“Reuni Keluarga” A Miracle Invasion{The Creation of 3 Newest Couple} (Lanjutan All The Season) Chapter 12


Realize & Idealize like everything’s useful, meaningful, helpful, playful, and the other things can inspire for each other people entire the world..^^ practice make perfect Sometimes we tend to be in despair when the person we love leaves us, but the truth is, it’s not our loss, but theirs, for they left the only person who couldn’t give up on them.

by ShiElla FiOlly AmAnda on Tuesday, April 17, 2012 at 1:07am ·
                                 
Pagi hari yang begitu cerah ini, seperti biasanya Jean yang sedang mempersiapkan sarapan pagi untuk kedua anak dan suaminya. Jim yang sudah terburu – buru untuk berangkat ke kantornyapun harus terpaksa mau tak mau mencicipi masakan sang istri kalau dirinya tak mau mendapat masalah. Terlambat sedikit tidak apalah. Biarkan saja. Lagipula Jean sendiri juga akan masuk terlambat ke kantornya. Janice dan Joenas juga telah duduk rapi untuk siap menyantap sarapan pagi mereka. Bukan sepotong roti melainkan bubur ayam telah dibuat Jean sejak pukul lima pagi hari itu. Dengan semangat Janice pun merasakan sesuap bubur ayam buatan mommynya itu. Kebiasaan putri kecil Jean itu sejak dulu memang makan bubur ayam di kala pagi. Sedikit berbeda dengan Jonas kakaknya yang lebih suka sepotong roti yang lebih praktis. Jimmy yang bolak – balik berbasa – basi untuk menikmati bubur ayamnya sebab dirinya yang tengah sibuk memikirkan nasib kantornya yang harusnya pagi ini sudah dirinya persiapkan, alhasil hanya bisa menengok ke jam dinding berulang kali mencuri pandang dari sang istri.

   “Aku ada jadwal masuk pagi. Sepertinya aku akan terburu – buru. Aku berangkat duluan, ya, anak – anak, Jean ?” kata Jimmy yang berdiri dari kursi yang menghadap meja makannya.

    “Tapi kan buburmu belum kau habiskan, sayang ?” cegah Jean yang masih melihat bubur Jim baru berkurang setengahnya,

                “Kan aku sudah makan setengahnya. Itu cukup untuk mengisi tenagaku pagi ini. Nanti aku pasti makan bekalmu, tenang saja, sayang. Aku berangkat dulu. Chup,” terang Jimmy sambil mencium puncak ubun – ubun Jeannya.

                “Baiklah. Apa boleh buat ?” Pasrah Jean sambil mengarahkan kedua anaknya itu untuk tetap menghabiskan makannya.

                “Setelah ini, kalian berangkat dengan mom. Janice, kau jangan lupa bawa bekalmu. Joe, kau juga. PR juga sudah kalian kerjakan semalam, bukan ? Ayo, jangan buang – buang waktu. Waktu kita tidak banyak, sayang.” Perintah Jean menyuruh kudua putra putrinya untuk segera bergegas menuju ke sekolah.

                Sesampainya di Junior High School, Joe pun segera turun dari mobil dan mengecup pipi Jean. Dirinya pun segera berlari sebab tampaknya bel sekolah terlah berbunyi tanda pelajaran akan segera dimulai. Dengan terburu – buru dirinya menerobos masuk ke pintu gerbang sekolahnya. Tidak biasanya dirinya terlambat seperti ini. Lain halnya dengan Janice yang selalu datang terlambat. Meskipun masih duduk di taman kanak – kanak, namun Jean memang tergolong anak yang santai dan sedikit manja. Hingga sekarang pun terkadang dirinya masih menginginkan Jean ataupun Jimmy menunggunya di sekolah.

                “Janice, mom ke kantor dulu. Nanti pukul 10:00 pasti mom jemput. Kalau misalkan pukul 10:00 mom belum juga datang, pasti daddy yang akan menjemputmu, ya ! jangan nakal dan jangan cengeng, ya. Mom percaya padamu. Dada, Janice!” Jean pun segera mengemudikan mobilnya menuju ke kantornya. Dan Janice pun segera masuk ke kelasnya. Tampak kelas sudah ditutup berarti tak lain tak bukan dirinya terlambat untuk yang ke sekian kali. Namun ini tak membuatnya takut ataupun kapok.

                Di kelas, Janice pun mendapatkan pelajaran untuk bercerita. Seisi ruangan sengaja dihias dengan berbagai macan kertas origami dengan bentuk berbagai rupa dari binatang, aneka bunga, tata surya, dan juga pita – pita. Teman  – teman Janice pun juga memakai kostum dengan aneka warna. Ada yang memrankan sebagai putri dan ada pula yang memerankan sebagai binatang piaraan mereka masing – masing. Ide ceritanya pun bertema bebas sesuai dengan keinginan mereka. Tiba saat Janice yang maju ke depan kelas dirinya bahkan tak mempersiapkan ide cerita sama sekali. Dirinya bercerita sekenanya saja. Namun, justru itu yang membuat gurunya tertarik untuk mendengarkan cerita Janice.

