Never Begin A Story (part 1)


Never Begin A Story (part 1)

Awal pertemuan kami biasa saja. Tak ada yang aneh, ataupun ganjil maupun istimewa. Dia juga terbaca biasa mimik muka serta gelagatnya, hanya tak lebih sopan dari remaja ABG yang tak pernah duduk di bangku sekolah. Dia dengan usilnya menepuk punggung teman yang tengah berada di sampingnya. Lalu menarik bajunya hingga teman di samping kanannya itu merasa risih. Akhirnya temannya itu menoleh ke arahnya dan menanyainya. “ada apa, Damos ?” Namun tampaknya ia malu – malu kucing menjawabnya. Dia tetap diam dan bungkam seribu bahasa meskipun teman di sampingnya itu terus memintanya untuk bercerita. “ah, Damos, jangan main – main kau, ya ! Aku sedang sibuk mengurusi uang tunggakan sekolahku, tahu !” Begitu celoteh temannya yang mulai risih dan naik pitam akibat ulahnya. Dan usaha temannya itu ternyata berhasil juga sebab setelah itu Damos pun angkat bicara dan mulai memandangiku. Sambil mengacungkan jari telunjuknya ke arahku dia bertanya kepada temannya itu. “Ehm, Yo, kau kenal gadis yang berkerudung itu ? Siapa namanya ? Aku penasaran, nich !” Masih mengacungkan tangannya dengan tangan di sisi kirinya yang sedang memegang helm yang bergambar racer kesayangannya, Marco Melandri, dia mengatakan kalimat – kalimat itu denga sangat pelan. “Oh, itu . . . gadis itu memang popular ! namanya DERISH … !” Terdengar suara balasan temannya yang sangat tak imbang itu. Sangat keras sekali. Wah, bisa dibayangkan bertambah malunya dia seketika itu. Damos, Damos, ada – ada saja tingkahnya ! Hingga aku saja yang berada tepat di sampingnya mendengar.
“Ada apa ? Kau memanggilku ?” begitu tanyaku yang sedikit bingung. Damos tak berkutik sama sekali, diam, diam, dan hanya diam. Namun wajahnya sedikit memerah lewat balasan temannya, Simon (dibaca : Simen). Tampan aura wajahnya begitu saja dengan sekejab langsung hilang menjadi sebuah kompor yang hendak meledup. Duaaaaaaaaaar … !!! bunyinya. Dan dia hanya bisa melototi kegilaannya kali itu. Terkesima seperti orang yang sedang menahan malu namun juga senang. Untung, Simon langsung secara blak – blakan mengenalkan kami berdua. “Ehm, begini …” sambil dia mulai berdiri menaruh helm dan dompet di sakunya yang sedikit bolong pada bagian tengahnya itu, akhirnya dia meneruskan perkataannya itu. “Derish, satu teman konyol dan bloonku ini ingin berkenalan denganmu. Dia ingin tahu siapa namamu. Dan sekarang dia sudah tahu, kan ?” “Oh, begitu …” Aku pun paham. Cahaya matanya pun hingga kini tak mampu memadangku juga. “Ehm, ehm, ehm,”agaknya dia berdeham beberapa kali. “Di-mana ru-mah-mu ?” Damos pun mulai berani dan memberanikan diri untuk menanyaiku secara langsung. “Di alun – alun,” sontak kataku itu ternyata membuatnya tertawa keras. “Apa katamu ? Di alun – alun ? apa tak aneh itu ?” “Hah, apanya yang aneh ?” “Bukankah katamu di alun – alun ? itu kan hanya lapangan biasa.” “Ya, bukan, aduh bodohnya. Maksudnya di sekitar alun – alun, bodoh !” agaknya kami sudah tidak canggung lagi begitu mulai ngobrol – ngobrol biasa. Namun aku juga belum begitu paham dengan maksud terselubungnya saat itu. Entah aku yang terlalu naif, terlalu lugu, atau karena aku yang terlalu sibuk dengan urusan belajarku. Hingga aku pun tak ada waktu untuk memikirkan yang tidak – tidak seperti kata cinta. Aku masih memandangnya sebagai lelaki ABG biasa dan tak lebih dari itu.
