GeunShin Legend


chapter 10 

Akhir yang Belum Menjadi Akhir 

16

 

Jimmy yang masih bingung dengan semua tingkah istrinya itu kali ini, sempat Jimmy berpikir, mungkinkah istri yang belum pernah diajaknya untuk berbulan madu itu secepat itu hamil? hal yang aneh memang, segera ia pria mengurungkan niatnya untuk memikirkan tentang kehamilan, tampaknya Jim takut kehilangan sedikit kasih sayang dari Jean yang dicintainya itu, oh, tidak, jangan sampai,, Langkahnya yang tanpa sadar mondar-mandir di depan meja rias istri tercintanya itu yang makin membuat Jean heran, kenapa malah Jean yang heran? bukankah dirinya wanita yang sedang dipikirkan Jim? malah Jean yang juga merasa ganjal dengan Jimmy, segera meraih tangan Jimmy untuk mengajaknya mencari udara segar di halaman depan yang baru saja mereka alihkan untuk taman yang sebelumnya berada di halaman belakang itu, Jean yang merasa mulai panik dengan kelakuan Jim yang nampak jelas sekali kalau Jim sedang gusar, segera menyentuh tangan Jim, menggenggamnya,

“apa kau menyesal menikah denganku,” Jim yang masih tak mendengar, terus diam saja,

“Lihat, aku, apa kau sudah mau menceraikanku,” pertanyaan kedua pun lewat begitu saja,

“apa kau, benar-benar ingin bercerai dan kita berpisah, nampaknya…. begitu…” Jean yang mulai kecewa menatap Jim yang tanpa respon itu pun hanya mencoba tenang, bertahan, pasti dirinya kuat menurutnya, Namun, menunggu Jim yang tampaknya begitu galau dan gusar, ia sebagai istrinya pun tak tega sebenarnya untuk mengikuti kemauan suaminya itu, yang dipikir Jean kini telah berusaha untuk menceraikannya, dan Jim diam untuk mungkin segera berpikir bagaimana cara terhalus untuk mengatakan kepada istrinya itu? sungguh kasihan, Jean, lagi lagi terjadi kesalahpahaman, Jean pun akhirnya pergi, dirinya begitu saja meninggalkan Jim yang masih terbengong-bengong di taman, di ayunan tempat mereka biasa mencurahkan isi hatinya,  tanpa menoleh ke arah Jim sedikit pun,

#Kamar Jean 12;00 siang

Lebih baik Jean pergi, menurutnya, ah, begitu cepat waktu yang dibuangnya selama ini ternyata, di pikirannya, hanya demi bersama Jimmy, ah, Jean yang mulai memukul kepalanya tanpa sadar reflek gerakan begitu saja.. dirinya wanita bergumam, apa ya, maksudku, barusan.. begitu dengan lirih, Jim-lah yang mampu membuatnya tersadar akan indahnya dunia, meski ini hanya berangsur selama 6 bulan, 6 bulan yang sangat singkat…. Jean yang masih mengemasi pakaian dari dalam almari pakaiannya ini pun hanya diam dan tetap diam.. tanpa kata, apa yang dilakukannya menurut pandangannya adalah hal yang terbaik, untuk kebahagiaan Jim, yang sebenarnya mungkin akan menjadi masalah baru dalam rumah tangganya itu,

“drtttttt,drtttt…drtttt…drttttt….drtt…..” phonecell-nya yang terus saja bergetar berputar di meja kerjanya pun sengaja tak Jean hiraukan, tanpa mengindahkan pesan itu, Jean langsung merauk phoncell-nya dan meletakkannya di saku celana Jean biru tua panjang yang dikenakannya. oh, tidak, buka, Jean, ayo, Buka, padahal pesan ini dari rumah sakit,

“Ting tong ting tong” lagi-lagi belum 1 masalah terselesaikan, baginya sudah timbul masalah baru, Jean yang sudah mengepaki semua pakaiannya ke koper hitam miliknya kini pun menuju ke bawah, melewati 3 induk tangga yang begitu panjang itu, apa boleh buat, apartemen Jean dari dulu juga begitu, jadi Jean harap, ia wanita akan dengan mudah melewati jalan, ini, tapi ternyata salah, dengan terburu-buru dirinya wanita ingin membuka pintu itu,, salah satu kakinya yang masih mengenakan sandal selubungnya yang beraksen kelinci itu, masih menancap di salah satu anak tangga yang di depannya sengaja ia letakkan koper itu, dan beruntung secepat kilat, Jim yang sedari tadi juga bersebrangan sebab ingin menuju kamar, melihat istrinya yang begitu berusaha mengangkat koper yang tampaknya sangat berat itu, Jim yang berlengan panjang dan berotot itu lagi-lagi menyelamatkan sang istri, Jean, yang yang menatapnya nyeri di lubuk hatinya tak mampu membendung air matanya untuk tak keluar, Jim yang tak memandang Jean langsung dengan cepat membawa Jean di dadanya itu menuju ke kamarnya, dan membaringkan Jean di atas ranjangnya, dengan wajah polos Jim kali ini yang tak berdosa itu pun, mencoba mendekati Jean, belum sampai ia suami mencium ubun-ubun Jean namun Jean sudah menghentikannya dengan mengarahkan telapak tangannya itu tepat di wajah Jim..

