A Miracle Invasion


Chapter 13

“Bingung Menyatakan Maksud”

                Sore hari ini Joe sedang tidur – tiduran santai sambil menghadapi laptop di depan mukanya. Di atas kursi tamannya yang telah dilapisi dengan karpet empuk berwarna merah. Entah apa yang membuatnya begitu senang hari ini. nampaknya Jonas betah sekali di sana. Bukan karena ini sudah berada di rumahnya yang asli namun memang dirinya yang tengah kasmaran kepada seorang gadis. Perasaan itu baru saja mulai tumbuh, meskipun gadis itu adalah teman sekolahnya sendiri dahulu di Jepang. Sudah lama tidak bertemu tidak membuat Jonas segera melupakan gadis itu. Namanya Kikori Tanaka. Wajahnya yang manis seringkali membuat Jonas hilang akal. Di laptop Jonas bahkan hampir di semua folder fotonya hampir dipenuhi dengan foto Kikori. Dirinya juga masih berhubungan dengan Kikori meskipun hanya lewat email saja. Itu saja sudah lumayan mengobati rasa rindunya ingin segera bertemu. Sekarang ini di bayangannya hanya ada Kikori dan Kikori.

“Kakak sedang apa, sih? Kelihatannya seru sekali. Aku bawakan jus apel, ya? aku taruh di sini saja.” Mendadak Jean datang menghampiri Jonas sambil membawakan sandwich dan jus apel itu.

“Tidak apa. Hanya melihat – lihat foto saja. Kakak rindu dengan teman – teman Junior High School kakak.”

“Ah, masa? Lalu kenapa daritadi hanya foto kak Kikori saja yang muncul di layar laptop kakak?” desak Janice menggoda Jonas.

“Itu. Tentu saja. Dia kan ketua osisnya. Tentu paling banyak foto dia yang terpampang.” Alasan Joe.

“Tapi kakak, kan, juga populer. Bahkan kakak tak ada foto kakak sendiri?”

“Biar saja. Memangnya apa pentingnya mengkoleksi foto sendiri?”

“Eh, memangnya kau tak ada kerjaan lain, ya, selain menggangguku ? kau tak ingin membantu mommy atau merayu daddy untuk tambahan uang shopping begitu?” tambah Jonas yang segera merayu adiknya yang tengah beranjak dewasa itu.

“Ah, tidak. Lebih asyik di sini dengan kak Joe.”

“Tapi aku tak asyik denganmu.” Gerah Jonas datar.

:”Yah, kakak ! Masa begitu dengan adik sendiri?”

“Biar saja. Cihh!”

Sementara Jimmy sedang menikmati hari libur kerjanya dengan membaca koran di depan televisinya di ruang tamu. Sambil menyedu kopi panas yang dirinya buat sendiri. Ada kalanya dirinya berhenti membaca Jimmy pun melepas kaca mata yang dipakainya dan memainkan jari – jarinya di iPad miliknya. Jean saja yang sedang pergi berbelanja untuk persediaan makanan hingga seminggu ke depan bersama dengan para pelayannya. Mungkin satu jam lagi juga Jean sudah datang. Meski cuaca panas sedang terik – teriknya meski di sore hari seperti ini, tak mengurangi sedikit pun semangat keduanya untuk tetap beraktifitas.

Jimmy yang sedikit terganggu sebab tiba – tiba dirinya mendengar suara gaduh teriakan dari sang putra – putrinya. Joe dan Janice yang sedang adu bicara itu, saling menggoda. Mengingat usia mereka yang memasuki usia masa – masa pancaroba kecuali Jonas yang sudah memasuki usia dewasa memang sudah bukan lagu lama lagi kalau mereka saling memiliki incaran – incaran tentang pasangan ideal lmereka. Namun Jim tak ambil pikir, dirinya masih bisa memakmulinya, toh, dirinya juga pernah merasakan muda. Jimmy hanya menanggapinya dengan kekehan kecil dan kembali menyeruput kopi panasnya. Sembari menunggu Jean datang dari berbelanjanya.

“Anak – anak, kalian tidak ada kegiatan, kan, setelah ini ? nanti kita makan di luar, ya?” ajak Joe yang melihat Jonas dan Janice menuju ke dalam rumah.

