# Tak Ingin Disaingi %@ A Miracle Invasion{The Creation of 3 Newest Couple} $(Lanjutan All The Season) chapter7


Realize & Idealize like everything’s useful, meaningful, helpful, playful, and the other things can inspire for each other people entire the world..^^ practice make perfect Sometimes we tend to be in despair when the person we love leaves us, but the truth is, it’s not our loss, but theirs, for they left the only person who couldn’t give up on them.

by ShiElla FiOlly AmAnda on Saturday, November 26, 2011 at 10:05pm 
·
#Dalam perjalanan pulang dari Osaka Central Hospital (Osaka Chuo Byoin) 8-2 Sonezaki 2-chomme,,,, 09:0 pagi~

Apa entah yang tengah dipikirkan oleh dirinya wanita. Jean yang sedari tadi hanya mampu memandangi langit – langit di atap mobilnya tanpa henti. Mungkin sedikit kalut atau memang dirinya tengah shock mengahdapi kabar bahwa diriya wanita mengandung lagi untuk yang kedua kali. Bukan apa – apa. Masalahnya dirinya wanita yang merasa sudah tak sewajarnya ini dialami di usianya yang sekarang menurut pendapatnya pribadi itu sudah terbilang tua. Pasadal usianya baru saja bertambah 31 itu pun di bulan Februari lalu. Kalau sekarang seharusnya bukan itu lagi yang dirinya wanita khawatirkan. Melainkan bersyukur sebab dirinya wanita akan dikaruniai seorang buah hati kembali. Sesuai dengan keinginan Jimmy, sang suami tercinta begitu juga dengan sang Jonas, anak laki – laki semata wayangnya.

Tapi sungguh aneh benar – benar,, hingga di menit ke 15 pun dirinya wanita masih juga belum tersadar. Pandangan matanya masih kosong dan nanar memandang ke luar sekarang. Dari balik jendela kaca di mobil depannya. Bahkan ampai – sampai Jimmy yang masih menyetir pun tak enak hati untuk sekedar melayangkan pertanyaan demi mengajaknya untuk ngobrol ringan. Dipikiran Jimmy pun sama, tampaknya dari raut wajah sang istri dirinya sedang tak enak mendengar kabar dirinya yang tengah mengandung lagi itu. Justru itu yang membuat dirinya merasa menyesal dan agak bersalah. Berulang kali Jimmy menoleh ke arah Jean yang tengah berada di sampingnya, namun lagi – lagi Jean hanya melamun. Tanpa respon. Seperti seolah – olah dirinya wanita hanya hidup seorang diri, duduk pun seorang diri di sana tiada yang lain. Sebab semenjak tadi sepertinya terkesan Jimmy yang tak dianggap. Ayolah, kalian harusnya sekarang itu adalah waktu untuk bersuka cita, bukan ? Bukan malah untuk merenungi yang tidak seharusnya kalian pikirkan.

#Pukul 10:40 Pagi, Kembali ke Furui Inn and Resort.. Furui Apartment, 5D, Lantai 5, Kamar 406~

Jean yang sampai sekarang ke luar dari mobil pun masih tak berkutik. Jimmy yang telah membukakan pintu mobil pun juga tak habis pikir dengan sikap pendiamnya yang kembali muncul setelah beberapa saat lalu mulai menghilang. Mungkinkah ada yang sedang mengganjal di pikrannya. Namun kali ini Jimmy pun hanya segera membantunya keluar perlahan dengan sedikit memegangi pagian pinggang Jean, istrinya. Namun tetap saja Jean tak mengatakan sepatah kata apa pun. Di tangga pun dirinya wanita juga masih belum ingin berbicara. Namun kali ini Jimmy yang mulai tak tahan dengan tingkahnya wanita pun mulai mengintrogasinya dengan serbuan pertanyaan. Tepat di depan kamar dirina memberanikan diri, “Jean, apa kau tak bahagia saat ini ?” “Apa kau tak bahagia mendengar berita kehamilanmu ?”  “Apa kau justru merasa menyasal karena kau hamil yang mungkin di saat yang tak tepat menurutmu atau ada hal lain yang ingin kau katakan kepadaku mungkin ?” Bertubi – tubi Jimmy pun melontarkan pertanyaan yang semakin menyudutkan Jean. Namun dengan cepat Jean pun hanya menutup pintu masuk menuju kamarnya, tanpa mengindahkan Jimmy yang sedang menunggu jawaban yang keluar dari mulutnya. Sebenarnya bukan itu pula yang ingin dilakukan Jean. Dirinya wanita tak bermaksud untuk melukai perasaan suaminya itu dengan hanya diam dan membungkan mulutnya kembali seperti ini. Namun dirinya wanita sungguh sangat lelah hingga saat ini. Sepertinya dirinya wanita sedang tak ingin diganggu dengan masalah apapun. Dirinya hanya butuh waktu untuk menenangkan dirinya sejenak. Mungkin dengan begitu dirinya bisa sedikit lebih baik dan kembali normal seperti sedia kala.

