“Hari Penuh Karangan Bunga” A Miracle Invasion{The Creation of 3 Newest Couple} Chapter 16 (End Chapter)


Realize & Idealize like everything’s useful, meaningful, helpful, playful, and the other things can inspire for each other people entire the world..^^ practice make perfect Sometimes we tend to be in despair when the person we love leaves us, but the truth is, it’s not our loss, but theirs, for they left the only person who couldn’t give up on them.

by ShiElla FiOlly AmAnda on Friday, April 20, 2012 at 1:16pm ·
                                 
                Jimmy dan Jean yang sedang mengadakan pertemuan dengan sahabat – sahabat lamanya di Korea itu pun sedang asyik berbincang – bincang satu sama lain. Meski ada beberapa orang kawan yang mereka pun terkadang sedikit lupa agaknya tak membuat Jean maupun Jimmy berdiam diri. Mereka pun segera mengajaknya mengobrol banyak hal. Ternyata banyak juga dari sahabat – sahabat mereka yang tak menyangka bahwa mereka ini bisa menjadi sepasang suami istri. Terang saja melihat tingkah laku satu sama lain dari mereka yang acuh dan tak saling perhatian ini pun yang membuat para sahabat – sahabatnya terkesima begitu melihat mereka datang ke acara akhir tahun ini sudah bersama. Tak sedikit juga yang justru terheran – heran melihat mereka yang malah telah memiliki dua orang anak yang sudah mulai beranjak dewasa itu. Hingga – hingga seperti sebuah keseruan begitu saja saat mendengarkan kisah menarik perjalanan cinta keduanya.

                Janice yang tengah sibuk dengan ujiannya juga agaknya tak bisa berkutik kemana – mana meski sekedar untuk jalan – jalan shopping ataupun berenang. Yang ada setiap pagi dan sore dirinya harus belajar extra bahkan terkadang hingga lembur. Jadi terpaksa membuat sedikit kubangan hitam di pinggir kelopak matanya. Janice pun juga tak boleh menerima tamu hari – hari ini, entah itu sahabatnya sendiri, kecuali bila memang ingin belajar bersama. Hari – hari yang penuh kerja keras bagi Janice. Ruangan belajarnya pun hingga dipenuhi dengan poster – poster group band kesayangannya B’Z yang bertuliskan ganbatte itu. Di luaran sana daddy mommynya pergi ke bersenang – senang. Kakaknya juga, yang pastinya sedang berduaan dengan kekasihnya itu. Mana tahan Janice dengan keadaan ini. namun andasaja bukan demi masa depannya sudah jauh – jauh hari dirinya keluar rumah.

                Rose pun sedang mengisi acara di sebuah kontes piano. Dirinya yang mulai piawai memainkan piano dengan jari – jemari lentiknya itu pun sukses membawanya hingga ke konser tunggal mancanegara. Hingga sampai pada acara sekarang ini dimana dirinya mewakili negaranya untuk yang kedua kali di Tokyo Dome. Tak banyak dari keluarganya yang bisa hadir, seperti Joe dan Janice yang terpaksa tak bisa menghadiri pentasnya tersebut, namun mereka menyempatkan menontonnya langsung lewat internet. Meski hanya Ronald satu – satunya sepupunya yang hadir, namun ini tak menyurutkan semangatnya untuk menghibur semua penonton yang ada di sana. Dalam satu panggung pun Rose berkesempatan untuk duet bersama aktris senior yang bermain dalam j-drama Nodame Ueno Juri. Tentu ini semakin membuatnya senang. Orang mana yang tak senang bersanding dengan idolanya. Sudah lama Rose mengidolakan wanita muda berbakat ini.

                 Berbeda dengan Jim, Janice, dan Rose, maka berbeda pula dengan Ronald. Selain dirinya yang kini tengah mengasah kebolehannya dalam hal bermain biola. Dirinya yang mulai tertarik dengan alat musik ini semenjak dirinya diajak sang ayah Hongki menghadiri sebuah orkestra kenamaan di Beverly awal tahun lalu. Dirinya mulai ingin tahu bagaimana menggunakana alat ini dan alhasil dirinya pun mempelajarinya di sebuah universitas seni terbesar di Inggris. Meski pun biaya yang harus dirinya keluarkan besar, namun dirinya tak keberatan untuk tetap mendalami alat musik gesek ini. hingga dirinya dipertemukan dengan seorang gadis London yang bernama Key Lynch itu. Ronald bahkan sudah memperkenalkan Lynch ini kepada kedua orang tua serta sepupu – sepunya tak terkecuali juga paman bibinya. Nampaknya semua juga setuju dengan hubungan mereka. Beruntung sekali Ronald.

