GeunShin Legend


chapter  7

Kejutan untuk Tamu Istimewa  

13

by ShiElla FiOlly AmAnda on Thursday, January 20, 2011 at 5:14pm ·

Di samping Jimmy, Jean yang masih tergeletak sebab terlalu capai untuk menjaganya semalam suntuk, sungguh hal yang sangat menjemukan sebenarnya, kalu saja ini bukan untuk Jimmy, Jean yang membenamkan kepalanya di siku Jimmy dimana kedua tangannya masih digenggam oleh Jimmy di atas dadanya,

Jimmy yang tengah tertidur pulas itu pun bermimpi, dalam mimpinya itu semuanya mendadak berubah menjadi aneh, dia sedang menjadi seorang mempelai pria, tapi, tunggu, siapa gadis yang dibawa oleh keranda itu? tidak mungkin juga kalau sang mempelai wanita itu telah mati, dan masih harus dinikahi, Jimmy benar-benar bingung hingga berulang kali menggaruk kepalanya tanpa sadar yang menyebabkan sanga Pendeta hanya mampu tersenyum kecil, saat yang ditunggu pun datang, keranda itu diturunkan tepat di hadapannya dan munculan seorang gadis yang tampak sempurna dengan gaun serba putih selutut yang begitu bercahaya dan bentuk body serta kaki yang indah, dan menjuntai, tidak terlalu panjang, dan betisnya pun sangat indah, namun sayang, wajahnya masih ditutupi oleh kain penutup putih yang transparan, ketika Jimmy ingin melihatnya dan menyematkan cincin di jari manis sang pengantin wanita, dia pun teringat Jean, dan  berteriak,

“TIDAK!!!! INI TIDAK MUNGKIN!!!”

Saking kagetnya, Jimmy yang telah bermimpi itu pun terduduk dari tidurnya, namun, entah kenapa Jean tak terbangun juga, Jimmy hanya memandangi wajah kekasihnya itu, mengelus pipi kirinya yang masih seperti orang yang sedang bersimpuh, menciumnya, , dan segera turun dari ranjang pasien yang ditempatinya tadi untuk mengangkat Jean yang kelelahan ke tempatnya itu

#Di Taman, Halaman Belakang Rumah Sakit L.A., 02;00 siang,

Jimmy yang masih menggunakan kursi rodanya itu pun mengayun alat bantunya itu keluar, untuk sekedar mencari angin, yang penuh sesak dirasanya tak berganti semenjak Jean koma, yang tepatnya 5 hari kemarin, dan sekarang dirinya yang masih harus dirawat 2 hari lagi di sini, maka barulah ia dinyatakan oleh Jong Sang boleh pulang untuk menemui para asisten pribadinya di apartemen miliknya untuk segera menyerahkan berkas yang harus segera ia selesaikan selama ini yang telah menumpuk semenjak kedatangan Jean yang tengah membuatnya sibuk sendiri, hah, bahkan ia hampi melupakan semua pasiennya hanya demi Jean, ah, apa maksudku, pikirnya Jean-lah yang telah memberinya semangat untuk kembali bangkit dari keterpurukan selama ini, Jimmy jadi berpikir kepada semua kru-kru A.N. Entertaiment untuk memberinya ucapan terimakasih sebab telah melepas Shin Hye-nya itu untuk kembali ke dekapannya, akhirnya, mereka semua bisa mengerti, apa jadinya kalau mungkin andai saja Yong Hwa tak melepaskan Jean, Hong Ki tak mau mengalah kepada kakaknya ini yang selalu bertingkah layaknya anak kecil di hadapan publik, meski sebenarnya, bila mereka tahu, di balik itu begitu banyak beban yang Jimmy tanggung, semenjak perusahaan mendiang ayahnya bangkrut, ibunya sering sakit-sakitan, hingga tak bisa ikut hidup di Amerika bersamanya? Manager Ma yang menyuruh Jean untuk menyusulku kemari yang dulu memang adalah tanah airnya, ya, kami memang lahir dan dibesarkan di sini, meski kami juga berdarah Korea, aku begitu merindukan mereka, atas perhatiannya, Oh, iya, Producer Kim Ok Bin,bagaimana aku bisa lupa, kalau saja bukan karena dia yang memaksaku untuk bersandiwara dengan Shin Hye tentang hubungan kami, mana mungkin kami bisa bersama, hingga merasakan butir-butir cinta seperti sekarang ini,? hah, kapan mereka akan ke sini, aku akan menghubunginya, pikir Jim lagi,