“Jangan,”  Jim hanya mengernyitkan dahi, agak sedikit bingung, namun dia berucap sedikit,

“ingat-ingatlah masa pernikahan kita, aku mau bernostalgia,” mendadak pernyataan Jim ini membuat hati Jean makin kalut, ia semakin tak mengerti dengan apa yang diucapkan Jim, namun pikirannya bahkan tak mampu membohonginya untuk tidak mengingat masa-masa yang paling membuatnya bahagia itu, kali ini, Jim yang tak mampu menahan nakalnya itu, membalikkan badan yaitu punggungnya yang menepi di sisi kanan ranjang di sebelah Jean yang masih setengah emosi itu, dirinya yang tak juga mendapat respon dari istri tercinta akhirnya terpaksa menyadarkan Jean dengan menarik Jean paksa dan menahannya di pelukannya, kini posisi berbalik, Jean, yang berada di atas Jim,

“lakukanlah sesuatu padaku, apa saja…”

“apa,  mana boleh, aku tak mau,”

“aku, memerintahmu, kenapa kau yang harus ambil pusing,”

“AKU TIDAK BISA,”

” apa harus aku yang mengajarimu buka baju duluan,? HA?” Nada Jim yang sedikit menyentak itu pun membuat Jean akhirnya meneteskan air mata yang semenjak tadi menahan diri dan berusaha untuk kuat,,

“hei, kenapa kau menangis, sayang, baiklah kalau kau tak mau tak apa, aku tak memarahimu,” namun Jean yang melihat Jim segera beranjak, langsung terduduk dari posisinya,

“jangan pergi, aku,” Jim yang merasa istrinya tengah setengah hati itu, tak menghiraukan ucapan Jean dan tetap pergi 1 langkah, Jean yang tak tahan dengan sikap Jim, mendadak menggenggam tangan Jim meski tangannya itu berkeringat dingin, saat Jim membalik, diciumnya Jim, dengan mengcengkeram kerah Jim, mengulangi seperti ketika ciuman kedua mereka di balik taman bermain, Jim yang ketika itu belum membalasnya, hanya memanfaatkan momen ini dengan baik. memeluk pinggang Jean yang mulanya hanya menyentuh pundak Jean, dan menelusuri lekuk tubuh Jean, oh, Jean geli namun menikmati, terutama ciuman hangat, Straight kiss yang diberikan suaminya, Jim yang belum berhenti menciumi sang istri itu pun semakin menekan tubuh Jean, mendorongnya hingga mereka terjatuh hampir bersamaa ke ranjang, melucuti pakaian santai-nya. dirinya sendiri dan Jean, dengan cepat, mereka sudah tak berbusana, dalam selimut putih yang masih sangat baru itu, baru diganti pagi ini oleh asisten pribadinya,

20 menit kemudian~

Jean yang terbangun, bangkit dan membalutkan tubuhnya dengan selimut yang ia tempelkan dari ujung ke ujung apitan ketiaknya, menyandarkan tubuhnya di atas bantal yang semenjak tadi sudah tersedia di sana, Jim yang juga bangun mengikuti istrinya, menyelipkan tangannya lewat celah yang ada di antara punggung Jean yang memberi sedikit lorong antara bantal yang menyangganya, merangkul pinggang Jean, dan melingkarkan di perutnya, Jean yang usai melamun itu tersadar dan meletakkan tangannya di atas tangan Jimmy yang melingkar lewat pinggang di sampingnya, menyandarkan kepalanya dan pasrah di bahu Jimmy, Jimmy pun merajuk, dan menoleh pelan ke arah Jean, pelan sangat hati-hati, dan Jean pun menyambutnya pula, dagu mereka bertemu, berusaha menyandar dengan posisi ternyaman yang mereka bisa, ini berlangsung lama, hingga Jean yang melepaskan ciuman ini pelan, bertanya mengintrogasi,

“apa semua tipe ciuman akan kau coba padaku?”

