Tinjauan Mata Kuliah


bagus good job

Tinjauan Mata Kuliah

Mata kuliah ini merupakan salah satu terapan dari ilmu-ilmu dasar biologi yang telah dipelajari mahasiswa sebelumnya yang wajib diambil, yang dapat memberikan pengetahuan mengenai konsep dasar, faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan/perkembangan tanaman hortikultura, dan tata cara bertanam serta penanganan pasca panen produk hortikultura.
Setelah menyelesaikan mata kuliah ini Anda diharapkan mampu menjelaskan mulai dari konsep dasar hortikultura sampai dengan cara penanganan pasca panennya produk hortikultura.
Kemampuan di atas akan dapat Anda lakukan dengan menguasai kompetensi-kompetensi khusus sebagai berikut.
1. Mampu menjelaskan ruang lingkup dan perkembangan hortikultura di                   Indonesia.
2. Mampu menjelaskan faktor-faktor lingkungan fisik yang mempengaruhi                 pertumbuhan/perkembangan tanaman hortikultura.
3. Mampu menjelaskan berbagai intervensi manusia terhadap lingkungan fisik           tanaman hortikultura.
4. Mampu menjelaskan berbagai cara perbanyakan tanaman hortikultura.
5. Mampu menguraikan hama dan penyakit tanaman hortikultura.
6. Mampu menjelaskan budidaya tanaman buah.
7. Mampu menjelaskan budidaya tanaman sayuran.
8. Mampu menjelaskan budidaya tanaman hias.
9. Mampu menjelaskan budidaya tanaman hortikultura dengan sistem hidroponik.
10. Mampu menjelaskan penanganan pasca panen produk hortikultura.

Untuk mencapai tujuan di atas, materi mata kuliah ini disusun dalam sembilan modul, sebagai berikut.

Modul 1
Ruang Lingkup dan Perkembangan Hortikultura di Indonesia

Kegiatan Belajar 1
Ruang lingkup hortikultura
Hortikultura adalah cabang dari ilmu pertanian yang mencakup budidaya tanaman di kebun atau di sekitar tempat tinggal. Budidaya tanaman kebun meliputi buah-buahan, sayuran, dan tanaman hias.

Ciri-ciri tanaman hortikultura, antara lain:
1. modal besar;
2. jenis/macam, meliputi: buah-buahan, sayuran, dan tanaman hias;
3. dikonsumsi dalam keadaan segar;
4. bersifat mudah rusak (perishable);
5. memberi kepuasan dari segi estetika;
6. makan tempat (bulky), dan lain-lain.

Penggolongan tanaman hortikultura ditekankan pada cara pemanfaatan hasil dari tanaman tersebut.

Kegiatan Belajar 2

Perkembangan hortikultura di Indonesia
Perkembangan hortikultura di Indonesia hingga saat ini, belum menunjukkan hasil yang memuaskan. Hal ini antara lain disebabkan karena hortikultura perlu penanganan yang serius, modal besar, dan berisiko tinggi. Selain itu, harga produk hortikultura rendah dan berfluktuasi sehingga memperbesar risiko rugi bagi petani.
Adanya dorongan pemerintah dalam sistem agribisnis yang berbasis hortikultura, diharapkan perkembangan hortikultura berjalan pesat. Pengembangan agribisnis berbasis hortikultura merupakan integrasi yang komprehensif dari semua komponen agribisnis yang terdiri dari lima subsistem, yaitu subsistem agribisnis hulu; subsistem usahatani; subsistem pengolahan; subsistem pemasaran; dan subsistem penunjang.
Proses pengolahan/pengawetan merupakan salah satu bentuk kegiatan agribisnis hortikultura yang bertujuan untuk mengubah bentuk fisik menjadi bentuk fisik lain yang tahan simpan. Selain itu, kemampuan melihat peluang dan potensi, serta mengatasi kendala yang ada merupakan usaha untuk meningkatkan pengembangan hortikultura yang berorientasi pada agribisnis.
Dalam mengatasi kendala yang ada, pemerintah telah melakukan berbagai upaya, yaitu adanya beberapa kebijaksanaan.

Daftar Pustaka

Anonim. (2000). Pedoman Pengenalan Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) pada Tanaman Hortikultura dan Aneka Tanaman (HAT). Direktorat Perlindungan Tanaman. Jakarta: Direktorat Jenderal Produksi Hortikultura dan Aneka Tanaman.

