MEMORY

This gallery contains 1 photo.


12. Formula Yoo Mi benar – benar diundang untuk makan malam dengan Tae Il. Berkat Goo Hye Sun, Yoo Mi begitu senang dan mengirimkan tas baru limited editionnya untuk Goo Hye Sun. Lewat paket jas apengiriman barang. Tae Il bahkan … Continue reading

Gallery | Tagged | Leave a comment

MEMORY

This gallery contains 2 photos.


6. Maternity Clinic Ini sudah terlalu malam untuk berpindah ke rumah eomma. Eomma Jae Hyun Oppa tentu eommaku juga. Aku sudah lama dekat dengannya. Meski awalnya eomma mengkhawatirkan hubungan kami tak akan berlangsung lama, tapi semenjak oppa yang bersikeras memperlihatnya … Continue reading

Gallery | Tagged , , , , | Leave a comment

MEMORY

This gallery contains 1 photo.


5. Table Manner Jae Hyun Oppa sudah sampai rumah  eommaku. Aku sudah hampir delapan bulan tidak bertemu dengan eomma semenjak menikah dengan Jae Hyun Oppa. Oppa awalnya tak mengijinkanku  pergi sendiri dengan usia kehamilanku yang beranjak lima bulan ini. Maka … Continue reading

Gallery | Tagged , , , , | Leave a comment

MEMORY

This gallery contains 1 photo.


4. Joyful Kepulangan kami ke Korea lima hari sebelum kami menandatangani kontrak kerja kami yang baru. Kali ini kami tak bekerja masing – masing, tapi kami akan bekerja sama dalam sebuah lebel. Dan ini pertama kalinya aku membintangi sebuah iklan … Continue reading

Gallery | Tagged , , , , | Leave a comment

MEMORY

This gallery contains 1 photo.


3. Trip Sudah sebulan galeriku berlangsung lancar. Setidaknya ada seratus dua puluh lukisan yang aku tampilkan di sana. Banyak juga para investor yang mulai melirik beberapa lukisanku. Ada yang berkomentar lukisanku itu seperti bernyawa. Suamiku juga mendukungku. Banyak hal yang … Continue reading

Gallery | Tagged , , , , | Leave a comment

MEMORY

This gallery contains 1 photo.


2. Rush Hour   “Istriku..” “Apa,” “Apa agendamu hari ini?” “Aku hanya akan mengarahkan film dan pulang pukul 23:00 malam nanti. Ada apa?” “Oh.. tidak hanya ingin memastikan saja. Kalau jadwalmu kosong ayo kita pergi menonton! Ini kan malam minggu. … Continue reading

Gallery | Tagged , , , , | 2 Comments

MEMORY

This gallery contains 1 photo.


Memory   Bulan Januari, kalau dia masih hidup dengan… Ah! Tidak, maksudku hingga saat ini mungkin saja dia sudah berumah tangga atau malah telah memiliki dua orang anak yang sebaya dengan keponakanku. Tapi aku malah menunggunya. Bahkan wajahnya terakhir kali … Continue reading

Gallery | Tagged , , , , | 4 Comments

Blossom Violethe Chapter 2 “Maroon”


“Ayo pulang?” Jae Hyun menarik tangan Hye Sun kasar. Mendapati reaksi Hye Sun yang masih tetap tak mau bergerak dari tempat yang sama semenjak kemarin sore dirinya kali pertama menemui Hye Sun, mengetahui Hye Sun tak dapat tidur semalaman pun terpaksa harus membuyarkan lamunan wanita yang masih diam-diam dikagumi selama kurang lebih 5 tahun itu.”Hey!! Bangun atau aku harus panggil noona dulu agar kau mendengarkan spiderman kecilmu ini?”

Hye Sun yang sedari tadi tak bergeming pun mulai angkat bicara karena kesal. Kesal kalau harus mengingat kejadian di bangku Sekolah Menengahnya dulu yang selalu menganggap Jae Hyun adalah anak laki-laki pahlawannya yang selalu sial. Di sekolah Jae Hyun selalu digunakan bahan olok-olokan karena pembawaannya yang polos dan periang. Selain sebagai kesayangan guru, ada satu teman anak konglomeratnya yang bernama Park Shin Hye yang selalu bersedia membelikan apapun perlengkapan belajar yang Jae Hyun minta. Aku baru ingat Jae Hyun itu adalah anak adopsi di keluarga Choi. Meski diangkat oleh keluarga yang lumayan terpandang, tapi aku setuju dengan mereka tak memanjakan Jae Hyun berlimang harta, justru mengajarinya merasakan sebagai orang biasa. Sejak kecil Paman Choi dan Bibi Moon tak pernah mengatakan perihal adopsinya terhadap Jae Hyun. Sebagai pasangan 25 tahun yang tak dikaruniai seorang pewaris keluarga, mereka memang menganggap Jae Hyun benar-benar anaknya. Mereka memperlakukan Jae Hyun amat istimewa sebagai orang yang tak memiliki ikatan darah.

Aku mendelik terhenyak mendengar celetukan Jae Hyun. “Yakh! Jangan katakan hal memalukan itu lagi!” Aku pun tak bisa mengalahkan emosiku dan mengikuti gerakan spontan yang diarahkan tubuhku untuk berlari mengejarnya. “Awas kau ya kalau aku sampai menangkapmu Jae Hyun bodoohhhh!” Teriakan kencang Hye Sun pun agaknya tak membuat Jae Hyun takut sedikit pun namun malah makin bersemangat untuk menggodanya. Hingga akhirnya Jae Hyun malang yang kelelahan pun mengarahkan tangannya menandai untuk menghentikan kegiatan konyolnya ini.

“Sudahlah! Berhenti! Aku lelah, Hye Sun-ah!” Jae Hyun berusaha mengatakan sembari mengatur nafasnya yang masih terengah-engah.

“Kenapa kau memanggilku seperti sedang bicara kepada kekasihmu?” Celetuk Hye Sun yang membuat Jae Hyun semakin tertarik untuk mendekatinya.

“Disebut apa hubungan kita ini?” Sela Jae Hyun memandangi mata Hye Sun lamat-lamat.

“Sahabat karib?”

“Kau kayin hanya itu saja? Orang-orang di luar sana mengira kira adalah couple. Apa kau tak canggung melihat mereka memandangi kita dengan tatapan skeptis dan iri?” Jae Hyun hanya menambahkan kalimat yang ada di otaknya. Memutar bola matanya dia tahu pasti pertanyaan ini membuat Hye Sun tak nyaman. Dia tahu pasti nama laki-laki yang masih dibenaknya. Jiro Wang. Kenapa harus laki-laki lain yang menarik perhatian ice princessnya ini.

“Ahahah! Kau ini sedang mengigau ya!” Jawab Hye Sun menjitak kepala Jae Hyun gemas. Lalu kemudian mengacak-acak rambut Jae Hyun.

“Apa aku ini tak boleh berandai-andai?”

“Tapi jangan pada persahabatan kita, dasar aneh!” Hye Sun menyeringai kuda lalu berusaha berdiri dari duduknya semalaman. Rasanya kaki Hye Sun kesemutan dan tak akan sanggup berjalan sejauh 500 meter menuju vila kecil di puncak bukit ini.

“Naiklah!” Perintah Jae Hyun iba melihat Hye Sun terbangun gontay lalu berjongkok di hadapannya.

“Tak usah. Aku berat.”

“Aku tidak tanya pendapatmu. Aku menyuruhmu untuk lekas naik ke punggungku. Cepat! Sebelum aku berubah pikiran dan meninggalkanmu sendirian di sini.” Sergah Jae Hyun lalu tak berapa lama Hye Sun bersedia naik ke punggungnya. “Hah!! Memang kau beraaat!” Canda Jae Hyun dengan nada yang dibuat-buat. Hye Sun lalu menepuk pundaknya.

“Kenapa kau selalu memasang wajah malaikat di hadapanku? Jangan membuatku salah pengertian terhadap perhatianmu!” Hye Sun berhenti bergeming lalu melanjutkan pertanyaan-pertanyaan yang menurutnya mengganjal di otaknya. “Jae Hyuunn, kapan kau akan mengenalkan gadis pertamamu padaku?” Jae Hyun tak menanggapi namun menoleh ke arahnya dengan pandangan seduktif. “Jae Hyuuunnn…” Panggil Hye Sun manja.

“Apa kau masih ingat besok hari apa?” Tanya Jae Hyun mengalihkan perhatian.

“Rabu,”

“Oh, seperti dugaanku. Kau pasti tak mengingatnya.”

“Apa kau terluka aku payah dalam mengingat hari itu?” Jae Hyun kembali tak menjawab.

“Datanglah ke rumahku besok malam pukul 9. Aku akan sangat kecewa saat kau tidak datang.” Pinta Jae Hyun serius.

“Ehm..”

“Sebentar lagi kita sampai. Pakailah jaketku yang aku letakkan di tas jinjingmu. Aku yakin kau tak membawa pakaian datang kemari.”

“Bagaimana kau bisa tahu?”

“Sudah berapa lama kita berteman. Tidak cuma sebulan dua bulan tapi lebih dari 10 tahun.” “Segeralah tidur. Besok aku akan menjemputmu. Kita pulang lagi ke Seoul.” Jae Hyun mengacak-acak rambut Hye Sun lalu pergi dengan melambaikan tangannya dari kejauhan.

»………..«

Jae Hyun sedari tadi tak berhenti memilah-milah kemejanya yang akan dia gunakan untuk menyambut pesta kebun di ulang tahunnya yang ke 28 tahun. Semburat merah terpancar di kedua pipinya mengingat gaun merah maroon untuk diberikan kepada Hye Sun yang sengaja dihadiahkan sang ibu yang mulai tahu kalau dirinya mengagumi sahabat karibnya itu. Jae Hyun menyuruh Hye Sun mengenakannya di hari special yang bahkan tak Hye Sun ingat sama sekali. Ibu Jae Hyun sangat mengerti bahwa putranya masih memendam perasaan cinta sekian lama terhadap Hye Sun yang juga sudah dianggapnya bak anak sendiri. Nyonya Moon pun masuk tanpa mengetuk pintu dan memegangi kedua pundak Jae Hyun.

“Pakailah apapun yang kau sukai. Putra ibu pasti tetap terlihat tampan.” Senyum Nyonya Moon merekah. “Kau sudah berikan gaun merah itu untuk Hye Sun? Setelah itu katakanlah bahwa dia orang yang special untukmu. Tak baik terus memendam perasaanmu. Dia tak akan tahu kalau kau amat menyayanginya. Perasaan seseorang itu ibarat perahu. Saat perasaan itu tak lekas kau tumpahkan maka muatan dalam perahumu itu akan menyembul tak terkendali hingga menenggelamkanmu sendiri. Jangan sampai kau menyesal didahului orang lain untuk memilikinya.” Nyonya Moon lalu keluar dari kamar Jae Hyun.

Jae Hyun pun bergeming “Ibuuuu….!”

Jae Hyun pun turun ke lantai bawah menuju pekarangan rumahnya yang sudah disett sedemikian rupa. Banyak balon transparan berbentuk hati tergantung dimana-mana. Bunga tulip dan mawar pun tak kalah meramaikan suasana malam yang romantis. Sahabat-sahabat Jae Hyun dan sepupu-sepupunya pun hadir menyalaminya dan mengangkat minumannya memberi hormat pada Jae Hyun. Acara yang dinantikan Jae Hyun begitu ramai di luar dugaannya. Namun satu hal membuatnya gusar sebab sudah hampir satu jam menuju acara utama Hye Sun belum juga memperlihatkan batang hidungnya dari sekian banyak kerumunan undangannya. Hye Sun kenapa kau tak datang? Mata Ahn Jae Hyun terus saja mencari-cari dan tak jauh beberapa meter dari tempatnya berdiri tampak seorang wanita mengenakan gaun cream panjang menjuntai tak berlengan memperlihatkan keanggunan sekaligus keseksiannya. Cantiknya tak membuat Jae Hyun bertanya-tanya namun mengapa ia tak mengenakan gaun merah maroon yang sudah disiapkan oleh ibu itu yang membuat Jae Hyun sedikit kecewa.

“Kau datang!”

“Aku sudah datang kedua kalinya. Tadi aku salah gaun. Aku bertanya pada securitymu dia bilang ini perayaan ulang tahun lalu aku mengganti pakaian chic-ku dan segera kemari membawanku kado. Terimalah. Selamat ulang tahun, Jae Hyun sahabatku.” Ucap Hye Sun lalu memeluk Jae Hyun erat.

Seperti mimpi Jae Hyun pun terdiam lalu membalas pelukan dari ice princessnya itu. “Dulu kau begitu dingin pada semuanya. Kenapa kau bisa berubah begitu cepat?”

“Itu karena kau. Perhatianmu yang menuntunku untuk merubah sisi burukku, Jae Hyun. Kita sudah bersahabat lebih dari 10 tahun. Dan aku merasa sudah banyak hal yang merubah kita entah itu secara fisik maupun psikis. Dan satu hal yang tidak akan pernah berubah. Kau adalah sahabatku yang paling baik.”

“Kemana gaunku?”

“Aku tidak membuangnya. Aku masih menyimpannya. Di saat yang tepat aku akan memakainya dan memperlihatkannya padamu.” Untuk sepersekian dekit mata mereka saling berpandangan. “Kau suka dengan hadiahku. Aku tidak ingin kau datang terlambat lagi bahkan ke kantormu, maka aku belikan jam tangan ini untukmu. Kemarikan tanganmu.” Hye Sun pun memakaikannya di tangan kiri Jae Hyun.

“Sangat ringan. Kau pintar memilih warnanya untuk kulitku.” Hye Sun pun tersenyum. “Oh, ya, kau mau bertemu ibuku? Acaranya akan segera kumulai. Awalnya aku khawatir kau tak datang dan aku pergi meninggalkan pesta begitu saja. Namun aku salah. Kau selalu datang di saat yang tak terduga. Di saat aku sudah tak mampu lagi berharap dan nyaris putus asa.”

“Shutt! Ini kan hari ulang tahunmu. Kita patut bersenang-senang.”

“Berjalanlah ke tengah saat aku membuka acaranya. Hari ini kau adalah tamu specialku.”

Hye Sun terkekeh. Jae Hyun membuka acara. Dia mennyebutkan bahwa dirinya memang sudah tak muda lagi di usia yang hendak beranjak ke kepala 3. Dan kini dirinya sudah bukan waktunya lagi untuk bermain-main dengan masa depannya. Dirinya ingin mengungkapkan perasaannya pada seseorang yang telah lama mencuri hatinya dalam hampir 1 dekade ini.

“Hye Sun-ah! Majulah ke depan untuk mendengar semua kata-kataku. Sebab aku tak bisa mengulanginya.”

“Ekkhh… Akkkuuu?” Kata Hye Sun penuh tanya. Lalu dirinya memberanikan diri untuk maju ke atas panggung yang telah disediakan Jae Hyun.

“Terima kasih untuk bersedia datang Hye Sun. Aku tak taku harus mengatakan apa atas kehadiranmu. Selama ini kau yang selalu mengawali cerita-ceritamu kepadamu, dan kau pernah bertanya kapan aku akan menceritakan kisahku dan aku rasa sekaranglah pernyataan yang tepat aku ungkapkan untukmu.” Jae Hyun pun berjongkok di di hadapan Hye Sun. “Sudikah bila kiranya kalau kita mengakhiri persahabatan kita sekarang juga?” Tanya Jae Hyun membuat Hye Sun terpelongo.

“Aku tidak bisa. Apa aku melakukan kesalahan Jae Hyun?” Kata Hye Sun hampir menangis.

“Aku memang mengakhirinya namun kita akan memulainya sebagai seorang pasangan.” Kata Jae Hyun lancar. Mata Hye Sun membelalak tercekat.

“Aku.”

“Aku tidak meminta jawabanmu hari ini. Kau bisa menjawabnya saat kau siap menjawabnya. Dan aku akan menerima apapun keputusanmu.” Lantas Jae Hyun berdiri dan mengajak Hye Sun berdansa. Musik otomatis berbunyi.

Mata Hye Sun tak henti-hentinya memandangi Jae Hyun yang tak jauh berada di hadapannya. Hye Sun sadar dirinya dan Jae Hyun bukan lagi anak remaja yang menghabiskan waktunya untuk bermain. Mereka sudah sama-sama dewasa. Dan pernyataan Jae Hyun cukup mengejutkannya hingga seperti mimpi yang klise.

“Kenapa memandangiku terus?” Kata Jae Hyun menunduk. “Apa kau keberatan mendengarkan pengakuanku? Sudah 5 tahun aku memendamnya dan aku selalu menantikan saat-saat ini. Aku yakin sekarang kau pasti sedang membenciku dan merutukiku dalam hati.”

Jae Hyun salah. Justru Hye Sun menaruh iba pada Jae Hyun mengapa dirinya rela menahan perih sekian lama berada di sampingnya. Hye Sun merasa dirinya begitu egois hanya memedulikan kisa hidupnya tanpa menghiraukan perasaan Jae Hyun. Bahkan dirinya tak bisa membaca pikiran Jae Hyun yang selalu ada di dekatnya dalam senang maupun sedih. Hye Sun merasa dirinya adalah wanita yang tolol dan tak berguna, tak peka sama sekali. Kenapa justru lelaki sebaik Jae Hyun yang tak pernah terlintas di kepalanya? Mengapa harus Jiro yang selalu bersikap cuek dan arrogant? Apa yang salah dengannya selama ini?

“Hye Sun-ah, andaikata kau tak menerimaku jangan pernah sungkan untuk menghubungiku seperti biasanya. Aku tidak akan marah kepadamu bahkan menyimpan dendam. Di sini kau selalu jadi yang utama selain kedua orangtuaku.” Jae Hyun menarik kepala Hye Sun menyandarkan di dadanya. “Karena aku tahu kau tak memiliki perasaan itu.”

Seketika opini Jae Hyun atas dirinya itu yang membuat Hye Sun sedih. Tanpa tahu mengapa hati Hye Sun kacau saat ini seperti pecahan kaca yang saling berhamburan tak tahu bagian mana yang telah terpencar. Hye Sun menumpahkan air matanya di bawah pelukan Jae Hyun. Dia ingin bicara namun semua kata-katanya tertahan di bibirnya tak mau keluar. Dia bingung. Di sisi lain Jae Hyun sudah sangat dekatnya namun dirinya tak bisa membiarkan Jae Hyun selalu menderita berada di dekatnya.

Di bawah lampu temaran dan lampion lentera-lentera yang cantik menghias justru membuat Jae Hyun dan Hye Sun tertunduk lesu. Semua undangan telah pulang dan Jae Hyun menawarkan untuk mengantar Hye Sun pulang. Mengendarai mobil baru dari hasil jerih payahnya selama ini membuat sesekali Hye Sun memuji. Hingga sesampainya di depan rumah Hye Sun yang sudah disambut oleh Ye Rin kakak wanita nomor 4 Hye Sun yang melambaikan tangannya ke arah Jae Hyun. Seraya berteriak,”Aku masuk duluan ya!” Jae Hyun tersenyum melihat tingkah Ye Rin noona.

Hye Sun pun turun dari pintu yang dibukakan Jae Hyun. Dan Jae Hyun pun berputar hendak langsung masuk ke mobil.

“Jae Hyun-ah! Terima kasih telah mengatakan yang sejujurnya untuk hari ini. Untuk sementara yang aku ingin katakan adalah..”

Jae Hyun menunggu kata-kata terakhir Hye Sun seraya menunduk.

“Jangan pernah berhenti menyukaiku.”

Jae Hyun setengah tak percaya dengan apa yang didengarnya. Dengan ragu Jae Hyun mendekati Hye Sun dan memegangi kedua pundak Hye Sun.

“Hye Sun-ah! Bisakah aku menciummu di sini?” Hye Sun pun mendongak perlahan mengikuti ke arah sumber suara. Dan Jae Hyun telah berada di posisi yang sangat lekat di hadapannya. Saat bibir mereka bersentuhan entah mengapa hati Hye Sun menuntunnya untuk menutup mata. Begitu pun dengan Jae Hyun yang membelai pipi mulus Hye Sun yang kembali dilinangi air mata. “Maafkan aku. Aku tak bisa menghindarinya, Hye Sun-ah! Maafkan aku sudah bertindak gegabah!” Ucap Jae Hyun dan menyeka air mata Hye Sun yang mulai mengering. Dia tak bisa melihat Hye Sun dengan raut muka yang berantakan. Hal ini yang membuatnya pilu. Namun lagi-lagi Hye Sun kembali menitikkan air matanya.

Posted in NOVEL | Tagged , , , , , | Leave a comment

Demi Lovato – Heart Attack


tumblr_msm2g1V5y81shng5wo4_500Puttin’ my defenses up
‘Cause I don’t wanna fall in love
If I ever did that
I think I’d have a heart attack

Never put my love out on the line
Never said “Yes” to the right guy
Never had trouble getting what I want
But when it comes to you, I’m never good enough

When I don’t care
I can play ‘em like a Ken doll
Won’t wash my hair
Then make ’em bounce like a basketball

But you make me wanna act like a girl
Paint my nails and wear high heels
Yes, you make me so nervous
That I just can’t hold your hand

You make me glow,
But I cover up
Won’t let it show,
So I’m…

Puttin’ my defenses up
‘Cause I don’t wanna fall in love
If I ever did that
I think I’d have a heart attack [3x]

Never break a sweat for the other guys
When you come around, I get paralyzed
And every time I try to be myself
It comes out wrong like a cry for help

It’s just not fair
Pain’s more trouble than love is worth
I gasp for air
It feels so good, but you know it hurts

But you make me wanna act like a girl
Paint my nails and wear perfume for you
Make me so nervous
That I just can’t hold your hand

You make me glow,
But I cover up
Won’t let it show,
So I’m…

Puttin’ my defenses up
‘Cause I don’t wanna fall in love
If I ever did that
I think I’d have a heart attack [3x]

The feelings got lost in my lungs
They’re burning, I’d rather be numb
And there’s no one else to blame (no one else)
So scared I take off and i run
I’m flying too close to the sun
And I burst into flames

You make me glow,
But I cover up
Won’t let it show,
So I’m…

Puttin’ my defenses up
‘Cause I don’t wanna fall in love
If I ever did that
I think I’d have a heart attack [5x]

Posted in SONG LYRIC | Tagged , , | Leave a comment

Keep Being You – Isyana Saraswati


isyanaI don’t want your money
Forget about that honey
I just wanna be with you

Fancy things won’t get me
Diamonds, there are plenty
But there is only one of you

Baby we could be together
Nothing but your love forever

I can be your lover
You can be my lover
I won’t need nobody but you

Just the way that you move
Shows me what you can do
I don’t need you to prove
Cause I already knew
Give me love, give me love baby
I just need your love, need your love baby
I don’t need you to prove
Just keep being you

I dont need your flowers
Just your hours
Baby you have bloomed in my heart

So many have tried to
But only you do
Make me feel like this, yes you

Baby we could be together
Nothing but your love forever

I can be your lover
You can be my lover
I won’t need nobody but you

Just the way that you move
Shows me what you can do
I don’t need you to prove
Cause I already knew
Give me love, give me love baby
I just need your love, need your love baby
I don’t need you to prove
Just keep being you

Oh darling I think that we’ve made it
I dont need anything, believe it
My heart feels rich when you’re near me
There is no emptiness

You spread your love and I can feel it
Deep in my soul
I see you’ve given me much more
Thank you for the greatest gift of all

Just the way that you move
Shows me what you can do
I don’t need you to prove
Cause I already knew
Give me love, give me love baby
I just need your love, need your love baby
I don’t need you to prove
Just keep being you
Just keep being you

Read more: http://www.wowkeren.com/lirik/isyana_sarasvati/keep-being-you.html#ixzz3daaZvX6R

Posted in SONG LYRIC | Tagged , , , , | Leave a comment

Meridians


Let’s go take a drive and think about our lives
Ayo berkendara dan berpikir tentang hidup kita

Passing through meridians of greater times
Melewati garis-garis bujur saat-saat yang luar biasa

I was on a different road
Dulu aku berada di jalan berbeda

But now I’ve found my home
Tapi kini tlah kutemukan rumahku

having lunch!!!!

having lunch!!!!

Within you
Di dalam dirimu

We can kill some time and watch movies all night
Kita bisa membunuh waktu dan menonton film sepanjang malam

Later we’ll be talking as the sky turns light
Kemudian kita kan berbincang saat langit mulai terang

Every morning I spend with you
Setiap pagi kuhabiskan bersamamu

Cause every night I love the truth
Karena setiap malam aku cinta kenyataan

Oh Woah Oh Woah Woah
Oh Woah Oh Woah Woah
Oh Woah Oh Woah Woah
Oh Woah Oh Woah Woah
The timing’s never felt so right this feeling’s unknown
Waktu tak pernah terasa begitu tepat, rasa ini tak kutahu

My love as a Meridian continues to grow
Cintaku seperti puncak terus tumbuh

Though the lights that you used to say
Meski cahaya yang dulu sering kau ucap

Would tie the laugh we make
Akan mengikat tawa yang kita buat

And now we’re creating them
Dan kini kita menciptakannya
Oh Woah Oh Woah Woah
Oh Woah Oh Woah Woah
Oh Woah Oh Woah Woah
Oh Woah Oh Woah Woah
We’re flying to another touch
Kita terbang ke sentuhan yang lain

A life’s they’ve been circled been in us
Hidup tlah dilingkarkan di dalam kita

Kiss my lips and take me there
Kecuplah bibirku dan bawa aku ke sana

To hearts I’ve heard of thoughts unreal
Ke hati yang kudengar tak nyata

You’re so unreal
Kau sungguh tak nyata
Let’s go take a drive and think about our lives
Ayo berkendara dan berpikir tentang hidup kita

Passing through meridians of greater times
Melewati garis-garis bujur saat-saat yang luar biasa

Greater Times
Saat-saat luar biasa

Greater Times
Saat-saat luar biasa
Aside | Posted on by | Tagged , , , , | Leave a comment

Analisa Program Acara TV Lokal


Dongeng Pagi “Spacetoon TV”

Dongeng Pagi adalah sebuah program acara di Spacetoon yang akan menghadirkan berbagai dongeng untuk anak-anak dalam nuansa islami. Di Acara ini, anak-anak akan dipandu oleh Kak Bimo, pembawa acara sekaligus pendongengnya.

Stasiun TV: Spacetoon BCTV Surabaya

Tanggal: 23 May 2012

Jam Tayang: setiap Senin – Jumat 04:50 WIB

Kategori: Anak-Anak

Local Program

Yang diangkat dalam program ini tidak hanya dongeng Indonesia tapi juga Dunia. Penting juga untuk kita ketahui. Ditambah lagi, tak hanya peristiwa yang berat-berat dan serius semacam sosial-politik dan ekonomi yang ditayangkan. Tapi juga tentang berbagai peristiwa yang menyangkut perkembangan di bidang ilmu pengetahuan, teknologi,seni, sastra, kebudayaan, dan film serta berbagai peristiwa-peristiwa penting yang patut untuk kita ketahui.

Dongeng Pagi adalah sebuah program magazine dokumenter talk show  berdurasi 30 menit, yang dibuat oleh Divisi News Spacetoon TV. Program ini mengangkat berbagai peristiwa dalam dongeng, baik yang terjadi di Indonesia maupun di negara-negara lain, berdasarkan tanggal kejadiannya. Selalu ada peristiwa yang patut diangkat untuk setiap tanggal di kalender, meskipun dengan tahun kejadian yang berbeda-beda.

Diupayakan, penyajian kisah-kisah itu bersifat utuh, bukan sekadar kaleidoskop. Hal ini karena sebuah peristiwa pada dasarnya tidaklah terjadi dalam ruang vakum, tetapi terjadi dalam konteks situasi tertentu. Peristiwa itu pastilah juga tidak berdiri sendiri, tetapi terkait dengan peristiwa-peristiwa lain.

Yang diangkat di program Dongeng Pagi bukan cuma peristiwa yang “berat” dan “serius,” seperti peristiwa sosial-politik dan ekonomi. Tetapi bisa juga peristiwa yang menyangkut perkembangan di bidang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, kebudayaan, sastra, dan film. Selain itu, bisa juga peristiwa yang mengandung drama kemanusiaan, seperti bencana alam tsunami, gempa bumi, kecelakaan pesawat terbang, tenggelamnya kapal penumpang, dan sebagainya.

Perbedaan Dongeng Pagi dengan program dokumenter Lainnya, adalah Lainnya mengangkat person atau individu yang muncul dalam sejarah. Seperti: tokoh Soekarno, Hatta, Soeharto, Nelson Mandela, Che Guevara, Bunda Teresa, Imelda Marcos, Barack Obama, David Beckham, Rudy Hartono, dan sebagainya.
Dongeng Pagi , judul itu sengaja dipilih sesuai dengan perkembangan jaman dan teknologi yang sudah semakin maju. Kak Bimo yang atraktif dan kocak, Dongeng Pagi dapat dijadikan tontonan alternative yang mendidik khususnya bagi anak–anak.

Memberikan pendidikan kepada anak-anak tidak hanya melalui sekolah formal, melalui program Dongeng Pagi hal-hal yang sebenarnya sulit dipahami dapat disampaikan dengan penjelasan yang sederhana, menarik dan lugas sehingga lebih mudah dipahami bahkan pertanyaan anak yang terkadang sulit dijawab oleh orang tua. Program ini menyajikan tayangan yang mencerdaskan dan menghibur untuk anak dan keluarga seperti perkenalan tentang benda, ensiklopedi, permainan daerah, kerajinan tangan dan uji ilmiah yang berkaitan dengan benda tersebut misalnya uji coba mengapa roda bundar (hukum aksi dan reaksi), sejarah dan proses pembuatan lampu dan bagaimana cara menyalakan lampu dengan kincir air yang dihubungkan dengan dynamo bermagnet (konsep perubahan energi).

Dongeng Pagi merupakan program yang tidak saja menyajikan hiburan tapi juga tayangan yang mendidik bagi pemirsa. Maka saksikan Dongeng Pagi hanya di KOMPAS TV BCTV.

SCIENCE IS FUN “KOMPAS TV-BCTV”

Presenter : Abu Marlo

Stasiun TV:  Kompas TV- BCTV

Tanggal: 28 May 2012

Jam Tayang: Senin – Jumat pkl.17.30 WIB

Kategori: Wisata, Anak-Anak

Local Program

BC-TV sebagai TV-bisnis menampilkan salah satu program acara edutainment  Kompas TV- BCTV bertajuk Science is Fun. Memiliki rasa keingintahuan yang cukup besar. Anak-anak bisa mengikuti adegan apa saja yang disaksikan tanpa memikirkan dampak buruk. Anak-anak dan remaja akan sangat mudah terinspirasi dari tayangan yang disaksikan.

Sekarang saatnya bermain asyik sambil menambah ilmu pengetahuan! Bersama Kak Abu Marlo dan Kak Joe Sandy dalam program SCIENCE IS FUN adik-adik akan diajak melakukan eksperimen ilmiah yang seru dan mengasyikkan. Dalam SCIENCE IS FUN, eksperimen ilmiah dikemas semenarik mungkin karena sains bukanlah hal yang membosankan. Bahan-bahannya juga mudah didapatkan di lingkungan, sehingga adik-adik di rumah bisa ikut mencoba bereksperimen lho..! Sesekali Kak Abu Marlo dan Kak Joe Sandy akan memberikan bonus pertunjukkan sulap lho…. semakin seru kan? Bukan hanya itu, ternyata banyak trik-trik sulap yang juga dapat dijelaskan dengan sains. Kalian penasaran? Jangan lewatkan SCIENCE IS FUN setiap Senin – Jumat pkl.17.30 WIB di Kompas TV Inspirasi Indonesia.

Science is Fun menyajikan berbagai liputan yang bisa menambah wawasan dan pengetahuan anak-anak tentang berbagai hal. Selain itu, acara Science is Fun juga bisa memberikan pendidikan moral yang baik terhadap anak-anak.

Talk Show

Program talk show adalah program yang menampilkan pembicara, biasanya lebih dari satu orang, untuk membahas suatu thema atau topik tertentu. Program dengan format talk show biasanya dipandu oleh seorang moderator. Agar program talk show dapat menarik perhatian audience maka pembicara yang terlibat di dalam program harus memiliki latar belakang yang berlainan, pro dan kontra, terhadap topik yang dibahas. Dan dalam program ini Science is Fun mampu meleading untuk acara Talk Show yang intraksional dan mendidik.

Demo

program berbentuk demo adalah program experimen, masak memasak atau membuat kue dan tip otomotif. Program demo biasanya membahas resep atau cara yang dipraktekan secara procedural – tahap demi tahap. Melalui program berbentuk demo, pemirsa dapat mempelajari dan menerapkan suatu keterampilan (skill). Nah, dalam hal ini Science is Fun mampu meleading untuk acara Demo yang komunikastif dan interaktif.

Features

Features merupakan program yang berisi segmen-segmen yang dikemas dalam bentuk penyajian yang bervariasi. Sebuah program berbentuk features biasanya membahas suatu topik yang menarik dengan menggunakan beberapa bentuk penyajian atau pendekatan program. Nah, dalam hal ini Science is Fun mampu meleading untuk acara Features yang edukatif.

Tayangan Program Petualangan dan Ensiklopedia

Menyaksikan program acara televisi yang bersifat penjelajahan dan petualangan ke berbagai daerah sangat menambah wawasan pengetahuan bagi penonton. Para remaja sangat baik jika disuguhi tayangan petualangan yang akan membuka wawasan dan meningkatkan motivasi dirinya untuk maju. Petualangan yang bersifat penjelajahan alam, wisata budaya maupun wirausaha akan memberikan dorongan positif bagi yang menyaksikan tayangan tersebut.

Posted in PENGANTAR | Tagged , | 2 Comments

GOD GAVE ME YOU


Soo Ji pergi berbelanja ke sebuah minimarket yang tak jauh dari rumahnya, tanpa sadar dirinya tengah melihat Hyo Joo dan Jae Joong yang tengah bergandengan tangan. Apa yang tengah terjadi ? apa dunia sudah terbalik. Mereka yang biasanya tak pernah akur namun kini terlihat sekali pemandangan yang cukup kontras. Di luar kaca ada juga Bong Gul  yang entah sedari kapan sudah berdiri di sana. Sepertinya dirinya sedang menunggu taxi datang. Melihat gelagatnya sepertrinya ada yang aneh dengan semua ini ? apa mereka bertiga ada hubungannya ? tapi apa ? hah ! sudahlah, Soo Ji tak mau terlalu sulit untuk memikirkan ini. yang dia tahu toh kalaupun mereka bertiga benar – benar berhubungan pasti tentu akan ada kabar untuk meresmikan hubungannya. Tak mungkin dirinya yang sebagai teman dekat tak diberitahu. Soo ji pun kembali melangkah maju untuk mendorong trolynya membawa belanjaannya ke mesin cashier.

“Berapa semua ?” setelah menunggu cukup lama pun akhirnya sang  cashier menjawab ramah.

“367.000. apakah anda punya kartu pelanggan ?” tanya cashier lagi.

“O, tidak. Ini pakai kartu kreditku saja.” jawab Soo Ji sambil sesekali mengendarkan pandangannya untuk melihat apakah Bong Gul masih terlihat di depan minimarket. Namun sayang sekali sosok Bong Gul telah menghilang dari pandangan matanya. Sial.

“Eh, terima kasih.”

“Sama – sama. Nona.” “selamat siang, selamat datang di Myung Wangja minimarket.”

Soo Ji pun mencari – cari kemana perginya Bong Gul. Namun dirinya masihj kalah cepat dengan waktu yang telah membuat Bong Gul naik ke taxinya sebelum ditemui ioleh Soo Ji. Ah, padahal ada beberapa hal yang ingin Soo Ji tanyakan. Ya sudahlah, terpaksa Soo Ji kembali dengan wajah yang cemberut. Namun toh semuanya juga tidak akan membantu. Dirinya pun mengurungkan niatannya untuk bertanya apakah Bong Gul tahu tentang hubungan Jae Joong dan Hyo Joo tadi yang dirinya lihat tengah bergandengan tangan di minimarket.

ღღღ

Orang Tua Sukkie sedang berkendara menuju ke Busan. Sepertinya mereka mulai luluh semenjak 6 bulan kepergian Sukkie tanpa kata – kata itu dari rumah. Tak banyak memang perubahan yang terjadi, namun rasanya agak sedikit janggal saja apabila Sukkie tak ada di rumah. Rumah serasa sepi. Tak ada lagi orang yang mengeluh, tak ada lagi kerepotan untuk mengurus kamar Sukkie yang selalu berantakan di siang hari. Dan pastinya tak ada juga banyak alasan untuk menolah dijodohkan. Namun tak berarti juga ini membuat orang tua Sukkie justru bahagia senang, terutama Nyonya Sun Ae Ni. Kalau ayah Sukkie, dirinya terlihat tetap cool dan banyak bergeming mengenai hal ini. dan sepertinya beliau bahkan telah mencium berita pernikahan Sukkie dengan Shin Hye jauh – jauh hari dan terlebih lama sebelum itu dirinya sudah memprediksi hal itu. Terang saja, sikap Sukkie yang ekad diturunkan dari ayahnya.

“Kita tidak ingin mampir dulu ke sebuah kedai ? Aku rasanya haus.” Kata Jang Il Suk bertanya pada istrinya yang tengah menemaninya duduk di samping selagi dirinya berkonsentrasi untuk menyetir.

“Tidak. Kalau kau haus kita bisa membelinya di Busan saja. bukankah sepuluh menit lagi juga sampai ?”

“Aku dengar dari Jae Joong Sukkie akan segera pindah ke Jepang bersama istrinya paska wisudanya.”

“Lalu ?”

“Apa kau tidak keberatan ?” lirik ke samping.

“Aku rasa dirinya tak pernah meminta pendapat kita sebelumnya. Jadi akan mengannggap hal ini sebagai hal biasa, dan tak perlu menanggapinya serius.”

“Jadi kau menyetujuinya. Kalau aku masih ragu dengan secara umurnya yang masih membuatnya labil. Dia masih terlalu muda untuk ini.” sanggah Il Suk.

“Tapi dia merasa yakin. Kita dukung saja apa yang dirasa terbaik untuknya.” Jawab Ae Ni.

“Kau sudah merestui mereka ?”

“Sepertinya aku harus merestuinya demi bisa merangkul Sukkie lagi ?”

“Oh, jangan bilang kalau kau terpaksa melakukannya.”

“Sudahlah, setir saja.” marah Ibu Sukkie.

Jang Il Suk pun segera melajukan mobilnya lebih cepat demi segera smpai ke apartement baru putranya. Yang dirinya tahu alamat itu pun dari Jae Joong yang masih bersitegang dengan Sukkie itu.

“Paman. Sepertinya hari ini Sukkie sedang wisuda. Aku mendengarnya dari Ji Min yang sedang mengikuti wisuda juga pada hari ini.”

“Oh, terima kasih informasinya, Nak.  Kami akan segera ke Busan. Lebih baik kami menunggu di apartementnya saja. Aku yakin kehadiran kami justru akan menambah runyam keadaan Sukkie.”

“Tapi Paman, apa paman tega membiarkannya sendiri mengambil hasil studynya tanpa ada perwakilan orang tua ?”

“Sudahlah, itu tak penting lagi. Aku rasa Sukkie cukup pintar untuk mengatasi hal itu. Kau sedang dimana sekarang ?” tanya Jang Il Suk parau.

“Aku sedang di sebuat taman yang berada tak jauh dari kampus Sukkie sekarang Paman. Apa paman mau kemari saja ? tak jauh .” tawari Jae Joong pada Il Suk.

“Ah, tidak usah, lain kali saja. pasti kau juga tengah sibuk. Terima kasih, Jae Joong sekali lagi. Tutuplah teleponnya.

ღღღ

Shin Hye pun yang baru saja keluar dari gedung menghampiri Sukkie yang telah berada di parkiran mobil. Sambil berjalan sedikit berjinjit mengangkat tumitnya supaya sepatu high heelsnya tidak berbunyi seperti terseok itu saat dirinya mempercepat jalannnya. Sambil membawa seikat buklet bunga dirinya memenyerahkannya pada Sukkie seketika dirinya sudah berada tepat di depan Sukkie.

“Selamat ya. atas IPK tertinggi. Lulus dengan IPK tertinggi bagaimana rasanya ?” tanya Shin Hye mendekatkan wajahnya memdelik. Membuuat Sukkie serius sekali menjawabnya.

“Hah ! sedikit menegangkat. Sekali malah. Andai saja kau tahu keringatku sudah berkucuran di atas panggung saat Dekan menyampirkan medali dan iajzahku. Saat bersalaman dengannya pun aku jadi tak bisa menikmati momen ini.”

“Benarkah setegang itu ?”

“Ya, ini sama halnya seperti ketika aku mengucap janji saat pernikahan kita di altar. Rasanya seperti waktu berhenti dan hanya menyoroti kebodohanku.” Keluh Sukkie mengelap keringatnya dengan sapu tangan yang sudah disediakan di kantong celana panjangnya yang tadi tertutup toga itu.

“Yakh, kau. Masa kau seperti itu. Sayang sekali. Padahal aku sudah berbangga hati menyaksikanmu berdiri di paling ujung panggung dengan hiasan pita – pita yang memperlihatkan kejayaanmu.” Jawab Shin Hye sembari memonyongkan bibirnya.

“Tapi aku tak terlihat mengecewakankan ?”

“Ehm.. beritahu tidak ya ?”

“Yah, kau mulai berani sekarang ya denganku ?” jawab Sukkie mendekatkan wajahnya ke arah Shin Hye. Shin Hye pun justru mengacungkan tangannya ke wajah Sukkie sambil mengepal dan menjulurkannya tiba – tiba memperlihatkan sebuah kalung bertanda mahkota.

“Ini untukmu.” Kata Shin Hye menyunggingkan senyumnya.

“Kau harus pakai, ya? awas kalau tidak. Aku akan membunuhmu hidup – hidup.”

“Tapi darimana kau bisa mendapatkan uang sebanyak ini ?”

“Hei, aku kan sudah bekerja. Lagi pula aku memang sudah menyisihkan uangku jauh – jauh hari. Kau selalu membelikanku hadiah, sedangkan aku sepertinya tak pernah sama sekali.” Kata Shin hye panjang lebar. Sukkie pun langsung merangkulnya hingga Shin Hye harus sedikit tertekan di depan kaca hitam mobil Sukkie. Sedetik kemudian Sukkie pun membisikkan sebuah kata – kata ke telinga Shin Hye.

“Setelahi ini kau akan menepati janjimu, kan ?”

Tanpa menanggapi Shin Hye pun masuk ke dalam mobil dan menunggu Sukkie masuk ke dalam juga. dengan cepat mereka pun sudah sampai di apartementnya.

ღღღ

Chong Han pun telah menjadi seorang artis sekarang. Soo Ji yang biasanya dirinya jadikan asisten pribadinya itu sudah tidak lagi dipakainya. Dirinya lebih sedikit menutup diri dengan sahabat – sahabat lamanya kecuali Rae Ha, dan Shin Hye yang hingga kini masih berkomunikasi baik dengannya.

Saat pernikahan Sukkie waktu itu dia pun juga tahu. Namun dirinya tak hadir sengaja untuk tidak membuat curiga kawan – kawanya yang lain. Dirinya hafal benar bagaimana sifat – sifat kawan – kawannya masing – masing hingga dirinya pun tak mau ambil pusing untuk itu, sudahlah. Agaknya semuanya juga sudah berakhir. Bagianya kawan – kawan lamanya hanya akan menambah image buruknya saja dalam karirnya. Maka dari itu dirinya terkesan menjaga jarak dengan sekitar.

“Nona. Kau harus fitting baju pada pukul 3 sore hari ini.”

“Tapi aku harus ke apartement sahabatku dulu untuk merayakan wisudanya.” Kata Chong Han menimpali managernya itu.

“Tapi nona i ni tidak bisa diundur. Sutradara sudah menyuruh kita untuk datang pada pukul 2.20 sore.”

“Hah, lagi –lagi jadwal yang berbenturan. Tidak bisakah kita mengcancelnya untuk yang satu ini ?”

“Tapi kemarin nona sudah membatalkan schedule nona perihal pertunanangan sahabat nona. Apa sekarang nona akan melakukan hal yang sama ?””

“Ash, terserahmu saja.” akhirnya Chong Han pun mengikuti saja.

ღღღ

Sukkie dan Shin Hye pun telah memasuki garasi rumahnya. Hingga mereka pun telah naik ke lantai dua. Dan melanjutkan sarapan paginya yang sempat tertunda. Namun saat mereka hendak keluar tanpa sengaja Sukkie melihat sang ayah sudah berada di hadapannya. Dengan langkah yang ragu Sukkie pun Sukkie berusaha mendekati ayahnya.

“Ayah,, apa benar ini ayah yang datang ?” tanya Sukkie tak percaya dengan apa yang dilihatnya.

“Tentu saja. kemarilah.” Jawab sang ayah membuka lebar – lebar kedua tangannya di hadapan Sukkie bersiap – siap untuk merangkulnya. Dan Sukkie pun terdiam di posisinya.

“Ayah datang dengan ibumu juga.” kata Jang Il Suk membuat Sukkie makin tak percaya. Apa mungkin ibunya akan menyeretnya dari sini dan membuatnya harus terpaksa meninggalkan Shin Hye. Oh, ini mimpi buruk.

“Sukkie.” Panggil Sun Ae Ni ke arah Sukkie yang tengah berhadapan dengan sang ayah itu.

“Kapan kau akan pulang ke rumah. Di rumah sepi sekali tanpamu.” Kata Ibunya mengeluh.

“Tapi aku tak akan kembali ibu. Rumahku adalah di sini.”

“Apa ? apa kami tidak salah dengar ?” kata sang ibu yang memperhatikan seisi apartement yang masih nampak kosong belum terisi banyak dengan perabotan.

“Aku minta maaf, bu. Tapi aku tidak bisa meninggalkan Shin Hye.”

“HAHAHA..” Tawa Sun Ae Ni pun pecah seketika mendengar jawaban dari putranya itu.

“Memang siapa bilang kau harus meninggalkannya ? Tentu kau harus membawanya pulang ke rumah juga bersama kami.” Kata ibu Sukkie memukul bahu Sukkie membuat Sukkie terkaget – kaget dengan reaksinya dan menahan sakit.

“Mana istrimu ? apa dia tidak ingin menyambut ibu ?” kata Nyonya Sun Ae Ni yang tiba – tiba langsung melangkah meju begitu saja berjalan menaiki tangga yang begitu mendengar suara seperti seseorang yang sedang memasak.

Tak satu pun tempat yang terlewatkan dilihat oleh ibu Sukkie. Begitu manis memang rumah ini. dengan interior bergaya modern minimalis dan sedikit foto album selama pernikahan mereka yang mereka pajang di tiap – -tiap dinding dengan wallpaper bunga teratai menghias indah.

Shin hye pun mengernyit dan bersembunyi di balik pintu mengetahui ibu Sukki yang memasuki dapurnya. Dengan perasaan yang berkecamuk dirinya pun menahan nafas untuk tidak terdengar. Namun gagal. Ibu Sukkie sudah mengetahui keberdaannya. Dan memeluk Shin Hye tiba – tiba.

“Maafkan ibu, Shin Hye.”

“Tapi, bibi.” Shin hye pun berusaha melepaskan pegangan bibinya yang erat di kedua ujung punggung tangannya.

“Sudahlah tak perlu begitu. Untuk apa kau memanggilku Bibi. Kau sudah menjadi bagian dari keluarga kami sekarang.”

“Aku, maksudku Ibu, ibu tak perlu memperlakukanku seperti ini. aku memang yang telah lancang menerima pinangan Sukkie dan aku rasa aku bersalah besar untuk Mae Lan dan terutama—“

“SHUT.. Sudahlah, aku senang, Sukkie tak salah memeilih istri. Aku sudah tahu sekarang, Mei lan bahkan hanya seorang wanita yang matrealis dan Kim Byung juga begitu. Dirinya hanya terpikat oleh rayuan ayahnya. Sementara kau di sini. Aku sudah dengar semuanya dari Jae Joong. Kau bahkan tak pernah sedikit pun merayu Sukkie. Dan memang Sukkie yang tengah mengejarmu. Apa kau bahagia sejauh ini ?” tanya ibu Sukkie dengan raut muka ingin menangis.

“Tentu saja. aku bahagia sekali.” Jawab Shin Hye yang mulai menitikkan air amata.

“Ibumu juga berpesan kepadaku. Dia kan mengunjungimu akhir pekan ini. jangan lupa mampir ke rumah ya kalau kau ada di Seoul.”

Angguk Shin Hye sembari Ibu Sukkie menghapus bulir air matanya yang menggenangi pipinya.

“Kau jangan menangis. Nanti make up mu hilang.” Ucapp ibu Sukkie mengalihkan perhatian dan menggandeng tangan Shin Hye keluar.

ღღღ

Sementara Hyo Joo dan Jae Joong yang tengah berjalan di samping halaman apartement Sukkie. Mereka sengaja memamerkan kemesraannya di hadapan Sukkie dan Shin Hye yang sedang memanggang daging untuk merayakan wisuda Sukkie hari itu. Jae Joong pun membuka pintu gerbangnya dan Hayo Joo yang masuk dengan seikat bunga dan kamera polaroid untuk mengabadikan acara mereka.

“Jae Joong ? Kau datang.” Kata Sukkie antusias ingin memeleuknya namun tertahan oleh kebingungannya yang melihat Jae Joong dengan Hyo Joo. Lalu kemudian Jae Joong yang memberikan undangan pernikahan mereka.

“Jangan lupa datang.” Katanya memperingatkan Sukkie.

“A, kalian ?”

“Kenapa ? kami tidak boleh menyusulmu ?”

“Tidak. Bukan begitu.. hanya saja ini terlalu mendadak.”

“Apa maksudmu ? lalu apa kau namanya menikah tak bilang – bilang ? beruntung aku masih ada hati untuk memberitahumu ?” kata Jae Joong berdalih.

“Dan satu lagi. Jangan buru – buru punya momongan. Tunggu aku.”

“Ahh? Apa ?”

