No Fate, No Farewell Never Begin A Story (part 2)


No Fate, No Farewell

Never Begin A Story (part 2)

Aku pikir kisahku akan diakhiri dan berakhir di sini. Sama seperti judulnya, never begin a story. Namun ternyata prediksiku keliru, meleset. Justru … makin dimulai. Jangan buatku makin bimbang dan jengah, ya Allah. Aku, atas nama Derish Shary berjanji tak akan lagi menoleh ke arah Damos Dyeko si monster itu. Tapi kenapa betapa sulit kujalin sikapku ini. Harus kumulai darimana ? Untuk yang kedua kalinya kami dihadapkan dalam acara yang sama – sama penting di sekolah. Memeriahkan Agustus. Masih di sekitar itu, belum berubah. Aku hanya berharap penyakit gilanya itu tidak kambuh, timbul-tenggelam lagi di Gerak Jalan. Kenapa juga harus itu. Tepatnya tanggal 9 Agustus 2009, hari Minggu. Kami yang siap berjalan menggembur dengan serbuan – serbuan bala tentara pasukan pleton kami. Aku harap dia tak kan macam – macam di kelas X1 yang damai ini. Bagaimana ini ? Kenapa dia yang lagi – lagi menjadi partner team workku ? Padahal kami tak ada kecocokan aku rasa. Sekali lagi aku bermimpi buruk ! Nightmare ! Meskipun bukan pada moment Christmast, tapi tepat pada perayaan the Independent Day ! Huh, ambil napas, Derish … !!
Besok kami sudah berkumpul untuk diabsen.tapi baru permulaan saja, dia sudah cari masalah. Sebenarnya apa, sich, yang dia inginkan itu ? Karena dia satu hari pun rasanya sudah seperti satu abad saja, gerah, dehidrasi, sekaligus menjemukan. Masalahnya, ini yang kali pertama aku mengikuti sejenis gerak jalan. Mungkin dia benar. Dunia ini memang sungguh sempit dan begitu mudah dijangkau. Bayangkan, frekuensi bertemu kami dalam sehari bisa empat sampai lima kali. Bagaimana tidak kenyang aku ! Sepertinya aku bisa ikut – ikutan gila kalau begini caranya. Dan mungkin juga akan berbeda tanggapan yang keluar dari mereka yang wataknya 360◦ berbeda dari aku. Mungkin bagi mereka akan menyenangkan bertemu dengan seseorang layaknya Damos. Bukankah mereka tak perlu repot – repot minum multivitamin di pagi – pagi buta demi untuk menyegarkan badan ? kalau aku, sich, amit – amit, ya ! Ini tak akan mungkin berlaku padaku. Sebab aku kan tetap bertahan dengan prinsip dan pendiriankuku yang sekaku lidi yang telah dikumpulkan dalam satu ikatan ini. “Hi,” lagi – lagi dia menyapaku dengan nada yang sok sweet dan bodoh itu. Ak, aku tambah muak saja mendengarnya. Bosan, bosan, bosaaann … !! Kenapa sepertinya kalian semua berencana untuk mempertemukan aku kembali dengan Dam ? Agaknya kalian senang aku dalam derita begini. Sungguh sulit dipercaya ! Susah – susah payah aku menjauh, kenapa makin satu jengkal saja jarakku dengannya. Lagipula aku pun mulai tak enak hati, tak mungkin aku juga, kan, akan terus – menerus ku diamkan dia ? Sebenarnya dalam hatiku meski ku pendam seperti apa marah dan benciku ini, aku juga menaruh iba padanya. Karena dialah orang pertama yang membuatku terpesona dengan ulahnya, selain Dew, sahabat karibku yang kedua, dari Surabaya. Apa mungkin dia sudah berhasil menawan hatiku dalam perangkap tawanannya ? Oh, tidak, tak kan terjadi ! Secara physicly, bahkan tidak itu sekalipun.