______. (2002). Program dan Rencana Operasional Pembangunan Agribisnis Berbasis Hortikultura Tahun 2002. Jakarta: Departemen Pertanian.

______. (2001). Survei Struktur Ongkos Usaha Hortikultura. Jakarta: Biro Pusat Statistik.

______. (1996). The World Book Encyclopedia (International). Volume 9, p312, London, Sydney, Tunbridge Wells, Chicago: World Book Inc.

Arief, N. (1990). Hortikultura : Tanaman Buah-buahan, Tanaman Sayuran, Tanaman Bunga/Hias. Yogyakarta: Andi Offset.

Arifin, S. (1993). Mengharumkan Bunga Indonesia melalui Yayasan Bunga Nusantara. Media Komunikasi dan Informasi. April No. 16 Vol IV, hal 93.

Gunawan, M. (1993). Pengembangan Komoditas Hortikultura dalam Sistem Agribisnis. Media Komunikasi dan Informasi. April No. 16 Vol IV, hal 55.

Islam, N. (1993). Prospek Perkembangan Ekspor Hortikultura Negara Berkembang Tahun 2000. Media Komunikasi dan Informasi. April No. 16 Vol. IV.

Lakitan, B. (1995). Hortikultura: Teori, Budidaya, dan Pasca Panen. Jakarta: Raja Grafindo Persada. Rajawali.

Nurhaeni, A. (1993). Koperasi Pemasaran Hortikultura: Keberhasilan dan Kendala. Media Komunikasi dan Informasi. April No. 16 Vol. IV, hal. 31.

Rahardi, F, Yovita Hety I, dan Haryono. (1998). Agribisnis Tanaman Buah. Jakarta: Penebar Swadaya.

Reksodimulyo, S. (1993). Agribisnis Hortikultura dan Strategi Pengembangannya. Media Komunikasi dan Informasi. April No. 16 Vol. IV.

Rini Soerojo, S.S. (1993). Pengembangan Agribisnis Hortikultura. Media Komunikasi dan Informasi. April No. 16 Vol. IV, hal. 36 – 46.

Soemadi, W. (1997). Hortikultura: Tanaman Hias – Buah – Sayuran. Solo: Aneka.

Sunarjono, H dan Soemartono. (1992). Budidaya Tanaman Hortikultura. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Wardiyati, et al. (2001). Prosiding Nasional Hortikultura Konggres Perhorti. Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya bekerja sama dengan Perhimpunan Hortikultura Indonesia.

Modul 2
Faktor-Faktor Lingkungan Fisik yang Mempengaruhi Pertumbuhan/Perkembangan Tanaman Hortikultura

Kegiatan Belajar 1
Pengaruh iklim dan angin terhadap pertumbuhan/perkembangan tanaman hortikultura Keberhasilan dalam mengelola tanaman hortikultura, antara lain dipengaruhi oleh berbagai faktor lingkungan fisik yang terdapat di sekitar tanaman, mulai dari pertumbuhan vegetatif sampai pertumbuhan generatif (pembungaan dan produksi).
Pengaruh lingkungan fisik terhadap tanaman hortikultura tidak hanya dipengaruhi oleh satu faktor saja, tetapi oleh beberapa faktor, seperti suhu, intensitas penyinaran, kelembaban, dan angin yang saling bersinergi dan saling mempengaruhi satu dengan lainnya. Walaupun demikian, ketinggian tempat (altitude) dapat merupakan faktor pembatas dari faktor lingkungan fisik lainnya.

Kegiatan Belajar 2
Pengaruh tanah dan air terhadap pertumbuhan/perkembangan tanaman hortikultura

Tanah merupakan faktor lingkungan fisik yang sangat diperlukan oleh tanaman sebagai media tumbuh, sumber zat hara dan mineral, dan nutrisi tanaman sehingga tanaman dapat berproduksi dengan baik.
Indonesia dan kebanyakan negara tropis, jenis tanah didominasi oleh tanah oxisol dan ultisol, tipe tanah yang memiliki kandungan serta cekaman kation yang rendah. Untuk dapat memperbaiki kondisi tanah tipe tersebut maka pemberian bahan-bahan organik sangat diperlukan, terutama untuk produksi tanaman hortikultura jenis sayuran.
Air merupakan komponen terpenting bagi pertumbuhan tanaman yang digunakan untuk berbagai proses fisiologi. Berdasarkan perbedaan keperluan tanaman akan air, tanaman dapat digolongkan menjadi 3 macam, yaitu:
1. tanaman xerofit (gurun pasir), tanaman yang menggunakan air sangat sedikit       untuk proses fisiologinya,
2. tanaman mesofit, tanaman yang menggunakan tidak terlalu banyak dan tidak       terlalu sedikit untuk pertumbuhannya, dan
3. tanaman hidrofit (yang hidup tergenang di air), yaitu tanaman yang  akan air         sangat banyak untuk pertumbuhannya.

