“Mencari Pelangi” A Miracle Invasion{The Creation of 3 Newest Couple} Chapter 14


Realize & Idealize like everything’s useful, meaningful, helpful, playful, and the other things can inspire for each other people entire the world..^^ practice make perfect Sometimes we tend to be in despair when the person we love leaves us, but the truth is, it’s not our loss, but theirs, for they left the only person who couldn’t give up on them.

by ShiElla FiOlly AmAnda on Thursday, April 19, 2012 at 5:23pm ·

               
               Musim panas yang sangat terik ini membuat Janice cukup uring – uringan saat ini. pasalnya dirinya yang ingin sekali mengikuti liburan musim panas di SMUnya yang selalu diadakan satu tahun sekali itu. Jean yang mengerti tentang keinginan anak perempuannya itu pun, mau apa. Dirinya berencana untuk memberinya izin, namun Jimmy sang ayah sedang tidak ada di rumah untuk dinas. Mana bisa dirinya memutuskan hal itu sendiri. Kalau Jimmy tahu bahwa dirinya memutuskan sepihak untuk memberi Janicenya ijin, bisa – bisa Jean jadi belut pangganggnya. Maka satu – satunya yang bisa dilakukan Jean hanya memberi Janicenya pengertian selagi Jimmy belum datang. Belum lagi Joe yang belum pulang juga dari Osaka untuk mengikuti reuni anak Kikawa. Terang saja, baru tiga hari dirinya terbang ke sana. Belum lagi dirinya yang harus mempir ke kediaman pamannya yang tidak jauh pula dari tempat reuniannya itu. Mungkin karena ini juga Janice jadi sering marah tak tentu, sebab iri dengan kakaknya yang bisa pergi dengan santai ke Osaka, sedangkan dirinya yang ingin ikut liburan musim panas saja tidak bisa. Mungkin akan berbeda halnya bila ada Joe di sini bersamanya, tentu dirinya setidaknya ada teman untuk diajak bicara, entah sekedar ngobrol atau keluar rumah jalan – jalan.

                “Jean, lalu apa yang boleh aku lakukan untuk mengisi waktu kosongku ?” keluh Janice kepada mommynya itu yag sedang memasak di dapur bersama para pelayannya.

                “Tunggu saja dulu, setelah daddy datang. Mommy akan mencoba membujuknya untuk memperbolehkanmu mengikuti liburan musim panas. Toh, masih ada waktu, kan, hingga minggu depan ?” jawab Jean seraya memotong – motong wortel dan sosisnya.

                “Yakh! Tapi daddy pulan kan tidak tentu. Aku juga hafal sekali dengan sikap daddy. Pasti aku tidak diijinkan?” jawab Janice lesu mengingat Jimmy yang seringkali overprotective kepadanya.

                “Jangan berpikir begiitu. Kita, kan, belum mencobanya sama sekali? Sudah kalau kau bosan kenapa tidak menghubungi kakak? Jalan – jalan, atau pergi berenang dengan kawan – kawanmu?” tawar Jean agar membuat putrinya itu sedikit senang.

                “ck, baiklah. Aku mau bersepeda saja dengan anak Trace. Sambil main ayunan di taman. Siapa tahu bisa menghilangkan rasa bosanku, mom. Ya sudah. Aku pergi dulu. Bye, Jean.” pamit Janice pergi setelah mengecup pipi kiri mommynya itu.              

                “hati – hati, sayang.”

                “Tenang saja!! Aku pasti bisa jaga diri, kogh. Lagipula kan tidak jauh,”

                Joe yang sedang menginap di rumah pamannya itu pun tak bisa banyak membantu. Meski di rumah sang paman tidak ada pembantu, namun paman dan bibinya sendiri mampu menyelesaikan pekerjaan rumahnya dengan baik dan tanpa masalah. Berbeda dengan di rumahnya yang hampir semua dikerjakan dengan bantu tenaga para pelayan ayahnya. Mau makan, tinggal panggil. Joe yang melihat hal ini hanya berdecak kagum melihat paman bibinya yang berjalan kian kemari untuk membereskan pekerjaannya. Di samping rumah mereka juga ada kebun yang ditanami sayur dan ada beberapa buah juga yang ditanam. Joe berpikir bagaimana bisa seorang entertaint seperti paman bibinya ini memiliki waktu untuk mengurusi semua ini. Rose juga, sepertinya dirinya tak pernah terlihat membantu pekerjaan ayah bundanya itu selama Joe tinggal di sana. Lalu apa saja yang Rose kerjakan. Joe yang sungkan pun juga mulai membantu pekerjaan paman bibinya, terkadang dirinya juga ikut mengambil kentang di kebun, dan juga menyirami bunga di depan halaman rumah. Dirinya yang tak pernah membantu daddy mommynya juga terlihat kaku sekali, namun agaknya YongHwa dan SeoHyun mampu memakluminya.             