Aku masih tetap seperti yang dulu. No love, love doesn’t exist for me. May be it’s called as opening of my story. Aku Derish Shary, entah apa yang membuatku penasaran dengannya. Padahal banyak di antara mereka yang berkata kalau karakteristik kami cenderung sama. Termasuk dan tidak menutup kemungkinan bundaku sendiri, teman – teman terdekatku, ah, pokoknya menyebalkan. Perasaan aku belum sempat mengenalkan Damos kepada Bunda, tetapi bagaimana bisa beliau mengetahui tentang apa yang sedang kuderita. Aku juga jarang bercerita tentangnya, Cuma pernah saja. Bundaku agaknya paham apa yang sedang menjadi dan menguras perhatianku selama ini. Oh, Bunda, kenapa selama 16 tahun menjadi putrimu ku tak juga bisa memahamimu. Aku hanya bisa berusaha yang terbaik untukmu. Andai boleh jujur terhadap perasaanku ini, Bun, mungkin aku akan lega. No mask. Tanpa topeng. Memang tak mudah ungkapan dengan hati. Tapi aku yakin, it’ll be okay soon. Mungkin dengan begitu aku akan semakin dewasa dan siap meluncur kapan saja dengan roket bermesin waktu yang memang sengaja didesign hanya untukku yang obstinate ini. Aku begitu lemah hingga mampu dikendalikan oleh segumpal darah tak berlogika ini. Apalagi kalau bukan jantung dan hati. Otakku saja masih dapat kutaklukkan. Mengapa mereka tetap juga membandel ? Mungkinkah supaya ini sebanding dengan lilin jiwaku yang mulai leleh setiap kaliku berhadapan dengannya. Oh, dasar aku sudah gila ! Penyakit gila karena cinta ! Sebentar, apa ? Cinta ? Benci yang nyata ?
“Dyeko ? Mana Dyeko ?” panggil pak Herman memandang ke arahku. Memang ada apa dengan aku ? Kenapa aku yang banyak ditanya ? Aku rasa dia sudah bisa menjaga dirinya sendiri. Tak perlu kita membayar bodyguard dan papparazi untuk mengintainya setiap hari. Apa – apaan pula itu ? Dasar ! Ataukah selama tak bertemu denganku begini kebiasaannya ? Menghilang tiba – tiba bagai dilahap bumi. Dam ! Dam ! Tapi dia belum berubah. Syukurlah ! Terkadang bila ku menengok ke arah depan dari sudut wajahnya, oval … dia nampak lugu dan naif sepertiku. Bagai peri kecil yang belum bersayap dan belum terjamah dosa. Tapi sebaliknya, bila ku melihat dari sisi belakang dari punggungnya, ku kembali menemukan sisi keburukannya. Aku kembali geram saja, aku bingung. Kedua di antara kami sulit dipahami. Mungkin he just wanna tries to give me heart, but i can’t receive that. Kenapa dia dengan begitu mudahnya mampu mengetahui suasana hatiku. Hanya aku yang masih mereka – reka seperti apa dia-sedang apa dia-bersama siapa-apa mungkin aku tahu apa yang sedang dia perbuat ? “Ehm, saya-Derish tak tahu – menahu tentang dimana Dam, Pak Her !” Aku speechless. Kembali aku sahut jawabannya. “Tapi, barusan dia ada di belakang saya, pak,” “Justru itu … maka bapak tanya padamu, Der !” “Hmm,” aku cuma bisa bergumam. “Baiklah, langsung saja kita mulai latihannya.” “Ayo kita mulai, semangat !” Pemimpin pleton kami pun, Wardhani, mulai meneriakkan yell – yellnya ! i know i can … we wanna-wanna win … SMASA is the best … we wanna-wanna win … SMASA is okay… ichi … ni … san … yon … ichi-ni-san-yon …
Sudah sejauh satu kilo kami berjalan, tapi tak nampak juga batang hidung Dam. Alah, biarlah, kenapa juga aku harus berpusing – pusing ria memikirkan ia yang sama sekali tak ada baiknya dalam my sight. Bagaimana kalau – kalau ada yang tahu aku menunggu orang serupa itu ! Ingin aku menengok ke arah barisan pleton anak putra, tapi aku tak enak hati oleh sorotan tajam puluhan pasang mata yang lain. Bagaimana aku bisa mengatasi perasaan bersalahku ini ? semoga dia tak kabur hanya gara – gara aku. Aku yang selalu menyalahkannya sebagai kambing hitam. Aku yang tak pernah bisa menyangkal bahwa waiting is wasting for people like me. Mestinya kata – kata ini dia yang lebih cocok mengucapkannya.
