“FOOTPRINT UNDER THE MOONLIGHT”


Title : Footprint Under The Moonlight

Genre : Comedy and Romance

Rate : PG

Author : Shiella Fiolly (io)

Cast :

Jang Geun Seok

Park Shin Hye

Kim Dong Wook

Park Jin Hee

 

Shin Hye. Begitulah namaku dipanggil. Berkali – kali aku dipanggil dengan sebutan itu, hingga – hingga aku tak pernah tahu sebenarnya kenapa orang – orang begitu senang memanggilku dengan sebutan itu. Belum lagi gadis Doraemon. Konon, waktu itu aku tengah menghadiri perayaan pesta ulang tahun temanku. Ketika itu aku masih berusia 9 tahun. Aku masih SD. Meskipun begitu aku masih ingat jelas seperti apa kejelasan ceritanya. Sebal bila mengingatnya. Aku sudah capai – capai berdandan rapi dan berbusana cantik layaknya putri. Ya, aku mengenakan pakaian pesta pastinya berwarna putih selutut dengan hiasan pita pink besar di depan dadaku yang di tengahnya terdapat bunga tiruan serupa mawar. Aku sudah yakin akan mengenakannya dengan indah dan anggun.

 

Dengan percaya diri kulangkahkan kakiku menuju ke gedung di sebuah hotel yang telah sesuai dengan alamat yang tertera di surat undangan temanku tadi. Eh, tak kusangka ternyata aku tak salah costum. Pestanya benar – benar meriah. Terang saja dirinya memang anak orang kaya. Sudah tidak heran bahwa pesta yang dibuatnya ini pastilah tak mungkin memakai hanya uang yang sedikit. Selidik punya selidik, ternyata ayahnya adalah seorang menteri pertahanan di negara ini. Oh, Tuhan, aku seperti bermimpi bisa menghadiri pesta semeriah ini. dalam hidupku saja sejauh ini aku belum pernah merasakan ulang tahu yang dirayakan. Mengertilah aku ini hanya hidup dengan bibiku. Orang tuaku sudah meninggalkanku sedari aku berusia 6 tahun. Tanpa tahu atas dasar apa mereka meninggalkanku yang jelas aku tahu mungkin aku memang benar – benar tidak diinginkan oleh keduanya. Berbeda dengan bibiku yang telah dengan susah payah merawatku meski kami tak memiliki hubungan darah. Hah, tapi sayang. Kembali lagi ke pesta, semuanya gagal. Riasanku. Semuanya.

 

Ketika itu tak kubermaksud ingin meyumbangkan sebuah lagu untuk temanku yang sedang berulang tahun ini. namanya Bo Ra. Dialah temanku yang menganggapku sudah seperti saudaranya sendiri. Kendati aku yang tak mau maju juga, dia berinisiatif menarikku, dan alhasil mau – mau sajalah aku menyanyi dengan suaraku yang sangat pas – pasan ini. tak ada lagu yang aku hafal. Yang aku sering dengar hanya nyanyian Twinkle – Twinkle Little Star maka lagu inilah yang akan aku dendangkan di depan banyak mata yang tengah siap melihat penampilanku kali itu. Hahaha. Ini kali pertamanya aku tampil di hadapan banyak orang. Sedikit gugup hingga aku harus berusaha keras menutupi suaraku yang sedikit bergetar di belakang sana. Astaga, semoga Bo Ra tak kecewa dengan nyanyianku tadi.

 

Tak lama berselang setelah itu sesuatu yang buruk menimpaku. Oh, aku tak tahu pasti, tapi yang jelas tampaknya ada yang tidak beres dengan sepatu hak tinggiku ini. meski bagus, tahulah sendiri bahwa aku tak terbiasa mengenakannya. Sebentar – sebentar aku berhenti hanya untuk memastikan kakiku tidak lecet dan langkah berjalanku yang harus tetap terlihat biasa. Meski lebih capai jauh dibandingkan dengan aku memakai sepatu ketku seperti hari – hari biasa. Dan gilanya lagi sahabatku yang datang dari arah berlawanan, Kang Min Hwa memanggilku yang berusaha memamerkan kado yang akan diberikannya kepada Bo Ra. Tapi apa yang terjadi ?