Keberadaan air di dalam tubuh tumbuhan tergantung kepada besarnya absorbsi air dari dalam tanah oleh akar tumbuhan dan besarnya air yang ditranspirasikan oleh daun dan batang.
Air yang diperoleh tanaman dapat berasal dari air hujan dan air tanah. Air hujan yang jatuh sebagian besar akan mempengaruhi bagian atas tanaman dan hanya sedikit yang masuk ke dalam tubuh tanaman untuk berperan dalam proses fisiologinya. Sehingga air yang digunakan untuk pertumbuhan tanaman sangat tergantung dari air tanah.

Kegiatan Belajar 3
Intervensi manusia terhadap lingkungan fisik di sekitar tanaman hortikultura

Untuk memperoleh produksi yang optimum pada tanaman hortikultura manusia melakukan intervensi dengan mengusahakan berbagai cara untuk menanggulangi permasalahan faktor lingkungan yang terdapat di sekitar tanaman, yang dilakukan dengan menerapkan berbagai teknik, seperti mengatasi kendala faktor cuaca, mengatasi kekurangan atau kelebihan air, menanggulangi erosi, mengatasi tanah yang terlalu asam atau terlalu basa, dan sebagainya.

Kendala yang disebabkan oleh faktor cuaca yang berada di sekitar tanaman antara lain diatasi dengan pembuatan rumah kaca atau green house yang mempunyai berbagai tujuan, seperti: menghindari cuaca buruk, memilih tempat penanaman sesuai dengan yang kita inginkan, mengendalikan hama dan penyakit, dan dapat berproduksi sepanjang tahun.

Ketersediaan air di dalam tanah adalah mutlak bagi tanaman, namun kelebihan atau kekurangan air dapat berakibat fatal karena akan mengurangi produksi atau bahkan kematian tanaman tersebut. Untuk menjaga kelembaban tanah sesuai yang dibutuhkan tanaman, manusia melakukan intervensi dengan membuat bedengan, guludan, dan sistem irigasi pada lahan tergenang di dataran rendah. Sedangkan untuk menghindari kekeringan dilakukan sistem penyiraman baik secara modern pada perkebunan skala besar ataupun di kebun dalam skala kecil.

Pembuatan sistem terassering merupakan salah satu cara yang dilakukan untuk mengurangi erosi pada lahan pertanian yang cukup curam, seperti di daerah perbukitan. Upaya pembuatan sistem terassering berbeda untuk setiap jenis tanah dan kemiringan lahan. Oleh karena itu, dikenal beberapa macam teras seperti teras datar (level terrace), teras kridit (ridge terrace), dan teras bangku (bench terrace).
Pemulsaan, merupakan salah satu bentuk intervensi manusia yang dilakukan untuk tujuan menjaga kelembaban tanah, mencegah pembusukan yang disebabkan oleh jamur, bakteri, bahkan virus, melindungi tanah dari erosi, dan menghambat pertumbuhan gulma.

Tanah pertanaman hortikultura harus memiliki tingkat keasaman dalam rentang yang dapat diterima oleh tanaman (berkisar 5,5 – 6,8). Bagi tanah yang terlalu asam, pH dapat dinaikkan dengan pemberian kapur talk, kalsit, dan dolomit. Sedangkan pada tanah yang terlalu basa, pH dapat diturunkan dengan menambahkan Sulfur atau belerang ke dalam tanah.

Daftar Pustaka

Bell, A.D. (1993). Les Plantes a Fleurs; Guide Morphologique Illustre. Paris: Masson.

Esau, K. (1964). Plant Anatomy, 2nd edition. New York: John Wiley & Sons.

Fahn, A. (1982). Anatomi Tumbuhan, edisi ke 3 (judul asli: Plant Anatomy). Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Hidayat, E.B. (1995). Anatomi Tumbuhan Berbiji. Bandung: ITB.