“Hai, kalian di sana, masih ingatkah kalian dengan namaku, si tukang marah Vokalis A.N.JELL? kapan ganti kalian yang kemari? aku sangat merindukan kalian!!! datanglah bersama ibuku, Hong Ki dan Yong Hwa, minggu depan kemari, aku akan menyambut kalian sama seperti sedia kala, sepenuh cinta, salam rindu, (Jimmy)Geun Suk”

2 hari kemudian~

Jean yang telah bersiap untuk berangkat ke kantornya yaitu di bandara American Airline, di Bayway Airport, sudah berdandan rapi, biasa dengan seragam kemeja kerah polos yang ber-rompi dan bawahan mini dress yang setinggi lutut, sepatunya yang merah itu ia kenakan,namun ia wanita pun menoleh kembali ke ruang kerjanya, Jean yang telah benar siap itu mengambil tas tangan silver-nya, dan segera pergi,

#Di dalam Mobil Jean,

“tit, tit, tit, tit” Alarm reminder-nya pun berbunyi, yang menandakan bahwa Jean harus segera ke rumah sakit untuk membereskan barang Jimmy yang sudah 4 hari itu dirawat di L.A. Hospital Directory, Sesegera mungkin Jean mengendarai mobilnya ke rumah sakit, Jean tak sabar lagi untuk segera membawa Jimmy pulang, dan untuk rencana pertama, ia wanita akan mengajak Jimmy ke apartemennya saja, untuk sementara waktu,

Sesampainya di ruang inap 45 yang ditempati Jimmy, 09:00 pagi~

“, kau sudah merapikan semuanya, sayang, baguslah, kalau begitu, aku akan mengurus semuanya di depan, kau tunggu di sini, ya, jangan nakal dan tak akan kubiarkan kau pindah kemana-mana, ingat pesanku, ” seraya meninggalkan Jimmy yang masih melamun memandangi ke luar jendela,

Jimmy yang melihatnya telah pergi, sesegera membuka komputer jinjing-nya itu, laptop untuk membuka e-mail yang telah masuk, maupun semua pesan yang dikirimkan kepadanya dari Seoul, ternyata, YES, setelah dibuka, ibu, adik, sepupu, serta beberapa orang kru A.N.JELL akan datang sabtu ini, ia pun segera membalasnya secepat mungkin takut-takut jikalau Jean melihatnya, yang malah dipikirnya pasti sedang bermain-main dengan kesehatannya,

#Di Apartemen Jean, 02;00 siang

“Ayo, Jim, masuklah, pelan-pelan, ”

“kenapa, kau, membawaku-ke-sini, aku sangat, tidak-nyaman, ” suara Jim yang terdengar parau lumayan mengejutkan Jean,

“Apa, kau masih sakit?” memandangi mata dan sekelilingnya di wajah Jimmy,

“Kemari, dengarkan aku, aku kemari untuk tidur, 10 menit saja, setelah itu, aku akan mengantarkan-mu kembali ke apartemenmu jika itu yang terbaik, bagaimana?, kau mau?, hanya sebentar saja, ” mereka pun telah sampai di kamar tamu yang sengaja Jean sediakan, Dirinya wanita pun meletakkan tas Jim, dan segera menuju kamarnya setelah melihat Jim duduk di sofa kamar itu, Jim masih terlihat asing, dirinya hanya memandangi sekeliling apartemen Jean, meski besar, namun sangat hampa, bukan karena hanya Jean dan orang tua angkatnya, namun entah karena apa dia yak tahu, Jimmy yang bosan pun dengan sembrono masuk ke kamar Jean tanpa mengetuk pintu, dan tetap diam, bahkan langkahnya tak berbunyi seperti derap oarang yang telah berjalan, ia pun tidur naik ke samping Jean, membelakangi Jean,

