A Miracle Invasion


Chapter 11

“Mulai Luluhnya Hati Joe”

Sekarang telah memasuki bulan ke 9 dalam masa kehamilan Jean. Dirinya yang tengah hamil tua kini mulai rehat kembali dari bekerjanya yang mana biasanya dirinya disibukkan dengan kegiatan – kegiatan memanage penjadwalan para pramugari dan pilot yang akan mendarat maupun mengudara namun sekarang tidak lagi. Perutnya yang makin besar juga telah membuatnya sedikit kesulitan untuk beraktifitas normal seperti biasanya. Jim seringkali membantunya dalam berjalan, memegangi pinggangnya untuk membantu Jean menjaga keseimbangan dalam melangkah. Berbeda dengan Joe. Meski kehamilan Jean yang tengah memasuki usia ke 9 bulan menjelang proses kelahiran sang adik tercinta, nampaknya tak membuat sedikit pun hati Joe berubah untuk segera menerima kehadiran sang adik di tengah kehidupannya. Joe justru semakin nakal saja. Dimulai dari dirinya yang seringkali bolos sekolah, mogok makan, hingga tak mau berbicara sepatah kata pun dengan mommynya. Sudah mulai melewati batas, bukan, kenakalannya ? Namun bukan Jean namanya bilamana dirinya akan marah dan memprotes Joe. Justru dirinya semakin sabar menghadapi putra kecilnya itu.

Minggu depan Joe akan menghadapi ujian semester di sekolahnya. Sudah pasti dirinya harus belajar keras mulai malam ini untuk mendapatkan nilai yang baik. Joe yang sedikit mengalami kesulitan dengan mata pelajaran matematika pun berusaha meminta ajarkan daddy untuk membantu menyelesaikan tugas rumahnya dari sekolah sekaligus cara – cara cepat untuk menghitung dalam ujian. Agaknya Jim juga banyak meluangkan waktu untuk ini. Joe masih saja berkutat dengan tugas – tugasnya. Di samping dirinya yang selalu mendapat tuntutan dari Jean untuk mendapatkan nilai yang memuaskan, dirinya pun sudah memiliki kesadaran pribadi untuk menjadi bintang kelas.

“Daddy, kau mau bantu aku, kan?” Joe pun menarik – narik pakaian Jim yang sedang mengerjakan laporan di laptopnya.

“Ada apa, Joe ?”

“Kau kan yang biasa mengajarkanku matematika. Minggu depan aku sudah ujian. Kau mau kan mengajariku untuk berhitung ? Mau ya, Jim ?” pinta Joe yang mulai setengah merengek di hadapan Jim. Dan seperti biasa setiap kali Joe yang memintanya untuk mengajarkan matematika, Jim pun tak pernah menolak. Dengan senang hati dirinya membantu putra semata wayangnya itu. Lagipula mungkin akan lebih sedikit waktu untuk Jim mengajarkan Joe nantinya setelah anak keduanya lahir. Maka ini adalah waktu – waktu emasnya yang tak boleh disia – siakan.

“Baiklah. Kita mulai dari mana, Joe ?” Jimmy membalas.

“Dari halaman 43 sampai dengan 48, Jim.”

Sementara Jean baru saja keluar dari kamarnya pun menuruni tangga dan melewati Jim dan Joe lalu berjalan menuju lemari es di dapurnya. Jean pun mengambil sebotol syrup dan menuangkannya ke dalam dua gelas kosong yang telah disediakannya untuk Jim dan Joe. Sesekali Jean pun mengusap perutnya perlahan yang seringkali terasa nyeri oleh gerakan bayi yang tengah berada dalam kandungannya. Jean juga mengambil kue brownies untuk camilan Joe dan Jim di ruang kerja.

Sekarang waktunya Jean untuk  membawakan makanan dan minuman ini kepada Joe dan Jim. Tapi tunggu dulu, sepertinya ada yang terasa aneh dengan perutnya. Rasanya sakit sekali seperti melilit. Apa mungkin sudah waktunya untuk Jean melahirkan ? bila dihitung sesuai jadwal yang telah ditetapkan dokter kandungan, seharusnya masih ada waktu persiapan hingga dua minggu ke depan. Jean pun yang masih merasa kuat untuk berjalan itu pun masih membawa nampannya keluar dapur. Dengan langkah yang sedikit lamban dirinya berusaha menjaga keseimbangan supaya dirinya tidak ambruk sebab juga menahan rasa sakit perutnya itu. Selangkah, dua langkah, tiga langkah lagi pun Jean telah sampai di meja kerja Jim. Dengan sedikit keberatan dirinya meletakkan Brownies dan Syrup tadi hingga terdengar bunyi benturan yang mengenai permukaan kaca meja. Jimmy pun yang merasa ada yang aneh dengan Jean pun segera memastikan keadaan Jean.

