A Miracle Invasion


chapter 10

“Menyatukan Pendapat”

“Apa yang sebaiknya harus aku lakukan, Jean ?” “Apa tidak sebaiknya kita membicarakannya saja dengan Joe supaya ia lekas tahu kalau dia akan segera mempunyai seorang adik ? Bagaimana menurutmu kalau seperti itu ? Apakah itu seperti sebuah ide yang buruk ?” bolak balik Jimmy mempertimbangkan apa yang sebaiknya akan dirinya lakukan demi membuat Jeannya mengerti bahwa sudah seharusnya Joe diberitahu akan kehamilan ibunya itu. Sebab entah dalam waktu cepat atau lambat sudah pasti Joe juga akan mengetahuinya sendiri. Bukankah reaksinya juga akan sama saja antara Joe kepada Jean maupun Jimmy. Toh pada kenyataannya dahulu Joe sering menanyakan kapan perihal dirinya akan memiliki seorang adik seperti teman – teman sekolahnya yang lain. Mungkin justru ini akan menjadikan berita yang sangat baik bagi Joe sendiri.

Jean justru sebaliknya, dirinya masih saja seperti pertama kali mendengar seketika saat dirinya tengah diinformasikan oleh Ben bahwa dirinya tengah mengandung yang usia kandungan kurang lebih telah memasuki di satu minggu pertama. Agaknya justru dirinya kurang senang akan hal itu. Entahlah mengapa, namun yang jelas dirinya sedang bingung saat ini. Bila ditanya antara kesiapan mental batinnya dengan perasaan bahagia karena dapat memenuhi keinginan antara Jimmy dan Joe yang sama – sama memberatkannya, namun tetap saja dirinya tak mampu berpikir jernih saat itu juga. Dirinya bahkan hanya mengendus kesal sebab Jimmy masih terus saja menyerbunya dengan berbagai pertanyaan yang menekannya untuk segera memberitahukan masalah kehamilannya kepada Joe. Hmm..

“Sudahlah, Jim, tidak bisakah kita jangan membicarakan tentang hal ini dulu ? aku masih lelah. Lagipula aku belum siap menghadapi reaksi Joe akan seperti apa nantinya kalau aku yang memberitahukannya akan hal ini. Mungkin akan lebih baik kalau aku mandi dulu. Kita baru saja sampai di rumah. Jangan membuat suasana di rumah juga setegang di kantor, okay ?” jawab Jean meyakinkan.

Namun kali ini Jimmy pun menuruti saja apa yang Jeannya kehendaki. Dirinya memutuskan agar memberikan waktu sejenak untuk Jeannya berpikir. Mungkin halnya dengan begitu siapa yang tahu mampu membuat Jeannya berubah pikiran. Tidak menutup kemungkinan, bukan ? Jimmy pun keluar dari kamarnya dan menuju ke ruang belajar Joe. Putra kecilnya itu tengah asyik memainkan pesawat – pesawat terbang miniatur yang sengaja disediakan oleh Jean dari hadiah – hadiah kantor penerbangannya. Joe yang tak menyadari keberadaan daddynya sang sedari tadi sudah berdiri mematung di memandangi di belakangnya. Namun entah mengapa memang sengaja Jimmy tidak ingin mengganggu keasyikan Jonas dalam bermain. Melihat Joenya tumbuh menjadi anak yang aktif cukup membuat Jimmy bahagia. Asalkan Joe tidak mengalami seperti apa yang Jimmy dan Jean kecil yang sudah tidak merasakan kasih sayang orang tua. Namun, Jimmy justru senang, dengan begitu dirinya dapat dengan lebih mawas menjaga putranya itu. Justru dirinya sangat merasa berterimakasih dengan adanya keadaan yang membuatnya memiliki sebuah keluarga yang utuh seperti ini.

“Joe, ayo makan dulu, sayang, ini sudah pukul 12 siang. Sekarang waktunya makan.” Jean pun masuk ke ruang bermain Joe. Sontak Jimmy dan Joe pun menoleh ke arah datangnya Jean dari balik pintu. Jean yang telah selesai mandi pun sudah bersiap dengan mengenakan pakaian santainya untuk melayani keluarganya di rumah. Joe dan Jimmy yang tengah bersantai pun tersenyum menyambut pelayanan mommy dan istrinya itu. Mereka pun segera keluar ruangan dan menuju ke ruang makan yang terletak tak jauh dari tempat mereka sekarang.