^3 Jam kemudian di Meja Makan Keluarga ^

Jonas yang tengah duduk rapi setelah mandi. Begitu pun sang ayah, Jimmy juga yang kebetulan tidak masuk kerja di rumah sakit, sebab yang telah kita ketahui kejadian tadi pagi yang membuatnya harus cuti hari ini, mengunjugi rumah sakit atas usulan sang sahabat setia, Benn yang tengah melaporkan bahwa hari ini dirinya yang harus segera ke rumah sakit sebab ada hal penting yang akan dirinya katakan. Dan ternyataitu mengenai kehamilan sang istri Jean. Jimmy yang kali ini benar – benar merasa senang. Sebab dirinya yang memiliki cita – cita tentang sebuah keluarga yang harmonis dan sempurna dengan dua orang anak laki – laki dan perempuan yang menemani di kehidupan mereka hingga tua usia. Namun itulah tadi masalahnya, hingga sekarang dirinya masih belum mengetahui bagaimana sebenarnya keinginan hati sang istri. Dirinya hanya berharap kalau Jean juga mau menerima kehamilannya yang kedua ini.

Jean yang baru saja tiba di meja makan, langsung begitu saja masuk dan duduk masih tanpa berkata – kata. Tetap diam, namun karena Joe saja yang sedang ingin dimanja, makanya Jean mau meladeninya. Mungkin kalau Jimmy yang mengajaknya berbicara terlebih dulu, mungkin Jean juga masih tetap diam. Beruntung Joe belum mengetahui status kehamilan Jean, ibunya. Bagaimana kalau mendadak dirinya yang masih kecil tahu. Iya bagus bila dirinya suka mendengar kabar ini. Tapi bagaimana bila sebaliknya ? Seperti dirinya yang mungkin belum siap memiliki seorang adik. Meski beberapa tempo waktu lalu dirinya pernah sempat menanyakan kapan akan mempunyai seorang adik seperti teman – teman seumurannya kebanyakan.

“Jean, boleh aku duduk di pangkuanmu ? Sudah lama sekali aku tidak bersamamu semenjak kakimu terluka. Boleh, iya ?” dengan nada yang sedikit merengek seperti layaknya anak kecil normal yang merayu orang tuanya untuk dibelikan permen atau es krim. Joe memang adalah anak yang cerdas dan pengertian, ceria serta lembut yang diturunkan dari sifat ayahnya, Jim. Namun entah mengapa Jean yang bisa dibilang lesu dan suntuk itu, tetap menanggapi sang buah hati dengan senang hati terkesan tanpa paksaan, menerimanya begitu saja. “Hmm. Boleh. Kemari datang padaku. Tak biasanya kau begitu manja. Apa ada yang mengganggumu di sekolah ? Mungkin kau ingin curhat dengan Mom ?” “Tidak, Mom. Hanya saja aku sedang ingin bersamamu. Mom… ?” “Hmm.. ada apa lagi ?” “Suapi aku juga, ya ?” “Iya. Kau ini ! kau kan sudah berusia 7 tahun, sehrausnya kau sudah dapat makan sendiri, kan ? Baiklah, tak apa. Tapi hanya sekali ini saja, ya, Mom yang suapi. Kalau lain kali masih seperti ini lagi, Mom tak akan segan – segan menghukummu !” Kata Jean memperingatkan Joe sambil memperagakan mimik mukanya yang sedikit menakut – nakuti.