Seperti aku yang sama – asama masih menduduki di kelas satu SMA, kami pun masih sama – sama belajar. Namun berbeda lagi ceritanya. Saat itu aku ada perekrutan ekskul PMR (LAMERE). Dan aku ikut sebagai anggota pada saat itu. Dua minggu itu akan diadakan kemah begitulah pokoknya. Dan aku sudah menyiapkannya matang – matang sejak seminggu ini. Dari perlengkapan yang akan kami bawa hingga peralatan – peralatan yang sangat pribadi dan mendesak. Dan eh, celakanya di tengah perjalananku aku bertemu lagi dengan si Damos gila itu. Saat itu aku sedang menyimpan ember dan pisau i bawah mejaku karena waktu itu ada lomba masak tata boga begitu di bagian DU (Dapur Umum). Aku menaruhnya dan ketika aku mendongok ke atas tahu – tahu si kunyuk itu sudah cengar – cengir duduk di bangkuku. (hihihi………) seperti lutung kasarung. Rasanya sangat tak lucu tapi menyebalkan iya. “Hi … !” katanya menyapaku. Aku yang ketika itu mulai kagum juga kepadanya bisa ikut PMR. Tapi menurutku organisasi itu tak cocok sama sekali dengan kepribadiannya yang cekatan dan cerewet itu. Mungkin dia lebih pantas ikut paskibraka tonti atau pramuka semacam itu. “HI,” balasku pedas. “kok gitu, senyum dong ! Bosan, ya ! dimana – mana ada orang ganteng ?” Idih ! kepedean banget, sich, ini anak ! nyebelin, tahu ! “Kenapa ?” masih saja dia berani bertanya kenapa. Harusnya dia tahu apa maksudku. “Hah, diamlah. Dan teruskan urusanmu. Jangan ganggu aku !” “Ah, tapi aku sedang ingin bermain bersamamu.” “Apa ? Jangan gila kau, ya ! Aku tak suka berbicara dengan orang asing Alien sepertimu!” “Apa ? Tapi kan aku Damos bukan Alien !” “Apalah arti sebuah nama !” “Tapi kita kan- aku dan kamu kini satu organisasi jadi kita- kau juga akan terbiasa denganku.” “Tenang saja kau tak akan lama – lama bertemu dengaku. Karena aku tak akan tahan kalau harus satu organisasi bersamamu.” “Cantik – cantik kenapa ketus begitu, sich ! nanti cantiknya ilang, lho !” “Diamlah dan tutup mulutmu itu 1” “OK ! OK ! Redam emosimu nona !”
Esoknya eh, entah kenapa dia datang lagi. Apalagi, ya, yang akan diperbuatnya demi membuatku semakin muak kepadanya. Malah sekarang aku itu baru tahu kalau Dam itu adalah sobat karib teman sekelasku, Armylia. Sebal juga tahu akan hal ini. Kenapa harus muka tembok itu lagi, sich ! Army pun berdiri dan mengenalkanku dengan Damos. Tapi dia memanggil Damos dengan sebutan ‘Dyeko’. Katanya nama panjangnya adalah Dyeko Damos. Cukup keren. Damos masih saja menganga. Seperti serigala yang hendak melolong lebar. Dia bilang begini, “Ternyata dunia itu sempit juga, ya ?” Dia bilang pada Army kalau kami ini sudah saling kenal. Tapi kau tahu aku, aku tak lebih gembira daripada dia. Dia malahan tetap PD saja pada ceritanya yang mulai mengenalku dengan penyakit gila-nya itu. Aku tetap saja tak berusaha untuk mendengarkannya, menoleh saja tidak. Aku akui aku memang sedikit jutek orangnya kalau tidak cocok.
