DIkAndas


DIkAndas

Senja di akhir bulan Mei, mengubah kehidupan Dika. Seorang anak yatim yang ibunya bermata pencaharaian sebagai buruh cuci keliling. Kehidupannya tak lebih baik dari seorang gelandangan yang bertempat tinggal di kolong jembatan. Ia tak melanjutkan sekolahnya semenjak ia lulus SD. Konon katanya, ketika itu ingin sekali sebenarnya ia meneruskan studinya ke bangku SMP. Namun saat pengumuman kenaikan kelas, ayahnya telah dijemput oleh Yang Maha Kuasa. Kasihan sungguh si Pribadi kecil ini. Barulah 12 tahun usianya namun ia harus memikul beban seberat ini. Mana boleh ini terjadi sementara yang lain bisa dengan sombongnya menikmati hasil jerih payah yang sebenarnya bukan upaya mereka sendiri, yang padahal mereka tak menyadarai bahwa yang mereka nikmati tak lain adalah berkat tetes darah orang tua mereka. Bahkan ada pula yang menyia – nyiakan masa pendidikannya itu dengan hal – hal yang tidak berguna seperti membolos. Baginya itu sisi hitam dari seorang anak gedongan yang sebenarnya tak mengerti dengan apa yang mereka lakukan. Tindakan mereka bisa dibilangan sangat bodoh dan lebih daripada itu, dungu.
Pagi ini, Dika yang seperti biasa membantu ibunya di tengah sulitnya kehidupan yang membelit ekonomi keluarganya ini berusaha tetap tabah menjalani kesehariannnya itu. Di samping ia tidak tega melihat kerja keras ibunya yang tak sungkan – sungkan keringatnya terus meleleh cair ketika ia sedang memeras pakaian milik tetangga samping kanan – kirinya, ia pun juga tak memiliki daya untuk melawan nasib. Sesungguhnya kalau boleh sedikit saja menyimpang , mungkin sudah dari dulu Dika lari atau mungkin ia setuju saja untuk diadopsi sewaktu ibunya, Rumbi mengalami krisis keuangan dan tidak punya pilihan untuk terus menyekolahkan Dika. Namunn kali ini nurani masih menang mengalahkan egoisme dan nafsu. Dika masih bersi keras untuk tetap mendampingi ibunya. Setelah selesai ibunya mencuci pakaian, ia langsung bergegas untuk menjemurnya. Pakaian basah yang ditaruhnya dalam sebuah keranjang yang ia tenteng dengan tangan kiri. Di bilik bambu yang panjang di belakang rumahnya ia selampirkan pakaian itu satu demi satu. Tak jemu – jemu berulang kali ia bolak – balik menjemur cuciannya itu. Pontang – panting ia berusaha mati – matian agar tubuh kecilnya mampu menopang berat pakaian basah yang ia bawa. Sebab tubuhnya yang pendek pun, terpaksa kakinya haru berjinjit – jinjit untuk meraih tali kendor yang terhubung dari bilik bambu ujung ke ujung. Yang awal mulanya terasa berat pekerjaan ini sekarang pun mulai tak dirasanya. Dika telah terbiasa menjalani rutinitas ini.
Di siang hari sekitar pukul 13.30 Dika pun sudah mulai memilah – milah pakaian yang mulai kering untuk segera disetrika. Pakaian yang kering dan malem ia sendirikan dalam ember yang berbeda. Terseok – seok kakinya berusaha menggeser posisi embernya yang beratnya 10 kali lebih berat dibandingkan ia membawa tas sekolah yang berisi begitu banyak buku yang berjejal – jejalan di dalamnya sekalipun. Tak ayal, ia sebentar – sebentar berhenti untuk meringankan capeknya. Sang ibu, Rumbi pun juga tak semata – mata beristirahat di kala Dika yang sedang bekerja. Ia tak segan – segan juga menyerobot dua ember yang bergelantungan di kedua tangan Dika dan segera melnjutkan untuk menyetrika. Itu juga kalau – kalau ibunya sedang sehat dan waras bdannya. Melihat hal itu Dika sepertinya tak bisa berbuat banyak. Ia merasa kekalahan tengah merasuki jiwanya. Bagaimana tidak, sebagai anak ia merasa tak pernah bisa membahagiakan ibunya, sebagai anak ia tak dapat menyumbang banyak untuk kesejahteraan keluarganya. Baginya ia hanya bisa diibaratkan sebagai seekor belalang yang berdiri di atas dedaunan. Sangat – sangat tidak berguna. Tapi terkadang sewaktu jiwanya sedang stabil ia mulai bisa menempatkan masalah yang ada dan ia berusaha untuk menjadi optimis.
