Sinetron Indonesia sebagai Media Pembodohan Publik


Realize & Idealize like everything’s useful, meaningful, helpful, playful, and the other things can inspire for each other people entire the world..^^ practice make perfect Sometimes we tend to be in despair when the person we love leaves us, but the truth is, it’s not our loss, but theirs, for they left the only person who couldn’t give up on them.

Pendahuluan
“Orang terhadap televisi sudah tidak hanya melihat atau  menonton lagi, tapi sudah terlibat di dalamnya”(McLuhan) .
Saya mengambil tema sinetron ini sebab saya pikir program acara inilah yang terbanyak ditayangkan dalam sejarah pertelivisian Indonesia, bahkan bisa dibilang sudah melampau batas jumlah yang ada(over dosage), sehingga terlalalu banyak penayangannya. Biasanya sinetron ini mendominasi penayangan  dalam channel – channel televisi lokal, dibandingkan dengan jumlah penayangannya dengan jumlah televisi publik Indonesia. Sedang yang kita tahu semakin lama, kualitas sinetron – sinetron tersebut bukannya semakin membaik malah semakin menurun saja. Saya pun merasa prihatin dengan keadaan ini, sebab dengan keberadaan sinetron yang makin banyak ini, jumlah penayangan tentang program – program edukasi semakin sedikit kapasitasnya, sebab semakin terdesak oleh keberadaan sinetron – sinetron yang padahal di sisi lain tidak bermanfaat dalam hal edukasi, melainkan hanya media hiburan saja yang digunakan semata – mata untuk memperoleh keuntungan secara komersil. Sehingga pada keadaan ini, pola pikir masyarakat seakan – akan diset untuk menjadi orang yang bodoh dan pemalas, hanya melihat hiburan sinetron yang cenderung disiarkan secara monoton setiap hari pada waktu jam yang sama berulang – ulang dan dengan jumlah episode yang entah sampai berapa banyak pula. Dan di sinilah mengapa saya memilih mengambil tema sinetron sebagai media pembodohan publik, atas dasar rasa keprihatinan saya terhadap program penayangan – penayangan program acara televisi yang kebanyakan kurang berkualitas, seperti halnya sinetron – sinetron ini.
Pembahasan
Sinetron berasal dari kepanjangan Sinema Elektronik. Yaitu istilah populer dari serial drama sandiwara yang disiarkan melalui saluran televisi. Dalam bahasa inggris disebut soap opera atau opera sabun, sedang dalam bahasa latin dikenal dengan istilah Telenovela. Menurut Teguh Karya, seorang sutradara terkenal asal Indonesia, istilah sinetron ini mulai dicetuskan oleh Soemardjono, seorang pendiri dan mantan pengajar  Institut Kesenian Jakarta. Dari segi jalan cerita, Sinetron pada umumnya bercerita tentang kehidupan manusia sehari-hari yang diwarnai konflik berkepanjangan. Seperti layaknya drama atau sandiwara, sinetron diawali dengan perkenalan tokoh-tokoh yang memiliki karakter masing-masing. Berbagai karakter yang berbeda menimbulkan konflik yang makin lama makin besar sehingga sampai pada titik klimaksnya. Akhir dari suatu sinetron dapat bahagia maupun sedih, tergantung dari jalan cerita yang ditentukan oleh penulis skenario. Sedang dari segi tujuan cerita, dibuatnya sinetron menjadi berpuluh-puluh episode kebanyakan karena tujuan komersial semata-mata sehingga dikhawatirkan menurunkan kualitas cerita, yang akhirnya membuat sinetron menjadi tidak lagi mendidik, tetapi hanya menyajikan hal-hal yang bersifat menghibur. Hal ini banyak terjadi di Indonesia yang pada umumnya bercerita seputar kehidupan remaja dengan intrik-intrik cinta segi tiga, kehidupan keluarga yang penuh kekerasan, dan tema yang akhir-akhir ini sangat digemari yaitu tentang kehidupan alam gaib. Hingga kini, sinetron Indonesia terlama adalah sinetron Tersanjung garapan Multivision Plus dengan masa tayang selama 7 tahun sejak tanggal 12 Januari 1998 sampai 17 Desember 2004dengan jumlah 259 episode dan 7 musim. Sedangkan untuk sinetron dengan episode terbanyak adalah sinetron Cinta Fitri garapan MD Entertaintment yang mencapai 1002 episode dalam 7 musim dengan masa tayang selama 4 tahun sejak tanggal 2 April 2007 sampai 8 Mei 2011.
