stek dan cangkok


bagus good job

I. PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Hutan merupakan suatu kesatuan ekosistem berupa hamparan lahan berisi
sumber daya alam hayati yang didominasi pepohonan dalam persekutuan alam
lingkungannya, yang satu dengan yang lainnya tidak dapat dipisahkan. Sebagai
salah satu sumber daya alam hayati hutan diperlukan untuk menunjang
kehidupan manusia dimana hutan mempunyai fungsi sebagai pengimbang dalam
segi ekologis, fungsi hidrologis, dan sumber plasma nutfah. Hutan juga
mempunyai nilai ekonomis yang tinggi, sehingga pembangunan yang
dititikberatkan pada sektor ekonomi yang mengelola kekayaan bumi Indonesia,
harus senantiasa memperhatikan pengelolaan sumber daya alam. Disamping
untuk memberi kemanfaatan masa kini, juga harus menjamin kehidupan masa
depan. Sumber daya alam yang terbaharui harus dikelola sedemikian rupa agar
kemampuannya memperbaharui diri selalu terpelihara sepanjang masa (Zain
1998).
Menjelang akhir abad ke-20 hutan menjadi topik penting karena
peranannya sebagai pendukung lingkungan hidup. Hutan terkait erat dengan
seluruh aspek pembangunan dan sosial ekonomi. Pertambahan penduduk yang
kian meningkat dari tahun ke tahun menyebabkan konsumsi kayu terus
meningkat. Diperkirakan kebutuhan kayu di akhir abad ini mencapai 72 juta m3
dimanfaatkan untuk keperluan domestik dan selebihnya untuk ekspor (Anonim
1996). Dua puluh tahun kemudian angka proyeksi ini akan terus meningkat
2
sehingga mencapai masing-masing 120,9 juta m3 untuk domestik dan 70,1 juta
m3 untuk eskpor atau jumlah kebutuhan kayu pada waktu itu akan mencapai 191
juta m3/tahun, bandingkan dengan produksi lestari kita, sebesar 30,4 juta m3 pada
waktu itu sulit dicapai bahkan cenderung menurun. Dengan melihat fakta bahwa
produktifitas hutan alam sangat terbatas maka dengan sendirinya kebutuhan akan
kayu sebanyak itu tidak dapat dipenuhi. Oleh karenanya masukan IPTEK dan
ketersedian sumberdaya manusia sangat didambakan untuk mengelola hutan
secara lestari.
Proses pengelolaan hutan agar lestari dengan mengusahakan adanya
regenerasi tegakan hutan dapat berlangsung secara alami dan buatan. Proses
regenerasi secara buatan melalui pembudidayaan tanaman hutan yang umumnya
dipakai dewasa ini adalah dengan pembuatan hutan tanaman, baik secara
generatif maupun vegetatif. Permudaan generatif sangat dipengaruhi oleh
ketersediaan benih bermutu pada waktu dilakukannya penanaman. Cara yang
dapat dilakukan untuk perbanyak tanaman agar dapat memenuhi kebutuhan bibit
yang diperlukan tanpa tergantung terhadap ketersediaan benih adalah melalui
pembiakan vegetatif. Keuntungan yang dimiliki bahan vegetatif secara garis
besar adalah sifat keturunan, alat pembiakan pada tanaman yang bijinya sukar
diperoleh atau ditangani, dan proses pendewasaan tanaman (Kartiko, 1998 dalam
Puttilehalat 2001). Pembiakan vegetatif dapat secara makro seperti stek, cangkok,
okulasi dan lain-lain dan secara mikro yaitu kultur jaringan.
Upaya pemulihan kembali kawasan hutan agar lestari dan dapat
memberikan hasil yang memenuhi persyaratan dalam hal kualitas dan kuantitas
3
yang diproyeksikan melalui hutan tanaman di Indonesia telah dikenal kurang
lebih 100 tahun lalu di pulau Jawa yaitu hutan tanaman jati yang kini luasnya
1,5 juta Ha (Poerwidodo, 1991). Penduduk Indonesia sudah mengenal tanaman
jati ini sejak lama. Seiring dengan perjalanan waktu dan kebutuhan manusia akan
bahan baku kayu yang selalu meningkat, ketersediaan jati yang tumbuh secara
alami jumlahnya semakin menurun. Akibatnya persediaan bahan baku berupa
kayu Jati yang semula melimpah di hutan semakin terbatas.Hal ini menyebabkan
tanaman ini mulai banyak dibudidayakan (Zain 1998).
Jati (Tectona grandis L.F) termasuk family Verbenaceae mempunyai
banyak keunggulan dalam penggunaan kayunya. Namun dalam
pembudidayaannya secara generatif jati (Tectona grandis L.F) memiliki kendala
antara lain dikarenakan biji jati tergolong dalam benih dorman. Benih dikatakan
dorman apabila benih tersebut sebenarnya hidup tetapi tidak berkecambah
walaupun diletakan pada keadaan secara umum dianggap telah memenuhi
persyaratan bagi suatu perkecambahan (Sutopo, 1985). Faktor lain yang menjadi
pembatas adalah presentase daya kecambah benih jati tergolong rendah yaitu
antara 35-85 % (Khaerudin, 1994). Untuk alasan tersebut maka benih jati
memerlukan perlakuan khusus untuk memecahkan dormansi atau sekurangkurangnya
lama dormansi dapat dipersingkat. Permudaan tanaman jati secara
vegetatif perlu diterapkan sebagai alternatif lain dalam pembudidayaan tanaman
jati untuk mengurangi ketergantungan terhadap benih mengingat kebutuhan akan
kayu jati yang memiliki nilai dekoratif lebih dan serba guna, dimanfaatkan antara
4
lain untuk bangunan, vinir mewah, perkakas/mebel, tiang listrik, telepon, serta
kegunaan lainnya.
Salah satu pembiakan vegetatif yang ingin diterapkan untuk tanaman jati
adalah stek batang. Stek batang sebagai material sangat menguntungkan, sebab
batang mempunyai persediaan makanan yang cukup terhadap tunas-tunas batang
dan akar (Rochiman dan Hariadi, 1973), dan juga dapat dihasilkan dalam jumlah
besar. Dalam upaya pembiakan secara vegetatif dengan tujuan untuk
memperoleh persen tumbuh tanaman yang tinggi, adanya peningkatan sistim
pertumbuhan perakaran, serta bibit tanaman yang ditanam lebih mampu dan
cepat beradaptasi dengan lingkungan yang baru perlu dilibatkan pula penggunaan
hormon tumbuh akar melalui berbagi uji coba untuk mendapatkan konsentrasi
yang tepat dalam penggunaannya sehingga diperoleh hasil yang lebih baik bagi
pengaturan dan pertumbuhan tanaman (Anonim 1987).
Rootone – F sebagai salah satu hormon tumbuh akar yang banyak
dipergunakan akhir-akhir ini, dijumpai dalam bentuk tepung putih dan berguna
untuk mempercepat dan memperbanyak keluarnya akar-akar baru, karena
mengandung bahan aktif dari hasil formulasi beberapa hormon tumbuh akar yaitu
IBA, IAA, dan NAA (Anonim, 1987). Penggunaan Rootone – F sebagai hasil
kombinasi dari ketiga jenis hormon tumbuh di atas lebih efektif merangsang
perakaran dari pada penggunaan hanya satu jenis hormon secara tunggal pada
konsentrasi sama.
5
Penelitian ini dilakukan khusus untuk mempelajari pengaruh konsentrasi
Rootone – F dan ukuran diameter stek terhadap pertumbuhan tunas dari stek
batang jati (Tectona grandis L.F)
2. Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan :
1. Untuk mengetahui pengaruh pemberian konsentrasi zat pengatur tumbuh
Rootone – F dan besar diameter stek batang terhadap pertumbuhan tunas dari
stek batang jati (Tectona grandis L.F)
2. Untuk mengetahui konsentrasi Rootone–F dan ukuran diameter yang sesuai
bagi pertumbuhan tunas dari stek batang jati (Tectona grandis L.F).
3. Manfaat Penelitian
Adapun manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah :
1. Sebagai alternatif pembiakan secara vegetatif untuk tanaman jati guna
mengurangi ketergantungan terhadap benih jati (Tectona grandis L.F).
2. Sebagai informasi dasar bagi penelitian selanjutnya.
4. Hipotesa
1. Pemberian Rootone – F dengan konsentrasi 200 ppm akan menghasilkan
pertumbuhan akar dan tunas yang terbaik.
2. Ukuran diameter stek batang sangat menunjang pertumbuhan tunas dan akar
dari stek.
II. TINJAUAN PUSTAKA
1. Keadaan Botani
Jati (Tectona grandis L.F) termasuk kelompok tumbuhan yang dapat
menggugurkan daunnya sebagai mekanisme pengendalian diri terhadap keadaan
defisiensi air selama musim kemarau. Jati digolongkan dalam family Verbenacea.
Daerah penyebaran tumbuhan ini meliputi India, Birma, Thailand, dan Vietnam.