“Ayo, Joe, kau duduk di samping ayah saja. Sini !” Jimmy pun menepukkan tangan kanannya ke bantalan kursi di sampingnya memberi kode agar Joe segera menempati tempat yang telah dirinya persiapkan.

“Baik, ayah.”

“Bagus ! Anak pintar. ” Jimmy pun menyunggingkan senyuman terbaiknya kepada Joe yang telah bersenang hati mengikuti ajakannya.

“Sekarang kau jangan nakal, ya ! Joe sekarang sudah besar. Terbukti dengan tubuh yang bertambah besar. Joe harus bisa patuh terhadap kedua orang tua, mengerti. Jangan banyak mengeluh dan hal – hal buruk lainnya. Mulai sekarang Joe harus bisa merubah semua perilaku Joe yang masih kekanak – kanakan. Mengerti ?” Jimmy pun mulai memberi pengertian kepada putranya tersebut.

“Baik, ayah. Tapi mengapa aku harus berubah secepat itu?”

“Karena.. karena kau putra ayah. Putra ayah tentu harus beretika,” terlihat sekali Jimmy sedang berusaha menutup – nutupi apa yang sebenarnya terjadi. Sesekali dirinya melirik ke arah Jean supaya jangan sampai salah bicara. Sebab bisa parah akibatnya bilamana Joe sampai tahu sekarang perihal kehamilan ibunya. Tentu Jean belum ingin hal itu diketahui oleh putranya sampai dirinya siap untuk memberitahukannya sendiri. Butuh waktu. Jean yang juga mengawasi tingkah Jimmy terlihat sekali sangat tidak nyaman dengan uraian panjang lebar suaminya itu. Takut – takut kalau sampai Jimmy kelepasan berbicara.

“Ehm.. mungkin setelah ini mom dan daddy akan keluar sebentar. Joe berani, kan, kalau kami tinggal sebentar ?” Tiba – tiba Jean pun menyerobot untuk berbicara.

“Memangnya kau mau kemana, Jean ?” Joe pun bertanya dengan nada datarnya.

“Tenang saja, sayang, mommy tak akan lama. Tak jauh dari sini, hanya di Caffe sebelah. Kalau kau takut, kau bisa menelepon temanmu untuk datang kemari. Tak apa, kan ?”

“Hm,” Joe pun mengangguk meski dengan berat hati. Makan siang pun menjadi terkesan sangat tergesa – gesa dan tidak dinikmati. Joe merasakan ada hal yang aneh yang telah dirahasiakan antara orang tuanya kepadanya. Namun dirinya hanya berusaha menghargai bahwasanya hal itu memang urusan orang tua mereka masing – masing. Joe tidak boleh ikut campur.

Usai makan siang, Jean pun bergegas mengajak Jimmy keluar berjalan menuju Caffe di sebelah apartemennya itu. Sengaja dirinya tak memesan tempat yang jauh karena dipikirnya ini hanya hal kecil yang tak perlu dirinci sedemikian rupa. Dirinya pun mulai membicarakan apa yang semenjak tadi tengah bergumal di kepalanya. Menanggapi pertanyaan Jimmy pagi hari tadi sepulang dari rumah sakit. Jean akhirnya memutuskan untuk segera memberitahukan berita baik ini kepada Joe. Namun akan lebih baik bila Jimmy yang mengatakannya kepada Joe, bukan dirinya. Dan terlebih dahulu memberi kabar kepada kedua saudaranya di seberang yang pasti tengah menunggu juga kabar dari keluarga Jean – Jimmy di Sini. Segera Jean memanfaatkan fasilitas telepon yang juga disediakan oleh Caffe tersebut.

“Aku  yang akan mengabari Seo Hyun. Setelah ini kau yang kabari Hong Ki.”

Berulang – ulang Jean mengetukkan ujung – ujung jarinya ke meja. Menunggu teleponnya segera diangkat oleh Seo Hyun di seberang sana. Namun tidak berapa lama, ada jawaban dari panggilannya.

“Iya, dengan kediaman Keluarga YongSeo di sini. Anda siapa ?” terdengar suara Seo Hyun yang mengangkat teleponnya. Kebetulan sekali, Jean pun segera menjelaskan akan maksudnya menelepon Seo Hyun.

“Ini aku Shin Hye, Seo Hyun. Bagaimana kabarmu dan Rose, sehat semua, bukan ? Kami di sini sehat – sehat saja. Lama tidak menghubungi, kali ini aku memberitahumu bahwa Joe akan punya adik lagi. Apa itu terdengar lucu ? Aku sendiri juga merasa malu dengan hal ini. Namun inilah yang harus kami terima.”