                “Janice, ibu guru boleh tahu, nama dari tokoh tadi yang kau ceritakan?”

                “Tentu saja, bu guru. Dia itu sepupuku. Aku punya dua sepupu di Amerika. Ada kak Rose dan Ronald.”

                “Apa yang membuatmu ingin menceritakan hal tentang mereka, Janice?”

                “Sebab aku merindukan mereka. Sudah lama kami tidak bertemu. Terakhir kali 2 tahun yang lalu. Aku jadi tak tahu seperti apa mereka sekarang. Tapi yang aku tahu dari foto yang paman dan bibiku kirimkan ke akun daddyku mereka semakan besar dan tinggi.”

                “Baiklah. Ceritamu tadi sangat menarik. Terima kasih, Janice. Kau bisa duduk. Sekarang giliran Ken.”

                Begitu seterusnya penampilan setiap murid – murid taman kanak – kanak Kikawa Minami maju satu per satu secara bergilir. Hingga waktu berakhir pukul 10:00. Tanpa ada istirahat sebab muridnya sudah dibebaskan untuk memakan bekal makanannya masing – masing di sela – sela waktu sebelum penampilannya dimulai. Janice pun yang sudah bersiap menunggu jemputan dari Jean di ayunan samping pintu gerbang masuk sekolahnya. Namun sudah hampir lima belas menit berlalu, Jean belum juga terlihat. Hingga sampai – sampai ibu guru Tomoyo pun datang menghampiri Janice dan menyuruhnya untuk menunggunya di dalam saja. Namun Janice tetap saja bersikeras menunggu kedatangan mommynya itu. Hingga tak berselang lama setelah itu bukan Jean yang datang, melainkan daddynya Jimmy seperti yang dikatakan Jean apabila dirinya tak bisa datang tepat pukul 10:00. Adakah acara spesial hari ini hingga bukan Jean yang menjemputnya. Tak biasanya Jimmy yang menjemput kalau tidak ada cara spesial seperti kedatangan neneknya dua bulan lalu.

                “Kami pamit dulu, ibu guru. Terima kasih telah menjaga Janice. Dia ini sedikit nakal, bu. Mari,” Jimmy pun menundukkan kepalanya ke arah ibu guru Tomoyo. Dan menggandeng Janice menuju ke dalam mobilnya.        

                Di dalam mobil pun tampak Janice yang tengah memegang foto hasil penampilannya tadi saat mendongeng di depan kelas. Dirinya yang tampak senang dengan fotonya itu mencoba memamerkan kebolehannya itu kepada sang ayah.

                “Daddy, coba lihat. Tadi aku bercerita di depan kelas dengan memakai costum snow white. Ibu guru yang mendandaniku. Aku cantik tidak, dad?”

                “Hmm. Tentu saja. Anak daddy mana ada yang jelek?” sambil mengusap kepala Janice Jimmy di sela menegmudinya.

                “Jean hari ini sibuk, ya? Kenapa dia tidak bisa menjemputku, Jim? Harusnya, kan, dia, yang menjemputku pagi ini,” tanya Janice yang mulai cemberut.

                “Iya, maaf, Janice. Hari ini paman bibi dan kakek nenek akan datag. Jadi mom harus menyiapkan pesta kedatangan untuk mereka, sayang. Apa kau mau membantu mommy dan kakak sampai nanti siang?” tanya Jim.

                “Aku mau. Lagipula sudah lama juga aku tidak bertemu dengan kak Rose dan Ronald. Daddy ikut membantu juga, kan?”

                “tentu saja. Baiklah kalau begitu hari ini kita menghias apartement.”

                “asyik.”

                “Anak baik.” Jimmy pun tersenyum dan mengerlingkan matanya ke arash Janice putri kecilnya itu.

Sesampainya di rumah, Janice dan Jimmy pun agaknya tak harus ikut mengerjakan seperti memberi alas di meja makan, mengganti gorden, mengelap kaca, dan memberi hiasan pita – pita di sekitar ruang tamu. Sebab semuanya telah dikerjakan oleh Jean dan sisanya dibantu oleh Joe meski harus naik dengan bantuan tangga itu. Jimmy yang sempat kaget bahkan sedikit menganga melihat hasil kerja sang istri yang sangat cekatan itu. Saatnya dirinya memberi applause untuk ini. Benar – benar kerja yang mengagumkan. Bahkan makanan pun juga telah istrinya siapkan. Tinggal menghiasi lilin saja di meja makan untuk teman hidangan – hidangan yang telah disiapkan Jean itu. Lagipula tak lama lagi semuanya akan datang. Hanya ada waktu sekitar satu jam untuk menanti mereka di rumah. Tanpa harus menjemput mereka semua di bandara. Mereka membawa mobil HongKi berdasarkan pesan yang ditulis HongKi barusan. Dan yang satu lagi tentu saja adalah mobil orang tua angkat Jean. Akhirnya datang juga mereka setelah sekian lama mereka lost contact sebab hubungannya yang kurang baik dengan Jean itu mengenai pernikahannya dengan Jimmy. Namun seiring berjalannya waktu toh, mereka fine – fine saja dengan keadaan ini.