Gelas pepsi yang tengah aku pegang justu jatuh seketika dia mengagetkanku dan sukses menumpahi wajah hingga gaunku sebab aku yang juga jatuh terpleset setelah itu. Aku tak ingat apa – apa seketika itu. Seperti semua berputar, itu yang aku rasakan. Hanya suara GUBRAKK yang kudengar sebab lenganku yang terpentok ujung meja yang awal mulanya aku sandari itu dan bisa kalian bayangkan banyak kado yang telah tersusun rapi mendadak jatuh satu per satu menimpai tubuhku hingga aku yang sempoyongan berusaha berdiri dari tumpukan kado – kado berwarna – warni yang berserakan itu. Sepertinya Min Hwa justru tertawa renyah. Tidak sedikit pun dia berusaha minta maaf hingga semburan tawa banyak teman – teman lain yang tengah menyadari bahwa ada aku yang sedang tertimpa kesialan ini ikut – ikutan tertawa dan berseru meledekku gadis Doraemon.

 

“Gadis Doraemon ! “ pekik seoseorang anak lelaki yang berada di ujung barat yang sedang memakan permennya.

 

“Iya.” Timpal lelaki berdasi kupu – kupu dengan mulut penuh celemotan bekas Es Creamnya.

 

“Lihat saja, sepertinya dirinya tak pernah dapat hadiah ! semua hadiah di sini ingin dimilikinya !” tambah gadis berkuncir dua yang memegang boneka teddy bearnya.

 

“Bukan, dia itu ingin terang – terangan mencuri barang milik Bo RA !”

 

HAAA! Apa ! sudah puaskan mulut mereka berkata sekarang ? lagipula siapa yang ingin memiliki semua kado tumpukan itu. Meski sebenarnya di dalam hati kecilku aku ingin sekali memiliki semua yang ada dalam diri Bo Ra, namun aku tak berani bermimpi banyak. Min Hwa juga, sialan dia ! Hanya mengulurkan tangannya kemudian berkata sok baik.

 

“Santailah sedikit. Maka semuanya tak akan begini,” Hah! Kata macam apa ini ! bukan ini yang ingin kudengar dari mulutnya. Apa pula maksudnya tadi berusaha mengaget –ngagetiku, ha! Menurutmu itu lucu ! sama sekali tidak !

 

“Lepaskan tanganku !” teriakku menjauh dan meninggalkan pesta.

 

“Tapi Shin Hye—“ belum sempat dia mengatakan maksudnya aku sudah terlajur pergi menghindarinya. Aku sayangkan hal ini terjadi. Namun mau bagaimana lagi. Aku benar – benar benci dengannya mulai hari itu juga. Hingga sekarang pun aku juga masih tak ingin berhubungan dengannya. Sebab ulahnyalah aku jadi bahan tertawaan teman – temanku. Sebab dia pula aku jadi dipanggil gadis Doraemon. Apanya ? harusnya dialah itu yang lebih pantas dipanggil dengan sebutan gadis Doraemon. Gayanya yang sok cool dan menggemari segalanya yang berwarna biru. Suka dengan hal – hal fantasi dan bicaranya sepertinya dia itu adalah orang tertua yang pernah ada. Gadia aneh. Tapi biarlah, yang penting sekarang adalah aku dengan masa sekarang.

