# Tanggapan yang Buruk %@ A Miracle Invasion{The Creation of 3 Newest Couple} $(Lanjutan All The Season) chapter8


Realize & Idealize like everything’s useful, meaningful, helpful, playful, and the other things can inspire for each other people entire the world..^^ practice make perfect Sometimes we tend to be in despair when the person we love leaves us, but the truth is, it’s not our loss, but theirs, for they left the only person who couldn’t give up on them.

by ShiElla FiOlly AmAnda on Sunday, November 27, 2011 at 11:30pm ·
#Pukul 05:30 Pagi, Masih dalam Furui Inn and Resort.. Furui Apartment, 5D, Lantai 5, Kamar 406~
                Jean dan Jimmy telah bangun pagi. Meski tak sepagi biasanya namun hari ini akan lebih sibuk dibandingkan pada hari – hari biasanya. Apalagi kalau bukan tentang hari kerja pertama Jean setelah lama dirinya tak bekerja, lagipula usianya kandungannya belum terlalu tua dan perutnya pun juga belum terlihat membesar sama sekali. Jadi untuk itulah dirinya dengan yakin akan mulai melakukan aktifitasnya kembali. Dimulai dari membangunkan Jimmy yang tentu hampir setiap hari berangkat ke rumah sakit, menyiapkan pakaian sang suami juga sang buah hati yang tengah bersekolah di sekolah dasar tingkat satu itu. Semenjak pindah ke Jepang, ya, setelah pulang dari Belize dan berlibur ke Paris ini memang dirinya memang berniat kemari tanpa membawa serta para asisten pribadi mereka. Selain alasan Jean ingin belajar menjadi seorang ibu rumah tangga yang baik, tentunya pula dirinya memang ini lebih dekat dengan sang buah hati. Biasanya bisa ditebak bahwasanya Joe lebih banyak menghabisakan waktunya dengan para asisten pribadinya, seperti Cherry, Anna, Jane, dan lainnya sehingga banyak waktu yang terbuang untuk sekedar menghabiskan waktu bersama. Mungkin dengan begini dirinya akan lebih banyak waktu sehingga dirinya bisa lebih akrab lagi dengan sang buah hati, Staenbee Jonas.
Jimmy pun dengan mudah terbangun. Mencium bau aroma kopi hangat yang telah dibuatkan oleh sang istri tercinta membuatnya lebih cepat terjaga. Baru kali ini dia merasa diperhatikan secara lebih. Hahaha. Biasanya selama kaki Jean masih lumpuh, dirinya yang selalu ada untuk meladeni Jean. Tapi tak apalah, toh, dirinya juga yang melakukannya dengan ikhlas dan sukarela.
“Sayang, bangun. Ini secangkir kopi hangat. Aku yang barusan membuatkannya. Bukankah kau harus berangkat pagi hari ini ?” dengan satu jentikan saja di bahu Jimmy, Jean sudah bisa membuat Jimmynya terbangun. Tanpa kaget. Sedikit bingung, namun senang juga. Lama tak merasakan suasana sehangat ini.
“Kau sudah bangun ? Ada apa gerangan kau membuatkan aku kopi ? Jangan coba – coba merayuku, ya ?” Jean pun membalasnya dengan tersenyum sambil diimbangi dengan sedikit gelengan di kepalanya wanita.
“Hmmm.. Kau ini ! Memangnya aku istri yang sejahat itu, apa ? Hanya memperlakukan suami dengan baik di saat aku ada keperluan saja ?”
“Lalu ?”
“Tidak, Hanya hari ini aku akan mulai kembali bekerja lagi, kan. Seingatku aku lupa memberitahukannya padamu. Jadi, iya, pantas saja kau tak mengerti akan hal ini. Aku minta maaf, ya, lupa memberitahumu ?”
“Hemm.. Okay. Baiklah. Aku pasti mengijinkan, asalkan sebagai syaratnya kau tak boleh terlalu capai saat bekerja. Ingat akan kesehatan dan kehamilanmu. Kau mengerti, Jean ?”
“Tenang, saja, suamiku.. !” Jean tersenyum meyakinkan.
“Aku pegang kata – katamu, wanitaku.. ” Jimmy pun menyanggupinya.
 #30 menit kemudian di Meja Makan untuk Sarapan Pagi~