Loveless, A.R. (1991). Prinsip-prinsip Biologi Tumbuhan untuk Daerah Tropik. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Payne, J. (1990). Wild Malaysia; The Wildlife and Scenery of Peninsular Malaysia. Sarawak and Saba. London: New Holland Publishers.

Richard, P.W. (1957). The Tropical Rain Forest an Ecological Study. London: Cambridge Univ. Press

Sumardi, I. dan Pudjoarinto, A. (1993). Struktur dan Perkembangan Tumbuhan. Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

The World Book Encyclopedia. (1996). Parts of Plant. London: World Book International.

Modul 3
Perbanyakan Tanaman Hortikultura
Kegiatan Belajar 1
Perbanyakan generatif pada tanaman hortikultura

Perbanyakan pada tanaman dapat dilakukan dengan 2 cara, yaitu perbanyakan secara seksual (sexual reproduction) dan perbanyakan secara aseksual (asexual reproduction).

Perbedaan dari kedua jenis perbanyakan tersebut, adalah pada perbanyakan generatif terjadi pertemuan antara sel sperma dengan sel telur sehingga tanaman anakkan yang dihasilkan dapat memiliki sifat-sifat yang berbeda dengan tanaman induk. Sedangkan perbanyakan vegetatif adalah perbanyakan yang menggunakan bagian organ tanaman induk (daun, akar, batang, dan sebagainya) sehingga tanaman yang terbentuk memiliki sifat yang sama persis dengan tanaman induk.

Perbanyakan secara generatif melibatkan organ reproduktif pada tanaman, yaitu alat reproduksi jantan (stamen), yang terdiri dari anthera (kantung serbuksari) dan filamen serta, alat reproduksi betina (pistil), yang terdiri dari stilus, bakal buah (ovary), dan sel telur (ovul).

Teknik rekayasa genetika pada dasarnya adalah introduksi gen unggul dari suatu tanaman (x) ke tanaman lain (y) dengan maksud untuk mendapatkan tanaman dengan sifat-sifat unggul. Teknik tersebut dapat mengekspresikan sifat yang diinginkan secara lebih tepat, cepat, dan akurat.

Kegiatan Belajar 2
Perbanyakan vegetatif: stek dan cangkok

Perbanyakan tanaman dengan cara stek dan cangkok merupakan cara perbanyakan secara vegetatif. Kedua cara tersebut jarang dilakukan untuk perbanyakan secara besar-besaran karena perbanyakan dalam jumlah yang besar dapat mengganggu sistem fisiologi dan merusak bentuk morfologi tanaman induk sehingga kemudian dapat menurunkan produktivitas tanaman induk.

Perbedaan antara perbanyakan dengan stek dan cangkok adalah bahwa dengan cara stek, sistem perakaran terbentuk setelah bahan tanam dipisahkan dari tanaman induk. Sedangkan dengan cara cangkok, stimulasi pertumbuhan akar dilakukan terlebih dahulu sebelum bahan tanam dipisahkan dari tanaman induk.

Dilihat dari bahan tanam yang digunakan, perbanyakan dengan stek dapat dibedakan menjadi 3, yaitu stek daun, stek batang, dan stek akar. Pemilihan bahan tanam yang akan digunakan tergantung pada jenis tanaman yang akan diperbanyak. Beberapa tanaman lebih mudah diperbanyak dengan daun, sedangkan tanaman lainnya lebih mudah diperbanyak dengan batang atau akar.

Perbanyakan cangkok dapat dibedakan menjadi 2, yaitu cangkok di atas permukaan tanah dan cangkok di bawah permukaan tanah.

Dibandingkan tanaman berkayu yang diperbanyak dengan biji maka tanaman berkayu hasil cangkok mempunyai kelemahan, yaitu memiliki sistem perakaran yang dangkal sehingga tidak dapat menjangkau air yang berada jauh di dalam tanah serta mudah rebah jika diterpa angin kencang.

Kegiatan Belajar 3
Perbanyakan vegetatif: sistem sambung

Seperti halnya perbanyakan vegetatif dengan stek dan cangkok, perbanyakan dengan cara sambung selain dapat memperbanyak tanaman dalam jumlah besar juga dapat menghasilkan tanaman yang memiliki keunggulan seperti yang dimiliki oleh tanaman induk.

Terdapat 3 macam teknik sambung, yaitu susuan, sambung pucuk, dan okulasi.
Meskipun cara yang dilakukan pada ketiga teknik tersebut berlainan, namun demikian prinsip dari ketiga cara perbanyakan tersebut adalah sama, yaitu terjadinya pertautan antara kambium batang atas dengan kambium batang bawah.