 

Jauh berbeda dengan kehidupanku yang sekarang. Aku menjadi sosok yang tenang. Sedikit bicara bukan karena aku adalah gadis melancholi atau apa, tapi karena aku ini sedang mengejar impianku yang ingin melihat angkasa. Aku ingin sekali suatu saat bisa melihat mereka secara nyata. Terbesit sebuah impian konyol aku akan mengajak bibiku untuk tinggal di sebuah perkampungan sunyi yang semua penduduknya itu dekat dengan dunia astrology. Dimana – mana ada teropong bintang, ada alat pengukur kecepatan cahaya, semuanya. Aku begitu mengidam – idamkan hal itu benar – benar terjadi di dalam hidupku entah itu berapa lama lagi. Rasanya tak sabar ingin menikmati hari – hari dengan menyaksikan sang tata surya yang begitu luas dengan bermacam benda yang bercahaya di atas sana.

 

Bibiku tak pernah sekali pun mengeluh selama merawatku. Yang dia tahu, aku ini adalah satu –s atu keponakannya yang selalu ada untuk membantunya. Tanpa aku sangat yakin bahwa dirinya akan hidup sendirian. Dirinya bahkan belum punya pendamping hidup. Meski aku sempat bertemu dengan beberapa paman yang memang sering menyempatkan untuk mampir ke kebun anggur kami. Sebenarnya aku tak kenal juga siapa mereka. Namun secara gelagatnya, nampaknya ada satu paman yang menonjol begitu mengidolakan bibiku ini. namanya paman Hak Wo Bin. Aku cukup senang dengannya. Ya, meski aku tak tahu juga sebenarnya setulus apa dia kepadaku. Untuk mendapatkan bibi, tentu dirinya harus berbaik – baik dahulu kepadaku. Dasar paman !

 

Bibiku itu orangnya pemalu. Padahal wajahnya tak jelek. Cantik sekali malah menurutku untuk ukuran wanita dewasa yang masih melajang. Coba saja lihat. Mana ada bibi seumuran dia yang masih terlihat langsing, dan berkulit kencang ? hahaha! Ya, maaf saja ! tapi itulah kenyataannya. Aku tak melebih – lebihkan.

 

“Bibi, apa bibi menyukai paman ?” tanyaku tiba – tiba sembari bibiku sedang tidak sibuk dan masih memetik beberapa anggurnya.

 

“Paman, paman siapa ?” tanyanya yang tidak begitu konsentrasi mendengar pertanyaanku.

 

“Paman yang tadi, bi ?” tanyaku menggodanya untuk semakin penasaran.

 

“Ah, paman Hak ?” Hahaha. Cepat sekali dia paham maksudku.

 

“Ya. siapa lagi ? kenapa bibi tidak menikah saja dengannya dan melahirkan sedikitnya 2 anak ?” saranku tampa ambil pusing melihat bibiku yang masih terus – terusan berkutat dengan anggur – anggur yang dipetik dan dimasukkannya ke keranjang berlubangnya.

 

“Ah, kau ini pandai sekali berbicara. Mana mungkin bibi menikan begit saja tanpa ada rasa ?”

 

“Maksud bibi, bibi tak suka paman ?” tanyaku tiba – tiba.

 

“Ck, bukan begitu. Ah, sudahlah. Kau tak perlu tahu. Anak kecil sepertimu mana mungkin mengerti ?” katanya yang menyudahi begitu saja pembicaraan kami dan buru – buru keluar dari garden house menuju ke pekarang di samping rumah kami.

 

Andai saja bibiku orang yang terus terang sedikit, mungkin tak lama lagi dirinya akan menikah atau malah mungkin sudah memiliki seorang putra. Aku makin penasaran saja dengan bibiku ini. bibi Jin Hee yang kukenal memang tak banyak bicara. Dia tipikal wanita yang ringan tangan dan lebih banyak bertindak. Aku kagum kepadanya. Andai saja orang tuaku tak meninggalkanku, apa mungkin mereka bisa bersikap baik sebaik perlakuan bibi Jin Hee keoadaku.