            Berawal dari sebuah cerita kejar tayang yang disiarkan secara stripping, banyak hal yang menurut saya menjadikan tolok ukur kualitas sinetron Indonesia itu sendiri menjadi stagnan atau berhenti di tempat, bahkan bisa dibilang jelek. Sudah puaskah anda terhadap penayangan sinetron di televisi kita? Pentingkah sebenarnya penayangan sinetron di televisi ? Dan manfaat apakah yang kita peroleh dari menyaksikan sinetron di televisi ?
            Pada dasarnya, memang masyarakat sangat merindukan dengan adanya tayangang – tayangan yang berbau edukasi sebab semakin jarang saja program – program acara tersebut sekarang yang menyajikan sajian – sajian yang benar – benar memberikan kita sebagai penontonnya yaitu sajian  yang dapat dijadikan acuan sebagai pola hidup yang sehat, pola hidup yang penuh dengan didikan moral, siraman rohani yang religius, maupun sajian – sajian yang bertajuk tentang keluarga bahagia, cara – cara meraih sukses berbisnis, bermasyarakat, menciptakan formula – formula baru tentang kreativitas menciptakan sesuatu yang dapat diterapkan ke dalam kehidupan sehari – hari. Bukankah hal ini sangat jarang kita dapatkan dalam tayangan – tayangan program televisi kita ? padahal yang kita tahu justru tayangan seperti sinetron yang makin membanjir yang notabene masih masih jauh kualitasnya dibanding dengan berita, tayangan talkshow kesehatana, reality show, dan seminar on air secara terbuka ? Tidak sadarkah kita sebenarnya dengan tidak sengaja dididik untuk tumbuh berkembang menjadi masyarakat yang pasif dari segi objek penyaksi dan aktif sebagai objek penderita yang mana menerima setiap efek sampingnya dari setiap tontonan dari sinetron yang disuapkan kepada kita ? lagipula bila kita pikir – pikir lagi bukannya kebaikan yang kita dapatkan, melainkan keburukan semata. Mengapa ?
            Tahukah Anda setiap dari acara sinetron, tak lain yang kita lihat hanyalah “itu – itu saja”. Melainkan hanya beberapa gambar bergerak dan suara. Sebenarnya masalah bukan terletak pada hal gambar bergerak dan suara tersebut, namun itulah tadi sinetron di Indonesia memiliki kecenderungan selalu mengangkat tema – tema yang membosankan dan tidak mendidik. Bisa kita simak setiap hari, tahukah bahwa dalam setiap adegan hampir kesemuanya terdapat unsur kekerasan ? Dan yang kita tahu juga penonton televisi tidak hanya dari kalangan dewasa saja yang tentunya sudah bisa memfilter bahwa tayangan – tayangan ini hanya fiktif semata, namun juga remaja yang biasanya masih labil dalam menterjemahkan dan menyikapi setiap adegan dan masih cenderung mudah menirukan apa yang mereka lihat, dan bahkan lebih gilanya lagi anak – anak yang masih bersih dan masih baru daya berpikirnya yang pasti belum mampu membedakan mana yang baik dan buruk. Memprihatikan bila setiap sinetron di Indonesia selalu dibubuhi dengan kekerasan tentu hal ini akan berdampak buruk bagi kalangan pemudanya. Terbukti sekarang semakin maraknya tawuran Geng – Geng yang bertindak layaknya brutalist dan extremist seperti Geng Nero, Geng Motor dimana mereka yang beramai – ramai beraksi menyiksa anak yang mereka anggap sebagai musuhnya. Dan gilanya lagi, aksi mereka sengaja direkam dalam sebuah video dan diunggah untuk dipublikasikan ke dalam sebuah situs internet seperti YouTube. Sungguh ini adalah hal yang sangat memalukan dan tidak pantas dicontoh.