Di Indonesia tanaman ini tumbuh di pulau Jawa, Sulawesi Selatan, Sulawesi
Tenggara, Nusa Tenggara Bara (Sumbawa), Maluku dan Lampung. Nama daerah
untuk kayu ini adalah Jahe, Jatos, Kulidawa (Jawa), Kianti, Dodolan.
Jati tergolong jenis kayu berdaun lebar dengan bentuk batang umumnya
bulat dan lurus dengan percabangan yang tinggi, warna kulit agak kelabu muda,
agak tipis beralur memanjang agak dalam. Tinggi pohon dapat mencapai 45 m
dengan panjang batang bebas cabang 15-20 m, diameternya mencapai 220 cm
(Khaerudin, 1994).
Bentuk tajuk tidak beraturan, berbentuk kubah dan agak lebar. Tergolong
dalam jenis intoleran yaitu dalam pertumbuhannya jati memerlukan cahaya
penuh, tidak tahan terhadap naungan. Daun berukuran lebar dan sedikit berbulu
(Atmosuseno, 1995). Tanaman jati berbunga antara bulan Oktober – Juni
kemudian buah masak pada bulan Juli – Desember. Dalam tiap kg biji kering
mengandung 1.500 butir atau 416 butir per liter (Khaerudin, 1994).
Menurut Khaerudin (1994), kayu jati termasuk kelas kuat I dan kelas
awet II dengan berat jenis rata-rata 0,70 sehingga cocok untuk berbagai
7
keperluan pertukangan. Pemanfaatan kayu jati pada insdustri kayu lapis
digunakan sebagai vinir muka karena memiliki serat gambar yang indah. Tetapi
karena sifatnya yang mudah pecah kayu ini kurang cocok untuk digunakan
sebagai bahan yang memerlukan kekenyalan tinggi seperti alat olah raga dan peti
pengepak (Atmosuseno, 1995). Daun jati dapat dimanfaatkan sebagai
pembungkus makanan, bahan pewarna tikar atau masakan (Sugiarto, 1996).
Pada waktu muda jati mempunyai akar tunggal yang tumbuh cepat dan
dalam dengan akar-akar permukaan yang banyak. Tetapi akar tunggal ini
segera bercabang sehingga merupakan berkas-berkas akar yang mendalam
(Anonim, 1976). Bunga berbentuk corong berwarna putih atau agak merah
muda. Buah bulat atau berujung runcing dengan empat ruang berisi biji
(Sugiarto, 1996).
2. Keadaan Ekologi
Tectona grandis L.F tumbuhnya paling baik di daerah-daerah rendah dan
panas di pulau Jawa teutama pada tanah-tanah rendah dan berbukit-bukit,
sifatnya agak kurus, dan kurang air, yang terdiri dari formasi tua kapur dan
mengalit. Pula terdapat pada tanah-tanah vulkanis muda (Anonim, 1976).
Selain itu tanaman ini juga tumbuh di daerah yang memiliki musim kering yang
nyata (3-5 bulan kering), curah hujan rata-rata 1.250 – 2.500 mm/tahun
dengan ketinggian kurang dari 700 m dpl dan temperatur rata-rata 22-26oC
(Khaerudin, 1994).
8
3. Perbanyakan Tanaman Secara Vegetatif dengan Stek
Sebagai salah satu perbanyakan tanaman secara Vegetatif, stek menjadi
alternatif yang banyak dipilih orang karena caranya sederhana, tidak memerlukan
teknik yang rumit sehingga dapat dilakukan oleh siapa saja. Wudianto (1988)
mendefinisikan stek sebagai suatu perlakuan pemisahan, pemotongan beberapa
bagian tanaman (akar, batang, daun dan tunas) dengan tujuan agar bagian-bagian
itu membentuk akar. Dengan dasar itu maka muncullah istilah stek akar, stek
batang, stek daun, dan sebagainya. Definisi lain dari stek adalah salah satu cara
pembiakan tanaman tanpa melalui proses penyerbukan (generatif) tetapi dengan
jalan pemotongan batang, cabang, akar muda, pucuk, atau daun dan
menumbuhkannya dalam media padat atau cair sebelum dilakukan penyapihan
(Anonim, 1995).
Tanaman yang dihasilkan dari stek biasanya mempunyai sifat persamaan
dalam umur, ukuran tinggi, ketahanan terhadap penyakit dan sifat-sifat lainnya.
Selain itu kita juga memperoleh tanaman yang sempurna yaitu tanaman yang
mempunyai akar, batang, dan daun yang relatif singkat (Wudianto, 1988).
Stek batang adalah tipe stek yang paling umum dipakai dalam bidang
kehutanan. Stek batang didefinisikan sebagai pembiakkan tanaman dengan
menggunakan bagian batang yang dipisahkan dari induknya, sehingga
menghasilkan tanaman yang sempurna. Menurut Yasman dan Smits (1988), stek
batang ini sebaiknya diambil dari bagian tanaman ortotrof sehingga diharapkan
dapat membentuk suatu batang yang pokok dan lurus keatas.
9
Keuntungan dari stek batang adalah pembiakkan ini lebih efisien jika
dibandingkan dengan cara lain karena cepat tumbuh dan penyediaan bibit dapat
dilakukan dalam jumlah yang besar. Sedangkan kesulitan yang dihadapi adalah
selang waktu penyimpanan relatif pendek antara pengambilan dan penanaman
(Wudianto, 1988).
Dengan demikian sumber bahan vegetatif haruslah dicari atau dipilih
pohon-pohon unggul dengan produksi tinggi, tahan hama dan penyakit serta
mudah penanamannya, sedangkan yang berkaitan dengan persiapan bahan stek,
Yasman dan Smits (1988) menerangkan pemotongan bagian pangkal stek
sebaiknya 1 cm dibawah buku (node) karena sifat anatomis dan penimbunan
karbohidrat yang banyak pada buku tersebut adalah lebih baik untuk perakaran
stek.
4. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pertumbuhan Stek
Terbentuknya akar pada stek merupakan indikasi keberhasilan dari stek.
Adapun hal-hal yang mempengaruhi keberhasilan pertumbuhan stek adalah
faktor lingkungan dan faktor dari dalam tanaman.
4.1. Faktor Lingkungan
Faktor lingkungan yang mempengaruhi keberhasilan pertumbuhan stek
yaitu: media perakaran, suhu, kelembaban, dan cahaya (Hartman, 1983).
Media perakaran berfungsi sebagai pendukung stek selama pembentukan
akar, memberi kelembaban pada stek, dan memudahkan penetrasi udara pada
pangkal stek. Media perakaran yang baik menurut Hartman (1983) adalah yang
dapat memberikan aerasi dan kelembaban yang cukup, berdrainase baik, serta
10
bebas dari patogen yang dapat merusak stek. Media perakaran stek yang biasa
dipergunakan adalah tanah, pasir, campuran gambut dan pasir, perlite dan
Vermikulit. Suhu perakaran optimal untuk perakaran stek berkisar antara 21oC
sampai 27oC pada pagi dan siang hari dan 15oC pada malam hari. Suhu yang
terlampau tinggi dapat mendorong perkembangan tunas melampaui
perkembangan perakaran dan meningkatkan laju transpirasi (Hartman, 1983).
4.2. Faktor Dari Dalam Tanaman
Kondisi fisiologis tanamn mempengaruhi penyetekan adalah umur bahan
stek, jenis tanaman, adanya tunas dan daun muda pada stek, persediaan bahan
makanan, dan zat pengatur tumbuh (Kramer dan Kozlowzky, 1960)
a. Umur Bahan Stek
Menurut Hartman (1983), stek yang berasal dari tanaman muda akan
lebih mudah berakar dari pada yang berasal dari tanaman tua, hal ini
disebabkan apabila umur tanaman semakin tua maka terjadi peningkatan
produksi zat-zat penghambat perakaran dan penurunan senyawa fenolik yang
berperan sebagai auksin kofaktor yang mendukung inisiasi akar pada stek.
b. Jenis Tanaman
Tidak semua jenis tanaman dapat dibiakkan dengan stek. Keberhasilan
dengan cara stek bergantung pada kesanggupan jenis tersebut untuk berakar.
Ada jenis yang mudah berakar dan ada yang sulit. Kandungan lignin yang
tinggi dan kehadiran cincin sklerenkim yang kontinyu merupakan
penghambat anatomi pada jenis-jenis sulit berakar, dengan cara menghalangi
tempat munculnya adventif (Kramer, 1960).
11
c. Adanya Tunas dan Daun Pada Stek
Adanya tunas dan daun pada stek berperan penting bagi perakaran. Bila
seluruh tunas dihilangkan maka pembentukan akar tidak terjadi sebab tunas
berfungsi sebagai auksin. Selain itu, tunas menghasilkan suatu zat berupa
auksin yang berperan dalam mendorong pembentukan akar yang dinamakan
Rhizokalin (Boulenne dan Went, 1933 dalam Hartman, 1983).
d. Persediaan Bahan Makanan
Menurut Haber (1957) persediaan bahan makanan sering dinyatakan
dengan perbandingan antara persediaan karbohidrat dan nitrogen (C/N ratio).