 

Tapi mendadak aku tergopoh – gopoh buru – buru memanggil bibi Jin Hee seketika aku tahu ada seorang pria yang turun dari mobil hitamnya yang jelas dari plat nomornya dia bukan orang di sekitar pulau ini. Orang sekaya ini mencari bibi Jin Hee ? untuk urusan apa ya ? sekali pun aku tak pernah bertemu dengannya. Apa paman ini keluarganya ? saudaranya dari jauh ? tapi kalau memang iya, seharusnya aku tahu sudah sejak lama. Kalau dia kekasih bibi Jin Hee ? mana mungkin juga. Pria ini begitu cool. Tak berebda jauh dengan bibi Jin Hee sekali bertemu. Karisma yang dirinya pancarkan begitu besar. membuatku bahkan sedikit harus mendelik untuk mencurigai sebenarnya siapa dia itu, ya ? aneh, tapi nyata ! aku harus tahu siapa dirinya. Bibiku tak boleh berhubungan dengan orang yang sembarangan.

 

“Bibi, Orang ini yang sedang mencarimu. Apa bibi kenal siapa dia ?” tanyaku setengah berbisik ke telinga bibi Jin Hee dan menunjukkan telunjuk jaruku ke arah paman yang sedang berdiri bersebarangan dengan kami. Meski dari kejauhan namun seperti bibi Jin Hee bisa langsung mengenalinya.

 

“Astaga, Dong Wook !” sahut bibi Jin Hee yang sedikit menekan kata –kata terakhirnya. Apa benar dia aman Kim Dong Wook. Mantan kekasih bibi yang pernah diceritakannya kepadaku tempo hari. Yang benar saja. Sudah berapa tahun mereka tak bertemu. Sudah hampir 20 tahun jika berdasarkan cerita bibi kepadaku, namun nyatanya mereka masih saling ingat. Waw. Apa seperti itu yang dikatakan rindu ? sayang aku belum bisa menterjemahkannya. Mungkin aku masih butuh pengalaman banyak dari bibi mengenai hal ini. sudahhlah, sepertinya mereka tak mungkin diganggu.

 

Melihat mereka yang tengah berbincang – bincang tak mungkin juga aku akan berda di tengah – tengah mereka kemudian mengganggu waktu – waktu berdua keduanya. Itu tak bagus sama sekali. Tidak mungkin juga. Apa aku mau jadi obat nyamuk yang berada di antara mereka ? lebih baik aku pergi. Ke kebun atau mungkin ke danau di pinggir kota. Aku kan bisa naik sepeda ke sana. Ke keampus yang jaraknya jauh saja aku bisa, kenapa hanya ke danau aku tak bisa ? untuk apa kakiku ini ? HAH ! Rasanya pasti senang sekali kalau aku ke sana. Menikmati hawa yang sejuk sambil melihat angsa berleher panjang berenang – renang di tengah telaga. Ah, saatnya aku mengeluarkan sepedaku. Tapi tunggu, apa ini ? sesuatu aku temukan di meja teras depan rumahmu. Sepertinya itu skateboard. Tapi milik siapa.

 

“AH, Tidak ada yang merawatnya ? kemana pemiliknya ?” pegangku skateboard itu sambil mencari – cari pemilik skateboard itu. Berulang – ulang aku berjalan ke sana – kemari untuk mencari pemiliki skateboard ini tapi tetap saja tak ada jawaban. Hingga seorang lelaki dewasa yang kira – kira umurnya mungkin hanya sedikit lebih tua beberapa tahun dariku pun muncul dari sudut jalan. Aku tak melihat darimana datangnya yang jelas aku tahu dia sudah di belakang semak – semak di sebelah kiriku hingga aku memanggilnya pria semak – semak. Entahlah siapa namanya tapi sepertinya dia berusaha mengambil skateboard yang aku pegang.

 

“Eh, itu punyaku. Sini berikan !” rampasnya tiba – tiba.