“Kau gila !” kata Sukkie menambahkan.

“Biar saja mungkin anak kita bisa seumuran ?”

“Hah ! itu ide buruk !jangan rangkul aku.” Kata Sukkie yang berlarian menghindari Jae Joong. Hingga Shin Hye pun yang tertawa diikuti Hyo Joo yang mulai membantunya memanggang daging.

ღღღღENDღღღღ

Posted in NOVEL | Tagged | 3 Comments

Pesona Kebun Teh Jamus, Peninggalan Belanda


cr photo: facebook Tian Lee

Pesona Kebun Teh Jamus, Peninggalan Belanda

NO VIDEO AUDIO
1
  • EXT. Pagi Hari Jalan Raya Menuju Kebun Teh Jamus
Fade in : ilustrasi musik yang sesuai
2 LS TILT DOWN.Jalan depan tugu bertuliskan “Selamat Datang di Kebun Teh Jamus” Bumper In : Jalan Menuju Kebun Teh Jamus
3 LS. Halaman depan PT. Candi Loka Bumper Out
4 XLS TITL UP. Bukit Teh Jamus dari bawah hingga ke puncak yang tertinggi Narasi :Kebun Teh Jamus sebagai salah satu unit perkebunan besar di Kabupaten Ngawi
5 INSERT : LOGO SURABAYA JAWATIMUR DAN NGAWI LALU DIIKUTI LOGO KECAMATAN SINE DAN ICON KEBUN TEH JAMUS Propinsi Jawa Timur sudah barang tentu mempunyai andil dalam upaya mendukung tercapainya sasaran kebijakan pemerintah Kabupaten Ngawi guna meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan pemerataan hasil-hasil pembangunan termasuk pengentasan kemiskinan, memberikan lapangan kerja, penghasil produk eksport serta pemeliharaan sumber daya alam dan kelestarian Lingkungan Hidup.
6 LS. Kerumunan besar pengunjung yang menunggu di antrian loket Selain itu sektor agrowisata merupakan potensi yang harus digali dan dikembangkan.
7 LS ESTABLISHED SHOT. Halaman depan PT. Candi Loka yang berdiri dua orang security yang mengenakan atribut lengkap di depannya Menyadari sangat pentingnya pembangunan Kebun Teh Jamus diberbagai sektor maka pihak pengelola yakni PT. Candi Loka mengambil kebijakan khususnya sektor agrowisata benar-benar tengah digarap potensi dan pengembangannya dengan tetap mengedepankan kelestarian lingkungan hidup.
8 FS  TILT DOWN. Piagam penghargaan dan riwayat dari PT. Candi Loka dan sejarah Kebun Teh Jamus Agrowisata yang berwawasan lingkungan hidup ini sebenarnya sudah diawali tahun 1993 dengan membangun kawasan kebun dan lingkungannya tetap alami dan lestari.
9 MS PAN LEFT. Piagam – Piagam penghargaan Kalpataru untuk pengusaha kebun teh Jamus dan beberapa foto – foto penanaman pohon oleh sejumlah karyawan PT. Candi Loka Langkah yang ditempuh selain pemadatan populasi teh dengan berbagai koleksi klon juga program sejuta pohon pelindung yang akhirnya mampu meraih penghargaan tingkat nasional nominasi Kalpataru tahun 2004 kategori Pembina Lingkungan Hidup pada peringatan hari Lingkungan Hidup Sedunia pada tanggal 5 Juni 2004 di Istana Negara Jakarta.
10 LS FOLLOW. Para konstruktor yang sedang menggarap pembangunan Jembatan dan Air Terjun untuk Perkebunan Teh Jamus Mengingat semakin padatnya kunjungan wisata ke Jamus, saat ini pengembangan sektor Agrowisata Jamus dengan berbagai fasilitas penunjang sedang dilaksanakan pembangunannya.
11 XLS PEN RIGHT HIGH ANGLE. Jalan yang berliku di jalan sekitar Jamus. Upaya ini tentunya membutuhkan dukungan berbagai pihak agar dapat terwujud, lebih-lebih akses jalan yang memadai menuju kawasan Agrowisata Jamus.
12 INSERT. VIDEO pengaspalan jalan jamus oleh PemKab Sambirejo Kondisi ini tentunya sangat berpengaruh terhadap kunjungan wisatawan.
Oleh sebab itu pengelola Kebun Teh Jamus telah melebarkan jalan diarea kebun menuju tempat wisata disamping aman, kenyamanan berwisata akan dapat lebih sempurna apabila jalan pemkab di Sambirejo sampai dengan Jamus secara keseluruhan telah diperlebar dan diaspal.
13 FS. Profil Agrowisata Jamus dan brosurnya Selanjutnya disusunlah profil Agrowisata Jamus dimaksudkan memberikan gambaran tentang paket Agrowisata di Jamus.
14 INSERT : VIDEO OBYEK AGROWISATA
Pembibitan Tanaman Teh Dan Aneka Tanaman, Koperasi Karyawan Sumber Candiloka.
OBYEK AGROWISATA
Pembibitan Tanaman Teh Dan Aneka Tanaman
Luas Pembibitan 1 Ha dengan atap khusus (paranet), pembibitan berbagai jenis tanaman dan bunga – bungaan merupakan unit usaha aneka pembibitan tanaman Koperasi Karyawan Sumber Candiloka.
15 INSERT : Klon Berbagai Teh Koleksi Berbagai Klon Teh
16 Insert : foto Grojokan Songo Tuk Pakel Grojokan Songo Tuk Pakel
Suatu pemandangan air mengalir sepanjang hampir 25 meter lebar 3 meter mengalir deras lewat bebatuan yang tertata alami bentuk seperti tangga tidak beraturan dan berlekuk sangat bagus dan indah.
17 MS PAN LEFT. Pinggiran grojokan pepohonan yang rindang asri tak jemu jemu untuk dipandang; mata dan pikiran terasa benar benar segar.
18 CU. Sekitar grojokan daun daun teh yang masih muda segar siap dipetik Sekitar grojokan daun daun teh yang masih muda segar siap dipetik.
19 INSERT VIDEO . Jamus di awal tahun pembangunannya.

SEJARAH PERKEBUNAN JAMUS

Riwayat tanah perkebunan Jamus seluas 478,20 hektar di jelaskan sebagai berikut :

20 CU. tulisan dalam piagam yang menyebutkan awal berdirinya di jaman Belanda Perkebunan Jamus dahulu dari tanah Negara ex hak Erfpacht Verponding Nomor 722, 723 , 787 dan 2555 seluas 478,20 Ha, yang menurut Surat Keterangan Pendaftaran Tanah tanggal 30 Juni 1973 tercatat atas nama NV.
21 CU. Tulisan yang menyebutkan Jamus diberlakukan sejak tanggal 7 Pebruari 1950. Cultuur My Jamus to Batavia dan hak Erfpacht tersebut telah berakhir masa berlakunya sejak tanggal 7 Pebruari 1950 sehingga sejak saat itu tanah perkebunan Jamus kembali menjadi tanah yang dikuasai langsung oleh Negara.
22 LS HIGH ANGLE. Letak Jamus yang berada di utara Gunung Lawu. Perkebunan Jamus terletak di lereng sebelah utara gunung Lawu, semula dirintis oleh seorang pengusaha Belanda bernama Van Rappard yang lahir pada tahun 1826.
23 INSERT FOTO. Tahun 1866,  Perkebunan Jamus oleh Van Rappard mulai ditanami Teh Tahun 1866,  Perkebunan Jamus oleh Van Rappard mulai ditanami Teh, dan pada tahun 1910 Van Rappard meninggal dunia.
24 INSERT FOTO profil Anak Van Rappard, H. M. Ridder Van Rappard Kemudian pengelolaan kebun Jamus diteruskan oleh anaknya yang bernama H. M. Ridder Van Rappard,  dan pada akhirnya dijual kepada  NV.
25 INSERT FOTO PROFIL NV.GEOWEHRIJ GEOWEHRIJ pada tahun 1929. Pada tahun 1930 NV.GEOWEHRIJ membangun pabrik pengolahan teh.
26 INSERT VIDEO Pemerintah Jepang mengambil alih perkebunan Jamus Dalam perang dunia ke II Pemerintah Jepang mengambil alih perkebunan Jamus dan tanaman teh dibakar diganti dengan tanaman tales untuk memenuhi kebutuhan  Jepang.
27 INSERT FOTO Tahun 1945, setelah ditinggal Jepang kebun tidak ada yang mengelola sehingga tanaman teh tumbuh kembali dan hasilnya diambil oleh rakyat Tahun 1945, setelah ditinggal Jepang kebun tidak ada yang mengelola sehingga tanaman teh tumbuh kembali dan hasilnya diambil oleh rakyat. Sewaktu peristiwa Madiun tahun 1948, orang – orang PKI mulai ada yang bertempat tinggal di kebun Jamus.
28 INSERT FOTO. kebun Jamus dikelola oleh NV. TANI dan pada tahun 1953, diganti oleh NV Tahun 1952, kebun Jamus dikelola oleh NV. TANI dan pada tahun 1953, diganti oleh NV.
29 INSERT VIDEO PANCA ARGA yang akhirnya mengalami kebangkrutan PANCA ARGA yang akhirnya mengalami kebangkrutan. Kemudian pengelolaan kebun diambil alih oleh Serikat Buruh Perkebunan Republik Indonesia ( SARBUPRI ) dan pada tahun 1957 perkebunan diberi nama Jamus Baru.
30 INSERT FOTO Kebun Jamus kondisinya menurun dan rusak sampai meletusnya G. 30. S. PKI pada tahun 1965. Kebun Jamus kondisinya menurun dan rusak sampai meletusnya G. 30. S. PKI pada tahun 1965.
31 INSERT FOTO.Tahun 1966, dikuasai oleh KODAM VIII Brawijaya Tahun 1966, dikuasai oleh KODAM VIII Brawijaya yang pengelolaannya diserahkan pada KOREM-081 Madiun, dan sejak tanggal 1 April 1973 Kebun Teh Jamus pengelolaannya diserahkan kepada PT. CANDI LOKA sampai sekarang.
32 CU tulisan pada Piagam  PT. CANDI LOKA  memperoleh Hak Guna Usaha (HGU) atas tanah perkebunan Jamus seluas 478,20 Ha dengan Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor: SK–66/HGU/DA/76 tanggal 8 November 1976 Tahun 1976, PT. CANDI LOKA  memperoleh Hak Guna Usaha (HGU) atas tanah perkebunan Jamus seluas 478,20 Ha dengan Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor: SK–66/HGU/DA/76 tanggal 8 November 1976, dan ekspirasi sampai dengan tanggal 31 Desember 2001.
33 CU tulisan Tahun 2001, PT. CANDI LOKA memperoleh perpanjangan Hak Guna Usaha ( HGU ) atas pengelolaan tanah Perkebunan Jamus dengan Keputusan Kepala Badan Pertanahan Nasional RI Nomor                   12/HGU/BPN/2001 tanggal 26 Juli 2001 Tahun 2001, PT. CANDI LOKA memperoleh perpanjangan Hak Guna Usaha ( HGU ) atas pengelolaan tanah Perkebunan Jamus dengan Keputusan Kepala Badan Pertanahan Nasional RI Nomor                   12/HGU/BPN/2001 tanggal 26 Juli 2001 dan ekspirasi sampai dengan tanggal 31 Desember 2026.
34 LS PAN RIGHT. Jamus masa kini. Dan sampai sekarang jamus masih tetap indah,maka sekarang tunggu apa lagi yuk kita ke jamus…
35 INSERT FOTO Bumi Perkemahan “KANTIL IDAMAN” Bumi Perkemahan “KANTIL IDAMAN”
Luas lahan 0,7 Ha mampu menampung 1000 peserta kemah, fasilitas; Masjid, mck dan tempat api unggun dibawah 3 pohon kantil yang telah berusia lebih dari 1 abad (tahun 1881-sekarang =124 tahun).
36 BCU. dapat terlihat pucuk pucuk pinus dan hamparan persawahan Dari Lokasi ini dapat terlihat pucuk pucuk pinus dan hamparan persawahan serta tanaman teh yang tertata indah bak permadani.
37 INSERT FOTO Petilasan berupa makam pendiri kebun teh Van der Rapard (Belanda) Makam Pendiri Kebun Teh Jamus Van Der Rappart (1826-1910)
Petilasan berupa makam pendiri kebun teh Van der Rapard (Belanda) yang membuka kebun teh jamus
38 INSERT FOTO Kincir Air Pembangkit Tenaga Listrik Peninggalan Belanda Kincir Air Pembangkit Tenaga Listrik Peninggalan Belanda
39 INSERT VIDEO. Kincir Air yang masih digunakan hingga sekarang. Kincir air ini masih berfungsi menghasilkan energi listrik untuk penerangan jalan dan perumahan kapasitas terpasang 50 KVA, dengan diameter 150 cm berat ± 2 ton yang beroperasi tahun 1930 didatangkan dari negeri Belanda.
40 INSERT FOTO : Panorama Gardupolo Panorama Gardupolo
41 BCU. Lokasi Gardupolo Di lokasi Gardupolo akan di bangun kolam renang, game area, camping ground, café, dll
42 INSERT FOTO : Kolam Renang Sumber Lanang Kolam Renang Anak-Anak “Sumber Lanang”
43 LS. Terlihat anak – anak sedang berlari di sekitar kolam renang Sumber Lanang Kolam renang untuk anak-anak, dari mata air Sumber Lanang, airnya sejuk dan menyehatkan di kelilingi pepohonan dan tanaman teh. Suhu air cukup dingin mencapai 15-22 derajat celsius.
44 INSERT FOTO : Borobudur’S Hill Jamus Borobudur’s Hill
45 MS TILT UP. Sebuah bukit bentuk mirip candi borobudur Sebuah bukit bentuk mirip candi borobudur, teras berupa tanaman teh yang telah berumur hampir 100 tahun, ada tangga sejumlah 117 menuju puncak bukit.
46 INSERT FOTO : Ketinggian Bukit 35,4 meter, luas Areal 3,54 Ha Ketinggian Bukit 35,4 meter, luas Areal 3,54 Ha, Jumlah Tanaman Teh berkisar 35.400 pohon.
47 INSERT FOTO Goa Jepang Goa Jepang
Goa yang cukup unik peninggalan tentara Jepang tahun 1942 dengan panjang + 14 meter membelah dua lorong.
48 INSERT FOTO lorong dalam Goa Jepang Konon digunakan untuk menyimpan bahan makanan, persenjataan dan harta karun.
49 LS. Grojogan Kedung Putri Grojokan Kedung Putri
50 MS. Gemuruh AIR Grojokan dari Sumber Mata Air Sawahan dengan suara gemuruh air dan pesona air yang sangat bagus.
51 LS. Gambar beberapa masyarakat ngawi yang sedang bekerja Agrowisata di Jamus diharapkan dapat memberikan peningkatan pendapatan masyarakat dan Pemerintah Kabupaten Ngawi.
52 FS. Masyarakat yang sedang bercocok tanam, kerajinan tangan, dan transportasi Bidang usaha yang dilaksanakan dapat berupa produk pertanian, kerajinan tangan, jasa transportasi dan lainnya.
53 MS. Tempat penginapan yang disediakan di sekitar desa Khusus pelayanan wisata yang membutuhkan penginapan diharapkan berada di Desa Girikerto, Ngrendeng atau Sambirejo, selain pemerataan pendapatan dampak sosial negatif yang timbul di Jamus dapat diminimalisir.
54 INSERT VIDEO : PT. Candi Loka telah melaksanakan pembangunan sektor LS PAN LEFT. Pemandangan Agrowisata Jamus agrowisata di Jamus. PT. Candi Loka telah melaksanakan pembangunan sektor agrowisata di Jamus. Hal ini harus ditunjang dengan akses jalan menuju kawasan wisata yang baik dan memadai, peran Pemerintah Kabupaten Ngawi sangatlah dibutuhkan dalam hal pelebaran dan pengaspalan jalan tersebut.
  • Closing
Fade Out : Credit Title
Ilustrasi Musik

 

Posted in NASKAH | Tagged | Leave a comment

FF ONESHOOT GEUNSHIN “NOT JUST FRIEND”


AUTHOR : LA feat. IO

GENRE : MENGECEWAKAN

CAST :

JANG GEUN SEOK

PARK SHIN HYE

JUNG YONG HWA

LEE HONG KI

IM YOON AH

Seorang yeoja cantik mengenakan gaun panjang tanpa lengan berwarna biru malam dan high heels hitam. rambut yang panjang dibuat bergelombang membuatnya terlihat sempurna . yeoja cantik itu terlihat keluar dari mobilnya saat seorang pria berjas hitam yang bertugas membukakan pintu mobil kepada setiap tamu yang datang. sedikit menyunggingkan senyumnya kepada pria itu sebagai ucapan terima kasihsudah membukakan pintu mobilnya. yeoja cantik itu pun mulai berjalan hendak masuk.

“PARK SHIN HYE~SSI.. PARK SHIN HYE~SSI..” teriak para wartawan membuat yeoja cantik bernama Park Shin Hye itu pun berhenti lalu berbalik ke arah para wartawan tadi seraya tersenyum membuat para wartawan langsung mengabadikan gambarnya.

“EONNI.. SHIN HYE EONNIE..” teriak fans – fans Shin Hye yang terhalang oleh penjaga – penjaga di sana. Shin Hye pun tersenyum seraya melambaikan tangannya kepada fans – fansnya lalu mendekati fansnya yang menyodorkan kertas dan pulpen untuk meminta tanda tangannya. Setelah itu Shin Hye pun membungkuk hendak pergi.

“SHIN HYE EONNI.. EONNI YEPPEO..” teriak salah satu fansnya membuat yeoja cantik itu kembali tersenyum.

“Gomassimnida,” kata pertama yang keluar dari mulut yeoja cantik itu setelah beberapa menit yang lalu menjejakkan kakinya di sebuah tempat dimana dirinya dan beberapa artis dan aktor lainnya diundang di perayaan hari jadi salah satu perusahaan perfilman terbesar di Seoul. Shin Hye pun berjalan memasuki tempat acara dimana sudah banyak tamu – tamu penting dan artis maupun aktor dari berbagai label. seperti yang terlihat ada beberapa artis dan aktor dari SM Entertaintment, YG Entertaintmenet, FNC Entertaintment, dan masih banyak lagi.

“Shin Hye~ah !” teriak seseorang namja yang berada tak jauh dari tempat Shin Hye berdiri, Namja itu mendekati Shin Hye.

“Kau baru datang ?” tanya tersenyum membuatnya terlihat semakin manis.

“Em.” angguk Shin Hye balas tersenyum. namja itu pun menatap Shin Hye dari bawah sampai atas membuat Yeoja yang ditatapnya merasa bingung.

“Kya, Hong Ki~ah, kenapa kau menatapku seperti itu ?” tanyanya menepuk bahu namja bernama Lee Hong Ki.

“Shin Hye Yeppeo.”

“Eoh ?”

“Jeongmal Yeppeo.”

“Gomawo.”

“Ah, Shin Hye~ah, apa kau sudah bertemu dengan Geun Seok Hyung dan Yong Hwa Hyung ?”

“Belum.”

“Kalau begitu kita cari mereka. Ah, rasanya sudah lama sekali kita tidak berkumpul setelah syuting He’s Beautiful berakhir.

“Kajja,” kata Hong Ki menggandeng tangan Shin Hye.

“Kya Hong Ki~ah, aku bisa jalan sendiri tanpa perlu kau gandeng seperti ini,” kata Shin Hye yang merasa risih karena Hong Ki menggandengan tangannya. Hong Ki pun berhenti lalu berbalik menatap Shin Hye.

“Waeyo ?” tanya Hong Ki enggan melepaskan tangannya.

“Di sini banyak wartawan, bagaimana kalau mereka melihat kita lalu mengambil gambar kita ?” jawab Shin Hye melihat sekelilingnya.

“Memangnya kenapa kalau wartawan mengambil gambar kita ? Bukankah itu berarti bagus ? Itu berarti akan ada berita tentang kita.” sahut Hong Ki mengangkat tangannya yang menggenggam tangan Shin Hye ke depan wajah Shin Hye.

“Kya. aku tidak ingin saat besok pagi, aku buka internet, aku melihat sebuah page bertuliskan HONGSHIN (Lee Hong Ki dan Park Shin Hye).. Ah, Andwae.. Andwae..” kata Shin Hye menggeleng – gelengkan kepalanya.

“Bukankah itu bagus ? GEUNSHIN.. YONGSHIN.. HONGSHIN..”

“MWO ? KYA.”

“kajja.” Hong Ki langsung menarik Shin Hye melanjutkan kembali mencari Geun Seok dan Yong Hwa.

“Cihh!” Kekeh Shin hye tersenyum membiarkan Hong ki terus berjalan seraya menggandeng tangannya. langkah Hong Ki terhenti saat melihat sosok yang dicari – carinya sedang berada di tengah – tengah kerumunan wartawan. Hong Ki pun membawa Shin Hye mendekati kerumunan itu.

“Shin Hye~ah, bukankah itu Geun Seok Hyung?” tunjuk Hong Ki ke arah seorang namja tampan yang mengenakan setelan jas poutih yang sedang berdiri di samping yeoja yang tak kalah cantik dengan Shin Hye.

“Em.” angguk Shin Hye seketika senyum yang sedari tadi ditunjukkannya seolah lenyap saat melihat sosok yang dicintainya sedang berdiri berdampingan dengan yeoja lain.

“Shin Hye~ah, bukankah yeoja di samping Geun Seok Hyung itu adalah Im Yoon Ah ?” kata Hong Ki tapi Shin Hye tetap diam. matanya terus tertuju kepada sosok yeoja yang bernama Im Yoon Ahm itu.

“Geun Seok~ssi, apakah kalian datang bersama ?” tanya salah satu wartawan. sebut saja wartawan A.

“Nde ? Ah, anniya. tadi kami bertemu di depan.” jawab Jang Geun Seok tersenyum.

“Yoona~ssi, apakah yang dikatakan Geun Seok~ssi itu benar ?” tanya wartawan B.

“Nde, kami memang bertemu di depan.” angguk Yoona tersenyum.

“Geun Seok~ssi banyak yang berkomentar tentang adegan ciuman kalian di drama Love Rain. kalian terlihat sangat alami. benar – benar seperti pasangan kekasih, mereka juga bilang acting kalian sangat bagus.” kata wartawan C.

“Gamsahamnida. Acting kami bagus karena lawan main saya Yoona sangat hebat dalam memerankan karakternya. karena itu merasa tidak ada hambatan saat bermain satu drama dengannya.” kata Geun Seok memuji Yoona seraya menatap Yoona membuat Yoona tertunduk malu. Geun Seok tidak menyadari ada sosok yeoja yang hampir menangis mendengar pujian yang diberikannya untuk Yoona.

“Wah, Yoona~ssi, benar – benar hebat !” puji wartawan A.

“Anniya, menurut saya acting saya masih belum ada apa – apanya dibandingkan dengan Geun Seok~ssi. slalu memberi saya semangat dan selalu memberitahu saya agar tidak canggung saat syuting. saya benar – benar beruntung dapat bermain satu drama dengan Geun Seok. dia benar – benar aktor yang hebat.” kata Yoona memuji Geun Seok membuat Geun Seok dan wartawan tertawa tetapi tidak dengan yeoja yang memandang mereka dengan tatapan yang sedih dan kecewa.

“Geun Seok~ssi,, apakah benar berita yang menyebutkan bahwa kalian terlibat cinta lokasi saat pembuatan drama Love Rain ?” tanya wartawan B.

“nDE ? Ah. Anniya. kami hanya berteman.” jawab Geun Seok.

“Kalau begitu apakah Yoona~ssi termasuk kriteria yeoja yang anda sukai ?”tanya wartawan C.

“Yoona~ssi adalah yeoja yang cantik, baik, dan berbakat. Namja manapun pasti menyukainya.” jawab Geun Seok berniat menggoda Yoona. Yoona pun langsung tersenyum.

“Kalau begitu terima kasih, Geun Seok~ssi. Yoona~ssi, karena sudah bersedia kami wawancarai.” ucap wartawan A mewakili wartawan yang lain.

“Nde.” angguk Geun Seok dan Yoona. para wartawan pun pergi. saat kerumunan wartawan bubar, Geun Seok pun melihat sosok yeoja yang berdiri tak jauh darinya yang sedang menatap sedih ke arahnya.

“Shin hye.” gumam Geun Seok pelan namun masuh bisa terdengar oleh Yoona membuat Yoona langsung menatap ke arah Shin Hye. Shin Hye yang menyadaro Geun Seok dan Yoona tengah menatapnya langsung melepaskan pegangan tangan Hong Ki yang sedari tadi masih menggenggam tangannya.

“Hong Ki~ah, aku ke toilet dulu.” kata Shin Hye berlari meninggalkan Hongi. Geun Seok dan Yoona yang masih diam dalam pikiran masing – masing.

 

TAMAN BELAKANG

 

Shin Hye memutuskan perhi ke taman belakang dimana hanya terlihat beberapa orang saja yang ada di taman itu. Shin Hye pun duduk di sebuah kursi yang ada di taman itu. Shin Hye pun duduk di sebuah kursi panjang yang bisa diduduki 2 sampai 3 orang.

TES

TES

TES

Air mata yang sedari tadi ditahannya akhirnya menetes dengan sempurna di pipi mulusnya.

 

SHIN HYE POV

 

Lagi, kenapa lagi – lagi hati ini sakit mendengar apa yang tadi ia katakan. tapi lagi – lagi aku tidak berhak marah atau sekedar mengatakan padanya kalau hatiku sakit. memangnya aku siapa ? aku sendiri tak tahu apakah aku ada di hatinya atau tidak. kalian pasti mengenalku, namaku Park Shin Hyedan namja yang tadi bersamaku, kalian juga pasti mengenalnya. dia Lee Hong Ki, teman baikku. kami berteman saat kami bermain dalam drama He’s Beautiful di tahun 2009. sejak itu kami berteman baik. sedangkan namja bernama Geun Seok atau lebih tepatnya Jang Geun Seok kalian juga pasti sudah mengenalnya. dia adalah lawan mainku di drama He’s Beautiful. setelah drama itu aku dan Geun Seok. anni, maksudku aku dan Geun Seok Oppa. karenaa aku 3 tahun lebih muda dari Geun Seok makanya aku meminta Geun Seok untuk menambahkannya dengan Oppa. setiap aku memanggilnya sebelum di drama itu aku dan Geun Seok oppa sudah pernah bekerja sama dalam sebuah iklan Lipstik dari Etude House. yang kami beradegan yang kalian pasti sudah tahu tanpa kuberiutahu. saat syuting iklan itu aku mulai merasakan ada sesuatu yang aneh dengan hatiku setiap aku bertemu dengannya. saat itulah aku merasa bahwa aku menyukainya. tidak berapa lama setelah iklan kami ditayangkan kami deipertemukan lagi dalam sebuah drama He’s Beautiful. di drama itu aku berperan sebagai yeoja sekaligus namja. saat syuting itulah aku merasa rasa sukaku berubah menjadi rasa cinta.

tapi sampai saat itu, 3 tahun sudah berlalu perasaanku kepada Geun Seok oppa tak pernah terbalas,  entah Oppa tidak menyukaiku atau apa, aku jga tidak tahu, padahal aku sudah memperlihatkan banyak tanda lewat sikapku atau apa pun agar Geun Seok Oppa mengerti bahwa aku menyukainya. tapi nyatanya sampai sekarang Geun Seok oppa tidak pernah membalas atau pun mengerti perasaanku. mungkin Geun Seok oppa hanya menganggapku teman. tapi kalau boleh jujur aku ingin menjadi seseorang yang penting di hati dan hidupnya. NOT JUST FRIEND.

Shin Hye POV END

 

Tanpa Shin Hye sadari, seorang namja tengah berjalan mendekatinya. setelah berada tepat di belakang Shin hye, namja itu melepaskan jasnya lalu memakaikannya ke tubuh Shin hye.

“Eoh ?” ucap Shin hye terkejut lalu menatap namja itu.

“Ah, Yongie~ah, Gomawo.”

 

YONG HWA POV

Aku melihatnya tengah duduk sendiri sambil melamun di sebuah kursi, aku pun mendekatinya. ia mengenakan gaun tanpa lengan. apa dia tidak merasa dingin berada di tempat terbuka dan berangin seperti ini ? dan gaun seperti itu ? aku pun melepaskan jas yang aku kenakan dan memakaikannya kepadanya.

dia memanggilku dengan sebutan Yongie, aku juga tidak tahu kenapa dia memanggilku dengan sebutan seperti itu. padahal aku 1 tahun lebih tua darinya, tapi dia tidak mau memanggilku dengan panggilan Oppa.

“Gomawo.” ucapnya tersenyum yang aku tahu sedang menyembunyikan kesedihan di balik itu.

“Apa yang kau lakukan di sini eum ?” tanyaku mendekatinya.

“Anniya, hanya ingin duduk di sini,” jawabnya kembali tersenyum. aku tahu dia sedang berbohong, aku tahu karena aku selalu memperhatikannya. kalian pasti pernah menonton drama kami yang berjudul He’s Beautiful dimana drama itu menceritakan seorang yang bernama Go Mi Nyu yang terpaksan menyamar sebagai Go Mi Nam yang dipernakan oleh yeoja cantik yang di sampingku sekarang, menyukai namja bernama Hwang Tae Kyung yang diperankan oleh Jang Geun Seok dan drama itu aku berperan sebagai khang shin woo, sosok namja yang secara diam – diam menyukai Go Mi Nyu namun Go Mi Nyu telah menyukai Hwang Tae Kyung. khang shin Woo adalah sosok yang secara diam – diam selalu melindungi Go Mi Nyu. entah kenapa itu menjadi seperti kisah nyata di kehidupan kami. aku tahu sejak syuting di He’s Beautiful Shin Hye sudah menyukai Geun Seok. terlihat jelas dari gerak – gerik Shin Hye saat bersama dengan Geun Seok. saat syutinbg drama itu aku merasa khang Shin Woomenyatu dengan kehidupan nyataku. walau syuting sudah berakhir, tapi aku tetap ingin selalu melindungi dan berada di samping Shin Hye, hampir 2 tahun setelah drama  He’s Beautiful selesai, aku dan Shin Hye dipertemukan kembali dalam sebuah drama berjudul HEARTSTRING. tapi di drama itu aku tidak lagi berperan menjadi namja yang diam – diam menyukainya tetapi justru Shin Hyelah yang lebih dalu menyukaiku. aku berperan sebagai lee Shin dan Shin Hye berperan sebagai Lee Gyu Won. saat syuting di drama itu aku sadar bahwa aku tidak hanya ingin melindunginya tapi aku menyukainya. tapi sampai sekarang aku tak pernah berani untuk mengungkapkan perasaanku terhadapnya. meski jauh di lubuh hatiku yang aku inginkan NOT JUST FRIEND. dan seperti yang aku bilang aku seperti Khang Shin Woo yang hanya bisa melindungi dan mencintainya diam – diam.

“Yongie~ah, Yongie~ah.” kata Shin Hye membuyarkan lamunanku.

“Eoh ?”

“Gwaenchana ?” tanyanya.

“Em, gwaenchana.” jawabku tersenyum seraya mengacak pelan rambutnya.

“Kyaa,, ” ucapnya kesal seraya merapikan rambutnya dan mempout bibirnya.

“Kau masih ingin di sin i?”

“ANNY .”

“kalau begitu kita kembali ke dalam. daritadi Hong Ki mencarimu.” kataku berdiri lebih dahulu.

“Nde.” Angguknya lalu berdiri seraya melepaskan jas yang menyampir di tubunya.

“Kajja.” ajakku megulurkan tanganku berniat ingin menggandeng tangannya. Shin Hye menatapku bingung karena aku mengulurkan tanganku. ah, phabo, mana mungkin shin Hye mau menerima uluran tanganku. yang aku tahu ada banyak wartawan dan terutama ada Geun Seok.

AH, tunggu aku merasa ada yang menggandeng lenganku. lalu,

“kajja” ajaknya tersenyum begitu lembut padaku, Yeppeoda.. neomu yeppeoda.

“Yongie, ah, kajja.” ucapnya mengulangi lagi.

“Emm, anggukku balas tersenyum.. kami pun berjalan beriringan memasuki ruang pesta.

Yong Hwa POV END

 

Saat Yong Hwa dan Shin Hye ingin melewati pintu hendak masuk, seorang namja yang sedari tadi memperhatikan Yong Hwa dan Shin Hye langsung bersembuni di balik pintu tidak ingin sampai Yong Hwa dan Shin Hye mengetahui keberadaannya, betapa pengecutnya ia. Namja yang ternyata adalah Geun Seok itu pun tersenyum miris, sakit, melihat yeoja yang dicintainya sedang bersama dengan namja lain.

Geun Seom POV

SAKIT, Kata itulah yang menggambarkan perasaanku sekarang dimana aku melihat yeoja yang aku cintai menggandeng namja lain. BODOH dan PENGECUT, memang kata itulah yang pantas untuk sosokku yang tak mampu  memberitahukan perasaanku kepadanya. yang juga terlihat memiliki perasaan yang sama sepertiku. SALUT. aku salut dengan sikap Yong Hwa yang secara terang – terangan mampu memperlihatkan perhatiannya kepada Shin Hye.

dulu saat Shin hye memenangkan Paeksang Award dia bahkan rela maju ke panggung untuk memberikan bunga kepada Shin Hye. dan itu pun juga terjadi saat sebelumnya Shin Hye memenangkan Paeksang Art Award di tahun lalu. membuat kami iri, bahkan di sana ada YooChun lalu So Ra dan MC. dan para GEUNSHIN atau SUKHYE SHIPPER yang bahkan meneriaki kami pada saat itu, aku bahkan tak bisa berbuat banyak. apalagi menyatakan perasaanku padanya. itu tak mungkin sekali.

kalian ingin tahu jawabannya ? kalau aku memberitahukan perasaanku kepada Shin Hye kemungkinan Yong Hwa akan menjauhi kami. dan itu akan membuat Shin Hye sedih, aku tak mau Shin Hye sedih. dan hal itu terjadi pada kami. jadi kuputuskan untuk tetap mencintai Shin Hye secara diam – diam. agar kami tetap bisa bercanda, tertawa, bersama tanpa harus menghancurkan persahabatan kami.

meski dalam ikatan PERTEMANAN biarkan nanti waktu yang menjawabnya akhir dari kisah ini entah nanti pada akhirnya akan ada GEUNSHIN, YONGSHIN, HONGSHIN, atau SHIN – SHIN lainnya..

 

END 😦

Posted in ONESHOOT | Tagged , | 6 Comments

say it but…


young man : “i’m sorry”

young woman : “don’t say that”

young man : “i’ll promise”

young woman : “don’t say that”

young man : “thank you”

young woman : “don’t say that”

young man : “i love you”

young woman : “say it again”

young woman : “i love you”

young woman : “say it again”

young man : “i love you..”

Posted in IDE GILA | Leave a comment

“That’s You…”


Why everyone could get their right,

While me not ?

Why everyone could get their free

While i’m not ?

Why you all so evil and indeal for me?

While i’m just standing here

Alone without a friend,

Without a love, lonely girl..

Be damn or be winner ?

I’ll be a winner ? and ruler ?

But it’s just a dream

And dream will not be can true

I hate with you all

It cause by you all

I hate you all

While i am here alone

Without a friend deal and agree

With my argue

I will hate my clue

I will have legs to my walk off

I will be an editor in my life

Except… like you. I hate you so,..

I hate a mischievous one…

And, that’s you…

(30 september 10

Posted in POETRY | 2 Comments

“I Could…”


I’ll stand by you forever

I just wanna hold you

O yeah… i want to be

I’ll be your hero, babe…

You can take my breath

Now.. stand by you forever

You can take my breath away

You can pick my existance

Now i see..

You love me

So i left for you…

I feel so love a fall

I can know you complete me

So i live a fall

Someone beautiful face

Come to support me

When think you i have

I can helped break down

I cry… to tell me

And i don’t want to let you go

Forever you fun me

To make me fall in love

Someone i see

That you loved me

(22 juni 10)

Posted in POETRY | 2 Comments

jalan – jalan ke pasar sragen


jalan – jalan bareng neva ^^

lucunya adik io satu nih ^^

ckckck ^^

hmmm.. hahaha ^^

hayo ngapain itu ?

hahaha///bisa aja…

Posted in IDE GILA | 1 Comment

my pict 2


 

I drew it by myself.
how do you think ?
any strange with my pict.. ?
hahah.. the first time i made it unpreditable, actually can be like this.. ^^

Posted in IDE GILA | Tagged | 1 Comment

DISGUISE By Lene Marlin


Have you ever felt some kind of emptiness inside
You will never measure up, to those people you
Must be strong, can’t show them that you’re weak
Have you ever told someone something
That’s far from the truth
Let them know that you’re okay
Just to make them stop
All the wondering, and questions they may haveI’m okay, I really am now
Just needed some time, to figure things out
Not telling lies, I’ll be honest with you
Still we don’t know what’s yet to come

Have you ever seen your face,
In a mirror there’s a smile
But inside you’re just a mess,
You feel far from good
Need to hide, ‘cos they’d never understand
Have you ever had this wish, of being
Somewhere else
To let go of your disguise, all your worries too
And from that moment, then you see things clear

I’m okay, I really am now
Just needed some time, to figure things out
Not telling lies, I’ll be honest with you
Still we don’t know what’s yet to come

Are you waiting for the day
When your pain will disappear
When you know that it’s not true
What they say about you
You could not care less about the things
Surrounding you
Ignoring all the voices from the walls

I’m okay, I really am now
Just needed some time, to figure things out
Not telling lies, I’ll be honest with you
Still we don’t know what’s yet to come
I’m okay, I really am now
Just needed some time, to figure things out
Not telling lies, I’ll be honest with you
Still we don’t know what’s yet to come

Still we don’t know what’s yet to come
Still we don’t know what’s yet to come..

Posted in SONG LYRIC | Leave a comment

PERKEMBANGAN PERS/MEDIA LOKAL


JUMLAH PERS LOKAL/DAERAH
(DATA DEWAN PERS 2010)

JUMLAH MEDIA LOKAL SE-INDONESIA:

—MEDIA CETAK   : 629
—RADIO  : 352
—TELEVISI  : 102
—

JUMLAH MEDIA LOKAL DI JAWA TIMUR:

—MEDIA CETAK  : 72
—RADIO  : 86
—TELEVISI  : 12
PERS/MEDIA LOKAL
  • —PERS/MEDIA LOKAL MERUPAKAN KOMPONEN  PERS NASIONAL YANG BERADA DI DAERAH (PROVINSI, KABUPATEN/KOTA)
  • —PERS/MEDIA LOKAL SEBAGIAN MERUPAKAN JARINGAN PERUSAHAAN PERS NASIONAL YANG BERADA DI PROVINSI, KAB/KOTA.
  • —PERS/MEDIA LOKAL , MEDIA MASSA YANG MEMUAT / MENYIARKAN CONTENT LOKAL ATAU KHAS KEDAERAHAN
  • —PERS/MEDIA LOKAL MEMILIKI KANTOR PUSAT OPERASIONAL DI DAERAH

KARAKTER PERS LOKAL PASCA REFORMASI

1. PERS LOKAL, EKSISTENSI DAN OPERASIONAL TIDAK LAGI TERGANTUNG PADA IJIN TERBIT

2. PENDIRIAN INDUSTRI PERS LOKAL TERBUKA BAGI INVESTOR LUAR DAERAH ITU SENDIRI

3. PERS LOKAL UMUMNYA MEMILIKI KEMAMPUAN HIDUP DAN BERKEMBANG SECARA INDEPENDEN

4. PERS LOKAL MEMILIKI PELUANG TERBUKA UNTUK BERKEMBANG SBG INDUSTRI

5. PERS LOKAL MAMPU BERPERAN SBG SUMBER INFORMASI DAN FUNGSI KONTROL

6. MEDIA ELEKTRONIK LOKAL TUMBUH PESAT, DEMIKIAN JUGA MULTIMEDIA

7. KEBEBASAN PERS DI DAERAH MASIH SERING MENGALAMI ANCAMAN DAN INTERVENSI

8. PERS LOKAL BERKEMBANG SETARA DENGAN PERS NASIONAL SBG KOMPONEN INDUSTRI PERS

REGULASI PENYIARAN LOKAL

—UU NOMOR 32 TAHUN 2002 TENTANG PENYIARAN
—PASAL 31 :
—(1) LEMBAGA PENYIARAN YANG MENYELENGGARAKAN JASA PENYIARAN RADIO / TELEVISI TERDIRI STASIUN PENYIARAN JARINGAN DAN/ATAU STASIUN PENYIARAN LOKAL
—(3) LEMBAGA PENYIARAN SWASTA (NASIONAL) DPT MENYELENGGARAKAN SIARAN MELALUI SISTEM STASIUN JARINGAN DG JANGKAUAN WILAYAH TERBATAS
—(5) STASIUN  PENYIARAN LOKAL DAPAT DIDIRIKAN DI LOKASI TERTENTU DLM WILAYAH NKRI DG WILAYAH JANGKAUAN SIARAN TERBATAS PADA LOKASI TSB

 

 

Posted in PENGANTAR | Tagged , | 1 Comment

my pict


ini gambaran tangan io…

gimana menurut kalian ?

rada jelek ya?

tapi lumayanlah.. nggak jelek – jelek amat.. hahah.. karya sendiri musti dihargai, ne.. hahaha..

Posted in IDE GILA | Tagged , | 1 Comment

Cara Ngadepin Bos yang Plin Plan


pernahkah kalian merasakan punya bos yang plin plan ?

sebentar – sebentar bilang A, tapi setelah kerjaan nyaris kelar, mendadak tugas yang dikumpulkan harus dalam format B ?

NGEREPOTIN kan kalau kaya gini ?

gimana cara ngadepinnya ?

1. ingetin dia kalau janji awalnya bukan kaya konsep yang terakhir

kalau belum jelas juga gunakan cara kedua

2. “bos, kelihatannya yang kemarin itu bos, mintanya beda, deh… bukan ini. tapi yang ini bos,” sambil tunjukkan catatan – catatan kerja kamu

3. terakhir nih kalau udah terlanjur dongkol banget, rekam semua yang bos kamu ajukan buat tugas kamu. suatu saat dia berubah pikiran lagi putar rekamannya. gimana responnya mari kita lihat bersama – sama.

 

gimana ? cukup membantu tidak ?

try this !

Posted in COMPLAINT | Tagged | 3 Comments

Akun Banyak Bikin Pusing


pernah nggak sih, ngerasain hal2 yang aneh tapi ngejengkelin..

io punya banyak banget kalau soal ini mah..

 

io ini punya banyak banget akun di sosial media. yang pertama emang ikut e-mail itu tahun 2007 tapi langsung aktif terus sampai sekarang. karena saking banyaknya samapai2 io jadi sering lupa passwordnya. dan parahnya e-mail pertama io yang obstinate_shiella@yahoo.com itu kebajak sama hacker. io sedih banget sampai buat yang obstinate_sfas@yahoo.com. terus yang sekarang ada 6 e-mail akun yang aktif. multifungsi sih.

tapi kekurangannya itu banyak. ada yang karena io sering online jadi banyak musuh, suka debat, dan suka komentar di sana – sini yang mungkin omongan io emang nggak ngenakin buat dibaca orang lain. lain kali io akan lebih berhati – hati lagi deh.

untuk pengalaman yang sangat bermanfaat ini, pasti akan selalu io ingat.

buat temen2 sarannya selalu gunakana nama dan password yang berbeda untuk setiap akun anda. ^^

tha’s all enough for today i think !^^

Posted in COMPLAINT | 1 Comment

God Gave Me You


 CHAPTER 15

#Second Chance#

May 31, ’12 4:15 AM
for everyone

Title : God Gave Me You

Genre : Romance and Comedy

Rate : PG

Author : Shiella Fiolly (io)

Cast :

Jang Geun Seok

Park Shin Hye

Kim Jae Joong

Han Hyo Joo

Pagi – pagi Sekali Shin Hye sudah terbangun dari tidurnya. Dirinhya yang bahkan tak ingin segera membangunkan Sukkie yang dibiarkannya untuk bangun sendiri, entahlah apa yang membuat Shin Hye begitu gelisah hari itu. Dirinya pun memutuskan untuk segera pergi ke dapurnya terlebih dahulu, membuat secangkir kopi mungkin akan segera memulihkan kegusarannya itu. Dipikirnya. Bolak – balik dirinya mengudak sendok berputar – putar di atas cangkirnya. Namun bahkan dirinya sama sekali tak memperhatikan apa yang tengah dilakukannya itu, hingga kopi panasnya yang tumpah membasahi rok selututnya menyadarkan Shin Hye dari lamunannya yang sedari tadi masih mengganggu konsentrasinya itu.

“Ya, ampun. Bodohnya aku, apa yang aku lakukan ?” katanya sembari memegangi roknya yang tellah kotor oleh noda kopi yang berwarna hitam itu.

“Aku harus segera membersihakannya. Ini kan manis. Bisa – bisa semut berkumpul di sini.” Ujarnya sambil mengelap roknya dengan kain basah yang berada di tangan kirinya. Tanpa disadarinya Sukkie yang sedari bangun baru saja datang memperhatikan tingkah istrinya itu yang di pagi hari sudah kerepotan seperti itu nampaknya.

“Apa yang terjadi ?” tanya Sukkie yang sudah berada di belakang Shin Hye.

“HAK ?” pekik Shin Hye terperanjat kaget oleh sebab entah kapan Sukkie sudah berada di belakangnya.

“Ya, sejak kapan kau di situ ?” tanya Shin Hye sambil memegangi dadanya.

“aku barusan datang, kenapa ?” tanya Sukkie dengan nada yang menyelidik.

“Tidak, hanya saja, rokku ketumpahan kopi. Bagaimana tidurmu ?” tanya Shin Hye lagi. Kendati dirinya yang tidur di kamar yang terpisah dengan Sukkie itu, sehingga dirinya pun harus menanyakan bagaimana malam Sukkie kemarin.

“Seperti biasa, belum ada yang berubah. Semuanya masih nampak sama saja, kogh.

“Benarkah ? Syukurlah.” Ucap Sukkie senang.

“Kau tidak ingin keluar ?”

“Tidak, memangnya kenapa ? mau pergi ?” tanya Sukkie.

“Tidak. Aku sedang ingin di rumah saja. aku sedang tidak berminat untuk keluar.” Kata Shin Hye lemas.

“Kenapa begitu ? itu akan membuat pikiranmu kembali fresh, sayang.” Bujuk Sukkie tiba – tiba.

Shin Hye yang mulai menggoreng telur mata sapi itu pun hanya menanggapi ocehan Sukkie dengan tanggapan yang biasa saja.  Shin Hye hanya butuh menenangkan diri. Sebenarnya apa  yang sedang terjadi sehingga ayahnya bahkan mengirimkan sebuah paket untuknya.  Buru – buru dirinya membuka paket itu, namun bahkan Sukkie yang agaknya tak ingin melepaskannya begitu saja, melihat Shin Hye yang hendak – hendak ingin pergi itu pun Sukkie mendadak menjadi sangat manja padanya.

Sukkiepun melingkarkan lengannya ke pundak Shin Hye. Sembari berakting seperti anak kecil yang merengek untuk lekas dibelikan permen dirinya menahan Shin Hye untuk tidak pergi kemana pun. Beberapa kali dirinya menyiumi tengkuk kurus istrinya itu, membuat Shin Hye geli dan bergerak – gerak menjauh,

“Apa kau tidak ingin lebih lama di sini bersamaku saja ?” tanya Sukkie yang menciumi leher sang istri hingga Shin Hye terpaksa harus mengelak beberapa kali.

“Geli, jangan begitu. Lepaskan aku,” kata Shin Hye berusaha melawan Sukkie. Namun Sukkie masih tetap mengganggunya.

“Aku tidak mau. Aku ingin kau menemaniku sepertinya.” Cepet kogh, iya, kan ? katanya santai tanpa melihat raut muka Shin Hye yang sepertinya sudah tidak ingin lagi datang ke tempat yang pernah sempat dilewatinya bersama sesaat sebelum kedua sahabatnya itu mendapatkan sepeda motor dari kedua orang tuanya dan lebih suka berangkat sendiri semenjak hari itu ke kampusnya.

“Tapi aku ingin keluar, Sukkie. Jangan seperti anak kecil begitu, Sukkie.” Kata Shin Hye mengingatkan.

“Baiklah. Baiklah.” Kata Sukkie menyerah sembari memonyongkan bibirnya dan menjauh dari Shin Hye seketika. Dirinya bahkan entah sedari kapan menahan kekesalannya itu kepada sang istri. Shin Hye yang terlihat begitu kelelahan itu pun hanya bisa melihat suamninya yang menekuk mukanya masing – masing.

“Kenapa dia ?” gumam Shin Hye yang mendadak mendapati Sukkie pergi meninggalkannya.

 

ღღღ

 

Jae Joong pun terkaget mendapati kabar yang barusan didengarnya dari layar kaca, Sukkie menikahi Shin Hye dengan terpaksa dan Cuma – Cuma. Apa ini benar. Dirinya bahkan tak bisa menerima kalau ternyata hal ini adalah kebenaran seperti apa yang diberitakan media mengenai mereka. Dipikirnya mana mungkin Shin Hye dan Sukkie merahasiakan hal ini darinya. Namun sepertinya memang seperti itulah dirinya sudah dikhianati oleh kedua sahabatnya itu. Namun benarkah semua ini.,, bahkan dirinya tak bisa mengira. Dirinya tak habis pikir dengan ini semua.

“Ya, Sukkie kenapa kau membohongiku, ha ?” teriak Jae Joong dari dalam telepon di seberang yang begitu kerasnya mengiang di telinga Sukkie. Membuat Sukkie terpaksa harus mengalihkan teleponnya ye arah depan wajahnya yang sedikit menjorok ke kiri. Tak berharap telinganya akan kesakitan menerima hal ini tadi.

“Ada apa, ha ? pagi – pagi begini sudah membuat masalah saja.” keluah Sukkie yang masih merasa mengantuk itu. Bahkan dari pagi hari dirinya belum tidur sama sekali. Dirinya harus melakukan pekerjaan itu sendirian. Sebuah lamaran pekerjaan yang baru yang diketiknya untuk segera melamar ke sebuah perusahaan yang akan mau menerimanya. Dipikir Sukkie.