Keesokan harinya, waktunya Dika untuk menghantarkan cucian yang telah kering para tetanggnya. Ia tak menyangka di pagi – pagi yang berkabut putih ini, ia juga harus menggantikan pekerjaan ibunya ini. Kabut yang putih semakin menyelubungi jalanan yang semakin ia melangkah ke depan pun rasanya tak sampai. Manalagi kabut tebal itu berbau menyesakkan di batang tenggorokan. Udaranya yang tercium Dika makin membuatnya lemas. Namun ia tak kan berhenti. Menyerah bukanlah dirinya. Dika merupakan sosok anak yang tegar oleh keadaan. Keadaaanlah yang mendidiknya menjadi seorang gadis belia yang berpikir dewasa. Pembawaannya yang tenang juga semakin membantunya untuk mengontrol emosi. Mungkin apabila ada mata pelajaran yang mengacu ke EQ, akan banyak yang berani bertaruh bahwa dia adalah juaranya.
Di seberang jalan ketik Dika mulai kelelahan berjalan kaki menyusuri desa untuk memberikan sisa – sisa cucian ibunya, akhirnya ia pun memutuskan untuk beristiraht sejenak. Ketika itu, ia berpapasan dengan seorang anak yang begitu berbahagia menceritakan berita kelulusannya kepada ayahnya. Hal itu tentu menambah pilu dan membuka kembali luka Dika yang padahal mulai sirna. Hatinya bagaikan tercabik – cabik oleh sebilah pisau tajam. Di benaknya berdetum – dentum suara kelulusan dengan nilai yang tinngi berada dalm genggamannya. Ingatan itu memang indah. Indah sekaligus pahit bagi dirinya. Indah karena berarti tak sia – sia usahanya dalam belajar selama ini, dan pahinya karena itu adalah kelulusan pertama yang menjadi terakhir baginya. Bisa dibilang ini membuatnya iri. Semakin dilihatnya anak sebayanya yang sedang diikutinya itu, semakin rindu pula dirinya dengan belajar. Berulang kali anak itu menoleh ke belakang karena merasa seperti ada yang membuntutinya. Namun Dika tetap acuh saja. Dan seperti tak merasa kehadirnnya itu begitu mengganggu dan ganjil di mata anak berseragam merah putih yang berada di depannya itu. Namun kali ini si anak itu memanggil Dika.
”Hai, Dirimu, yang di situ, aku perhatikan dari tadi kau terus membuntuti kami. Ada apa ?” tanyanya dengan sinis.
Dika hanya bisa berdiam diri dan menunduk seperti halnya orang yang barusan dihakimi massa karena kesalahannya.
”Kau itu siapa ? Apa kau orang jahat ? Pencuri ?” tanyanya dengan nad mengintrogasi.
Namun kedua kalinya Dika masih tetap diam dan berdiri di tempat. Dika berusaha mengalihkan perhatiannya pada cucian yang digendongnya itu, dan membolak – balik matany hanya untuk sesekali melihat ke sandalnya yang butut.
”Hei, kau itu bisu apa !” Si ana yang mulai kesal dengan sikap Dika inipun seperti ingin mengajak ribut. Gelagatnya yang menandakan ia seperti itu. Seketika itu tangannya yang menggenggam bulat hendak ditonjokkannya ke arah Dika, namun tak sampai mengenai muka Dika, Dika pun barulah menjawabnya.
”A-a-aku … Dika. Perkenalkan. ” Jawab Dika gugup. ”Kau tak perlu merasa terganggu seperti itu karena aku tak berniat menyakitimu.”
Sesekali mata anak mungil itu menjelajah melihat pakaian Dika seperti takut – takut kalu Dika memang seseorang yang jahat.