 

Siapa dia. Siapa aku. Kenapa dia datang – datang sudah sok akrab dan bersikap seolah kami ini sudah berteman lama. Hei, tuan, jaga sikap bisa tidak ! batinku dari dalam hati dengan emosi yang bersungut – sungut ingin meledak di atas kepalaku. Gara – gara dia aku membuang – buang waktuku yang seharusnya mungkin aku sudah setengah jalan menuju danau. Tapi ini, hingga sekarang aku masih saja di tempat yang sama. Oh, apakah ini akan berlangsung lama. Kalau begitu tunggu apa lagi. Cepat pergi dari hadapanku. Tapi dia justru duduk.

 

“Apa pamanku sudah masih di dalam ?” tunggu – tunggu ! apa ? jadi dia ini keponakan paman Dong Wook ? sungguh berbeda sekali. Paman Dong Wook begitu keren dan cool, tetapi kenapa dia kurang ajar begini. Apa dia dididik dari keluarga preman hingga tingkahnya yang tak mengerti sopan santun itu.

 

“Turunkan kaki,”

 

“Apa ? “ katanya yang mendongak maju setelah sekian ceoat melepaskan headset i-pod dari telinganya. Pantas saja dia tak begitu merespon. Ternyata dia mendengarkan musik sedari tadi. Ah, tapi ada penting apa denganku ! aku mau pergi ya biarkan saja !

 

“Heh ! kau mau kemana ?” tanyanya yang mendadak berdiri sesampaiku di depan pintu gerbang hendak menaiki sepedaku. Mau apa lagi dia ?

 

“Aku ikut !” serunya tiba – tiba. Apa ? dia pasti akan merusak moodku.

 

“Heh ! kau tidak dengar, ya ? tunggu aku, gadis tuli !”

 

“Apa kau tak punya mata ! aku sedang buru – buru ! tidak bisa !” begitu saja jawabku terlontar keras hingga membuatnya sedikit kaget. Apa mungkin aku sudah melakukan hal yang salah atas perlakuannya padaku tadi ? aku rasa tidak. Segera aku melaju dan melaju. Tapi sialnya dia justru mengikutiku dengan skateboardnya. Cepat juga hingga ha,mpir sepatuh jalan. Mendadak dirinya sudah berhenti di sampingku dan begitu saja ambil posisi duduk di kursi sandaran yang berada di bagian belakangku sepedaku. Apa ? apa dia sudah gila ? berat bodoh !

 

Dan ini pun berlangsung hingga aku sampai ke danau. Kakiku rasanya mau copot, sedangkan dia dengan tertawa lepas menikmati indahnya cuaca di danau ini.

 

“ternyata asyik juga pergi ke danau.”

 

“Heehh!!” aku mencibir kesal tanpa sedikit pun memandangnya.

 

“Apa kau sudah terbiasa di sini. Sedang apa kau biasanya kalau kemari ?” tanyanya menoleh ke arahku.

 

“Pikir saja sendiri.” Jawabku ketus.

 

“Kau ini sulit sekali menjawab panjang.” Katanya yang innoucence masih menatapku ceria seperti dia tidak merasa bersalah sama sekali.

 

“Apa kau tidak bisa diam. Sudah carilah tempat di sana sesukamu yang membuatmu nyaman !” kataku dengan nada mengusir.

 

“Tapi aku nyaman di sini,”

 

“APA !” Pekikku.

 

“Aku suka di sini.” Jawabnya mengulang kata – katanya.

 

“HIH! Aku mau sendiri !” tanpa menunggu lama aku pun menyingkir.

 

“Tapi, kau tidak akan meninggalkanku pulang bukan ?” tanyanya khawatir.