“Tin, Tin !” bunyi suara klakson mobil HongKi yang sudah berada di halaman rumah Jimmy. Jimmy yang mengira mereka yang memang sudah datang, pun tak salah segera keluar rumah. Dan menyambut kedatangan mereka semua dengan suka cita. Tak kalah repotnya dengan Jean yang segera menyelesaikan merapikan kamar ruang tamu dan segera keluar menyambut kedatangan ayah ibu angkatnya, ibu mertua, serta para adik iparnya itu.

“Hai, apa kabar? Lama sekali tak berjumpa. Kalian semua sehat. Ayo masuk. Biar Jimmy yang membawa koper – koper kalian.” Pinta Jean untuk menyuruh semua anggota keluarganya itu masuk ke dalam rumah.

“Apartemen kalian besar juga, ya. Sayang kalau aku pindah ke sini, tapi pekerjaanku di Amerika bagaimana?”

“Ya, pindah tugas juga, saja ?”

“Ah, tapi itu sedikit berbelit – belit dalam mengurusnya.”

“Nampaknya begitu. Seperti saat kami akan pindah kemari. Namun Juni nanti kami juga kembali ke Amerika. Bersamaan dengan lulusnya Janice untuk masuk ke sekolah dasar. Kalau YongHwa bagaimana ? Apa dia juga ingin hidup di sini?”

“Hah, sepertinya tidak. Dirinya lebih nyaman di Korea ujarnya. Namun nyatanya dirinya masih bertahan di Amerika? Apa kau tak ingin berbincang- bincang dulu dengan orang tua angkatmu, Jean ? barangkali kau ingin ngobrol. Cepat temui mereka dengan Jim.” HongKi mengingatkan Jean.

“Iya. Jangan lupa suruh SeoHyun dan EunHye masuk ke kamarnya. Kalau ingin ke mandi. Aku juga sudah menyiapkan air hangatnya.”

“Iya. Tak perlu repot. Kami bisa sendiri, nyonya.”

“Kau itu. Selalu saja masih sama,”

Jean pun menemui orang tua angkatnya. Dirinya seketika berhambur memeluk keduanya yang tengah berbincang – bincang dengan Jimmy. Joenas yang baru saja keluar pun juga memberi salam kepada kakek neneknya itu, tak terkecuali nenek HwaRang yang sedang mengambil kopernya untuk segera dibawa ke kamarnya. Dengan sigap Jonas pun menggantikan membawa koper neneknya itu. Jean pun tak lama setelah itu mempersilahkan mereka semua untuk makan siang bersama. Sebab pasti sangat melelahkan selama di perjalanan menuju kemari dari Amerika. Sambil makan mereka juga ngobrol bertukar cerita satu sama lain, dari HongKi dengan laporan laboratnya, YongHwa dengan managemennya, EunHye dengan komik barunya, SeoHyun yang sedang vacuum untuk mengurus rumah tangganya, juga hobby mereka selama ini. Tak hanya mereka yang dewasa, namun juga sepertinya ini acara untuk anak – anak juga seperti Janice yang begitu senang dengan kedatangan sepupu – sepupunya itu. Bahkan dengan mudah dirinya beradaptasi dengan para sepupunya itu, termasuk mengerti akan bahasa dari para sepupunya. Sebab Janice yang tak terlalu biasa menggunakan bahasa inggris dan juga korea. Selama ini dirinya tak pernah minta diajarkan tentang kedua bahasa itu. Namun dengan bantuan kakaknya Jonas bisa mempermudah dirinya berkomunikasi dengan para sepupunya itu. Dengan kakek neneknya juga mereka pun berinteraksi. Tak jarang mereka menyuruh kakek dan neneknya untuk menirukan gaya gerakan mereka. Nampaknya sudah lama sekali mereka tak berkumpul bersama seperti ini. hingga – hingga mereka harus saling bertanya tentang hal – hal baru satu sama lain. Tak masalah, dengan pertemuan ini maka adalah saat yang tepat untuk mereka semua kembali bercengkrama.
thanks for like and comment

About shiellafiollyamanda

"Wish my creation can inspire a lot of people, at least around me."
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s