”Eh, lantas kenapa kau membuntutiku ?”
”Ehm, tidak, ini hanya kebetulan saja. Sebab kehadiranmu mengingatkanku akan sesuatu. Sesuatu yang penting dalam hidupku. Sesuatu yang seharusnya mengantarkanku ke arah yang lebih baik. Namun sayang hal itu harus terhenti karena sesuatu.” Balas Dika dengan nada yang melemah.
”Apa maksud dari perkataanmu barusan, ha? Aku tidak mengerti.”
”Dan aku pun tak perlu menceritakannya kepadamu karena ini memang masalah pribadiku.”
”Okay, baiklah. Kalau begitu kau sudah bisa, kan, untuk tidak membuntuti kami lagi ? Ehm, maksudku memandangi kami seiring kami berjalan. Untuk itu, akan aku ucapkan terimakasih.”
Begitulah kemudian gadis itu melaju pergi. Dengan lagak sombongnya yang selangit karena dia belum pernah terjatuh sama sekali. Kasihan orang – orang di sekelilingnyayang ia perlakukan seperti bukaknya itu. Melihat si ayah gadis itu, Dika pun kembali teringat pad mendiang ayahnya, Rusimin. Semasa hidupnya, ia penah berkata kepada Dika bahwasanya sesulit apapun ekonomi keluarga Dika, ayahnya akan tetap berjuang terus untuk bisa menyekolahkan Dika hingga tamat sekolah sampai perguruan tinggi. Betapa senangnya sang ayah kalau – kalau bisa melihat Dika dan menghantarkannya dalam mencapai cita – cita sesuai dengan yang diinginkan Dika. Namun Takdir berkehendak lain. Semenjak ayahnya pergi untuk mati, Dika terpaksa putus sekolah sejak saat ini……..

Namun Dika malah teringat oleh ayahnya. Pernah pula ayahnya semasa hidup berkata di kala Dika masih kecil bahwasanya sesulit apapun kondisi orang tuanya, mereka akan tetap berusaha menyekolahkannya. Dika bingung, Di samping dia melihat kondisi keluarganya yang makan setiap harinya saja sudah tidak terbayangkan betapa sulitnya orang tua mencari apalagi untuk menyisakkan. Ia juga bingung seperti apa jadinya kalau kelak ia terus bersi keras sekolah namun keluarganya semakin parah saja. Ditambah lagi dengan bebanny ketika melihat sang ibu, Rumbi yang sakit – sakitan itu. Bagaiman kalau mendadak ibunya kumat, bagaimana kalau ayahnya kerepotan mengurusinya, bagaimana pula kalau tiba – tiba rentenir mengambi rumahnya karena utang – piutang orang tuanya yang terus menumpuk dan tiada henti ! Oh, serasa pikirnya pecah, pikirannya menduduki hal terburuk dari imajinasinya itu. Dan ternyata ketakutannya yang mulanya hanya ilusi itu terjadi meskipun bukan kepada ibunya, namun malah pada ayahnya yang segar bugar itu. Rusimin, tukang sol sepatu baik hati yang hidup dengan penuh ambisi serta optimisme ini lebih dulu dipanggil oleh Yang Kuasa. Ayah yang selalu memberinya banyak hal tentang hidup, ayah yang selalu tegar meski musibah melandanya tiada henti. Ayah telah tiada !
Ibu, tinggal ibulah harta satu – satunya yang tertinggal saat ini untuk Dika. Beratap genting beralas tanah dan berdinding kajang reyot yang sudah doyong itu ia tinggal hanya berdua saja. Sekarang impiannya untuk sekolah telah tak memungkinkan lagi. Ibunya yang sakit semakin parah saja. Baginya semua ini adalah sebuah pertanda untuknya bersiap – siap was – was. Mungkin sudah suratan yang memang tertulis kepada dirinya. Tak semua tabah menjalani hidup, namun itu tak berlaku untuk Dika, tangis, rintihan, tak berarti lagi. Kini ia harus menjalani hidup ini dengan merawat ibunya. Dia berharap kehidupannya segera membaik. Ibunya lekas sembuh, ia bisa membahagiakan ibunya. Entah dengan cara yang bagaimana ! Rumbi, sang ibu pun tampaknya juga tak tega melihat buah hatinya itu bersusah payah mengurusnya, mengorbankan waktu yang seharusnya maih dilewati Dika untuk sekolah. Rumbi yang tak bisa berkutik. Seandainya saja dirinya mampu berlari, sudah pastilah ia berlari minta pertolongan kemana ia mampu.