Ratio C/N yang tinggi sangat diperlukan untuk pembentukan akar stek yang
diambil dari tanaman dengan C/N ratio yang tinggi akan berakar lebih cepat
dan banyak dari pada tanaman dengan C/N ratio rendah.
e. Zat pengatur Tumbuh
Menurut Heddy (1991) hormon berasal dari bahasa Yunani yang artinya
menggiatkan. Hormon pada tanaman menurut batasan adalah zat yang hanya
dihasilkan oleh tanaman itu sendiri yang disebut fitohormon dan zat kimia
sintetik yang dibuat oleh ahli kimia (Kusumo, 1984).
Hormon tanaman (fitohormon) adalah “regulators” yang dihasilkan oleh
tanaman sendiri dan pada kadar rendah mengatur proses fisiologis tanaman.
Hormon biasanya mengalir di dalam tanaman dari tempat dihasilkannya ke
tempat keaktifannya (Kusumo, 1984). Salah satu hormon tumbuh yang tidak
lepas dari proses pertumbuhan dan perkembangan tanaman adalah auksin.
Thimann (1973) dalam Kusumo (1984) berpendapat bahwa hubungan antara
12
pertumbuhan dan kadar auksin adalah sama pada akar, batang dan tunas yaitu
auksin merangsang pertumbuhan pada kadar rendah, sebaliknya menghambat
pertumbuhan pada kadar tinggi. Kadar optimum hormon untuk pertumbuhan akar
jauh lebih rendah kira-kira 1.100.000 dari kadar optimum untuk pertumbuhan
batang (Kusumo, 1984).
Zat pengatur tumbuh Rootone-F termasuk dalam kelompok auksin.
Secara teknis Rootone-F sangat aktif mempercepat dan memperbanyak keluarnya
akar sehingga penyerapan air dan unsur hara tanaman akan banyak dan dapat
mengimbangi penguapan air pada bagian tanaman yang berada di atas tanah dan
secara ekonomis penggunaan Rootone-F dapat menghemat tenaga, waktu, dan
biaya (Soemarno, 1987 dalam Puttileihalat, 2001).
Cara pemberian hormon pada stek batang dapat dilakukan dengan cara
pemberian dengan perendaman, pencelupan dan tepung. Untuk metode
perendaman, konsentrasi zat pengatur tumbuh bervariasi antara 20 ppm sampai
200 ppm tergantung kemampuan jenis tersebut berakar (Hartman, 1983).
Dalam mengaplikasikan hormon perlu diperhatikan ketepatan dosis,
karena jikalau dosis terlampau tinggi bukannya memacu pertumbuhan tanaman
tetapi malah menghambat pertumbuhan tanaman dan menyebabkan keracunan
pada seluruh jaringan tanaman (Anonim, 1987).
5. Hasil Penelitian Terhadap Penggunaan Zat Pengatur Tumbuh Rootone – F
Pada Stek Untuk Beberapa Jenis Tanaman.
Beberapa hasil penelitian penggunaan zat pengatur tumbuh Rootone – F
terhadap stek menemukan pemberian Rootone – F untuk stek pucuk tanaman
13
meranti putih (Shorea asamica, Dyer) dan tanaman meranti merah (Shorea
selanica, B. L.) pada kosentrasi 75 ppm Rootone – F / stek pucuk memberikan
pertumbuhan yang lebih baik dibandingkan dengan pemberian kosentrasi 100
ppm dan 0 ppm Rootone – F / stek pucuk. Pada pemberian kosentrasi 100 ppm
Rootone – F / stek pucuk menunjukan penurunan hasil, namun masih lebih baik
dari pemberian kosentrasi 0 ppm Rootone – F / stek pucuk. Dalam penelitian ini
pemberian Rootone – F sangat efektif dengan sistim perendaman sebab
menghemat biaya, waktu dan tenaga ( Lewerissa, 1996). Dalam penelitian
lainnya untuk penggunaan Rootone – F terhadap stek batang Alstonia scholaris
R. Br. yang terbaik dicapai pada dosis 60 mg dan pada ukuran diameter stek 2,6 –
3,5 cm. Dijelaskan pula bahwa makin sedikit dosis zat pengatur tumbuh Rootone
– F yang diberikan dan makin kecil ukuran stek batang, akan menghasilkan
pertumbuhan yang kurang optimal. Metode yang digunakan adalah dengan cara
mengolesi Rootone – F yang terlebih dahulu telah dibuat dalam bentuk pasta
(Puttileihalat, 2001). Pengaruh penggunaan Rootone – F lainnya yang pernah
diteliti terhadap pertumbuhan anakan jelutung (Dyera costulata Hook F.) pada
kosentrasi berkisar dari 0 mg Rootone – F / 50 ml air (0 %) sampai 15 mg
Rootone – F / 50 ml air (30 %) dengan menggunakan metode pencelupan tidak
memberikan pengaruh yang nyata terhadap riap tinggi selama 5 bulan. Hal ini
disebabkan pemberian kosentrasi Rootone – F relatif singkat, dengan melihat
pula bahwa jelutung (Dyera costulata Hook F.) termasuk dalam jenis tanaman
yang sistim perakarannya kurang aktif dalam menyerap hormon yang diberikan
(Annonim, 1988).
III. METODOLOGI PENELITIAN
1. Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian dilaksanakan di Desa Passo Kecamatan Teluk Ambon Baguala
dari bulan Juli sampai Oktober 2003.
2. Bahan dan Alat Penelitian
2.1. Bahan
Bahan yang digunakan dalam penelitian adalah :
1. Stek batang jati (Tectona grandis L.F) yang berasal dari tunas muda yang
telah berkayu
2. Hormon tumbuh akar Rootone-F dimana Rootone – F mengandung bahan
aktif sebagai berikut :
a. 1 – Naphthaleneacematide (0,06 %)
b. 2 – Methyl – 1 – Naphthaleneacetic Acid (0,033 %)
c. 3 – Methyl – 1 – Naphthaleneacematide (0,013 %)
d. Indole – 3 – Butiryc Acid (0,057 %)
e. Thiram (Tetramethyl thiuram disulfida) (4,000 %) (Anonim, 1987).
3. Alkohol 95 % untuk melarutkan hormon Rootone-F
4. Aquades untuk dicampur dengan Rootone-F menjadi larutan
5. Fungisida Benlate untuk mencegah pertumbuhan jamur
6. Media semai stek
7. Dahan kelapa sebagai penutup tempat tumbuh
8. Bambu
15
2.2. Alat
Alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah :
1. Gunting pangkas untuk memotong bahan stek
2. Ember plastik digunakan untuk merendam stek
3. Polybag untuk tempat tumbuh, media tumbuh stek
4. Sendok untuk mengambil hormone Rootone-F
5. Gelas ukur untuk mengukur banyaknya air yang dibutuhkan untuk
melarutkan Fungisida Benlate
6. Rumah Tumbuh
7. Termometer untuk mengukur suhu dalam persemaian
8. Higrometer untuk mengukur kelembaban dalam persemaian
9. Hiter sebagai alat penyiram
10. Mistar untuk mengukur panjang akar stek
11. Oven sebagai alat untuk mengeringkan akar
12. Timbangan analitik untuk menimbang hormon dan akar yang sudah di oven
13. Alat tulis menulis
3. Rancangan Percobaan
Untuk mengetahui pengaruh dosis zat pengatur tumbuh dan diameter
bahan stek batang yang digunakan, maka rancangan percobaan yang digunakan
adalah percobaan faktorial dalam pola rancangan acak lengkap 4 x 3 dengan
5 ulangan dimana tiap-tiap ulangan terdiri atas 5 stek. Dalam percobaan ini
terdapat 12 satuan percobaan dan tiap satuan percobaan terdiri atas 25 stek.
16
Perlakuan yang digunakan adalah :
Faktor A : Konsentrasi zat pengatur tumbuh Rootone-F
a1 : Konsentrasi 0 ppm, direndam selama 2 jam
a2 : Konsentrasi 100 ppm, direndam selama 2 jam
a3 : Konsentrasi 200 ppm, direndam selama 2 jam
a4 : Konsentrasi 300 ppm, direndam selama 2 jam
Faktor B : Diameter bahan stek batang
b1 : ≤ 1,5 cm
b2 : 1,6 – 2,5 cm
b3 : 2,6 – 3,5 cm
Model umum percobaan faktorial dalam acak lengkap adalah sebagai berikut :
Yijk = μ + αi + βj + (αβ)ij + Σijk
Dimana :
Yijk : Nilai pengamatan
μ : Nilai rata-rata pengamatan
αi : Pengaruh perlakuan zat pengatur tumbuh Rootone – F taraf ke-i
βj : Pengaruh perlakuan diameter bahan stek batang taraf ke-j
(αβ)ij : Pengaruh interaksi dosis zat pengatur tumbuh Rootone – F taraf
ke-i dengan diameter bahan stek batang ke-j
Σijk : Galat percobaan
4. Parameter Yang Diukur
Parameter yang diukur dan diamati dalam penelitian ini meliputi :
17
4.1. Persen Tumbuh Tunas Dari Stek
Persen tumbuh tunas dihitung dengan membandingkan antar jumlah stek
yang menghasilkan tunas normal pada akhir penelitian dan jumlah stek yang
ditanam pada awal penelitian. Pengambilan data dilakukan pada akhir penelitian.