“Kau tak apa, sayang ?” Jean hanya mengernyitkan dahinya menahan rasa sakit perutnya yang makin menjadi. Joe yang awalnya tak menggubris kedatangan mommynya itu pun, akhirnya menoleh ke arah Jean setelah meletakkan pensil yang dibawanya dan menyematkannya di tengah buku yang ditutupnya seketika itu.

“Jean tak apa, kan, Jim ?”

“Sepertinya Jean kesakitan. Tolong ambilkan obat penawar sakit di laci kamar daddy. Cepat !” Joe pun segera pergi menuju kamar Jim.

“Jean, benar kau tak apa, sayang ? Atau aku perlu membawamu ke rumah sakit ?” Jim pun yang mulai panik segera membawa Jean ke rumah sakit. Yang dia takutkan kalau terjadi sesuatu dengan bayinya dalam kandungan Jean. Segera dirinya meneriaki Joe dan membatalkan menyuruh Joe untuk mencari obat penawar sakit.

“JOE! Sudah, tidak usah dicari lagi ! Daddy akan membawa mommy ke rumah sakit, kau jaga rumah sebentar, ya! Kalau ada apa – apa telepon saja ke nomor phonecell daddy ! Daddy keluar dulu !”

Hingga dua jam berlalu Jim dan Jean pun belum kembali dari rumah sakit. Joe pun mulai resah menunggu mereka. Di sela – sela waktu menghitungnya, dirinya membolak – balik buku paketnya akibat bosan. Beberapa kali Joe menengok ke arah jam dinding pun hasilnya masih tetap sama. Jim dan Jean belum juga datang, bahkan mengabari pun tidak. Ada apa sebenarnya. Apa mungkin Jean harus dirawat inap ? Lalu kenapa Jim tidak memberitahunya ? Hah, menunggu itu sangat menjemukan bagi Joe. Lebih baik dirinya bermain ke rumah teman – temannya kalau saja saat ini tidak ujian. Mengingat hari itu dirinya harus belajar keras makan diurungkanlah niatnya untuk bermain.

“Kring… Kring.. Kring..!!” suara telepon rumah Joe pun berdering. Joe yang mendengarnya pun segera mengangkat panggilan itu dengan segera. Dengan sedikit berlari dirinya sudah sampai di depan telepon yang berada tak jauh dari ruangan kerja daddynya yang ia gunakan untuk belajar.

“Hallo, dengan kediaman Jimmy di sini. Dengan siapa aku bicara sekarang ?”

“Joe, ini daddy. Bersiaplah sekarang. Daddy akan menjemputmu di rumah. Sepertinya Jean akan melahirkan hari ini. Karena kau tak ada teman di rumah, maka lebih baik kau ikut kami. Kau bisa belajar di sini juga. Lima menit lagi aku sudah di sana.” Perintah Jim kepada Joe.

“Baiklah. Pantas saja aku tunggu lama daddy tidak segera datang.”

“Iya. Maaf, tadi aku sedang mendiskusikan sesuatu dengan paman Ben dan dokter Touda.”

“Ehm. Tunggu aku sebentar lagi.”

“Ya. Daddy tutup teleponnya, Jonas.”

Tak beberapa lama setelah itu Jim telah sampai kembali di rumah sakit dengan membawa Joe. Joe yang sedang digandeng Jimmy pun tampak tenang tak seperti biasanya dimana dirinya yang nakal dan banyak tingkah. Mungkin sebab dirinya yang mau tak mau harus sudah siap menerima keadaan bahwasanya adiknya akan lahir dan dirinya akan menjadi seorang kakak. Jim yang tak banyak berpesan kepada Joe pun sepertinya juga sudah mempercayakan kepada Joe kalau putra kecilnya itu pasti tidak akan berbuat hal yang nakal ataupun yang merepotkan dirinya da juga Jean.

Seketika Joe sampai menemui Jean, Joe pun langsung merengkuh bahu Jean. Jean yang mengetahui kedatangan Joe pun membalas sikap Joe dengan sebuah senyuman yang mengembang di bibirnya. Tak terlihat raut wajah marah Joe yang biasanya terlihat cuek dan sesnsitif terhadap kehamilan keduanya ini. Justru ini yang terbaik. Mengapa tak dari dulu saja Joe patuh terhadap Jean dan tidak menolak kehadiran calon adiknya itu. Namun mungkin memang Joe membutuhkan banyak waktu untuk mengerti dan belajar dewasa. Dan terbukti sekarang Joe mulai merajuk.

“Mommy, kapan dia lahir ?” tanya Joe polos sambil sekali mengusap perut Jean.

“Hm, tak lama lagi kata dokter.”

“Apa dia yang akan menjadi dokternya, Jean ?” tanya Jonas sambil menunjuk ke arah wanita yang sudah berdiri sedari tadi di samping Jean.

“Iya. Namanya dokter Touda. Ayo, beri salam kepadanya !” balas Jean mengenalkan dokter Touda kepada Jonas.