Di masa terang ini, dirinya belum juga dapat merasakan terangnya jaman. Ketenangan batinnya yang juga telah dirampas oleh para rentenir yang tak berperikemanusiaan. Rumahnya yang tak mampu pula untuk menampung ia dan Dika. Untung dan teramatlah beruntung dirinya memiliki anak yang dikarunia keteguhan hati. Berapa kali ia mengalami musiabh yang melandanya, meski begitu semangtnya masih membara untuk membesarkan anaknyaseorang diri. Namun apa daya tangan tak sampai, Rumbi pun yang telah lam sakit, tak juga kunjung sembuh dari sakitnya. Malah kakinya lumpuh sekarang hingga sama sekali tak dapat digerakkan. Untuk makan saja, Rumbi harus menunggu untuk disuapi oleh Dika. Banyak hal yang sekrang tak bisa dialakukannya sendiri. Mandi, mencuci, memasak tentu Dikalah yang melakukannya. Melihat kondisi ibunya itu yang kian lama kian parah, Dika pun berusaha untuk bisa mengurusnya. Ia melakukan apa yang ia mampu.
Selama bekerja ia menggantikan posisi ibunya untuk mencuci keliling. Sepertinya ia tak bisa memilih. Ia merasa berhutang budi terlalu banyak pad ibunya. Ibunya yang selama ini selalu mendampinginya di kala ia sedang senang maupun berduka. Harta satu – satunya yang ia punya. Lagipula dengan mencuci pakaian keliling ia juga tak kan jauh – jauh dari ibunya. Sebab, kalau dia pergi siapa yang akan menjaganya. Saudara pun tak ada yang mau tahu tentang keadaan ibunya. Begitulah nasib orang tak punya. Sudah jatuh tertimpa tangga.
Kadang kala kalau sedang sepi, atau Dika sakit dalam sehari ibunya tak makan apa – apa. Hanya minum air putih rebusan. Itupun yang didapatnya dar tetangga yang bersimpati kepada mereka. Pernah juga Dika mengkhayal bagaimana seandainya waktu bisa kembali, mengembalikan ayahnya yang telah dilahap tanah mengembalikan kaki ibunya seperti semula, atau bahkan sewaktu ia menerima beasiswa seperti di SD seperti cita – cita yang telah lama diidam – idamkannya itu selama bertahun – tahun ? namun itu hanya khayalan semu. Tak kan mungkin kembali. Waktu tetap saja berputar meninggalkan kenangan – kenangan lara yang tersimpan rapi hingga menjdi indah di hati Dika. Kiranya Dika memohon, hanya satu pintanya, berilah ia tubuh yang kuat sehingga ia bisa melindungi ibunya dan menjaganya setiap waktu. Mungkin Dika tak pernah tahu seperti apa itu mukjizat, namun ia percaya mukjizat itu ada.
Ingin setiap saat Dika bisa mengubh sedikit keadaan seperti apa yang ia mau. Namun akan berbeda cerita pastilah apabila keinginannya atau keinginan setiap manusia di muka bumi ini selalu terkabul. Mungkin saja tak ada orang yang miskin, tak ada orang boleh, dan seluruh dunia penuh sesak dengan manusia – manusia yang berkuasa. Inilah uniknya dunia, sesuatu yang diinginkan belum tentu akan selalu kita raih dan kita peroleh secara mudah. Semuanya perlu pengorbanan, seperti halnya Dika, seorang anak yang harus meninggalkan bangku sekolahnya untuk tetap bertahan denga ibunya. Dika yang tengah berusaha untuk bis membals budi baik ibunya, serta menepati janjinya kepada sang ayah untuk bisa menjaga dirinya dengan menjalani hidup yang berarti.

About shiellafiollyamanda

"Wish my creation can inspire a lot of people, at least around me."
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s