Jumlah Stek Penghasil Tunas
Persen tumbuh Tunas = x 100 %
Jumlah Stek Yang Ditanam
4.2. Jumlah Akar Stek
Jumlah akar stek yaitu jumlah akar terbentuk dari setiap stek
4.3. Berat Kering Akar
Berat kering akar diukur dengan menimbang akar yang dihasilkan pada
setiap stek setelah dikeringkan pada oven.
4.4. Berat Kering Tunas
Berat kering tunas diukur dengan menimbang tunas yang dihasilkan pada
setiap stek setelah dikeringkan pada oven.
5. Cara Kerja Di Lapangan
5.1. Penyiapan Tempat Tumbuh
Rumah tumbuh terbuat dari bambu dengan ukuran 3 m x 2 m, dengan
intensitas cahaya 50%. Data suhu dan kelembaban dalam tempat tumbuh dicatat
setiap hari pada pukul 07.00, 14.00 dan 17.00 WIT.
18
5.2. Penyiapan Media Tumbuh
Media yang digunakan untuk pertumbuhan stek yaitu tanah dengan
campuran pasir. Polybag yang telah berisi tanah diletakkan pada ruang tumbuh
dan disusun berurutan sesuai dengan pola acak lengkap ukuran 4 x 3. Untuk
penyesuaian terhadap lingkungan, media yang telah terisi dalam polybag
dibiarkan selama 6 hari sebelum ditanami.
5.3. Pengambilan Bahan Stek
Bahan stek yang digunakan berasal dari hutan Jati di Desa Tuhaha
kecamatan Saparua dengan diameter stek berkisar antara ≤ 1,5 – 3,5 cm.
Bagian pangkal stek dipotong miring (45o) dan permukaan bagian atas
diusahakan rata dan licin. Hal ini dimaksudkan untuk memperbesar permukaan
penyerapan air dan memberi kesempatan pertumbuhan akar yang seimbang.
Bahan stek kemudian direndam dalam larutan Benlate dengan konsentrasi
1 gram/liter selama kurang lebih 10 menit.
5.4. Penyiapan Zat Pengatur Tumbuh Rootone-F
Hormon Rootone-F dibuat dengan konsentrasi berbeda yaitu 0 ppm
(kontrol), 100 ppm, 200 ppm, dan 300 ppm. Penyiapan larutan zat pengatur
tumbuh Rootone-F adalah melarutkan bubuk Rootone-F tersebut dengan alcohol
95 % lalu ditambah air sampai menjadi 1 liter sesuai dengan konsentrasi hormon
yang diinginkan
Pembuatan konsentrasi hormon dilakukan dengan cara :
a. Konsentrasi 0 ppm (tanpa Rootone-F)
19
b. Konsentrasi 100 ppm, adalah campuran 100 mg Rootone-f dengan 1 liter air
c. Konsentrasi 200 ppm, adalah campuran 200 mg Rootone-F dengan 1 liter air
d. Konsentrasi 300 ppm, adalah campuran 300 mg Rootone-F dengan 1 liter air.
5.5. Pemberian Hormon
Stek direndam dalam hormon setinggi 2 cm dari pangkal stek selama 2 jam.
5.6. Penanaman Stek
Stek ditanam pada media yang telah disiapkan terlebih dahulu, dibuat
lubang agar penanaman stek tidak mengalami kerusakan akibat gesekan dengan
tanah. Setelah diberi zat pengatur tumbuh stek ditanam secara vertikal.
5.7. Pemeliharaan Stek
Pencegahan hama yang menyerang stek menggunakan sevin. Penyiraman
dilakukan 2 kali sehari pada pagi hari dan sore hari untuk mempertahankan
kelembaban setiap stek.
5.8. Pengamatan dan Pengukuran
Pengamatan dilakukan setiap hari, sedangkan pengukuran dilakukan satu
kali pada setiap minggu.
20
IV. HASIL PENELITIAN
1. Persen Tumbuh Tunas
Presentase tumbuh tunas dari stek batang Tectona grandis L.F selama 12
minggu yang disajikan pada Lampiran 1. menunjukan bahwa rata-rata presentase
tumbuh tunas dari Tectona grandis L.F adalah 73,33 % (220 stek berhasil tumbuh
dengan baik dari total 300 stek).
Persen tertinggi yang dicapai dalam setiap ulangan adalah 96 %, pada
tingkat konsentrasi 200 ppm dengan ukuran diameter 2.6 – 3.5 cm dan untuk
persen tumbuh terendah adalah 48 %, pada tingkat konsentrasi tanpa Rootone-F
dengan ukuran diameter 1.5 cm.
Hasil analisis sidik ragam (Lampiran 3) dari persen tumbuh tunas yang
terlebih dahulu ditransformasikan ke dalam arc. Sin % (Lampiran 2),
menunjukan bahwa pemberian zat pengatur tumbuh Rootone – F memberikan
pengaruh sangat nyata. Untuk perlakuan terhadap ukuran diameter stek juga
memberikan pengaruh sangat nyata, sedangkan interaksi antara tingkat
konsentrasi Rootone – F dan ukuran diameter stek tidak memberikan pengaruh
yang nyata terhadap persen tumbuh tunas.
Pada Tabel 1. terlihat bahwa persen tumbuh stek dengan menggunakan
konsentrasi 0 ppm tidak berbeda nyata dengan yang menggunakan konsetrasi 300
ppm Rootone – F, tetapi berbeda nyata dengan yang menggunakan konsentrasi
100 ppm dan 200 ppm. Untuk pemberian konsentrasi 100 ppm Rootone – F
memberikan hasil yang berbeda nyata terhadap penggunaan konsentrasi 200 ppm
21
dan 300 ppm. Sedangkan untuk konsentrasi 200 ppm memberikan perbedaan
nyata terhadap konsentrasi 300 ppm.
Tabel 1. Hasil Uji Beda Duncan Persen Tumbuh Tunas Pada
Berbagai Konsentrasi Zat Pengatur Tumbuh Rootone – F
Konsentrasi
Tumbuh
Zat Pengatur
Rootone – F
Rata-rata Persen
Tumbuh Tunas
a1
a2
a3
a4
(tanpa Rootone – F)
(100 ppm)
(200 ppm)
(300 ppm)
4,354 a
5,16 b
5,45 c
4,5 ad
Ket : Huruf yang berbeda memberikan perbedaan pada taraf 5 %
Tabel 2. Hasil Uji Beda Duncan Persen Tumbuh Tunas Pada
Berbagai Ukuran Diameter Stek.
Diameter Stek Rata-rata Tumbuh
Persen Tunas
b1
b2
b3
(diameter 1,5 cm)
(diameter 1,6 – 2,5 cm)
(diameter 2,6 – 3,5 cm)
4,569 a
4,89 b
5,141 b
Ket : Huruf yang berbeda memberikan perbedaan para taraf 5 %
Berdasarkan hasil yang disajikan pada Tabel 2. terlihat bahwa persen
tumbuh tunas pada stek ukuran diameter 1,5 cm berbeda nyata terhadap ukuran
diameter 1,6 – 2,5 cm dan ukuran diameter 2,6 – 3,5 cm. Dan untuk ukuran
diameter 1,6 – 2,5 cm persen tumbuh stek tidak memberikan perbedaan yang
nyata terhadap ukuran diameter 2,6 – 3,5 cm. Pengaruh kosentrasi Rootone – F
dan ukuran diameter stek terhadap persen tumbuh tunas yang dihasilkan dari stek
batang Tectona grandis L. F. selengkapnya dapat dilihat pada Gambar 1.
Gambar 1. Persen Tumbuh Tunas Stek Batang Tectona grandis L.F yang Berasal
dari Diameter < 1.5 cm, 1.6 – 2.5 cm, dan Diameter 2.6 – 3.5 cm pada
Berbagai Tingkat Konsentrasi Rootone – F
2. Jumlah Akar
Rata-rata jumlah akar yang dihasilkan dari stek mencapai 4,683 dan dalam
setiap satuan percobaan berkisar antara 2 sampai 8 (Lampiran 4).
Hasil analisis sidik ragam (Lampiran 5) menunjukan bahwa konsentrasi zat
pengatur tumbuh Rootone – F dan ukuran diameter stek, masing-masing
memberikan pengaruh yang sangat nyata pada jumlah akar yang dihasilkan dari
stek Tectona grandis L.F. Sedangkan interaksi antara konsentrasi zat pengatur
tumbuh Rootone – F dan ukuran diameter stek tidak memberikan pangaruh nyata
pada jumlah akar yang dihasilkan dari stek Tectona grandis L.F
0
20
40
60
80
100
120
0 ppm 100 ppm 200 ppm 300 ppm
Persen Tumbuh Tunas
Diameter < 1.5 cm Diameter 1.6 – 2.5 cm Diameter 2.6 – 3.5 cm
23
Tabel 3. Hasil Uji Beda Duncan Jumlah Akar Pada Berbagai
Tingkat Konsentrasi Zat Pengatur Tumbuh Rootone – F.