 

“Terserah aku,”

 

Kami pun duduk berjauhan. Meski dia orang baru. Aku tak suka gayanya yang lumayan membuatku risih. Astaga, bahkan namanya oun aku masih belum tahu. Sebenarnya siapa dia, ya ? Apa dia memang mengenaliku ? kenapa sepertinya dia pernah mengenalku ? tapi kalau pun memang iya, harusnya tak akan sulit bagiku untuk menyebutkan siapa namanya ? aneh. Ah, biarlah. Aku tak boleh berpikiran yang macam – macam. Harusnya kan aku menikmati hari di danau ini untuk melepas penat bukan untuk memikirkan hal yang sama sekali tak aku perlukan. Hanya membuang – buang tenaga saja.

 

“Hei, nona.. “ Akh! Sial. Aku ketiduran. Apa yang terjadi ? kenapa hari sudah gelap ?

 

“Malam ? ini sudah malam ?” tanyaku yang masih bingung dengan sekelilingku.

 

“Tentu saja. Kita tak mungkin, kan seharian di sini ?” katanya sambil memegang lenganku seakan – akan ingin membantuku berdiri.

 

“Oh, iya.” Meski tak kuat. Aku pun mencoba berdiri. Tapi, lagi – lagi aku terjatuh. Kakiku belum siap untuk aku ajak berdiri secepat ini. aduh. Sakit sekali.

 

“Aduh, kenapa lagi. Sepertinya kau terlalu lelah. Ya sudah, cepat naik.” Apa ? naik ? aku ? digendong dia ?

 

“Berpikir apa lagi ? ayo, naik !” katanya yang sudah berjongkok di depanku dan menyisakan beberapa jarak untuk aku berpegangan padanya.

 

“Tapi aku berat,” kenapa justru ini yang aku katakan ? tololnya aku. Tapi toh aku masih tetap saja naik ke punggungnya.

 

“sepedamu masih sangat jauh dari sini. Nanti aku yang memboncengku saja sampai ke rumahmu.” Katanya di sela – sela langkahnya yang santai namun mantap.

 

“sudah sampai. Ayo, turun.” Katanya yang menurunkanku tepat di samping sepedaku. Dia pun mengambil alih posisinya yang berada di belakang menjadi yang mengemudikan sepedaku. Sepertinya dirinya lumayan kuat. Hingga yang kulihat dirinya seperti tak terbebani bahkan saat mengayuh sepeda memboncengku.

 

“Apa ibumu tak memarahimu pulang semalam ini ?” tanyanya tiba – tiba.

 

“Aku tak punya ibu. Aku hanya punya bibi.”

 

“Oh. Kalau begitu bibimu.”

 

“Dia tak pernah marah. Dia sudah hafal kemana aku pergi setiah harinya. Jadi dia pasti tak akan cemas.”

 

“Oh, begitu.”

 

“Boleh aku tahu berapa umurmu ?”

 

“23 tahun.”

 

“Ehm. Kita hanya selisih 2 tahun. Aku 25.”

 

“Kuliah atau kerja ?”

 

“Kuliah.”

 

“Eoh.”

 

“Apa kau keponakan paman Dong Wook ?” tanyaku ganti. Sepertinya aku mulai bisa menerima keberadaan pria ini.

 

“Iya. Aku sedang liburan. Untuk itu aku menginap di rumahnya. Mungkin lusa aku sudah harus kembali.”

 

“Kembali ?”

 

“Ya. Rumahku di seebrang pantai. Ada di pulau kecil di sudut pulau seberang yang berbatasan dengan pulau ini.”

 

“Pasti melelahkan ya perjalanan kemari ?”

 

“Tidak. Aku terpuaskan sebab mampu melihat bintang dari jarak yang dekat.”

 

“Benarkah ?”

 

“Apa kau tertarik ke sana ?”

 

“Ehmmm ?”

 

“Kenapa ?”

 

“Aku ingin sekali. Sudah lama aku menantikan hal itu. Bisa melihat bintang, bulan,”

 

“Kalau begitu berkunjunglah ke rumahku. Kau akan melihatnya.” Jawabnya singkat namun makin membuatku ingin ke sana. Tapi bisakah ?

 

“Sabtu minggu depan aku aku kembali. Kalau kau mau ikut, aku bisa menjemputmu.”