Di latihan hari ke 1-2-3 dia masih kucing – kucingan juga. Sampai pada hari latihan yang ke-5 dia mulai mendekatiku lagi. Aku seperti biasa yang masih risih padanya. Saat kami break dia mencoba duduk di sebelahku. But i didn’t care. Besoknya sama saja, malah lebih parah. Saat adik – adik kelas tengah bercengkrama bersamaku, eh, dia nongol lagi – nongol lagi. Sebal jadinya ! Dia berusaha memegang dan menyentuh tanganku lagi. Aku pun berusaha menolak. Idih, jorok, dech ! Itu semua bagai telah melekat padanya. Pakai acara mengajakku kencan lagi, berbisik – bisik di telingaku. Seandainya sedikit orang mungkin aku harap maklum dan masih bisa memberinya maaf. Tapi kali ini lain, kak Deka, pembinaku pun ada di sana juga tengah ngobrol – ngobrol kecil denganku. Beliau agaknya juga terus memandangi kedua tangan kami dan tersenyum. Aku jadi tak enak hati padanya. Sedang Dam terus – terusan menggodaku. I’m just waiting for a better day to talk him that i didn’t like him. Let him say so close but for me yet so far.
Tinggal besok hari kami latihan dan kami pun harus siap untuk berjuang. Minggu tanggal 9. Aku tak ada boncengan dari Sanggar Sastra ke alun – alun bekas tempat kosku dulu, di sebelah barat masjid besar. Tapi sekarang sudah selesai dibangun. Dulu masjidnya belum semegah sekarang ini. Dam, cuma satu nama yang terpikir olehku. Meskipun dia ikut pramuka juga dan PMR seperti prediksiku tapi agaknya dia cukup sulit untuk diajak membicarakan hal – hal yang mendesk dan penting seperti itu. Hingga aku pun jadi berang dan naik pitam sekaligus kewalahan. Kau tahu bagaimana aku bisa tahu nomor ponselnya ? Lewat Pramuka juga. Saat aku sedang sibuk melukis, eh, dia ada lagi. Tahu – tahu suda di depanku begitu saja. Tepat pada hari dia memberi materi pramuka kepada adik – adik didiknya pula. Dia bilang padaku untuk mentransfer dia pulsa sejumlah seribu lima ratus rupiah, tapi karena liciknya dia enam ribu pun ludes habis ke ponselnya. Pakai pinjam hpku segala lagi. Aku bingung ketika ingin pulang, takut – takut lupa menaruh hpku dimana. Ternyata dia yang bawa. Dasar ! Kurangajar sekali dia ! aku makin berang saja ! Ini baru gila, belum tergila – gila. Hingga akhirnya dia keluar dari koridor menuju ke halaman depan membawa hpku sambil tertawa terbahak – bahak melihatku yang begitu panik. Pantas, sejak tadi hatiku tak enak dan terus bilang “Don’t be panick now !” Rupanya ini rencananya.
Besok aku sudah berangkat ke depan masjid meskipun tak bersama kunyuk satu itu, Dam. Tapi aku dibonceng oleh Wardhani, pemimpin pleton kami dari putri. Dia baik, setidaknya kami pernah satu kelas sewaktu di kelas XF. Tak sia – sia di dunia ini dikenal istilah complete each other. Saling melengkapi. Ada yang tak waras seperti Dam, ada juga yang begitu realitas seperti Wardhani yang baik. Aku akui sama – sama akan diri mereka masing – masing. Setidaknya mereka sama – sama ikut dalam organisasi Pramuka. Malah aku yang anak mantan seorang pembina Pramuka SMA dan dibesarkan oleh nama Pramuka sendiri tumbang di tengah jalan. Sungguh tak terduga dan unexpected.