“Kau ini, memang benar – benar. Jelas – jelas kau telah menikah kenapa tak mengabariku, ha ?”

“Oh, itu. Aku memang sengaja merahasiakannya dari orang – orang terdekat karena aku tahu sekali orang tua Shin Hye dengan orang tuaku yang bahkan belum akur sama sekali itu. Mungkin mereka masih bersitegang sampai sekarag ini. jadi aku sengaja buat seperti ini ceritanya. Maafkan aku, ya. kawan.”

“Untuk hal sepenting ini kau juga haru smerahasiakannya darrriku ? sungguh keterlaluan sekali kau itu, ha ?”

“Lalu ?”

“Untuk saat ini aku tidak lagi menganggapu sahabatku. Namun gulma.” Kata Jae Joong sembarangan.

“APA ? Kau ini.. berani – beraninya..”

“Mengapa tidak ? kau saja tega terhadapku, masa aku harus tak berani melawanmu.”

“Ya, Kau ! baiklah, aku terima tantanganmu. Akan mampu sampai kapan kau terus mendiamiku seperti saat ini, ha ?” kata Sukkie yang tak kalah kerasnya di telepon.

Mereka pun akhirnya menutup telepon dengan perasaan yang berkecamuk masing – masing. Mereka berdua sama – sama tak tenang sebab mereka yang mengatakan akan melihat seberapa kuat persahabatan mereka yang tengah dilapisi oleh rasa kekesalan itu. Akan ini semua berakhir menyenangkan seperti biasanya. Jae Joong bahkan hanya bisa mengendus nafas kesal sesaat. Apa benar dirinya mampu menghadapi hal ini. Sukkie memang sering kali menyebalkan namun tak sampai seperti ini. kelakuannya akhir – akhir ini memang dirasanya yang terparah dari hari – hari biasanya.

“Sukkie. Awas kau, ya !” kata Jae Joong marah menggertakan gigi – giginya.

 

ღღღ

 

Paman dan bibi Shin Hye pun mendatangi kediaman rumah orang tua Sukkie meminta pertanggungjawaban atas apa yang tengah menimpa keluarganya lewat berbagai surat kabar yang telah menyebarkan berita persembunyian sang keponakan mereka dengan anak laki – lakinya, Sukkie. Sudah sejak lama memang, hampir – hampir tiga minggu bahkan paman dan bibi Ban sudah tidak pernah mempermasalahkannya namun apa yang membuatnya begitu marah dan membuat perhitungan dengan keluarga Sukkie kali ini. dalam benak mereka pasti keluarga Sukkie yang tengah merencanakan semua ini hingga bahkan Shin Hye yang mampu menikah tanpa sepengetahuan mereka.

“Bagaimana ? apa kau sanggup menebusnya dengan keselamatanmu ?” tanya Bibi Ban mengancam Ibu Sukkie.

“Apa maksudmu, ha ? Anakku sendiri bahkan aku tak mengetahui dimana keberadaannya. Pasti keponakanmu itu yang telah menyembunyikannya di suatu tempat, iya, kan ?” tanya Nyonya Sun Ae Ni tak kalah sengitnya.

“’Hati – hati, ya jika kau berbicara. Shin Hye bukanlah tipikal wanita yang murahan yang akan membawa siapapun yang disenanginya. Shin Hye itu gadis baik – baik dan beretka. Mungkin saja semua ini ulah putra yang begitu anda banggakan itu !” kata Bibi Ban yang kemudian hendak naik ke balkon mencari – cari kalau saja Shin Hye bersembunyi di rumah itu. Namun hasilnya tetap sama saja, Shin Hye tetap tak ditemukan. Sebenarnya kemana perginya gadis itu ? Bibi Ban dan suaminya pun semakin mengkhawatirkannya, semoga tak terjadi apapun dengan keponakannya itu.

“Shin Hye, jangan beginims sayang. Lekaslah pulang. Apa di sana kau juga merindukan kami ?” tanya Bibi Ban menghadap ke kamar Shin Hye yang kosong itu. Tak satu pun barang Shin Hye yang dipindahkan oleh Bibi Ban. Dia masih memikirkan kemungkinan Shin Hye yang akan pulang dan mendadak menempati kamarnya kembali.

“Sudahlah, ayo kita lihat saja apa yang seharusnya kita kerjakan.” Sentuk pundak BibI Ban Paman yang sedari tadi sudah berada di samping bibi Ban yang masih tak menyadari kedatangannya.

“Mengapa melamun ?” tanya paman menegur Bibi.

“Ah, tidak.” Kata Bibi berusaha menutupi rasa kerinduannya kepada kemenakannya itu dirinya pun hanya bisa kembali meandangi kamar Shin Hye yang berhari – hari sudah kosong itu.

“Segera kembali, Shin Hye.”

 

ღღღ

 

Soo Ji mendatangi kediaman Sukkie dan Shin Hye yang didapatnya dari sebuah blog pribadi Sukkie yang menyebutkan bahwa dirinya sekarang sedang dtinggal di sebuah kota yang masih sepi dengan Seoul. Entah mengapa Sukkie berpikir untuk pindah ke sana. Melihat transportasi saja yang begitu susah untuk masuk ke sana. Sesaat membuat Soo Ji bergidik ketakutan kalau – kalau dirinya macet di jalan dan tak ada orannng yang bisa dimintai pertolongan,

“Bagaimana ini ? sudah selarut ini ? apakah masih harus kuteruskan ?” tanya Soo Ji yang mulai membeku kedinginan. Dirinya pun segera menggunakan earmuffnya dan kemudian tetap menghampiri Sukkie dan Shin Hye. Dalam waktu tiga jam dirinya sudah mendapatkan alamat rumah Dewi itu.

“Entah apa yang harus aku lakukan. Aku haru stetap mempertahankan posisiku untuk tetap pergi ke sana.” Hingga saat itu dirinya sudah menemukan sebuah rumah yang lebih mirip villa yang nampak dari luar seperti masih kosong, namun ternhyata ada yang menyahut dari dalam.

“Malam begini, ternyata masih ada orang yang terbangun,” dan betapap kagetnya Soo Ji melihat Sukkie yang membukakan pintu rumah itu.

“Kau- Kau bagaimana bisa ada di sini ?” tanyanya tak habis pikir hingga matanya membelalak sempurna seperti orang yang bodoh.

“Jangan bengong seperti itu. Kau sebenarnya ingin masuk tidak ? kalau ingin masuk di dalam masuklah saja.” kata Sukkia yag sudah berjalan masuk terlebih dahulu diikuti Soo Ji yang tengah mengikuti laju langkahnya yang begitu lebar itu. Apakh benar apa yang dilihatnya ?

“Bagaimana bisa kau tinggal di sini ? apa benar kau sudah menikahi Shin hye ?” tanya Soo Ji yang sepertinya berusaha untuk mengetahui semuanya. Namun Sukkie hanya menoleh ke sebuah foto besar yang terpampang si samping kirinya. Dengan semburat putih – putih sebuah gaun panjang yang menyapu lantai di ujung – ujungnya dengan setelan tuxedo di sampingnya yang terlihat sedang melemparkan untuk sebuklet bunga dan gambar itu terlihat jelas begitu pula dengan para hadirin yang berada di sampingnya.

“Jadi itu benar ? Astaga. Lalu dimana Shin Hye sekarang ?”

“Dia sedang bersepeda di sekitar danau di balik kota ini. kau tahu, kan ?”

“Iya, aku tahu hanya saja sedikit masih tak percaya dengan apa yang barusan aku lihat ini. aku bertemu denganmu lalu mendengarmu mendadak sudah menikahinya. Hahaha. Begitu kebetulan yang terus – terus terjadi saja. keren sekali.” Kata Soo Ji panjang lebar. Membuat Sukkie hanya bisa mengangguk – anggukkan kepalanya tanda dirinya juga tidak menyangka bisa seperti ini. seperti mimpi saja.

Kalau Shin Hye pulang tolong katakan padanya tadi aku mencarinya ya ?” tanya Soo Ji berpesan kepada Sukkie yang terlihat tak begitu memperhatikannya. Namun Sukkie setidaknya tahu bahawa Soo Ji sudah ingin pulang. Diirnya menawarkan untuk pulang, namun rumit juga. Soo Ji yang merasa tak enak lebih memilih menaiki mobilnya menuju ke rumahnya.

“Bye., Sukkie. Jangan lupa pesanku untuk Shin hye !”

 

ღღღ

 

“Apa pula ini aku semakin tidak mengerti saja dengan apa yang terjadi di sni sebenarnya ? apakah aku harusny apulang dan membawa Shin Hye yang bahkan sedang sakit ini. Sukkie sepertinya ingin sekali melakukan itu namun kendaraan dan keadaan yang tidak mendukung menyebabkan kita harus sedikit memutar otak untuk menanggapi hal itu.” Kesal Sukkie langsung mengembalikan pandanganya ke arah Shin Hye yang sepertinya sedang duduk di meja riasnya dambil menyisir rabbutnya yang panjang sepinggang. Membuat Sukkie mendadak masuk begitu saja tanpa harus mengetuk pintu sebab yang telah terbuka begitu saja. menampilkan siluet Shin hye yang sedang terbawa suasana sore hari itu.

“Shin Hye.”

“Iya, apa, Sukkie ?”

“Apa kau tak merindukan orang tuamu ?”

“Mengapa kau menanyakan hal itu, ha ?” tanya Shin Hye mula – mula begitu dirinya tahu bahwa Sukkie terlihat lesu seperti tak memiliki tulang iga itu lagi.

“Tidak, aku hanya e.. sepertinya ingin mengunjungi mereka saja.” kata Sukkie pelan sekali nyaris tak terdengar oleh Shin Hye.

“Benarkah seperti itu ? Baiklah, mengapa tidak kita pergi ke sana ?” tanya Shin Hye yang menyetujuinya,

“Terima kasih, Shin Hye.” Kata Sukkie berteriak senang. Lalu mendsdak memeluk Shin Hye hingga Shin Hye yang harus oleng dan sulit menjaga keseimbangannya melihat Sukkie yang agaknya begitu senang dengan jawabanya.

“’Kapan kita akan ke sana ?” tanya Sukkie memeluk Shin Hye lebih erat membuat Shin Hye harus menyeimbangkan dirinya untuk ketinggian Sukkie yang begitu tinggi melampaui diriny itu.

“Ah, Sukkie. Biasakah kau melepaskan pelukanmu sebentar saja. aku sulit bernapas.” Kata Shin hye yang membuat Sukkie pun tergugah untuk menyaksikan Shin hye yang gelagapan itu.

“Ah, maaf.” Kata Sukkie. Lantas melanjutkan kata – katanya. “kita pergi sore ini juga, ya”

“APA ? mengapa tidak besok saja ? seperti tidak ada waktu lain saja,” celoteh Shin Hye yang membuat Sukkie tak habis pikir mengapa Shin Hye bisa sebegitu tenangnya.

“Ya, sayang, jawab dulu pertanyaanku.” Kata Sukkie mengejar Shin Hye yang terlebih dahulu telah naik ke atas,

“Sudahlah, aku mau tidur.”

“Ya, sudah aku ikut denganmu.”

“Tidak boleh. Aku tidak mau diganggu.”

“Aku justru akan banyak membantumu. Percayalah,” kata Sukkie menimpalinya masih di depan pintu kamar Shin hye yag ternyata tidak di kuncinya, dan akhirnya pun Sukkie masuk tanpa haru minta perijinan oleh Shin Hye terlebih dahulu.

“Apa kau menikmati suasana di sini ?”

“Sepertinya iya.. memang seperti itu adanya, Sukkie. Kau sendiri ?” tanya Shin Hye dengan mata yang tertutup. Sukkie pun berbalik memandangi ke wajah istrinya yang tenagh berushaa untuk beristirahat itu.

“Cantik.”

 

ღ TO BE CONTINOUED ღ

Posted in NOVEL | Tagged , , | 1 Comment

God Gave Me You


CHAPTER 14

#More Clearly#

May 30, ’12 12:51 AM
for everyone

Title : God Gave Me You

Genre : Romance and Comedy

Rate : PG

Author : Shiella Fiolly (io)

Cast :

Jang Geun Seok

Park Shin Hye

Kim Jae Joong

Han Hyo Joo

Sore ini Sukkie pun ingin segera membawa Shin Hye ke rumahnya. Belum apa – apa Shin Hye pun berusaha menolak kendati dirinya tahu dari sang ibunya perihal ibu Sukkie yang tak menyukai hubungan mereka. Shin Hye mana mungkin berani ke sana apabila memang seperti itu ceritanya. Dirinya pun segera memaparkan alasannya mengapa menolak ajakan Sukkie unuk datang sekedar mengunjungi kediaman calon mertuanya itu. Sukkie ingin sekali segera bisa meresmikan hubungannya dengan Shin Hye. Tentu dengan seperijinan dari kedua orang tuanya. Untuk itulah dirinya berencana membawa Shin Hye ke rumahnya.

“Kenapa kau musti takut ? Ibuku tidak akan sekejam itu kepadamu ? Ayolah, aku bisa memastikannya.” Kata Sukkie berusaha mati – matian untuk membujuk Shin Hyenya.

“Tapi Sukkie. Aku kenal sekali dengan ibuku. Dia tidak akan main – main dengan apa yang dikatakannya.” Kata Shin Hye dengan sedikit kerutan di dahinya sebab dirinya mengernyit berpikir tak kalah kerasnya.

“Bisa saja ibumu hanya salah paham dengan ibuku. Kau kan juga tidak melihatnya sendiri dengan mata kepalamu.” Tolak Sukkie memberikan perumpamaan yang membuat Shin Hye menjadi bimbang untuk menolak ajakannya atau mengiyakannnya.

“Baiklah kalau begitu. Akan aku coba tapi aku tidak menjamin bagaimana hasilnya. Kalau ibumu mengusirku aku pulang, ya.” kata Shin Hye memberi syarat.

“Ya, jangan berpikir negatif dulu seperti itu, Shin Hye.”

“Lantas aku harus bagaimana ?”

“Lakukanlah seolah – olah kau tak tahu menahu tentang persoalan orang tua kita. Lantas kita tinggal menjalankan rencananya.” Kata Sukkie memperingatkan Shin Hye dengan sabar.

“Apa harus ?” tanya Shin Hye yang masih merasa tidak yakin. Sukkie pun membalasnya dengan anggukan yang luar biasa semangatnya. Membuat Shin Hye merasa tidak enak kalau memang benar dirinya nanti tak dappat banyak membantu.

“Kau santailah. Jangan gugup seperti ini.” ucap Sukkie kepada Shin Hye sesaat Sukkie menggandeng tangan Shin Hye dan mengetahui denyut di tangan Shin Hye yang berdetak tak karuan ketukannya.

“Aku  tidak..” kata Shin Hye terpotong.

“Apa ? jangan mengelak. Aku bahkan bisa merasakannya.” Kata Sukkie menjawab dengan sedikit rasa gusar di hatinya.

“Maaf.” Kata Shin Hye menunduk merasa bersalah.

“Minta maafnya lain kali saja. sekarang bukan saatnya kita memikirkan ini. Kita harus melakukan sesuatu untuk kedua orang tuaku.” Kata Sukkie memimpin Shin Hye duduk di sampingnya menghadapi kedua orang tua Sukkie yang sudah sedari tadi duduk tenang menghadap ke televisi.

“E, ayah, ibu, maaf kami menngganggu sebelumnya. Kedatanganku ke sini untuk membicarakan rencana kami ke depan beberapa bulan mendaang ibu, ayah. Aku ingin sekali segera meresmikan hubunganku dengan Shin Hye,” ucap Sukkie yang belum sempat menyelesaikan ucapannya sampai titik namun tiba – tiba sang ibunya pun sudah memarahinya habis – habisan. Di depan Shin Hye pula, itu yang membuat Shin Hye tak enak hati dan membuatnya kehilangan kepercayaan diri untuk saat itu juga. namun Sukkie yang berusaha untuk tetap mempertahankan ucapannya itu pun hanya bisa membuat ibunya semakin meledakkan amarahnya saja. kendati dirinya yang memutuskan untuk pergi terlebih dahulu bersama dengan Shin Hye.

“Apa ini pantas Sukkie ? seharusnya kau tak melakukan hal ini. aku takut kau menjadi durhaka kepada ibumu.” Kata Shin Hye mengingatkan Sukkie halus dan menyentuh punggung telapak tangan Sukkie.

“Tidak apa. Memang di sini ibuku yang sudah keterlaluan. Apa kau masih mau memaafkan kesalahannya, Shin Hye ?” ucap Sukkie kembali menggenggam erat kedua tangan Shin Hye sambil meliha ke arah mata Shin Hye yang sepertinya berusaha kerasa untuk menahan air matanya untuk tidak keluar.

Shin Hye pun hanya mengganggukkan kepalanya membuat Sukkie semakin tak tega untuk melihat ke arahnya.

“Terima kasih, Shin Hye.” Ucap Sukkie singkat sembari memeluk tubuh Shin Hye yang tengah mulai menangis itu.

 

ღღღ

 

Shin Hye pun segera kembali ke rumah. Sesampainya di rumah Sukkie pun mengirimkan pesan singkat kepadanya. Yang bertuliskan, “Shin Hye, berjuanglah !” yang membuat Shin Hye tersenyum ketika hendak memasuki ke dalam rumahnya.

“Paman, Bibi, aku pulang.” Ucap Shin Hye melepas sepatunya dan masuk ke dalam rumah nya. Melihat rumahnya yang tampak Sepi Shin Hye pun segera masuk tanpa harus mencari tahu dimana paman dan bibinya pergi. Namun mendadak ibunya pun keluar memergoki Shin Hye.

“Kau baru saja pergi dengan laki – laki brandal itu lagi ?” pertanyaannya yang langsung tepat begitu saja melewati ke telinga Shin Hye. Membuat Shin hye langsung merasa panas mendengarnya.

“Dia bukan laki – laki seperti yang ibu bayangkan. Dia punya nama dan aku sangat mencintainya, jadi ibu tak berhak mengecamnya seperti itu.” Kata Shin Hye membela Sukkie di depan ibunya.

“Apa kau masih berani bicara setelah ini. akan aku pastikan kau tidak bisa berhubungan lagi dengannya.” Kata Kyu Min mempertegas ucapannya.

“Akan sekuat apa ibu melarangku berhubungan dengannya, aku rasa itu akan menjadi urusan kami. Jadi aku tak perlu takut bila harus berhadapan dengan ibu. Tidak juga dengan ibunya.” Kata Shin Hye meninggalkan ibunya yang masih berdiri membelakanginya. Melewatinya lantas terus berjalan menuju kamarnya.

Di dalam kamar pun Shin Hye kembali berpikir. Apakah benar dirinya harus melawan kedua larangan yang diberikan oleh ibu Sukkie dan terutama ibunya sendiri ? Shin Hye memang tak mungkin melawannya sendirian. Tentu dengan Sukkie yang mendampinginya. Namun dirinya tak yakin akankah diriny mampu setiap saat harus meladeni ocehan dari kedua orang tuanya itu. Lagi – lagi ini menjadi kendala bagi Shin Hye. Shin Hye pun hanya bisa mencurahkan isi hatinya ini kepada Hyo Joo. Di sisi lain Hyo Joo justru merasa tak nyaman dengan ibu Sukkie sebab dirinya tahu benar bagaimana perwatakan ibu Sukkie yang begitu sombong dan tak dapat disaingi.

“Kau sabar saja ya, Shin Hye. Berdoalah agar ini segera dapat berlalu dengan cepat. Mengerti. Aku yakin semua pasti akan ada jalan keluarnya. Lagi pula sudah hampir dua tahun kan kau menjalin hubungan dengan Sukkie dan selama ini kalian tentu telah melewati berbagai macam tantangan bersama. Pasti untuk ini kalian pun bisa melwatinya. Aku selalu mendoakan yang terbaik untuk kalian.” Ucap Hyo Joo yang membuat hati Shin Hye merasa lega.

“Terima kasih, Hyo Joo, terima kasih.” Ucap Shin Hye memeluk sahabatnya itu. Mereka pun pergi keluar bersama ke sebuah pusat perbelanjaan dan membeli beberapa dress untuk pesta peresmian pernikahan Shin Hye yang akan dilaksanakan tepat  pada saat ulang tahunnya.

“Pasti di hari itu akan menjadi hari yang super spesial untukmu. Kau akan berdandan cantik dan sorenya kau sudah menyandang nana nyonya Jang.” Ucap Hyo Joo semangat.  Membuat Shin Hye merasa malu dan menyenggol pundak Hyo Joo. Hingga Hyo Joo pun harus kembali menggodanya.

“Sudahlah, jangan berkata seperti itu lagi. Aku malu.” Kata Shin Hye dengan muka yang mulai memerah sempurna.

“Hahaha.Kau ini begitu saja malu. Santai saja. memang begiu kan kenyataannya ?” tanya Hyo Joo.

“Tapi bukan seperti itu juga responmu.” Kata Shin Hye mengangkat tas – tas belanjaannya.

 

ღღღ

 

Jae Joong sudah memasuki latar rumah Sukkie. Tak dilihatnya Sukkie berada di kmarnya. Lantas Jae Joong pun segera pergi dan menanyakan kepada ibu dan ayah Sukkie kira – kira kemanakah perginya Sukkie. Namun dengan cueknya pun orang tua Sukkie tak menanggapinya dengan baik. Hingga Jae Joong pun heran dan hendak pergi.

“Memangnya ada apa dengan kalian, paman, bibi ? tak biasanya ketus begitu menanggapi pertanyaanku ?” tanya Jae Joong santai dan lekas pergi.

“Bilang kepada Sukkie kalau kau bertemu dengannya. Lebih baik jangan pulang kecuali kalau dia tak jadi mempersunting gadis sialan itu.”

APA ? Jadi ini yang membuat paman dan bibi menjadi tidak beres. Baiklah, Jae Joong pun tidak akan tinggal diam. Dan segera menyusul Sukkie secepatnya.

Di jalan Jae Joong pun tak menemukan Sukkie, dirinya sudah hampir gila karena tak bisa menemukannya meski sudah berusaha sekuat tenaga unuk mecari.

“Sebernanya kemana perginya, sih ?” gumam Jae Joong yang memegangi kepalanya yang tak teras pusing itu wira – wiri di tengah halte. Apa mungkin Sukkie kabur dengan Shin Hye seperti dugaan awalnya ? Jae Joong pun segera mengechek ke nomor telepon Shin Hye. Siapa tahu itu benar. Benar juga, Shin Hye tak mengangkat teleponnya. Jae Joong pun semakin khawatir saja. dilihatnya ke arah jamnya yang sudah mengisyaratkan bahwa in sudah pukul 2 siang. Namun dirinya belum juga mampu menemukan Sukkie sahabatnya.

“Apa mungkin ke tempat Bong Gul ?” kata Jae Joong masuk ke mobilnya dan segera melajukannya menuju rumah Bong Gul.

Namun sesampainya di rumah Bong Gul pun tak didapatinya Sukkie ada. Begitu juga di rumah Jin Goo. Mana mungkin pergi ke rumah Hyo Joo ataupun Rae Ha. Terpaksa Jae Joong pun harus mengechek ke dalam rumah kedua orang yang berhubungan dengannya itu.

“Apa Sukkie ada di sini ?” tanya Jae Joong yang membuat Rae Ha sedikit bingung mengapa Jae Joong jauh – jauh kemari hanya mencari Sukkie.

“Sukkie tidak ada. Memangnya ada apa dengan Sukkie ?” tanya Rae Ha yang menjadi ingin tahu tentang apa yang terjadi sebenarnya.

“Tidak hanya saja aku tidak menemukannya seharian ini, kau bisa mmebantuku mnecarinya ?” taaanya Jae Joong kepada Rae Ha yang terlihat tidak begitu konsentrasitu,

“Apa kau sudah mencarinya ke danau ?” tanya Rae Ha.

“Bagaimana kau bisa tahu ?” tanya Jae Joong memegangi pundak Rae Ha yang membuat Rae Ha gugup.

“Sebab aku sering melihat dia di sana dengan Shin Hye,” katanya.

“Baiklah.”

 

ღღღ

 

Soo Ji datang ke rumah Shin Hye. Dirinya yang hendak mencari Shin Hye untuk menemaninya mencari referensi ke pertunjukkan musik itu pun bertemu dengan paman Shin Hye.

“Shin Hye adakah di rumah, paman ?” tanya Soo Ji sopan.

“Sedari kemarin sore dia tidak pulang, entahlah kalau dia bermalam di rumah temannya yang lain.” Kata paman menerangkan seadanya. Soo Ji pun pamit dan lekas menghubungi kek nomor phonecell Shin Hye. Namun hasilnya mail box. Dirinya yang heran dengan apa yang sebenarnya terjadi pun hanya bisa merenungi dan menebak – nebak kemana perginya Shin Hye. Dan dirinya pun segera menelepon Hyo Joo.

“Apa Shin Hye bersamamu ?” tanya Soo Ji langsung. Namun Hyo Joo sepertinya menutupi sesuatu darinya.

“tidak. Aku tidak tahu apa – apa tentangnya. Kau cari saja ke suatu tempat, nanti kalau sudah ketemu kau kabari aku.” Kata Hyo Joo yang tyerlebih dahulu menutup teleponnya. Mencurigakan sekali. Tak biasanya dia seperti itu. Bisa – bisanya. Siapa yang mengangkat, siapa yang menutup teleponnya.

 

ღღღ

 

Di sisi lain Shin Hye pun tengah melangsungkan pernikahannya di dalam gereja. Dengan gaun semburat putih dia pun melangkah maju ke altar. Dengan kedatangan ayanya Lee Man Seo, sebagai walinya yang mendampingi Shin Hye dan menyerahkan tangan Shin Hye untuk berjalan menghampiri Sukkie yang sudah mengenakan tuxedo hitamnya.

Meski menggunakan penutup tapi wajah Shin Hye tetap terlihat cantik. Dengan parasnya yang sedikit dipoles dengan make up membuat auranya makin terpancar keluar. Sedangkan Sukkie hanya bisa terdiam menatapnya gugup, apa lagi saat dirinya harus mengikrarkan janji dan membuat Shin Hye harus terpaksa melihatnya tegang seperti itu. Seperti bukan Sukkie saja.

Senyum Shin Hye pun tampak manis, menyambut Sukkie yang telah menautkan cincin emas putih di jari manisnya. Membuka pelapis tipis yang Shin Hye gunakan untuk menutupi wajah cantinya. Dan bersiap menerima ciuman snap kiss dari Sukkie. Shin Hye pun tersenyum hingga dia yang keluar menuruni altar dan bersiap untuk membuang buklet bunya mawar puih yang dibawanya ke belakang untuk menemukan siapa yang akan menerima bunga darinya untuk segera menyusul ke pelaminan. Hingga satu, dua, tiga. Dalam hitungan detik itu pun ternyata Hyo Joolah yang menerima bunga itu hingga Hyo Joo hanya tersenyum bahagian dan dengan senang hai menerima bunga itu. Semua orang yang hadir pun bersorak meneriakinya.

Shin Hye pun melangkah menuju ke dalam mobil sembari melambaikan tangannya. Sang ayah yang hanya melihatnya dari kejauhan iku tersenyum bahagia melihat putri kecilnya kini yang telah tumbuh menjadi seorang gadis yang sempurna, wanita seutuhnya sekarang.

“Ayah turut berbahagia, Shin Hye. Hanya ini yang bisa ayah lakukan. Maafkan ayah, tidak bisa menjadi ayah yang baik bagimu.” Kata sang ayah sembari menitikkan air matanya melihat mobil putrinya yang mulai menghilang dari kejauhan. Dan semua yang hadir pun segera membereskan diri untuk segera pulang. Namun sang ayah, Lee Man Seo pun menepuk bahu Hyo Joo dan menawarinya untuk pulang bersama.

“Apa hubunganmu dengan Shin Hye begitu dekat ?” tanya Lee Man Seoingin tahu.

“Iya bisa dibilang seperi itu, paman. Kami sudah dekat sejak Shin Hye menjadi siswi baru di SMU, Paman.” Kata Hyo Joo mengeratkan sabuk pengamannya di pinggangnya.

“Oh, jadi kau pasti tahu banyak ya tentang Shin Hye ?”

Hyo Joo pun tersenyum kecil. Selama di perjalanan pulang, Hyo Joo pun banyak membicarakan banyak hal dengan Lee Man Seo. Hingga sesampainya di rumah Hyo Joo, Lee Man Seo pun langsung mengemudikan mobilnya kembali ke kantornya.

 

ღღღ

 

Shin Hye pun masih agak canggung bagaimana menjadi sosok seorang istri yang baik baik Sukkie. Sesekali dirinya berusaha untuk melayani Sukkie, dan agaknya Sukkie juga mengerti dengan usahanya itu, Sukkie pun meraih tangan Shin Hye dan mendudukkannya ke sofa.

“Sini, duduklah. Kenapa masih di situ. Aku kan membeli rumah ini untuk dihuni bukan untuk diirawat seperti itu olehmu.” Kata Sukkie melihat Shin Hye harus berusaha keras membersihkan semuanya.

“Besok, akan aku carikan pembantu untukmu, ya.” namun Shin Hye pun menolak lantaran dirinya bisa melakukannya semua sendiri. Sukkie yang merasa tak tega terhadap Shin Hye itu pun harus menerima kekalahannya sebab Shin Hye yang terus berusaha mengelak untuk melakukan semua pekerjaan sendiri.

“Ya, sudah baiklah kalau begitu. Aku tak bisa melarangmu.” Kata Sukkie melihat Shin Hye kembali meraih alat pelnya. Sesekali Sukki melihat Shin Hye dengan tatapan yang memelas.

“Kau apa masih bekerja di kantor ayahmu ?” pertanyaan ringan yang dilontarkan Shin Hye membuat Sukkie harus bersusah payah untuk menjawabnya. Sukkie pun menelan ludah berat sambil berusaha menutupi wajah canggungnya.

“Oh, itu. Aku sudah mengundurkan diri dari perusahaan.”

“Kenapa ? apa ayahmu marah besar karena aku ?”

“Tentu saja tidak.” Jawab Sukkie meraih pinggang Shin Hye yang berada di sampingnya dan mendongak melihat Shin Hye dan tersenyum lalu menempelkan kepalanya ke perut Shin Hye.

“Aku hanya sedang ingin tenang dulu. Tapi aku janji akan segera mendapatkan pekerjaan ganti.” Jawab Sukkie melayangkan senyumannya kembali ke arah Shin Hye.

“Hoh, aku kira karena aku kau dikerluarkan oleh ayahmu. Ternyata seperti itu ceritanya ?” kata Shin Hye menengahi.

“Maafkan aku, Shin Hye.” Gumam Sukkie yang terynyata terdengar oleh Shin Hye.

“Apa ?”

“Oh, tidak.” Kata Sukkie menutupi.

“Aku sepertinya mendengarmu berbicara tadi.”

“Tidak ada apa – apa, Shin Hye.” Shin Hye pun memicingkan mata melihat Sukkie yang sepertinya aneh sekali.

“Kenapa melihatku seperti itu, sih ?” kata Sukkie memalingkan wajahnya. Berusaha agar tak terlihat dengan raut wajahnya yang pasti sudah merah padam itu.

“Sebenarnya ada apa, ha ?” Shin Hye pun mendekat ke arahnya. Membuat Sukkie pun bingung dibuatnya.

“Tidak ada apa – apa, benar.” Sukkie pun mengedip – ngedipkan matanya takut – takut kalau Shin Hye marah dan memperlakukannya ketus. Tiba – tiba saja tangan Sukkie refleks mengangkat tubuh Shin Hye menuju ke kamarnya dan membuat Shin Hye terperanjat kaget dan memukul – mukul bahu Sukkie.

“Ya, apa yang kau lakukan, ha ? turunkan aku, Sukkie ! Sukkie !!!” pekik Shin Hye keras di depan teling Sukkie. Namun tak membuat Sukkie begitu saja berhenti dan menurunkannya. Alih – alih malah makin gencar saja mempercepat jalannya menuju ke kamar.

“Kau ingin kita punya berapa anak, Shin Hye ?” tanya Sukkie tiba – tiba membuat Shin Hye terlihat begitu bodoh mendengarkannya bertanya akan hal itu.

“Aku mau empat, apa kau ada usul lain ?”

“Apa ?” tanya Shin Hye seperti tidak percaya dengan apa yang didengarnya barusan begitu saja keluar dari mulut Sukkie.

“Aku-aku belum siap untuk punya anak sekarang.” Jawabnya datar.

“Bukan itu. Aku juga tahu hal itu. Tapi kau ingin punya anak berapa ?” tanya Sukkie ulang.

“Aku pikir dua juga tidak buruk.”

“Dua ? Apakah tidak kurang ?”

“Tidak. Itu sudah cukup.. satu laki – laki dan satu perempuan.”

“Aku mau dua laki – laki dan dua perempuan.” Ucapnya sambil mendekatkan wajahnya ke arah Shin Hye.

“Ya, kau genit.” Ucap Shin Hye menjauhkan kepalanya dari Sukkie.

 

ღ TO BE CONTINOUED ღ

Posted in NOVEL | Tagged , , | 44 Comments

God Gave Me You


CHAPTER 13

#Wind and Slippery#

May 27, ’12 11:39 PM
for everyone

 Title : God Gave Me You

Genre : Romance and Comedy

Rate : PG

Author : Shiella Fiolly (io)

Cast :

Jang Geun Seok

Park Shin Hye

Kim Jae Joong

Han Hyo Joo

Pagi hari ini Shin Hye pun mulai terbangun. Mengernyitkan permukaan dahinya dengan kedua alis yang hampir bertaut melihat seketika nuansa kamar yang begitu berbeda dibanding hari – hari biasanya. Matanya yang begitu berat seperti tak mau terbuka membuatnya enggan untuk segera beranjak dari tidurnya. Kecuali setelah melihat sesosok pria yang mengenakan bath towelnya yang serba putih dengan tubuh tegap yang menuju ke arahnya begitu dirinya tahu bahwa Shin Hye telah terbangun dari tidurnya.

“Kau sudah bangun ?” katanya bertanya sambil mengusap – usap rambutnya yang basah setelah keramas dengan handuk di tangan kirinya.

“Aku sudah menyiapkan air hangat untukmu. Mandilah, di sana sudah aku siapkan peralatan mandi untukmu.” Katanya lagi sembari beranjak pergi entahlah kemana sepertinya dirinya keluar kamar.

Shin Hye yang melihat semua kamarnya pun serasa hangat. Nuansanya yang penuh warna coklat muda dengan wallpaper yang serba minimalis membuatnya seperti merasakan tinggal dalam kamar sendiri. Benarkah kalau pria memiliki kamar serapi ini ? dirinya pun segera melangkahkan kaki ke kamar mandi untuk segera membersihkan diri.

Hingga beberapa menit kemudian dirinya yang keluar mengenakan bath towel berwarna merah muda pucat panjang yang menjuntai hingga ke bawah lututnya. Dirinya pun berkaca ke cermin besar yang berada dalam kamar tersebut. Hingga sang pemilik kamar pun masuk dan memberikan kaus putih panjang dengan lengan panjang berwarna merah. Dengan gambar icon yang membentuk sebuah senyuman di tengahnya. Lucu sekali. Namun setelah dicobanya ternyata sama dengan sang pria yang juga mengenakan kaus panjang tersebut hanya saja warna lengannya hijau. sedikit membuat Shin Hye terkekeh namun sang Pria tak merasa tersinggung sama sekali. Baginya justru bagus apabila gadis di hadapannya ini bisa tersenyum lebar.

“Kau suka ? Baguslah. Berarti aku tak salah pilih.” Kata sang pria yang kemudian hendak pergi sambil meraup kunci motornya yang berada di depan cermin.

“Sukkie,” pekik Shin Hye tiba – tiba.

“Kau mau kemana ?” tanya cemas takut – takut kalau dirinya ditinggalkan sendiri di dalam kamar itu.

“Aku mau pergi jalan – jalan. Tak mungkin juga berdiam diri di rumah. Ini kan hari libur.” Katanya beranjak pergi.

“Aku ikut.” Kata Shin Hye sambil berlari kecil mengikuti Sukkie di belakangnya.

“Untuk apa ikut ? Kau kan masih sakit ?”

“Kalau hanya di dalam aku malah makin sakit.” Kata Shin Hye menyentuh kepalanya yang tak terasa apa – apa.

“Benarkah ? kau harus tanggung sendiri bila terjadi apa – apa. Aku tidak ikut urusan.” Jawab Sukkie yang membuat Shin Hye cemberut sesaat. Namun melihat Sukkie yang sudah berjalan jauh di depannya membuatnya harus melebarkan jangka langkahnya.

“Baik.” Katanya menerima tantangan Sukkie. Lalu meraih Helm yang dibawa Sukkie dari dalam rumahnya. Menaiki motornya dan seketika motor dihidupkan membuatnya memeluk pinggang Sukkie dan terhenyak merapat sebab dirinya yang ketakutan dengan Sukkie yang mengendarai motornya dengan buas.

“Kau takut ngebut ?” tanya Sukkie sambil melirih Shin Hye yang dirasa semakin mencondong ke depan.

“Se-di-kit.” Jawab Shin Hye gengsi.

“Baguslah.” Jawab Sukkie semakin mengencangkan laju motornya. Dan semakin membuat Shin Hye mempererat pegangan tangannya yang melingkar di pinggang Sukkie lalu menempelkan kepalanya di punggung Sukkie.

 

ღღღ

 

Jae Joong pun mendapat kabar bahwa Shin Hye tidak pulang semalam ke rumah paman bibinya dari telepon bibi Ban. Jae Joong yang sudah mengira bahwa Shin Hye menginap di rumah Sukkie pun hanya menyuruh Bibi dan Paman Ban untuk tenang. Dirinya sudah mempercayakan segalanya mengenai Shin Hye kepada Sukkie. Mungkin hingga detik ini dirinya tak dapat mendapatkan cinta dari Shin Hye namun dirinya  setidaknya dapat melihat Shin Hye bahagia dengan lelaki yang memang pantas untuknya. Lagipula Jae Joong juga harus memperbaiki hubungannya dengan ayah ibunya yang telah lama memburuk semenjak ayah dan ibunya tidak tinggal satu rumah sebab sering bertengkar bahkan mengancam akan memisahkan Jae Joong dengan salah satu di antara mereka. Mengingat hal itu, semakin membuat Jae Joong tak bisa mengendalikan emosinya.

Belum lagi di Pyong Yang dirinya terlibat dengan teman – teman prianya yang sebagian ada yang memiliki kelainan seksual seperti menjalin hubungan dan bersenang hati mengakui mereka adalah bagian dari seorang gay. Jae Joong yang awalnya tak menyenangi hal itu, namun lambat laun dirinya mulai mengenal dengan salah satu dari anggota gang tersebut. Ini membuatnya semakin sulit menanggapi hal tersebut. Di lain sisi, dirinya begitu membutuhkan perhatian seperti orang tuannya yang tak pernah bisa mendengarkan apa kata hatinya. Dan di sisi lain gang inilah yang mampu memberikan perhatian yang bahkan seharusnya dia dapatkan dari seorang wanita yang kelak akan menyambung hidup dengannya.

“Jae Joong, kau ada di rumahmu sekarang ? Kapan kau pulang ? Apa kau tak ingin jalan – jalan, ha ? datanglah ke rumahku ?” tanya Jung Yun dari seberang.

“Maaf sepertinya aku tak bisa kembali dalam waktu dekat ini.” jawabnya datar sebab dirinya yang sedang dipenuhi dengan ingatan – ingatan buruknya tentang ayahnya yang sering kali diketahuinya melakukan kekerasan terhadap ibunya.

“Kenapa kau begitu jahat, ha ? aku kan sudah merindukanmu.”

“Terima kasih. Aku aku benar – benar tak bisa kembali sekarang. Setelah kerjaanku beres di sini, aku janji akan segera kembali secepatnya.” Jawabnya terpaksa berbohong demi membuat senang hati sahabat prianya di seberang yang tak lain adalah pengidap gay.

“Maafkan aku, Jung Yun.” Gumam Jae Joong seketika setelah tak beberapa lama dirinya mematikan saluran teleponnya.

Jae Joong pun segera mengemudikan mobilnya ke kampus Jong- Ang. Dirinya ingin berbincang – bincang dengan Hyo Joo setelah lama dirinya takk bertemu dengannya. Untuk melepaskan kerinduan terhadap adik – adik kelasnya itu tak ada salahnya dia yang main berkunjung. Lagi pula sekarang dirinya sedang menjalani masa skripsi. Sehingga tak banyak waktunya untuk ke kampus selain hanya untuk merevisi tugasnya saja.

“Apa kabar, Hyo Joo ?” lambainya tangan ke arah Hyo Joo yang baru saja hendak ke kantin.

“Kau kak Jae Joong ?” tanya Hyo Joo yang terheran – heran sambil menunjukkan jari telunjuknya ke arah Jae Joong. Jae Joong pun hanya membalasnya dengan senyuman manisnya.

“Kau pikir aku siapa ?” tanyanya sumringah membuat hati Hyo Joo semakin berdetak kencang tidak karuan.

“Eh, aku pikir kakak tidak akan kembali ke Seoul.”

“Siapa bilang ?”

“Tidak ada ? Aku hanya menerka – nerka saja, kak. Eh, kakak tadi mau kemana ?” tanya Hyo Joo tiba – tiba setelah mereka berdua duduk bersama di ujung taman yang berhiaskan banyak bungan Anggrek yang menempel di seputar pepohonan yang digunakan mereka untuk bernanung dari panas.

“Tentu saja mencarimu. Siapa lagi ?” wajah Hyo Joo pun memerah semu. Membuatnya hanya bisa tersenyum – senyum seperti orang gila.

“Kenapa wajahmu merah begitu ?” tanya Jae Joong yang mendadak menyentuk pipi kanan Hyo Jyo sambil mengarahkan wajahnya menyeimbangkan dengan tingginya hingga harus sedikit menunduk.

“Ah, Tidak.” Jawab Hyo Joo yang salah tingkah dan segera memalingkan wajahnya dari Jae Joong.

“Bagaimana kalau kita jalan – jalan.” Kata Jae Joong menawari Hyo Joo masuk ke mobilnya lalu mereka pun pergi ke taman kota.

“Kalau melihat suasana yang seperti ini, kita berdua kemari seperti seorang pasangan saja?” ceramah Hyo Joo menengok – nengok ke sekeliling dimana kebanyak semua anak muda yang datang ke sana adalah pasangan kekasih. Terlihat dari cara mereka menggandengan tangan dan merangkut kadang mencubit pipi gadisnya, sambil minum es kris bersama. Atau mengenakan pakaian couple.

“Apa kau mau mencoba seperti itu ?” Jae Joong pun menarik tangan Hyo Joo dan masuk ke sebuah photo box lalu melakukan pose – pose yang terlihat konyol. Melihat hasil jadi cetakan fotonya pun membuat Hyo Joo harus tertawa terpingkal – pingkal sebab raut wajah Jae Joong yang sengaja dibuat – buat seperti orang bodoh.

“Ini. kakak lihatlah foto kakak, jelek sekali.”

“Daripada di sini kau terlihat lebih gemuk dari aslinya.” Balas Jae Joong mengoceh ke arah Hyo Joo.

“Benarkah ?” tanya Hyo Joo lalu memperdalam mengamati fotonya.

“Ah, sudah jangan dilihati terus. Nanti matamu bisa sakit. Ayo. Kita naik roller coaster.”

“APA !!!?” Kata Hyo Joo memekik telinga Jae Joong dimana dirinya yang sejak dulu tak suka sama sekali dengan yang namanya uji jantung. Bagaimana kalau dirinya terserang jantung tiba – tiba ?

 

ღღღ

 

Soo Ji pun mengikuti kelas musiknya. Dirinya yang tanpa sengaja seperti melihat Shin Hye dan Sukkie yang sedang berboncengan terlihat senang saling tertawa pada saat berpapasan denganna yang mengemudikan mobilnya menuju ke kampusnya.

“Apa benar tadi yang kulihat adalah Sukkie dengan Shin Hye ?” pikirnya sambil menyandarkan kepalanya ke meja pianonya.

“Kalau memang iya, kenapa Shin Hye tak pernah berceria kepadanya ? Ada apa dengan sahabatnya itu ?” tiba – tiba sanga dosen yang telah masuk kelas pun tak dirasanya yang oleh sebab masih memikirkan Shin Hye yang mendadak tanpa sengaja dilihatnya.

“Hari ini, pelajaran kita adalah memainkan musik untuk iringan sebuah karya musik seperti Opera.” Kata sang Dosen Wanita yang bernama Madoka Hanashasi.

“Hyo Joo. Coba jelaskan apa yang kau ketahui tentang alunan musik pengiring Opera ?” tanya Ibu Madoka ke arahnya. Namun lagi – lagi Soo Ji masih tertunduk lesu. Hingga sebuah ketukan dari stick panjang yang dibawa ibu Madoka yang dipukulkannya ke arah meja piano Soo Ji memuatnya harus tersentak kaget dan membuat tertawa lepas oleh teman – teman sesama mahasiswa.  Betapa malunya dirinya menjadi bahan olok – olok oleh para sahabatnya itu.

“Maafkan saya. madam.” Jawabnya menunduk malu akan kelalaiannya di dalam kelas musik yang diajarkan oleh Ibu Madoka yang terkenal begitu disiplin itu.

“Cepat sana cu’ci mukamu.” Teriaknya di hadapan Soo Ji.

“Baik, madam.”

“jangan banyak bicara, cepat laksanakan.” Kata Ibu Madoka yang memperingatkan Soo Ji.

“Terima kasih. Aku ijin ke toilet dulu.”

“Cepat. Tunggu apa lagi !” teriaknya ke seorang yang tengah berusaha terburu – buru meninggalkan kelasnya itu.

“Iya !” jawa Soo Ji ketakutan dan lekas berlari menuju ke toilet.

 

ღღღ

 

 

“Apa – apaan ini ?” tanya ibu Sukkie yang marah sebab hubungan Sukkie dengan Shin Hye yang mulai tersear ke harian pagi yang diterimanya membuatnya gemas dan harus memutar otak untuk memisahkan mereka berdua.

“Ayah, ayah, cepatlah lihat ini ?” panggil Nyonya Sun ke arah suaminya yang tengah mencicipi masakannya itu.

“Ada apa ? Kenapa harus berteriak – teriak, ha ?” tanya sang ayah Sukkie yang terburu – buru mewadahi sayurnya dalam sebuah mangkuk yang sedang diawanya.

“Kau belum baca berita hari ini ? Sukkie lagi –lagi dia masih berhubungan dengan gadis sialan itu.” Katanya sambil meremas koran yang dibawanya sebelum diaca oleh ayah Sukkie.

“bagaimana aku akan membacanya kalau kau sudah merusaknya seperti itu ? ada – ada saja.” jawabnya tanpa mengindahkan Istrinya yang tengah menahan marah besar kepada putranya yang diangkat telah mencoreng nama baik keluarga itu.

“Awas, kau, Sukkie kalau sampai kau pulang membawa gadis itu !” amuk sang nyonya Sun yang langsung pergi meninggalkan suaminya dan pergi ke rumah bibi dan paman Ban.

Berulang kali Nyonya Sun Ae Ni mengetuk pintu rumah bibi Ban kasar namun tak ada jawababan sama sekali. Hingga setelah dirinya menggedor pintu rumah itu dirinya tak juga mendapati sang tuan rumah ada hingga sesaat dia hendak pergi, Park Kyu Min, ibu Shin Hye yang keluar rumah menghampirinya.

“Anda mencari saipa, Nyonya ?” tanyanya halus ke arah ibu Sukkie.

“Dimana sang pemilik rumah ini ?” tanya Nyonya Sun tanpa berbasa – basi lagi.

“Oh, kakakku, dia sedang keluar sebentar untuk mencari Shin Hye. Ada yang bisa saya bantu ?”

“Ah, begini saja. tolong katakan kepada kakakmu itu untuk menjaga anak gadisnya itu supaya dia tidak lagi mengusik kehidupan putraku.”

“E, tunggu maksud anda Shin Hye membuat masalah dengan anak anda ?” tanya Kyu Min lagi.

“Dia telah berani menyukai putraku tanpa seijinku. Lebih baik bawa dia segera pergi dari sini. Dengan begitu anakku akan tenang begitu pun dengan kami.”

“Tapi sepertinya anda salah besar. putriku tak mungkin melakukan hal yang nekat hanya demi menaklukan putra anda. Tolong jaga putra anda juga. mungkin dia yang mengejar – ngejar Shin Hye. Aku tidak bisa terima anda menjelek – jelekkan putriku.”

“Oh, jadi kau ibunya. Pantas saja tingkahmu tak jauh berbeda dengannya ?”

“Tolong anda segera pergi dari sini, Nyonya. Sebelum saya bisa bertindak kasar terhadap anda.” Kata Kyu Min geram.

“Heh, tenang saja, aku tak akan kalah darimu.”

 

ღღღ

 

Shin Hye pun diantar pulang oleh Sukkie. Dirinya pun turun dari sepeda motornya dan diikuti dengan Sukkie yang mengikutinya hingga ke depan rumah.

“Jaga dirimu baik – baik. Jangan terlalu lelah. Dan kurangi berpikir yang dapat menyebabkan kau pusing dan tak terkontrol lagi. Mengerti ?”

“Terima Kasih.” Kata Shin Hye tersenyum.

“Lagi – lagi kau mengatakan hal itu. Harusnya kau diam dan tetap saja seperti biasa. Tingkahmu hari ini sudah cukup membuatku pusing. Kau seharusnya tidak banyak melakukan hal yang mencemaskanku.”

“Maafkan aku.”

“Masuklah. Udara di luar dingin. Dan sudah turun salju.”

“Aku suka  bulan Desember.” Kata Shin Hye tiba – tiba.

“Dan aku menyukai semua hari dimana aku bisa bertemu denganmu.” Kata Sukkie membalas perkataan Shin Hye membuat Shin Hye tak mengira dengan apa yang didengarnya barusan.