                “Jean.. ! Kau sudah mandikan Joe, sayang ? Aku takut dia terlambat ! Hari ini dia akan ada upacara pagi, bukan ?” teriak Jimmy dari kamarnya di lantai atas. Dirinya sembari merapikan dasinya yang masih belum terangkai melingkar di kerah kemejanya. Jean yang mengetahui Jim melihatnya kerepotan dari balik pintu pun langsung masuk dan membantunya memasangkan dasi suaminya itu. 
“Tenang saja, sudah beres. Joe tinggal memakan seragamnya saja, kogh. Kau tak perlu secemas itu. Meski masih kecil tapi dirinya selalu bangun tepat waktu menurutku. Bukankah begitu ?” Jimmy pun yang mendengarkan jawaban dari Jeannya mulai menyinggungkan senyumnya pertanda dirinya puas akan hal itu.
“Kapan perutmu membesar ? Aku sudah tak sabar ingin melihat sang calon putriku”.
“Hei ! Tentu masih lama, apa kau lupa ini belum ada satu bulan dari selang waktu kehamilanku ? Kau ini. Tapi aku senang. Aku akan menjadi seorang ibu kembali. Aku ingin segera menikmati masa – masa itu. Bagaimana kau bisa tahu kalau bayi ini berjenis kelamin perempuan ?” tanya Jean sambil mencolek pinggang Jimmy manja.
“Sebab makin hari kau semakin tampak cantik saja…” Jimmy menggoda.
“Akh, rayuan kampungan !”
“Hahaha.. bukan, Aku hanya menebak – nebak saja. Mungkin bayi ini perempuan. Sebab kita sudah punya Joe, akan lebih lengkap lagi kalau anak kita yang kedua perempuan, bukan ? Itu pun bila Tuhan mengijinkan”. Terang Jim.
“Hemm.. iya, baiklah. Lagipula aku juga menginginkan kehadiran seorang bayi perempuan. Baiklah.. Sudah selesai. Lihat kalau sekarang sudah lebih rapi, bukan ? daripada sebelumnya ? Kau ini, mengenakan dasi saja tidak bisa ! Bagaimana kalau pasienmu tahu ? Imagemu bisa menurun drastis di hadapan mereka.. Hihihi !”
“Kau mengejekku, ya ? Awas kau, ya?”
“Ah, sudahlah.. Ayo kita turun. Sarapannya sudah siap. Nanti keburu dingin.”
“Baiklah. Ayo !” jawab Jimmy sambil menggandeng tangan istrinya itu lembut.
 ^Sesampainya di Meja Makan^
                Jean dan Jimmy pun sudah tiba di meja ruang makan. Diambilnya salah satu kursi yang mengitari meja makan yang panjang itu, dan dengan hanya 2 kali gerakan menarik dan mendudukinya saja mereka berdua sudah menduduki kursi tersebut dengan rapi. Joe yang heran melihat Jean yang tak biasa terlihat serapi itu. Dirinya tentunya juga belum mengetahui kalau mommynya kali ini akan kembali berkerja, sama seperti halnya sang ayah yang terlambar mengetahuinya sebab Jean yang sempat lupa untuk memberitahukannya. Tapi bukan Joe kalau tak segera bertanya. Lebih tepatnya seperti mengintrogasi saja.
                “Jean, tumben sekali, pagi ini kau sudah berpakaian rapi. Memangnya kau ingin pergi kemana ? Boleh aku ikut ?” Joe pun mulai menyelidik.
 Jimmy yang melihat sang anak yang tak segera mengambil makan justru bertanya tentang pakaian yang dikenakan Jean pun harus terpaksa mengingatkan Joe segera mengambil makanan agar dirinya tak terlambat datang ke sekolah. Sebab lumayan jauh juga jarak antara sekolah dengan apartemennya itu. Sekolah Dasar Kikawa Minami tempat Joe bersekolah memang agaknya lumayan jauh bila ditempuh dengan berkendaraan. Bisa memakan waktu sampai 30 menit dari apartemen mereka di Sakura Real Estate.
“Joe, sudahlah. Cepat kau makan, nanti Daddy bisa terlambat mengantarmu.”
“Memangnya kenapa ? Joe, kan, hanya ingin bertanya ? Masa begitu saja tidak boleh. Daddy pelit sekali !” protest Joe dengan polosnya.
“Aduh! Sudahlah tak apa, Joe. Hari ini Mom mulai kembali bekerja. Mom akan ditugaskan di Haneda Airport. Tapi tenang saja. Mom tak akan lupa untuk menjemputmu. Sepulang sekolah kau juga boleh ikut denganku, asal kau tak boleh nakal, Okay ?”
“Oh, ya ? Benarkah ? Apa kau merasa senang Jean bisa kembali bekerja ?” tanya Joe lagi.