“Tidak, daddy. Kakak?” tanya Janice ke arah Jonas.

“Tidak juga.” Jawab Jonas santai.

“Baiklah. Nanti jam 7 bersiap – siaplah kalian, ya.”

“Memangnya Trace dan Mom tidak masak hari ini?”

“Bukan begitu. Daddy hanya ingin hangout saja. Jarang – jarang, kan, kita punya waktu luang untuk bersama – sama. Kalian keberatan?”

“Ah, tentu tidak, daddy.”

“Baguslah.”

“Kami ke atas dulu, dad. Aku masih mau mandi.” Jonas yang beranjak pergi masih memgang tas laptopnya.

“Ya, segeralah mandi.” Jimmy pun kembali duduk ke sofanya.

Jean yang lebih banyak bercanda dengan Janice sedangkan Jonas dengan Jimmy, berjalan beriringan di sebuah pusat perbelanjaan. Mereka pun langsung mengincar tempat spaggety untuk mereka makan. Hari ini agenda Jim sedang ingin bersantai bersama dengan keluarganya. Dirinya pun segera duduk di sebuah meja yang kosong dan pas untuk mereka berempat. Mereka pun memesan menu spaggety terlezat yang sesuai dengan selera mereka masing – masing. Di sela – sela menunggu menu pesanan mereka masing – masing pun bercerita tentang hal – hal menyenangkan yang mereka bayangkan untuk mengisi hari – hari liburan seperti saat ini. Entah itu memancing, pergi picnic, menghadiri orches ataupun pameran lukisan, dan lain sebagainya.

“Ddrrrttt-dddrrtttt-dddrtttt!” mendadak phonecell Jonas di sakunya bergetar. Jonas pun segera mengangkat panggilan masuk tersebut. Tepat. Tak meleset. Panjang umur sekali sebab yang menelepon adalah Kikori.

“Iya, Kikori. Apa kabar?” sapa Jonas seketika tersambung dengan Kikori.

“Baik. Kau sibukkah bulan depan? Ada waktu tidak untuk kemari? Bulan depan akan ada reuni anak –anak Kikawa angkatan kita. Kau bisa datang?” tanya Kikori untuk memastikan apakah Jonas memiliki waktu untuk menyempatkan diri menghadiri inagurasi nanti.

“Ehm, bagaimana, ya? harusnya aku ada ujian laborat tapi tak apalah. Aku akan usahakan untuk terbang ke sana. Siapa saja dari teman – teman kita yang sudah pasti ikut juga?”

“Ada Kiran, Nodame, Siyumi, Nagaka, Renoru, Nakamoru, mereka juga sangat merindukanmu. Usahakan untuk datang, ya? baiklah, aku hanya mengabari itu saja. Salam untuk paman bibi dan Janice, ya. Sampai bertemu di reuni, Joe.”

“Okay,” Jonas pun menutup teleponnya.

“Terima kasih” Jonas pun mengucapkan terima kasih kepada pelayan yang sedang menaruh spaggety pesanannya ke meja.

“Siapa yang menelepon ?” Jean pun bertanya kepada Jonas.

“Kikori, mom. Bulan depan akan ada reuni SMU Kikawa. Aku diharap datang. Mom, Dad, dan Janice juga medapat salam darinya.”

“Ehm. Kau akan datang ? kalau iya, sempatkanlah datang ke rumah paman YongHwa. Rose belum sempat kemari. Katanya dia sedang sibuk untuk menyelesaikan skripsinya. Dua bulan lagi dirinya sudah wisuda dan akan mencari kerja di sini. Tapi paman dan bibi tetap di sana.” Pinta Jean sambil mengingatkan kepada Joe.

“Ehm. Bukan ide yang buruk.”

“Terima kasih, Joe. Ayo segera makan spaggetymu. Nanti dingin.”

“Ehmm.. Ehmm..” dehaman Janice pun terlihat sekali sebagai pertanda untuk sang kakak sang pasti tengah berbunga – bunga itu. Sebab sudah lama diirinya yang menantikan untuk bertemu dengan gadis taksirannya itu, kak Kikori. Jean yang melihat tingkah laku Janice pun seperti mengerti yang terjadi, hanya menggeleng – geleng sambil melirik ke arah Jimmy yang sudah lebih dulu menikmati spaggetynya itu. Jimmy pun yang mengerti justru kembali balik menggoda Janicenya itu.