Jimmy hampir saja tertidur pulas, namun mendadak Jean yang terbangun membelalak dengan sigap,

“apa yang kau lakukan di kamarku?, siapa yang menyuruhmu masuk, Jim? Kau ini, sungguh,,”

“Hei, iya, sudah-sudah baiklah, aku akan pergi, kau itu kenapa, Jean, aku hanya ingin mencari tempat yang membuatku nyaman,”

Esok Harinya~

#Di Kediaman Jimmy 08;00 malam

“Nah, sudah sampai, cepat masuk, istirahat yang cukup, dan jangan biarkan dirimu terlalu banyak berpikir, terutama hal-hal yang akan membebani,” Lagi-lagi petuah-nya itu dihentikan oleh Jimmy yang bandel.

“iya, tapi , kau, juga MASUK,” sembari menarik tangan Jean yang tadinya masih menggantung di setir mobilnya,

“Tapi,”

“tidak ada tapi-tapian, ” Jimmy terus menarik Jean yang tak menghiraukan tas yang berisi barangnya itu yang masih ditenteng Jean,

Seusai makan bersama dengan para asisten pribadi Jimmy~

Jimmy yang terburu-buru masuk ke kamarnya, ia tak melihat Jean di sana, namun ternyata ada di kamar sebelahnya, Jimmy pun tanpa sungkan-sungkan masuk dan membuka perlahan selimut Jean yang membalut kaki Jean yang indah itu, Jean yang awalnya tidak menggubris itu, akhirnya menoleh juga,

“ada apa, Jim?”

“apa ada yang mencariku?” tanya Jean lagi yang masih menutup matanya itu,

“hei, pergilah saja kalau memang tak ada yang mencariku, ”

“SIAPA BILANG TIDAK ADA!!”

“APA?” mereka pun saling meninggi dalam berucap, hingga salah seorang asisten Jim yang mendengarnya dari luar bertanya

“Nona, adakah yang perlu saya bantu?” Jimmy yang terperanjat seketika langsung membungkam mulut Jean dengan kedua tangannya, Satu untuk menopang leher Jean, yang satunya untuk menutup mulut Jean, sebab tak ada suara maka asisten itu pun pergi dengan sendirinya, sambil menggaruk-garuk kepala juga tentunya,

“kali ini kau tidak harus mengusirku lagi, sudah tak ada alasan untu mengusirku, ini rumahku, yang ada kau yang pergi, e, maksudku kalau kau mau tidur denganku malam ini, ” Jimmy meyakinkan Jean untuk tidak berteriak, dan melepaskan tangannya dari mulut Jean, namun tangan satunya masih memegangi leher Jean, Jean yang gugup hanya memperhatikan wajah Jimmy, memandangi mata Jim jauh, apa benar yang dia katakan, Jean yang ingin berdiri, ingin mengambil air minum, tak tahu kalau Jimmy juga ingin berdiri, sehingga mereka pun yang bersenggolan tersungkur bersama-sama di atas ranjang. Jimmy yang tersadar masih tetap terdiam, begitu juga Jean yang mulai berusaha bangkit, namun dadanya sakit sekali sebab membentur tulang iga pada dada Jimmy yang bidang itu, Jimmy yang tersadar segera menahan Jean dengan kedua tangannya, dan menggulingkan dirinya yang memeluk Jean erat, menuju ke tengah ranjang,

“, Jim, ”