Kegunaan perbanyakan dengan teknik sambung adalah sebagai berikut.
a. memperbaiki sifat tanaman sehingga tanaman baru hasil sambung memiliki         keunggulan seperti yang kita inginkan,
b. mendapatkan pohon yang relatif pendek sehingga memudahkan di dalam             pemanenan,
c.  meningkatkan produksi dengan menambah jumlah tunas,
d. mendapatkan tanaman yang dapat berproduksi secara      cepat ( termasuk           mengganti tanaman berkayu dengan varietas baru),
e. mendapatkan tanaman yang sesuai dengan kondisi lingkungan dengan                 menggunakan akar atau tanaman lain yang sesuai dengan lingkungan sekitar,
f.  mendapatkan tanaman yang tahan terhadap hama dan penyakit dengan               menggunakan batang atas yang tahan terhadap hama dan penyakit tertentu.
Daftar Pustaka

____________. (1992). How Plant Reproduce? London: The World Book Encyclopedia.

Arief, A. (1990). Hortikultura. Yogyakarta: Andi Offset.

Aubert, B. (1972). Consideration Sur la Phenologie des Especes Fruitiers Arbustives. Fruits Vol 27, No 3.

Hewindati, Y.T. (1996). Phytopratiques d’Indonesie et de quelques autres pays tropicaux: Tests des pratiques concernant la patate douce et le limettier. France: Thesis de Doctorat, Universite Montpellier II.

Robinson, LW., and Caudun V., ______. Le Bon Jardinier. Paris: La Maison Rustique.

Robinson, L.W., and Waering P.F. (1969). Eksperiments on The Juvenil-Adult Phase Change in Some Woody Species., New Phytol 68, 67-68, Wales: Botany Department University, University College.

Soenarjono dan Soemartono. (1992). Budidaya Tanaman Hortikultura. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Soenarjono. (1990). Ilmu Produksi Tanaman Buah-buahan. Jakarta: Sinar Baru.

Wijaya, M.S. et al. (1994). Pengelolaan Usaha Pembibitan Tanaman Buah. Jakarta: Penebar Swadaya.

William, C.N., et al. (1993). Produksi Sayuran di Daerah Tropika, (judul asli: Vegetable Production in The Tropics). Yogyakarta: Gajah Mada University Press.

Wudianto, R. (1989). Membuat Stek, Cangkok, dan Okulasi. Jakarta: Penebar Swadaya.

Modul 4
Hama dan Penyakit Tanaman Hortikultura, serta Pengendalian Tanaman

Kegiatan Belajar 1
Hama penting pada tanaman hortikultura

1. Hama tanaman dapat menimbulkan kerugian sejak dari persemaian, di                 lapangan sampai pada tempat penyimpanan hasil tanaman.
2. Serangga menyerang tanaman antara lain dengan cara memakan atau                 menggerek baik daun, batang, bunga, buah, ataupun titik tumbuh tanaman.
3. Serangga termasuk dalam filum Arthropoda, kelas Heksapoda, yang antara lain     mempunyai ciri berupa 3 pasang kaki pada tubuh yang beruas-ruas.
4. Serangga berkembang biak secara seksual dengan cara bertelur.
5. Secara keseluruhan, kelas serangga yang merupakan hama tanaman                   hortikultura dapat digambarkan sebagai berikut.

6. Nematoda merupakan hewan tidak bersekat, berbentuk pipa, yang sering             disebut sebagai cacing belut.
7. Gejala kerusakan yang ditimbulkan oleh nematoda hampir sama dengan gejala     penyakit yang disebabkan oleh tanah yang kurang subur, oleh serangan hama     atau mikroorganisme pada perakaran tanaman maupun yang disebabkan oleh     virus atau patogen lain.
8  Tanaman yang terserang nematoda sering menunjukkan gejala kekerdilan,           terhambatnya pertumbuhan tanaman, menguningnya daun, atau menunjukkan     pertumbuhan akar yang abnormal.
9.   Nematoda berkembang biak secara seksual ataupun bersifat hermaprodit.
10. Hampir semua nematoda yang menyerang tanaman hortikultura termasuk             dalam ordo Tylenchina.
11. Jenis nematoda yang menyerang tanaman hortikultura dapat dilihat pada             tabel di atas.