                “Pasti sulit, ya, untukmu untuk berusaha menyesuaikan diri di sini?”

                “Tak apa, bibi. Lagipula ini juga membuatku belajar untuk menata diri. Setelah aku menikah nanti, kan, tidak mungkin juga aku akan ikut daddy. Mungkin aku juga akan melakukan semua pekerjaan sendiri?”

                “Hm, kau ini. sangat pintar seperti ayah bundamu. Sudah tampan, pintar, pasti kau sudah punya kekasih sekarang. Dimana dia sekarang?”

                “Oh, tidak, bibi. Aku masih belum berani untuk pacaran. Mungkin aku akan berani kalau sudah mulai bekerja.” Jawab Joe tersenyum ke arah bibinya itu.

                “AA.. berarti sudah ada tambatan hati yang kau incar, kan, paling tidak?”

                “He.. dia sahabatku sendiri, bi. Cuma kami sulit sekali bertemu. Dia di sini, sedangkan aku harus kuliah di sana,” jawab Joe berpikir.

                “Itu bukan masalah. Kalian kan bisa saling telepon, mungkin saling berkirim email atau kau sering datang ke sini saja setiap satu semester di sela – sela liburmu?”

                “Hehe.. iya, bi. Oh, ya, biasanya paman pulang pukul berapa?”

                “Hmm. Mungkin sebentar lagi.”

                “Kalau Rose jam berapa dia datang dari les pianonya?”

                “Kira – kira jam lima sore. Kau mau kemana?”

                “boleh aku mengajaknya jalan – jalan, bi, kira – kira paman akan memberi ijin, tidak?” tanya Joe dengan nada polosnya.

                “Ya, tentu saja boleh. Kenapa? Jangan samakan kami seperti ayahmu. Santai saja.”

                “Oh, iyal terima kasih, bibi.” Jonas pun tersenyum ke arah bibinya itu. Dan melanjutkan menyirami bunganya.

                Sedangkan di kediaman Hongki pun sedang repot saat ini. dirinya yang tengah merayakan pesta pernikahannya dengan Yukino alias EunHye itu yang tengah memasuki 17 tahun itu. Hongki yang harus menyiapkan lilin – lilin di di meja makan malamnya nanti dengan EunHye. Dirinya pun sengaja tak memberitahu Ronald agar tak memberitahu EunHye dulu sebagai kejutan. Dia khawatir apabila Ronald diberitahu pasti yang ada akan makin kacau. Sikap Ronald yang cerewet itu, mana mungkin dirinya tak bocor tentang pesta yang akan disiapkan untuk ibundanya itu. Sudah HongKi bayangkan betapa romantisnya nanti malam, seketika EunHye masuk ke rumah sepulang dari kantornya, dia akan menyaksikan rumahnya dalam keadaan gelap dan setelah itu lilin – lilin kecil ini yang akan mengantarkannya menuju sampai meja makan. Hm, akhirnya selesai juga. Semuanya sudah beres. Tinggal menunggu hingga nanti malam saja. Semuanya serba berhiaskan dengan nuansa putih, dari selambu, mawar putih, agaknya tidak buruk.

                Kembali ke kediaman Jean. Sekarang dirinya sudah ditemani Jimmy yang barusaja datang dari kantornya.

                “Hi, sayang, Chup.” Sapa Jimmy sambil mengecup bibir istrinya itu. Sambil ke sekeliling Jean yang tak terlihat sama sekali keberadaan Janicenya.

                “Dimana, Janice?”

                “Oh, dia masih keluar bersama Eric, sambil menunggumu kembali. Katanya dia ingin sekali mengikuti liburan musim panas minggu depan, tapi dia takut kau tak mengijinkan, sayang.” Terang Jean sambil membuka – buka majalah Fashion di hadapannya.

                “Ehm. Sebenarnya aku khawatir. Tapi tak apalah kalau memang dirinya begitu menginginkan untuk liburan. Toh dirinya juga baru saja selesai mengikuti ujian. Sudah dua minggu dirinya menahan diri untuk tidak kemana – mana. Berangkat saja” akhirnya Jim pun menyetujui juga.

                “Ehm. Kau yakin? Baiklah. Janice pasti akan senang sekali mendengarnya.”

                “Ya, jadi kita menunggunya pulang? Baiklah, aku mandi dulu, ya?”

                “Ehm. Oh, ya. hari ini kita juga belum menelepon Joe. Bagaimana dia di rumah YongHwa apa dia membuat ulah di sana?”

                “Mudah – mudahan saja tidak.” Jawab Jimmy seadanya sambil beranjak menuju ke lantai atas untuk mandi.