Kami semua ada di urutan no undian 11. urutan 20 dari regu putri dan 21 di regu putra. Dam tidak ikut berjuang dengan kami. Nyatanya dia tak pakai kaos tangan putih yang diberikan oleh sekolah. Malah asyik berfoto – foto ria dengan adik – adik kelas kami. Salah di antaranya, ada Luza. Oh, ternyata Uyas juga tidak ikut berjuang lantarn sakit. Putra juga. Kalau Uyas, dia sempat sms aku. ‘Assalamu’alaikum … sblumnx q mnt mav bt tmn” n adk”, q g bs ikt bjuang brsma klian … q hanya bs berdo’a n bri dkungn. Bjuanglah bt SMASA yg tercnt ini, ttp bedo’a, semngat, n jgn mnyrah … dgn rasa optimis, insAll SMASA past mnang … SMASA … JAYA …’ Rupanya dia pengertian dan care juga pada kami semua. Untuk itu kami berjuang. Meski baru separuh jalan aku sudah terluka karena darah kotorku mengucur, keluar lewat rongga hidungku. Baru 5 km, mimisanku ini terus saja keluar. Aku mencoba menengadah, namun tetap saja deras bagikan river … never end to flow. Ternyata itu efek dari cahaya yang keluar dari sorot lampu merah di seberang jalan. Itu mengingatkan akan traumaku ketika di X-ray dalam ruang operasi ketika aku amnesia dan tempurung kepalaku sempat bocor. Sudah lama ini tak terjadi. Kenapa juga harus terjadi padaku saat moment – moment yang tak terduga seperti ini. Sampai pada akhirnya teman – teman seperjuanganku berinisiatif untuk menukar posisinya denganku. Namanya Kai. Dia juga berkerudung. Seketika itu dia menghadap ke belakang ke arahku kemudian mengambil alih nomer dadaku yang bertuliskan angka 20 itu. Semua dari mereka yang berkerudung juga sepakat untuk memasukkan kerudungnya. Guna menyamakan denganku yang kerudung putihnya sudah mulai dirembesi oleh tetes dan kucuran darah. Sungguh merepotkan sakitku ini. Hingga memasuki 2 km terakhir ku masih juga menutupi hidungku. Padahal juri selalu berada di 2 km pertama dan terakhir menuju garis finish. Aku kena semprit terus. Setelah ku buka, mereka tampaknya shock yang juga termasuk Dam yang melihatku dengan pandangan berkaca – kaca. Tak pernah ku lihat dia semelo itu. Seperti dia merasakan pusing yang aku alami dan berat pandanganku ini. Namun kami masih ketinggalan 2 menit. Tapi tak apalah yang terpenting kami telah berusaha sekuat tenaga. Justru malah aku kasihan pada Kai. Dia banyak mendapat ocehan – ocehan miring. “Yang paling depan tengah itu tak bagus, ya, gerakannya !” Padahal niatnya tulus ingin membantuku.
Sekarang sudah bukan itu lagi yang menyita pikiranku. Pameran. Lukisanku di KDS, Kriya dan Design Sastra tanggal 10 – 11 Agustus 2009 ini. Tepatnya pada hari Senin dan Selasa. Hari pertama memang aku menyuruh Dam itu datang. Tapi dia ingkar. Padahal aku full perform saat itu. Dan karena itu hari kedua aku suruh saja dia tak datang sekalian. Dan kau tahu apa yang terjadi ? Kelasnya didiskualifikasi dari contest musikalisasi puisi. Padahal, Zizi, master of ceremonynya berasal dari kelas yang sama dengan Dam. Aku tak bisa terima alasannya kali ini kenapa dia tak dapat datang. Tapi katanya kepada teman dekatku, Trisya, dia sama sekali tak paham pesanku. Sungguh naif sekaligus munaf. Mungkin baginya itu dianggap sebagai sesuatu yang sensasional dan spektakuler. Akhir dari pameran sanggar kami mengadakan baksos dengan membagi – bagikan makanan katering dari Ros-In resto and travel agent kepada bapak – bapak yang berada di pangkalan becak di sekitar Bang Jo, sejenis rambu – rambu lalu lintas di perempatan jalan di dekat Gedung PKK, tempat kami mengadakan pameran.