Kegiatan Belajar 2
Jamur dan penyakit penting yang ditimbulkan pada tanaman hortikultura

1. Jamur merupakan penyebab penyakit terpenting pada tanaman.
2. Jamur antara lain menyebabkan penyakit rebah kecambah, bercak daun, hawar,     layu, mati pucuk, busuk dan embun tepung pada tanaman hortikultura.
3. Tubuh jamur dicirikan oleh adanya benang-benang halus yang disebut hifa.
4. Jamur berkembang biak secara aseksual maupun secara seksual, kecuali pada     subdivisi Deuteromycotina yang hanya berkembang biak secara aseksual.
5. Dunia jamur terbagi atas dua divisi, yaitu divisi Myxomycota dan Eumycota.
6. Secara keseluruhan dunia jamur dapat digambarkan sebagai berikut.

Kegiatan Belajar 3
Bakteri dan virus, serta penyakit yang ditimbulkan pada tanaman hortikultura

1. Bakteri merupakan penyebab penyakit yang berukuran lebih kecil dari jamur,         hanya dapat dilihat menggunakan mikroskop dengan perbesaran minimal 1000     kali.
2. Umumnya bakteri dapat menyebabkan penyakit bercak daun, busuk lunak, layu     dan benjolan pada tanaman hortikultura.
3. Berdasarkan bentuknya, bakteri dibedakan menjadi bakteri berbentuk bulat,         batang, benang dan koma. Berdasarkan jumlah dan posisi alat gerak, bakteri       dibedakan menjadi bakteri monotrik, lofotrik dan peritrik.
4. Bakteri berkembang biak dengan membelah diri.
5. Bakteri termasuk dalam dunia Prokaryota, sebagai berikut.

6. Virus berukuran sangat kecil, sehingga hanya dapat dilihat menggunakan             mikroskop elektron dengan perbesaran minimal 10.000 kali.
7. Berdasarkan bentuk partikelnya, virus dapat dibedakan menjadi virus berbentuk     batang, bola dan mirip bakteri.
8. Virus merupakan senyawa nukleoprotein, yang terdiri atas asam nukleat dan         protein.
9. Perkembangbiakan virus dilakukan dengan cara mempengaruhi metabolisme         sel tanaman inang agar membentuk bahan pembentuk virus.
10. Virus dikelompokkan dalam dunia Vira, dengan taksonomi sebagai berikut.

Kegiatan Belajar 4
Pengendalian tanaman secara terpadu

1. Pengendalian hama terpadu (PHT) adalah usaha perlindungan tanaman yang         menggunakan berbagai metode pengendalian secara bersama-sama dengan         tujuan untuk memperkecil risiko kerusakan atau menurunnya nilai lingkungan       hidup.
2. Karantina tumbuhan bertujuan untuk mencegah berpindahnya hama atau             patogen tumbuhan dari satu daerah atau negara ke daerah atau negara lain         dengan melalui peraturan perundangan.
3. Penggunaan varietas tahan dapat mengurangi biaya produksi, mengurangi           risiko berkurangnya hasil tanaman, sekaligus menghindari risiko pencemaran       lingkungan.
4. Pengendalian dengan cara bercocok tanam antara lain dapat dilakukan dengan     penggunaan tanah yang sehat, pemakaian benih atau bahan tanaman yang         sehat, pemeliharaan tanaman yang memadai, dan dengan menghilangkan           tanaman/bagian tanaman yang tidak disenangi.
5. Pengendalian tanaman dengan cara biologis dapat memanfaatkan mekanisme     antagonisme antara hama dan patogen tanaman dengan organisme yang lain,     selain tumbuhan dan manusia.
6. Pengendalian dengan cara kimiawi digunakan untuk alternatif terakhir dalam         PHT, dengan tujuan untuk pengobatan, dengan memperhatikan hama atau          patogen sasaran, jenis pestisida, kadar pestisida, dan faktor lingkungan.

Daftar Pustaka

Agrios, G.N. (1996). Ilmu Penyakit Tumbuhan (Edisi ketiga). (Terjemahan: M. Busnia). Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Alexopoulos, C.J. & Mims, C.W. (1979). Introductory Mycology (3rd. Ed.). New York: John Wiley & Sons.

Anonim. (1997). Penyebaran Penyakit Penting pada Tanaman Hortikultura Prioritas (buah-buahan). Jakarta: Proyek Pengendalian Hama Terpadu, Direktorat Bina Perlindungan Tanaman, Direktorat Jenderal Pertanian Tanaman Pangan.