Konsentrasi Tumbuh Zat Pengatur
Rootone – F
Rata-rata
Jumlah Akar
a1
a2
a3
a4
(tanpa Rootone – F)
(100 ppm)
(200 ppm)
(300 ppm)
3,537 a
5,348 b
7,31 c
4,004 ad
Ket : Huruf yang berbeda memberikan perbedaan pada taraf 5 %
Berdasarkan hasil yang disajikan pada Tabel 3. terlihat bahwa jumlah akar
pada stek yang diberikan konsentrasi 0 ppm (tanpa Rootone – F) berbeda nyata
terhadap stek yang diberikan konsentrasi 100 ppm dan 200 ppm, tetapi tidak
berbeda nyata dengan stek yang diberikan konsentrasi 300 ppm Rootone – F.
Untuk stek yang diberikan konsentrasi 100 ppm Rootone – F menghasilkan
jumlah akar yang berbeda nyata terhadap stek yang diberikan konsentrasi 200
ppm dan 300 ppm. Dan untuk stek yang diberikan konsentrasi 200 ppm
menghasilkan jumlah akar yang berbeda nyata terhadap stek yang diberikan
konsentrasi 300 ppm.
Tabel 4. Hasil Uji Beda Duncan Jumlah Akar Pada Berbagai
Ukuran Diameter Stek.
Diameter Stek Rata-rata
Jumlah Akar
b1 ( ≤ 1,5 cm)
b2 ( 1,6 – 2,5 cm )
b3 (2,6 – 3,5 cm)
4,362 a
5,047 a
5,741 b
Ket : Huruf yang berbeda memberikan perbedaan pada taraf 5 %
Hasil yang disajikan pada Tabel 4. menunjukan bahwa ukuran diameter
stek ≤ 1,5 cm tidak menghasilkan jumlah akar yang berbeda nyata dengan ukuran
24
diameter stek 2,6 – 3,5 cm. Dan untuk ukuran diameter 1,6 – 2,5 cm
menghasilkan perbedaan yang nyata terhadap ukuran diameter 2,6 – 3,5 cm.
Pengaruh kosentrasi Rootone – F dan ukuran diameter stek terhadap jumlah akar
yang dihasilkan dari stek batang Tectona grandis L. F. disajikan pada gambar
berikut ini.
Gambar 2. Rata-Rata Jumlah Akar Stek Batang Tectona Grandis L.F yang
Berasal dari Diameter < 1.5 cm, 1.6 – 2.5 cm, dan Diameter 2.6 – 3.5
cm pada Berbagai Tingkat Konsentrasi Rootone – F
3. Berat Kering Akar
Berdasarkan data pada Lampiran 6. diperoleh rata-rata berat kering akar
mencapai 2,3253 mg dan untuk setiap satuan percobaan berkisar antara 1,451 –
3,520 mg.
Hasil analisis sidik ragam (Lampiran 7.) menunjukan bahwa tingkat
konsentrasi zat pengatur tumbuh Rootone – F dan ukuran diameter stek masingmasing
memberikan pengaruh yang sangat nyata terhadap berat kering akar yang
dihasilkan dari stek Tectona grandis L.F Sedangkan interaksi antara konsentrasi
0
1
2
3
4
5
6
7
8
9
0 ppm 100 ppm 200 ppm 300 ppm
Rata-rata Jumlah Akar
Diameter < 1.5 cm Diameter 1.6 – 2.5 cm Diameter 2.6 – 3.5 cm
25
zat pengatur tumbuh Rootone – F dan ukuran diameter stek tidak memberikan
pangaruh yang nyata terhadap berat kering akar stek Tectona grandis L.F.
Tabel 5. Hasil Uji Duncan Beda Berat Kering Akar Pada Berbagai
Tingkat Konsentrasi Zat Pengatur Tumbuh Rootone – F
Konsentrasi
Tumbuh Zat Pengatur Rootone – F Rata-rata
Jumlah Akar
a1
a2
a3
a4
(tanpa Rootone – F)
(100 ppm)
(200 ppm)
(300 ppm)
1,67 a
2,36 b
2,99 c
2,26 d
Ket : Huruf yang berbeda memberikan perbedaan pada taraf 5 %
Pada Tabel 5. terlihat bahwa pada keempat tingkat konsentrasi zat pengatur
tumbuh Rootone – F (0 ppm, 100 ppm, 200 ppm, 300 ppm) yang diberikan
masing-masing memberikan berat kering akar yang berbeda nyata antara tingkat
konsentrasi yang satu terhadap tingkat konsentrasi yang lainnya.
Tabel 6. Hasil Uji Beda Duncan Berat Kering Akar pada Berbagai
Ukuran Diameter Stek
Diameter Stek Rata-rata
Berat Kering Tunas
b1 ( ≤ 1,5 cm)
b2 ( 1,6 – 2,5 cm )
b3 (2,6 – 3,5 cm)
1,94 a
2,26 b
2,75 c
Ket : Huruf yang berbeda memberikan perbedaan pada taraf 5 %
Pada Tabel 6. terlihat bahwa berat kering akar yang dihasilkan dari ketiga
ukuran diameter stek batang Tectona grandis L.F ( ≤ 1,5 cm, 1,6 – 2,5 cm, 2,6 –
3,5 cm) masing-masing berbeda nyata satu terhadap yang lainnya.
26
Tabel 7. Hasil Uji Beda Duncan Berat Kering Akar Pada Berbagai
Taraf Interaksi Antara Konsentrasi Zat Pengatur
Tumbuh Rootone – F dan Ukuran Diameter Stek Batang.
Kombinasi Perlakuan Rata-rata Berat
Kering Akar
a1b1
a1b2
a4b1
a1b3
a4b2
a2b1
a2b2
a2b3
a3b1
a3b3
a4b3
a3b3
1,45
1,77
1,79
1,79
1,91
2,14
2,32
2,33
2,40
3,06
3,38
3,51
a
b
bc
c
cd
d
e
ef
g
h
i
j
Ket : Huruf yang berbeda memberikan perbedaan pada taraf 5 %
Hasil Tabel 7. memperlihatkan bahwa berat kering akar yang dihasilkan dari
perlakuan a1b1 menunjukan perbedaan yang nyata terhadap semua perlakuan yang
ada. Untuk perlakuan a1b2 menghasilkan berat kering akar yang tidak berbeda
nyata terhadap perlakuan a4b1, tetapi berbeda nyata terhadap perlakuan a1b3, a4b2,
a2b1, a2b2, a2b3, a3b1, a3b2, a4b3, dan a3b3. Untuk perlakuan a4b1 tidak berbeda
nyata terhadap perlakuan a1b3 tetapi berbeda nyata terhadap perlakuan a4b2, a2b1,
a2b2, a2b3, a3b1, a3b2, a4b3, dan a3b3. Perlakuan a1b3 menghasilkan berat kering
akar yang tidak berbeda nyata terhadap perlakuan a4b2, tetapi berbeda nyata
terhadap perlakuan a2b1, a2b2, a2b3, a3b1, a3b2, a4b3, dan a3b3. Perlakuan a4b2 tidak
berbeda nyata terhadap perlakuan a2b1, tetapi berbeda nyata terhadap perlakuan
a2b2, a2b3, a3b1, a3b2, dan a3b3. Untuk perlakuan a2b1 menghasilkan berat kering
yang berbeda nyata terhadap perlakuan a2b2, a2b3, a3b1, a3b2, a4b3, dan a3b3. Untuk
perlakuan a2b2 tidak berbeda nyata terhadap perlakuan a2b3, tetapi berbeda nyata
27
terhadap perlakuan a3b1, a3b2, a4b3, dan a3b3. Perlakuan a2b3 menghasilkan berat
kering akar berbeda nyata terhadap perlakuan a3b1, a3b2, a4b3, dan a3b3. Untuk
perlakuan a2b3 berat kering akar berbeda nyata terhadap perlakuan a3b1, a3b2, a4b3,
dan a3b3. Perlakuan a3b1 berbeda nyata terhadap perlakuan a3b2, a4b3, dan a3b3.
Untuk perlakuan a3b2 berat kering akar berbeda nyata terhadap perlakuan a4b3 dan
a3b3. Demikian pula untuk perlakuan a4b3 berat kering akar berbeda nyata
terhadap perlakuan a3b3. Pengaruh kosentrasi Rootone – F dan ukuran diameter
stek terhadap berat kering akar yang dihasilkan dari stek Tectona grandis L. F.
selengkapnya dapat dilihat pada Gambar 3.