Sorenya, tampak keberuntunangan jug masih belum berpihak kepadaku. Aku sebal sekali. Lama – lama aku bisa gila bila terus harus berhadapan dengan orang segila Damos. Aku pun masih saja bertemu dengan dia lagi. “Hi, Derish, mau kemana ? Aku temani, ya ! Kamu, kog, di sisni ?” “Eh, ikut apa ? Volley juga, to ? Wah, wah, wah, rupanya memang dunia ini begitu kecil dan sangat mudah untuk dijangkau .” Aku pun tak lekas juga membalasnya. Hanya menatapnya dengan sinis. Dengan setengah hati, “Kenapa ? Kau suka ?” “Ha ?” sambil dia mulai bicara dia tak jug berhenti bergerak mendekatiku, menggeser arah posisi duduknya yang mulanya jauh di sebelahku menjadi begitu dekat. Sial, kenapa dia itu ? Apa dia sering menjalankan sesuatu di luar kesadarannya ? Seperti orang yang tak waras, aku makin tak mengerti saja tentang suasana hatinya. “Jangan macam – macam kau ! Aku ini pandai bela diri !” “Jiu Jitsu Dojo,” aku langsung ambil serobot saja. Aku pun rasanya segera ingin berteriak. “Tenanglah nona manis !” “Dasar …. kau itu !” “Damos !” Dia pun berhenti dan mulai tertegun memandangiku yang dia pikir selama ini aku menyukainya. Maaf saja tak seperti yang dipikirkannya. Namun aku tetap saja melototinya. Dan gilanya dia tetap mencoba untuk mendekat. Namun untungnya, temanku datang. Dyah, dia yang menyelamatkan aku ! “Rish, kog belum ganti dogi’ ? Cepat, pak Wahyu sudah menunggu !” “Iya, iya !” Aku pun langsung menuju kamar mandi dan meninggalkan si Damos Dyeko gila itu.
Lusanya, entah kenapa ada dia lagi ! Dia lagi ! Saat itu ada acara persiapan gladi bersih karnaval untuk acara pada tanggal 18 Agustus 2008. penyakit gilanya bertambah parah. Dia memberanikan diri berdiri di tengah – tengah mimbar dan meneriakkan kata bahwa dia menyukaiku. Padahal saat itu ada orang banyak. Mau ditaruh dimana mukaku ini ! Dasar, kau, ya ! tapi entah kenapa juga seperti ada perasaan yang senang dalam hatiku tapi tak berlama – lama. Karena kata teman dekatku itu dikarenakan aku hanya kagum pada keberaniannya saja untuk menyatakan perasaannya itu. Itu bukan cinta. Tapi entah kenapa juga mulutku ini tak dapat aku kendalikan, saat itu juga dia bilang, “Entah kenapa, Der, setiap kali aku melihatmu ada perasaan senang yang muncul dalam hatiku,” “Apa ?” aku pun mulai marah. Tak bisa sedikitku menahan emosiku itu. Langsung aku berkata, “Kau itu sudah tak waras !” tapi kenapa dia tak juga marah ! harusnya dia marah ! dia diam saja tapi bergerak menjauh. Dan mulai hari itu setiap dia berjumpa denganku pasti dia merangkulku dari belakang atau mencubitku. Mungkin itu caranya menyatakan perasaan anehnya itu. Sehingga tak kurang – kurang juga aku uring – uringan marah kepadanya. “Damooous … !” “Berhenti kau !” wah, nampaknya ini akan segera menjadi awal perang dunia ketiga. Aku makin – makin lebih membencinya saja. Sedangkan dia tak ada hentin – hentinya menjahiliku.