Satu hari di siang bolong yang panas ini, semua peralatan sudah selesai kami bereskan di sanggar sastra. Aku berencana untuk pulang lebih awal bersama Trisya yang beralamatkan di Mantingan ini. Tapi sebelum pulang terlebih dulu aku harus ingat akan kewajibanku untuk beribadah, menunaikan shalat Dzuhur. Di mushola sekolah, aku dikerjai oleh Trisya. Aku diajak menaiki anak tangga yang biasa digunakan oleh anak putra. Mana aku curiga tempat apa itu ? Aku, kan, anak IPA. Letak ruang kelas kami di bawah. Kalau aku IPS mungkin aku tahu tempat apa ini. Dan saat aku di atas rupanya para anak – anak pramuka yang tengah ganti pakaian di sana. Gila ! Memalukan ! Kenapa juga aku harus percaya oleh gadis macam Trisya yang sudah sangat sering mengerjaiku. Padahal di sana ada kak Bulhaq juga, kakak ketua Sanggarku. Dia malah berteriak – teriak begini, “Dek Dyeko, cepat ganti pakaiannya ! Dik Derish hendak shalat !” Aduh ! Tapi akhirnya aku shalat juga namun aku lewat tangga yang berlawanan arah dengan anak tangga yang pertama aku daki. Tentu yang dilewati untuk mereka yang putri.
Segar juga setelah beribadah, mendekatkan diri kepada yang Maha Mencipta. Aku turun dari tangga. Sayang seribu sayang aku bertemu Dam di saat yang tak tepat. Dam masih menyampirkan pakaian Winscout pramuka di punggungnya yang telanjang dada itu. OMG ! Aku cuma bisa bersembunyi dan menahan napasku di belakang anak tangga itu. Aku terus berdo’a supaya dia tak melihatku. Namun, telah selesai ia mengenakan sepatu, ponselku berbunyi. Pesanku kepada kak Hariyati telah terkirim. Sial, dia jadi menoleh ke arahku. Kak Hariyati sendiri adalah ketua pimred majalah sekolah, Artesis. Aduh, ini begitu menegangkan. Dia berjalan menyerong yang semula di depan pintu halaman mendekat ke arahku. Dari kanan ke kiri hingga di depan mading Leviosa, ‘Ledakan Kreativitas XII IPA Satu,’. Dia menahanku, dan berusah untuk mendekat. Hampir – hampir penyakitnya kambuh lagi, setidaknya aku sudah menyiapkan senajataku. Agaknya dia sudah tak gentar dengan gertakan dan lototan tajam dari isyarat mataku. Kami pun face to face. Saling menghadap dan tiba – tiba benar sinyal – sinyal radarku yang menginformasikan kalau penyakit gilanya itu akan kambuh. Dia memelukku kemudian bersandar di bahu kiriku. Tolol, sakit, tahu ! Dia bersandar sambil menyanyikan potongan lagu Sephia by Sheila on 7. mungkinkah dia menganggapku sebagai kekasih gelapnya ? Bodoh ! Apa dia menikmati di atas penderitaanku yang terus mengaduh. Ku telah berusaha sekuat tenaga untuk mendorongnya yang begitu kuat 2x lipat dibanding aku sendiri. I’ve no ability. Dan ketika itu untungnya aku kembali diselamatkan oleh suara hpku yang mendadak berbunyi. Namun tak berlama – lama juga karena ku coba tuk angkat, cuma missed call. Kenapa tak lama sekalian, sich ? Ringtoneku saja belum sampai satu bait sudah berhenti. Dari Flanella, Selamat Tingga Cinta Pertama. “Tak mu-dah ungkapkan dengan ha-ti … sa-at senyum dan tangis menya-tu … tapi ini terbaik untukku dan untuk dirimu …” Kemudian ditutup begitu saja. Nampaknya dia langsung ambil serobot saja hpku. Kurangajar benar dia itu, ya ! Berapa, sich, nilai kesopanannya ! C atau D atau E ? “Waw, kau membawa hp kamera rupanya ! Bagaimana kalau kulaporkan pada pak Suji kesiswaan ?” “Kau mencoba mengancamku ?” “Ehm, kalau begitu mana fotomu ?” Sambil dia terus memilah – milah gambar apa yang sedang ia cari dalam galeri hpku. “Inikah, kau ?” “Nampaknya ?” “Ehm,” sambil mengerutkan kening ia mulai menyamakan wajahku dengan yang ada di hp. Dia tersenyum sendiri, lucu, tapi memang langka orang layaknya dia.