Ashari, S. (1995). Hortikultura: Aspek Budidaya. Jakarta: UI Press.

Bos, L. (1983). Introduction to Plant Virology. Wagenigen, Netherlands: Centre for Agricultural Publishing and Documentation (Terjemahan: Triharso, Gadjah Mada University Press, 1994).

Djafaruddin. (2000). Dasar-dasar Pengendalian Penyakit Tanaman. Jakarta: Bumi Aksara.

Dropkin, V.H. (1996). Pengantar Nematologi Tumbuhan (Edisi kedua). Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. (Terjemahan: Supratoyo).

Jumar. (2000). Entomologi Pertanian. Jakarta: Rineksa Cipta.

Kalshoven, L.G.E. (1981). The Pests of Crops in Indonesia. (Revised by P.A. Van der Laan). Jakarta: Ichtiar Baru.

Luc, M; Sikora, R.A.; & Bridge, J. (1995). Nematoda Parasitik Tumbuhan di Pertanian Subtropik dan Tropik. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. (Terjemahan: Supratoyo).

Martoredjo, T. (1992). Pengendalian Penyakit Tanaman. Yogyakarta: Andi Offset.
Rothamsted Experimental Station. (1994). Electron micrographs of plant viruses. [URL:
http://www.iacr.bbsrc.ac.uk/res/depts/plantpath/links/pplinks/virusems/index.html%5D.

Semangun, H. (1994). Penyakit-penyakit Tanaman Hortikultura di Indonesia. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Semangun, H. (1996). Pengantar Ilmu Penyakit Tanaman. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Streets, R. B. (1972). Diagnosis Penyakit Tanaman. Tucson, Arizona: The University of Arizona Press. (Terjemahan: Imam Santosa, 1980).

Verheij, E.W.M. & Coronel, R.E. (1997). PROSEA: Sumber Daya Nabati Asia Tenggara 2, Buah-buahan yang dapat Dimakan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Wigenasantana, M.S.; dkk. (1994). Dasar-dasar Perlindungan Tanaman. (Materi Pokok LUHT4310). Jakarta: Universitas Terbuka.

Modul 5
Budidaya Tanaman Buah

Kegiatan Belajar 1
Faktor-faktor penentu produktivitas tanaman buah

Pengertian buah-buahan, adalah merupakan salah satu tanaman hortikultura penghasil buah yang dapat dimakan mentah atau matang di pohon, biasanya disajikan dalam bentuk matang segar sebagai buah meja atau dalam bentuk olahan. Sedangkan ciri dari buah-buahan adalah:
1. Cepat busuk (perisable) dan tidak bisa disimpan lama dalam keadaan segar.
2. Memerlukan ruang yang luas untuk menyimpan karena tidak dapat ditumpuk         dan dipadatkan.
3. Harga cukup bervariasi tergantung mutu dan banyak sedikitnya peminat.

Selain panca usaha tani, terdapat empat faktor penting yang juga menentukan produktivitas tanaman, yaitu: pembungaan, penyerbukan, pembuahan dan pembentukan buah. Dari keempat faktor tersebut yang terpenting adalah pembungaan karena tanpa pembungaan tidak akan terjadi penyerbukan maupun pembentukan buah.
Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi pembungaan sebagian ditentukan oleh faktor genotip atau faktor dalam, yaitu sifat yang turun temurun seperti zat tumbuh (hormon) dan oleh faktor-faktor luar seperti suhu, cahaya, curah hujan, panjang penyinaran, dan pohon pangkal.
Penyerbukan (polinasi) adalah perpindahan tepung sari (pollen) dari benangsari ke kepala putik (stigma). Penyerbukan dapat terjadi antara lain karena:
1. Di dalam bunga letak kepala putik di bawah kepala sari, sehingga serbuk sari       yang berat dapat jatuh di atas kepala putik dengan mudah.
2. Kepala putiknya menempel pada kepala sari. Apabila kepala sarinya pecah,           maka serbuk sarinya akan segera mendapat kontak langsung dengan kepala       putik dan terjadilah penyerbukan.
3. Serbuk sari tertiup oleh angin atau terbawa oleh serangga dan secara kebetulan     jatuh di atas kepala putik

Pembuahan adalah peristiwa penggabungan sel kelamin jantan (sperma) dengan sel kelamin betina (sel telur). Pembuahan ini terjadi di dalam kandung embrio (Saccus embryonalis) dari bakal biji (ovulum) yang telah masak.