“Hai, dokter. Namaku Jonas. Aku biasa dipanggil Joe. Senang bertemu denganmu.” Kata Joe memperkenalkan dirinya sambil tersenyum.

“Hai, anak pintar. Lalu apa yang sedang Joe bawa itu ?”

“Oh, ini. Buku matematikaku. Seminggu ini aku ada ujian, dokter.”

“Begitu, ya. Kalau begitu kau bisa  belajar di ruang dokter kalau kau mau?” Dokter Touda menawarkan.

“Tidak usah. Di bangku depan saja. Aku hanya butuh sedikit membaca dan berhitung. Kau perhatikan saja, mommyku.”

“Tenang saja, adikmu tidak akan lama lagi lahir. Mungkin tiga sampai empat jam lagi. Atau bisa lebih cepat kalau kondisi mommymu fit.” Jelas Dokter Touda.

“Baiklah. Yang pasti kami serahkan semuanya padamu, dokter. Kami percaya padamu. Baiklah kalau begitu aku ke depan dulu, ya, dokter. Jean, aku ke depan dulu, ya.”

“Iya, sayang.” Jean membalas.

Jim yang cemas pun menunggu proses kelahiran anak keduanya hanya bisa mondar – mandir di depan pintu kamar bersalin  Jean . Dirinya yang seharusnya menunggu Jean pun, terpaksa tak bisa sebab dokter Touda sendiri yang membutuhkan konsentrasi lebih untuk membantu proses kelahiran istinya itu. Beberapa kali dirinya bolak – balik duduk – berdiri hanya karena menunggu dan mengurangi ketegangan yang dirinya alami. Meski ini adalah anak yang kedua namun tetap saja tak sedikit pun berkurang atau sedikti lebih santai sikap dirinya dalam detik – detik menanti kelahiran sang anak. Lagipula dirinya juga belum menyiapkan nama apa yang akan dia berikan kalau nanti anaknya lahir. Perempuan atau laki – lakinya juga belum dirinya prediksi. Hingga – hingga Joe yang berada di sampingnya pun ikut tegang menanti kelahiran adiknya itu. Terdengar sedikit erangan Jean juga tampaknya membuat Jimmy semakin was – was. Dirinya yang tak bisa melihat Jean, hanya bisa bersandar di tembok samping pintu hingga bilamana proses selesai dan dokter keluar dirinya bisa saja langsung dengan mudah menemui dokter dan masuk ke kamar bersalin. Jimmy pun berulang kali mengetuk – ngetukkan jari – jarinya ke jam tangan yang dikenakan di tangan kirinya. Kali ini terdengar erangan yang lebih kuat dari Jean, hingga tepatnya Jean yang tengah mengejan. Dan suara intruksi dokter Touda yang terdengar samar  – samar. Namun sesaat setelah itu pun tak ada suara sama sekali yang terdengar. Sekitar satu menit kemudian barulah terdengar suara tangis bayi yang sangat jelas dari balik jendela. Ya, anak Jim telah lahir. Hanya tinggal menanti dokter Touda untuk keluar dan memberitahu jenis kelamin sang anak. Jimmy yang tadinya masih digantungi perasaan tegang pun mulai lega. Sangat bersyukur dirinya atas kelahiran sang anak keduanya itu. Dipeluknya Jonas yang tengah berada di sampingnya sedari tadi menemani Jim untuk menunggu kelahiran sang adik tercinta. Jonas pun segera membalas pelukan Jim dan memberinya selamat. Tersirat raut muka bahagia di keduanya. Joe yang sudah tak was – was lagi untuk memiliki seorang adik, nampaknya sudah benar – benar sanggup  mempersiapkan dirinya untuk menjadi sorang kakak yang baik bagi adiknya ini. Dan begitu pula dengan Jim yang sudah bersiap siaga jauh – jauh hari untuk anak keduanya ini.

About shiellafiollyamanda

"Wish my creation can inspire a lot of people, at least around me."
This entry was posted in NOVEL. Bookmark the permalink.

5 Responses to A Miracle Invasion

  1. Garmin 1490t says:

    I can testify that you’re an expert at your field! I would be launching a site very soon, and your material is going to be extremely useable for me. Several thanks for all your assist and wishing you all of the success inside your organization enterprise.

    Like

    • yeah, thanks for your compliment ^^
      i can reply with anything
      by the way, i still have too many luckness for share my material
      sometimes i confuse to post what important to others ^^
      thanks once again ^^

      Like

  2. I simply want to mention I am just very new to blogging and definitely liked you’re web blog. Likely I’m going to bookmark your blog post . You amazingly come with excellent articles. Thanks a lot for revealing your blog.

    Like

  3. I’ve been absent for some time, but now I remember why I used to love this web site. Thanks , I will try and check back more frequently. How frequently you update your web site?

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s