua, sedang Jimmy yang tak mampu membendung lagi air matanya, menjatuhkan berkas itu tanpa sadar ke lantai marmer itu, suasana pun jadi beku, kelu, tulang Jean serasa mau copot di setiap persendiannya, bagaimana cara Jean untuk mengatakannya kepada Jimmy yang selama ini menganggapnya kalau dia itu mengidap Heart Attack? Pasti selama ini, Jimmy menjadi dokter atas dasar itu, Jean pun jatuh terkulai saking shock-nya, kakinya serasa makin tak bertulang kering itu, Jimmy hanya memiringkan kepalanya dan tetap terdiam dalam tangisnya yang kali ini tak bersuara itu, mereka saling sulit untuk bernafas, tersengal-sengal tapi tetap mencoba bertahan, untuk sekedar menenangkan diri mereka masing-masing,

Jean yang masih tak menyangka bahwa jadi selama ini, kertas itu yang membuatnya sperti ada jarak dengan Jimmy, Jimmy yang selalu mencurahkan keluh-kesah-nya kepadanya dahulu, kini tak pernah lagi, Jimmy yang dahulu selalu menceritakan betapa berat bebannya sebagai anak sulung dari 2 bersaudara it, yang kini tak pernah bercerita, bungkam, menutup rapat-rapat mulutnya hanya demi bicara semua yang baik-baik, tanpa memikirkan perasaannya sendiri, bagaimana bisa Jean se-egois ini? Cinta tidak begini menurutnya, Cinta tidak menindas, Cinta tidak menekan salah satu pihak, semua pun harus merasakan, apapun itu, asalkan bersama, dari bahagia, dan menderita, bahkan dalam hal yang begitu genting,

Dan kini Jimmy pun yang ganti memulai pernyataanya,

“, kau  harus mengatakan semuanya padaku, kau tak mau, kan, aku di sini seperti patung yang tak kau anggap, atau mainanmu yang selalu kau pajang di bufet lemari, aku ingin berguna di sisimu, menjagamu, aku, terlalu mencintaamuu…. dan-” Jimmy yang berusaha berdiri se-cepat dirinya wanita bisa, lekas-lekas meletakkan kedua jari pada tangan kanannya untuk menahan semua yang akan dikatakan oleh Jim.

“, shut, tenanglah, aku tak akan merahasiakan segalanya darimu, bahkan sampai pada sesuatu yang mungkin kau anggap sebagai sesuatu yang sangat tak penting, tak mengerti? aku juga mencintai-mu… sungguh, aku tak bohong, percayalah padaku, ”

“aku tak punya sakit jantung, tapi, phobia, asalkan kau mengingatnya, aku bukankah pernah mengatakannya padamu??, aku juga mencintaimu, terlalu, hingga aku pernah terpikir untuk tidak melanjutkan hidupku, bila tidak kau, yang ada di sisiku,, maaf, maaf,” tangan Jimmy pun tak kuasa untuk menahan emosinya kali ini, secepat kilat ia pria menarik Jean yang ada di hadapannya, menahannya di dadanya, dan berlindung di bawah dagunya, memeluknya, erat, sehingga mereka pun hanyut dalam tangis bersama,, hingga satu jam kurang lebih mereka mempertahankan posisinya seperti itu, yang mereka manfaatkan di kala minggu, dimana para asisten pribadi Jim mengambil cuti.

About shiellafiollyamanda

"Wish my creation can inspire a lot of people, at least around me."
This entry was posted in NOVEL. Bookmark the permalink.

One Response to GeunShin Legend

  1. I just want to mention I am new to weblog and honestly enjoyed your blog. Likely I’m want to bookmark your site . You really have good writings. Cheers for revealing your web page.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s