“hmmm….” yang makin membenamkan wajahnya ke bibir Jean, menekannya lama-lama untuk menikmati sensasinya, yang jauh berbeda dibanding dengan hubungan ranjangnya yang pertama yang memang benar-benar belum dilakukannya untuk organ-organ di bagian bawah, Jimmy menuruni ciumannya ke breast milik Jean, hingga gaun malamnya yang berwarna pink itu, sedikit terbuka dan semakin lebar-semakin lebar, Jean yang masih kaku, yang tak henti melihat ke arah Jim yang makin liar, hingga semua blous gaun yang dikenakannya terlepas dengan cepat, tinggal under wear pelapis bawah yang masih menempel di badannya yang langsing itu, Jimmy yang mulai merasa suhu tubuhnya menurun pun, menaikkan selimut yang berada di bawah posisi mereka, dan menariknya ke arah mereka berdua, Jimmy pun makin liar saja, entah apa yang mendorongnya untuk melakukan itu, Jean pun yang mulai merasa nyeri di miss.v-nya hanya terdiam dan menggeliat dengan perlahan, sepertinya juga menikmati apa yang telah disalurkan Jimmy pada organ wanitanya itu, Jimmy yang semula masih duduk pun mencoba untuk berbaring di atas Jean, Jean yang kehabisan napas karena Jimmy yang menindihnya mencoba berteriak

“AAAAAA!!!” Jim pun dengan cepat membekap seluruh mulut Jean dengan sapuan mulutnya, Jean hanya terengah-engah,

“percuma juga kau berteriak… tak akan ada yang mendengar rengekan-mu, juga desahan-mu, di malam ini, hingga-siang-datang,” bisik Jimmy di telinga kiri Jean, Jim pun kembali memainkan breast Jean dengan mengecupnya, menjijikkan memang, tapi entah apa yang membuatnya ingin melakukan ini bahkan mrs.p-nya belum terlepas, hingga dirinya menyerah karena lunglai,

#Pagi 10;00 di Kamar Jean yang berada di Apartemen Jimmy

“hei, kau baru pertama kali ini, ”

“Jean, mengakulah kepadamu, aku sudah melihatnya, kenapa kau tak bilang, aku bisa menyiapkannya kalau tahu akan begini jadinya, pagi ini ikut aku ke rumah sakit, ” tambah Jimmy yang begitu khawatir yang melihat Jean kesayangannya bleeding itu, hampir seluruh selimut putih yang menutupi mereka berlumuran dengan cairan putih kental yang bercampur darah merah tua yang masih jelas-jelas basah, Jean yang masih lemas, hanya mengangguk tidak jelas,

“Jimmy, kau tak perlu se-cemas itu kepadaku, aku, itu bukan istrimu,!”

“apa kau bilang, 5 hari lagi pernikahan kita, mana bisa aku membawamu ke pelaminan di gereja kalau kau masih seperti ini, aku akan bertanggung jawab untuk semuanya,” mengangkat Jean, namun Jean segera membebat tubuhnya dengan selimut yang merah itu, berlari untuk mandi di kamar mandi Jimmy yang berada di sampingnya,

10 menit kemudian~

Jimmy pun memberinya obat penahan rasa sakit, meski hanya akan bereaksi sebentar, tapi Jimmy yakin ampuh, Jimmy hanya berlutut di hadapan Jean dan mengacungkan cincin berliannya yang di box kecilnya yang berwarna hitam itu dengan

“marry me, Jean,” Jimmy pun mengatakan kalau ia akan melakukannya di hadapan ibu, adik, sepupu, juga management A.N. Jean yang mendengarnya yang telah mengenakan seragam kerjanya dan rambut terurai basah sehabis shower hanya terdiam, terharu, dan menitikkan air matanya, “i do, Jimmy, I’ve been waiting since a long time ” Jimmy pun memeluk Jean seketika dan menaikkannya mendekat ke wajahnya dan memutar-mutar Jean.

About shiellafiollyamanda

"Wish my creation can inspire a lot of people, at least around me."
This entry was posted in NOVEL. Bookmark the permalink.

One Response to GeunShin Legend

  1. I just want to say I am just beginner to blogs and absolutely savored you’re web blog. Very likely I’m want to bookmark your blog . You absolutely have exceptional posts. Cheers for sharing with us your website page.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s