“Tentu saja. Kau bisa melihat ekspresi di raut wajahku, bukan, Joe ? Sudah. Sekarang, ayo, makan ! Ini,” Jean pun mulai meletakkan nasi di piring Joe. Tak lupa pula dirinya dilengkapi denga telur mata sapi kesukaan Joe juga segelas susu putih cair. Joe pun mulai melahapnya dengan perlahan. Dia sudah pintar sekarang, tanpa perlu diawasi makanan yang dia makan sudah tak pernah ada yang tumpah dan jatuh ke pakaian seragamnya. Anak yang pintar.
                “Oh, iya, Jean. Boleh aku minta disuapi olehmu lagi ?” pinta Joe untuk kedua kalinya setelah sore hari yang lalu.
“Ka mau aku suapi ? Kenapa memangnya tidak ingin makan sendiri ? Kata Joe bukankah pernah bilang kalau sudah besar. Masa masih ingin disuapi ? Tak malu dengan teman – teman di sekolah Joe  nanti ?” tanya Jean yang berusaha mengingatkan Joe. Tapi karena Joe entah apa yang membuatnya menjadi makin manja akhir – akhir in pun, dirinya tetap bersi keras ingin disuapi oleh momnya itu. Malah lebih parahnya lagi dirinya kembali ingin duduk dalam pangkuan Jean. Sungguh menggelikan.
“Aku juga ingin pangku lagi, ya ?”
“Apa ?” tanya Jean dengan nada yang sedikit kebingungan melihat anaknya yang semakin meminta dengan serbuannya.
“Tidak ! Tidak ! Tidak boleh ! Joe kau tidak boleh nakal !” Tiba – tiba Jimmy pun menyergah kelakuan Joe yang dipikirnya sudah melewati batas nakal itu. Jimmy begitu mengkhawatirkan keadaan janin yang tengah dikandung oleh Jeannya yang masih lemah. Maka dari itu segeralah dirinya beritahukan saja sekalian tentang kabar mengenai Joe yang akan memiliki seorang adik. Pasti Joe akan semakin mengerti di dalam benaknya.
                “Joe, kau ini akan memiliki seorang adik sekarang. Jadi Daddy mohon jangan perlakukan Jean seperti itu, iya ? Kau bisa mengerti sekarang. Jean sedang mengandung adikmu sekarang ini. Ayo, beri ucapan selamat kepadanya !” perintah Jimmy lembut kepada Joe.
Namun apa yang didapati Jimmy justru keadaan yang sebaliknya. Joe nampak begitu tak suka dengan apa yang didengarnya. Mungkin dalam pikirannya sekarang dirinya akan segera mendapatkan pesaing baru dalam keluarganya. Reaksinya memperlihatkan kalau dirinya begitu tak suka dengan hal ini.
                “Apa ? Jadi Jean hamil ? Aku tidak suka. Aku jadi tak bernafsu untuk makan sekarang. Aku tak mau masuk ke sekolah !” Jean dan Jimmy yang mendengarnya pun merasa kaget. Mengapa Joe yang biasanya terlihat sebagai anak yang manja dan begitu sopan serta menyenangkan medadak berubah secara drastis. Ataukah dirinya yang juga sedikit shock mendengar hal ini seperti awalnya Jean yang merasa sedikit aneh dan was – was yang menjadikannya tidak menerima baik kabar ini ? semoga ini hanya sementara saja. Sebab Jim dan Jean tentunya tak ingin melihat hal ini terjadi terus menerus hingga Joe, sang buah hatinya tak dapat diatur.
“Tapi, Joe ! Ada apa denganmu, sayang ? Bukankah seharusnya kau senang kalau kau ingin memiliki seorang adik, ha ? Bukankah begitu ?”
“Apa kau juga lupa bahwa dahulu kau yang meminta ingin segera memiliki adik ?” tanya Jimmy yang segera mengejar Joe dengan mengikuti langkahnya yang kembali berlari menuju kamarnya.
“Joe ! Joe ! Lalu bagaimana dengan sekolahmu hari ini bila kau membolos, sayang ?” Jean pun ikut berteriak ke arah Joe yang keburu menaiki tangga menuju ke kamarnya.
“Sudahlah, Biarkan dahulu. Biar aku yang membujuknya !” Jimmy pun membalas.
“Hmm” balas Jean yang sembari mengangguk mendapati suaminya yang tengah berusaha untuk membujuk Joe untuk mengertikan keadaannya. Semoga Joe tak sungguh – sungguh dengan ucapannya itu.

thank for like and comment

About shiellafiollyamanda

"Wish my creation can inspire a lot of people, at least around me."
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s