Besoknya, saat aku berangkat ke PMR sayang sekali aku terlambat. Sehingga aku tak kebagian bangku kosong sama sekali. Aku pun pindah ke ruang yang lain. Dan kau tahu, apa yang barusan aku lihat. Sesosok vampir yang tengah mencari mangsa duduk di barisan paling depan, Dam. Tapi apa mau dikata tinggal itu bangku yang tersisa. Tak mungkin juga aku menolaknya. “Derish, nona manis yang tak dapat duduk. Di sini masih ada satu tapi maukah aku menyisihkannya untukmu ?” “Ehm, setelah aku pikir – pikir boleh juga.” Kurangajar, nampaknya dia sudah memiliki trik untuk balas dndam kepadaku. “Tempatmu ini ?” “Tentu, kau bisa lihat,” “Ah, apa boleh buat,” Aku bergumam yang seketika itu mulai menempelkan pantatku di atas bangku itu. “Kenapa jauh – jauh ?” “Diamlah ! Cepat sana menulis !” “Jangan marah – marah !” dia pun menarik kursiku mendekat ke kursinya. Dia pun meletakkan kaki kanannya di lututku. Dia mulai kurangajar, penyakit gilanya kambuh lagi. Ku pun langsung menampik kakinya dengan satu gerakan dari kaki kiriku. Dia tak kapok – kapok juga terus menggerak – gerakkan kakinya. Aku makin geram saat itu. Saat itu pula perasaanku menjadi sangat tidak enak sepeti sedang ada yang mengawasiku. Rupanya tak salah dugaanku. Kami sedang diawasi olreh kak Luna, Daif, dan jug Tinka. “Ehm, ehm, ehm,” mereka terus berdeham seolah memergoki kami sedang melakukan sesutu yang amat buruk. Damos tak juga mempedulikannya. Kok ada, ya, orang gila seperti itu. Dia malahan terus menatapku yang sedang menulis materi dalam PMR kali ini. Aku merasa salah tingkah sekali. Tapi kalau aku tak suka dia kenapa juga aku haru bersikap seperti itu. Aku pun mulai menengok ke arahnya sinis. Dia malah asyik – asyik saja bersiul – siul lirih sambil bernyanyi lagu ST12 group band kesayangannya. Di sini ada aku yang cinta padamu, wo ho … itu membuatku semakin kesal. Dia pun mencoba tuk menyentuh tanganku. Tapi aku sudah keburu menghalanginya. Dia agaknya kecewa. Dan “Ehm, Ehm,” kembali kami dikagetkan dengan suara dehaman itu. “Dyeko, kalau mau pacaran bukan di sini tempatnya, di sini untuk berorganisasi,” “Kenapa kak Luna, kan tak ada salahnya, sambil menyelem minum air ?” Apa dia bilang. Itu seperti tamparan keras yang mengenai mukaku. Mulai saat itulah satu sekolah mengira aku ini memang kekasih hati dari seorang atlet sekolah. Anak sastra berpasangan dengan atlet ? Yang benar saja ! Pastilah satu sekolah menjadikan ini sebagai berita yang paling heboh. Sebab mereka semua juga tahu kalau aku itu paling susah ditaklukan. Aku bingung bagaimana menjawab danmenjelakan pada mereka tentang status palsu kami ini yang tak lebih dari kedok yang tersebunyi di balik topeng ini. Aku sangat kesal tapi sulit kembali untuk berkata – kata.
Sore ini kami keluar dari kelas. Dia menarik lenganku menepi ke dekat tiang di samping kelasnya. Setelah berhenti dia pun mulai bertanya, “Sore nanti kau ada acara tidak ?” “Ha, apa ?” “Ayolah, mana mungkin kau tak paham maksudku ?” “Apa,” “Malam nanti kita berkencan, ya ? Kita nonton Flanella,” “Ehm-aku-sudah belikan ticketnya !”agaknya dia sedikit gagap dalam mengatakannya. “Untuk-mu dan a-ku,” “Tapi aku-tak bisa,” Dia masih saja menahan lenganku. Aku kesakitan, “Nanti ku jem-put di rumahmu,” “Tapi nanti aku pulang, lepaskan aku.” Ku lihat dia tak seperti biasa. Dia bisa menunjukkan padaku kalau dia benar – benar kecewa. Ia memalingkan muka sambil menunduk. Aku menyesal juga telah mengatakan banyak kata yang membuatnya segundah dan sesedih itu. Ternyata dia selama ini tak main – main. Tapi kenapa harus aku ? maaf aku belum siap menjalani hubungan ini. Aku lebih mementingkan cita – cita tinggiku, Damos. Maafkanlah aku. Ku tahu balasannya, just too late to apologize, i say it’s too late …
Keesokan harinya saat istirahat kedua pukul 11.45, tiba –tiba ada sepasang tangan yang membekap mataku. Aku tak bisa melihat apapun. Aku kira Army temanku. Tapi Army sendiri sudah di depanku saat aku membuka mata. Lalu siapa orang ini ? Dam. “Jangan begitu, kasihan, kan, dia !” Army berkata begitu padanya. Saat itu juga aku tahu kalau itu bukan Army. Aku canggung juga di hadapannya. Dia pun mengajakku bicara. Lama – lama aku malu sendiri dengan sikapku yang telah begitu congkak. Meladeni dia yang seolah – olah akan memberi harapan. Aku tak tahan terus – menerus begini. Sudah benarkah sikapku ini ? Bagaimana aku harus menjalaninya secara normal ? Ya Allah, tolong. Buat aku bertahan dengan perasaan ini.