Gambar 3. Rata-Rata Berat Kering Akar Stek Batang Tectona grandis L.F yang
Berasal dari Diameter < 1.5 cm, 1.6 – 2.5 cm, dan Diameter 2.6 – 3.5
cm pada Berbagai Tingkat Konsentrasi Rootone – F
4. Berat Kering Tunas
Rata-rata berat kering tunas yang diperoleh seberat 1,5362 mg, dan untuk
setiap satuan percobaan berkisar antara 0,676 mg sampai dengan 2,92 mg,
selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran 8.
0
0.5
1
1.5
2
2.5
3
3.5
4
0 ppm 100 ppm 200 ppm 300 ppm
Rata-rata Berat Kering Akar
Diameter < 1.5 cm Diameter 1.6 – 2.5 cm Diameter 2.6 – 3.5 cm
28
Hasil analisis sidik ragam menunjukan bahwa, pada tingkat konsentrasi zat
pengatur tumbuh Rootone – F, ukuran diameter stek dan interaksi antara
konsentrasi zat pengatur tumbuh dan ukuran diameter stek memberikan pengaruh
yang sangat nyata.
Tabel 8. Hasil Ujian Duncan Berat Kering Tunas Pada Berbagai
Tingkat Konsentrasi Zat Pengatur Tumbuh Rootone – F.
Konsentrasi
Tumbuh
Zat Pengatur
Rootone – F
Rata-rata Berat
Kering Tunas
A1
A2
A3
A4
(tanpa Rootone – F)
(100 ppm)
(200 ppm)
(300 ppm)
5,51 a
7,533 b
10,647 c
7,033 d
Ket : Huruf yang berbeda memberikan perbedaan pada taraf 5 %
Hasil Tabel 8. terlihat bahwa, berat kering tunas pada tingkat konsentrasi 0
ppm (tanpa Rootone – F) berbeda nyata dengan pada konsentrasi 100 ppm, 200
ppm dan 300 ppm. Untuk konsentrasi 300 ppm Rootone – F menghasilkan berat
kering tunas yang berbeda nyata dengan pada konsentrasi 100 ppm dan 200 ppm.
Dan untuk konsentrasi 100 ppm juga berbeda nyata terhadap konsentrasi 200
ppm.
Tabel 9. Hasil Uji Duncan Berat Kering Tunas Pada Berbagai
Ukuran Diameter Stek Batang.
Diameter Stek Rata-rata Berat
Kering Tunas
B1 ( ≤ 1,5 cm)
B2 ( 1,6 – 2,5 cm )
B3 (2,6 – 3,5 cm)
4,53
6,91
11,61
a
b
c
Ket : Huruf yang berbeda memberikan perbedaan pada taraf 5 %.
29
Berdasarkan hasil pada Tabel 9. dapat dikatakan bahwa berat kering tunas
pada stek dengan ukuran diameter 1,5 cm berbeda nyata dengan pada stek
berukuran diameter 1,6 – 2,5 cm dan 2,6 – 3,5 cm. Demikian pula untuk ukuran
diameter 1,6 – 2,5 cm menghasilkan berat kering tunas yang berbeda nyata
terhadap ukuran diameter 2,6 – 3,5 cm.
Tabel 10. Hasil Uji Duncan Berat Kering Tunas Pada Berbagai
Taraf Interaksi Antara Konsentrasi Zat Pengatur
Tumbuh Rootone – F dan Ukuran Diameter Stek Batang.
Kombinasi Perlakuan Rata-rata Berat Kering Tunas
a1b1
a1b2
a4b1
a2b1
a2b2
a3b1
a4b2
a1b3
a4b3
a3b2
a2b3
a3b3
0,676
0,784
0,854
0,944
1,034
1,15
1,386
1,846
1,98
2,318
2,542
2,92
a
ab
bc
cd
d
e
ef
g
gh
i
ij
k
Ket : Huruf yang berbeda memberikan perbedaan pada taraf 5 %
Hasil dari Tabel 10. menunjukan bahwa berat kering tunas pada perlakuan
a1b1 tidak berbeda nyata terhadap perlakuan a1b2 tetapi berbeda nyata terhadap
perlakuan a4b1, a2b1, a2b2, a3b1, a4b2, a1b3, a4b3, a3b2, a2b3, dan a3b3. Perlakuan a1b2
menghasilkan berat kering tunas yang tidak berbeda nyata perlakuan a4b1 tetapi
berbeda nyata terhadap perlakuan a2b1, a2b2, a3b1, a4b2, a1b3, a4b3, a3b2, a2b3, dan
a3b3. Selanjutnya untuk perlakuan a4b1 juga tidak berbeda nyata terhadap
30
perlakuan a2b1, tetapi berbeda nyata terhadap perlakuan a2b2, a3b1, a4b2, a1b3, a4b3,
a3b2, a2b3, a2b2, a2b3, dan a3b3. Berat kering akar yang dihasilkan perlakuan a2b2
berbeda nyata dengan perlakuan a3b1, a4b2, a1b3, a4b3, a3b2, a2b3, dan a3b3.
Sedangkan untuk perlakuan a3b1 tidak berbeda nyata terhadap perlakuan a4b2,
tetapi berbeda nyata densgan perlakuan a1b3, a4b3, a3b2, a2b3, dan a3b3. Untuk
perlakuan a4b2 berat kering tunas yang dihasilkan berbeda nyata terhadap
perlakuan a1b3, a4b3, a3b2, a2b3, dan a3b3. Berat kering tunas yang dihasilkan
perlakuan a1b3 berbeda nyata dengan pada perlakuan a4b3, tetapi tidak berbeda
nyata dengan perlakuan a3b2, a2b3, dan a3b3. Untuk perlakuan a4b3 berat kering
tunas yang dihasilkan berbeda nyata terhadap perlakuan a3b2, a2b3, dan a3b3.
Selanjutnya berat kering tunas pada perlakuan a3b2 tidak berbeda nyata terhadap
perlakuan a2b3 tetapi terhadap perlakuan a3b3 berbeda nyata. Untuk perlakuan
a2b3 berat kering tunas yang dihasilkan berbeda nyata dengan perlakuan a3b3.
Pengaruh pemberian Rootone – F dan ukuran diameter stek terhadap berat kering
tunas yang dihasilkan dari stek Tectona grandis L. F. selengkapnya dapat dilihat
pada Gambar 4.
31
Gambar 4. Rata-Rata Berat Kering Tunas Stek Batang Tectona Grandis L.F yang
berasal dari Diameter < 1.5 cm, 1.6 – 2.5 cm, dan Diameter 2.6 – 3.5
cm pada Berbagai Tingkat Konsentrasi Rootone – F
0.00
0.50
1.00
1.50
2.00
2.50
3.00
3.50
0 ppm 100 ppm 200 ppm 300 ppm
Rata-rata Berat Kering Tunas
Diameter < 1.5 cm Diameter 1.6 – 2.5 cm Diameter 2.6 – 3.5 cm
30
V. Pembahasan
1. Pengaruh Zat Pengatur Tumbuh Rootone – F
Hasil analisis data pada beberapa parameter yang diteliti, menunjukan bahwa
zat pengatur tumbuh Rootone – F berpengaruh terhadap pertumbuhan stek batang
Tectona grandis L.F. Pengaruhnya yang sangat nyata terhadap persen tumbuh tunas,
jumlah akar, berat kering akar, dan berat kering tunas mengindikasikan bahwa
pemberian Rootone – F dapat menunjang pertumbuhan dan perkembangan stek
batang Tectona grandis L.F.
Sesuai dengan fungsi dan kegunaannya bahwa zat pengatur tumbuh
Rootone – F merupakan senyawa atau zat kimia yang dalam konsentrasi rendah dapat
merangsang, menghambat atau sebaliknya menggubah proses fisiologis dalam
pertumbuhan dan perkembangan tanaman, terutama pada bagian-bagian vegetatif dari
tanaman, dimana hal ini tergantung dari tiap-tiap jenis tanaman atau sifat-sifat dari
masing-masing jenis tersebut berasal (Wareing & Philips, 1978 dalam Gadner 1991).