Setelah beberapa menit kak Bulhaq datang ke sekolah lagi, setelah mengambil sesuatu dari tempat kosnya. Kami putuskan untuk pulang bertiga, aku, kak Bulhaq, dan Trisya. Jalan ke rumah kami satu arah. Kami berencana ingin naik bis Andy’s Kencana. Namun lama juga kami menunggu di depan tukang dagang es Degan yang mangkal tidak jauh dari halaman sekolah kami. Tiba – tiba Damos datang dengan bersepeda dan berhenti di depanku. Kemudian dia berkata padaku kalau dia tengah dilanda haus. Dia menyuruhku untuk menghilangkan dahaganya. Tapi aku masa bodoh saja. Aku jenuh dia – dia saja yang aku temui. Kemudian dia tanya yang jelas – jelas dia tahu kata apa yang akan terlontar dari mulutku. “Katanya kau sayang aku, Rish ?” “Tidak, aku tak sayang kamu,” “Ow,” dia pun memiringkan bibirnya dan langsung mengepot sepeda motornya kembali ke dalam sekolah dan mengisi materi kepada adik – adik didiknya. Dam ! Kau itu ! Harus menggunakan taktik dan strategi apalagi supaya aku mampu menumbangkan usahamu mendekatiku ! Mestinya kau sudah tumbang ! Jadi aku tak perlu kerepotan begini tersita olehmu ! Dasar kau, ya !
Hah, benar juga dunia memang sempit karena aku terus – terusan menemui orang seperti dia. Terlalu kreatif ulahnya sehingga sudah sulit dibedakan antara sadar dan di luar alam tak sadar. Mungkinkah aku kasmaran ? Oh, tidak, no way ! No more ! Parahnya lagi Dam tak lain adalah sahabat pacar dari mantan teman sebangkuku dulu di keles XF Akita, Irki. Aduh, kenapa bisa begitu ! Apalagi aku juga tergolong akrab dengan Irki. Meski Irki mungkin juga belum tahu tentang hubungan HTS aku dan Damos, entah kenapa dia slalu menceritakan tentang kegilaan – kegilaan Damos padaku. Hingga suatu ketika sudah mencapai ubun – ubun dan aku pun meneriakinya, “Stooooooppp … !!! Berhenti bicara tentang Dam ! Kalau toh kau ingin bicara tentang dia, jangan di hadapanku, ku mohon !” “Why ?” “Kalau kau ingin tahu, tanyalah saja sendiri padanya ! Kau so close, kan, dengannya ?” Aku masihsaja berharap kisah kita ini segera menjadi sebuah nama dan sebuah ekplisit story. Kenapa hanya gelisah yang ku dapat dan makin memburam saja harapanku ini. Obsesiku nampaknya belum bersahabat dengan duniaku. Damos masih begitu jelas di depan mata. Padahal 1 semester lalu kami sempat empty dan vakum. Dia masih saja seperti dulu, menyapa, sok periang yang tak pernah ku tahu bagaimana aslinya ! Menyanjungku, dengan damai hatinya. Seperti aku yang masih juga sepertidulu, hanya mampu memberinya a cold welcome. Sambutan yang dingin. Mianhamnida. (korea) Maaf . . . dan terimakasih . . .

F!ow . .😉
th
August 12, 2009

BIODATA PENULIS

NAMA : SHIELLA FIOLLY AMANDA SILAEN
TTL : surabaya, 25 desember 1992
SEKOLAH : SMA NEGERI 1 NGAWI
JL. A. YANI 45 NGAWI TELP/FAX. (0351) 749089
NGAWI KODE POS : 63200
ALAMAT : JL. MAWAR O5 BARAT PASAR NGRAMBE
NGRAMBE-NGAWI-JATIM
KODE POS : 63263
E-MAIL : obstinate_shiella@yahoo.com
BLOG : http://www.obstinyfio.blogspot.com
No hp : 085790200792
No rek. Waryanto, BRI cab. Ngawi
0057.01.023808.50.9 (0057 ngawi)
*NB. Data dari Kartu Pelajar sudah termasuk dalam text.

About shiellafiollyamanda

"Wish my creation can inspire a lot of people, at least around me."
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s