“tidak, tinggal ini… gaya yang tersisa,” ucap Jim manja sambil mendekatkan wajahnya kebali, namun gagal sebab Jean menepuk dadanya,

“Auw.. apa kau lupa, di bagian itu, aku pernah dioperasi?, kau ini, gemas, ya gemas, tapi jangan berlebihan, ”

“siapa suruh kau nakal,”

“aku? NAKAL? katamu? aku hanya berusaha mengenang masa lalu, kan sekarang kita sudah 6 bulan hidup bersama, apa kau tak kesepian,”

“hkkk..hkkk… apa maksudmu,” mata Jim yang melirik ke perut Jean dan menyendarkan kepalanya dengan memiringkan sedikit, dan membenamkannya tepat di situ,

#Di L.A. Directory Hospital, 04;00 sore

Jim yang segera membawa istrinya itu untuk memeriksakan apakah ada perkembangan dengan kesehatan istrinya, mendadak terbengong melihat ke phonecell Jean, yang mulanya dikira Jim adalah pesan dari Bayway Airport, ,ternyata dari Rumah Sakit, tak berani ia membukanya, kalau berita buruk, hingga dia memutuskan untuk menunggu giliran hasil laporan kesehatan Jean, dan setelah Jean tiba waktu untuk mendengar pernyataan dokter, Akhirnya, mereka akan mendapat kabar baik, meski Jimmy yang bertambah bingung,

“REKANKU, selamat kau-akan-menjadi— seorang, ayah!! AYAH!!!” Jim yang terbelalak dan Jean yang senang, pemandangan yang sangat kontras, bagi Jim bagimana bisa, semenjak pernikahan mereka yang begitu mirih seperti mimpinya itu, wanita bergaun putih selutut itu, Jean, memberiku anak, padahal kami hanya melakukannya sekali, itupun 6 bulan lalu, bagimana bisa, kami sama-sama sibuk, hingga sampai-sampai tak ada waktu untuk saling memanjakan masing-masing….. ditambah lagi kehamilan Jean yang hendak menuju 4 bulan itu, sungguh aneh, berarti Jean mual-mual tempo hari, marah-marah tadi pagi, pelupa, lemah… di loteng, dan di taman itu, faktor, bayiku, oh, tidak… aku tidak kuat mendengarnya, Jean yang makin heran sebab Jim yang belum lama memintanya seorang bayi, namun setelah mendengar berita baik ini malah membisu, dan tanpa reaksi,

Jean yang berusaha mengejar Jim keluar itu, bahkan sampai tidak mengucapkan salam ataupun terimakasih kepada rekannya itu, Jong Sang, Jean berusaha meraih tangan Jimmy, berlari, berlari, tanpa memperhatikan kehamilannya itu, Jim, Jim, teriaknya berusaha terus yang masih tak terdengar oleh Jim, hingga Jean hampir saja terpeleset menuruni eskalator berjalan itu, namun, beruntung Jim yang tengah berda di bawahnya secepat kilat menoleh tanpa nanti-nanti dan menangkap Jean, Jean hanya ternganga, dan berusaha bicara kepada suaminya itu, namun mereka hanya berpandangan lama, tanpa kata, namun hati mereka telah menyampaikan sandi cintanya dengan baik, beberapa suster yang melihat mereka hanya malu sendiri dan beberapa menyunggingkan senyum hormat kepada Jim, Dokter Seniornya itu, Jim pun angkat bicara sebelum didahului oleh Jean, ya, sekarang saatnya,

“tenanglah, aku senang, sekali, hanya saja sedikit, tidak percaya, dengan apa yang barusan aku, dengar, maafkan aku, Jean.. terimakasih…. telah menjadi sesuatu yang bermakna di sini, di lerung hatiku, ” Jean yang tak juga dengan mudah percaya dengan ap ayang ia wanita dengar barusan, hanya tersenyum simpul, berusaha menyenangkan hati suaminya kini, pertanda Jean sangat menghargai pernyataan Jim,

“EHMM,EHMMMM,…” dikacaukan oleh alah seorang suster yang berdiri tak jauh dari tempat mereka berdiri, di depan eskalator, dan Jim yang sadar pun menurunkan Jean dengan perlahan.,.. lembut, namun pasti, dan segera pergi meninggalkan rumah sakit, dengan melingkarkan tangannya di pinggang Jean, mereka senang untuk menantikan Black n’ Jean Junior, (Jimmy Black dan Jean Avantsta Junior)………………….

About shiellafiollyamanda

"Wish my creation can inspire a lot of people, at least around me."
This entry was posted in NOVEL. Bookmark the permalink.

One Response to GeunShin Legend

  1. I simply want to tell you that I’m all new to blogging and honestly liked your blog site. More than likely I’m likely to bookmark your blog . You amazingly have excellent articles. Thanks a lot for sharing your blog.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s