            Selain itu di sisi lain, keburukan sinetron Indonesia yakni selalu menampilkan adegan perdebatan, bunuh – membunuh antar saudara, pemfitnahan, adu domba, bahkan adegan – adegan yang memunculkan unsur – unsur pelecahan seksual atau pencabulan pun tak sedikit. Dan parahnya kebanyakan dari pelakonnya maupun yang memproduseri adalah orang yang mengerti dan paham benar tentang hukum batasan apa yang seharusnya dan tidak seharusnya ditayangkan. Namun apa yang terjadi ? Banyak sekali kasus tentang penayangan sinetron yang seharusnya dicabut atau mendapat pencekalan dalam hak siar seperti contohnya dahulu ada sinetron berjudul Hareem yang dahulu pada awal tahun 2008 ditayangkan di channel televisi lokal Indosiar setiap hari pada pukul 19:00 – 20:30 WIB yang di sini bukan menonjolkan unsur religi namun justru kekerasan dan pologami (pernikahan dengan lebih dari satu istri). Padahal sinetron ini juga tidak konsisten dimana yang pada awlnya memakai busana muslim dan gamis di awal cerita, mendadak di tengah – tengah semua aktornya beralih kostum tanpa mengenakan jilbab, bahkan judul pun juga beralih dari Hareem menjadi Inayah namun hingga akhor penayangannya tetap berjalan lancar dengan alasan rating.. Bukankah hal ini semakin menunjukkan bahwa semakin banyak dari masyarakat yang sudah mulai terpengaruh oleh budaya – budaya konsumtif dalam meyaksikan acara – acara yang bisa dikatakan murahan.
            Dari segi tata busananya pun juga sering kali sinetron Indonesia tidak pas, contoh sebagai karakter yang menggambarkan pakaian tentang gelandangan masih banyak artisnya yang masih mengenakan pakaian yang masih bersih – bersih saja, bahkan terkadang masih terlihat pakaiannya terlihat baru saja selesai dari laundry atau mungkin baru dibeli. Inilah yang menyebabkan pesan yang seharusnya dapat diterima oleh penonton tak tersampaikan dengan maksimal. Kemudian, ada pula yang perannya terkesan terlalu dipaksakan, seperti aktor muda yang harus memerankan sebagai karakter yang tua renta. Bagaimana bisa berakting secara total bila secara nyata saja mereka belum pernah mengalami masa pendewasaan itu terhadap dirinya ? Selain itu, sering sinetron Indonesia secara ide cerita mengadopsi dari drama atau pun cerita mancanegara lainnya, tak sedikit  yang tercatap hingga sekarang sudah lebih dari 90 judul sinetron, seperti yang baru – baru ini, adalah sinetron Kejora dan Bintang yang ditayangkan di RCTI adalah saduran dari serial drama Korea Brilliant Legacy dan serial drama Jepang TokyoUniversity Story. Dan kabar buruknya, sinetron Indonesia selalu ditayangkan dengan jumlah episode yang tanpa kejelasan, kalau di luar negeri hanya memuat 20 – 30 episode di Inonesia bisa saja memuat 90 – 100 episode tergangtung kepada produsernya.
Penutup
Dari pembahasan saya di atas, bisa disimpulkan bahwa sinetron – sinetron yang biasa ditayangkan di Indonesia ini banyak yang mengandung unsur – unsur tentang kekerasan, poligami, seperti konflik keluarga, pembunuhan, balas dendam dan segalan instrik lainnya yang tidak mendidik serta tak layak untuk dipertontonkan. Sudah seharusnya sinetron Indonesia ini diperbaiki atau dirombak ulang, jangan hanya semata – mata untuk tujuan komersil namun juga edukasi. Sehingga masyarakat kita pun juga menjadi ikut termotivasi dengan oleh apa yang mereka tonton, khususnya untuk para pencinta sinetron. Namun apabila dalam realisasinya sinetron masih belum dapat memperbaiki kualitasnya, mungkin alangkah lebih baiknya agar penayangannya dihapuskan saja dalam daftar acara program televisi, sebagai gantinya sinema atau film yang sekali tampil hingga penonton bisa langsung mendapatkan moral value dari apa yang mereka baru saja lihat tanpa harus menyempatkan menunggu untuk mengikuti acaranya setiap harinya yang tentu hanya sangat membuang – buang waktu.


About shiellafiollyamanda

"Wish my creation can inspire a lot of people, at least around me."
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s