Faktor-faktor penentu hasil buah:
1. Jumlah bunga yang dihasilkan oleh tanaman.
2. Persentase bunga yang mengalami penyerbukan.
3. Persentase bunga yang mengalami pembuahan.
4. Persentase buah muda yang dapat tumbuh terus hingga menjadi buah masak.

Tidak semua buah yang telah terbentuk tersebut dapat tumbuh terus hingga menjadi buah masak. Penyebabnya antara lain adalah:
a. Keadaan kantung embrio di dalam biji tidak normal.
b. Embrio dan endosperm berhenti tumbuh.
c. Tanah terlalu kering.
d. Tanah terlalu basah.
e. Tanah terlalu kurus.
Untuk pertumbuhan buah memerlukan zat hara terutama unsur Nitrogen (N),         Phosfor (P), dan Kalium (K). Kekurangan unsur tersebut dapat mengganggu         pertumbuhan buah.
f. Serangan hama dan penyakit.
g. Pengaruh jumlah buah.

Kegiatan Belajar 2
Budidaya mangga dan jambu biji (buah-buahan tropik iklim kering)

Mangga (Mangifera indica) merupakan salah satu anggota dari familia Anacardiaceae yang berasal dari daerah sekitar Bombay dan daerah sekitar kaki gunung Himalaya. Mangga diakui sebagai salah satu jenis tanaman buah-buahan yang tertua dan sangat penting di daerah tropik.
Genus Mangifera diperkirakan memiliki 40 jenis, 16 jenis diantaranya dapat dimakan. Jenis yang paling banyak dikenal adalah Mangifera indica, contoh kultivarnya adalah mangga arumanis, golek, madu, manalagi dan mangga gedong.
Tanaman mangga banyak tumbuh di daerah tropik dan beriklim kering, mempunyai toleransi tumbuh yang tinggi, baik di dataran rendah maupun dataran tinggi. Dapat tumbuh pada jenis tanah apapun asalkan tanah tersebut tidak mempunyai lapisan padas yang keras dan berbatu, serta tidak mengandung garam atau air payau. pH ideal adalah 5,5 – 6,0.
Perbanyakan tanaman mangga dapat dilakukan secara generatif dan secara vegetatif, yaitu dengan stek, cangkokan, okulasi, dan sambungan. Waktu tanam yang baik adalah menjelang musim penghujan. Agar penanaman bibit dapat tumbuh dengan baik dan normal, perlu dilakukan penyiraman. Pada areal yang luas, baik pada tanah datar maupun miring dapat dilakukan penggenangan sesuai dengan kebutuhan.
Tanda buah siap dipanen adalah buah sudah cukup besar, warna agak hijau tua, lapisan lilin mulai berkurang atau tidak ada, dan tangkai buah sudah mulai menguning. Pemetikan buah mangga untuk dikonsumsi melalui proses pemeraman, sebaiknya buah dipetik dalam keadaan masih keras. Pemetikan buah sebaiknya dilakukan secara bertahap yaitu dipilih yang benar-benar sudah tua agar kualitas buah tetap baik.
Jambu biji atau jambu batu (Psidium guajava) termasuk anggota dari familia Myrtaceae. Tanaman jambu biji diperkirakan berasal dari Benua Amerika Tengah, yaitu sekitar Meksiko dan Peru.
Tepung jambu biji kaya akan vitamin C (sekitar 87 mg/100g berat dapat dimakan). Asam askorbat pada vitamin C dapat meningkatkan daya tahan tubuh, bahkan diyakini dapat meningkatkan jumlah trombosit pada penderita demam berdarah. Selain itu daun jambu biji dapat digunakan untuk obat diare atau zat pewarna.
Di Indonesia tanaman jambu biji mudah dikembangkan bahkan pada kondisi tanah yang mencekam dan kering sekalipun. Sehingga tanaman jambu biji dikenal orang sebagai tanaman perintis.
Dalam memilih media untuk penanaman jambu biji dalam pot perlu memperhatikan struktur media yang gembur, mengandung unsur hara yang mudah diserap atau dibutuhkan tanaman, mudah mengikat dan melepaskan air, bebas hama dan penyakit, dan cukup ringan.
Panen pertama tanaman jambu biji sangat dipengaruhi oleh beberapa fakto

About shiellafiollyamanda

"Wish my creation can inspire a lot of people, at least around me."
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s