Janick dalam Manurung (1987), menjelaskan bahwa kemampuan bagian
vegetatif tanaman menghasilkan akar diakibatkan oleh interaksi faktor-faktor yang
melekat (inheret) pada tanaman dengan faktor lain, seperti ; zat-zat yang dapat
diangkut oleh tanaman dan diproduksi dalam kuncup yakni ; auksin, karbohidrat dan
senyawa-senyawa lainnya seperti nitrogen, vitamin, dan senyawa lainnya yang dapat
diidentifikasi. Hal ini dibuktikan dengan hasil pengamatan pada tanaman Tectona
grandis L.F dimana dengan pemberian Rootone – F dapat menghasilkan respons
berupa pembentukan dan pemanjangan sel-sel akar yang lebih cepat dan jumlah akar
yang lebih dari pada sampel tanaman jati yang tidak diberi zat pengatur tumbuh
31
Rootone – F (Tabel 3.). Pertumbuhan tanaman jati (Tectona grandis L. F.) bukan
hanya terjadi akibat faktor yang melekat pada tanaman yakni bahwa tanaman tersebut
pada umumnya dapat tumbuh secara alamiah, tetapi untuk memperoleh hasil yang
lebih baik dan cepat dari pertumbuhan juga memerlukan faktor lainnya untuk
meningkatkan kemampuan bagian vegetatif tanaman tersebut. Dalam hubungannya
dengan kemampuan bagian vegetatif tanaman untuk menghasilkan akar dan organorgan
tumbuhan lainnya, Dwijoseputro (1980) mengatakan bahwa kehadiran tunas
pada stek akan membantu proses pembentukan zat pengatur tumbuh yang kemudian
diedarkan ke bagian bawah atau basal untuk membentuk akar, akan tetapi sekalipun
suatu stek tidak mempunyai tunas pada ujungnya namun pembentukan akar dapat
terjadi dengan pemberian Rootone – F, AIA atau senyawa lainya yang sejenis dengan
itu. Untuk pembentukan akar pada stek tanaman jati (Tectona grandis L. F.)
digunakan zat pengatur tumbuh Rooone – F karena daun muda dan kuncup yang kaya
akan auksin telah dihilangkan, dengan hilangnya organ tersebut pembentukan akar
untuk stek jati (Tectona grandis L. F.) akan lama terbentuk jika tanpa melibatkan
penggunaan zat pengatur tumbun Rootone – F. Dengan pemberian Rootone – F organ
tanaman (tunas muda dan kuncup) yang tadinya dihilangkan dan berfungsi untuk
mensintesis auksin telah dipulihkan kemampuannya untuk membentuk akar dengan
baik dan cepat.
Tanaman pada umumnya dapat mensintesis hormonnya sendiri yakni auksin
endogen (Fithohormon) pada organ tertentu yang pada gilirannya berfungsi untuk
merangsang terjadinya respons pada organ lain. Namun seringkali pasokan hormon
yang secara alami ini dibawah optimal, terlebih pula untuk stek jati (Tectona grandis
32
L. F.) sangat membutuhkan tambahan hormon pengatur tumbuh yang berasal dari luar
atau hormon sintetik yakni Rootone – F untuk menghasilkan respons yang
dikehendaki. Rootone – F dan auksin endogen ( yang dihasilkan oleh organ tanaman),
bertindak secara bersama-sama untuk menggalakkan suatu respons , yaitu
pembentukan dan pemanjangan sel-sel akar. Pemberian Rootone –F merangsang
proses morfologis yaitu pembentukan kucup lateral dan pertumbuhan akar baru
digalakan pada jaringan khalus yang terbentuk pada stek. Jaringan khalus yang
terbentuk pada stek sebagai akibat respons tumbuhan terhadap pemberian Rootone –
F berfungsi untuk memacu proses diferensiasi sel pada jaringan merismatik, dimana
jaringan merismatik pada batang mengandung meristem difus yang memiliki jumlah
sel sedikit dan aktivitas selnya rendah sehingga dibutuhkan hormon eksternal
(Rootone – F) untuk pertumbuhannya. Rootone – F yang diberikan pada stek akan
bekerja secara bersama-sama dengan hormon alami yang akan diproduksi pada
tanaman untuk mempercepat pembentukan khalus. Semakin cepatnya khalus
terbentuk pada bagian potongan dasar stek tanaman, akan lebih cepatnya terbentuk
akar kerena akar akan berdiferensiasi dari khalus. Pemberian Rootone – F juga
menyebabkan munculnya akar liar di daerah ruas batang bagian bawah (Salibury &
Ross, 1995), hai ini terlihat dari hasil analisis sidik ragam terhadap jumlah akar
sesudah masa pertumbuhan 12 minggu (Lampiran 5), terlihat bahwa perlakuan zat
pengatur tumbuh Rootone – F sangat berpengaruh nyata terhadap jumlah akar.
Pengujian selanjutnya terhadap rata-rata jumlah akar (Tabel 3.), menunjukan bahwa
perlakuan terbaik adalah konsentrasi 200 ppm , dimana pada konsentrasi tersebut
menghasilkan perbedaan terhadap perlakuan konsentrasi lainnya, hal ini dikarenakan
33
pada taraf konsentrasi 200 ppm Rootone – F diduga mengandung kosentrasi auksin
yang optimal untuk memacu pertumbuhan dan perkembangan awal akar, sehingga
jumlah akar yang terbentuk lebih banyak dibandingkan dengan stek yang diberikan
konsentrasi 100 ppm Rootone – F yang dipandang kurang optimal untuk pertambahan
jumlah akar. Hal ini didukung oleh pendapat Gadner dkk, 1991 yang mengemukakan
bahwa kadar auksin yang optimal akan memacu pertumbuhan dan perkembangan
awal akar. Penelitian sebelumnya yang melibatkan penggunaan zat pengatur tumbuh
Rootone – F terhadap tanaman pulai gading (Alstonia scolaris R. Br.) dengan cara
oles menemukan pada tingkat dosis 60 mg, zat pengatur tumbuh Rootone-F
memberikan hasil yang terbaik untuk pertumbuhan dan perkembangan tunas dan akar
stek batang Alstonia scolaris R. Br. (Putileihalat, 2001). Standar optimal untuk
pengaplikasian hormon yang dianjurkan atas dasar penelitian yang telah dilakukan
pada tanaman Eucalyptus urophylla adalah 100 g untuk 670 batang stek (Anonim,
1989). Untuk itu dalam penentuan ketepatan dosis / kosentrasi dari pengaplikasian zat
pengatur tumbuh Rootone-F perlu ada pengujian sampai sejauh mana suatu ukuran
kosentrasi /dosis itu efektif dapat digunakan pada satu atau beberapa jenis tanaman
lainnya. Pendapat ini ditunjang oleh Danusastro (1974) bahwa respons tanaman atau
bagian tanaman terhadap hormon yang diberikan adalah berbeda tergantung umur,
keadaan lingkungan, tingkat perkembangan fisiologis terutama kandungan hormon
endogen dan unsur hara.
Hasil analisis keragaman berat kering akar (Lampiran 7.) sesudah masa
pertumbuhan 12 minggu, terlihat bahwa pengaruh perlakuan konsentrasi Rootone – F
sangat nyata terhadap berat kering akar. Dan untuk hasil uji beda rata-rata pada berat
34
kering akar menunjukan bahwa konsentrasi Rootone – F 200 ppm memberikan
perbedaan terhadap perlakuan konsentrasi lainnya (Tabel 5.).
Hasil analisis keragaman berat kering tunas (Lampiran 9.), setelah masa
pertumbuhan 12 minggu memperlihatkan pengaruh perlakuan konsentrasi Rootone –
F sangat nyata terhadap berat kering tunas dari stek batang Tectona grandis L.F. yang
kemudian dilanjutkan dengan hasil uji beda rata-rata berat kering tunas pada
perlakuan konsentrasi 200 ppm Rootone – F juga memberikan perbedaan terhadap
perlakuan-perlakuan lainnya.
Maka dapat dikatakan bahwa pada tingkat konsentrasi 200 ppm zat pengatur
tumbuh Rootone – F yang diberikan dapat efektif untuk pertumbuhan dan
perkembangan tunas serta akar stek batang Tectona grandis L.F.
2. Pengaruh Diameter Stek
Hasil penelitian menunjukan bahwa pengaruh perlakuan ukuran diameter stek
sangat nyata terhadap pertumbuhan dan perkembangan stek Tectona grandis L.F.
Hal ini disebabkan karena adanya hubungan yang erat antara pertumbuhan tanaman
dengan ketersediaan cadangan makanan yang ada dalam batang stek. Stek batang
yang ditanam untuk dapat membentuk organ-organ vegetatif baru pertumbuhan dan
perkembangan tanaman memerlukan pasokan energi. Pasokan energi ini yang
biasanya diperoleh dari akar, pada stek dapat diperoleh dari cadangan makanan yang
ada pada batang dikarenakan belum terbentuknya akar pada tanaman. Sehingga
semakin besarnya ukuran diameter batang stek, maka akan tersedia lebih besar
cadangan makanan untuk menjamin pertumbuhan dan perkembangan yang baik
dari stek.
35
Dari hasil penelitian pada berbagai perlakuan yang diterapkan menunjukan
bahwa untuk pertumbuhan Tectona grandis L.F pada perlakuan diameter 2,6 – 3,5 cm
merupakan perlakuan yang terbaik bila dibandingkan dengan perlakuan-perlakuan
diameter yang lain. Sehingga dapat dikatakan, bahwa pada ukuran diameter stek
2,6 – 3,5 cm memiliki ketersediaan cadangan makanan yang cukup untuk menunjang
pertumbuhan dan perkembangan stek Tectona grandis L.F. Hal ini dipertegas pula
oleh pendapat Jhiman dan Went (1930) yang mengemukakan bahwa ukuran
pertumbuhan pada tanaman mengikuti jumlah persediaan karbohidrat.
Hasil analisis keragaman persen tumbuh tunas menunjukan pengaruh sangat
nyata dari perlakuan ukuran diameter stek. Pengujian lebih lanjut pada uji beda
rata-rata persen tumbuh tunas (Tabel 2.), pada ukuran diameter 2,6 – 3,5 cm
memberikan perbedaan terhadap perlakuan ukuran diameter lainnya.