                Joe saja yang masih diserang gundah gulana sebab dirinya yang sedang berpikir untuk segera melamar kekasih hatinya yang sudah 4 tahun menjalin hubungan bersamanya itu. Dirinya yang berterus terang dengan daddynya pun tampaknya juga mendapatkan rambu – rambu hijau oleh daddynya itu. Kalau secara umur mungkin memang mereka masih terlalu muda dibandingkan dengan daddynya yang tergolong masih muda menikah di usia dua puluh tujuh tahun, sedangkan dirinya sekarang yang masih berusia dua puluh empat tahun. Yang daddynya khawatirkan hanya apa benar dirinya sudah siap dengan tugas – tugas dan tanggung jawab berat yang akan dibebankan padanya setelah menikah? Namun agaknya Joe pun telah memikirkan matang – matang hal ini. Jean pun juga memberinya  nasehat untuk membicarakan hal ini terlebih dahulu dengan Kikorinya, jangan sampai semuanya sudah hampir tujuh puluh persen siap namun mendadap justru hambatan berasal dari Kikori. Joe pun menuruti saja dengan apa kata Jean mommynya itu.

                “Jean, apa kau merasa yakin dengan apa yang Joe bicarakan?” Jimmy pun mulai menanyakan Jean tentang keputusan putranya itu.

                “Kalau dia sanggup, kita mau apa?” jawab Jean pasrah namun seperti memberi persetujuan.

                “Tandanya kau setuju?” tanya Jimmy sambil menautkan alisnya.

                “Sepertinya?” Jean pun justru berbalik bertanya.

                “Ehm, baru saja dia bekerja. Usia kedewasaannya itu masih seumur jagung. Haruskah aku memberinya ijin begitu saja. Apa itu tidak terlalu terburu – buru?” Jimmy pun sedikit bergumam.

                “Bukankah ayahmu dulu juga begitu menginginkanmu menikah di usia muda?” Jean pun justru semakin mendesak Jimmy dengan kembali mengingatkannya dengan ceritanya dulu.

                “Tapi, ini kan sudah berbeda sekarang ceritanya. Ayahku itu sakit, sehingga dirinya tak ingin melewatkan melihat aku bahagia terlebih dahulu sebelum dirinya meninggal.” Bela Jimmy mati – matian.

                “Ya, sudah. Lalu kau mau menghalanginya?” tanya Jean seperti hendak menyerang Jimmy.

                “Jangan melotot begitu. Aku ini, kan, hanya sedang berpikir. Bagaimana seandainya lamaran Joe itu ditunda hingga setidaknya sampai dia benar – benar sudah mantap bekerja?”

                “Hmm. Ya itu maumu. Berbeda dengan anak kita.”

                “Ya sudah, aku ikut denganmu saja.” Jimmy pun akhirnya menuruti saja dengan pilihan Jean.

Janice pun sudah mulai bisa bersantai sebab dua minggu ini dirinya yang sedang dikejar untuk mengikuti ujian kuliahnya itu. Janice juga tanpa sengaja menguping tentang pembicaraan daddy mommynya soal kakaknya Joe yang hendak melamar kekasihnya menuju ke pelaminan itu. Janice yang mendengarnya pun tak lekas memastikannya terlebi dahulu kepada daddy mommynya apa benar yang barusan dirinya dengar itu, namun justru bertanya langsung kepada sang kakak Joe yang tengah sibuk dengan ujian laboratnya. Janice pun yang tak kalah penasaran berusaha mengorek lebih dalam tentang keputusan kakaknya ini.            

                “Apa kakak yakin berencana menikah muda dengan kak Kikori? Lalu apa setelah menikah kakak pindah ke Jepang tidak tinggal di rumah ini lagi? Apa setelah menikah kakak akan sering – sering mengnjungiku di sini?” tanya Janice beruntut seperti ketakukan segera kehilangan kakaknya yang biasa menjadi tempat dirinya bergantung selain mom dan daddynya itu.       

                “Heh. Apa yang kau pikirkan? Aku saja belum mendapatkan jawaban dari Kikori kenapa kau sudah memikirkan sejauh itu?” jawab Joe sebal sambil menampar ujung topi Janice.

                “Yakh, kakak. Memangnya tidak boleh apa aku bertanya begitu. Aku kan takut kakak diambil kak Kikori.”

                “Apa maksudmu? Mau diapa – apakan kau ini tetap adikku yang bawel.” Jawab Joe sambil memonyongkan bibirnya seraya berlari menghindar takut – takut dipukul oleh Janice.

                “Kakak! Awas kau, ya!” Kejar Janice.

                “Kejar saja kalau bisa!”

                “Siapa bilang tidak bisa!” Janice pun tetap mengejarnya hingga keluar halaman.

                Jean dan Jimmy yang melihat tingkah laku kedua putra putrinya ini pun hanya bisa menggeleng – geleng tak karuan. Dipikirnya tak terasa mereka telah membesarkan mereka berdua ini sedemikian cepat. Hingga Janice yang telah hampir memasuki perkuliahan dan Joe yang segera menikah ini. ini tandanya dirinya juga haru sbersiap sedia untuk melepas Joe cepat atau lambat. Memperlakukannya sebagai anak dewasa tidak seperti sebelum – sebelumnya dimana Joe dan Janice yang masih seringkali bermanja – manja dengan dirinya itu. Berbeda pula dengan Jimmy yang justru semakin sering untuk meluangkan waktunya kepada Joe ini sebab tak lama lagi Joe juga akan berkeluarga. Tak jarang Jimmy juga bertukar cerita – cerita menarik seputar perjalanannya selama berumah tangga. Meski tak mudah namun itu sedikit membantu Joe mendapatkan sedikit bayangan sebelum dirinya meraskan sendiri bagaimana liku – likunya setelah dirinya benar – benar menjadi seorang suami. Joe juga agaknya senang – senang saja dengan apa yang dia dapat dari sang daddy.