                Tak lama kemudian Janice pun datang dengan Eric. Betapa senangnya dirinya sehabis bermain – main itu hingga – hingga dia sepertinya lupa dengan pertanyaan soal liburan musim panasnya itu. Jean yang melihatnya bahkan hanya bisa menggeleng – geleng tak percaya. Bagaimana bisa Janice berubah suasana hatinya secepat itu. Megejutkan sekali. Dan tiba – tiba Jimmy yang turun pun menghentikan aktifitas Janice yang sedang bersenda gurau dengan Eric itu. Ditanyanya pada Jim untuk memberinya ijin tentang liburan musim panasnya itu. Ternyata Jean belum memberitahunya, pikir Jim.

                “Daddy, aku boleh tidak ikut liburan musim panas munggu depan? Sekolahku mengadakan acaranya ini untuk merayakan seratus persen kelulusan kakak kelas kami.”

                “Daddy kan sudah mengijinkanmu. Memangnya Jean tak memberitahukanmu?”

                “Hah? Tidak!.. Mommy,  kau jahat sekali?” jawab Janicenya cemberut sambil melihat ke arah mommynya itu yang sedang bersantai di sofanya sambil melihat – lihat majalah kesayangannya itu.

                “Mommy!!! Kau keterlaluan!”

                “Sudah – sudah! Biarkan saja! Yang penting bukankah kau sudah mendapatkan ijin dariku? Minggu depan jadi kau bisa berangkat, kan?”

                “Ck, tentu saja, minggu lalu saja mom sudah melarangku nonton film, masa sekarang daddy harus melarangku lagi untuk ikut liburan?”

                “Ya, sudah, kalau begitu kita bisa berangkat bersama Eric, minggu depan.” Kata Janice yang senang sambil mengatakan kepada Eric yang masih di sampingnya.

                “Eh, Okay. Aku pasti menjemputmu. Siip!” kata Eric mengacungkan jempolnya.

                “Sekalian aku pamit dulu, ya?” Eric pun pamit kepada Janice, Jean, dan Jimmy itu.

                Jimmy pun yang semakin tak mengerti dengan putrinya itu yang sebentar – sebentar marah. Sebentar – sebantar manja. Harusnya dirinya kan senang kau mendapat ijin. Bukannya berterima kasih malah cemberut dan pergi begitu saja masuk ke kamarnya. Sungguh anak yang tak tahu diri. Mungkin karena sering dimanjakan justru dirinya yang tak cepat dewasa pikir Jimmy. Jean juga, dirinya sudah tak heran lagi dengan sikap sang putri tercintanya itu pun hanya mendiamkannya. Jean yakin tak lama lagi pasti Janicenya itu pun akan luluh. Paling – paling kalau dirinya punya keinginan segera merayu daddy mommynya lagi. Sekarang waktu memikirkan Joe. Jimmy dan Jean pun segera menelepon Joe untuk sekedar menanyakan keadaannya dan memastikan bahwa Joe tidak membuat ulah selama di sana. Sekaligus menelepon YongHwa juga, kira – kira kapan mereka akan datang ganti ke rumah Jim lagi. Meski pun Jimmy jarang menjenguk mereka sebab mereka yang memang notabene yang sering bermain ke kediaman Joe. Kalau saja Jimmy bisa ambil cuti dan meninggalkan pekerjaannya meski hanya sebentar, sudah pasti dirinya mengusahakan untuk mengunjungi YongHwa maupun HongKi yang padahal berada tak jauh dari kantor kerjanya. Baiklah, setelah ini mungkin Jim akan bermain ke tempat HongKi.
thanks for like and comment

Link” chapter sebelumnya :
chapter 13
http://www.facebook.com/note.php?note_id=294609507281559
chapter 12
http://www.facebook.com/note.php?note_id=293495520726291
chapter 11
http://www.facebook.com/note.php?note_id=292078190868024
chapter 10
http://www.facebook.com/note.php?note_id=287115371364306
chapter 9
http://www.facebook.com/note.php?note_id=208167559259088
chapter 8
http://www.facebook.com/note.php?note_id=207445125997998
chapter 7
http://www.facebook.com/note.php?note_id=206905069385337
chapter 6
http://www.facebook.com/note.php?note_id=121420431267135
chapter 5
http://www.facebook.com/note.php?note_id=119951061414072
chapter 4
http://www.facebook.com/note.php?note_id=119332204809291
chapter 3
http://www.facebook.com/note.php?note_id=118490421560136
chapter 2
http://www.facebook.com/note.php?note_id=117511411658037
chapter 1
http://www.facebook.com/note.php?note_id=116875588388286

About shiellafiollyamanda

"Wish my creation can inspire a lot of people, at least around me."
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s