Jimmy yang sedari tadi memperhatikan mereka pun hanya bisa melahap makanannya saja. Sembari bergeming dalam hatinya yang tengah jenuh melihat Jean yang masih saja mendiamkannya bagai patung semenjak pulang dari rumah sakit tadi. Kalau saja Jean tahu betapa sedih hati Jimmynya saat ini, mungkin dirinya wanita juga akan sangat merasa bersalah dan kehilangan. Hah ! Ada – ada saja ! Tapi memang hal inilah yang terkadang menghiasi dalam kehidupan suatu rumah tangga.

#Pukul 05:45 Sore, di Ruang Belajar Joe~

Jimmy yang mengahmpiri Jean yang sedang mengajari Joe untuk mengerjakan tugas sekolahnya. Dirinya yang tak jemu berusaha mengajak Jeannya untuk berbicara. Masih menunggu dengan setia. Jimmy pun berusaha kembali memberanikan diri untuk yang berbicara terlebih dahulu. “Jean, apa tak sebaiknya kau bilang tentang kehamilanmu ini kepada Joe ? Aku ingin tahu bagaimana reaksinya mendengar kabar tentang ini ? Lagipula dengan begitu, akan membuat dirinya semakin mandiri bukan ? Jadi kita tak perlu terlalu memanjakannya lagi. Biar dia juga semakin mengerti tentang bagaimana melakukan persiapan untuk menjadi seorang kakak ? Bukankah begitu lebih baik ?” “Apa kau yang bicarakan ini ? Aku sama sekali tak mengerti. Lagipula menurutku kita tak perlu memberitahukannya kepada Joe. Aku takut justru dirinya malah semakin nakal jika kita memberitahukannya sekarang.” “Tapi, Jean. Kita harus tetap berterus terang tentang keadaan ini. Lambat laun Joe juga akan tahu, bukan ? Bagaimana dengan yang lainnya ? Kita memberitahukan kabar bahagia ini kepada ibu, Hong Ki, Yong Hwa ? Aku rasa mereka akan senang mendengarnya. Toh, Hong Ki juga sedang menunggu kelahiran putra pertamanya. Kita akan punya keponakan juga, bukan, setelah ini ?” “Kalau itu, terserah kau saja, Jim. Mungkin akau yang akan lebih bisa mengatakannya lebih baik kepada mereka daripada aku. Sebab aku sedang tidak bersemangat untuk membicarakan ini. Kumohon kau untuk mengertikan tentang aku sedikit untuk saat ini.” “Yeah, baiklah. Untuk sementara aku akan berhenti membicarakan hal ini denganmu untuk membuatmu tenang terlebih dahulu. Beritahu aku bila nanti keadaanmu sudah lebih membaik, okay, Jean ?” “Iya. Terima kasih sudah mengertikan aku, Jim. Kuharap kau tidak marah padaku.” “Mengapa harus marah ? Aku bisa mengerti mungkin kau belum siap untuk menghadapi berita bahagia ini. Sebagai suami yang baik, bukankah sudah seharusnya aku harus mengertikanmu ?” Akhirnya Jean pun bisa tersenyum mendengar ucapan positif dari sang suami tercinta, Jimmy. Jimmy yang sedang ingin melanjutkan perkerjaan pun, segera bangkit dan mencium kening Jean. Barulah setelah itu dirinya menuju ke meja ruang kerjanya untuk mengerjakan beberapa data hasil diagnosa beberapa pasien jantungnya. Seperti biasa, Jimmy sangat jarang untuk menganggur. Jadwalnya yang sangat padat sebagai dokter senior kini juga semakin membuatnya jarang di rumah lagi. Belum lagi Jean yang mulai harus bekerja kembali setelah sekian lama, sekitar 5 bulan dirinya tak bekerja untuk menjalani terapi kakinya yang sempat lumpuh oleh kecelakaan di pesta pernikahan Hong Ki dan Eun Hye itu. Jimmylah yang memang mulai mengijinkannya untuk kembali bekerja asal sang istri bisa menjaga kesehatannya dan tetap mampu mengurus keluarga, mengapa tidak. Mungkin untuk saat ini, melihat sang istri yang sudah mengantongi jabatan sebagai pramugari senior­­, dirinya tentu akan tega untuk membiarkan sang istri bekerja kembali seperti entah nanti ditugaskan ke Narita airport atau Haneda, atau mungkin di airport lainnya. Yang jelas dirinya harus mulai kembali menata jam kerja dan rumah tangganya ulang setelah ini.

 
thanks for like and comment.. ^^

About shiellafiollyamanda

"Wish my creation can inspire a lot of people, at least around me."
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s