“Kenapa ?” tanya Sukkie yang melijhat Shin Hye menjadi sedikit aneh. Mematung sambil memandangi wajahnya seperti patung.

“Cepat masuk.” Sedikit mendorong tubuh Shin Hye hingga Shin Hye pun terdorong maju namun kemudian dirinya mendekati Sukkie dan mencium kening Sukkie membuat mata Sukkie membulat seketika.

“Hei. Apa yang kau lakukan ?” menarik tangan kiri Shin Hye hingga menahan langkah Shin Hye yang membuatnya harus kalah tertangkap oleh Sukkie.

“Masih kurang ?” APA ? Kata Sukkie mengarahkan pipi kanannya ke arah Shin Hye. Dan Shin Hye pun mencium pipinya di kedua sisi secara bergantian kemudian masuk ke dalam rumahnya.

“SELAMAT MALAM !”

“Malam !”

 

 

ღ TO BE CONTINOUED ღ

Posted in NOVEL | Tagged , , | Leave a comment

God Gave Me You


CHAPTER 12

#Holding On#

May 25, ’12 7:04 AM
for everyone
Title : God Gave Me YouRate : PG

Author : Shiella Fiolly (io)

Cast :

Jang Geun Seok

Park Shin Hye

Kim Jae Joong

Han Hyo Joo

“Kenapa tidak menghubungi kami dulu kalau kau akan datang ? mendadak sekali mendadak sebelum dua jam menuju ke bandara, kau baru meneleponku ?” tanya bibi Ban kepada Kyu Min, adik perempuannya.

“Ceritanya panjang, kak ! nanti saja setelah sampai di rumah aku akan menceritakannya. Aku janji.” Kata Kyu Min menyeret kopernya yang terlihat begitu berat. Entah apa saja yang dibawanya kemari, namun melihat gaya berdandannya mungkinkah semua isinya hanya pakaian dan make up ? membuat bibi Ban yang tak habis pikir menggeleng – gelengkan kepalanya melihat penampilan baru adiknya yang begitu nyentrik berbeda jauh dengan adik perempuannya dahulu saat dirinya masih bersuamikan Lee Man Seo. Dirinya terihat begitu kalem dan elegan, namun sekarang, bahkan terlihat seperti wanita karir yang sedikit ‘preman’.

“E, lalu bagaimana dengan Shin Hye ? Apa dia menyusahkanmu ?” tanya Kyu Min mengingat putrinya yang kini tentu telah beranjak menjadi seorang gadis.

“Tenang saja, dia tidak pernah membuat masalah. Hanya saja beberapa hari ini dirinya sedang mengalami masalah yang lumayan rumit. Kuharap kau tidak banyak membuatnya merasa terganggu nanti. Kau tahulah bagaimana sikapnya terhadapmu.” Ucap bibi Ban mengingat Shin Hye yang tak suka berhubungan dengan ibunya semenjak dirinya tahu bahwa wanita yang merupakan ibu kandungnya itu justru sebenarnya adalah wanita yang meninggalkannya sengaja demi hidup sendiri di Iran.

Selama 19 tahun Shin Hye hidup, dirinya bahkan tak pernah sekali pun ikut ibunya. Sejak kecil dirinya diasuh oleh neneknya lalu tiba dia berumur 12 tahun, Shin Hye ikut dengan bibi Ban. Semenjak itulah dirinya mulai mengetahui sejarah hidupnya dan lebih memilih untuk hidup tanpa kasih sayang seorang ibu, baginya ibu yang tidak menginginkannya jauh lebih baik daripada dirinya harus merasa terpaksa tinggal dengan seorang wanita yang bahkan tidak mengasihinya sama sekali. Shin Hye sudah berusaha memaafkan kesalahan orang tua, baik ibu maupun sang ayah. Namun sejauh ini, hanya ada itikad baik dari sang ayah yang ingin memintanya untuk hidup bersamanya. Kendati Shin Hye yang sudah merasa sangat sayang dengan bibi Ban dan juga sebab bibi Ban yang tak mempunyai keturunan jadi Shin Hye merasa tak enak bila harus meninggalkan keluarga yang telah begitu lama ini mengasuhnya. Dirinya merasa terlalu banyak jasa budi baik yang diberikan keluarga bibi dan pamannya terhadapnya seorang. Shin Hye pun tak dapat berbuat banyak. Drinya hanya bisa melakukan apa yang bisa dilakukannya. Meski tak banyak membantu namun Shin Hye harap, dirinya bukanlah menjadi masalah di keluarga itu.

“Sejak kapan dia tahu kalau aku yang sengaja menitipkannya padamu, kak ?” tanya Kyu Min tiba – tiba. Membuat bibi Ban tertegun lalu menjawabnya setelah dirinya yakin benar jawaban apa yang tepat yang akan dipaparkannya kepada sang adik itu.

“Dia tak banyak mengusik tentang itu, yang dirinya ingin hanya permintaan maaf dari kalian. Dirinya menginginkan sekali untuk bisa bersama kalian, namun apalah daya keadaan yang membuatnya harus terpaksa tak mengenal kedua orang tuanya yang sama – sama sibuk.”

“Maafkan aku.” Jawab Kyu Min tertunduk.

“Aku memang bukanlah seorang ibu yang baik.” Kata Kyu Min menambahkan dan merasa bersalah yang tampak seperti dibuat – buat malah.

“Sudah lama berlalu juga.” kata bibi Ban lalu menyuruh suaminya untuk segera menjalankan mobilnya.

 

ღღღ

 

“Shin Hye !!! Ayo Kita pergi ke perpustakaan kota. Aku ingin menunjukkanmu sebuah buku menarik.” Kata Jae Joong begitu semangat hingga menarik Shin Hye yang masih tergagap belum siap dengan ajakan Jae Joong saat dirinya baru saja membukakan pintu.

“Kau tidak akan menyesal datang ke sana.” Jae Joong pun melajukan motornya dan membawa Shin  Hye ke sebuah perpustakaan kota yang lumayan dekat juga dari Seoul kediamannya. Kurang lebih seperempat jam mereka telah sampai di perpustakaan kota. Jae Joong pun segera menggandeng tangan Shin Hye dan lekas membawanya masuk yang terlebih dahulu harus menaiki kurang lebih 140 anakan tangga sebab perpustakaan kota tersbut terletak di puncak yang berada di sebuah kaki gunung. Meski anakan tangga yang kecil namun lumayan membuat kaki pegal juga, Shin Hye yang mulai terengah – engah pun meminta berhenti sebentar kepada Jae Joong dan duduk di sebuah anakan tangga yang terakhir dipijaknya. Jae joong yang melihat Shin Hye kelelahan pun tanpa sengaja melihat seorang penjual balon helium. Dimana balon itu dapat terbang tinggi ke atas awan, namun juga sangat mudah terbakar, Jae Joong pun membelikan lima buah untuk Shin Hye, Shin Hye yang merasa terhibur pun membuat Jae Joong bahagia melihat senyum yang mengembang di wajah ayunya.

“Cantik.”

“APA ?” tanya Shin Hye yang memekik telinga Jae Joong sebab tiba – tiba dirinya terhenyak berdiri begitu saja sambil memegangi kelima ujung tali yang menautkan balon – baloonya. Balon – balon tadi yang berbentuk hati itu bertuliskan bermacam – macam istilah cinta. Shin Hye pun sempat membacanya satu per satu.

“Stay-here-with-me.” Ejanya sambil menerbangkan satu balonnya menuju ke angkasa.

“Konon katanya dalam legenda Yunan, apabila seorang gadis melepaskan sebuah benda menuju ke angkasa dia akan lekas menemukan jalan hidupnya.” Seru Shin Hye tersenyum.

“Kau percaya dengan hal macam itu ?” tanya Jae Joong ulang.

“Iya.” Jawab Shin Hye tanpa berbalik melihat Jae Joong masih terpaku dengan balon heliumnya yang mulai menjauh dan tinggi ke angkasa. Membaur dengan awan dan langit yang nampak mulai memerah sebab cahaya mentari yang mulai keluar tanpa semburat malu.

“Kau lihat itu. Aku sedang memohon supaya aku segera menemukan jalan hidupku. Aku tak ingin salah mengambil langkah.” Kata Shin Hye semangat.

“Apa kau tak ingin mencobanya ?” tanya Shin Hye lagi menawarkan sambil menyodorkan satu balon heliumnya ke arah Jae Joong hingga Jae Joong pun menerimanya dan segera menirukan hal yang serupa dengan yang Shin Hye lakukan.

“Kau sudah melakukannya dengan baik,” ucap Shin Hye tersenyum sembari mengacungkan kedua jempolnya ke hadapan Jae Joong membuat Jae Joong lega dan merangkul Shin Hye lantas berjalan kembali untuk melanjutkan separuh jalan lagi menuju ke perpustakaan.

“Kenapa tidak menggunakan lift saja ya untuk mempermudah kita naik ke atas ? merepotkan sekali !” oceh Jae Joong membuat Shin Hye teringat akan Sukkie yang bahkan tak pernah mengeluh di dekatnya. Berbeda sekali ternyata. Apa yang membuat Shin Hye justru teringat Sukkie. Saat berada di dekat Sukkie dirinya selalu hendak marah dan tidak suka, namun saat Sukkie tak ada di dekatnya dirinya seakan – akan berhadap Sukkie mendadak muncul tepat di hadapannya. Sepertinya ada yang salah dengan isi kepalanya.

 

ღღღ

 

Sukkie memainkan jari manisnya di sebuah meja piano Yamaha besar miliknya. Sudah lama sekali dirinya tidak melantunkan sebuah lagu yang diciptakannya sendiri. Hobinya yang membuatnya selalu nampak seperti dirinya seolah – olah adalah seorang maestro opera musik. Dirinya bak seorang maestro yang telah memimpin sebuah orchest musik yang mengiringi pesta ball room. Dirinya begitu menggilai musik klasik. Dengan menekan satu per satu tuts tuts yang sudah begitu dihafalnya dirinya pun berdendang dan masuk ke dalam musiknya. Sepersekian detik dirinya terhanyut hingga tak menyadari sebuah panggilan masuk dari Shin Hye yang sedari tadi sudah berusaha meneleponnya.

“Akh! Siapa pagi – pagi mengganggu begini !” keluhnya menghentikan bermain musiknya lalu melihat ke phonecellnya dan mendelik melebarkan kedua bola matanya seketikan mengetahui bahwa yang meneleponnya adalah Shin Hye.

“Astaga ! bodohnya aku !” seketika dirinya menempol balik kepada Shin Hye namun tak diangkat kembali.

“Yah ! Shin Hye !” protes Sukkie kehabisan akal meladeni Shin Hye. Dan kembali melantunkan musiknya. Hingga tepat pukul sembilan dirinya datang ke perusahaan ayahnya dan meminta untuk mulai mempekerjakannya menjadi tenaga bantu di perusahaan itu. Awalnya sang ayah pun tidak merasa yakin dengan apa yang barusan dilihatnya dalam sebuah berita itu. Putranya mengemis – ngemis untuk melamar di kantornya. Apa ini mimpi ?

“Ya sudah, besok kau mulia bekerja sebagai office boy.” Kata sang ayah sembari melirik ke Sukkie sebentar. Tak didapatinya  Sukkie yang menjawab. Ditunggunya untuk Sukkie segera menolak dan meminta jabatan yang lebi tinggi. Namun salah. Dirinya bahkan tak mengeluh sama sekali, malah terlihat sedikit senyum tersinggung di sudut bibirnya. Yang benar saja. hingga sang ayah pun heran dengan apan yang dilihatnya ini. namun ini benar – benar bukan sebuah mimpi. Sungguh. Ini nyata.

“Terima kasih, ayah.” Tiba – tiba Sukkie pun memeluk lutut ayahnya. Ini membuat sang ayah sontak merasa keheranan. Sebenarnya apa yang tengah terjadi dengan putra semata wayangnya itu. Mengapa mendadak berubah sedemikian cepat ? apa dirinya baru saja tersengat listrik yang menyebabkannya menjadi sedikit tidak berfungsi sebagaimana mestinya ? tuan Jang pun menyeringai.

 

ღღღ

 

Sejak kapan Shin Hye pulang dari perpustakaan. Namun belum – belum sampai di kamarnya dirinya langsung begitu saja mengelupas lapisan plastik novelnya itu. Dirinya begitu antusis untuk mengetahui isi dari novel yang telah dipilihkan Jae Joong untuknya. Sepertinya dirinya terlihat begitu ingin tahu. Hingga dirinya yang tekaget – kaget begitu membaca baru sampai pada tiga halaman pertama dan langsung begitu saja menjatuhkan buku novelnya ke lantai. Beberapa lembar pun terlepas dari ikatannya dan menyembur keluar. Dirinya begitu kaget melihat sesosok wanita yang begitu dikenalnya sedang bersama dengan paman dan bibinya membuka pintu dan menampilkan berbagai barang bawaanya. Shin Hye pun segera berlari  menuju kamarnya tanpa mengambil kembali novel yang telah dibelinya dengan susah payah itu. Dalam hatinya dirinya sangat terpukul dan nyeri mengapa harus wanita itu datang lagi setelah lama dirinya mengetahui siapa wanita di hadapannya itu.

“Shin Hye ! Shin Hye ! Shin Hye !” teriak Bibi, Paman dan Ibunya serentak. Namun Shin Hye tetap saja berlari menjauh tanpa mengindahkan panggilan mereka. Shin Hye tak bisa lagi membendung air matanya. Hingga – hingga dirinya hanya bisa menangis terisak tanpa mengeluarkan bunyi sesenggukan. Dirinya begitu lihai menutupi perasaannya yang begitu terluka itu. Namun dalam suasana seperti ini, tak ada Hyo Joo maupun Rae Ha yang berada di sampingnya. Membuatnya harus terpaksa memikul beban ini sendirian.

Shin Hye oun memutuskan untuk keluar rumah. Dirinya pergi ke sebuah rumah yang terletak tak jauh dengan rumahnya dan segera memencet bel rumah itu. Sukkie yang berada di balkon atas melihat kedatangannya di depan pintu pun segera turun berlari mengejar waktu supaya tak semakin lama membuat Shin hye menunggu.

“Masuklah.” Kata Sukkie yang mendadak melihat ke arah mata Shin Hye yang terlihat sembab dan melelehkan air mata,

“Ada apa ? katakan padaku. Aku akan membantumu.” Katanya seraya memdekap Shin Hye ke dalam dadanya. Shin Hye yang merasa nyaman pun terhenti menangis. Didongakkannya kepalanya ke atas melihat dagu Sukkie yang menempel di keningnya.

“Terima kasih, kau tak perlu cemas. Aku hanya terkejut saja.” katanya sambil masih menggigi menahan berat tubuhnya yang dirasa – rasanya seperti sudah ingin terduduk saja.

“Bagaimana tidak apa – apa kalau bahkan nafas bicaramu saja tidak beraturan seperti itu ?”

“Sungguh. Aku sudah tidak apa – apa.” Angguknya meyakinkan Sukkie. Sukkie pun masih setengah tak percaya dengan apa yang dikatakan Shin Hye yang terkesan begitu ingin menutupi sesuatu dari dirinya.

“Ibuku-Ibuku datang kemari.” Katanya yang mendadak dan masih terbata.

“Lalu ?”

“Aku tidak yakin aku sanggup untuk menghadapinya atau tidak ?” ungkapnya.

“Kau pasti bisa melewatinya Shin Hye. Berulang kali kau mampu menaklukkan musuh – mussuhmu. Kenapa sekarang tidak begitu. Musuh yang terbesat adalah ketakutan yang muncul dari dalam hatimu.” Kata Sukkie mengingatkan.

“Tapi ini seratus persen berbeda dengan yang aku pernah alami. Ibuku bukan tipikal ibu yang tidak akan tinggal diam begitu ada berita buruk yang menimpa anaknya. Ibuku itu nenek sihir, Sukkie.”

“tak bolehberkata demikian. Tanpa dia kau tidak akan pernah terlahir ke dunia.”

“Kau benar soal ini.”

“aku tahu kau begitu menderita dan sakit hati. Namun di balik itu ibumu juga menahan sakit yang tak terkira saat dirinya terpisah jauh dengan kau putrinya.” Kata Geun Seok dengan mata yang berkaca – kaca.

 

ღღღ

 

“Maaf soal ini, namun sepertinya aku tak bisa banyak membantu. Dan rasa – rasanya waktuku sudah banyak terbuang untuk menunggumu. Aku tidak bisa tinggak diam. Pergilah.” Kata Sukkie beranjak pergi memunggungi Shin Hye.

“Tapi, Sukkie.” Panggil Shin Hye yang terhuyung – huyung mengikuti Sukkie.

“Aku tak bisa lagi membuntutimu terus – menerus seperti ini. aku mulai kelelahan. Sepertinya apa pun juga tidak akan membantu. Jadi aku putuskan untuk melepaskanmu. Bukankah itu yang kau mau ?” tanyanya tanpa berbalik menghadap ke arah Shin Hye yang kembali mengalirkan air mata di lewat kelenjar air matanya. Membasahi pipinya hingga menetes ke pakaiannya yang anggun.

“Apa benar begitu aku terlalu merepotkan ?” tanya Shin Hye pilu.

“Aku tidak merasa begitu. Namun hanya saja hatiku yang menuntunku untuk menyerah sekarang.”

“Tapi aku tak bisa menarik ulur kembali perkataanku, bukan ? aku tidak bisa mmebuatnya kembali seperti semula seperti dimana saat sebelum aku mengenalmu.” Ucap Shin Hye tertekan.

“Aku rasa itu hanya rasa bersalah.” Melangkah pergi dan Shin Hye pun menahan tangan kanannya.

“Maaf. Maaf. Apa mungkin bila ini hanya rasa bersalahku yang terlampau jadi ? aku tidak bisa mencerna semua kata yang kau bisikkan padaku. Yang aku tahu kau selalu berusaha menyemangatiku di saat aku merasa kecewa dan mengecewakan. Lantas aku harus bagaimana lagi ?” rintihnya yang membuat Sukkie tak tega namun dirinya tak bisa berbuat apapun.

“Kurasa Jae Joong yang akan bisa membantumu lebih daripada aku.”

“Jae Joong bukanlah tempat tujuan terakhirku. Kau yang lebih dulu menghampiriku jadi seharusnya kau pula yang mengantarkanku kembali, Sukkie.”

“Aku sudah jujur mengenai perasaanku. Kalau kau belum bisa menerima pernyataanku aku bisa terima.” Kata Shin Hye menyeka air matanya keluar dan berjalan keluar dari kamar Sukkie.

Hingga Shin Hye pun yang terus berjalan menyusuri jalanan di perumahannya tanpa berniat hendak pulang. Dirinya begitu pusing dengan semua yang terjadi. Hingga dirinya yang merasa letih dan sesekali duduk bersandar di kursi – kursi panjang yang disediakan di berbagai sudut – sudut jalanan yang dilewatinya. Namun dirinya seakan tak punya tujuan untuk melangkah. Berdiri pun melanjutkan perjalannya juga tidak. Hingga tengah malam yang sangat dingin turun salju dirinya tanpa memakai jaket dan earmuff berjalan masih menyusuri jalanan. Tanpa menghiraukan rasa lapar dankantuknya.

Hingga sebuah mobi tepat melintas di hadapannya bahkan seperti hendak menabraknya begitu saja. dirinya yang tak lagi bertenaga hanya menoleh memandangi siluet senja yang dilihatnya itu. Pria yang baru saja melepaskannya untuk apa kembali lagi membawanya masuk ke dalam mobilnya paksa dan mengantarkan kembai ke rumahnya. Namun karena Shin Hye yang belum juga mau untuk menemui ibu kandungnya itu pun terpaksa harus bermalam di rumah Sukkie.

Menggengga, satu tangan halus yang kedinginan di sampingnya itu. Dimana gadis di sampingnya yang mulai tertidur dan menyandarkan kepalanya di sisi kiri kursinya sambil menyilangkan kedua kaki jenjangnya tanpa alas kaki membuat Sukkie begitu merasa menyesal dengan apa yang barusan dilakukannya. Tak semestinya dirinya menambah masalah baru untuk Shin Hye. Bukankah dia sudah bertekad untuk menjaga dan menyayanginya ? bukankah Jae Joong juga telah mem[ercayakannya untuk melindunginya selagi Shin Hye yang terlihat lebih dekat dan lebih bahagia di dekatnya.

“Maafkan aku.” Mengelus pelan telapan tangan mungil yang digenggamnya dan menghentikan mobilnya tepat di dalam garasi rumahnya. Lantas menggendong Shin Hye yang masih terlelap dan membaringkannya di kasur lantas menyeimutinya sambil memandangi wajahnya. Kemudian mengambilkan air hangat dam mengelapnya pada kaki Shin Hye.

Sembari menjaga Shin Hye yang terlelap dirinya membaca beberapa pesan masuk yang ada di phonecellnya. Menghidupkan lampu mejanya dn menyalakan penghangat ruangan agar duhu di dalam kamarnya yang sedikit hangat untuk membuat suhu tubuh Shin Hye kembali normal. Dirinya bahkan tak berani untuk tertidur. Kalau – kalau Shin Hye mendadak bangun dan membutuhkan sesuatu. Dirinya memang tak pandai mengucapkan kata cinta, namun perlakuannya yang istimewa sudah cukup mengisyaratkan bahwa dirinya memang tak main – main dengan Shin Hye hingga Shin Hye yang benar – benar bisa membalas cintanya seperti sekarang ini. bukan ini yang Sukkie harapkan, kebahagiaan Shin Hyelah yang terutama dan menjadikan segalanya baginya.

 

ღ TO BE CONTINOUED ღ

Posted in NOVEL | Tagged , , | 1 Comment

God Gave Me You


 CHAPTER 11

#A Love to Complaint#

May 24, ’12 12:37 AM
for everyone

Title : God Gave Me You

Genre : Romance and Comedy

Rate : PG

Author : Shiella Fiolly (io)

Cast :

Jang Geun Seok

Park Shin Hye

Kim Jae Joong

Han Hyo Joo

Jae Joong pun menghadap Shin Hye yang seakan tak tahu menahu mengenai apa yang baru saja dilihatnya.. dirinya begitu tertarik untuk menyapa Shin Hye yang telah lama tidak dijumpainya itu. Begitu pun dengan Shin Hye, dirinya pun lekas melepaskan pelukannya tanpa mengindahkan Sukkie yang berada di hadapannya masih terpaku menyaksikan Jae Joong yang kendati datang lebih awal. Sebenarnya Sukkie begitu merindukan sahabat lamanya itu, namun apalah daya, dirinya juga begitu pusing dengan langkah apa yang harus dilakukannya untuk membuat Shin Hye perhatian kepadanya. Sukkie pun segera menyambut kedatangan Jae Joong meski sedikit merasa bersalah sebab dirinya yang tak juga menyampaikan pesan dari Jae Joong mengenai perasaannya kepada Shin Hye, namun agaknya Sukkie merasa lebih baik bila Jae Joong sendiri yang mengatakannya kepada Shin Hye.

“Sejak kapan kau datang, sobat ? kenapa tak memberi kabar ?” tanya Sukkie memeluk Jae Joong lantas Jae Joong pun membalas perlakuannya.

“Maaf tidak mengatakan terlebih dahulu. Bagaimana kabarmu ? kau terlihat semakin dewasa.” Kata Jae Joong menanggapi sapaan Sukkie.

“Tak mungkin aku semakin mengecil, bukan ?” kata Sukkie memprotes. Mereka pun tertawa bersama. Terkecuali Shin Hye yang masih memandangi Jae Joong sedikit beberapa langkah di sampingnya. Sukkie yang melihat Shin Hye yang terdiam pun sontak menegurnya dan lekas mengajaknya untuk pergi bersama – sama ke danau.

“Cuaca di sini bagus bukan ?” tanya Sukkie menghirup udara segar pagi hari sesampainya di sebuah danau yang luas dimana di sekitarnya ditumbuhi dengan pepohonan besar yang rindang dan membuatnya nampak terlihat kecil dari kamera.

“Kalian siap. Satu dua tiga.” Kata Jae Joong menyiapkan kamera polaroidnya dan segera menempatkan dirinya untuk segera membaur dengan Sukkie dan Shin Hye yang sudah bersiap.

Dalam hitungan ke lima, kamera pun mengambil gambar mereka beberapa kali dengan jeda dua detik yang sama secara berkala. Mereka pun melihat hasilnya. Shin Hye yang merasa kecewa sebab beberapa dari hasil fotonya ada yang  tidak sempurna. Namun tak apa. Ini merupakann momen dan waktu yang tepat untuk mereka semua bercengkrama. Mereka bertiga pun memesan sebuah sepeda yang dapat mreka kayuh secara bertiga sekaligus. Dengan stang dan pedal yang tripel sedikit mempersulit mereka untuk mengendarainya sebab mereka harus mau tidak mau menyamakan gerakan mereka sehingga roda berjalan secara seirama. Dan tak lupa pula Jae Joong yang telah membawa sebuah bekal sandwich dalam sebuah kotak makannya. Entah sejak kapan dirinya membawa benda mungil tersebut namun itu sedikit membantu mereka bertiga untuk melewati pagi yang cerah ini secara bersama – sama. Ini lebih menyenangkan daripada yang mereka bayangkan.

 

ღღღ

 

Paman dan bibi Ban pun segera bersiap – siap pergi ke bandara. Mereka akan menjemput kedatangan adik perempuannya, Park Kyu Min, yang tidak lain adalah orang tua Shin Hye. Usahanya yang semakin melebar membuat dirinya harus kembali ke Korea untuk menata kembali bisnisnya yang berada di dalam negeri. Sebagai seorang pengusaha intan, dirinya memang berpenampilan sangat wah. Hingga dengan itu pula dirinya mampu memikat seorang Lee Man Seo, ayah Shin Hye yang berprofesi sebagai seorang pilot di sebuah penerbangan dalam negeri waktu itu. Namun sayang, dengan lika – liku yang panjang hingga menyebabkan rumah tangga mereka tak mampu dipertahankan hingga sekarang. Yang ada hanyalah Shin Hye yang harus tumbuh di tempat paman dan bibinya itu, sebab seperti apa pun juga orang tuanya tak bisa mengurusnya lagi mengingat ego  masing – masing yang tak pernah dapat dikorbankan.

“Kakak sudah dimana ? Aku sudah di depan floop.” Kata seorang wanita yang begitu di hafal bibi Ban yang mengangkat panggilan dari sebuah nomor yang tak dikenalnya di phonecelnya.

“Kyu Min ?”

“Iya, ini aku. Cepatlah, apa aku harus menunggu satu hari lagi sampai kau datang kemari ?” keluhnya keras hingga membuat bibi Ban harus menjauhkan phonecell dari telinganya.

“Kenapa kau tidak pesan taxi saja. kalau memang sudah tidak sabar ?” jawab Bibi Ban kesal sebab sikap adiknya yang sungguh tak tahu diri.

“Hash ! sudahlah ! lima menit !”

“Aish! Dia benar – benar membuatku gila !” kesal Bibi di hadapan suaminya yang terpakasa harus mengemudikan mobilnya dengan kecepatan yang super tinggi.

“Suamiku ! kita lewat jalan tol saja. nanti sepertinya akan macet kalau kita lewat arus jalan di depan.” Kata Bibi Ban mengingatkan paman.

“Baiklah!” jawab  paman seraya memebelokkan kemudinya dan segera menembus ke jalan tol hingga sampai di depan bandara tepat. Begitu menginjakkan kaki di bandara mereka pun segera melebarkan pandangannya ke sekitar mencari sosok adik wanitanya itu. Tidak ditemuai sama sekali sosok wanita yang berambut ikal panjang hingga mereka pun merasa menyerah dan akhirnya kembali menelepon adiknya itu.

“Sebenarnya dimanakah kau itu ?” tanya Bibi Ban kesal.

“Jangan membuatku kesal !” tambahnya semakin tak bisa meredam emosinya.

“Aku ada di sini ! di depan floop.” Jawab Kyu Min.

“Di depan Floop yang mana ? semua penjuru sudah kami cari namun tak ada kau di sana.” Keluh bibi Ban semakin keras saja.

“Kakak saja yang tidak melihatku. Aku mengenakan jas biru dan rok merah jambu.” Kata Ky Min menjelaskan.

Setelah lama menunggu di loby akhirnya Kyu Min pun terlihat dan betapa dirinya membuat kesal bibi Ban dengan suaminya. Dengan dandanan yang jauh dari bayangan mereka. Dengan rambut pendek seperti laki – laki dengan kacamata hitam yang menutupi kedua matanya. Setelan kaus putih dengan rok mini pink dan dilapisi jas biru mura itu membuat mereka sulit berkata – kata. Pantas saja bibi tak menemukannya.

 

ღღღ

 

Soo Ji pun mengeluh sebab dirinya yang tak berhasil menemui Shin Hye kemarin di rumahnya. Tidak hanya dirinya ke empat sahabatnya pun juga tidak berhasil menemui Shin Hye. Apakah sesibuk itu hingga Shin Hye tak dapat dikunjungi. Membuat mereka harus sedikit memutar  otak, terutama Hyo Joo yang dulu begitu dekat dengan Shin Hye. Namun sekarang kendati kuliahnya yang berbeda membuat keduanya jarang sekali berkomunikasi. Shin Hye sudah dekat dengan teman lain, yaitu Rae Ha. Terlihat dari sebuah akun sosialnya di cyberworld.

“Apakah kita harus menyerah tanpa mencoba yang kedua kalinya ?” tanya Chong Han yang begitu penasaran dengan kabar Shin Hye yang hendak menikah dengan Sukkie.

“Entahlah. Namun sepertinya kita harus kembali kecewa setelah ini. mana mungkin Shin Hye mau bicara dengan kita lagi.” Kata Ji Min mengendus kesal.

“Ya ! apa yang kau katakan, ha ? tak seharusnya kau bilang seperti itu !” tepuk kepala Ji Min oleh Hyo Joo.

“Kenapa marah. Memang seperti itu kenyataanya !” jawabannya pasrah.

“Meskipun begitu kita tak berhak menghakimi Shin Hye. Aku yakin dia pasti punya alasan mengapa begitu sulit menemui kita ?” gumam Megan yang membuat keempat teman – temannya pun sukses melihat ke arahnya.

“Ya, kita juga berpikir begitu. Semoga kali ini Shin Hye ada di rumah. Ya.” harap Soo Ji.

“Emm.” Kata Chong Han ringan.

Mereka pun kembali mengendarainya mobil yang ditumpanginya segera melaju kencang ke rumah Shin Hye. Mereka begitu penasaran dengan kabar Shin Hye dan cerita akan akan mereka dapatkan setelah bertemu nanti.

“Shin Hye kau ada di rumah ?” tanya Soo Ji yang tengah meneleponnya dari dalam mobil.

“Iya. Aku sedang dalam perjalanan pulang menuju ke rumah. Kau mau main ?” tanya Shin Hye ganti.

“Tentu saja. kami semua merindukanmu.” Jawab keempat sahabatnya berteriak serentak hingga terdengar sampai ke phonecell Shin Hye.

“Baiklah. Mungkin sepuluh menit lagi aku sudah sampai.” Jawab Shin Hye lantas menutup teleponnya. Melihat Shin Hye yang turun dari mobilnya yang berada di samping Sukkie, mereka seketika itu berpikir bahwa kabar burung yang baru saja mereka benar mungkin ada benarnya juga.

“Shin Hye, jadi benar kau sedang berhubungan dengan Sukkie ?” tanya Chong Han yang berhasil embuat Shin Hye menjadi sedikit murung hingga tak mampu berbiacara apa pun. Shin Hye sendiri juga masih bimbang dengan perasaannya ini. di lain sisi dirinya mulai merasa nyaman di samping Sukkie. Namun begitu melihat kak Jae Joong yang telah jauh – jauh datang membuatnya harus nberpikir ulang kembali.

“Shin Hye, kenapa tidak menjawab ?”

“Atau jangan – jangan kau menyukai —“ kata Soo Ji seketika menutup mulutnya dengan bayangannya yang buruk mengenai Shin Hye.

“Kau menyukai senior ?” tanya Ji Min tak sopan. Hyo Joo yang melihat Shin Hye yang masih terdiam pun seakan mengerti dan mempersilahkan mereka semua untuk lekas masuk ke dalam.

“Sepertinya akan turun hujan. Lebih baik kita bicara di dalam saja.” ucap Hyo Joo sembari merangkul pundak Shin Hye dan membawanya masuk ke dalam.

“Terima kasih telah mengkhawatirkanku.” Jawab Shin Hye menunduk sembari menuangkan kopi panas ke empat gelas yang telah di tatanya di sebuah nampan satu per satu.

“Tak perlu seperti itu Shin Hye. Kita kan teman. Tak ada teman yang ingin melihat sahabatnya menderita, bukan ?” jawab Soo Ji tersenyum lalu menghampiri Shin Hye membawakan nampan yang berisi kopi tadi dan membiarkan Shin Hye membawa satu teh untuk Hyo Joo.

“Ini. minumlah.”kata Shin Hye menyerahkan minumannya ke hadapan Hyo Joo. Begitu juga dengan Soo Ji yang meletakkan nampannya dan meletakkannya dihadapan masing – masing teman yang datang bersamanya.

“kemana paman dan bibimu omong – omong ?” tanya mereka tak melihat keberadaan paman dan bibi Shin Hye.

“Sepertinya mereka keluar.” Jawab Shin Hye yang juga tidak tahu kemana perginya mereka.

“Oh,”

“Biasanya apa yang kau lakukan saat siang seperti ini ?”

“Biasanya kalau aku sedang tak kuliah aku pergi ke perpustakaan kota.” Jawab Shin Hye tersenyum.

“Bukankah kau tidak suka membaca ?” tanay Soo Ji menyanggah Shin Hye.

“Iya, itu.. itu sebelum aku mulai kesepian.” Jawab Shin Hye dengan maksud oleh sebab ditinggalkan oleh Jae joong.

“Oh. Begitu. Kenapa tak main ke rumah kami saja ?” tanyanya lagi.

“Aku mana tahu kalau kalian juga ada di rumah saat itu ?” tanya Shin Hye lagi.

“Ah. Ya sudah. Lain kali kalau kau butuh teman rumah kami selalu terbuka untukmu.” Jawab Ji Min tersenyum manis.

 

ღღღ

 

Nyonya Sun Ae Ni pun naik ke atas untuk memeriksa kamar Sukkie. Dirinya sedang mencari Sukkie yang nampaknya seharian ini tak berada di dalam rumah. Namun, aneh, sejak kapan Sukkie sudah tidur di kamarnya. Bahkan dirinya pun tak melihat sama sekali Sukkie datang.

Dilihatnya selimut yang terlihat berantakan itu mengerubuti tubuh Sukkie. Benarkan siang – siang bolong seperti ini putranyaaa itu tengah tidur. Ini sungguh tidak biasa. Mengingat Sukkie yang tak pernah tidur di siang hari dan lebih memilih untuk pergi sekedar untuk berenang atau bermain fly fox sepertoi kebiasaannya yang lain. Namun begitu melihat Sukkie yang terbangun oleh kedatangannya yang mengenakan sepatu hak tinggi itu pun sontak membuat Sukkie langsung terduduk sambil mengucek – ucek matanya.

“Sejak kapan ibu di situ  ?” tanyanya melihat ibunya sudah berada di sampingnya.

“Justru harusnya ibu yang bertanya kepadamu sejak kapan kau sudah berada di kamar ?” tanya ibunya menyelidik.

“Aku seperti biasanya bermain ke rumah teman.”

“Jangan bohong, semua temanmu mencari semalaman katanya kau tak menemui mereka.” Kata Ibu Sukkie dengan nada yang beringas.

“Ibu itu, tak percaya ya sudah.” Kata Sukkie tak kalah kasarnya.

“Jangan bilang kau pergi menemui gadis itu lagi !” jawab ibunya yang tak kalah membuat kaget Sukkie hingga dirinya pun terhenyak berdiri dan segera menengok keluar jendelanya. Namun sepertinya tak ada yang membuatnya khawatir.

“Sukkie ! Sukkie ! Ibu bicara padamu !” teriak ibu Sukkiey yang begiti melihat Sukkie pergi meninggalkannya tanpa memperdulikan keberadaannya dalam kamarnya itu. Sungguh tidak tahu diuntung.

Sukkie pun yang tak tahan dengan omelan ibunya yang selalu terlihat tak suka dengan Shin Hye. Namun berbeda dengan Sukkie yang tetap berusaha mempertahankan argumennya untuk tetap mengejar Shin Hye. Begitu pula dengan ayahnya yang juga tak kalah membenci Shin Hye. Entahlah punya masalah apa mereka hingga begitu membenci Shin Hye hingga – hingga seperti itu. Ini membuat Shin Hye jadi jauh terhadapnya.

Sukkie pun mandi di kamar mandi bawah dan bergegas pergi setelah itu. Namun sebelumnya dirinya pun pergi ke sebuh butik untuk membeli dua pasang pakaian dimana dirinya memilih sebuah mini dress dengan setelan baju yang akan dikenakannya yaitu pakaian panjang yang tak kalah keren untuk dipasangkan untuk mini dress yang dibelinya itu.

Tak lama kemudian Sukkie telah berada di depan rumah Shin Hye. Melihat Shin Hye yang hendak keluar pun membuatnya semakin bergegas untuk menghadapi Shin Hye.

“Kau tak akan kemana – mana, kan ?” tanya Sukkie kepada Shin Hye yang beru saja selesai memasak itu terlihat dari celemek yang masih menempe di pakaiannya itu membuat Sukkie berusaha memujinya.

“Kau selesai memasak ?” tanyanya kagum.

“Apa kau mau makan ?” tanya Shin Hye ganti yang menjawab seadanya.

“Apa kau tidak keberatan aku makan di sini ?”

“Kenapa tidak ? Untuk apa makanan kalau tidak untuk dimakan ?” tanyanya ke arah Sukkie yang terlihat sumringah itu.

“Sebenarnya aku ingin mengajakmu pergi namun sepertinya kau sedang ingin di rumah saja. baiklah aku teman, ya ?” tanya Sukkie. Lagipula dirinya sedang menjalani libur semester hingga – hingga dirinya bisa meluangkan banyak waktu untuk Shin Hye.

“Ayo, naiklah.”

“Ke Kamarmu ?” tanya Sukkie seperti orang bodoh. Sebab memang baru pertama kali ini Sukkie akan melihat kamar Shin Hye. Sebelum – sebelumnya dirinya hanya bisa melihat ruangan sampai di ruang tamu mengingat Shin Hye yang begitu dingin dan angkuh kepadanya.

“Iya, aku sudah membawa makanannya di sana.” Kata Shin Hye yang sudah berjalan menaiki tangganya terlebih dulu.

“masuklah !” kata Shin Hye mempersilahkan Sukkie masuk ke kamarnya. Terlihat sekali kamar wanita. Semua nuansanya terlihat merah jambu dengan banyak teddy bear yang menghiasi di sisi – sisi ruangan. Tak lupa lagi sebuah wallpaper rumah musim panas. Sukkie pun berdecak kagum melihatnya.

“Duduklah.” Kata Shin Hye menyuruh Sukkie duduk di kursi yang telah disediakannya.

“Kenapa ?” tanya Shin Hye yang melihat Sukkie justru berjalan mendekati pernak – perniknya yang menghiasi indah di sekitar kaca riasnya.

“Ini semua kau yang mendesignnya ?”

“Tentu saja.” jawab Shin Hye menuangkan pan cakenya ke piring Sukkie. Dan Sukkie pun segera menghampiri ke arahnya.

“Terima Kasih.”

“Maaf kalau rasanya tidak enak. Aku tidak pandai memasak.”

“Tenang saja. kau masih ada waktu untuk menjelang pernikahan kita.” Mendengar itu Shin Hye pun segera mengelap bibirnya dengan tissue yang berada di depannya.

“Kenapa ?” tanya Sukkie melihat Shin Hye yang seketika itu terdiam.

“Kalau aku memang berjodoh denganmu.” Katanya singkat.

“Sepertinya hanya akan ada masalah kecil dengan orang tuaku. Tapi tak apa aku bisa menyelesaikannya. Kalau tidak kita tinggal menikah diam – diam saja. toh, lelaki tak butuh wali bukan ?” kata Sukkie menambahkan.

“Jangan berpikir sejauh itu, aku masih ingin menyelesaikan kuliahku.”

“Aku akan sabar menunggu.” Jawab Sukkie semangat.

“Apa kau tidak akan keberatan jika aku harus menggantungkanmu begini lama ?”

“Tidak, bila tidak ada cara lain seperti menghamilimu ?”

PRANG. Shin Hye pun meletakkan sendoknya ke piring secara kasar untuk segera meninggalkan Sukkie.

“Aku bercanda. Aku tidak akan berbuat hal yang membuatmu bersedih.” Katanya tiba – tiba sembari membalikkan Shin Hye yang masih saja membelakanginya.

“Apa kau percaya padaku ?” tanya Sukkie meraih dagu Shin Hye dan mengecup bibirnya perlahan. Shin Hye pun tak bisa menghindarinya. Dan terjadilah ciuman itu untuk yang kedua kalinya. Shin Hye hanya bisa mengerahkan semua ingatannya lamat – lamat selama dirinya mulai berusaha melupakan Jae Joong dan berudasa untuk memulai semuanya dari awal kembali dengan Sukkie. Namun akankah dirinya akan menerima cinta Sukkie yang begitu tulus kepadanya. Shin Hye masih belum bisa sepenuhnya bersandar di pundak Sukkie. Meski diirnya yakin benar bahwa Sukkie adalah laki – laki yang baik. Dirinya justru takut untuk melukai hati Sukkie.berulang kali Shin Hye telah menyakiti hatinya.

Shin Hye pun hanya bisa menunduk tanpa berani melihat ke arah bola mata Sukkie. Sukkie yang melihatnya pun mengelus kepala Shin Hye sembari mengatakan kata – kata yang sepertinya konyol untuk didengarkan.

“Kau tidak suka diam, kan, tapi kenapa tak banyak bertingkah lagi di hadapanku ? Mungkinkah kau berubah secepat itu ?” tanya Sukkie yang mengingat bagaimana karakter Shin Hye yang begitu tercetak kuat di ingatannya yang penuh dengan ide dan selalu tampil riang selama dekat dengannya. Meski di dirinya yang terkesan begitu dingin dan tak acuh.

“Jangan bertanya lagi !”

 

ღ TO BE CONTINOUED ღ

Posted in NOVEL | Tagged , , | 1 Comment

God Gave Me You


CHAPTER 10

#Don’t Know How to Love#

May 23, ’12 2:17 AM
for everyone
Title : God Gave Me You

Genre : Romance and Comedy

Rate : PG

Author : Shiella Fiolly (io)

Cast :

Jang Geun Seok

Park Shin Hye

Kim Jae Joong

Han Hyo Joo

 

Jae Joong pun sedang dalam perjalanan pulang menuju ke Seoul. Berulang kali dirinya menengok ke arah jendela dari dalam pesawat. Dirinya benar – benar merindukan ketiga orang yang begitu dekat dengannya. Tiga orang sahabat yang telah menanamkan bekas di hatinya. Cinta dan kasih sayang yang besar. terngiang – ngiang tawa Sukkie dan banyak komplainnya tentang semua yang selalu Jae Joong ributkan. Dari hal kecil seperti meminjam kamera hingga hal besar seperti meminta untuk dijomblangkan dengan gadis – gadis yang telah lama menjadi incaran Sukkie. Lalu rengekan manja dari seorang gadis yang telah setahun dipacarinya itu, Rae Ha. Tak satu pun permintaannya yang bisa ditunda. Begitu manjanya dirinya hingga – hingga membuat Jae Joong harus mau tak mau menuruti apa pun yang dipintanya, termasuk menjadi supir pribadinya untuk pergi shopping. Kemudian Shin Hye yang begitu dikaguminya. Gadis yang terkesan dingin, acuh, dan tak banyak bicara itu membuat hatinya galau dan gusar untuk segera menyatakan cintanya. Namun dirinya juga meragukan akan hal ini sebeba diketahuinya Shin Hye yang telah menantikan seorang pria yang bisa membawanya ke sebuah rumah musim panas. Lelaki yang selalu menjadi impiannya untuk dinikahi itu. Hmm.. semuanya bagaikan lantunan lagu yang diputar dalam sebuah kotak musik. Cepat dan teratur.

“Tuan, apa ada makanan dan minuman yang ingin tuan pesan ?” mendadak lamunannya buyar ketika seorang pramugari datang menawarinya bantuan.

“Oh, iya. Minuman isotonik saja.” jawab Jae Joong yang baru sadar.

“Hanya ini saja ?” tanya pramugari itu lagi sembari memberikannya minuman isotoniknya dalam sebuah botol.

“Eh, Iya. Ini cukup. Terima kasih.” Ucapnya kepada sang Pramugari.

“Kembali.” Jawab sang pramugari tersenyum.

Melihat sang pramugari itu berlalu dan tinggal mengamati punggungnya, membuatnya kembali mengingat Shin Hye. Kelopak matanya yang lebar, bibir mungil yang membuatnya selalu terpesona, serta bentuk tubuh yang tak berbeda jauh dengan yang Shin Hye miliki itu membuat Jae Joong tak bisa melupakan Shin Hye dari bayangannya ini.

“Hah ! sepertinya aku harus belajar untuk menahan semua keinginanku. Terutama, merindukannya. Bahkan memilikinya. Ini sedikit konyol.” Suara hatinya menyuruh Jae joong untuk tidak banyak berandai – andai. Namun mau diapakan lagi. Shin Hye selalu mengganggu pikirannya dan membuatnya seperti pria yang tidak waras.

 

ღ ღ ღ

 

“Kumohon jangan seperti ini, Sukkie. Lepaskan aku.” Ucap Shin Hye melepaskan ikatan tanagn Sukkie yang terus saja berusaha memeganginya.

“Kenapa Shin Hye ?” tanya Sukkie tidak mengerti.

“Bukan seperti ini yang kuharapkan. Aku ingin memiliki sebuah hubungan yang wajar. Yang berjalan secara alami. Bukan pelarian seperti ini.” ucapnya melepas paksa tangan Sukkie yang masih memegangnya.

“BAIKLAH KALAU ITU YANG KAU MAU, !” ucap Sukkie berteriak seiring Shin Hye yang melangkah pergi.

“KAU AKAN MEMBERIKU WAKTU, KAN ?” kata Sukkie menambahkan dan semakin meninggikan nadanya. Sedang Shin Hye pun hanya berhenti sejenak dan kembali melangkah pergi.

Semua tamu yang hadir pun mulai membicarakan mereka berbisik – bisik. Banyak yang mengira ini adalah hubungan gelap. Namun tak sedikit pula yang beranggapan ini adalah cinta yang sepihak. Bagaimana pun Sukkie tak peduli lagi dengan apa yang orang – orang pikirkan. Dirinya pun hanya bisa terdiam sembari ikut melangkah pergi menjauh dari keramaian.

Paman dan bibi yang melihat semua ini pun hanya mendesah tidak karuan. Bagi mereka suatu anugerah yang sangat luar biasa melihat keponakannya itu tidak begitu saja serta merta menerima pinangan Sukkie. Mungkin ada benarnya juga Shin Hye memiliki alasan untuk menunggu dan membuat hubungan itu mengalir apa adanya.

“Apa kubilang ? keponakanku mana mungkin berbuat hal yang akan mempermalukan nama baik keluarga kita ?” sanggah bibi dengan begitu sombongnya membusungkan dada di hadapan suaminya itu. Suaminya pun hanya bisa melongo memandangi kepergian Shin Hye dan Sukkie yang begitu cepat dan sudah tak tertangkap oleh matanya. Seperti hantu saja mereka.

“Ayo, kita pulang. Sudah tidak ada tontonan yang seru !” kata paman menarik tangan bibi Ban yang sedari tadi memperhatikan properti yang ada dalam pesta kebun yang gagal total ini.

“Kalau begini caranya ini semakin menghebohkan dibanding dengan pelarangan Lady Gaga datang ke Indonesia.” Jawab Bibi berdecak kagum.

 

ღ ღ ღ

 

“Apa lagi yang kau tunggu ?” keluh Chong Han dan Rae Ha yang menunggu Soo Ji terlalu lama berdandan.

“Kita kan hanya ke rumah Shin Hye. Tak perlu serapi ini seperti hendak melamar pekerjaan untuk pertama kali saja !” timpal Hyo Joo yang tak kalah lelahnya sudah menunggu Soo Ji yang telah hampir setengah jam belum juga keluar – keluar itu.

“Hey, mau berapa lama lagi ?” teriak mereka bertiga bersamaan dari arah luar kaca kamar Soo Ji. Akhirnya Soo Ji pun keluar.

“Tidak boleh tidak berdandan. Kita kan akan mendatangi calon pengantin. Kita haru berusaha berdandan secantik mungkin. Siapa tahu akan segera menjadi giliran kita untuk yang selanjutnya.” Celoteh Soo Ji panjang lebar yang sukses membuat ketiga sahabatnya menutup telinganya.

“Ayo, tunggu apa lagi !” mereka berempat pun berangkat dengan menaiki mobil Hyo Joo. Hyo Joo yang telah bekerja sebagai guru bantu di salah sebuah sekolah menengah di Nam Won itu pun sudah memapu membeli sebuah unit mobil. Membuat iri teman – teman yang lain tentunya. Mereka semua masih menggantungkan uang jajannya kepada orang tuanya. Berbeda dengan Hyo Joo dimana setelah satu tahun lalu orang tuanya yang terpaksa harus meninggalkannya kendati meneruskan pekerjaan di perusahaan perminyakan di Iran, membuatnya dengan sendirinya mampu mandiri.

“Kita akan mampir dulu ke mall tidak ? kita photobox untuk memberikanmnya kepada Shin He, sudah selama ini kita bersahabat namun dia belum memiliki satu pun foto kita.” Kata Hyo Joo menyarankan kepada ketiga temannya yang sedang duduk tenang di belakang.

“Itu bukan ide yang buruk. Tidak akan lama, bukan ?” tanya Chong Han.

“Akan lama bila kau melakukannya di Pyong Yang.” Canda Soo Ji. Hingga membuat Chong Han pun mengenggol bahu Soo Ji dan mmebuat Soo Ji berteriak kencang.