 

Aku hanya tersenyum mendengar perkataannya barusan. Dia pun membalas senyumku. Sepertinya dia tak begitu buruk.

 

Hingga sabtu datang, aku pun telah bersiap – siap menunggunya dan sudah membereskan barang – barangku. Hanya beberapa potong pakaian dan peralatan jurnal. Untukku dokumentasi pribadi dan aku share ke blog pribadiku nanti. Mungkin aku akan memotret bintang, bulan, dan apa pun objek bagus yang akan aku dapatkan.

 

“Sudah siap ?”

 

“Iya.”

 

Kami pun berangkat. Hingga sampai di rumahnya. Aku pun tak sabar ingin segera menuju ke area pesisir yang disebutkannya tadi. Kami pun segera ke sana, sebab aku yang sudah memaksanya untuk segera menunjukkan diaman lokasi itu. Benar. Banyak hal menarik yang bisa aku potret di sini. Hingga aku pun lelah dan merasa cukup puas dengan semua hasil potretanku dan duduk di pasir putih menghadap ke kameraku.

 

“Apa kau senang ?”

 

“Tentu saja.” Jawabku yang masih melihat hasil gambarku slide demi slide.

 

“Bagus.” Tambahku.

 

“Tapi bagaimana kau bisa tak memanfaatkan tempat ini ?”

 

“Namaku Geun Seok. Kau bisa memanggilku Geun Seok.” Dia mengenalkan dirinya.

 

“Eoh, aku Shin Hye.”

 

“Kau suka dengan malam, Shin Hye ?”

 

“Ya, sebab hanya di malam hari aku bisa melihat bulan,” terangku.

 

“Benarkah ? Bulan juga ada di siang hari,”

 

“Tapi berbeda dengan di malam hari—“

 

“Tak akan sepadan dengan kecantikanmu,” mendadak aku pun menoleh. Memandangi matanya. Ingin mengerti apa maksud dari kata yang diucapkannya.

 

“Saat siang, keindahahannya tak begitu terlihat jelas, bukan ? Seperti aku mulai menyukaimu.” Katanya seiring menyentuh tanganku dan menariknya ke dadanya.

 

“Dengarkan aku. Aku menyukaimu,” katanya yang begitu lancar mengatakan hal itu di depanku.

 

“Aku menyukaimu.” Diulangnya lagi kata – katanya sambil memutar bola matanya tanda dirinya menunggu jawabanku. Dan aku hanya terkesima. Namun aku bisa menerimanya.

 

“Sungguh ?”

 

Dirinya pun mendekatkan wajahnya ke wajahku. Dan mengecup bibirku dalam sekejab. Membuat aku harus berkedip – kedip meyakinkan hal ini bahwa ini hanya ilusi saja. Namun ternyata tidak. Dia bahkan mengulanginya dengan lembut dan membiarkanku bersandar di bahunya setelah itu. Apa ini yang disebut berkencan ? aku bahkan tak pernah sama sekali membayangkannya. Kami berjalan – jalan di sekitar pantai sambil bergandengan tangan, dan sesekali dia mencubit pipiku. Dan mulai usil mencuri – curi pandang untuk melihatku. Dasar, ada – ada saja ulahnya. Jang Geun Seok. Mulai sekarang kunyatakan kau sebagai dewa perantaraku. Hahahaha.. semoga bibi Jin Hee juga tak marah jika tahu keponakannya berhubungan dengan keponakan calon suaminya, siapa lagi kalau bukan Paman Dong Wook. Selagi kami muda, aku rasa kami akan melewati kisah yang bahagia, begitupun seterusnya. Menyenangkan ternyata berjalan – jalan di malam hari di sekitar pesisir. Apalagi dengan dia.. Hihihi..

 

 

END

About shiellafiollyamanda

"Wish my creation can inspire a lot of people, at least around me."
This entry was posted in ONESHOOT and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s