“Kalau kau siapa Janice? Nick? Hm?” goda Jimmy.

“Daddyyy! Apa – apaan, sich ? Dia itu kan hanya temanku?” jawab Janice menutupi.

“Hahaha. Tak apa. Daddy dan mommy kan juga pernah muda. Itu wajar.”

“Ah, daddy. Sudah kubilang tidak seperti itu. Daddy lanjutkan saja makan daddy. Mommy juga tidak membelaku. Kak Joe apalagi? Hufth!” Jengkel Janice.

Sampai di rumah pun Joe langsung kembali ke kamarnya. Dirinya segera melesat untuk buru – buru membalas email Kikorinya. Tak dapat ditutupi kalau dirinya itu sedang jatuh cinta. Namun apa mau dikata, biarkan saja kalau itu justru membuat dirinya untuk lebih bersemangat. Janice juga, sebentar – sebentar ada saja tentang ick yang dirinya jadikan bahan untuk bercerita. Kentara sekali kalau Janice sedang dekat dengan sahabat SMUnya itu. Mengingat empat bulan lagi Janice yang masuk kuliah, dirinya juga maskin sering belajar bersama dengan Nick yang menjadi juara di kelasnya. Ini tentu akan menambah waktu kebersamaannya dengan Nick yang sedang diam – diam Janice taksir itu.

Pagi ini Janice juga tampak sudah rapi dengan tas pinggang dan rok pink dan pakaian yang dihiasi dengan pita itu. Jean yang melihatnya punlangsung menegurnya. Rencananya Janice memang ingin pergi ke bioskop untuk menonton film baru bersama dengan Nick. Tentunya dia kan berangkat bersama dengan mobil Jonas. Sekalian kakaknya yang akan berangkat ke ujian laboratnya. Jimmy juga sudah mengijinkan kemarin sore untuk memperbolehkannya nonton hingga siang hari ini. yang terpenting pukul dua tepat dirinya sudah harus kembali ke rumah.

“Hei, Janice, mau kemana rapi sekali? Bukannya tak ada ekskul, di sekolah, sayang?”

“Eh, iya, mom. Aku memang tidak ke sekolah. Aku mau nonton film hari ini. katanya ada 2 film baru yang menarik. Aku harus melihatnya. Aku pergi dulu, ya, mom” Janice pun mengecup pipi kiri Jean dan segera berlari. Namun tunggu dulu, kiranya Jean tak mengijinkan Janice untuk keluar pergi menonton film.

“Eits, tunggu dulu tiga hari lagi kau kan ujian akhir. Jadi tidak ada acara menonton pagi ini. kau harus belajar. Setelah itu istirahat saja. Batalkan janjimu dengan Nick. Jangan buat dia menunggu sendirian di gedung bioskop.” Perintah Jean kepada Janicenya itu.

“Tapi, mom… aku kan ingin merefresh otakku juga. Setiap hari aku bergulat dengan soal – soal latihan. Apa, mom, tega melihatku terserang stress hanya karena tak sempat meluangkan diri untuk bersantai sejenak?”

“Tidak, tidak. Tetap saja tidak boleh. Kalau kau ingin refreshing kau kau bisa pergi berenang, atau mendengarkan musik. Atau kalau tetap bersikeras ingin menonton film, tinggal beli saja dvdnya dan putar di rumah. Mudah, kan? Pokoknya aku tak mau tahu, kau tidak boleh buang – buang waktu di luar. Mengerti. Sekarang kembali ke kamar dan ganti bajumu.”

“Tapi, kan daddy sudah memberiku ijin, mom.”

“Tidak. Atau kau mom hukum tidak ikut kakak ke Osaka bulan depan. Kau pilih mana?”

About shiellafiollyamanda

"Wish my creation can inspire a lot of people, at least around me."
This entry was posted in NOVEL. Bookmark the permalink.

One Response to A Miracle Invasion

  1. Issac Maez says:

    I simply want to mention I’m very new to blogging and site-building and certainly enjoyed your page. More than likely I’m want to bookmark your website . You certainly have very good stories. Bless you for sharing your blog site.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s