 

ღ ღ ღ

 

Sukkie pun menghampiri Shin Hye ke cafetarianya. Dirinya mendapatkan alamat itu dari rekan lamanya, Bong Gul yang juga sama bekerja dengan Shin Hye di club malam itu. Sukkie yang segera menemukan Shin Hye yang berada di tengah – tengah pria yang sedang mengerumuninya membentuk lingkaran melihat kelihaiannya dalam mengocok minuman dan mengajak berinteraksi kepada semua pengunjung membuat hati Sukkie sedikit panas. Dirinya pun hanya bisa mengawasi Shin Hye dari kejauhan sebab tak ingin mengganggu konsentrasi keraj Shin Hye dan berdampak membawa masalah terhadap dirinya.

Hingga tepat pukul 12 malam, Shin Hye pun membereskan semua peralatannya. Sukkie pun datang dan membantunya mengepel lantai namun Shin Hye berusaha menolaknya hingga dirinya pun hampir saja terpelanting jatuh ke depan apabila saja Sukkie tidak segera menangkapnya. Dan mereka pun bertengkar seperti biasa.

“Hei, aku tidak pernah melihatmu memarahiku sebelumnya.” Kata Sukkie tiba – tiba.

“Apa karena aku kemarin ?” tanya Sukkie mendesak mendekat ke arah Shin Hye yang memaling kan mukaknya membelakangi Sukkie.

“Apa kau juga memiliki perasaan yang sama terhadapku ?” tanya Sukkie lagi – lagi mengikuti Shin Hye yang terus berusaha menginggatinya saat berbicara.

“Apa kau tidak menyukaiku ? Akan kubuat kau menyukaiku.” Kata Sukkie begitu percaya diri.

Namun hingga Shin Hye pun pulang, dirinya pun tak mengucapkan sepatah katapun. Hingga Sukkie yang sabar hanya terus mengikuti langkah Shin Hye yag begitu tergesa – gesa. Berulang kali Sukkie ingin berbicara baik – baik dengan Shin Hye namun hasilnya nihil. Shin Hye hanya diam dan tak terkesan merespon sama sekali hingga dirinya pun tak sengaja memperhatikan seorang anak kecil perempuan yang sedang menangis. Sepertinya anak itu tertinggal oleh orang tuanya.

Mana ada hantu di sekitar stasiun ini. namun anak kecil itu pun hanya bergeming dan berkata hantu. Hantu yang telah membawa ayah dan ibuku. Aku jadi sendiri. Begitu katanya berulang – ulang yang tepat sekali ditangkap Sukkie. Melihatnya membuat Sukkie tak tega dan berinisiatif untuk menemukan orang tuanya. Sukkie pun mengajaknya untuk segera pergi dengan menggandenga tangannya. Shin Hye yang melihatnya melakukan hal itu pun terkesan masih acuh saja. hingga anak kecil itu semakin merengek karena merasa ngantuk dan Sukkie pun membelikannya es krim dan menggendongnya di atas bahunya. Anak kecil itu pun terlihat senang dan sesaat melupakan kisah orang tuanya yang pergi entah kemana.

Shin Hye yang mulai lelah pun sesekali memperlamba langkahnya. Diliriknya Sukkie yang masih menggendog anak gadis itu di bahunya sambil menjilati coklat itu terlihat begitu manis. Seperti seorang kakak yang berusaha mengajak bermain adiknya. Mungkin itu juga yang tengah dirasakan Sukkie. Shin Hye pun sekelebat mengingat foto – foot masa kecil Yeon Ji yang hampir miripp dengan anak itu. Dengan topi dan rambut yang diikat dua dalam kepangan empat rapi.

 

ღ ღ ღ

 

Jae Joong pun telah sampai ke rumah orang tuanya. Dengan semangat yang membara dirinya mengucap salam masuk kemudian membangunkan ayah ibunya yang masih tidur itu. Dirinya pun mengaget – ngageti mereka kalau dirinya telah datang dan begitu merindukan orang tuanya. Namun tak sedikit pun orang tuanya berniat untuk bangun. Ini membuat Jae Joong begitu marah dan membanting guling ayahnya hingga terlempar ke lantai. Mendengar akan hal itu pun sang ayah lekas bangun namun hanya sekedar untuk mengambil guling dan beranjak tidur lagi. Sungguh keterlaluan namun mau dibagaimanakan lagi. Hal ini sepertinya sudah menjadi kebiasaan buruk dlaam keluarganya termasuk menurun kepada dirinya yang tidak bisa diganggu selama sedang tidur.

“Ayah !!!! Ibu !!! Aku sudah datang ! Bukannya menjemputku malah tidur – tiduran !” protesnya lalu menuju ke dapur membukan lemari esnya dan menuangkan syrup lemon dan menambahkan sedikit air dalam gelas lalu meneguknya kasar.

“Awas saja kalau kalian bangun. Aku tidak akan tinggal diam.” Sambil meletakkan minumannya lalu membuka phonecellnya dan segera menekan nomor dengan beberapa digit yag begitu dihafalnya lalu tersambung dengan Jin Goo.

“Hai, Jin Goo. Kau sudah tidur ?” tanya Jae Joong.

“Belum. Ada apa, kak ?” jawab Jin Goo dengan suara yang parau sebba dirinya sedang terserang flu.

“Aku ingin sekali main ke rumahmu. Pintunya masih terbuka bukan ?” tanya Jae Joong lagi.

“Langsung masuk saja, belum digembok.”

“Baiklah tunggu aku setengah jam lagi.” Kemudian Jae Joong pun menutup teleponnya dan bergegas mengemudikan motornya dan pergi ke tempat Jin Goo. Dirinya begitu suntuk hingga – hingga tak menghiraukan kondisi dan hari yang begitu malam hingga menuju pukul 2 pagi ini.

“Aku ingin bermain kartu.” Ucapnya pelan. Masih dalam posisi menyetir.

 

ღ ღ ღ

 

“Sepertinya dia sudah tertidur.” Gumam Sukkie perlahan melihat gadis kecil yang berada digendongannya tidak bergerak sama sekali. Ternyata benar dirinya sudah tertidur. Sukkie pun menurunkannya dan menggendongnya di punggungnya. Menghindari supaya dirinya tidak menjatuhkan anak kecil itu.

Shin Hye pun yang berada di sampingnya hany menoleh sesekali lalu diam – diam mengamati Sukkie yang terlihat senang telah menenangkan anak kecil dalam gendongannya itu. Hingga entah apa yang membuat hati Shin Hye sedikit terketuk untuk menolong Sukkie.

“Mana aku bawakan tasmu.” Meraih tas plastik yag dibawa Sukkie yang berisi kamera SLR.

“Shin Hye..” Sukkie pun hanya bergumam pelan tanpa terdengar oleh Shin Hye. Dirinya pun tersenyum dan tetap berjalan seperti biasa sambil sedikit membungkuk untuk membantunya mepermudah membawa gadis kecil itu.

Dari seberang  jalan pun mereka berpapasan dengan sepasang suami istri yang melambai –lambaikan tangannya. Sukkie pun tertarik untuk mendekat dan setelah tepat dihadapannya pun Sukkie masih tetap berusaha manis dan menanyai mereka mengapa menegurnya. Namun tak sepadan dengan apa yang didapat Sukkie. Salah seorang pria itu pun menarik gadis kecil yang dibawanya dan kemudian pergi membawanya sambil menggandeng istrinya itu. Melihat itu Sukkie pun hanya bisa tersenyum kecut. Dirinya tak habis pikir bahwa orang tua seperti itu yang menjadi ayah dan ibu dari gadis kecil yag masih begitu lugu tadi. Berbeda jauh personalitynya. Mungkin ini hanya menurutnya. Sebab mereka belum saling mengenal dan berbeda halnya mungkin apabila Sukkie sudah mengenalnya.

Sukkie pun berhenti di sebuah halte untuk menunggu bus datang. Shin Hye pun melakukan hal yang sama pula. Meski mereka duduk bersama namun terlihat sekali Shin Hye berusaha menjaga jarak terhadapnya. Hingga melihat bus yang baru saja datang Shin Hye pun terhenyak untuk berdiri hingga Sukkie yang juga baru saja berdiri mendadak kaget dan menjatuhkan tas plastiknya yang berisi kamera SLRnya itu sebab mendadak tanpa ada angin, tiada hujan Shin Hye mendekat ke arahnya dan mengecup pipi kirinya. Sukkie pun memegangi pipinya yang terasa hangat dan pastinya sudah memerah. Dirinya bahkan tak sadar kalau bus yang terakhir datang dan telah ditunggunya lama itu pun telah melaju. Dan kemudian meninggalkan Sukkie. Begitu sadar Sukkie pun meraih tas plastiknya dan berlari mengejar bus itu habis – habisan.

“Tunggu aku ! Hey, tunggu aku.. tunggu, aku, pak !” teriaknya yang telihat dari kaca spion dan sopir pun memberhentikan busnya kemudian menunggu Sukkie masuk dan duduk berada di kursi samping Shin Hye yang kosong.

Perlahan Sukkie pun mengelap keringatnya yang terlihat mulai menetes – netes itu kendati dirinya yang harus berlarian mengejar bus hingga hampir seperempat jalan. Dan menyeka keringatnya dengan sebuah sapu tangan yang telah dihadiahkan Shin Hye beberapa tahun yang lalu. Shin Hye pun masih terlihat sepertinya dingin dan acuh hingga tangan Sukki pun yang terdorong untuk menggenggamnya. Shin Hye pun tidak membalas namun tidak juga menolak. Sukkie melakukannya hingga bus turun dan menurunkan merekan di depan sebuah jalan lebar yang menghubungkan dengan perumahannya.

“Sudah sampai. Kau tidurlah. Mimpilah yang indah. Dan mimpikan aku.” Kata Sukkie sambil berlalu hendak pergi.

“Aku sepertinya mulai menyukaimu.” Kata Shin Hye yang begitu mendadak. Sukkie bahkan yang setengah di alam bawah sadarnya begitu berbahagia dan membalas tersenyum berbalik ke arah Shin Hye lalu berjalan lagi menuju ke depan rumahnya. Berbeda halnya dengan Shin Hye yang masih terdiam melihat punggung Sukkie yang mulai menjauh dari matanya. Meski tak dapat dipungkiri bahwa dirinya masih menyukai Jae Joong namun hatinya mulai sedikit dapat menerima perlakuan – perlakuan manis dari Sukkie.

Dirinya pun segera masuk ke dalam rumah.

 

ღ ღ ღ

 

Sukkie pun segera tertidur sesampainya masuk ke kamarnya. Dirinya yang tak bisa tidur tanpa menyalakan lampu meja itu pun sebelumnya telah menghidupkannya dan segera berdoa menghantarkan tidur terlelanya. Namun tak lama sebelumnya dirinya terus – terusan memandangi hasil jepretannya yang object gambarnya tak bukan tak lain adalah Shin Hye hingga tersenyum – senyum sendiri seperti orang gila. Ibunya bahkan harus mengetuk – ngetuk pintu dua kali untuk memastikan bahwa Sukkie tidak apa – apa sebab terdengar suara gurauan pria dari kamarnya. Padahal itu hanya rekaman video di kampus yang sedang menjahili kawannya.

Berbeda dengan Shin Hye yang masih membuat secangkir kopi dan menonton film dari dvd baru yag barusan dibelinya. Dirinya pun segera menyaksikannyaa dengan sedukan vanilla cream coffe yang berada di genggaman tangannya. Tak banyak yang dirinya dapat petik dari kisah itu, namun hanya keseruan  belakan yang membuatnya sedikit betah untuk terus menyelesaikan hingga akhir. Hanya dua jam, di pikiran Shin Hye dirinya pasti akan sempat melihatnya. Namun sepertinya di tengah perjalanan ada yang mengganggu matanya.

Ngantuk seklai hingga – hingga remote yang mulanya berada di genggaamannya kini telah jatuh ke lantai hingga membuka melepaskan dan memisahkan antara tiga buah baterainya dan bercecer menggelinding hingga ke depan pintu membentuk dan berhenti di situ. Pamannya yang menegtahui hal itu pun segera datang membenahi remote kontrolnya dan mematikan televisinya.

Dibangunkannya Shin Hye untuk segera pindah ke kamar. Namun Shin Hye enggan untuk bangun. Pamannya yang begitu khawatir kalau – kalau Shin Hye kesakitan di punggunggnya sebab begitu kerasnya sofa hingga mmebuatnya sedikit tidak nyaman itu.

Akhirnya paman Shin Hye pun menyelimuti tubuh Shin Hye. Dan terpaksa membiarkannya untuk tidur di sofa menghadap televisi.

 

ღ ღ ღ

 

“Paman, bibi, Shin Hye ada ?” tanya Jae Joong melihat paman dan bibi Shin Hye yang tengah bercengkrama di depan televisi. Paman dan bibi Ban yang melihat kedatangannya pun hanya bisa melongo dan berulang kali meyakinkan diri mereka bahwa ini tidak benar – benar terjadi.

Mengetahui benar bahwa keponakanny itu pernah jatuh hati kepada pria yang berada di hadapannya ini mmebuat paman dan bibi merasa ini adalah berita yang tidak akan menggembirakan. Bagaimana pun juga sekarang sudah berbeda ceritanya. Shin Hye yang sedang menjalani masa percobaan pacaran dan kini Jae Joong harus datang. Paman dan bibi pun tak akan bisa membantu apa – apa. Dirinya menyangka ini mungkin akan segera terjadi perang ketiga dunia di benaknya.

Jae Joong pun hanya terdiam setelah mendapati Sukkie dan Shin Hye yang tengah berpelukan itu di dalam kamarnya. Sebenarnya Sukkielah yang tengah memeluk tubuh Shin Hye namun sepertinya dilihat dari Angel yang bersebelahan seperti dimana tempat Jae Joong berdiri mmebuatnya harus menelam pil pahit setelah apa yang diangan – angankannya itu mengembang.

“Ini tidak mungkin terjadi, kan ?” tanyanya dalam hati sakit melihat sahabatnya itu menyukai wanita yang juga didambakannya.

“ Kak Jae Joong,”

 

ღ TO BE CONTINOUED ღ

Posted in NOVEL | Tagged , , | 1 Comment

God Gave Me You


 CHAPTER 9

#Who Cares#

May 22, ’12 12:59 AM
for everyone

Title : God Gave Me You

Genre : Romance and Comedy

Rate : PG

Author : Shiella Fiolly (io)

Cast :

Jang Geun Seok

Park Shin Hye

Kim Jae Joong

Han Hyo Joo

Semenjak kejadian yang begitu memalukan itu Shin Hye tak pernah lagi menemui Sukkie. Shin Hye mulai menjaga jarak dengannya. Kendati dirinya yang care terhadap Sukkie, namun di dalam hatinya dirinya tetapah menyimpan perasaan yang teradalam terhadap seniornya, Jae Joong. Kalau harus empat tahun lagi menunggu, dirinya tidak akan keberatan. Lagipula itu dulu, sekarang semuanya telah berjalan dua tahun tanpa terasa. Shin Hye yang sudah memasuki bangku perkuliahan begitu juga dengan Sukkie, dan kawan – kawan seangkatan mereka yang lain.

Namun nampaknya dunia memang sangat sempit. Shin Hye duduk di kelas yang sama dengan Rae Ha. Siapa lagi kalau bukan mantan kekasih Jae Joong, yang entahlah sebenarnya hubungan mereka telah berakhir atau belum. Sebab dari ceritanya, Jae Joong tak pernah mengucapkan kata – kata putus satu kali pun. Ini tentu membuat Shin Hye sedih. Namun harus bagaimana lagi, dirinya sebagai orang yang baru yang telah masuk ke kehidupan Jae Joong pun nampaknya harus kembali mengalah setelah dirinya harus merelakan kepergian Jae Joong saat itu. Mengingat hal itu, dirinya sendiri menjadi merutuki dirinya. Betapa bodohnya dirinya telah berani menyukai seniornya itu. Punya kelebihan apa dia sehingga berani – beraninya menyukai Kak Jae Joong.

Shin Hye yang kembali mencoba menghadapi kenyataan pun segera merapikan buku – buku modul bawaannya. Dan memasukkannya ke dalam tas pingganggnya dan kemudian membayar minuman yang telah dibelinya di kantin kampus yang terletak agak menjorok ke belakang menuju tempat parkir. Dirinya lantas berjalan menuju lorong yang menghubungkan kelasnya dengan kelas anak seni yang berada di samping sanggar tari dan drama. Shin Hye yang terus berjalan melihat lurus ke depan tanpa menoleh itu pun melewatkan kelasnya dan terus berjalan menuju ke koridor. Dirinya bahkan melupakan tas bawaannya yang berisi seragam ganti selama dirinya bekerja sebagai bartender di salah satu cafe ternama di Hankuk. Bahkan hal yang sekecil itu saja Shin Hye sering sekai lupa. Hingga sering sekali sahabatnya, Rae Ha yang mengantarkannya langsung ke cafetaria tengah malam.

Lewat tengah malam ini Shin Hye sepertinya tidak bisa langsung pulang. Dirinya harus mampir sebentar ke toko kain untuk membuatkan bibinya pakaian untuk mendatangi pesta perkawinan Sukkie yang akan diselenggarakan dalam waktu dekat ini. yang Shin Hye dengar Sukkie sudah tidak berhubungan lagi dengan Kim Byung, namun gadis lain yang bernama Mae Lee. Shin Hye pun sama sekali belum pernah melihat gadis itu sebelumnya. Namun kata paman dan bibinya gadis itu sering sekali datang ke rumah Sukkie dengan mobil coklatnya yang mewah dimana Shin Hye berpapasan semalam. Aneh ! Namun agaknya Shin Hye tetap sama tidak memahami dengan clue yang diberikan oleh bibinya itu. Jangankan hal itu, Shin Hye bertemu dengan Sukkie saja sudah tidak pernah. Bagaimana mungkin Shin Hye tahu tentang perkembangannya.

Bibi dan Paman Shin Hye pun berusaha membujuk Shin Hye untuk datang. Namun hasilnya tetap sama saja. Shin Hye tak berencana untuk datang. Bahkan hingga Sukkie yang sebenarnya telah memberikan undangan langsung kepadanya tempo hari saat dirinya berjalan pulang dari cafe Sukkie menunggunya di halte duduk sambil membawa kamera polaroidnya untuk mengabadikan momen bersama Shin Hye yang mungkin akan menjadi yang terakhir kalinya sebab seteah ini tentu saja Sukkie akan meneruskan bisnis ayahnya di Jang Konstruksi dan mengurusi kepindahannya ke Jepang yang sudah ditundanya selama dua tahun lebih itu. Namun aneh, sepertinya Shin Hye merasa kehilangan mendengar hal ini keluar begitu saja dari mulut Sukkie.

 

ღღღ

 

Seiring dengan berjalannya waktu Jae Joong pun segera mempersiapkan kepulangannya ke Seoul yang akan dimungkinkan akan dipercepat selama tiga bulan ke depan ini. Jae Joong pun menengadah ke laut luas yang bisa dirinya lihat langsung dari jendela kayunya yang begitu dibuka langsung terlihat hamparan padang pasir putih dan dikelilingi oeh birunya pantai yang dihiasi dengan menara mercusuar di keduia sisi kanan kirinya. Dirinya ingin sekali segera pulang. Rindu untuk menjahili sahabat lamanya, Sukkie, rindu dengan sikap dingin Shin Hye, begitu juga dengan Rae Ha yang bahkan telah putus kontak dengannya selama dirinya pergi ke Pyong Yang mengikuti Neneknya ini.

Tak terasa hari yang begitu mendung itu pun menangis. Menjatuhkan buliran – buliran ai matanya ke bumi hingga sampai pada atap yang menaungi tubuh Jae Joong yang masih mengendarkan pandangannya jauh untuk menatap kangit yang mulai menghitam. Dirinya yang dilandasi dengan hati yang lumayan tenang ini pun bersenandung. Jikalau dirinya masih bisa bertemu dengan ketiga karakter yang begitu dirindukannya itu dirinya ingin seklai bisa mengulang masa – masa indah seperti dahulu. Namun sepertinya itu akan sia – sia. Sebab sudah bisa dimungkinkan mereka semua tengah sibuk dengan urursannya masing – masing hingga tak ada waktu lagi untuk sekedar bermain – main dengan waktu.

“Kapan aku bisa pulang ?” gumamnya sembari melihat sebentuk pelangi yang berada di sebelah bukit yang menonjol di hadapan matanya,

“Seperti apa kalian sekarang ? Aku rindu sekali. Apakah kalian juga merindukanku ?” tanya Jae Joong berharap ketiga orang yang dirindukannya ini pun memiliki rasa yang sama seperti yang dirinya harapkan.

“Aku tak tahan lagi. Aku ingin pulang secepatnya. Kalau harus besok maka aku akan lakukan.” Katanya mantap sembari tersenyum melihat langit yang kembali cerah mengeluarkan semburan kemerah – merahan yang membaur dengan langit dan awan yang putih.

“Tunggu aku, kawan – kawan !” katanya berteriak senang keluar jendelanya. Hingga suaranya memantul dan membuatnya mengulang seperti ada banyak orang yang tenagh berbicara pada saat yang hampir bersamaan.

 

ღღღ

 

Soo Ji dan Jin Goo pun kuliah di kampus yang sama dengan Sukkie. Berbeda dengan mahasiswa kebanyakan yang selalu datang tepat waktu. Jangankan itu. Catatan saja mereka hampir – hampir masih kosong. Entah apa yang dilakukannya selama perkuliahan berlangsung. Mungkin saja sekedar tiduran tanpa melakukan aktifitas yang berarti. Mereka lebih suka mengunyah permen karet dan membuang sesuka mereka hingga pernah terjadi permen yang mereka ludahkan menempel di kursi dosen bahasa inggris mereka. Dan tentu saja ini menjadi pelajaran yang berharga untuk keduanya. Mereka haru dihukum untuk membersihkan toilet kamar mandi dan mengumpulkan sampai di tempat pembuangan akhir setiap harinya selama satu bulan penuh. Bukankah ini membuat mereka menjadi kapok dan tidak akan mengulanginya lagi ? Namun agaknya tidak. Tiadak ada yang bisa menghentikan aksi gila mereka. Namun kali ini, oo.. rektor mereka yang terkena. Hukuman apa yang pantas mereka dapatkan ?

“Maafkan kami, Pak. Kami benar – benar tidak sengaja membuang permen karet itu ke jas bapak. Kami akan segera membersihkannya.” Kata Jin Goo mendekat hendak membersihkan permen karet yang menempel di jas rektor mereka. Namun jusru rektor mereka marah besar dan menyuruh mereka untuk menggangti jasnya dengan jas yang sama dengan dirinya yang kenakan sekarang. Namun hasilnya sama saja. Jin Goo dan Soo Ji tak memiliki uang sebanya itu. Sebenarnya apa yang telah mereka lakukan hingga bisa seceroboh ini dan menyebabkan mereka kembali berurusan dengan pihak pemilik kampus. Ini sunguh memalukan.

Mereka pun kembali menutup muka mereka dengan buku bindernya. Semua mahasiswa dan mahasiswi pun datang menyoraki mereka yang ketahuan membuang sampah  permen tidak aturan hingga mereka pun harus lagi – lagi menjadi biulanan – bulanan warga kampus.

“Kenapa kalian ini, Soo Ji, Jin Gu !” jawab Sukkie yang tak sengaaja lewat berpapasan dengan Soo Ji dan Jin Goo.

“Ah, tak ada, Sukkie.” Jawab mereka serempat murutupi kegugupannya hingga suara mereka bergetar.

“Kau kenapa ? Tidak apa – apa, kan ?” tanya Sukkie sekali lagi. Namun mereka pun hanya mengangguk tanpa melihat raut muka Sukkie yang tampaknya masih ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi. Dan beruntunglah Jin Goo dan Soo Ji yang terselamtakan oleh langkah gadis yang bernama Mae Lee itu pun datang tiba – tiba dan merangkul Sukkie di hadapan orang banyak.

“Eh, Sukkie. Sudah kalian pergi saja sana. Carilah tempat dan suasana yang bagus.

“Ah, terima kasih sarannya. Kalau begitu kita ke tamana saja, ya, Suk !” gandeng tangan Mae Lee ke tangan Suk dan menyelipkan kelima jemarinya ke lima sela jari – jari tangan Sukkie. Dan Sukkie pun hanya bisa mengikutinya saja sambil sedikit menunduk dan berjalan ke arah yang berlawanan dengan arah sebelumnya berjalan.

 

ღღღ

 

Ayah dan Ibu Sukkie pun mengadakan makan – makan bersama dengan keluarga Mae Lee di rumah mereka. Mereka ingin sekali membicarakan rencana pernikahan yang mereka siapkan  dengan membooking tempat yang mewah di pulau Jeoju. Keluarga dari pihak Mae Lee pun tampak tak keberatan dengan ide nyonya Sun Ae Ni dan rekan bisnisnya, Jang Il Suk ini. mereka pun berjabat tangan dan melanjutkan acara makan malam bersama. Hingga mereka semua pun melihat Sukkie yang baru saja datang bersama dengan Mae Lee yang saling berpegangan tangan. Melihat mereka kedua belah pihak pun semakin yakin bahwa perjodohan ini adalah perjodohan yang telah mereka tunggu selama bertahun – tahun melihat kebahagianan dari putra – putrinya tersebut,

Berbeda dengan Sukkie yang langsung masuk ke kamarnya dan meninggalkan Mae Lee yang masih berdiri mematung dan kemudian membaur dengan keluarganya yang tengah menikmati hidangan makan malam. Hingga mereka pun merasa yang sudah terlalu larut untuk melanjutkan perbincangan mereka pun akhirnya memutuskan untuk segera pamit dan sebelumnya tentu Mae Lee segera naik ke atas untuk meminta diantarkan oleh Sukkie namun melihat Sukkie yang sudah tertidur itu pun membuatnya mengurungkan niatnya dan lekas kembali ke bawah untuk pulang bersama keluarganya.

Melihat Mae Lee yang telah turun ke bawah pun membuat Sukkie kembali membuka matanya dan mengikuti kepergian mobil mereka dari atas balkon. Dirinya sebenarnya masih meragukan dengan perasaannya terhadap Mae Lee. Dirinya justru mengingat ucapan Hyo Joo dua hari yang lalu tentang Shin Hye yang masih begitu berharap sekembalinya Jae Joong dirinya ingin mengungkapkan perasaannya terhadap ssahabat baiknya itu. Sesekali Sukkie mencubit pipinya meyakinkan dirinya apakah ini mimpi atau sekedar hayalan yang melayang dan mengapung di atas kepalanya., namun sepertinya tidak. Hingga dirinya pun memandangi jendela balkon kamar Shin Hye dan melihat Shin Hye yang sedang melukis di kanvas lewat siluet tubuhnya.

“Shin Hye..” desahnya memandangi bayangan Shin Hye dari kejauhan.

 

ღღღ

 

Minggu ini pun Ibu Yankumi mampir ke rumah Shin Hye untuk sekedar mengajaknya untuk ke gereja bersama memanjatkan doa. Namun Shin Hye tidak sedang ada di rumah. Dirinya menjalani study tour ke Jepang untuk program pendidikannya tentang sastra Jepang. Ibu Yankumi yang mendengar hal itu pun hanya tersenyuum dan mengingat Shin Hye yang bercita –cita ingin menjadi seorang guru se[erti dirinya. Dan sepertinya hal itu akan benar – benar terjadi. Ibu Guru Yan pun pamit dan berjalan sendirian menuju ke geraja. Dirinya begitu senang dan mengabari kepada kawan – kawannya tentang prestasi Shin Hye ini.

“Tidak sia – sia dirinya berlatih sekeras ini,” gumam ibu Guru Yankumi.

“Shin Hye. Berjuanglah. Doaku selalu menyertaimu.” Ucapnya sedikit terharu hingga menitikkan air mata.

Belum lama dirinya berdiri memanjatkan doa dirinya kemudian sudah berada di samping Bong Gul. Mantan siswa smanya ini pun membuat dirinya sedikit malu sebab telah lama tidak bertemu dan sekarang sudah melihat Bong Gul tumbuh menjadi lelaki yang dewasa.

“Apa kabar, Bong Gul ?” sapa ibu Yankumi.

“Baik. Ibu sendiri ?”

“Seperti yang kau lihat sekarang. Aku baik – baik pula.” Jawab Ibu Yankumi tersenyum.

“Ibu kemari sendiriankah ?” tanya Bong gul dengan nada menawarkan bantuan.

“Iya.”

“Kalau begitu pulang bersama denganku saja. kebetulan aku juga berangkat sendiri.” Kata Bong Gul tersenyum. Dan akhirnya ibu Yankumi pun menuruti apa kata Bong Gul. Dan menaiki mobil Bong Gul yang telah diparkir di samping gereja.

 

ღღღ

 

Sore ini adalah peresmian acara perjodohan Sukkie. Dirinya sudah siap menaiki altar dengan jas hitamnya dan melangkah dengan gagah dilihat oleh puluhan tamu undangan yang datang. Kendati tema pernikahan mereka adalah pesta kebun, maka semuanya dirancangan outdoor dengan berbagai wewangian dari bunga – bunga yang menghiasa di sepanjang pagar yang meisahkan altar mereka dengan panggung yang telah disiapkannya untuk mengucap janji dan berdansa bersama dengan mempelai wanitanya.

Namun ternyata Sukkie sedang tak mood untuk menjalani untaian ritual ini hingga dirinya pun yang telah hampir sampai menuju panggung untuk meraih tangan sang mempelai pun diurungkannya dan segera berbalik keluar area. Dan melajukan mobilnya, dirinya justru mendatangi rumah Shin Hye dan mendapati Shin Hye yang tak berada di rumah. Namun bibi dan paman yang menghadiri pesta pernikahannya pun memberitahukannya bahwa Shin Hye sedang dallam perjalanan pulang dari bandara.

Sukkie pun segera mencegat taxi dan meninggalkan mobinya di depan rumah Shin Hye, dan menemukan Shin Hye yang hendal masuk ke sebuah taxi dan lekas menarik tangannya dan memasuki taxi yang ditumpanginya ke bandara itu juga. Sukkie pun tak banyak bicara hingga mengetahui Sukkie yang membawanya ke sebuah gereja yang berada tak jauh dari kampusnya itu pun masih menarik tangannya Shin Hye dan menghadap ke seorang pendeta dan memaksanya untuk segera menikahkan mereka berdua. Tampaknya ini sedikit hal yang gila, jauh sama sekali tak terpikirkan oleh Shin Hye bahkan Sukkie yang entah darimana ide itu menceruat begitu saja di atas kepalanya. Daripada dirinya menikah dengan gadis yang bahkan tak  mengenalnya dirinya lebih memilih untuk menikah dengan Shin Hye yang sudah pasti sudah tahu dan hafal benar dengan perasaannya.

Shin Hye yang berusaha menolak pun sulit. Dirinya berada pada posisi yang membuatnya bingung di sisi lain dirinya yang masih menyukai Jae Joong dan belum lagi dirinya kan menyakiti satu hati seorang wanita yang sudah menjadi calon istri Sukkie. Dirinya pun memejamkan matanya. Pening. Tak banyak yang bisa dilakukannya. Namun pikirannya bergemuruh saat itu juga. dan Sukkie pun kembali memaksanya untuk mengikutinya,

“Waktu kita tak lama lagi,” ucap Sukkie tak terselesaikan sembari menarik tangan Shin Hye dan meninggalkan pendeta itu sendirian begitu juga dengan taxi yang mengantarkan mereka tadi. Sukkie pun berjalan kaki menarik tangan Shin Hye.

Jalanan yang tidak bersahabat pun agaknya menjadi kendala bagi kaki Shin Hye untuk berlari hingga idrinya harus terpaksa melepaskan sepatu high heels yang dikenakannya. Melihat hal itu pu;n Sukkie segera membungkuk dan menarik Shin Hye untuk berada digendongannya.

“Kau pegangan. Jangan sampai kau terjatuh.” Kata Sukkie berjalan sembari menunggu Shin Hye yang melingkarkan lengannya ke pundak Sukkie.

 

ღღღ

 

Di area pernikahan pun berlangsung ricuh. Semuanya serba kacau. Para tamu yang melihat mempelai wanita menangis tersedu sedan itu pun mulai meninggalkannya satu persatu. Namun mereka pun berhenti seketika meihat sang mempelai pria yang datang membawa wanita lain di gendonganya. Paman dan bibi Shin Hye pun tak percaya menyaksikan hal tersebut hingga membuat mereka serasa pusing dan berputar – putar menahan tubuhnya yang hamoir – hampir limbung.

“Ya, Tuhan, mana mungkin wanita yang bersamanya itu adalah keponakan kita ?” kata Bibi Ban masih tak percaya dengan apa yang dilihatnya.

“Iya, sayang. Sepertinya aku harus segera membeli kacamat yang baru. Dan memastikan ini hanya penglihatanku  yang salah kendati kacamataku yang sudah usang/” kata paman menayanggah.

“Tapi sepertinya itu benar – benar Shin Hye.”

“Sejak kapan mereka berhubungan ? Bahkan mereka sekarang tak pernah bertemu satu sama lain.” Kata paman masih tak bisa menelan apa yang dilihatnya.

“Ya Tuhan, segera bantu Shin Hye menghadapi ini. aku tidak rela bila keponakanku ini diduakan.” Kata bibi Ban sembarannngan.

“Mana mungkin seperti itu ceritanya ?” ucap paman Ban memukul dahi bibi Ban.

“Pati wanita itu yang telah merebut Sukkie dari Shin Hye atau kalau tidak perasaan Shin Hye kepada Sukkie yang terlambat dan didahului oleh gadis kaya itu.” Jawab paman menganalisa.

“Ah, ya, sudahlah, yang penting kita mendoakan yang terbaik bagi Shin Hye.”

“Begitu pun dengan Sukkie. Aku tidak ingin terjadi apa – apa dengan Sukkie. Itu pasti akan membuat Shin Hye menjadi sangat sedih.” Ucap paman sembari menahan air mata di pelupuknya yang hampir tumpah.

Mendadak mereka pun terdiam melihat Sukkie yang telah menurunkan Shin Hye.

“Sebenarnya gadis yang hendak aku nikahi ialah dia. Park Shin Hye.”

Semua mata pun melihat ke arahnya dengan mulut yang menganga.

 

ღ TO BE CONTINOUED ღ

Posted in NOVEL | Tagged , , | 1 Comment

God Gave Me You


 CHAPTER 8

#My Liife, My Rules#

May 19, ’12 8:21 PM
for everyone
Title : God Gave Me YouGenre : Romance and Comedy

Rate : PG

Author : Shiella Fiolly (io)

Cast :

Jang Geun Seok

Park Shin Hye

Kim Jae Joong

Han Hyo Joo

Hyo Joo pun mnghampiri Shin Hye yang sedang berada di tempat duduknya. Dirinya menegur Shin Hye dan menanyakan perihal du hari yang lalu mengapa Shin Hye membatalkan kerja kelompoknya tanpa memberitahu sebelumnya. Namun Shin Hye tak banyak bicara, dirinya hanya bilang ‘maaf’ lalu kemudian terdiam kembali sambil menata beberapa lembar foto yang objek kesemuanya sama. Seoran gadis dengan kaca mata bulat dan berambut panjang. Hyo Joo yang heran dan penasaran pun ingin sekali tahu siapa perempuan di dalam foto yang digenggamnya itu. Mengapa membuatnya begitu terfokus bahkan – bahkan tak mengindahkan Hyo Joo yang berusaha bertanya kepadanya.

“Siapa ini, Shin Hye ? Saudaramukah ?” tanya Hyo Joo yang tenang tanpa banyak bergerak untuk tidak mengganggu Shin Hye yang sanagt konsen itu.

“Bukan, dia adik Sukkie. Namanya Jang Yeon Ji. Masih kecil ya ? barusan dirinya meninggal dunia kurang lebih satu tahun yang lalu menurut cerita Sukkie yang kusimak.

“Oh, kenapa bisa ada padamu ?”

“Sebab aku hendak membantu Sukkie mengumpulkan foto = foto Yeon Ji untuk koleksi pribadinya. Aku membuatkannya video.”

“oh, waw.. kau hebat ya ? bahkan ide sekecil itu kau bisa terpikirkan sedemikian rupa ?”

“Ah, tidak juga. Itu hanya kebetulan saja.” jawab Shin Hye merendah.

“Tidak mungkin, pasti kau sedang bercanda. Begini hebat kenapa tidak mau diakui ?” tanya Hyo Joo yakin.

“Ah, sudahlah, terima kasih kalau begitu. Hal seperti ini tak perlu diperdebatkan, bukan ?” tanya Shin Hye meyakinkan.

 

ღღღ

 

Jae Joong yang sedang membantu neneknya pun lekas – lekas menyelesaikan pekerjaannya. Dirinya ingin segera bermain game Play Station 3nya. Sudah lumayan lama dirinya tidak memainkan ini selama jauh dari Sukkie. Sekarang mungkin dirinya harus bermain sendiri untuk mengurangi rasa bosannya.

Nenek yang melihatnya pun hanya mencecap lidahnya, tak karuan melihat Jae Joong cucunya yang nampak malas itu. Belum – belum lama dirinya membantu untuk menyirami bunga – bungaan di halaman rumahnya itu. Sepertinya di rumah memang Jae Joong selalu dibiarkan untuk melakukan hal sesuai dengan keinginannya tanpa harus dibebankan untuk membantu pekerjaan orang tuanya.

“Sampai kapan kau akan terus bermain – main seperti anak kecil seperti itu ? kau ini sudah dewasa sekarang. Ingatlah akan hal itu.” Kata Nenek menegurnya yang berada di dalam kamarnya yang terlihat begitu berantakan. Bahkan selimut pun belum dilipatnya.

“Ah, biar saja, Nek. Yang penting aku tidak membuat masalah saja di sini.” Jawab Jae Joong santai.

“Tapi itu sama saja halnya dengan membuang – buang waktu. Besok kan kau sudah mulai masuk ke sekolah yang baru. Bukankah lebih baik kau merapikan peralatan belajarmu dan menyiapkan seragam yang akan kau gunakan ?”

“Ah, Nenek ! tak pernah bisa melihat orang senang saja !” keluh Jae Joong mengarkiri bermain PSnya dan segera menghampiri neneknya untuk merapikan peralatan sekolahnya besok.

 

ღღღ

 

Sukkie sedang mencaro angin di balkon atap rumahnya. Dirinya sedang merenungi banyak hal termasuk mengenang satu tahun kepergian adiknnya juga mengurangi kepenatan selama ayahnya masih saja merongrongnya untuk segera meresmikan hubungannya dengan gadis yang bernama Kim Byung ini. ini tentu saja tidak mungkin. Dirinya benar – benar sama sekali tak terpikir tentang keputusan untuk segera menikah muda. Dirinya ingin sekali menikmati masa mudanya dengan melakukan banyak hal yang berguna dan tentuny bisa digunakan untuk kecemerlangan masa depannya yang masih sangat jauh itu. Bagaimana pun juga langkah yang akan diambilnya sekarang ini tentu akan menentukan langkah selanjutnya ke depan.

“Sukkie sudahlah, lupakan saja. ikutilah jalan takdirmu.” Berulang kali dirinya bergumam sendiri dan mencoba untuk menyuruh dirinya sendiri untuk mengikuti perintah ayahnya dan mengikhlaskan segalanya. Namun nihil. Tetap saja dalam hati kecilnya dirinya tak bisa merelakan untuk dijodohkan oleh ayahnya itu.

“Bagaimana pun juga pasti ini akan sulit kulalaui.” Katanya kemudian hendak berbalik pergi dan masuk ke kamarnya. Namun mendadak terdengar suatu sejenis lemparan batu ke arahnya. Siapa yang melakukannya malam – malam begini. Sukkie pun membalikkan badannya dan mencari – cari siapa yang tengah melemparnya dengan batu.

“Siapa dia sana ?” tanya Sukkie dengan nada marah. Begitu dia tahu kalau Shin Hye yang melakukannya lewat balkon di rumah yang yang berhadapan dengan rumahnya. Dirinya pun tak jadi marah.

“Kau ?” kata Sukkie mengedip – ngedipkan matanya tak percaya dengan apa yang barusan dilihatnya.

“Hi, masih gusar ya ?” tanya Shin Hye menegurnya.

“Tidak. Jangan sok tahu !” kata Shin Hye.

“Jauh lebih baik daripada tak mau tahu !” kata Shin Hye spontan.

“Cihh ! kau ini ! kenapa belum tidur ?” tanya Sukkie setengah berteriak sebab jarak yang lumayan jauh.

“Menurutmu harus tidur sesore ini ?”

“Sore ? ini sudah malam.”

“Bagiku ini masih sore.” Jawab Shin Hye mengerucutkan bibirnya.

“Eh, bagaimana kalau kita membuatnya sekarang ?” tanya Shin Hye tiba – tiba.

“Apa ?” Sukkie kebingungan dengan maksud Shin Hye.

“Video untuk Yeon Ji.”

“Ahh ?”

 

ღღღ

 

Paman dan bibi Ban yang sedang menonton tv di ruang tamu pun sepertinya terlihat sedang asyik sekali. Shin Hye bahkan yang lewat di hadapannya tak digubrisnya sama sekali. Hingga Shin Hye pun yang tanpa pamit kembali mengulang hal yang sama. Dirinya pergi keluar begitu saja. mau bagaimana lagi. Dirinya tahu benar kalau sudah pasti paman bibinya tak akan mengijinkannya untuk keluar malam – malam begini meski Cuma sebentar.

“Maafkan aku, paman, bibi.” Kata Shin Hye dalam hati yang berjalan sambil membernarkan jaket bulunya yang menyampirkan penutup kepalanya hingga dirinya tak merasa kedingin di tengah malam di jalan menuju rumah Sukkie.

Belum – belum Shin Hye mengetuk pintu, Sukkie sudah membukakan pintu untuknya tepat saat dirinya baru saja sampai di teras rumahnya.

“Apa tidak apa – apa ?” tanya Sukkie ke arah Shin Hye.

“Tidak.” Jawab Shin Hye bohong,

“Kalau begitu ayo masuklah kita ke balkon saja, ya ?” ajak Sukkie sambil membawa senter menaiki tangga. Sebab di atas terdapat gudang tempat dirinya menyimpan kenangan – kenangan tentang Yeon Ji dan membawa keluar dua kardus yang penuh debu sekaligus dua kemoceng untuk membersihkannya bersama Shin Hye.

“Aku suka dengan foto yang ini. bagus. Aku ambil, ya ?” tanya Shin Hye mengarahkan sebuah foto saat Yeon Ji sedang berenang bersama dengan ayah Sukkie.

“terserah kau. Aku yakin seleramu tidak buruk.”

“Terima kasih.”

“Sama – sama.” Jawab Sukkie sambli memisahkan foto yang dipilih dan mulai merecordnya dengan handycam yang diselipkan penyangga di telapak tangannya dan tak lupa dirinya pun ikut mengambil gambar Shin Hye yang sedang merapikan kardus – kardusnya.

“Kenapa kau juga ambil gambarku tanpa seijinku, hah ?” tanay Shin Hye yang menyadari sedari tadi Sukkie berputar – putar di sekitar tubuhnya.

“Tak apa – apa. Manis.” Jawab Sukkie menggoda. Membuat Shin Hye menyeringai memperlihatkan mimik muka yang paling jelek. Membuat Sukkie tertawa. Hingga tanpa sadar Shin Hye yang kelelahan pun tertidur sambil memeluk kardus dan menyandarkan kepalanya di ujung sofa. Sukkie yang melihatnya pun hanya tersenyum dan banyak merasa tertolong oleh keberadaan Shin Hye hari ini.

“Kasihan dia. Apa aku harus membangunkannya ?” batin Sukkie dan segera mengambilkan selimut dan meutupinya ke badan Shin Hye.

 

ღღღ

 

Ji Min menelepon ke rumah Hyo Joo untuk urusan kelas. Dirinya yang baru saja mengetahui kalau besok ternyata adalah ulang tahun Sukkie itu pun berncana untuk membuatkan surprize party untuk sahabatnya yang diam – diam juga dirinya kagumi. Meski bukan seperti cinta monyet atau sejenisnya namun dirinya mengagumi pribadi Sukkie yang periang dan suka menolong orang.

Beruntung Hyo Joo yang menyetuji hal itu segera ingin memberitahu kepada Shin Hye juga. Namun dirinya belum mantap benar dengan rencana apa yang akan dirinya lakukan untuk menggelar surprize party untuk Sukkie besok. Dirinya pun segera memesan kue tart dan meminta salah seorang pelayan untuk memberikan jasa layanan antar besok di sekolahnya. Ji Min rasa itu bukan ide yang buruk.

“Baiklah. Bisa saja. apa kau juga akan memberitahukannya kepada Shin Hye juga ?” tanya Ji Min kepada Hyo Joo.

“Sebaiknya begitu.”

“Tetapi bukankah mereka dekat ? aku pikir Shin Hye sudah tahu tentang hal ini.”

“Entahlah. Antisipasti saja, kita juga memberitahukannya.”

“Baiklah. Aku percayakan kepadamu.”

“Baiklah. Aku yang akan menyiapkan kadonya.” Jawab Hyo Joo mantap.

“Baiklah.” Jawab Ji Min seraya menutup teleponnya.

 

ღღღ

 

Pagi – pagi benar Shin Hye sudah berangkat ke sekolah. Pukul 6 tepat dirinya sudah berada di dean gerbang sekolahnya dan segera masuk dengan menyapa security yang berada di sampingnya.

Punggung dan pundaknya rasanya mau copot. Serasa pegal sekali. Mungkin karena semalam posisi tidurnya yang tak benar – benar sempurnya dan bahkan hanya sebentar. Dirinya bahkan juga tak ingat benar bagaimana dia pulang. Apa Sukkie yang mengantarnya ? ah, entahlah. Yang penting tak mungkin juga dirinya berjalan sendiri pulang dengan mata yang tertutup.

“Kenapa Ji Min menyuruhku berangkat sepagi ini ? apa tak ada kerjaan lain ?” tanya Shin Hye berpikir melihat kalender yang tergantung di samping white board di dalam kelasnya.

“Ini kan tanggal 14. Ada apa ?”

“Nah, kau sudah datang baguslah.” Jawab Ji Min sambil membawa kotak kue besar yang jelas terlihat bahwa itu adalah sebuah kue tart.

“Kau untuk apa datang sepagi ini ?”

“Masa kau tak tahu ? Hyo Joo tak meneleponmu semalam ?” tanay Ji Min ke arah Shin Hye.

“Tidak.” Jawab Shin Hye yakin sambil melirik ke atas poni rambutnya.

“Hah ! Dia itu !” geram Ji Min.

 

ღღღ

 

Sukkie yang baru saja bangun pun sudah menemukan memo ucapan selamat di laci mejanya dengan sebuah jam tangan silver yang diberikan oleh ibunya. Dirinya yang bahkan tak ingta kalau hari ini adalah hari ulang tahunnya itu, yang seharusnya kemarin malam sudah dirinya lewatkan. Berarti tanpa sengaja dirinya melewatkannya bersama dengan Shin Hye.

Sukkie pun segera turun ke bawah dan memriksa di meja makan. Ternyata ayahnya juga sudah menyiapak sebuah kado juga, setelan tuxedo yang baru. Tak salah lagi, paling –paling juga harus dipakainya untuk ke rumah Kim Byung ganti. Dengan malas Sukkie mengambil bungkusan itu.

Setelah kurang lebih tujuh menit, Sukkie pun sudah siap untuk berangkat ke sekolah, dirinya pun meminum susu putihnya dan mengambil sandwich yang sudah dibuat ibunya lalu mencium pipi ibunya dan berangkat ke sekolah. Pura – pura tak tahu apa – apa dirinya pun melajukan mobilnya dimana ayahnya sedang memasukki mobilnya juga.

“Kenapa sepi sekali di sini ?” sesampainya di sekolah dirinya bingung sebab taku satu pun sisswa – siswi di kelasnya yang sudah datang. Sebab tak dilihatnya ada sebuat tas atau pun jaket yang diselampirkan di bangku – bangku yang sudah terlihat rapi dan bersih ini.

“Hehm.. baguslah, berarti aku yang berangkat paling awal.” Katanya. Mana mungkin sudah pukul berapa ini. sudah pukul tujuh kurang lima belas menit. Tidak mungkin dirinya yang datang paling awal. Kendati dirinya yang memang sengaja dikerjai para kawan – kawannya yang sedang mengamatinya dari balik jendela, mereka pun segera datang untuk mengagetkan Sukkie.

Dan DOOR.. DOR.. DOOR… suara letusan tiga buah balon yang mengawali surprize party itu dan diikuti Tae Sung dan Jin Goo lalu Ji Min dan juga Hyo Joo dan kemudian Shin Hye yang terakhir setelah kedua puluh empat temannya yang keluar. Mereka pun segera menyanyikan lagu ‘selamat ulang tahun’ untuk Sukkie dan mempersilahkan Sukkie untuk meniup lilinnya. Dan Sukkie pun melakukannya dengan sekali tiup. Dan mendadak Jae Joong pun mengucapkan selamat ulang tahun lewat pesa singkat dan e-mailnya. Sukkie pun merrasa terharu dengan Jae Joong. Dirinya pun berterima kasih atas perhatian yang telah diberikan oleh teman – temannya selama ini.

Hahaha.. mereka semua pun tertawa bersama melihat Sukkie yang hampir menangis itu.

Dan sekarang giliran Shin Hye untuk memberikan rekaman video adik perempuannya yang telah selesai diedit olehnya. Dan seketika dirinya memberikan hasil rekaman itu kepada Sukkie, namun saat Shin Hye hendak melangkah mendekati Sukkie dan memberikan minicamnya sial, kaki Shin Hye tersandung anakan tangga yang memisahlan antara batas latar yang digunakan untuk menuis dengan bangku dan meja untuk belajar.  Hingga minicam yang dibawanya pun terlempar ke atas dan ditangkap oleh Jin Goo. Dan Shin Hye sendiri pun yang mulai kehilangan keseimbangan itu pun limbung dan menjatuhi tubuh Sukkie tepat di atas dadanya, bahkan bibir mereka pun bertautan.