Petangnya dia juga sudah berdiri di pojok koridor. Dia kembali menarik lenganku seperti kebiasaan – kebiasaan sebelumnya. Memang dia itu tipe orang yang sulit ditebak. Dia itu langka. Setiap kali ada saja hal – hal konyol yang ia lakukan dan tak terpikir olehku. Dia menyodorkan tangannya seperti orang yang sedang bermaaf – maafan saat lebaran. “Ayo, kita mulai, kau tak ingin menyelamatiku ?”Sepertinya aku kenal kata – kata itu, tapi dimana ? sebentar, ayo berfikir, Derish. Dan setelah aku menemukannya aku berlaga tak paham saja. “Tapi ulang tahunku masih lama,” “Bukan, ini hari ulang tahunku. Kau tak ingin memberiku selamat ? Kau tak ingin menyalamiku ?” Aku pun masih berlaga lagi. “Tidak, ah, tak perlu, sorry,” dia masih saja menyodorkan tangannya. Mungkin dia ingin menutupi rasa kecewanya. Namun dia tak kan bisa membohongi perasaannya denganku. Karena saat itu kami sudah menemukan chemistry. Dia pun melempar senyum tipis dan tak lupa satu adatnya, dia pun mencubitku. Dan ini menandai hari terakhirku berjumpa dan berbicara dengannya. Tepat 13 Desember. Aku 25 Desember. Tahun kelahiran kami sama. Kami sama – sama desember shio monyet juga. Berarti bisa dibilang kedua di antara kami sama – sama cerdas. Hanya saja dia Sagita dan aku Carpicornus. Begitu. Sepertilah sikapku yang terus – terusan tak mampu membuka diri. Jadi begitulah personalitiku. Aku tak lebih gadis yang hanya bisa menyakiti daripada mengobati. Dan begitu pula kisahnya yang tak pernah diakhiri, jangankan memulai. Kami tak pernah memulainya. Never begin a story, even love, but just chemistry … Derish Shary dan Damos Dyeko. Never begin and wont ever begin a true . ..

F!ow . .😉
th
August 4, 2009
Biodata Penulis

NAMA : SHIELLA FIOLLY AMANDA
Ttl : surabaya, 25 desember 1992
SEKOLAH : SMA NEGERI 1 NGAWI
JL. A. YANI 45 NGAWI TELP/FAX. (0351) 749089
NGAWI KODE POS : 63200
ALAMAT : JL. MAWAR O5 BARAT PASAR NGRAMBE
NGRAMBE-NGAWI-JATIM
KODE POS : 63263
E-MAIL : obstinate_shiella@yahoo.com
BLOG : http://www.obstinyfio.blogspot.com
No hp : 081259536642
No rek. Waryanto, BRI cab. Ngawi
0057.01.023808.50.9 (0057 ngawi)
*NB. Data dari Kartu Pelajar sudah termasuk dalam text.

About shiellafiollyamanda

"Wish my creation can inspire a lot of people, at least around me."
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s