                “Bagaimana jawaban Kikori ?” tanya Jimmy tentang kemajuan rencana lamaran putranya itu.

                “Dia menyerahkannya kepadaku.”

                “Seperti apa raut mukanya saat kau membicarakan hal ini dengannya?”

                “Sepertinya dia tampak biasa saja, dad. Tidak sedih, tidak juga bergembira.” Jawab Joe berusaha mengingat – ingat peristiwa sore kemarin.

                “Masa biasa saja? Apa ada yang dia sembunyikan denganmu?” Jimmy pun makin memperdalam pertanyaannya.              

                “Ah, sepertinya tidak ada. Justru bagus kalau dia tidak kaget.”

                “Benar juga. Tapi tak sepert itu juga. Setidaknya dia terlihat senang mendengarnya.” Jimmy pun menimpali.

                “Tenanglah, dad. Aku sudah hafal dengan dirinya. Dia itu cool. Hampir – hampir aku tak mengenali eksperinya.” Joe menambahi.

                “Ehm. Baiklah, aku percayakan padamu. Kalau kau butuh bantuan, kau tinggal hubungi daddy. Daddy ke dalam dulu, ya? Kau tidak ingin tidur?” Jimmy pun masuk ke dalam rumah setelah cukup lama mereka ngobrol di teras depan rumahnya itu.

                “Tidak. Aku masih ingin di luar. Sebentar lagi aku ke dalam. Daddy tidur saja lebih dulu.” Joe pun masih tinggal di teras. Dirinya justru seperti sedang berpikir mengenai kelanjutan kisah cintanya dengan Kikori itu. Sekarang semuanya sudah hampir sembilan puluh persen siap. Tinggal menunggu beberapa bulan lagi dirinya akan segera melangsungkan pernikahan yang dia harapkan akan cukup sekali saja dalam hidupnya itu. Seperti sang daddy mommynya yang bertahan hingga seperti sekarang ini. sudah banyak cerita perjalanan cinta yang dirinya saksikan, dan hampir kesemuanya berujung bahagia. Paman bibinya pun juga seperti itu. Semuanya hampir tak pernah ada kecekcokan meski kadangkala wajar hanya masalah kecil dan masih sanggup untuk diselesaikan secara bersama.

                “Hmm.. tak ku sangka akan secepat ini putra kita akan segera menikah. Dulu kita yang menikah, namun sekarang sudah berganti generasi.” Ucap Jimmy tersenyum sambil menyandarkan tubuhnya ke kasurnya di samping Jean.

                “Iya. Waktu berlalu begitu cepat. Paling juga Ronald akan segera menyusul setelah ini.”

                “Benar. Dan semuanya akan baik – baik saja. Padahal saat Joe masih kecil pernah kita berpikir untuk menunangkannya dengan Rose keponakan kita, namun sekarang sudah berbeda lagi ceritanya.”

                “Itu sudah cerita dulu. Mana mungkin masih sama dengan keadaan sekarang.” Jawab Jean yang masih membelakangi Jimmy di sampingnya.

                “Tapi apa sejauh ini kau bahagia?”

                “mana mungkin aku tidak bahagia, ha? Selama itu hidup denganmu.” Jean pun membalik badannya menghadao Jim.

                “Terima kasih, Jean.” Jimmy pun mengecup kening Jean dan memeluknya hingga tertidur.

Link” chapter sebelumnya :
chapter 15
http://www.facebook.com/note.php?note_id=295744940501349
chapter 14
http://www.facebook.com/note.php?note_id=295669763842200
chapter 13
http://www.facebook.com/note.php?note_id=294609507281559
chapter 12
http://www.facebook.com/note.php?note_id=293495520726291
chapter 11
http://www.facebook.com/note.php?note_id=292078190868024
chapter 10
http://www.facebook.com/note.php?note_id=287115371364306
chapter 9
http://www.facebook.com/note.php?note_id=208167559259088
chapter 8
http://www.facebook.com/note.php?note_id=207445125997998
chapter 7
http://www.facebook.com/note.php?note_id=206905069385337
chapter 6
http://www.facebook.com/note.php?note_id=121420431267135
chapter 5
http://www.facebook.com/note.php?note_id=119951061414072
chapter 4
http://www.facebook.com/note.php?note_id=119332204809291
chapter 3
http://www.facebook.com/note.php?note_id=118490421560136
chapter 2
http://www.facebook.com/note.php?note_id=117511411658037
chapter 1
http://www.facebook.com/note.php?note_id=116875588388286
 
thank for like and comment

About shiellafiollyamanda

"Wish my creation can inspire a lot of people, at least around me."
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s