Shin Hye yang menyadarinya pun segera bangkit dan mengurungkan niatnya untuk memberikan minicamnya kepada Sukkie kendati begitu malu. Diirnya pun buru – buru berlari ke toilet tanpa menghiraukan teman – temannya yang sedari tadi kaget melongo memandangi kejadian yang begitu cepat ini. bahkan teman – teman wanita Sukkie pun juga tak kalah kagetnya hingga menutup mulutnya dengan tangannya tanda tak percaya dengan apa yang barusan dilihatnya. Meski ini murni kecelakaan namun sontak membuat kesemuanya tidak terkecuali Sukkie dan Hacci sendiri salah tingkah.

Sukkie pun yang mengejar Shin Hye tak mampu menemukannya, sedang Shin Hye yang berada di kamar mandi pun hanya bisa terisak menahan rasa malunya. Shin Hye menangis tanpa bersuara. Padahal Sukkie tak jauh berada di samping pintu kamar mandinya bahkan tak tahu kalau Shin Hye sedang berada di dalam.

“Shin Hye ! Shin Hye ! Shin Hye !” teriak Sukkie memanggil – manggil Shin Hye hingga kelelahan sebab bolak – balik berlari – lari ke sana – kemari.

Sukkie yang menyerah itu pun, akhirnya mendapati Shin Hye yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan kedua bola mata yang sudah sembab bengkak dan masih berair. Sukkie pun bangkit dan mensejajarkan posisi tubuhnya dengan Shin Hye.

“Kau tak apa – apa ?” tanyanya.

 

 

ღ TO BE CONTOINOUED ღ

Posted in NOVEL | Tagged , , | 1 Comment

God Gave Me You


CHAPTER 7

# Love Is Punishment#

May 18, ’12 11:50 PM
for everyone

Title : God Gave Me You

Genre : Romance and Comedy

Rate : PG

Author : Shiella Fiolly (io)

Cast :

Jang Geun Seok

Park Shin Hye

Kim Jae Joong

Han Hyo Joo

Hyo Joo yang tengah berada di depan rumah Shin Hye pun segera mengetuk pintu depan rumah Shin Hye. Dirinya sudah siap untuk segera belajar bersama dengan Shin Hye seperti kencan mereka sore tadi. Berulang kali Hyo Jyo mengetuk pintu tapi tak ada respon dari sang pemilik rumah. Merasa khawatir, dirinya langsung menelepon Shin Hye. Tak tersambung juga. Kemana Shin Hye pikirnya. Kenapa tidak memberitahu sebelumnya kalau dirinya memang ingin membatalkan kerja kelompoknya. Aneh sekali. Namun tak berselang lama, datang seseorang wanita tua yang menghampirinya di teras rumah Shin Hye.

“Kau mencari siapa ? mereka pergi barusan.” Kata nenek itu.

“Maaf, maksud nenek semuanya yang tinggal di sini ?” tanya Hyo Joo sedikit menunduk.

“Iya. Sepertinya mereka mencari keponakannya yang pergi sejak tadi sore.” Kata nenek itu.

“Oh, begitu ya, Nek. Ya, sudah. Aku kembali saja besok. Terima kasih ya, Nek atas pemberitahuannya.” Ucap Hyo Joo lalu membungkukkan badan setelah itu pergi.

Dirinya tetap saja heran degan apa yang barusan didengarnya tadi.

“Shin Hye tidak pulang sejak sore ? apa mungkin begitu. Sepertinya tadi dia baik – baik saja saat aku menghubunginya. Sekarang ada apa ya ?” gumam Hyo Jyo di sepanjang perjalanan pulang menuju rumahnya.

Ji Min yang tanpa sengaja lewat bersama Megan sehabis membeli majalah di toko buku di samping rumah Shin Hye pun menegur Hyo Jyo yang terkihat baru saja keluar dari halaman rumah Shin Hye.

“Kau dari rumah Shin Hye ?” tanya Megan.

“benar. Tapi dia tidak ada di rumah. Rumahnya kosong.” Jawab Hyo Joo cepat.

“Kosong ?” tanya Ji Min seketika.

“Lalu ?” tanya Megan ganti sembari memperhatikan gerak bibir Hyo Joo.

“Ya kata nenek – nenek yang barusan bertemu denganku tadi katanya paman dan bibinya sedang mencarinya yang sedari sore sudah tidak terlihat.” Terang Hyo Joo memberitahu.

“Oh, ya, sudah. Kalau begitu ayo naik.” Kata Ji Min mengibaskan tangannya ke atas.

“Tapi, aku..” kata Hyo Joo yang berlum selesai bicara.

“Sudahlahm, tak apa. Ayo.” Ji Min pun mengayuh sepeda mininya dan diikuti Megan di belakangnya menyusuri jalanan yang rata itu.

 

ღღღ

 

Paman dan Bibi Ban pun telah sampai di rumah Bong Gul. Dirinya menghampiri seorang wanita paruh baya yang sedang menyirami bunga di halaman rumah Bong Gul. Sepertinya itu ibunya. Bibi Ban pun segera menanyakan apa ada anak gadis yang sedang bermain ke sini menemui Bong Gul. Namun jawabannya wanita itu tidak melihat anak gadis yang bermian di rumahnya. Bibi Ban pun berterima kasih dan segera melanjutkan untuk mencari Shin Hye ke rumah Soo Ji. Di sana pun bibi juga tidak menemukan Shin Hye. Begitu pula di rumah Chong Han dan Ji Min. Bibi dan paman hampir – hampir sudah ingin marah saja. Sebenarnya apa yang tengah dilakukan Shin Hye dan kenapa hingga begini malam dirinya belum juga pulang. Sudah pergi pun dirinya tidak juga berinisiatif untuk pulang.  Akhirnya paman dan bibi pun kembali tanpa berhasil membawa Shin Hye pulang.

Hingga paman dan bibi yang telah sampai di depan rumah pun melihat Shin Hye dan bersama dengan pemuda yang menabraknya tempo hari itu. Shin Hye yang berdiri di samping Sukkie yang memarkir sepeda motornya dan duduk di kursi panjang di halaman rumah Shin Hye itu untuk menemaninya selagi masih menunggu paman dan bibi. Dan tepat, paman dan bibi yang telah mencemaskan Shin Hye pun hingga sempat berpikir yang macam – macaam kendati keponakannya itu yang tidak biasa berbuat hal yang membuat mereka cemas sebelumnya.

“Kalian ?” tanya bibi Ban sambil mengarahkan jari telunjukkannya ke arah Shin Hye dan Sukkie.

“Selamat malam, paman, bibi, apa kabar ?” ucap Geun Seok berdiri dan langsung membungkukkan badannya di hadapan paman dan bibi Shin Hye.

“Kalian baru dari berkencan begitu ?” tanya bibi Ban lagi dengan raut wajah yang harap – harap cemas.

“Ah, tidak. Bukan begitu, bibi, paman. Tadi Shin Hye itu sedang menyusul Jae Joong yang pergi hari ini ke Pyong Yang di bandara, namun kami sudah terlambat.” Jawab Sukkie menjelaskan.

“Apa benar begitu, Shin Hye ?” selidik bibi Ban ke arah Shin Hye.

“Benar, Bi, maafkan aku belum sempat pamit kepada paman dan juga bibi.” Jawab Shin Hye takut dan sedikit menundukkan kepalanya tak berani melihat raut wajah bibinya yang sepertinya terlihat sedang menahan amarah itu.

“Ya, sudah. Sukkie. Kau pulang saja. aku biar yang menjelaskannya kepada bibi. Ini sudah malam. Aku takut ibumu yang justru mengkhawatirkanmu.” Kata Shin Hye menyuruh Sukkie untuk pulang. Dirinya benar – benar merasa tak enah terhadap paman dan bibinya.

“Ehm. Selamat malam. Aku pamit pulang, paman, bibi. Sampai jumpa.” Kata Sukkie membungkukkan badan dan segera menaikki motornya mengendarainya dan segera berlalu dengan cepat sudah tak terlihat. Bibi dan paman pun masuk ke dalam, begitu juga dengan Shin Hye yang mengikuti di belakangnya.

 

ღღღ

 

Sukkie yang baru saja sampai di rumah juga disambut dingin oleh ayahnya. Dengan berdeham keras ayahnya mengagetkan Sukkie yang hendak berjalan menuju ke kamarnya. Sepertinya dirinya telah sangka dengan kedatangan Shin Hye yang diketahui ayahnya sore tadi.

“Darimana saja kau bersama gadis tadi ?” mendadak ayah Sukkie pun sudah berada di belakang Sukkie tepat.

“Ayah melihatnya ?” tanya Sukkie ganti.

“Aku bertanya kepadamu. Jangan menjawab dengan berbalik bertanya.” Kata ayah Sukkie menegaskan.

“Kami hanya menyusul Jae Joong ayah. Dia mencari Jae Joong ke bandara.” Jawab Sukkie halus.

“Benarkah ? adakah buktinya ?” tanya ayah menyipitkan matanya yang sudah terlihat tajam.

“maaf. Tapi ayah bisa bertanya padanya bila ayah masih tidak percaya.” Kaya Sukkie menambahkan.

“Heh. Kau pikir ayah ini anak kecil. Mana mungkin kalian tidak bersekutu ?”

“Tapi aku tidak berbohong, ayah.” Kata Sukkie meyakinkan.

“Baiklah, lagi pula itu tidak penting juga. Yang tepenting kau tidak akan menggagalkan perjodohanmu hanya karena gadis itu.” Kaya ayah.

“Maksud ayah ?” tanya Sukkie yang tak kalah kerasnya.

Namun justru kalimat terakhir ayahnya ini yang membuatnya akan terpikir sesuatu ide gila. Apa mungkin ini bisa ? mengapa tak terpikirkan olehnya sama sekali. Ya, dirinya pasti bisa melewati ini dengan bantuan Shin Hye. Hahaha.

 

ღღღ

 

Seperti janji nyonya Sun kepada bibi Shin Hye dirinya akan mengundangnya untuk datang ke rumahnya. Namun entah apa yang akan dibicarakan olehnya mengenai sebuah perjanjian hitam di atas putih yang akan dirinya ajukan kepada bibi Ban itu. Bibi Ban yang tepat waktu datang itu pun segera dipersilahkan untuk masuk ke rumah Nyonya Sun. Dan Nyonya Sun pun menawarkannya minum Jus Lime dan menyuguhinya dengan kue – kue yang barusan nyonya Sun buat pagi hari tadi.

“Apa hari ini nyonya Ban tengah sibuk ?” tanya nyonya Sun terlebih dulu.

“Oh, tidak sama sekali.” Jawab Bibi Ban tersenyum.

“Baguslah. Berarti undanganku kemari tidak akan mengganggu jam nyonya Ban.”

“Tidak. Tidak Sama sekali. Ini jugga pertama kalinya aku datang kemari.” Jawab Bibi Ban.

“Iya, baiklah. Langsung saja, kedatanganku kemari sebenarnya ingin meminta bantuan anda, nyonya. Mendengar bahwa suami nyonya adalah kepala perusahaan kontraktor di sini kami agaknya ingin sekali menyerahkan kunci rumah kami sebab kira – kira apabila jadi kami sekeluarga ingin pindah ke Jepang dalam waktu dekat ini. mungkin kami akan menjualnya atau kalau tidak kami akan mempercayakannya kepada anda selama kurang lebih tiga tahun, dan setelah itu kami akan kembali lagi kemari. Putraku sudah hampir memasuki perguruan tinggi, itulah sebabny kami merencanakan hal ini.” terang Nyonya Sun kepada bibi Ban. Dan bibiBan pun tak keberatan dengan permintaan nyonya Sun ini. dirinya pun melanjutkan pembicaraannya hingga  dan mereka pun saling tukar pendapat satu sama lain.

 

ღღღ

 

Kim Byung pun datang ke sekolah Sukkie. Ini sungguh mengejutkan bagi Sukkie dan tentunya sangat membuat dirinya malu di hadapan banyak kawan – kawan sekolahnya. Berbeda dengan Shin Hye yang justru memberikan nice welcome kepada wanita yang tengah berada di depannya itu. Dari gaya berdadan dan bicaranya sepertinya dirinya lebih tua dari Shin Hye maka dari itu Shin Hye memanggilnya kakak. Sukkie lebih – lebih tak habis pikir kenapa Shin Hye harus bersikap sopan kepada wanita ini. hingga Sukkie pun membisikkan kata – kata yang membat Shin Hye mengerti bahwa wanita di hadapannya ini sebenarnya bermuka dua.

“Benarkah begitu Sukkie ? sepertinya dia tidak seperti itu. Dia baik sekali. Kau saja mungkin yang terlalu berprasangka buruk terhadapnya.” Balas Shin Hye berbisik pula di telinga Sukkie.

“HAH ! kau masih belum mengerti juga.” Jawab Sukkie kesal. Hingga tiba – tiba sebuah mobil melaju di samping mereka dan melewati sebuah kubangan yang berisi genangan air hingga menyemprotkan sebagian air keruh yang mirip air got itu ke pakaian mini dress milik Kim Byung dan membuat Kim Byung menjerit – jerit seperti seorang yang barus saja kehilangan hewan piaraan kesayangannya.

“Ah ! Gila ! bajuku.. bajuku yang mahal jadi rusak.. hih !” keluh Kim byung menjambak – jambak rambutnya yang terikat rapi dengan jepitan berkilauan yang terlihat mewah juga.

“Kau lihat, kan ?” kata Sukkie menyenggol bahu Shin Hye.

Shin Hye pun hanya memperhatikannya beberapa detik dan mengeluarkan tissue basah dari dalam saku kemeja seragamnya. Dan mendekati Kim Byung lalu membantunya mengelap rok Kim Byung yang kotor. Sukkie yang menyaksiakannya pun hanya bisa membelalak seakan – akan tak percaya. Benarkah Shin Hye sebaik yang dirinya kira, bahkan untuk ukuran wanita berdarah dingin yang sedang berada di hadapannya. Sepertinya dirinya harus segera membawanya pergi.

Sukkie pun bergerak mendekati Kim Byung dan menarik tangannya. Hingga beberapa langkah pertama pun mereka berlari lalu bersembunyi di belakang gedung musik dan mendorong tubuh Kim Byung ke dinding untuk memperingatkan kepadanya supya tidak lagi menampakkan dirinya di hadapan Sukkie.

Ah, tapi apa yang terjadi dirinya justru salah menarik tangan Shin Hye hingga – hingga Shin Hye yang bingung dengan ulah Sukkie pun hanya bisa mengatupkan mulutya saat – saat Sukkie terlihat tampak marah sekali dan mengangkat tangannya seperti hendak memukul wajahnya.

“Stop. Sukkie. Apa yang kau lakukan ?” Shin Hye yang memejamkan matanya tanpa bergerak dan diam di tempat ketakukan.

“Ek, K – A- U ?”

 

ღღღ

 

Jae Joong yang belum lama tiba di Pyong Yang pun masih tertidur di kamarnya. Neneknya yang berusaha membangunkannya sedari tadi pun tak digubrisnya sama sekali. Sungguh benar – benar sulit untuk diatur. Meski sudah tiga jam tertidur dirinya bahkan belum juga bangun dan segera membantu neneknya. Entah apalah, pergi ke kebun anggur untuk membnatu neneknya atau memandikan kuda milik neneknya di samping rumah. Kehidupan pegunungan yang membuat neneknya betah tinggal di sana adalah dua hal itu, anggur dan ladangnya. Tak ada yang lain. Berbeda dengan Jae Joong yang mungkin sellau hidup mewah di Seoul. Neneknya masih sangat menghargai yang namanya tradisi.

“Hei, bangun. Bangun, cucuku.” Jae joong tak bangun juga.

“Ada gadis yang mencarimu. Katanya kekasihmu.” Tiba – tiba Jae Joong pun bangun cepat – cepat dan buru – buru keluar kamar. Nenek yang melihatnya salah tingkah pun menertawainya keras – keras sambil memegangi perutnya yang terasa sakit sebab ulah cucunya itu. Ternyata sangat mudah sekali terpancing oleh wanita. Hahaha.

“jadi kau hanya memikirkan kekasihmu saja ?” tanya nenek yang menghampiri Jae Joong yang masih terbengong – bengong sebab tak ada satu pun orang yang berada di ruang tamu.

“Nenek bohong. Kau susah sekali dibangunkan. Jadi terpaksa nenek harus mencari cara agar membuatmu bangun.” Kata Nenek sambil membawakan ubi bakar ke arahnya.

“Apa ini, Nek ?”

“Jangan pura – pura tak mengerti. Ini makanan yang biasa dimakan ibumu, ubi bakar.”

“Kenapa bentuknya aneh sekali seperti itu. Jauhkan dariku.” cercaJae Joong.

“Tidak bisa kau harus rasakan dulu. Pasti kau senang.” Kata nenek lau menjejalkan sepotong ubi bakar ke mulut Jae Joong hingga membuat Jae Joong kesusahan untuk mengunyahnya.

“Nah, begitu. Itu baru pintar.” Ucap nenek gembira.

 

ღღღ

 

“Maafkan perbuatanku tadi, Shin Hye. Aku tidak mengira kalau yang aku tarik tadi adalah kau.” Kata Sukkie menjelaskan.

“Iya, tidak apa – apa. Hanya sedikit sakit saja di pergelangan tanganku ini.” kata Shin Hye sambil mengusap dan membalikkan lengan atas Shin Hye yang sedikit memerah.

“Pasti sakit sekali, sampai merah begini.” Balas Sukkie memegangi lengan atas Shin Hye.

“Lalu apa rencanamu sudah kau temukan untuk menggagalkan perjodohanmu ?”

“Belum. Aku kehilangan kepercayaan diri sekarang. Sepertinya aku harus rela untuk dinikahakn muda.” Jawab Sukkie sedih.

“Kau menyerah begitu saja ?”

“Memangnya apa yang aku bisa ?”

“Hem.. masih banyak kemungkinan bukan ? jangan menyerah. Kau harus memperjuangkannya bila kau tidak ingin menyesal di kemudian hari.”

Perkataan Shin Hye itu pun mengingatkan Sukkie akan ucapan Yeon Ji, adiknya sebelum dia meninggal dunia. Sukkie dalam sekejab tak berkedip melihat kemiripan Shin Hye dengan adiknya yang juga senang mendengarkan musik juga membaca.

“Sukkie.. Sukkie, kau melamun apa ?” tangan Shin Hye mengibas – ngibaskan ke arah wajah Sukkie.

“Oh, tadi hanya teringat Yeon Ji saja. kenapa kau begitu mirip dengannya ?”

“Kalau begitu aku harus menjauhimu ?” tanya Shin Hye.

“Ekh, bukan begitu maksudmu. Melihatmu membuatku semakin merindukan adikku. Banyak kesamaan di antara kalian.” Kata Sukkie.

“Aku punya ide tentang adikmu. Bagaimana kalau kita merapikan semua foto – fotonya dan membuat video tentangnya ?” Shin Hye memberi saran.

“Benarkah ?”

Shin Hye pun mengangguk riang.

 

 

ღ TO BE CONTINOUED ღ

Posted in NOVEL | Tagged , , | 1 Comment

God Gave Me You


CHAPTER 6

# Shockingly#

May 17, ’12 11:57 PM
for everyone

Title : God Gave Me You

Genre : Romance and Comedy

Rate : PG

Author : Shiella Fiolly (io)

Cast :

Jang Geun Seok

Park Shin Hye

Kim Jae Joong

Han Hyo Joo

Jae Joong berjalan sendirian keluar sekolah. Waktu pulang ini tak dilihatnya Shin Hye ada di tempat parkir. Dirinya rasa mungkin Shin Hye masih ada urusan mengikuti Club atau sebagainya. Hingga – hingga tak sempat memberi kabar ke Jae Joong untuk tidak menunggu. Hingga Jae Joong pun memutuskan untuk segera melajukan mobilnya. Namun sesaat dirinya baru saja keluar menuju jalan raya, tak sengaja dilihatnya Hyo Joo yang tengah berjalan kaki sendirian pulang. Tak tega dirinya melihat gadis itu tanpa teman, ditawarilah untuk segera naik ke mobil Jae Joong untuk pulang bersama. Kebetulan juga rumah mereka satu arah. Dan Hyo Joo tak menolak ajakannya.

“Terima kasih, Kak. Memangnya kakak tidak bersama Shin Hye ?” tanya Hyo Joo tiba – tiba.

“Tidak. Kenapa ?” tanya Jae Joong ganti.

“Bukankah tadi kakak berangkat bersama dengan Shin Hye ? Lalu kenapa tidak pulang bersama sekalian ?” tanya Hyo Joo polos ke arah Jae Joong yang masih konsentrasi menyetir.

“Oh, dia sepertinya ada urusan. Bukankah dia biasanya pulang bersamamu ?”

“Iya, tapi sepertinya dia tadi tengah terburu – buru keluar kelas waktu bel pulang berbunyi. Aku kira  dia menemui kakak.” Jawab Hyo Joo panjang lebar.

“Tidak. Kalau memang begitu pastinya dia sudah bersamaku sekarang.”

“Benar juga.” Kata Hyo Joo seraya menunduk tanpa sengaja melihat sebuah kotak sepatu di bawah kakinya.

“Kakak senang dengan olahraga ya ?” tanya Hyo Joo lagi.

“Tidak juga. Hanya kalau mood sedang baik, aku menyempatkan diri untuk berolahraga. Paling hanya ikut club baseball.”

“Wah ! keren. Berkali – kali aku ingin masuk tapi tidak diterima. Persyaratannya banyak yang tidak terpenuhi olehku. Tinggiku kan kurang ?” jawab Hyo Joo dengan nada sedikit kecewa.

“Ah, sekarang belum bisa. Tapi lain kali kau pasti bisa. Tunggu saja di lain kesempatan.” Jawab Jae Joong tersenyum ke arah Hyo Joo.

 

ღღღ

 

Ibu Sukkie baru saja sampai di rumahnya. Baru beberapa meter dirinya keluar lagi hendak mengambil surat yang sudah terlihat dari kotak mail boxnya di halaman rumahnya. Dirinya sudah tak sabar untuk segera membaca apa sebenarnya isi surat tersebut. Dari amplop kuning muda yang terlihat dan tanpa tulisan siapa pengirimnya pun membuat nyonya Sun itu begitu penasaran untuk segera merobeknya dan membaca isi surat tersebut.

Baru mengambil secarik kertas yang dilipat itu, nyonya Sun sudah menebak – nebak apa mungkin itu surat dari kakek Sukkie yang ingin mengambil Sukkie untuk segera pergi ke Jepang ? Apa mungkin juga ini surat dari kawan suaminya yang berencana minta tolong untuk dicarikan rumah di kawasan perumahan di sekitar tempat tinggalnya ini. ternyata benar ini surat dari ayahnya yang memberi persyaratan untuk Sukkie segera menuntut ilmu ke Jepang dalam waktu dua bulan ini. masalah kepindahannya sudah kakek yang mengurusnya. Tinggal Sukkie saja yang berangkat.

“Aduh bagaimana ini ? kenapa ayah tak menunggu satu setengah tahun lagi agar Sukkie kuliah sekalian ?” gumam ibu Sukkie sambil menggigit ujung jari telunjuknya.

“Ada apa, bu ?” mendadak suaminya pun keluar dari balik pintu dan mengambil surat itu dari tangannya.

“Itu-itu surat untuk Sukkie.” Jawab nyonya Sun setengah bergetar di bibirnya sebab menyembunyikan raut kekhawatiran kalau – kalau Sukkie tak diijinkan oleh ayahnya. Belum lagi jika Sukkie ingin mempunyai keputusan lain. Dirinya tahu benar bahwa Sukkie bukan tipikal anak yang penurut. Tentu hal ini akan sangat sulit untuk diputuskan.

“Biarkan saja. Ini bukan urusan kita lagi. Biar Sukkie dan ayah yang bicara. Kita tunggu Sukkie pulang dulu baru bicarakan dengannya.” Kata ayah Sukkie yang mengejutkan nyonya Sun itu yang awalnya akan mengira suaminya itu akan marah besar mendengar ini. namun justru sepertinya dirinya tak begitu memirkan jauh tentang hal ini.

“Baik.” Jawab nyonya Sun masuk mengikuti langkah suaminya itu ke dalam rumah.

 

ღღღ

 

“Sekarang masuklah. Harusnya kita kemana ya untuk mencari tempat yang nyaman ?” tanya Sukkie yang melihat Shin Hye menghampiri mobilnya dari depan pintu gerbang sekolahnya.

“Kau mau mengajakku kemana memangnya ?”

“Ehm, bagaimana kalau kita ke kafetaria di samping bandara saja. Rasanya di sana baik juga untuk ngobrol.” Kata Sukkie langsung mengendarai mobilnya setelah Shin Hye masuk dan duduk sambil mengenakan sabuk pengamannya.

Sesampainya di cafetaria Shin Hye pun menunggu Sukkie untuk segera mengatakan apa yang dia janjikan di sekolah tadi. Shin Hye memang tipikal gadis yang tak suka berbasa – basi. Begitu juga sebenarnya dengan Sukkie.

“Kau tak ingin pesan minum atau makanan ? di sini enak. Aku sering datang ke sini sesekali, bila ada waktu liburan sekolah terutama.” Awali pembicaraan dengan Shin Hye yang tak terlihat nyaman sebenarnya di tempat itu.

“Ehm. Cappucino Vanilla Ice saja.”

“Ok. Baiklah. Kalau begitu aku pesan dua.” Kata Sukkie mengangkat tangannya ke arah waitress yang sedang berjalan mengantarkan pesanan ke salah satu meja di depannya.

Sukkie tak banyak bicara awalnya. Dirinya memang tak pandai bicara. Sesampainya di sini justru dirinya hanya memceritakan semua dia pikirkan tentang Shin Hye sejak pertama bertemu hingga detik itu. Shin Hye yang merasa ini sedikit menjemukan pun hanya mengangguk – angguk berpura – pura mengerti dengan apa yang dikatakan Sukkie kepadanya. Hingga dirinya melihat sebuah foto gadis cantik berambut panjang dengan kaca mata bulat yang menutupi matanya yang bulat di wallpaper phonecell Sukkie yang berada di hadapannya.

Shin Hye pun memandangi foto gadis itu.

 

ღღღ

 

Sore hari ini Hyo Joo pun begitu senangnya hingga – hingga dirinya tak menerima panggilan dari Shin Hye untuk janjian belajar kelompok. Dirinya benar – benar sedang senang sebab tadi siang dirinya bisa pulang bersama dengan kakak senior yang sudah lama diidam – idamkannya itu. Dirinya baru mengetahui ada enam panggilan tidak terjawab dari Shin Hye setelah lama menonton tv dan kembali ke kamarnya mengechek apa bateraynya sudah penuh di phonecellnya. Dirinya yang merasa bersalah pun segera menelepon Shin Hye dan beruntung Shin Hye langsung mengangkatnya.

“Iya, Shin Hye. Aku minta maaf tak menerima teleponmu. Aku tadi sedang di depan tv. Jadi tak mendengar ada panggilan darimu. Ada apa ?” tanya Hyo Joo ingin tahu.

“Tidak. Hari ini kita jadi tidak belajar kelompok. Tugas dari bu Yan kemarin ada dua belas lembar dan harus dikumpulkan dua hari lagi.” Terang Shin Hye mengingatkan.

“Okay, baiklah. Kalau begitu nanti malam aku akan datang ke rumahmu. Pukul 7 tepat tunggu aku, ya. itu saja ?”

“Iya, hanya itu. Maaf mengganggumu.”

“Tidak, justru aku yang harus berterima kasih kepadamu sebab sudah mau mengingatkanku tentang tugas ini. jangan lupa siapkan materinya, ya ? Terima kasih.”

 

ღღღ

 

Jae Joong pun datang ke rumah Sukkie. Entah ada setan apa yang membawanya datang ke rumah Sukkie sesore ini. pukul 4 sudah terlihat di jam dinding kamar Sukkie. Namun ada yang aneh dengan Jae Joong kali ini. Dirinya membawa sebuah kotak besar yang dibawanya dan ditaruhnya di meja belajar Sukkie. Jae Joong sengaja tak memanggil Sukkie yang tampaknya sedang mandi itu. Dan tentunya Jae Joong meninggalkan sepucuk memo yang ditempelinya di atas kotak besar itu. Tulisannya hanya,

‘Sukkie, maafkan aku sudah menyusahkanmu selama ini. tapi tenang saja aku tidak akan mengganggumu lagi. Hari – harimu akau jamin akan lebih tenang untuk 4 tahun ke depan. Jaga dirimu baik – baik, ya. kalau kau merindukan aku tinggal hubungi aku saja. Aku akan mengabarimu kalau aku ganti nomor atau pun pindah rumah. Oh, ya, katakan pada Shin Hye juga sepertinya aku mulai menyukainya sungguhan. Hehe, kalau yang ini terserah padamu kau katakan atau tidak. Sekali lagi maaf dan terima kasih. Kau juniorku yang paling baik. Tertanda, Jae Joong’

Jae Joong pun lantas lekas meninggalkan kamar Sukkie dan masuk ke mobilnya di bawah. Dirinya pun mengemudikan mobilnya ke bandara. Dengan bawaan kopernya tanpa didampingi siapa pun, tidak juga orang tuanya. Jae Joong harus pergi untuk bersekolah ke Pyong Yang. Entah apa yang dipikirnya sebab terlalu mendadak ini. namun yang pasti dirinya menuruti saja apa yang dikatakan ibunya. Kendala keadaan orang tuanya yang baru – baru sedang tidak membaik, masalah ekonomi yang jusa membuat mereka tidak harmonis itu pun akhirnya membuat Jae Joong tidak tahan terus – terusan berada di rumahnya dan lebih memilih untuk meninggalkan rumah ke tempat neneknya. Entah ini hal baik atau hal buruk.

Setelah beberapa menit kemudian keluarlan Sukkie dari kamar mandi dan langsung melihat kardus besar yang ada di meja belajarnya. Dirinya langsung tahu itu dari Jae Joong melihat tulisan tangan yang membubuhi kertas itu.

“Ck ! benarkah dia pergi ?” gumam Sukkie sesaat setelah membaca kemudian mengirimkan pesan singkat kepada Shin Hye untuk memberitahukan perihal kepergian Jae Joong ini. namun hingga satu jam berlalu dirinya tak juga mendapatkan balasan dari Shin Hye. Apa Shin Hye sengaja membiarkannya  ?

 

ღღღ

 

Paman Bibi Shin Hye sedang menyiapkan hidangan sore untuk Shin Hye. Mereka yang telah siap untuk makan bersama itu pun kemudian mencari Shin Hye di kamarnya. Namun tak didapatinya Shin Hye berada di kamar. Dicarinya lagi Shin Hye di kamar mandi, begitu juga di halaman depan, dan hasilnya pun sama. Mereka tak menemukan Shin Hye,

“Kemana perginya tanpa pamit ?” gumam bibi Ban sambil menuruni tangga menuju meja makannya.

“Kenapa ?” tanya suaminya yang sudah menyedu kopi duluan.

“Itu Shin Hye tak ada di kamarnya. Setahuku dari sepulang sekolah tadi dia tidak turun sama sekali, tapi secepat ini sudah menghilang.”

“Mungkin saja dia pergi ke tempat temannya,” jawab suaminy membela Shin Hye.

“Hah ! ya, sudah kita makan sendiri saja.”

Namun mendadak ada telepon berbunyi. Bibi yang belum sempat duduk dan menikmati hidangannya itu pun mengurungkan niatnya untuk makan dan segera mengangkat telepon dari seberang, entah apa yang terjadi namun mendadak ibu Sukkie menelepon dan mengajaknya untuk membuat pertemuan besok. Terang saja bibi yang tak mengerti apa – apa seakan menurut saja. Sebagai tetangga baru tak enak dirinya menolah ajakan ibu Sukkie itu.

“Dari siapa ?” tanya suaminya.

“Nyonya Sun Ae Ni. Entahlah.”

“Maksudmu ?”

“Dia menyuruhku untuk bertemu besok siang di rumahnya.”

“Ehm. Aneh. Dia tidak bilang apa tujuannya ?” tanya suaminya lagi.

Bibi Ban pun hanya menggeleng dan mengambil pan cakenya.

 

ღღღ

 

Shin Hye pun mengetuk rumah Sukkie. Dirinya yang tahu rumah Sukkie dari Jae Joong beberapa hari lalu itu segera datang kesana dengan inisiatifnya sendiri. Dirinya terlihat sedang tak baik. Dengan rambut yang sedikit berantakan dan hanya memakai baby doll dilapisi sweater lengan panjang ungu yang melapisi tubuhnya di tengah cuaca yang begitu dingin itu pun membuat Sukkie sedikit keheranan. Dirinya tak menyangka Shin Hye berani datang ke rumahnya.

“Masuklah.” Kata Sukkie seketika membukakan pintu.

“Aku masuk.”

“Kau ada urusan denganku ?” tanya Sukkie langsung saja dengan posisi masih berdiri menghadap Shin Hye.

“Katamu Jae Joong pergi. Kemana katanya ?” tanya Shin Hye tanpa berbasa – basi lagi sebab inilah yang menjadikan tujuannya datang kemari.

“Ehm.. dia akan pindah ke Pyong Yang. Apa kau tak diberitahu sebelumnya. Apa kau ingin bertemu dengannya ? mungkin kita masih sempat bertemu dengannya sebelum pukul 6 di bandara?” tawar Sukkie kepada Shin Hye. Dan Shin Hye pun mengangguk. Akhirnya Sukkie pun berangkat menggunakan motornya. Kendati akan lebih lama bila menggunakan mobilnya melihat jalanan yang pasti macet pada jam – jam tersebut, dan tentu saja Sukkie mengkhawatirkan Shin Hye yang sepertinya sudah menahan tangisnya itu untuk keluar. Tepat dugaan Sukkie, gadis ini sudah jatuh hati dengan sahabatnya itu.

Di dalam bandara mereka pun menghadap ke sebuah kaca yang bisa langsung melihat pesawat yang melandas. Shin Hye pun tampak semakin gusar di sana. Sebab tak didapatinya Jae Joong di sana. Begitu pula Sukkie yang sudah kelihangan akal, bahkan panggilannya pun tak diangkat oleh Jae Joong. Shin Hye hampir – hampir menangis lalu mengeluarkan kalung berbentuk hati yang diberikan oleh Jae Joong tiga hari yang lalu. Sukkie yang melihatnya pun hanya bisa memeluknya dan mencoba memenangkan Shin Hye.

“Kau bisa bertemu lagi dengannya. Empat tahun lagi.” Kata Sukkie mengusap rambut Shin Hye. Shin Hye masih terus saja menangis.

“Aku belum pernah seperti ini. pasti aku terlihat bodoh.”

“Tidak sama sekali. Mungkin aku juga akan sepertimu bila kehilangan orang yang kucintai. Aku pernah merasakan hal itu, Shin Hye.” Jawab Sukkie seakan mengerti dengan hal yang dialami Shin Hye seperti dirinya yang kehilangan Yeon Ji, setahun yang lalu.

“Benarkah ?”

“Kau lihat ini ?” Shin Hye pun mendongak mendengar ucapan Sukkie yang mengeluarkan phonecell dari sakunya.

“Dia Yeon Ji. Adik perempuanku. Dia meninggal akibat liver satu tahun yang lalu. Kau masih beruntung Jae Joong tak meninggalkanmu seperti ini.” jawab Sukkie yang terlihat menahan air matanya jatuh. Shin Hye yang mendengarkannya pun hanya bisa terdiam tanpa bisa melakukan hal apapun yang bisa membantu Sukkie menghilangkan kepedihannya, justru dirinya membuatnya teringat akan memori buruk itu.

“Terlebih – lebih di saat seperti ini, harusnya dia ada di sisiku. Mendengarkan setiap ocehanku yang pastinya selalu megomel tentang ayahku yang selalu berusaha menjodohkanku dengan putri kawannya.” Mendengarkan hal ini Shin Hye teringat akan omongan Sukkie sewaktu mengajaknya ke Cafetaria tadi siang. Sama persis dengan dirinya, namun itu suda berlalu. Dulu paman bibinya selalu memaksanya untuk bertunangan dengan putra kawannya, namun seiring waktu berlalu sebab Shin Hye juga yang selalu berupaya untuk menggagalkan setiap kencan butanya membuat pasangan suami istri ini kelelahan dan menyerah untuk memaksanya dan menyerahkan kepada Shin Hye saja apa yang terjadi padanya.

“Kenapa kau tak berusaha membatalkannya di kencan butamu ?”

“Sudah sering. Namun hasilnya tetap sama. Ayahku tak kapok juga.” Jawab Sukkie kecewa.

“Kalau begitu kau bujuk ayah ibumu saja. Atau buat konspirasi dengan pihak keluarga calon tunanganmu itu. Sudah mencobanya ?” jawab Shin Hye memberi saran.

“Itu juga tidak akan mempan.” Jawab Sukkie pasrah.

“Lalu kalau kabur ?” kata Shin Hye memutar bola matanya.

“Kalau denganmu boleh juga.” Jawab Sukkie sembarangan.

“Benarkah ?” jawab Shin Hye menggoda. Dan mereka pun tertawa bersama – sama. Untuk beberapa waktu melupakan kepergiaan Jae Joong di bandara itu.

 

 

ღ TO BE CONTINOUED ღ

Posted in NOVEL | Tagged , , | 1 Comment

God Gave Me You


 CHAPTER 5

#Never Better#

May 16, ’12 3:16 PM
for everyone
Title : God Gave Me You

Genre : Romance and Comedy

Rate : PG

Author : Shiella Fiolly (io)

Cast :

Jang Geun Seok

Park Shin Hye

Kim Jae Joong

Han Hyo Joo

Sukkie pun kembali mengemudikan mobilnya. Meski sudah hampir – hampir tak tahan dengan tingkah laku Jae Joong yang terlihat sekali dibuat – buat itu, namun tak membuatnya begitu saja lekas marah dan menurunkan Jae Joong di tengah jalan. Dirinya masih bisa menahannya hingga sampainya Shin Hye diantar ke rumahnya. Sukkie tak punya banyak waktu juga. Setelah ini tentu saja dirinya akan pergi untuk berdoa ke makam mendiang adik wanitanya yang meninggal dunia satu tahun yang lalu.

“Shin Hye, kami antar kau sampai sini saja, ya ? maaf tidak bisa mampir.” Terang Sukkie. Dan Shin Hye pun menunduk sambil tersenyum manis ke arahnya. Sukkie yang melihatnya sedikit lega sebab sudah melihat sedikit perkembangan Shin Hye yang membaik. Dirinya pun segera mengajak Jae Joong untuk masuk lagi ke mobilnya dan mengantarkannya ganti.

“HEHH ! Tapi aku masih mau lebih lama di sini, ya !” teriak Jae Joong yang menjerit begitu saja Sukkie menyeretnya untuk masuk.

“Ah, jangan tapi – tapi. Besok kan masih ada waktu.” Balas Sukkie seadanya dan langsung membunyikan klaksonnya. Kemudian segera melaju berbalik seketika Shin Hye yang membungkukkan badan terlihat dari dalam spion kaca kanan mobilnya.

 

ღღღ

 

Paman dan Bibi Shin Hye pun ternyata sudah menunggu di dalam. Shin Hye yang melihat mereka terlihat panik pun sedikit aneh. Melihat pamannya yang mendadak memeluknya dan bilang kalau dia hampir – hampir mati sebab tak mampu menemukan Shin Hye. Shin Hye tentu semakin tak mengerti dengan perlakuan mereka. Hingga akhirnya Shin Hye mengatakan bahwa tadi dirinya juga sempat menunggu kedatangan paman bibinya untuk menjemputnya namun justru dirinya tak mendapati paman bibinya datang ke rumah sakit. Beruntung sebab ada Hyo Joo yang datang menjenguknya menawarkan untuknya menunggu di rumahnya dan menghubungi Sukkie yang kemudian mengantarkannya barusan ke sini.

“Oh, jadi Sukkie itu yang mengantarmu ke sini. Baiklah. Kalau begitu aku tak perlu cemas lagi.” Ucap Paman  yang menengadah kemudian melipat kedua tangannya di dada.

“Iya, paman.” Jawab Shin Hye. Kemudian Shin Hye pun masuk ke kamarnya dan segera mandi dengan air hangat yang telah disiapkan bibinya sedari pulang dari rumah sakit tadi.

Paman dan Bibi Shin Hye yang merasa tak asing dengan Sukkie pun saling bercerita satu sama lain. Paman yang sebelumnya merasa pernah bertemu dengan Sukkie, namun dimana ? Dirinya sulit mengingat – ingat. Bahkan tak hanya sekali dua kali. Berbeda halnya dengan Bibi yang jelas – jelas pernah mengantarkan kue ke rumahnya untuk memperkenalkan diri sebagai tetangga baru itu.

“Sepertinya aku pernah melihat anak muda itu. Tapi dimana, ya ?” tanya Paman lebih dulu.

“Iya, aku juga merasa begitu.”

“Ehm. Mungkin saja orang yang mirip dengannya.” Jawab Paman yang mendadak menyerah dengan argumen konyolnya dan kemudian segera berbalik ke ruangan kerjanya untuk kembali menyelesaikan daftar perkembangan saldo perusahaan yang dibawanya.

“Aku buatkan makanan, ya, ayah !” teriak Bibi dari lantai bawah.

 

ღღღ

 

Keesokan harinya Shin Hye yang telah kembali bersekolah seperti biasa. Dirinya yang tengah menenteng tas pinggang sekarang dengan memakai kostum olahraga celana hitam panjang dan kaos biru muda berlengan pendek itu pun berjalan sendiri. Meski ada beberapa siswa – siswi lain di depan belakangnya yang juga berjalan, namun tak sedikit pun yang Shin Hye dekati untuk sekedar berjalan bersama. Entah mungkin karena dirinya yang pemalu atau memang tak i ngin ramai.

Tiba – tiba sebuah mobil putih berhenti di depannya. Dan dikemudikan oleh Jae Joong yang sedari tadi mengamatinya kapan berangkat ke sekolah. Pemuda ini benar – benar kurang kerjaan. Sedari pukul 06:30 dirinya sudah menyiapkan diri di samping halaman rumah Shin Hye dengan memarkir mobilnya. Tanpa diketahui Sukkie sebelumnya, dirinya melakukan hal ini seorang diri. Dirinya tentu tak ingin menyia – nyiakan waktu untuk mendekati Shin Hye yang dipikirnya mungkin akan tidak menolak untuk menjadi kekasihnya itu.

“Ayo, naik.” Shin Hye pun menoleh ke samping dan melihat Jae Joong yang kemarin datang bersama Sukkie ke rumah Hyo Joo. Dirinya yang merasa tak kenal dengannya pun tetap berjalan begitu saja tanpa menghiraukan Jae Joong yang menunggunya masuk. Dengan membukakan pintu mobilnya.

“Hei, kau. Apa kau lupa denganku. Aku Jae Joong. Sahabat Sukkie. Dia yang menyuruhku untuk ke sini menjemputmu.” Bohong Jae Joong terpaksa. Hingga akhirnya Shin Hye pun mau masuk ke mobilnya. Akhirnya.

“Kau sudah kelas berapa ?” tanya Jae Joong mengurangi kecanggungan yang tampak di muka Shin Hye.

“Dua.” Singkat, padat dan mengena.

“Kau tidak punya relasi di sini ?” tanya Jae Joong lebih dalam lagi. Namun Shin Hye justru melihat keluar jendela. Dan menjawabnya tanpa berbalik untuk melihat raut muka Jae Joong.

“Tidak. Aku anak tunggal. Satu – satunya keluarganya hanya paman dan bibiku.”

“Eoh. Lantas sejak kapan kau bersekolah di sini ? aku tak pernah melihatmu sebelumnya.” Kata Jae Joong lagi.

“Sebulan yang lalu.”

“Kau duduk di kelas berapa ?”

“11G.” Jawab Shin Hye dengan nada bertanya.

“Oh, jadi kau anak seni ya ?”

“Ehm.”

“Ada kemungkinan kau kenal dengan Sukkie. Dia juga di kelas itu.” Cerita Jae Joong.

 

ღღღ

 

Sukkie yang hari ini kembali tak masuk ke sekolah demi ke Nam Won mengunjungi makan adik perempuannya itu pun datang sendirian. Dirinya membawa seikat bunga dengan parfume yang dibawanya di keranjang tempat bunga yang dirangkainya tadi dia pesan dari toko florist di samping bandara dekat rumah ayahnya yang lama. Dengan tenang dirinya menyusuri bukit yang panjang dan berkelok – kelok itu untuk mendoakan arwah adik perempuannya yang meninggal dunia lantaran sakit liver yang bertahun – tahun sudah dideritanya.

Air mata pun membasahi pelupuk matanya sesaat dirinya memandangi foto adiknya, Yeon Ji yang terletak di batu nisannya. Tak banyak yang dirinya bisa ceritakan untuk Yeon Ji situ. Hanya dirinya yang keberatan dengan upaya perjodohan ayahnya kemudian dirinya yang berusaha ingin pindah ke Jepang saja apabila terus – terusan dipaksa untuk menuruti permintaan sang ayah.

“Hari ini aku datang tak bisa lama. Tapi bulan depan aku akan datang dengan membawa bunga yang tak kalah wanginya. Kau tenang di sana, ya. Kakak sangat merindukanmu.” Meletakkan buklet bunga itu di samping nisan adiknya kemudian segera berbalik pergi menuruni bukit. Dirinya segera kembali ke Seoul dan pergi mengunjungi Kafe yang telah dipesankan tempat untuknya dari sang ibu.

“Ibu, aku menuju ke sana.” Ucapnya di telepon kepada ibundanya. Hingga tak berselang lama. Kurang lebih empat puluh lima menit dirinya sudah sampai di kafe tersebut dan langsung menemukan ibundanya yang tengah duduk di meja tengah yang bertuliskan nomor 18 itu.

“Apa ibu sudah menungguku lama ?” tanyanya yang baru saja datang.

Nyonya Sun Ae Ni pun menggeleng meski dirinya sebenarnya cukup lama juga menunggu kedatangan putranya ini.

“Untuk apa ibu menyuruhku datang kemari ?” tanya Sukkie lagi.

“Duduklah dulu dan pesan minum.” Jawab Nyonya Sun yang melihat Sukkie terlihat kelelahan hingga sedikit berkeringat di dahinya.

“Ibu pasti ada hal penting.” Kata Sukkie ulang.

 

ღღღ

 

“Yakh, jadi kau sekarag sedang dekat dengan Jae Joong kakak kelas kita itu ?” tanya Bong Gul yang terlebih dahulu menghampiri Shin Hye yang baru beberapa langkah berjalan dari arah tempat parkir di belakang lapangan baseball.

“Tidak.” Jawab Shin Hye menolak penilaian temannya itu.

“Ah, ayo, jangan malu – malu ceritakan saja. Seperti apa di dekat kak Jae Joong itu ?” mendadak Ji Min yang baru datang juga ikut – ikutan memberondong Shin Hye. Padahal dirinya yang terlihat cuek dengan Jae Joong ternyata juga tertarik sebetulnya dengan seniornya itu.

“Bukankah dia itu sangat keren ! dua jempol untuknya !” kata Chong Han menimpali yang baru saja lewat sambil mengemut permen lolipopnya.

“Ah, tidak seperti yang kalian pikirkan. Tadi dia itu hanya mengantarku sebab Sukkie yang memintanya sebagai gantinya dirinya yang tak bisa datang.” Terang Shin Hye yang lumayan panjang hingga membuat temannya mendekat ke arahnya mendelik curiga sebab tak biasa – biasanya Shin Hye tampak sedang berkilah seperti ini.

“Okay. Kalau begitu ayo kita masuk.” Rangkul Ji Min ke pundak Shin Hye menuju ke kelasnya.

“Tapi dimana Hyo Joo ?” mendadak Shin Hye pun bertanya sebab tak dilihatnya Hyo Joo ada di sana bersamanya.

“Ya, tentu saja belum datang. Dia itu kan ratunya telat.” Jawab Soo Jin yang berada di belakangnya.

 

ღღღ

 

Sukkie pun yang menggebrak meja yang sedang menopang kedua tangannya itu hingga cangkir kopi bergetar dan menumpahkan cairan coklat manis itu ke meja dan membuat sedikitnya empat orang yang berada di cafetaria menjadi menoleh ke arahnya.

“APA TIDAK ADA CARA LAIN ?” tanya Sukkie setengah berteriak kepada ibundanya.

“Tidak ada. Maafkan ibu, Sukkie.” Jawab ibunda Sukkie menunduk tak berani melihat bola mata Sukkie.

“Ini tidak bisa dibiarkan.” Remas tangan Sukkie.

“Ingatlah ayahmu bukan tipikal orang yang bisa diajak berkompromi, Sukkie.” Peringatkan ibunda Sukkie di hadapan putranya itu sembari menyentuh punggung tangan Sukkie halus.

“ Baiklah. Kalau begitu serahkan kepadaku saja. Aku akan bisa menyelesaikannya sendiri. Aku berjanji kepada diriku sendiri, bu.” Kata Sukkie mantap.

Ibunya yang seakan mengerti dengan maksud Sukkie pun hanya bisa mengangguk dan menyetujui pilihan Sukkie. Dirinya tak ingin Sukkie melakoni sesuatu yang tanpa dipikirkannya terlebih dahulu.

 

ღღღ

 

Shin Hye yang terhenyak kaget sebab dirinya mendapati Jae Joong yang sudah berada di hadapannya yang hendak keluar itu. Padahal niat awalnya Shin Hye ingin pergi ke perpustakaan namun setelah ada Jae Joong justru dirinya terpaksa harus mengikuti saja sebab dirinya masih tak enak dengan Jae joong yang sudah berulang kali menolongnya seperti tadi pagi dan kemarin sewaktu Sukkie menjemputnya.

“Kita kemana ?” tanya Shin Hye.

“Kita ke kantin saja. Pasti kau sudah lapar.” Jawab Jae Joong perhartian.

“Apa kakak tak ada waktu lain seperti ikut club ?” tanya Shin Hye lagi.