“Benarkah ? Wah, justru ini kabar yang sangat baik. Aku saja yang suka dengan anak kecil belum mendapatkan momongan lagi. Selamat, ya, kak ! Nanti setiba Yong Hwa dari kantor pasti aku akan menyampaikan berita baik ini kepadanya. Lalu bagaimana dengan kak Geun Suk sendiri ? Apa dia terlihat bahagia juga mengetahui hal ini ?”

“Iya, dia senang sekali.”

“Lalu Joe ?”

“Nah, itu dia yang menjadi masalahnya. Aku sudah berencana menyuruh Jimmy yang akan mengatakan kepadanya. Kau  tahu sendiri, bukan, bagaimana sikap Joe ? ya sudah, kalau begitu. Kalau ada berita lagi aku pasti segera mengabari kalian, kalian juga, ya? Sekarang saatnya Geun Suk yang akan mengabari Hong Ki dan Eun Hye juga. Lain kali kita sambung, ya? Kami pasti juga mendoakanmu agar segera mendapat momongan lagi. Daa !” Jean mengakhiri pembicaraannya dan segera mengarahkan gagang teleponnya kepada Jimmy.

Sembari menunggu Jimmy menelepon Hong Ki, Jean pun menyedu kopi Capucinno yang telah dipesannya semenjak tadi. Dengar – dengar tempat ini sengaja mengambil Barista terbaik dari Italia. Dengan desain interior Cafe yang megah dan pelayanan yang memuaskan mampu memanjakan para pengunjungnya. Jean pun tak segan – segan untuk bertanya jam berapa Caffe ini buka hingga tutup. Nampaknya dirinya akan sering – sering mengunjungi tempat ini. Lagipula sudah pastinya selama masa kehamilan dirinya akan lebih banyak menggunakan waktu untuk beristirahat daripada bekerja. Mungkin tempat ini tepat untuk memanjakan diri.

Jimmy pun langsung menelepon ke rumah sakit kantor dirinya dahulu bekerja. Di sana dirinya akan langsung terhubung dengan Hong Ki. Mengingat Eun Hye sendiri sudah pasti sedang beristirahat di rumah sebab istri Hong Ki yang tengah hamil tua itu.

“Hong Ki ? Ini aku Geun Suk. Apa kau sibuk ?”

“Tidak, kak,”

“Oh, begini aku hanya mau mengabari bahwa kakak iparmu saat ini sedang mengandung keponakanmu. Lalu bagaimana keadaan istrimu sekarang ? kapan keponakanku akan lahir ?”

“Sepertinya tak lama lagi. Dokter kandungan memperkirakannya akan lahir di akhir bulan ini. Wah, tapi sebelumnya selamat, ya, untuk kakak. Joe akan punya adik. Itu sudah pasti berita bagus. Tapi kau sudah kabari ibu ?”

“Belum.”

“Baiklah kalau begitu setelah ini aku saja yang akan menghubunginya. kakak tenang saja. Baiklah, nanti akan kusampaikan pula pada Eun Hye. Jaga kakak ipar baik – baik, ya ? Meskipun kita semua tidak tinggal bersama, namun kita bisa saling mengingatkan satu sama lain, bukan, meskipun lewat telepon ? Baiklah, kak, ada lagi yang ingin kau sampaikan ?”

“Ehm, tidak. Aku rasa cukup.”

“Ya sudah. Kalau begitu aku tutup dulu ya teleponnya. Aku ada jadwal operasi hari ini. Salam untuk kakak ipar, ya. Terima kasih atas infonya. Dada, kakak !”

About shiellafiollyamanda

"Wish my creation can inspire a lot of people, at least around me."
This entry was posted in NOVEL. Bookmark the permalink.

3 Responses to A Miracle Invasion

  1. Ashley says:

    This is a message to the webmaster. I came to your “A Miracle Invasion shiellafiollyamanda” page via Google but it was hard to find as you were not on the first page of search results. I see you could have more visitors because there are not many comments on your website yet. I have found a website which offers to dramatically increase your rankings and traffic to your website: http://www.linklegends.com/7-day-free-trial I managed to get close to 1000 visitors/day using their services, you could also get lot more targeted traffic from search engines than you have now. Their free trial and brought significantly more visitors to my website. Hope this helps🙂 Take care.

    Like

  2. I simply want to say I’m beginner to blogging and certainly enjoyed this blog. Most likely I’m likely to bookmark your site . You surely have superb posts. Many thanks for sharing with us your web site.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s