Hasil analisis keragaman jumlah akar pada perlakuan ukuran diameter stek
menunjukan pengaruh sangat nyata. Hasil pengujian beda rata-rata jumlah akar
(Tabel 4.), untuk ukuran diameter 2,6 – 3,5 cm memberikan perbedaan terhadap
perlakuan yang lain. Ini diduga disebabkan karena pada ukuran diameter 2,6 – 3,5 cm
memiliki ratio C/N yang tinggi akan dapat menghasilkan akar lebih banyak dan lebih
cepat. Hasil penelitian sebelum pada tanaman pulai gading (Alstonia scolaris R. Br.),
dengan memperhatikan ukuran diameter stek menemukan untuk ukuran diameter 2,6
– 3,5 cm memberikan hasil yang terbaik karena terdapat ketersediaan makanan yang
cukup. Ratio C/N yang tinggi didapat dari tanaman yang cukup umurnya (tidak
terlalu muda) yang menyimpan fotosintesis lebih banyak ukuran untuk mendukung
kualitas pembentukan akar. Gadner dkk (1991) pun menyatakan bahwa penyimpanan
36
hasil fotosintesa yang tertimbun pada periode tertentu berdasarkan pada umur
tanaman.
Hasil analisis keragaman berat kering akar pada perlakuan ukuran diameter stek
memberikan pengaruh sangat nyata. Hasil uji beda rata-rata berat kering akar
menunjukan bahwa perlakuan ukuran diameter 2,6 – 3,5 cm memberikan perbedaan
terhadap perlakuan lainnya. Bila dibandingkan dengan kedua perlakuan diameter
lainnya, pada ukuran diameter 2,6 – 3,5 cm lebih mempunyai kandungan cadangan
makanan yang lebih dari cukup sehingga mampu membentuk akar yang lebih baik
dalam hal kualitas dan kuantitas akar dan dapat menghasilkan berat kering akar yang
lebih dari kedua perlakuan ukuran diameter lainnya.
Hasil analisis berat kering tunas pada perlakuan ukuran diameter stek
memberikan pengaruh sangat nyata. Hasil rata-rata uji beda berat kering tunas
(Tabel 11) menunjukan bahwa untuk perlakuan ukuran diameter 2,6 – 3,5 cm
memberikan pengaruh terbaik yang terlihat dengan adanya perbedaan terhadap
perlakuan yang lain.
3. Pengaruh Interaksi Antar Perlakuan
Hasil penelitian untuk berbagai pengaruh pertumbuhan menunjukan adanya
interaksi antara berbagai tingkat perlakuan menghasilkan pengaruh sangat nyata,
terhadap pertumbuhan akar dan tunas dari stek batang Tectona grandis L.f. Pengaruh
tersebut nampak sebagai respons dari interaksi berbagai faktor yang ada, antara lain
tanaman / internal (genetik) dan faktor lingkungan (eksternal) (Gardner dkk, 1991).
Interaksi antara pemberian Rootone – F dan ukuran diameter stek batang
terhadap pertumbuhan dan perkembangan tanaman yang dinilai dari hasil berat kering
37
tunas dan akar memberikan pangaruh yang nyata yaitu pada kosentrasi 200 ppm dan
ukuran diameter 2,6 – 3,5 cm menghasilkan jumlah akar dan tunas yang lebih baik.
Keberhasilan suatu tanaman sangat tergantung kualitas dan sifat genetik dari
pohon induk. Sedangkan pertumbuhan tanaman sangat ditentukan oleh faktor
lingkungan. Faktor lingkungan yang terpenting berpengaruh terhadap pertumbuhan
tanaman adalah cahaya, suhu, kelembaban, serta unsur hara yang terkandung di
dalam tanah (media). Tectona grandis L. F. adalah jenis tanaman intoleran. Menurut
Soekotjo (1977), pertumbuhan di waktu anakan lebih cepat pada pohon yang
intoleran dari pada pohon yang toleran. Peranan penting suhu terhadap pertumbuhan
tanaman yakni pada suhu yang tinggi dapat meningkatkan respirasi, namun
sebaliknya dapat menurunkan fotosintesa. Kelembaban udara pun menentukan
pertumbuhan stek sebelum stek tersebut dapat berakar. Bila kelembaban rendah stek
akan mati, karena umumnya stek miskin dalam kandungan air sehingga stek akan
mengalami kekeringan sebelum membentuk akar (Rochiman & Harjadi, 1973).
Menurut Yasman & Smits (1989), kelembaban udara diusahakan mendekati 100 %
selama perakaran berlangsung. Rata-rata kelembaban udara pada saat penelitian
berkisar antara 84 % – 86 %, kondisi tersebut telah sesuai untuk mendukung
pertumbuhan stek batang Tectona grandis L.F.
Dengan demikian dapat dikatakan perbedaan yang nyata antara perlakuanperlakuan
tingkat dosis Rootone – F dan ukuran diameter stek, berhubungan dengan
pengaruh fisiologis tanaman itu sendiri serta pengaruh dari faktor lingkungan.
VI. PENUTUP
A. Kesimpulan
1. Pertumbuhan dari stek batang Tectona grandis L.F dipengaruhi oleh tingkat
konsentrasi Rootone – F yang diberikan , dan ukuran diameter stek yang
digunakan.
2. Pertumbuhan tunas terbaik dari stek batang Tectona grandis L.F dicapai pada
tingkat konsentrasi 200 ppm dan ukuran diameter stek yang berkisar dari
2,6 – 3,5 cm.
3. Pemberian zat pengatur tumbuh Rootone – F dengan tingkat konsentrasi
kurang dari 200 ppm dan bahkan lebih dari 200 ppm serta ukuran stek batang
kurang dari 2,6 – 3,5 cm akan menghasilkan pertumbuhan yang kurang
optimal bagi Tectona grandis L.F.
B. Saran
1. Untuk penanaman Tectona grandis L.F dalam skala besar / luas, dapat
menggunakan bibit yang berasal dari pembiakan vegetatif sebagai alternatif
perbanyakan tanaman pengganti benih, dengan melibatkan penggunaan zat
pengatur tumbuh Rootone -F pada kosontrsi 200 ppm dan ukuran diameter yan
sesuai adalah 2,6 – 3,5 cm.
2. Penggunaan zat perangsang tumbuh Rootone – F untuk mengetahui daya guna
dan hasil guna, perlu dilakukan penelitian yang lebih lanjut mengenai
dukungan faktor-faktor lain seperti unsur hara, lingkungan fisik dan biotik
yang lebih menguntungkan bagi keefektifan Rootone – F.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim, 1987. Pedoman Penggunaan Hormon Tumbuh Akar Pada Pembibitan
Beberapa Tanaman Kehutanan Departemen Kehutanan Direktorat Jenderal
Reboisasi dan Rehabilitasi Lahan.
———-, 1976. Silvikultur Khusus, Bagian Penelitian Yayasan Pembinaan Fakultas
Kehutanan Universitas Gajah Mada. Yogyakarta.
———-, 1988. Pangram Rootone – F terhadap pertumbuhan Anakan Jelutung
(Dyera costulata Hook F.) Buletin Penelitian Kehutanan – Pematang Siantar.
Arifin. A, 1994. Hutan Hakekat dan Pengaruhnya Terhadap Lingkungan. Yayasan
Obor Indonesia. Jakarta.
Atmosuseno, 1996. Kayu Komersil Penerbit Penebar Swadaya. Jakarta.
Dwijoseputro, 1980. Pengantar Fisiologi Tumbuhan PT. Gramedia Jakarta.
Hanafiah. K., 2003. Rancangan Percobaan Teori dan Aplikasi. Edisi Ketiga. Fakultas
Pertanian Universitas Sriwajaya, Palembang.
Heddy, 1991. Hormon Tumbuh. Penerbit CV. Rajawali. Jakarta.
Hartman dan Kester, 1983. Plant Propagation Principle and Practise. Prentice Hall..
Internasional Inc. Engelwoods Clifs. New Jersy. 253-341.
Gardner, Peace & Mitchell. 1991. Fisiologi Tanaman Budidaya. Universitas
Indonesia. Jakarta.
Gomez. K.C dan Gomez. A., 1995. Prosedur Statistik Untuk Penelitian Pertanian.
Edisi Kedua. Universitas Indonesia.
Kartiko. H, 1998. Membangun Hutan Tanaman Dengan Bibit Asal Pembiakan
Vegetatif. Majalah Duta Rimba No 29/Tahun XXIII/September ’98. Jakarta.
Khaerudin, 1994. Pembibitan HTI. PT Penebar Swadaya. Jakarta.
Kramer dan Kozlosky, 1960. Phisiology of Tress. Mc Graw Hill Book Co. New York
Kusumo, 1984. Zat Pengatur Tumbuh. CV Yasaguna. Jakarta.

About shiellafiollyamanda

"Wish my creation can inspire a lot of people, at least around me."
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s