“Apa kau sudah punya teman laki – laki ?” tanya Jae Joong balik yang sukses membuat Shin Hye terpelongo memandanginya.

“Eh. Lupakan saja kalu begitu. Ayo duduk di sana.” Sambil membawakan dua mangkuk mie dengan pespsi botol dalam satu nampan. Shin Hye masuk tak mengerti dengan apa maksud Jae Joong. Dan mendadak saja Jae Joong menyerahkan sebuah kalung dengan liontin berbentuk hati dan memandang ke arah Shin Hye.

“Coba kau pakai ini. di sini ada tempat untuk memasang foto orang yang berarti bagimu. Dan menggantungkannya seperti ini.” contoh Jae Joong. Dan Shin Hye pun menerimanya. Shin Hye masih belum mengerti juga kenapa Jae Joong terkesan begitu baik terhadapnya.

“Tak perlu berterima kasih, aku memang mau memberikannya kepadamu.” Senyum Jae Joong ke arah Shin Hye sambil menghisap mienya.

Shin Hye pun hanya terdiam lalu ikut memakan mienya.

 

ღღღ

 

TIN TIN TIN

Suara klakson mobil Sukkie yang mendadak entah sejak kapan sudah berada di gerbang depan sekolahnya. Entah apa tidak malu dirinya tanpa mengenakan seragam yang berarti dirinya tak masuk alias membolos menunggu di gerbang depan hingga security yang berada di samping tengah duduk pun berdiri dan  menghampirinya.

“Mencari siapa ?” tanya pria berseragam petugas itu.

“Aku masu cari Shin Hye, pak. Siswa kelas 11G.” Jawab Sukkie tanpa berbasa – basi.

“Bisa bapak tolong panggilkan dia ?” tambahnya. Hingga petugas itu pun pergi berbalik dan segera memencet beberapa alat yang berada di sampinya dan meraih sebuah sejenis microphone tapi kecil sekali dan mendadak sebuah suara pun terdengar hingga dari tempat Sukkie berdiri.

Barulah beberapa menit kemudian, keluar seseorang berambut panjang dengan rambut yang terurai sambil membawa kotak pencil dn buku modul. Dia Shin Hye.

“Ada apa, pak ? Siapa yang mencariku ?” tanyanya. Kemudian petugas itu pun menunjukkan seseorang di balik pintu gerbang yang terlihat punggunya.

“Apa kau yang mencariku ?” tanya Shin Hye yag baru beberapa langkah setelah berterima kasih kepada satpam itu pun menanyai lelaki yang masih membelakanginya.

“Oh, kau.” Jawab Sukkie yang seketika berbalik setelahmendengar suara Shin Hye di sampingnya.

“Iya ?” tanya Shin Hye.

“Apa kau tak merasa ada kehilangan sesuatu ?” tanya Sukkie.

“Ehm ?” tanya Shin Hye heran.

“Tas ransel orangemu. Sejak di rumah sakit itu aku lupa terus memberikannya kepadamu. Ini.” kata Sukkie menyerahkan tas ransel itu. Dan Shin Hye pun mengambilnya. Baru sesaat Shin Hye hendak berbalik namun tangan Sukkie sudah menahan pundaknya.

“Ada sesuatu yang mau aku katakan padamu.”

“Terima Kasih.” Kata Shin Hye.

“Bukan itu yang kumaksud.”

“Laulu ?” bingung Shin Hye.

“Tidak bisa aku mengatakannya di sini. Kapan kau pulang. Aku akan menjemputmu.”

“Pukul 02:15.”

“Baiklah tunggu aku di sini.” Kata Sukkie dan langsung menuju ke mobilnya. Shin Hye pun hanya melihatnya dari kejauhan.

 

 

ღ TO BE CONTINOUED ღ

Posted in NOVEL | Tagged , , | 1 Comment

God Gave Me You


CHAPTER 4

#I Begged You#

May 16, ’12 3:51 AM
for everyone

Title : God Gave Me You

Genre : Romance and Comedy

Rate : PG

Author : Shiella Fiolly (io)

Cast :

Jang Geun Seok

Park Shin Hye

Kim Jae Joong

Han Hyo Joo

 

BRAKK.. Tuan Jang pun kesal membanting gelas kaca yang berisi whiskynya hingga pecah ke lantai menjadi berkeping – keping. Dirinya sungguh gusar dengan tingkah Sukkie akhir – akhir ini. baginya semakin hari Sukkie tampang melawan dan membangkang apapun yang dipintanya. Tak satu pun permintaannya yang dipenuhi. Jae Joong juga, justru kedatangannya semakin menambah kemarahannya saja. Tuan Jang tampak mencium aroma konspirasi di sini. Namun dirinya masih berusaha untuk menahan hingga tahu benar dengan apa yang akan diambil Sukkie.

“Kalau sampai hingga pagi ini dia tak pulang, tak usah bukakan pintu untuknya lagi !” pekik Tuan Jang kepada istrinya. Istrinya yang sedikit ketakutan hanya mengangguk – angguk tak pasti demi menenangkan diri menghadapi suaminya yang sedang di bawah kendali emosi.

“Kau juga tidak usah terlalu memanjakannya.” Tambah Tuan Jang sedikit merendahkan nada suaranya.

“Satu lagi, kalau dia berusaha mengambil hati kita untuk memaafkan kesalahannya kali ini, pura – pura saja tidak dengar. Abaikan dia. Sudah cukup kita dibuatnya untuk bermain – main. Mau ditaruh dimana mukamu di depan kawan lamaku, Lim Jae Wook. Semalam sungguh memalukan.” KREKK… tuan Jang menarik dasinya kasar dan melemparkannya sembarang ke belakangnya. Nyonya Jang pun hanya bisa terdiam melihat protes yang bertubi – tubi dari suaminya itu. Dipungutnya dasi yang dibuang tadi dan segera berbaliklah dirinya menuju ke dapur. Dirinya pun mulai membereskan sisa piring dan gelas yang telah digunakan mereka semua sewaktu makan malam. Entah akan membela siapa nyonya Sun ini, tetapi dalam hati kecilnya sebenar – benarnya dirinya pun tak rela bila harus memaksa Sukkie terlalu seperti ini. dirinya paham betul bila Sukkie memiliki cita – cita yang tinggi untuk belajar hingga keluar negeri dan mendalami dunia fotografinya. Namun sebagai seorang istri tidak mungkin juga dirinya akan teguh dan menomorduakan pilihan suaminya.

 

ღ ღ ღ

 

Jae Joong yang tengah datang ke sekolah pun mengendarkan pandangannya menjelajah untuk mencari Sukkie. Sudah semenjak kemarin dirinya heran mengapa Sukkie begitu sulit ditemui. Ada apa dengan dirinya. Tak biasa – biasanya Sukkie pergi keluar hingga selama itu. Biasanya Sukkie lebih suka bermain sky atau traveling bersama dengan Jae Joong sewaktu senggang seperti minggu tenang seperti sekarang ini.

Jae Joong yang lelah tak mendapati keberadaan Sukkie pun akhirnya pergi ke lapangan baseball. Dirinya menarik napas dalam untuk menghirup udara pagi sekalian mencari angin. Kiranya ada orang tidak yang sedang di sana. Sial, tak ada siapa – siapa sama sekali. Namun justru ada baiknya juga. Dirinya bisa bermain bola baseball sesukanya tanpa harus adaa yang mengganggu ketenangannya.

“Yakh… HAP !” Jae Joong pun mulai melempar bola melah yang berbentuk pepat lonjong itu dan mengumpulkan tenaganya untuk melentingkan bola sejauh mungkin. Dicobanya berulang kali hingga sepertinya sudah ada tujuh kali dia mengulang gerakan yang sama. Hingga, terdengar suara orang yang tersandung menyita perhatiannya.

“Yakh ! Jatuh lagi !” keluah salah seorang gadis yang kelihatannya baru saja lewat di sepanjang jalan petak menuju ke tengah lapangan. Dengan cepat dirinya berhenti untuk menali tali sepatunya yang awalnya terlepas hingga menyebabkan dirinya yang sedikit berjalan terburu – buru terlilit tali itu dan naasnya dirinya terjatuh. Menjatuhkan buku – buku paketnya hingga berhamburan di sekitarnya. Jae Joong terang saja langsung mendekat ke arahnya berusaha hendak membantu. Namun sialnya dirinya.

“Untuk apa kau kemari ?” cetus gasi itu.

“Hwang-Ji-Min,” eja Jae Joong membaca tulisan yang tertera di badge sebelah kanan seragam kotak – kotak yang dikenakannya.

“Kenapa ? Cepat pergi. Apa kau hanya mau melihatiku saja !”

“Ayo berdiri !” Jae Joong mengulurkan tangannya. Namun Ji Min tak sedikit un bersikap manis menanggapinya justru dirinya membuang permen karet di mulutnya ke samping tempat Jae Joong berdiri. Jae Joong yang kesal langsung mengatainya keras.

“Dasar gadis gila !”

 

ღ ღ ღ

 

Sukkie baru saja datang di rumahnya. Baru beberapa derap langkahnya memasuki depan pintu. Suara langkah tegas mengikutinya dari arah berlawanan. Dan mendadak entah dari mana seorang pria paruh baya itu sudah berada di samping kanannya dan menampar pipi Sukkie hingga membuat Sukkie mengeringai menahan sakit dan berusaha untuk bangkit kembali. Namun dirinya yang tak punya niatan untuk membalas perlakuan sang ayah yang dirinya tahu sudah pasti tak mungkin mau menerima penjelasan darinya itu pun membuat Sukkie terdiam dn menunduk lesu.

“Kau tahu apa kesalahanmu ?” teriak tuan Jang tepat di samping telinga Sukkie.

Sukkie pun mengangguk sambil memegangi lengannya yang lebam akibat tertumbuk meja sebab tamparan ayahnya yang menyebabkannya terjauh hingga mengenai ujung meja.

“Kau tahu harus bagaimana ayah menghadapi teman ayah ?”

Sukkie pun menggeleng. Namun dirinya masih juga bungkam tak mengatakan sepatah kata pun.

“Lalu sekarang apa maumu ? kenapa masih pulang ? bukankah rumahmu di luaran sana ?” tindas sang ayah sambil mengacungkan jari telunjuknya menghadap ke semua pintu yang mengarah ke jalan raya.

“Maafkan aku, ayah. Ayah boleh menghukumku.” Hanya itu kata yang keluar dari mulut Sukkie.

“Aku tidak butuh permintaan maafmu. Kau sudah dewasa. Hidupmu adalah tanggung jawabmu. Aku hanya perantara.” Tukas ang ayah lalu pergi begitu saja meninggalkan Sukkie yang masih tertunduk berdiri di hadapannya.

Ibu Sukkie yang melihat senidiri dari balik pintu hanya bisa tersenyum miris melihat putra kesayangannya itu diperlakukan tak baik oleh suaminya sendiri.

 

ღ ღ ღ

 

“Ye.. sekarang kau boleh pulanh, terima kasihlah kepada dokter yag sudah memberikan ijinnya untukmu pulang hari ini.” kata Hyo Joo menyemangati Shin Hye yang masih terluka.

“Tentu.” Jawab Shin Hye sambil berpegangan di pundak Hyo Joo untuk menjaga kestabilan langkahnya yang masih terasa berat. Hyo Joo yang mulai dekat dengan Shin Hye pun terlihat tak keberatan. Bahkan dirinya tak lelah sepulang sekolah langsung mendatangi rumah sakit demi mengantar kepulangan teman yang sudah dianggapnya sahabat ini.

“Dimana tas sekolahmu ?” tanya Hyo Joo teringat akan tas Shin Hye sewaktu dirinya tertabrak dua hari yang lalu. Shin Hye yang tak mengingatnya pun juga tak melhatnya. Dipikirnya mungkin saja paman bibi yang membawanya.

“Tak usah dicari. Mungkin ada bersama paman dan bibiku. Kemarin dia kan kemari.”jawab Shin Hye mengingatkan.

“Ehmm. Mungkin saja, ya. ayo, jalan pelan – pelan. Siapa yang menjemputmu ? Paman juga ?” tanya Hyo Joo lagi. Dan Shin Hye pun mengangguk riang.

Namun tak dilihatnya pula sang paman ada sewaktu Shin Hye dan Hyo Joo sudah tiba di depan halaman rumah sakit. Shin Hye pun memutuskan untuk menghubungi nomor rumahnya. Namun tak mendapat jawaban. Dirinya yang mulai gelisah pun berhasil dibujuk Hyo Joo untuk menunggunya di rumahnya saja. Kebetulan tempat tinggal Hyo Joo yang tak begitu jauh hanya berselang  dua ratus meter dari letak rumah sakit itu. Dan Shin Hye pun mengangguk sebab dirinya yang tak ada pilihan saat itu juga. Da akhirnya terpaksa mereka pun berjalan kaki menyusuri jalanan yang cukup panas dan terik di siang itu.

 

ღ ღ ღ

 

Jae Joong pun yang hendak pulang ke rumah, berjalan menenteng tas punggungnya menuju ke tempat parkir, denga cepat dirinya mengemudikan sepeda motornya untuk bergegas menuju rumah Sukkie. Dirinya yang ingin menanyakan untuk apa Sukkie membutuhkan bantuannya semalam itu pun masih penasaran dengan apa yang sebenarnya tengah Sukkie rencanakan. Hingga tak lama baru sepuluh menit berselang dirinya sudah berada tepat di kediaman Sukkie.

Meski sepi tak akan mengurungkan niatnya sekedar untuk masuk ke dalam. Dirinya seperti biasa langsung masuk begitu saja tanpa mengucap salam. Masih memakai helm di kepalanya Jae Joong menuju ke lantai atas untuk masuk ke kamar Sukkie. Benar. Sukkie justru terlihat keleleahan tidur dengan telanjang dada dan hanya mengenakan celana pendek kostum sepak bolanya. Entah baru darimana dia. Jae Joong yang keheranan pun tanpa sungkan – sungkan lekas membangunkan Sukkie.

“Heh ! bangun ! Enak sekali kau tidur setelah tidak masuk sekolah !” jewer Jae Joong ke telinga Sukkie agar Sukkie segera terduduk dan bangun.

“Ch ! apalagi sih, kau ! aku ngantuk. Seharian aku tak tidur !”

“hah ! itu urusanmu !” tukas Jae Joong tak perduli.

“Aku menjaga Shin Hye semalaman,” tambah Sukkie dengan mata yang masih tertutup hendak tidur kembali.

“APA ? Anak gadis siapa yang barusan kau jaga ?” tanya Jae Joong ulang.

“Eh ! entahlah.. namanya Shin Hye, puas !” jawab Sukkie kesal dan kembali tidur. Namun lagi – lagi Jae Joong kembali mengusik Sukkie.

“Kenapa kau tak ajak – ajak kalau sedang ada target baru, hah !”

“Kau ini bicara apa ? aku tidak sedang mencari pasangan ! sudah, pergi sana, aku ngantuk !” banting Sukkie gulingnya ke arah Jae Joong yang terus – terusan menanyainya dengan pertanyaan yang dianggap Sukkie sama sekali tidak penting itu.

“Yakh ! Kau, kalau saja kau bukan adik kelasku, sudah kuremukkan tulang – tulangmu !” cerca Jae Joong kesal atas perlakuan Sukkie kepadanya.

 

ღ ღ ღ

 

Bibi dan paman Shin Hye pun keluar rumah dan menuju ke garasi untuk segera menaiki mobilnya. Dengan langkah yang sedikit terburu mereka berdua berjalan menuju ke mobilnya dan cepat – cepat menggas agar cepat sampai ke rumah sakit tempat Shin Hye keponakannya di rawat. Tak banyak yang mereka persiapkan paling hanya satu buah bantal untuk tempat Shin Hye bersandar agar mengurangi sedikit lelahnya.

Hingga mereka telah sampai ke rumah sakit dan menuju ke ruangan yang merawat Shin Hye namun tak didapati Shin Hye masih di tempat. Semuanya sudah tertata rapi bersih dan kosong. Sudah terlmabat mereka menjemput keponakan mereka itu.

Bibi Ban yang khawatir pun segera menelepon ke rumah Ji Min memastikan apakah Shin Hye sedang berada di sana. Dan ternyata tidak. Begitu pula dengan Bong Gul, Megan. Soo Jin, dan lain – lainnya kecuali ke nomor Hyo Joo yang belum dihibunginya. Bibi yang khawatir pun kembali menuju ke mobilnya dan mengendarainya untuk kembali pulang ke rumah.

“Kenapa bisa begini ?” cemas bibi Ban hingga meremas – remas kedua tangannya di dalam mobil. Membuat suaminya juga ikut panik dibuatnya.

“Kalau kita tungguh hingga pukul 3 sore apa terlalu lama ?” tawarnya melihat istrinya dari balik kaca yang terpasang di atas samping kiri kepalanya.

“Baiklah. Kita berhenti di sini saja demi menunggu Shin Hye kembali.” Ucapnya berhenti di sebuah taman bunga yang terletak tak jauh dari depan rumahnya. Tempat ini sangat cocok digunakan untuk bersantai sambil menikmati pemandangan yang tersaji lewat bunga – bungaan yang terdapat dengan berbagai macam warna menghiasinya.

“Kita tunggu setengah jam lagi.” Kata Bibi Ban menoleh ke arah jam tangan di tangan kirinya.

 

ღ ღ ღ

 

“Astaga ! Shin Hye !” sontak Sukkie bangun dengan tergopoh – gopoh. Dirinya yang langsung meraup pakaiannya lengkap di samping tubuhnya yang memang sudah disiapkan oleh ibunya yang tadi melihatnya terlelap tanpa memakai atasan itu pun masuk ke kamar mandi.

Sekitar 3 menit kemudian dirinya keluar sambil menyisir rambutnya cepat dan menyemprotkan beberapa parfume men ke punggungnya. Setelah itu dirinya pun meraih kunci mobil di ujung meja dan segera turun untuk menjemput Shin Hye ke rumah sakit.

Baru 2 menit dirinya berkendara. Sebuah pesan singkat masuk ke phonecellnya. Dibacanya pesan itu dari nomor yang sama sekali tak dikenalnya. Dirbacanya pesan itu di sela – sela rambu lalu lintas yang masih menyala merah dan ternyata dari Hyo Joo. Meski Sukkie tak begitu mengenal dekat dengan Hyo Joo namun dirinya bisa menangkap bahwa pesan itu mengenai Shin Hye yang ditabraknya.

“Dimana kalian ? aku segera ke sana.” Balasnya ke nomor itu dan setelah itu menyimpan nomor itu di daftar phonebooknya.

“Aku ada di Seoul barat menara. Kau tinggal jalan lurus  saj ke kiri dari rumah sakit. Maka kau akan menemukan rumahku.” Balas Hyo Joo.

Sukkie pun mempercepat laju mobilnya dan berbalik ke rumah Jae Joong yang terletak tak jauh dari tempatnya berada pula. Dirinya yang hafal betul dengan sikap Jae Joong sudah pasti dirinya merongrong dirinya untuk minta dikenalnya dengan gadis baru yang mau menggantikan untuk jadi kekasihnya setelah dirinya telah benar – benar memutuskan kekasihnya yang kini masih mendampinginya, Rae Ha.

 

ღ ღ ღ

 

“Ada setan apa kau ingat aku saat ada kesempatan bagus begini ?”

“Tutup mulutmu dan diam saja. Aku juga tidak akan mengajakmu kalau kau tak memintanya.” Tandas Sukkie tajam.

“Baik, Baik, kawan.” Tangkul Jae Joong ke pundak Sukkie yang membuat Sukkie sedikit risih hingga membuatnya tak stabil sebentar dalam mengemudikan setir mobilnya.

“Apa yang kaulakukan ? kau mau mati ya ?”

“Maaf, maaf. Hhehe..” garuk – garuk Jae Joong ke kepalanya yang tak terasa gatal.

Hingga sesampainya di depan rumah Hyo Joo pun Sukkie langsung memencet klaksonnya agar sang pemilik rumah segera keluar. Dan beberapa detik kemudian keluarlah seorang gadis dengan memakai syal yang membalut lehernya dan penutup kepala yang terbuat dari bahan wol itu. Dirinya yang tanpa disadari meras tengah dinanti – nanti itu pun segera keluar dan berniat menggandeng Shin Hye masuk ke mobilnya. Namun, belum- belum dirinya keluar, Sukkie sudah kalah cepat denga Jae Joong yang lebih dulu menyapa Shin Hye dan membantu membawakan tas kecil yang diberada di tangan Shin Hye sebelumnya.

“Eh, tidak usah, aku saja.” Kata Shin Hye sopan.

“Ah, aku ikhlas. Tenang saja. Tidak memungut bayaran.” Senyum Jae Joong yang memdadak membuat Shin Hye tertegun memandanginya seperti sedang menataap seseorang yang dicintainya. Sukkie yang tak enak melihat pemandangan ini pun segera berteriak memanggil Hyo Joo dan setelah Hyo Joo keluar dirinya segera mengucapkan terima kasih kepada Hyo Joo yang telah memberikan bantuan kepada Shin Hye. Bagaimana pun seharusnya ini masih menjadi tanggung jawab Sukkie. Alasannya.

“Ayo. Kami pulang dulu. Kapan – kapan. Ganti kau yang mampir ke rumah kami, Hyo Joo. Shin Hye aku bawa.” Kata Sukkie menunduk dan segera lekas pergi meninggalkan rumah Hyo Joo.

Di dalam mobil pun Jae Joong sepertinya terus – terusan berusaha untuk menggodai Shin Hye. Terlihat kentara sekali dirinya yang berusaha bersikap sok main di hadapan lawan jenisnya itu. Sukkie yang mulai mencium bau – bau rayuan gombalnya hanya mengulurkan lidahnya menahan rasa muak yang ditahannya sejak tadi sebelum mengantarkan Shin Hye. Apa lagi yang akan dilajukan bocah curut itu ? apa dia masih kurang sudah mendekati empat wanita dalam seminggu ini. Sukkie yang melihatnya pun geli dan mengerem dadakan mobilnya, hingga Jae Joong dan Shin Hye pun yang duduk di belakang terdorong maju hampir menatap kursi di depannya. Sukkie tak sengaja melakukan hal itu. Namun agaknya Jae Joong yang sensitif mengirai Sukkie sedang cemburu kepadanya.

“Ya !! Kau.. Kalau tidak suka bilang, jangan seperti anak kecil begini !

“Anak kecil katamu !” pelotot Sukkie berbalik menghadap Jae Joong.

 

ღ TO BE CONTINOUED ღ

Posted in NOVEL | Tagged , , | Leave a comment

God Gave Me You


 CHAPTER 3

#Take comfort in your friends#

May 15, ’12 7:28 PM
for everyone

Title : God Gave Me You

Genre : Romance and Comedy

Rate : PG

Author : Shiella Fiolly (io)

Cast :

Jang Geun Seok

Park Shin Hye

Kim Jae Joong

Han Hyo Joo

“Kenapa Bibi bisa ada di sini ? Mau apa dia kemari ?” pikir Sukkie yang barusaja melihat seorang wanita paruh baya yang berjalan memasuki loby dan mengenakan long dress coklat berenda di kerahnya.

Melihat wanita itu Sukkie langsung saja mengenalinya. Iya, wanita yang empat hari lalu berkunjung ke rumahnya demi berkenalan sambil membawakan kue brownies dalam kardus kotak yang dihiasnya sendiri. Dia belum lama ini tinggal di Seoul. Dan dirinya pula yang masih notabene penghuni baru di perumahan tempat tinggal Sukkie berada meski mendatangi para relatif barunya di perumahan itu satu per satu, tak terkecuali di kediaman keluarga Jang Il Suk, ayahnya. Ya, Sukkie yakin sekali dia bibi itu. Meski sedikit lupa siapa namanya namun dirinya masih ingat sekali kalau surname wanita itu adalah Ban. Hah. Sukkie jadi ingin tahu sebenarnya apa yang tengah dilakukan bibi itu di rumah sakit itu. Apa ada keluarganya yang sakit ?

Tapi mendadak panggilan masuk muncul lagi di phonecellnya. Kali ini, sang gulma, Jae Joong. Sudah bisa dipastikan dirinya akan marah besar sekedar menumpahkan kekesalannya sebab Sukkie yang dipikirnya tak bisa menepati janjinya untuk datang memenuhi permintaannya. Hah ! angkat tidak ? Angkat. Tidak. Angkat !

“Ya, apa lagi ? aku belum bisa datang, Jae Joong. Nanti saja marahnya !”

“Sebenarnya kau itu sedang dimana, sih ? kenapa kau juga tidak ada di rumahmu ? Aku ke sana hanya ada ibumu.” Terang Jae Joong.

“Aku ada di rumah sakit.”

“Hah ? Bagaimana bisa ? Bagaimana ceritanya ?”

“Akh ! Sudah, kau diam saja. Ceritanya panjang. Justru sepertinya aku yang akan meminta bantuanmu kali ini.” ucap Sukkie setengah berpikir untuk memohon kepada Jae Joong.

“Apa itu ? Asal tidak membujuk orang tuamu saja aku bisa.”

“Itu mudah. Kau tinggal datang saja ke rumahku. Pakailah tuxedo atau setelah jas, apapun yang terlihat wah. Setelah itu kau ke rumah tepat pukul 9 malam. Okay.”

“Apa ? Kau gila ? sudah jam berapa sekarang. Hanya ada sisa waktu  setengah jam.”

“Ah, yang penting kau datang saja. Nanti aku terangkan lebih lanjut. Terlambat sedikit juga tidak akan ada masalah.” Tandas Sukkie berdecak di akhirnya katanya.

“Baiklah. Aku bisa. Ini tidak akan lama, bukan ?” tawar Jae Joong.

“Tidak. Aku jamin. Yang penting kau bilang tidak, tidak saja. Kalau mereka bertanya kepadamu jawab dengan jawaban yang terburuk. Mengerti.”

“Hah ? Apa kau tak salah ? itu bisa menurunkan imagemu.”

“Justru itu yang aku harapkan. Baiklah segera berbenahlah. Nanti kabari aku.” Sukkie pun  menutup teleponnya dan memasukkan phonecellnya ke saku jaket kulitnya.

 

ღღღ

 

Shin Hye yang mulai siuman pun mengerjab – ngerjabkan matanya demi menghindari silau sinar lampu yang begitu mencolok bagai menuuk matanya. Sudah hampir empat jam dirinya tidak sadarkan diri. Merasakan ada yang nyeri di kepalanya membuatnya memegangi dahinya dan mencoba untuk mendudukkan tubuhnya. Sedikit bingung sebab tahu – tahu sudah banyak orang yang berada di hadapannya. Ada Bong Gul, Megan, Hyo Joo, Ji Min, dan sepertinya masih ada yang lain yang sedang menyaksikannya dari balik jendela kaca di sisi kirinya.

“Sudah, jangan terlalu banyak bergerak. Kau masih perlu istirahat yang cukup, Shin Hye.”

“Bagaimana keadaanmu ? Sudah baikan ?” tanya Soo Jin hendak memegang balutan putih tebal yang melingkar di kepala Shin Hye, namun buru – buru Ji Min menampiknya.

“Jangan disentuh dan jangan banyak ditanyai dulu. Biarkan dia tenang.”

“Kami semua mencemaskanmu, kau tahu ?”

“Iya, bagaimana bisa jadi seperti ini.”

“Iya, benar. Mendengar ini kami buru – buru datang kemari untuk menjengukmu.” Ungkap Megan tersenyum simpul.

“Terima kasih, ya.” ucap Shin Hye datar sepertinya masih menahan kesakitan di kepalanya.

Mendadak terdengar suara gagang pintu yang dibuka dan berdenyit lalu masukkan seorang wanita dan pria begitu saja tanpa mengucap salam. Melihat ke arah teman – teman Shin Hye, sepertinya keduanya sedikit tidak suka terhadap mereka. Sinis dan sadis tatapan yang mereka arahkan. Dari dandanannya seperti keduanya juga bukan orang biasa. Membuat sesekali Bong Gul dan yang lainnya merasa tak nyaman.

“Lain kali biar kuantar saja kau ke sekolah, begitu pun menjemputmu.” Ucapnya tandas dan tegas. Kaku sepertinya pria itu berbicara kepada Shin Hye.

“Tidak apa – apa, Cuma sakit sedikit.”

“Tapi ini bukan main – main.” Tambah sang wanita di sebelahnya.

“Benar. Bagaimana pun kepala itu tidak boleh terbentur oleh apapun.” Timpa lagi pria itu.

“Iya, aku akan berhati – hati untuk selanjutnya.”

“Tak perlu berjanji. Lakukan sendiri untuk dirimu.”

“Eum.” Jawab Shin Hye terlihat patuh dan menuruti pesan kedua orang tua tersebut.

 

ღღღ

 

“Haching.. Aku sepertinya sedang flu, ayah. Lalu bagaimana berangkat ke perjamuan dengan keluarga teman ayah nanti ?” tanya Kim Byung manja kepada ayahnya sambil bersolek di depan kaca besar di dalam kamarnya.

“Sudahlah, diobati saja sana. Nanti juga sembuh.” Jawab santai sang ayah.

“Tapi, bagaimana kalau aku jadi mengantuk nanti.”

“Tidak akan. Setelah melihat putranya kupastikan kau tak akan mengantuk. Dia pria yang tampan dan berwibawa. Pokoknya jangan sesekali kau memperlihatkan kekuranganmu di depannya, mengerti ?” tukas sang ayah memperingatkan anak gadisnya itu membuatnya cemberut memanyungkan bibirnya tak terima.

“Ayah saja yang bicara. Aku dengarkan saja.”

“Mana boleh begitu. Kau juga harus ada inisiatif untuk berbincang – bincang dengannya. Cari kesempatan yang bagus. Dan jangan banyak bicara soal ibumu, mengerti.”

“Iya, iya, ayah. Itu aib. Aku mengerti.” Jawab Kim Byung santai. Lalu kembali memoles pipinya dan memasang anting – anting mutiara di telinganya. Dirinya sudah mempersiapkan pertemuan ini jauh – jauh hari setelah melakukan kencan buta yang gagal dengan pria pilihan ayahnya yang pertama kali. Entahlah, dirinya yang bawel ini membuat lelaki mana yang tahan dengan sikapnya itu. Belum apa – apa saja dirinya sudah mengajukan perjanjian untuk ini – itu. Bukankah komitmen itu dibangun dengan kesediaan bersama. Dirinya terlalu banyak mendominasi dalam sebuah hubungan hingga – hingga membuat pasangannya menjadi muak dan tak tahan untuk melanjutkan hubungannya dengan Kim Byung. Namun, status sosial yang tinggi justru membuat dirinya tak berintrospeksi diri dan malah semakin menjadi saja.

 

ღღღ

 

Di Lobi pun Sukkie yang mendengar ada yang ramai dengan ruang di sebelahnya dimana seorang pasien yang barusaja dipindahkan dari ruang ICU itu pun membuatnya penasaran. Apa mungkin itu gadis yang ditrabraknya tadi ? dengan sigap dirinya segera memeriksa ke jendela yang menghubungkan dengan ruangan itu. Kamar nomor 108 yang bernuansa serba hijau muda. Sedikit selambu yang membuatnya terhalang untuk melihat siapa yang tengah berada di ruangan itu. Namun sepertinya benar, gadis yang ditrabraknya temppo sore. Kenapa suster tak bilang kalau memang sudah dipindahkan. Keterlaluan. Apa dia lupa kalau sedari tadi menunggu beritanya.

JLEG.. sebuah pengait pintu itu pun dibukanya. Berdirilah ia memposisikan tubuhnya di depan kursi samping pasien itu dirawat. Sukkie tak mendapati sesuatu yang berarti namun dilihatnya justru gadis itu yang tengah terlelap dan ditunggui oleh dua orang dewasa di sampingnya. Yang wanita sedang mengusap – usap puncak kepala gadis itu dan yang pria sedang sibuk membaca koran sambil duduk dengan mengangkat satu kakinya seperti bos lengkap dengan kopi panas di sampingnya. Sukkie pun membungkukkan badannya di hadapan kedua orang tua itu. Tak satu pun dari mereka yang menghiraukannya. Hingga Sukkie pun memberanikan diri untuk menanyakan bagaimana keadaan gadis itu.

“Shin Hye sudah tidak apa – apa. Kau boleh pergi.” Tukas sang wanita sambil memandangi sayu ke arah Shin Hye.

“Tapi, Bi. Aku ke sini sebab aku yang telah menabraknya. Aku minta maaf atas kelalaianku.” Tunduknya lagi.

“Iya. Kami sudah dengar dari Ji Min. Dia tidak apa – apa. Ini semua murni kecelakaan. Lagipula Shin Hye juga yang tidak berhati – hati menyeberang. Tak perlu menyalahkan dirimu.”

“Oh. Begitu. Kalau begitu aku bisa bantu apa, Bi ?” Sukkie mencoba menawarkan bantuan.

“Tidak. Tunggu saja dia siuman setelah itu. Akan kuantar kau ke rumah.”

“Oh, tidak perlu. Aku membawa mobil. Justru aku yang menghawatirkan dia.”

“Dia ? Dia punya nama. Kenapa kau terus menyebutkan dia. Apa kalian tidak saling mengenal ? lalu kau siapanya ?” tanya wanita itu ingin tahu.

“Eh, sebenarnya aku belum pernah kenal dia sebelumnya. Dan maka dari itu aku merasa sangat bersalah telah menyebabkan putri anda menjadi begini. Aku hanya mendapat nomor phonecell anda dari kedua temannya yang waktu itu pulang bersamanya.” Terang Sukkie menjelaskan dengan kronologinya.

“Dia ini bukan putri kami. Dia ini keponakan kami. Orang tuanya sedang berada di luar negeri. Mereka tak pernah datang mengunjunginya karena sama – sama sibuk dan sudah berpisah.”

“Oh, aku minta maaf, Bibi.”

“Tak perlu. Itu bukan apa – apa. Kejadiannya sudah lama berselang.”

“Iya, aku mengerti. Lantas Bibi yang mengurusnya semenjak itu.”

“Iya.”

“Oh. Kalau begitu dia beruntung masih memiliki orang tua seperti bibi.” Tunduk Sukkie lagi. Dan mereka berdua pun keluar untuk mencari minuman sekedar untuk melepas dahaga. Sukkie bisa langsung care terhadap bibi itu. Begitu pula sebaliknya. Yang awalnya bibi Ban begitu ketus dan dingin justru dirinya bisa seakrab itu dengan Sukkie.

 

ღღღ

 

Tepat pukul 09:00 malam pun Jae Joong sudah siap di depan pintu rumah Sukkie. Seperti janjinya untuk memakai tuxedo sesuai dengan permintaan Sukkie kepadanya diriya melenggang sempurna sambil memencet bel di teras depan. Ibu Sukkie pun nyonya Sun Ae Ni membukakan pintu untuknya. Dirinya yang begitu bingung dengan pakaian yang tengah dikenakan Jae Joong itu langsung menegurnya.

“Kenapa berpakaian serapi ini. mau kemana ?”

“Ah, Sukkie menyuruhku untuk datang kemari, Bi.” Mendadak Jae Joong pun langsung masuk begitu saja tanpa dipersilahkan. Ibunda Sukkie hanya menggeleng lagi – lagi dan sesekali melirik ke arah suaminya tanda dirinya juga bingung dengan apa yang sedang direncanakan Jae Joong kali ini.

TING TONG TING TONG

Suara bel berbunyi untuk yang kedua kali. Nyonya Ae Ni pun kembali menuju ke ruang depan untuk membukakan pintu. Tepat keluarga pak Lim, rekan kerjanya sudah tiba. Buru – buru dirinya mempersilahkan masuk dan tentu mereka langsung mempersilahkannya ke meja makan di ruang samping ruang tamu. Dan sudah bersiap Jae Joong yang menempati tempat duduk yang seharusnya Sukkie duduki.

“Selamat malam, tuan Lim.” Apa maksud semua ini. Ibunda Sukkie hanya mengecap lidahnya dan duduk di tempata duduknya. Begitu pula dengan sang ayah Sukkie yang masih tenang saja melihat jam tangannya sesekali. Mencemaskan Sukkie apa mungkin dirinya akan datang terlambat untuk acara perjamuan sepenting ini ?

“Eh, sebentar kita tunggu Sukkie, ya ?” kata tuan Jang mengawali pembicaraan.

Terlihat sekali raut kekecewaan di wajah Kim Byung yang telah salah mengira bahwa lelaki yang duduk sehadap dengannya adalah calon suaminya. Ternyata bukan.

“Oh, iya, paman. Memang Sukkie kemana ?” tanya Kim Byung seraya membenarkan posisi duduknya agak lebih nyaman.

“Entahlah, biasanya dia sudah datang. Mungkin maih di jalan. Ya, sudah sambil makan saja kita bicara.” Akhirnya tuan Jang mempersilahkan mereka makan bersama dan dipikirnya Sukkie akan datang. Hingga sudah empat puluh lima menit, yang dinanti pun tak kunjung datang. Alhasil  tuan Jang mulai gusar dan menanyai Jae Joong.

“Jae Joong, kau tahu kemana kiranya Sukkie berada ?”

“Oh, tidak paman.”

“Kalau begitu apa Sukkie berpesan kepada tadi sewaktu bertemu ?”

“Aku bahkan belum bertemu Sukkie seharian ini.” ucap Jae Joong tak kalah santainya.

“Lalu kemana dia ? Sungguh anak kurang ajar.” Geram tuan Jang menyingkirkan steak yang ditusukan garpunya.

 

ღღღ

 

“Hati – hati.” Batu Sukkie memapah Shin Hye yang mulai berusaha untuk berdiri.

“Eum.” Angguk Shin Hye yang merasa sedikit terbantu sebab sedari tadi dirinya yang mulai bosa berada di ruangan serba hijau itu dan alih – alih ingin segera keluar. Namun harus menunggu hingga dua hari ke depan sampai keadaannya benar – benar pulih.

“Kau bisa jalan, kan ?” tanya Sukkie meyakinkan Shin Hye bahwa dirinya benar – benar kuat berdiri.

“Emm.” Angguknya lagi.

“Sekarang coba berjalan.” Selangkah dua langkah Shin Hye bisa berjalan maju. Namun untuk selanjutnya dirinya mulai merasakan nyeri sekali di bagian alat tumpu bawahnya. Lututnya mendadak bergetar hebat menyebabkan dirinya kehilangan keseimbang. Bukan seperti kesemuatan lebih – lebih seperti tersengat listrik yang mengalir perlahan semakin membesar di tubuhnya. Shin Hye pun terjermbak jatuh di hadapan Sukkie. Sukkie yang kaget tergopoh – gopoh berusaha menolongnya bangun. Namun Shin Hye terlihat begitu kesakitan. Dan hal ini cukup membuat Sukkie kebingungan haru bagaimana.

“Ayo, naik saja ke punggungku.” Tawar Sukkie kepada Shin Hye yang masih tetap terduduk di tempat.

“Nanti akan aku carikan kursi roda untuk kau berjalan – jalan.” Tambahnya.

Namun Shin Hye yang menolaknya hingga terpaksa Sukkie memapahnya ke tempat tidurnya. Infusnya yang tak sengaja terlepas itu pun mengucurkan sedikit air bening kekuningan yang membuat Sukkie cukup panik dan segera memencet bel untuk meminta bantuan suster memasangkannya kembali.

“Aku tidak apa – apa. Kau pulang saja.” Kata Shin Hye tiba – tiba yang melihat wajah Sukkie kebingungan. Bagaimana pun Sukkie tidak akan membiarkannya sendirian. Sukkie tidak enak terhadapnya yang begitu tegar. Lagipula paman dan bibinya sudah mempercayakan Shin Hye kepadanya selama mereka pulang untuk menyiapkan sarapan dan pakaian ganti untuk Shin Hye.

“Sudahlah. Kau tidak usah cemaskan yang lain. Istirahat saja.”

“Tapi aku masih ingin jalan – jalan.”

“Oh, kau ingin jalan – jalan. Kalau begitu tunggu suster datang aku akan mengambilkan kursi rodanya.”

“Terima kasih, …” lirik Shin hye.

“Sukkie.” Jawab Sukkie mengatakan namanya.

“Terima kasih, Sukkie.”

“Tapi ini masih jam 2 pagi. Kau yakin ini jalan – jalan keluar ?”

“Emm.” Lagi – lagi Shin Hye mengangguk dan membuat Sukkie sesekali mengamati ke arahnya. Dirinya teringat akan cerita tentang keluarga Shin Hye dari bibi Ban tadi malam.

 

 

ღTO BE CONTINOUED ღ

Posted in NOVEL | Tagged , | 1 Comment

God Gave Me You


CHAPTER 2

#Maybe Didn’t Put Enough On#

May 14, ’12 10:55 PM
for everyone
Title : God Gave Me YouGenre : Romance and Comedy

Rate : PG

Author : Shiella Fiolly (io)

Cast :

Jang Geun Seok

Park Shin Hye

Kim Jae Joong

Han Hyo Joo

Tak lama kemudian mobil Picanto kuning yang membawa Shin Hye pun telah sampai di rumah sakit Seoul. Pemuda yang mengemudikan mobil itu pun keluar dari pintu kiri dan segera membukakan pintu kanan mobilnya mengeluarkan Shin Hye dalam gendongannya. Segera sebuah tandu dorong menuju ke arahnya yang memang sebelumnya pemuda ini memang sudah menghubungi pihak rumah sakit. Melihat dari gaya dandanannya pemuda ini nampak familiar dan sepertinya cukup berpengaruh. Dirinya bahkan tak sekali pun berniat melepaskan kaca mata hitam yang sedari tadi dikenakannya untuk menutupi matanya. Sesekali dirinya melepaskan earphone yang tengah terpasang di telinganya untuk mendengarkan penjelasan dari para dokter senior yang tengah dipesannya untuk segera mengobati gadis yang barusan ditabraknya tanpa sengaja itu.

Kendati dirinya juga yang tengah gelisah sebab pemuda ini yang harus menepati janjinya kepada sahabatnya di seberang yang pasti juga tengah menunggunya. Diputuskannya dirinya segere mengirimkan pesan singkat kepada sahabatnya di seberang itu agar tidak buru – buru menyuruhnya datang sebab belum bisa dipastikan hingga berapa menit ke depan semuanya akan beres hingga gadis yang sedang dibawanya benar – benar siuman. Dirinya dengan sabar pun menunggu di loby berdiri sambil memandangi punggung – punggung pasien yang berlalu – lalang berjalan – jalan dengan kursi rodanya. Entah apa yang pemuda itu pikirkan, namun tak terlihat sedikit pun kecemasan dalam wajahnya. Atau memang dirinya tak khawatir sama sekali mengenai keadaan gadis yang dibawanya tadi.

Kalau pemuda tadi pikir – pikir, sepertinya dirinya juga pernah melihat gadis tadi sekali. Namun entah dimana tepatnya. Dirinya pun berpikir keras untuk menemukan dimana dirinya merasa pernah menemui gadis itu. Kalau di jalan yang barusan dia lewati tadi, sudah bisa dipastikan gadis itu bertetangga dengannya kalaupun memang benar gadis itu tinggal tak berjauhan dengan lokasi kejadian tabrakan tadi terjadi, tapi sepertinya bukan itu juga. Sesekali pemuda itu mengetuk – ngetukkan ujung phonecellnya yang ujung marmer meja recepcionist yang dipakainya untuk menyandarkan punggungnya itu mengurangi kepeningan di kepalanya. Dirinya masih berusaha keras untuk mencarii tahu siapa sebenarnya gadis yang tengah dibawanya tadi.

Ah ! melihat tas ransel milik gadis tadi yang tergeletak di kursi yang barusan dia duduki tadi, pemuda itu pun akhirnya mengingat sesuatu. Tas ransel itu yang biasa dikenakan gadis penghuni baru di rumah sebelah tempat tinggalnya yang juga sekarang tengah bersekolah di sekolah yang sama dengannya. Tak salah lagi. Iya, benar. Dirinya pun menyaksikan seksama tas ransel tersebut dan menggeledah apa saja kira – kira barang yang dibawanya. Hanya phonecell lipat yang terletak di resleting paling depan. Gadis macam apa dia itu ? tak ada satu pun alat rias di tasnya, parfume, atau bedak pun tidak. Hingga membuat pemuda ini makin penasaran dan hanya menemukan satu ipod yang terselip di saku kiri tas ransel berwarna orange itu. Apa gadis itu penggila musik ? pikirnya. Hah ! sudahlah. Lagipula dirinya juga belum terlalu mengenalnya, tak baik membuka – buka isi tas orang. Namun dirinya terlanjur penasaran. Dibereskannya lagi barang – barang yang berasal dari dalam tas ransel orange itu dan diletakkan kembali ke tempatnya sama persis dengan tempat semula supaya ketika gadis itu memeriksanya dirinya tak curiga bahwa ada yang mengobrak – abrik tas ransel miliknya.  Pemuda itu pun masih setia menunggu meski pun sampai terkantuk – kantuk duduk di sebelah koridor.

 

ღღღ

 

Sementara itu Hyo Jyoo dan Ji Min yang tengah berusaha menghubungi Megan untuk mengabari bahwa Shin Hye sahabatnya sedang menghadapi maasalah sekarang ini perihal dirinya yang tertabrak mobil saat menyeberang jalan raya di depan rumahnya. Kedua gadis ini pun segera mengabari kepada yang lain juga. Rencananya nanti malam keduanya bersama dengan teman – teman yang bersedia pergi menjenguk Shin Hye akan datang bersama – sama untuk melihat keadaan Shin Hye di rumah sakit. Tentu juga bersama dengan orang tua Shin Hye. Awal mulanya Ji Min yang mengabari Bong Gul. Kemudian Bong Gul mengabari Yoo Mi dan Gong Jin. Lantas Gong Jin yang selaku ketua kelas di kelasnya itu pun segera menyebarkan berita ini kepada teman – teman sekelasnya yang lain. Dalam waktu tak lama pun akhirnya mereka berlima berhasil mengumpulkan hampir separuh dari siswa – siswi kelas. Dan mereka pun kencan untuk menjenguk Shin Hye nanti pukul 07:00 malam, dimana jam jenguk malam dibuka.

Tak banyak pula bahan – bahan yang mereka bawa untuk menjenguk Shin Hye, hanya ada beberapa buah dalam ranjang seperti apel dan jeruk, kemudian roti dan selai. Lagipula bukankah bukan ini yang diharapkan dari mereka, namun doa justru yang akan lebih membantu untuk keajaiban kesembuhan Shin Hye.

“Semoga Shin Hye senang melihat kita datang mengunjunginya,” harap Ji Min berjalan paling depan di antara kedua belas teman wanitanya yang berjalan santai di belakangnya.

“Tentu saja. Sebagai siswi baru harusnya dia bersyukur kita sudah memperhatikannya sedemikian ini.” ujar Chong Han siswi ketua Cheerleader yang memang sedari awal terlihat iri terhadap Shin Hye yang notabene cuek dan tak banyak omong, namun banyak mendapatkan perhatian hingga banyak siswa yang terpusat padanya.

“Kau ini bicara apa ? tak seharusnya kau bilang seperti itu. Shin Hye itu teman kita. Kita harus memberinya semangat.” Sela Kwang Min.

“Heh ! Kau, Soo Jin ajari temanmu Chong Han itu. Jangan sampai bibirnya berkata yang macam – macam setiba di rumah sakit.” Tunjuk Hyo Joo ke arah Soo Jin, siswi yang selalu dekat dengan Chong Han sedari awal masuk ke SMU.

“Kenapa aku ?” keluh Soo Jin melirik ke arah Hyo Joo hendak protes namun tak ada nyali. Terpaksa dirinya lagi – lagi harus pasrah terhadap suruhan sahabatnya itu. Dirinya juga tidak ingin terjadi peristiwa yang tidak – tidak dengan Chong Han yang bisa mengganggu ketenangan yang lain.

“Hihhh ! Masih berani bertanya lagi ! Awas kau, ya !” geram Hyo Joo mengepalkan tangannya bersiap – siap ingin menjitak kepala Soo Jin yang tolol ini. namun lagi – lagi dirinya harus berusaha menahan diri untuk tidak marah selagi di tempat – tempat umum seperti di jalan raya ini. beruntung letak rumah sakit yang tidak terlalu jauh dari lokasi sekolah mereka hingga mereka tak perlu kerepotan untuk membawa kendaraan. Cukup jalan kaki juga sampai. Paling hanya akan makan waktu sepuluh sampai lima belas menit.

 

ღღღ

 

Sementara Jae Joong yang terlihat kesal sekali sebab Sukkie yang ternyata tak dapat datang dan mendadak membatalkan untuk datang membantunya demi menyelesaikan masalah yang sedang mendesak.

“Sebetulnya semendesak apa sih, masalahnya dibandingkan dengan masalahku ?” geming Jae Joong meremas botol seng pepsinya hingga kempes dan menyemburkan sedikit air gula itu ke lengannya.

“Kalau ada masalah, kenapa tidak membicarakannya denganku ? apa dia tidak percaya terhadapku ? teman macam apa itu ?” gemas Jae Joong akhirnya dia pun memutuskan untuk pergi ke rumah Sukkie.

Ditariknya kasar jaket yang menggantung di lemari kaca di sambing laci yang biasa dia gunakan untuk menaruh kunci tempat latihannya. Dengan terberu – buru dan langkah yang lebar dirinya berjalan cepat menuju ke jalan raya dan menghentikan taxi yang kebetulan lewat tepat saat dirinya begitu membutuhkan transport untuk menuju rumah Sukkie yang letaknya lumayan jauh dari tempat Gymnya itu.

 

ღღღ

 

Salah seorang dokter wanita pun keluar dengan membawa secarik kertas yang baru saja ditandatanganinya dan diserahkannya ke suster yang sudah menunggunya sedari tadi di ruang sebelah loby tempat Geun Seok tertidur. Beberapa percakapan ringan membuat Geun Seok terbangun dari tidurnya dan segera beranjak untuk mengecek sudah berapa jam dirinya menunggu kesadaran gadis yang tengah dibawanya tadi. Namun sayang tak terpasang satu pun jam dinding di sekitar loby tersebut. Hanya saja beruntung suster yang mengerti seakan apa yang Geun Seok cari pun segera memberitahunya ini sudah pukul 07:28 malam. Geun Seok yang mendengarnya pun membungkukkan badannya berterima kasih kepada sang suster. Dirinya juga menanyakan bagaimana keadaan gadis itu.

“Sebentar lagi hasil tesnya keluar, tuan. Mohon tunggu sebentar lagi, ya ?”

“Eh, baiklah, suster,”

“Oh, apa tuan ini keluarganya. Kami butuh tanda tangan keluarganya di bagian ini.” sambil menunjukkan letak di ujung kanan kertas yang berisikan hasil tes kesehatan Shin Hye. Beruntung semuanya normal, dari hasil yang didapat dirinya juga tidak memiliki riwayat kesehatan buruk sebelumnya. Ini berarti kemungkinan Shin Hye bisa langsung keluar sepulihnya dari luka di kepalanya.

“Eh, apa maksud suster terdapat luka di kepalanya ? apakah parah ?” Geun Seok yang mulai cemas membaca hasil kesehatan Shin Hye tersebut.

“Tidak. Mungkin akan sembuh dalam waktu tiga sampai empat hari ke depan, tuan. Tuan tenang ya.”

Geun Seok pun mengangguk sedikit mencoba mencerna perkataan sang suster tadi. Berharap tidak akan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan olehnya. Yang dia tahu sejak dia membawa gadis itu ke rumah sakit tak terlihat satu pun luka di tubuhnya, tapi entahlah kalau malah ada luka dalam. Semoga tidak demikian.

 

ღღღ

 

“Paman, Bibi, Geun Seok ada di kamarnya ?” tanya Jae Joong yang langsung masuk ke runag makan rumah Sukkie. Seperti biasa dirinya yang sudah biasa diperlakukan seperti keluarga di rumah Sukkie itu pun membuatnya seperti tak tahu aturan kalau berada di sana.

“Eoh, tadi dia pergi. Tapi tak bilang mau kemana ? untuk apa mencarinya ?” tanya nyonya Ae Ni, ibunda Sukkie yang sedang menyiapkan makan malam di meja makan besarnya.

“Tapi dia tidak ada di tempat Gym.” Jawab Jae Joong.

“Sejak kapan dia keluar ?” tambahnya bertanya.

“Kira – kira dua setengah jam yang lalu.”

“Baiklah, bi. Aku keluar dulu. Kalau  Sukkie datang bilang aku mencarinya. Mari, Bibi.” Tanpa memberi salam Jae Joong pun berlari keluar begitu saja meninggalkan ibu Sukkie yang dibuat bingung oleh tingkahnya. Dasar anak muda !

“Ayo, ayah, kita makan bersama.”

 

ღღღ

 

“Ah, akhirnya kita sampai juga di rumah sakit. Ayo, siapa yang ingin masuk lebih dulu. Kau, Ji Min. Maju !” pinta Hyo Joo yang sudah bersiap membawa buah – buahan di tangannya hendak masuk ke pintu rumah sakit namun masih ragu untuk menunggu Ji Min.

“Kau saja masuk duluan. Aku di belakangmu.”

“Jangan bercanda. Kau kan yang biasa di depan.” Tarik Hyo Joo ke arah tangan Ji Min yang sedari tadi masih menganggur tanpa membawa apa pun.

“Kalau kau tak mau, Chong Han saja ! Ayo, kemari !” gerak jari telunjuk Hyo Joo yang diarahkan ke depan muka Chong Han yang sedari tadi hanya membenarkan roknya tak henti – henti,

“Sudahlah. Sudah cantik. Tak perlu ditata. Tak akan ada yang memperhatikan penampilanmuu di rumah sakit ini.” sambung Megan yang baru membuka tubuhnya dan mengawali masuk.

Mereka pun menuju ke ruang receptionist dan menanyakan letak kamar pasien bernama Park Shin Hye itu yang baru saja tertabrak dan betapa kagetnya mereka semua melihat Sukkie yang semenjak tadi pagi menjadi perbincangan di kelasnya sebab tak biasanya dirinya yang absen di kelas, sedang tidur di kursi panjang di hadapan mereka.

“Yakh, yam ampun, Sukkie ! ini benar kau, kan ? bagaimana kau bisa di sini ? siapa yang sedang kau jaga ?” tanya Ji Min berbondong ke arah Sukkie yang merasa terganggu masih mengusik matanya.

“Hei, kau sudah lama di sini ? apa karena ini kau tak masuk sekolah tadi ?” tambah Bong Gul yang bertanya ke arah Sukkie.

“Ya sudahlah, sepertinya dia kelelahan. Kita tinggalkan saja dia. Lagipula tujuan kita kemari, kan, ingin menjenguk Shin Hye. Kenapa jadi membahas dia ? Ayo !” kata Soo Jin mengingatkan. Akhirnya semuanya pun mengikuti langkah Soo Jin yang masuk ke sebuah ruang ICU yang berada tak jauh dari lorong tempat mereka datang tadi.

Sebuah tangan pun menyentuk bahu Soo Jin. Seorang dokter wanita muda, Nona Hae Rim yang terlihat dari badge yang disanding di samping seragam putih – putihnya menyapa dengan senyuman manisnya.

“Adik – adik, pasien ini belum bisa dijenguk untuk sekarang ini, ya. biarkan dia beristirahat lebih lama. Besok kalian baru bisa menjenguknya sekalian mengantar kepulangannya.”

“Tapi keadaannya baik – baik saja kan, dokter ?”

“hm, seperti yang terlihat. Hanya benturan ringan yang mengenai di puncak ubun – ubunnya. Tapi di X-ray tak ada yang bermasalah dengan tulang maupun syarafnya. Besok dia juga akan siuman.”

“Trimakasih, Dokter.” Jawab mereka serentak. Hingga dokter Hae Rim pergi di kejauhan mereka berdua belas pun hanya bisa mengintip dari luar jendela kaca dengan sedikit berjinjit lantara jendela yang dipasang tinggi di sisi kanan ruangan.

 

ღღღ

 

TRENG.. TRENG.. TRENG.. HI, WE’RE TEAM H…

“Iya.” Angkat panggilang masuk oleh Sukkie yang masih mengantuk itu. Gawat rupanya suara sang ayah dengan nada yang tinggi menandakan beliau sedang tidak main – main kali ini. rasa – rasanya insting Sukkie berkata ini hal buruk. Apa yang akan terjadi.

“iya, ayah aku akan segera pulang setelah ini.”

“Tidak bisa. Kau harus pulang sekarang. Ayah tak ingin mengecewakan keluarga di hadapan ayah ini.” keluarga ? apa masksudnya tamu ayah lebih dari satu orang ? mimpi buruk. Tapi Sukkie tak bisa pergi meninggalkan gadis itu. Bagaimana pun dia yang menabrak maka dia harus yang bertanggung jawab juga terhadap kesembuhannya. Apalagi dirinya sudah membaca luka di kepalanya.

“Tapi ayah, tunggu hingga besok pagi. Aku akan usahakan untuk bertemu dengan tamu ayah.”

“Terserah kau. Pilihannya kau pulang atau kau ayah pindahkan ke Jepang.”

“Tapi ayah, ini mendesak. Ayah mengertilah, posisiku.”

“Hah!”

“Ayah.. ayah. Ayah.. yakkh ! Ayah!!” panggil Sukkie setengah berteriak hingga suster yang berada di samping melirik sinis ke arahnya. Matanya masih menagkap bahwa ada slogan bertuliskan ‘harap tenang’. Sukkie pun hanya membungkukkan badannya malu atas tingkah lakunya barusan. Baru sebentar dirinya hendak berdiri untuk membeli minuman namun saat dirinya berbalik tanpa sengaja dirinya bertabrakan dengan seorang lelaki paruh baya yang membawa karangan bunga. Dengan tulus, Sukkie berusaha mengulurkan tangannya ke arah tuan itu, namun tak sedikit pun disambutnya. Alih – alih disambutnya, pria berjas itu hanya melirik saja dan berjalan lagi dengan sekali membenahi dasi yang menggantung di kemejanya.

“Tuan,” Sukkie pun berusaha untuk minta maaf namun tuan tadi melaju saja tanpa menghiraukannya.

“ANEH !” Gemas Sukkie dan segera menoleh ke depan untuk keluar membeli minuman.

“Ekk, Bi-BI..” mata Sukkie membelalak seketika.

“Bagaimana Bibi bisa ada di sini..”

 

 

ღ TO BE CONTINOUED ღ

Posted in NOVEL | Leave a comment

God Gave Me You


CHAPTER 1

#Blame Yourself Can’t Help#

May 13, ’12 10:46 PM
for everyone
Title : God Gave Me You

Genre : Romance and Comedy

Rate : PG

Author : Shiella Fiolly (io)

Cast :

Jang Geun Seok

Park Shin Hye

Kim Jae Joong

Han Jyo Yoo

Seorang gadis yang memakai seragam SMU lengkap dengan atributnya tengah duduk termenung memandang jauh keluar taman lewat celah jendela yang berada di samping kelasnya. Berulang kali dirinya mencoba untuk mengurangi kebosanannya dengan mendengarkan musik yang melantun sesuai dengan urutan playlist di ipodnya. Namun sama sekali tak membantu. Tanpa terasa dirinya yang mulai mencorat – coret modul besarnya yang bahkan berisi rangkuman soal – soal penting untuk menghadapi ujian minggu mendatang. Kalau teman – temannya saja tak bisa menghiburnya, barang – barang kesayangannya, lantas apa lagi yang dirinya bisa perbuat. Hampir habis akal.

Saat waktu istirahat sudah tiba pun tak ada niatan sama sekali dirinya untuk melangkahkan kaki keluar sekedar untuk menuju kantin atau perpustakaan semata – mata untuk menghabiskan waktu menunggu masuk dan kembali pulang. Meski dari luar tampangnya tak begitu mengisyaratkan bahwa dirinya tak punya beban, namun justru sebaliknya terlalu banyak masalah yang tengah berkecamuk di dahinya. Sudah – sudah seperti orang tua saja dirinya harus kepusingan dengan segala masalah yang akan dihadapinya. Entah akan ada apa lagi. Dulu masalah perjodohan, bulan lalu kepindahan sekolah lamanya menuju kemari. Sekarang mungkin dirinya juga belum terlalu terbiasa dengan keadaan di sekeliling sini.

Sementara di lain tempat ada seorang lelaki belia yang juga tengah menantikan kedatangan orang tuanya di bandara. Kedatangan orangtuanya kali ini mungkin baru yang kedua kalinya setelah sekian lama mereka tidak pulang. Tentu lelaki ini begitu merindukan orangtuanya. Setiap hari dirinya melingkari kalender yang tergantung di depan meja belajarnya. Bahkan demi menjemput orangtuanya itu, dirinya juga merelakan sekolahnya tidak masuk. Padahal hari ini hari yang penting. Ada tim baseball yang tanding di sekolahnya, dan dirinya termasuk dalam tim. Namun, pilihan sudah dia putuskan. Dia akan menjemput orang tuanya.

Tak banyak yang bisa dilakukan, gadis ini tampaknya memang sedang gelisah. Tapi dirinya tak cukup pandai untuk mensiasati masalahnya dan harus bagaimana menyelesaikannya. Tanpa sengaja justru dirinya tertarik dengan kawan – kawan wanitanya. Sepertinya ada beberapa hal yang menarik dari mereka bagi dirinya. Aha, maskara. Tidakkah dirinya mulai menyadari hal itu. Dirinya selama ini memang tak pernah sekalipun berdandan selama datang ke sekolah. Berbeda dengan kebanyakan yang lain yang selalu tampil berusaha se-all-out mungkin. Tapi apa dia harus iri ? dengan wajah cantiknya, seharusnya dirinya meski berbesar hati. Tampil natural saja, bukan menyombongkan diri. Sudah banyak mata yang melirik kepadanya. Sungguh anggun gadis ini. sayang, dirinya masih belum menyadari.

“Sukkie ? Kemana Sukkie. ?” tanya Ibu Guru Yankumi mengecheck daftar presensi kelasnya hari ini.

“Sepertinya dia tidak datang hari ini, Bu Yan.” Jawab Gong Jin setengah berteriak.

“Tapi kemarin dia tidak apa – apa. Dia masuk.” Timpa Bong Gul yang tempat duduknya tepat di depanku.

Karena check absen ini justru ggadis itu menjadi sedikit terpusatkan perhatian. Dari tadi pagi tak satu pun materi yang masuk ke telinganya. Semuanya terganggu.

“Sukkie. Yang mana ?” gumam gadis itu pelan sambil mengerat ujung pencilticnya  yang sedari tadi menyangga giginya yang sedang tak berselera untuk memangku tangan mendengarkan materi.

“Shin Hye, apa kau tahu keberadaan Sukkie..?” tiba – tiba saja ibu gurun Yan bertanya kepada gadis itu. Apa maksudnya ? bukankah satu sekolah tahu dia murid baru ?

“Apa ?” hanya itu saja kata yang keluar dari mulutnya.

“Yang aku dengar kalian bertetangga, benar begitu ?” jelas ibu Yan lagi. Namun tetap saja membuat gadis itu tak berhenti bergeming. Tak menunjukkan tanda – tanda dirinya ini tahu tentang apa yang sedang dibicarakan ibu gurunya itu.

“Ekh.. Aku tidak kenal siapa itu Sukkie. Maaf.”

“Ya, sudah. Satu dua bulan lagi kau pasti juga akan kenal dengan teman – teman satu kelasmu. Pelan – pelan saja.” Tambah ibu Yan.

Dirinya hanya mengangguk dan menjawab ‘baik’ terhadapnya.

Berbeda dengan siswa – siswa perempuan yang lain, dirinya tak tertarik sama sekali untuk menyaksikan pertandingan baseball yang hampir semuanya beranggotakan murid – murid pria yang keren dan lumayan berpengaruh di SMU. Shin Hye justru lebih senang menyendiri. Dirinya tak banyak bicara. Meski dalam satu minggu ini dirinya sudah mulai dekat dengan beberapa siswi seperti Hyo Joo dan Megan. Dirinya berteman baik semenjak baru pertama kali datang ke sekolah ini. hanya beberapa yang memberi respon nice welcome kepadanya. Dan salah satunya mereka. Maka itu Shin Hye cenderung dekat dengan mereka. Dan berani menjalin hubungan baik.

ღ ღ ღ

Di airport, lelaki belia yang sedang mengenakan jaket kulit abu – abu sambil mengenakan kaca mata hitam yang menutupi matanya. Serta celana penuh saku abu – abu dengan dalaman kaos hitam yang bergambarkan idola wanita Tailor Swift bersama Gyeson Chance masih menantikan kedatangan orang tuanya. Namun sudah lewat dua setengah jam pesawat yang seharusnya sudah mengantarkan orangtuanya datang pun belum tiba. Harus apa lagi dia. Berulang kali dirinya mengotak – atik game di handphonenya sembari duduk di kursi panjang yang tersedia dalam bandara.

Hingga tepat pukul 11:15 barulah terlihat dua siluet tubuh dua orang yang sedang berjalan beriringan membawa kopernya dari kejauhan yang sudah sangat dikenalnya. Orang tua mereka juga barusan sampai. Tepat di hadapan satu – satunya anak lelaki mereka ini keduanya berhenti dan langsung memeluknya.

“bagaimana sekolahmu, Sukkie ?” tanya sang ayah, tuan Il Suk begitu datang sambil melepaskan pelukan hangatnya kepada putranya itu.

“Baik, ayah. Kalau ibu bagaimana bisnisnya dengan ayah. Lancar juga ?”

“Tentu saja. Berkat doamu.” Jawab sang ayah tersenyum sambil mengusap halus punggung sang putranya.

“Kau naik apa ke sini ?” tanya Ibunya, nyonya Ae Ni sambil matanya menjelajah ke arah lokasi parkir di samping jalan masuk bandara.

“Aku bawa mobil. Mulai tiga minggu ini, aku sudah selalu kemana – mana membawanya. Sini aku bawakan kopernya.” Ucap Sukkie sambil mengambil koper coklat dari tangan bundaya dan lekas membawanya sampai memasukkannya ke dalam bagasi mobilnya.

ღ ღ ღ

Sore ini Jae Jong yang tengah mengikuti fitness seperti biasa di tempat gymnya seperti biasa. Dirinya bolak – balik melihat layar di phonecellnya untuk memastikan tidak ada yang menghubunginya sore hari itu. Gelisah sedikit sebab dirinya mulai jenuh dengan sosok wanita yang selama ini menjalin hubungan dengannya. Namanya Rae Ha. Meski sudah lama bersama dan banyak kecocokan pula tidak sama sekali mendadakan bahwa hubungannya ini akan tetap berlanjut. Apalagi beberapa hari ini, Rae Ha sudah banyak melakukan kesalahan yang mengganggu privacynya.

“HAH ! harus dengan cara apa aku memutuskannya ? Aku mulai pusing untuk menghindarinya.” Geming Jae Jong disela – sela istirahatnya sembari mengelap keringat yang mulai bercucuran di ujung dahinya.

“Ckk ! harusnya aku minta bantuan saja kepada Sukkie.” Tiba – tiba dirinya teringat dengan Sukkie. Hah ! ada – ada saja ! dirinya selalu teringat akan sahabatnya itu sewaktu butuh saja. Tak pernah dirinya sekali pun memperhatikan sahabatnya itu balik.

Pernah suatu ketika Sukkie yang kesulitan untuk menghadapi desakan orangtuanya agar menolak untuk ditunangkan. Dan Sukkie berniat meminta bantuannya untuk ikut meyakinkan orangtuanya agar menunda keputusannya itu. Namun apa, yang didapatkan justru orangtua Sukkie semakin merongrong Sukkie agar lekas meresmikan hubungannya dengan wanita pilihan orangtuanya agar  segera bisa meneruskan usaha milik ayahandanya itu di Jang Konstruksi. Namun apa daya, Sukkie hanya bisa mengulur – ulur waktu dengan alasan dirinya ingin menyelesaikan sekolahnya dahulu. Bukankah itu berarti dirinya belum melepaskan keinginan orangtuanya itu dan hanya menunggu waktu ? jadi untuk selanjutnya dirinya harus menyiapkan rencana untuk membatalkan hal ini. terkecuali kalau halnya dirinya mendapatkan wanita yang diidamkannya. Mungkin akan berbeda ceritanya.

Jae Jong pun berkacak pinggang dan kesal mengacak – acak rambutnya. Ya, tidak bisa ditahan lagi, dirinya harus lekas menghubungi sahabatnya itu, meski dirinya tahu bahwa ayah ibu Sukkie datang hari ini. tentu Sukkie ada bersama mereka.

“Hallo, Sukkie. Kau bisa kemari bantu aku. Sebentar saja. Ini mendesak.” Kata Jae Jong tanpa basa – basi untuk kesekian kalinya merepotkan Sukkie.

“Kapan kau ini tidak mendesak ? Kali ini apa lagi ?” jawab Sukkie santai.

“Yang penting datang dulu ke sini. Aku di tempat Gym biasa. Aku tunggu kau sekarang. Kalau tidak aku pecat kau sebagai sahabatku. Kikh!” tutup Jae Jong.

“Yah! Kau… Ck! Terpaksa harus ke sana.” Sukkie pun segera berbalik yang baru saja datang di rumahnya dan meraup kunci mobil yang berada di piring yang berada di meja makan dan segera berlari menuju ke mobilnya. Mengemudikan mobilnya cepat dan terburu – buru. Bagaimana pun juga dirinya tak mungkin membiarkan Jae Jong menyelesaikan masalahnya sendiri. Meski terkadang dirinya tahu dengan sikap Jae Jong yang sering bermain – main saja.

ღ ღ ღ

Shin Hye sedang berjalan pulang dari SMUnya. Dan berjalan di trotoar bersama dengan Hyo Joo dan Ji Min, dua orang kawan baru yang selalu bersamanya. Kali ini dirinya sudah sedikit lebih baik dibandingkan tadi pagi. Dirinya mulai mau berbincang – bincang dengan kedua teman – teman di sampingnya. Meski tetap tak banyak yang dibicarakann namun setidaknya ada banyak kemajuan yang terlihat daripada sebelum – sebelumnya. Dirinya yang terkesan sedikit mengacuhkan sahabat – sahabatnya. Terkadang ini yang menjadikan dirinya tak memiliki banyak teman. Sebab tak sedikit tamn – teman sekolahnya yang menganggap dirinya begitu sombong dan tak butuh ditemani. Maka menyingkir pula mereka satu per satu terutama saat Shin Hye baru datang ke sekolah. Tak satu pun yang berani menyapanya.

“Shin Hye, hari ini kau ada waktu tidak ?” tanya Ji Min kepadanya halus.

“Eng..” jawab Shin Hye menggeleng.

“Kalau begitu kau bisa bermain dengan kita ?” tambah Ji Min.

“Kemana ?”

“Ah, kemana lagi kalau tidak mengunjungi rumah senior Jae Jong ? Dia kan yang biasa mengajari kita melukis.” Jawab Ji Min semangat.

“Ah, aku tidak terbiasa main ke tempat pria. Kalian saja.” Jawab Shin Hye yang sukses membuat kecewa kedua teman yang berada di sampingnya itu.

“Kalau belajarnya di rumahku bagaimana ?” tawar Hyo Joo.

“Sama saja.” Tolak Shin Hye.

“Yah, kenapa kau begitu.” Rengek Ji Min.

“Sudahlah. Justru tanpa aku kalian bisa benar – benar berlatih dengan sungguh – sungguh tanpa ada perlu membagi perhatian kepada yang lain. Benar begitu, bukan ?” jelas Shin Hye.

“Tapi tidak menyenangkan.”

“Menyenangkan tidak itu tergantung kepada kalian sendiri yang menjalankan. Ya, Sudah. Aku pergi dulu, ya. sudah sampai di depan rumahku. Apa kalian mau main ?”

“Ah, tidak Shin Hye. Lain kali saja.”

“Baiklah, sampai jumpa besok. Dada..”

“Hati – hati..” lambai tangan kedua sahabatnya itu ke arah Shin Hye.

Namun belum sampai jauh, dan menengok ke arah belakang, kedua sahabatnya itu mendengar suara seperti tumbukan dari arah belakangnya. Shin Hye yang tidak berhati – hati menyeberang tertabrak sebuah mobil Picanto kuning yang sedang melaju di hadapannya. Sontak keduanya, ji Min dan Hyo Joo menoleh ke belakang dan mendapati tubuh Shin Hye yang terpelanting dan terdorong ke depan. Membuat sang pemuda yang sedang mengemudikan mobilnya pun keluar dan segera bergegas memastikan keadaannya.

“Nona, Nona.. Are you okay ?” mengguncang – guncangkan Shin Hye yang mulai tak sadarkan diri di sandarannya.

“Ck, kalian bantu aku, ya !” seketika tak banyak tanya dan langsung menyuruk Ji Min dan Hyo Joo yang berada di hadapannya membawa Shin Hye yang sudah pingsan ke dalam mobilnya.

“Terima kasih. Ini salahku. Tolong beritahukan aku nomor yang bisa aku hubungi misalkan dia sudah siuman.” Cepat pemuda itu mengulurkan phonecellnya kepada Ji Min dan dengan segera Ji Min mengetikkan beberapa digit nomor yang dieja oleh Hyo Joo dari phonecellnya.

“Hati – hati. Tolong bantu dia, ya. Terima kasih.” Ucap Ji Min ke arah pemuda itu seiring menutup jendela mobilnya dan mulai melajukan mobilnya menuju ke rumah sakit.

Tapi tak lama berselang, phonecell Shin Hye yang semenjak tadi dibawa Ji Min mulai menolongnya pun berbunyi. Ada panggilan yang masuk dari paman Shin Hye.

“Iya, paman. Maaf.”

“Aduh, harus bilang apa kita kepada pamannya.” Bisik Ji Min ke telinga Hyo Joo.

“Katakan saja yang sejujurnya.”

“E.. E.. Shin Hye, sedang menuju ke rumah sakit paman.”

“Apa ? Sedang apa dia di sana ? Ini sudah sangat sore.”

“Dia.. Dia, Dia baru saja tertabrak paman..”

“APA ? Sungguh ?” cemas pamannya yang mendadak memutus teleponnya.

Ji Min dan Hyo Joo pun saling berpandangan dan menyenggol bahu. Entahlah apa ayang akan terjadi setelah ini. Shin Hye.. Bagaimana…. ?

 

ღ TO BE CONTINOUED ღ

Posted in NOVEL | Tagged , | 1 Comment

Susahnya Ngandelin Jaringan yang Mulus


Pernah nggak sih kalian ngerasain seperti apa yang pernah io rasain ? selama ini io sukar banget tuh kalau internetan pakai modem ***** dengan jaringan dari ******.

Hah ! pagi nggak siang, nggak malam. Susah mulu bawaannya dibuat untuk browsing, sosial network, blog, haduh, apalagi download dan streaming..

Sebenarnya apa sih yang menyebabkan jaringannya begitu lelet banget dan signalnya juga naik turun kaya trenggiling yang masih malu – malu ngelihatin durinya ? sungguh disayangkan.

Io pernah berusaha buat berencana ganti modem. Namun, hasilnya tetep aja sama. Tak dibolehin oleh mama. Katanya sayang uang dibuang – buang. Toh nggak mungkin juga punya dua. Yang ini bakalan dianggurin kemana ? yak, mama, jaman sekarang masih mau setia ? yang penting mana yang bagus ya itu yang dipilih, gitu aja repot banget, ah.. hemm..

Ya, sudahlah. Itu semua my suffering selama bermedia. Bagaimana denganmu.. ?

Posted in COMPLAINT | Tagged | 1 Comment

“Nodded”


I don’t know what’s on your mind

And a few other things

Smiled again

I have been working now

Stared his back and deepen his frown

He entered without knocking on the door and looked around

I turned to him and raised my eyebrows…

Smirked and walked closer to him,…

(01 Mei 11)

Posted in POETRY | 2 Comments

“Khayangan Mematikan”


Terperosok ke lubang curam itu seru…

Terperanjat terjaga dari negeri surga Neraka

Tak ada yang lebih menyenangkan…

Dimana Angel menjadi Akuma…

Dan Iblis justru menjadi para Elf…

Ini mimpi…? BUKAN!!

Ini fact dan exactly true

Surga, demo penuh nista dan luka

Tiada neraka melebihi Cinta

Abadi yang lebih tera

Lentera menuju setiap tepi di sudut jalan

Ke neraka… surga

Labirin hanya rumah kaca tanpa jalan keluar

Yang bertebaran tiada kata

Moonie myrtle di sanubari unsmile..

Maka aku pilih ke nagari surga

Kediaman para sahabat dan cinta yang terlupa

Posted in POETRY | 1 Comment

“Mount Everest, Tunggu”


Aku butuh waktu, ma

Untuk mengunyah makan yang kau suap

Aku butuh waktu untuk menelan pil

Untuk mencermati tiap kata yang mama sodorkan

Aku memang tak secerdas yang kalian kira

Tapi aku yakin aku bisa hadapi ini

Semua sendiri pada akhirnya, freak out

Semua sendiri pada akhirnya, world within

Aku yakin dan optimistik, terminatory

Maka aku akan pasti bisa…

Aku akan memastikan ini untuk kalian

Bahkan Shiella jelas kini bukan yang biasa lagi

Aku masih banyak punya daya

Menerima jalanku yang gelap ini

Menyusuri jalaannku yang panjaang ini

Meski semua berliku dan bertikungan panjang

Tapi aku pasti bisa…

Hanya saja aku butuh dukungan, ma…

Untuk mendaki mount everest itu

Sesuai kehendakku…

Aku rasa Tuhan juga akan merestuinya

Setelah kau merestuiku pastinya…

Beri aku waktu untuk membaca koran otakku

Apa yang mesti aku lakuakn selanjutnya…

Apa yang aku suka…

Untuk melakukanapa yang aku cinta

Aku adalah milikku

Jadi seperti apapun jadinya… aku yang

Akan merubahnya… aku yakin…

Posted in POETRY | 2 Comments

“Pulihkan Aku Segera”


Kalau mau dipikir – pikir

Orang hidup itu…

Masalah…

Sudah berani hidup itu’

Mulai munculnya masalah

Kalau tak suka masalah

Tidur saja

Atau mati saja sekalian…

Sebenarnya…

Aku benci berkata begini

Tapi apa boleh buat

Lengkaplah sudah penderitaanku

Kau tahu dua orang wanita

Membekapku begitu dalam

Dalam wktu yang hampir bersamaan

Belum juga sembuh luka yang kubawa

Kupikir di sini akan kudapati ketenangan

Ternyata aku salah…

Harus kemana lagi aku sekarang

Bahkan aku nyaris tak bisa bernapas

Karenanya…

Yang 1 itu wanita yang melahirkan

Dan memberiku nama

Yang 1 rumahnya untukku bernaung sekarang ini…

Pulihkan aku, Tuhan!

(22 November 10)

Posted in POETRY | 1 Comment

“Bad Thing”


Aku benci ketika lampu padam

Aku benci ketika tv mati

Aku benci ketikahandphone tak terkendali

Aku benci ketika computer error…

Aku paham semua bisa saja terjadi

Tetapi kenapa harus begini

Apa juga ada virus

Antivirus pula !

Aku bertambah benci lagi

Ini disengajakan oleh kalian

Sang programmer busuk

Ini sungguh keterlaluan…

Semua yang ada

Serasa bad thing

No more good thing

Aku benci ini

Saya ingin ini berakhir

Atas nama hormat saya.

Bukan aku, melainkan saya

Sudah terlalu sopan, kan ?

Oh, Tuhan, hal apa

Yang akan Kau tunjukkan padaku

Apa lagi ?

Karena aku sudah tak jumpa

Sekian lama !

Posted in POETRY | 1 Comment

“Rest in Peace”


I hope to you know that we’re here

to serve you…

bring your ideas… we’ll come it true

We make it easy to solve all of entegrated making communication

We tried to persuade one result for you

Your concept, to create

An excellent poositions for our kindness

Finishing is the art of making thing become more valuable aand the true artist is YOU…

If you take a rest

We’ll do the best

Working together with our planner

You as a good friend partner

Your satisfaction is our purpose

Success means countable

Progression giving the best

And

Go to win,

Trust from our planner…

(Dear Kris Wardhanu, Sr., In Memoriam 07 september 09)

Posted in POETRY | 1 Comment

“We Don’t Say Goodbye”


Tuhan, buang rasaku.. kumohon

Lebih nyaman tanpa awang – awang

With all my own for you… akan kukubur

We don’t say goodbye… aku risih dengan ini

Itu tak baik…

Aku, dia, kau tak ingintentu itu terjadi

Di pantai putih surga Nirvana itu impian kita…

Bermuara di sana, menyatukan rasa,

Namun itu tak kan terjadi

Karena sudah berakhir

Sekian lama bersamamu…

Kau selalu menyenangkan…

Tak seperti kini

Setiap kesempatan telah terbuang

Mampu terbaca dari setiap tatapan matamu

Jangan menduga aku akan berbalik

Aku ingin jadi sahabatmu di dua arah

Perhatianmu berlebihan

Hingga itu sempat membuatku tersipu

Tapi kini tak lagi…

Jangan engkau pernah pergi

Itu tak mungkin kumaafkan

Yang kuinginkan kau jadi sahabatku

Semoga kau mengerti

Don’t say goodbye…

(22 juni 10)

Posted in POETRY | Tagged | Leave a comment

“Sang Masochist Sejati”


Semua orang bilang, aku ini aneh, Gila, berlebihan

Tidak benar, aku sang masochist?

Suka disiksa, maka itu aku cinta akan masalah…

Setiap batu terinjak kakiku bagai castanets di gendang telingaku

Seperti itulah yang kutangkap ! begitu pula driftwoods yang terkadang

Cemburu pada kami yang kemudian membuat spilled

Tersandung, dan terjatuh. Aku senang dengan hal – hal yang kebanyakan manusia normal jauhi. Memandang pohon dan berdiri di bawah maple tree atau mengamati hasil – hasil photo Rontgen padahal menjijikkan bagi kalian. Atau mungkin Blitz lamp photos yang sering kumainkan. Biarlah apa ocehmu, akakn kulalu. Toh, itu hanya akan habiskan air liurmu, bukan aku !

Sekarang giliranku ! jangan tanyakan pertanyaan retoris padaku. Jangan sekalipun kau arahkan! Kalau tetap saja kalian bersikeras hati, lebih baik aku mendekam dalam mansion home supaya aku menjadi vampire sekalian. Lebih buas, dingin, dan tak dikuasai oleh nalar layak kalian – kalian sang pecundang. Tahukah kalian, sebenarnya do’a seorang masochist cuma 1, wanna change the world, namun terkadang 3 kendala kutemui, ketakutanku maka aku bersembunyi di bawah selimut quilt, dua, kasmaran, ini yang mulai menggoyahkanku, dan terakhir no matter, dan apapun yang berbau low profile… inilah yang tersulit. Dan inilah maka jadinya aku sang masochist… sejati…

 

Posted in POETRY | Tagged | 1 Comment

Steak Jamur


steak jamur

Bahan Steak :

1)    2 sdm tepung terigu

2)   250 g (¼ kg) jamur tiram yang lebar    diaduk menjadi satu

3)   1 butir telur

4)   ¼ sdt garam

5)   1 sdt merica

Bahan Saus :

1)    Jamur kancing 250, iris tipis

2)   Margarin 2 sdm untuk menumis

3)   Bawang bombay i buah, cincang

4)   Tepung terigu 1 sdm

5)   Pasta tomat 1 sdm

6)   Merica bubuk ½ sdt

7)   Saus barbeque 1 sdm

8)   Kaldu 150 ml

9)   Cabai merah 1 buah, iris berbentuk korek api.

Cara Membuat :

  1. Campur tepung terigu, tepung maizena, merica bubuk, dan garam, aduk rata.
  2. Campur telur dan bawang bombay halus, aduk rata. Celupkan jamur ke dalam kocokan telur, lalu gulingkan di atas campuran tepung, ulangi 1 kali. Goreng dalam minyak panas dan banyak sampai kering dan kuning kecokelatan. Angkat dan tiriskan.
  3. Saus: Panaskan mentega, tumis bawang bombai. Masukkan tepung terigu, aduk rata. Tuang kaldu sambil diaduk rata. Tambahkan merica bubuk, garam dan penyedap rasa. Masak sampai mengental. Angkat dan sisihkan.
  4. Penyajian: Siapkan piring hidang, letakkan jamur goreng, tuang saus dan sajikan bersama pelengkap dalam kondisi hangat.

Manfaat / Gizi yang dikandung Jamur Tiram :

  • mengandung protein dan berbagai vitamin antara lain vitamin B1, B2, niasin dan biotin.
  • mempunyai kandungan serat yang sangat baik untuk pencernaan.
  • mengandung senyawa pleuran ( di jepang, jamur tiram disebut hiratake sebagi jamur obat )
  • mengandung protein, karbohidrat, asam amino, Vit B1, B2, B3, B5, B7, vit C dan mineral kalsium, besi, Mg, fosfor, dan lainnya.
  • sebagi anti tumor, anti oksidan, dan karena mengadung kalori yang sangat rendah sehingga cocok bagi pelaku diet serta menurunkan kolesterol.
  • mengandung berbagai jenis vitamin, antara lain B1 (thiamine), B2 (riboflavine), niasin dan biotin. Selain elemen mikro
  • mengandung berbagai jenis mineral, antara lain K, P, Ca, Na, Mg, dan Cu
    Dari hasil penelitian, rata-rata jamur mengandung 19-35 persen protein.
  • mempunyai kandungan kalori yang sangat rendah sehingga cocok bagi pelaku diet

SHOOTING SCRIPT

SCENE SHOT VIDEO AUDIO
INT. TERAS RUMAH – PAGI HARIINT. DAPUR – PAGI HARI 1234

5

6

7

LS ZOOM OUT. Jalan menuju halaman rumah HostMS PAN LEFT. Host sedang duduk sambil membaca Koran di tangannyaHost Berdiri menyadari kameraman yang telah merekamnya dan menutup koran yang dibacanya.FS. menyapa pemirsa di rumah

MS ESTABLISHING SHOT. Host membuka gagang pintunya masuk ke dalam rumah

KS. Host sudah berada di depan kompor di

dapurnya

menerangkan untuk mengajak pemirsa memasak sebuah steak jamur.

MCU. TILT DOWN. Sebelumnya dirinya memperkenalkan jamur dan menceritakan tentang sedikit ulasan mengenai sejarah steak jamur kemudian khasiat yang tersimpat dalam jamur tiram bagi kesehatan,

KS. TILT UP. Selanjutnya Host segera mengajak pemirsa untuk memasak.

Ambience Sound : ramainya jalanan menuju rumah HostBumper in : Musik Pembuka“Hai, Pemirsa, Selamat pagi”“Ayo, ikut masuk ke dalam.”

“Baiklah, pagi ini menu yang akan kita masak adalah Steak JAMUR… !”

“Steak Jamur ini merupakan makanan khas dari daerah Mojokerto, Jawa Timur. Kenapa saya ambil jamur, karena khasiatnya bagi pertumbuhan otak, dan kaya akan vitamin B.”

“Mari memasak..”

  1. INT. DAPUR – PAGI
1134

5

CU. 2 sdm tepung teriguCU. 250 g (¼ kg) jamur tiram yang lebar    diaduk menjadi satuCU. 1 butir telurCU. ¼ sdt garam

CU.1 sdt merica

“Bahan – bahannya CU. 2 sdm tepung terigu”“ 250 g (¼ kg) jamur tiram yang lebar”   “diaduk menjadi satu”“ 1 butir telur”“ ¼ sdt garam”

“1 sdt merica”

  1. EXT. DEPAN RUANG SENI – PAGI
1234

5

6

7

8

9

CU. Jamur kancing 250, iris tipisCU. Margarin 2 sdm untuk menumisCU. Bawang bombay i buah, cincangCU. Tepung terigu 1 sdm

CU. Pasta tomat 1 sdm

CU. Merica bubuk ½ sdt

CU. Saus barbeque 1 sdm

CU. Kaldu 150 ml

CU. Cabai merah 1 buah, iris berbentuk korek api.

“ Jamur kancing 250, iris tipis”“ Margarin 2 sdm untuk menumis”“Bawang bombay i buah, cincang”“Tepung terigu 1 sdm”

“Pasta tomat 1 sdm”

“Merica bubuk ½ sdt”

“Saus barbeque 1 sdm”

“Kaldu 150 ml”

“Cabai merah 1 buah, iris berbentuk korek api”

  1. INT. RUANG SENI – PAGI
1234

5

6

7

8

CU. Campur tepung terigu, tepung maizena, merica bubuk, dan garam, aduk rata.CU. Campur telur dan bawang bombay halus, aduk rata.CU. Celupkan jamur ke dalam kocokan telur, lalu gulingkan di atas campuran tepung, ulangi 1 kali.CU. Goreng dalam minyak panas dan banyak sampai kering dan kuning kecokelatan. Angkat dan tiriskan.

CU. Saus: Panaskan mentega, tumis bawang bombai. Masukkan tepung terigu, aduk rata. Tuang kaldu sambil diaduk rata.

CU. Tambahkan merica bubuk, garam dan penyedap rasa. Masak sampai mengental. Angkat dan sisihkan.

CU. Penyajian: Siapkan piring hidang, letakkan jamur goreng, tuang saus dan sajikan bersama pelengkap dalam kondisi hangat.

MCU ZOOM IN. Host mengangkat hidangan yang telah jadi ke hadapan kamera.

“Campur tepung terigu, tepung maizena, merica bubuk, dan garam, aduk rata.”“Campur telur dan bawang bombay halus, aduk rata.”“Celupkan jamur ke dalam kocokan telur, lalu gulingkan di atas campuran tepung, ulangi 1 kali.”“ Goreng dalam minyak panas dan banyak sampai kering dan kuning kecokelatan. Angkat dan tiriskan.”

“ Saus: Panaskan mentega, tumis bawang bombai. Masukkan tepung terigu, aduk rata. Tuang kaldu sambil diaduk rata”

“Tambahkan merica bubuk, garam dan penyedap rasa. Masak sampai mengental. Angkat dan sisihkan.”

“ Penyajian: Siapkan piring hidang, letakkan jamur goreng, tuang saus dan sajikan bersama pelengkap dalam kondisi hangat.”

“Nah, bagaimana pemirsa, mudahsekali bukan. Selamat mencobanya di rumah..”

List Bahan yang akan Dibeli

NO NAMA BAHAN JUMLAH BAHAN
1 Tepung terigu 1 ons
2 Jamur Tiram yang Lebar ¼ kg
3 Merica bubuk 1 sachet
4 Garam 1 bungkus kecil
5 Bawang bombay 1 buah
6 Kaldu ayam 150 ml
7 Kecap asin 3 sachet
8 Telur 1 butir
9 Margarin 1 bungkus kecil
10 Pasta Tomat 1 sachet
11 Saus Barbeque 1 sachet
12 Cabai Merah 1 ons
13 Air 100 ml
14
15
16
17
18
19
20

List Peralatan Masak

NO NAMA BAHAN JUMLAH BAHAN
1 Meja 2 buah
2 Kompor Gas 1 Buah (2 sumber api)
3 Gas LPG 1
4 Piring 10 buah
5 Gelas 2 buah
6 Sendok Makan & Teh 5 Buah
7 Garpu 1 buah
8 Tisue 2 buah
9 Serbet 1 buah
10 Mangkuk 15 buah
11 Sothil 1 buah
12 Penyaring minyak 1 buah
Posted in ARTICLE | Tagged | 1 Comment

Lirik Lagu K.A.R.D – Don’t Recall – Romanization


Teoreojyeo Jullae Jeori Gajullae
Jajeungnanikka Bulgyeolhanikka
Chiwo Nae Mome Sondaeji Ma

Ije Nan Neoreul Molla
Neo Yeoksido Moreuncheokhae Nal
Da Kamuneun Nunbit Deoreoun Neukkim
Neukkigo Sipji Anha

Nal Geureohge Chyeodaboji Ma
Deoneun Naegeseo Meoreojiji Ma
I Gave You All My Love Love
All Of My Love Love
Jeoldae Bonaego Sipji Anha

Nal Geureohge Chyeodaboji Ma
Deoneun Naegero Dagaoji Ma
You Need To Let It Go Go
Reave Me Alone Lone
Jeoldae Dolligo Sipji Anha

Johadeon Sungando Gieogi An Na
Wonmangman Nama Nal Goerophyeo
Sueopsi Naeiri Eopseul Geosman Gata
Seolledeon Sungando No No No No No
Deo Isang Amureon Uimi Eopseo
Geumanhae I Don’t Recall

Deo Isang Amureon Uimi Eopseo
Geumanhae I Don’t Recall

Piburo Majdaheun Godogui Chokgam
Ssaneulhan Geu Chegam
Geuganui Muchaegimeul Tashame
Istareun Joechaekgam
Machi Dekal Uh Komani
Doebatji Nae Joesgaps
Huiseoksikyeowadeon Jinan Jalmosdeurui Daega
Eongkyeobeorin Siltarae
Maedeupjisgien Heotalhae
Biccbaraen Chueok Soge
Saraganeun Geon Bichamhae
I Hope That(i Hope That)
Nege Dahgil Barae Nae Dokbaek
Syomaensip Anin Nae Gobaek

Nal Geureohge Chyeodaboji Ma
Deoneun Naegero Dagaoji Ma
You Need To Let It Go Go
Reave Me Alone Lone
Jeoldae Dolligo Sipji Anha

Nal Geureohge Chyeodaboji Ma
Deoneun Naegeseo Meoreojiji Ma
I Gave You All My Love Love
All Of My Love Love
Jeoldae Bonaego Sipji Anha

Johadeon Sungando Gieogi An Na
Wonmangman Nama Nal Goerophyeo
Sueopsi Naeiri Eopseul Geosman Gata
Seolledeon Sungando No No No No No
Deo Isang Amureon Uimi Eopseo
Geumanhae I Don’t Recall

Deo Isang Amureon Uimi Eopseo
Geumanhae I Don’t Recall

Jinsimi Anin Geol
I Know Know Know
Know Know Know
(I Don’t Recall)
Anirago Malhaejwo
Baby I Can’t Let You Go
(Ije Geuman Nal Nwajwo)
Jeoldae Mot Bonae Neol
No No No No No
(No No No No)

Deo Isang Amureon Uimi Eopseo
Geumanhae I Don’t Recall

Lirik Lagu K.A.R.D – Don’t Recall – English

Get off me get away from me
I hate it coz it’s dirty
Don’t touch me
I don’t know you anymore
You act like you don’t know me no more
You look at me like you know everything

I don’t want this feeling
Don’t look at me like that
Don’t push me away no more
I gave you all my love love
All of my love love
Never want to let you go
Don’t look at me like that

Don’t come any closer
You need to let it go go
Leave me alone lone
Never want to turn it round
Don’t recall when we were good together
Haunts me like a ghost Like there will be no tomorrow

Moments of heart pound
No No No no No
Don’t mean a thing any more
Stop. I don’t recall
Don’t mean a thing anymore
Stop. I don’t recall
Loneliness lingers on my skin

Gives me the shudder so cold
Blame it on our neglect
Guilt follows me like a shadow
Decal uh comania my price to pay
For all my stupidity of the past
Tangled like a ball of thread, pointless

Living in the fading memory, miserable
I hope that you hear me, my monologue
Not for a show. It’s only true
Don’t look at me like that
Don’t come any closer
You need to let it go go
Leave me alone lone

Never want to turn it round
Don’t look at me like that
Don’t push me away further
I gave you all my love love
All of my love love
Never wanna let you go
Don’t recall when we were good together

Haunts me like a ghost
Like there will be no tomorrow
Moments of heartpounds
No no no no no
Don’t mean a thing no more
Stop. I don’t recall
Don’t mean a thing no more

Stop. I don’t recall
You don’t mean it
I know know know know know know (I don’t recall)
Say you don’t mean those worlds
Baby I can’t let you go

(Just let me go now)
Can’t let you go
No no no no
Don’t mean a thing no more
Stop I don’t recall

Lirik Lagu K.A.R.D – Don’t Recall – Arti/Terjemahan Indonesia

Lepaskan aku menjauh dariku
Aku benci karena kamu jahat
Jangan sentuh aku
Aku tidak kenal kamu lagi
Kamu bertingkah seakan-akan tidak mengenalku lagi
Kamu melihatku seakan-akan Kamu tahu segalanya
Aku tidak menginginkan rasa ini

Jangan lihat

Posted in Uncategorized | Tagged , , | Leave a comment

MOV00030.3gp It’s about “KILLERS”


[local:file:///storage/sdcard0/bluetooth/MOV00030.3gp] [MOV00030.3gp] is good,have a look at it!

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Selamat Datang Cinta – Sherina


dulu tiada pernah ku sadari
kini tiada pernah ku sesali
dalam pesona, dalam tatapanmu
hatiku dan jiwaku telah berpadu bersamamu

hari-hari indah ku lalui
bunga-bunga cintaku bersemi
hanya denganmu ku ingin membagi
ceriaku, harapanku, bersama hangatnya mentari

aku tak kuasa dan tiada mungkin ku hindari
getar-getar rasa, nada-nada asmara
di dalam hati ini

aku tak kuasa dan tiada mungkin ku hindari
suara dari sanubari
menyapa selamat datang cinta

hari-hari indah ku lalui
bunga-bunga cintaku bersemi
hanya denganmu ku ingin membagi
ceriaku, harapanku, bersama hangatnya mentari

aku tak kuasa dan tiada mungkin ku hindari
getar-getar rasa, nada-nada asmara di dalam hati ini
aku tak kuasa dan tiada mungkin ku hindari
suara dari sanubari menyapa selamat datang cinta

hanya denganmu ku ingin membagi
ceriaku, harapanku, bersama hangatnya mentari

aku tak kuasa dan tiada mungkin ku hindari
getar-getar rasa, nada-nada asmara di dalam hati ini
aku tak kuasa dan tiada mungkin ku hindari
suara dari sanubari menyapa selamat datang cinta

(aku tak kuasa dan tiada mungkin ku hindari
getar-getar rasa, nada-nada asmara) di dalam hati ini
(aku tak kuasa dan tiada mungkin ku hindari) tiada mungkin ku hindari
suara dari sanubari menyapa selamat datang cinta

(aku tak kuasa dan tiada mungkin ku hindari) oooh ooooh
(getar-getar rasa, nada-nada asmara) di dalam hati ini
(aku tak kuasa dan tiada mungkin ku hindari) ku hindari
suara dari sanubari menyapa selamat datang cinta

Image | Posted on by | Tagged , , , | Leave a comment

Rockabye – CLEAN BANDIT BAND


( feat. Anne-Marie & Sean Paul ) Call it love and devotion Call it a mom’s adoration Foundation A special bond of creation, ha For all the single moms out there Going through frustration Clean Bandit, Sean-da-Paul, Anne-Marie Sing, make … Continue reading

Gallery | Tagged , , , , | Leave a comment

ShiellArt : Fanart for Jiro Wang


Sketch by #ShiellArt #JiroWang_Fanart #Fanart #Jiro #JiroWang #Asiansinger #AsianActor #autodesksketchbook

image

Posted in Uncategorized | Tagged , , , , | Leave a comment

ShiellArt : Fanart for W


image

Yeon Joo & Kang Chul Fanart Sketch by #ShiellArt #YeonJoo_KangChul #Fanart #W #wtwoworlds #hanhyojoo #leejongsuk #autodesksketchbook

Posted in Uncategorized | Tagged , , , | Leave a comment

Istilah Dalam Anime


I found this great flash intermezzo… So i reblog it. Hope you like it, especially the original author…

I Love Anime

Anime Info

Ketika kita kita lagi asik nonton anime terus ada istilah yang gak kita pahami, pasti bikin kita bertanya-tanya apa sih maksudnya. Nah, kali ini saya sharing sebagian istilah yang sering kiata temui dalam anime 🙂

Anime

Kita mulai dari istilah Anime itu sendiri. Anime アニメ sendiri berasal dari kata Animeshon ~ アニメション(animation). Digunakan untuk menyebutkan animasi  buatan jepang dengan gaya jepang. Istilah ini dipakai untuk menyebutkan semua jenis animasi yang berasal dari jepang.

View original post 904 more words

Posted in Uncategorized | Leave a comment